Friday, December 14, 2012

Sanjak Ungu Tua Perangkap Babi Ungu


Tua dan bacin seperti bau kopet
seperti bau kloset tidak disiram
yaitu klosetnya sarang beto
yang tua juga kelihatannya

Waktu-waktu seperti ini, aku ingin berteriak
Aku ingin memekik membelah semarak kekinian
Kini aku muncul. Aku!
Ketika rumah sudah tidak punya, aku gentayangan

Melipir di tepi-tepi selokan dan jamban, tak bertuan
sudah ditinggalkan keindahan apalagi kesyahduan
menyeret kaki kutilan bermata ikan, di trotoar rusak
sementara mengucur-ngucur itu dari situnya

dikilik itu, menggeletarnya, mendesahnya
Meraung! Menjerit sakit itu sudah tak tertahankan
Kepedihan adalah sebungkus nasi lengkap dengan lauk-pauk
ada telur puyuh, urap, ikan asin, sepotong tahu. Perih

Leher menyangga kepala bulat, tertunduk menyusuri
jejak-jejak nasi yang tercecer dari gerobak sampah
memunguti, melumuri dengan ludah bercampur sedih
Cinta aku tidak punya, beberapa butir nasi ini saja

Warnaku memang begini. Jagger, itu artinya aku betina
itu mesum-mesum jijik, begitu. Bau taik, pahit rasanya
buanglah hajat di dadaku, biar melesak tidak apa
Asal aku dapat menyaksikannya mengucur, menjelir, menjebik

Mengembik, ditahannya di dalam untuk diperlihatkan
agar menang taruhan. Hahaha... suatu ide brilian!
Oh, betis bak padi bunting. Ini bahkan perutnya yang bunting.
Sial, aku berak di celana. Kalau tidak...

Terbayangkah engkau apa yang terpampang di mata kepala?
jika sudah begini, apa masih berarti segala daya upaya?
Sedang mata hati tidaklah di dahi tempatnya
tepuk tangan membahana, waktu cinta enggan melepas pagutannya

Melangkah lunglai aku meninggalkan panggung
Pelengkapku ditolak, sedangkan celana menjuntai canggung
Kulepaskan satu-satunya peganganku
untuk melayang, bebas. Nanti saja menghempas

No comments: