Sunday, October 29, 2023

Apa Bekakak Harus Pakai Sembelihan Ayam Kampus


Gambar di bawah ini menjengkelkan. Apa harus diganti ya. Tapi sungguh aku malas melakukannya, jadi biarkan saja. Aku juga sudah tidak ingat mengapa aku memasangnya. Ya, memang aku sendiri yang memasangnya, dan ruang santai malam ini sungguh nyaman, jika saja sekelilingku tidak seramai ini. Tapi Suhu Yo sedang berulang-tahun yang ke-41. Alangkah sedihnya ia jika tidak ada yang menghadiri. Keinginan lemah untuk membeli pendingin udara dikalahkan oleh perasaan senang yang kuat karena tagihan listrik kami sangat sedikit, jadi biarlah begini apa adanya.
Merasa senang di manapun, kapanpun. Merasa senang ketika kezaliman merajalela, meski kezaliman bertahta. Aku baru sadar bangku rotan di setentangku sudah hilang. Memang sejak selesai shalat tadi, bahkan bangku plastik jingga yang kududuki lenyap. Terlebih penting, colokan listrik di belakangku sekarang sudah dicolok oleh penjual sandal di punggungku. Aku merasa seperti Frank Carpenter yang menginap di Hotel Des Indes sambil memandangi kesibukan kanal Molenvliet di pagi hari, kesibukan yang berbeda dari Nieuw Achtergracht dipandangi dari de Brug.

Mengetiki hanya caraku untuk berteman dengan tiada sesiapa kecuali diriku sendiri, yakni, suatu kehidupan yang mengerikan seandainya saja tidak ada cantik. Karena semua saja sekadar saripati tanah yang terburai memancar ke segela penjuru, ditangkapi saluran telur dan rahim yang menerima dengan suka-cita atau terpaksa. Aku menggelesot di tanah kering berdebu, tahu persis bahwa baju dan celanaku akan kotor. Bahkan jika aku telanjang bulat sekalipun, masih ada keinginan untuk membersihkan badan meski tidak mudah; meski di pom bensin terdekat.

Engkau yang terus saja mengasup zat gizi nutraisi berupa cairan food tanpa pernah pakai kondom, karena kondom belum tentu aman maka jangan jajan. Tidak jajan pun yang kauhasilkan hanya manusia kecil menjerit-jerit karena keinginannya tidak kesampaian, atau bayi merah yang sudah dikerudungi kepalanya hanya karena berkelamin perempuan. Apa jadinya jika ia tidak berbedak setebal itu, sedang anak perempuan jaman sekarang lebih paham nada warna kulit daripada nada suara yang harus digunakan ketika berbicara dengan orangtuanya sendiri. Dunia fana.

Adegan dua pembantu rumah tangga bergumul, bergelut mesra dan hangat, bertelanjang bulat dengan dua raden mas, sebagaimana diulangi di sebuah hotel di Tokyo bersama dua ekor kucing anggora dan siam, sedang istri-istri mereka setia menunggu di rumah, menunggu dibelikan kimono biru tua bergambar bangau putih, menemaniku ke manapun kupergi. Dinginnya Maastricht, dinginnya Amsterdam, seakan aku orang hebat pelanglang buana. Kujalani hidupku sedapatku, sebisa-bisanya, karena aku tak pernah tahu keinginanku. Kacamataku tidak setebal Hatta.

Infantri lintas udara adalah jatidiriku terakhir bersama Dedy dan John Gunadi ketika kami sering berjalan kaki dari sekitaran kampus menuju ke Margo City atau Depok Town Square hampir duapuluh tahun lalu. Ketika itu kami bukan siapa-siapa. Tidak ada gadis-gadis manis yang menundukkan kepala sambil tersenyum manis menyapa kami. Semua berlalu tak peduli, kami tiga prajurit infantri lintas udara atau marinir penyerbu sekali tidak apa, sekadar gara-gara menonton sekumpulan saudara dan seruan pertempuran. Kami bukan sesiapa, orang tolol saja.

Tak pernah kusangka begini jadinya, dari dulu mahasiswa sampai tua bangka, ternyata begini-begini saja, tiada yang berbeda. Buah-buah dada terus bertumbuhan, bergelantungan. Aku bertambah tua, perutku tambah tumpah-ruah menjadi olok-olok semua. Misai jenggotku memutih, badanku semakin sering terasa tidak segar dan tidak sebertenaga dulu. Namun segala sesuatunya tetap seperti ini, dari jaman Raffles bahkan Daendels. Seorang penghibur baru sembilan belas tahun memanggil tua bangka yang pantas jadi kakeknya dengan sebutan "mas." Dunia tua-renta.

Wednesday, October 04, 2023

Jangan Menumis Jika Sedang Sedih Berkepanjangan


Malam telah melewati tengah-tengahnya, namun aku masih tidak rela tidur seperti entah berapa malam dalam hidupku seperti ini. Ternyata sudah ada tempatnya maka segera saja aku mengetiki. Adakah terbersit kerinduan akan tulisan tangan, akan qalam kesayangan, buku tulis yang cantik bentuknya meski daur ulang dari beberapa buku tulis yang tidak habis terpakai, kemudian dijilid sampul keras. Aduhai semua itu sudah dari dasawarsa lalu bahkan lebih. Kini, ini yang kupunya, buku harian daring. Bisa kuketiki dengan Lenovo Aio 520 atau HP Cb 11, sama sajalah.
Jenggot, kumis, dan mungkin rambut kepala juga, meski di samping-samping dan belakang saja, hanya enam milimeter, menghiasi kepala bulat yang makin membulat karena pipi-pipi melembung. Aku jadi ingat musim panas 2018, menyusuri Molukkenstraat sampai hampir di ujungnya, menuju pangkas rambut Ramadhan hanya untuk digundul, sampai diberi diskon. Tentu saja terik matahari kala itu tiada seberapa dibanding yang kurasakan sekarang. Itu saja aku takut-takut, setakut kedinginan ketika pertama menjejakkan kaki di jalan itu. Di Javastraat ada lahmacun Saray.

Aku mundur lebih jauh lagi, hampir sepuluh tahun ketika aku bertahan satu cinta. Dengan gagah perkakas kupacu VarioSty ke mana-mana, tiada pernah ada keluhan ketika itu. Mungkin karena umurnya belum sampai lima tahun. Lima tahunnya adalah ketika aku mengepalai ICT Komintern, tidak sampai sepuluh tahunnya sudah menjadi milik Bu Nunung. Pada ketika itulah kira-kira aku naik ojek ke Pasaraya Manggarai, sambung Metro Mini S.62, sambung Miniarta M.04, sambung ojek sampai rumah. Betapa isengnya, saking takutnya naik kereta. Aku rasa baru 2019 berani.

Salahkah aku jika merindukan tembok tinggi berlubang, entah mengapa begitu desainnya, yang melaluinya dapat kupandangi sebarisan bambu di tepi Cikumpa sebelah Gema Pesona sana. Pada saat itulah bangun sebelum terang sekadar untuk berdiri di atas bordes, entah berdengung entah tidak, yang tidak mungkin kulakukan lagi saat ini. Aku belum memeriksanya. Mungkin masih bisa, tetapi untuk apa. Sekarang ini sudah akhir zaman, ingatlah nasihat Ustadz Adi Hidayat. Apakah kini waktunya kembali dipasangi pendingin udara dengan penghalang hembusan angin.

Kemarau, sayangnya, sedang melanda wajah desaku, hingga semakin pucat-pasi, tiada berseri. Entah mengapa, bukan sekadar hilang selera, aku bisa jengkel sekali melihat cuping telinga yang besar dan tebal, yang konon disukai orang Cina karena bawa hoki. Itu sekadar keanehanku saja, yang entah mengapa membawaku ke siang-siang di Cimone Beta Raya, di depan kedai nasi Ibu Toto, dan bibir yang selalu terlihat basah. Apakah ketika itu sudah ada pelembab atau pengilat bibir. Aku saja malas pakai selama musim dingin di Belanda. Aku hanya pernah ke Belanda, Belgia, Jerman.

Lantas aku terlempar ke malam-malam menunggu diterima tidaknya di SMA Taruna Nusantara. Aku pernah berak-berak, mungkin mencret, mungkin sampai kena celana, yang jelas sampai basah celana seragam SMP-ku. Kupakai berjalan kaki sepanjang dari rumah Rooseno Adi di daerah Cipete sampai rumahku di Radio Dalam. Apakah saat itu atau lainnya aku bertemu Sylvia teman SD-ku, berseragam SMP juga, di sekitar Pasar Blok A. Apakah ketika itu pula di kepalaku bersenandung cinta akan mengarahkanmu kembali, bisa jadi, meski tentu aku tiada seberapa yakin. 

Kini aku tergulung-gulung berhembalang ke kemarau di kos Babe Tafran. Mungkin Intan dan teman-temannya sedang main di depan kamarku. Mengapa aku tidak ke mana-mana. Sakitkah aku. Ternyata aku tidak punya kenang-kenangan mengenai siang hari di kos Annisa kecuali ketika sakit demam beberapa hari, yang sampai memaksaku membeli parasetamol. Meski sakit, makan bubur snar guitar tanpa topping apapun kecuali korned goreng terasa nikmatnya. Begitu juga malam-malam masuk UI hanya 'tuk ke Alfamart beli nasi instan Garudafood rasa ayam bawang.

Tuesday, October 03, 2023

Aku Rindu Pada Sejatinya Sahabat Tak Berkelamin


Apa peduliku, jika sebaris yang seharusnya mengawali sebuah entri justru menjadi judulnya. Masa musik jez alus begini rupa membawaku ke malam-malam di Plempungan atau lain-lain pedalaman pedesaan Magelang, atau bahkan Legok Angris Bojong Nangka beberapa tahun sebelumnya. Ini kan juga bisa kehangatan 25 D8 sedang di luarnya dingin menggigit, mungkin berangin. Ada helikopter mengapung di udara di dekatnya, yang kukira alat berat. Memang berat memutar bilah sayap berputar, terlebih jika lebih dari dua, terlebih beberapa meter panjangnya. 
Aku sudah mengantuk dan tidak seberapa segar, namun kupaksa juga mengetik karena rindu padamu yang sebenarnya diriku sendiri. Aku memang tidak pernah benar-benar punya teman kecuali diriku sendiri, yang mengantarku ke kamar yang kupakai berdua dengan adikku. Tempat tidur susun itu selalu, aku di atas. Dari tempatku dapat terlihat meja makan  yang sangat jarang sekali dipakai makan. Kami lebih sering bertebaran di ruang duduk depan atau depan tivi. Ada anjing menggonggong, lalu melolong di pojokan depan tanah kosong, rumah kosong itu, hanya untuk dua tahun lamanya. Aku belum tersengat saat itu.

Sengatan itu, yang selalu menyambar bahkan di usia tuaku. Seperti ketika menaiki tangga ke kantin atas, selembar itu atau beberapa utas menyengat. Orang mungkin melihatku menunduk atau memandang dengan tatapan kosong dan sendu, namun mataku nyalang ke mana-mana. Aku yang menyusuri jalan radio empat jika berangkat, entah mengapa aku menyukai jalan itu. Tak pernah pula aku mencuri pandang. Pandang untuk ditatapkan, dihunjamkan sampai terasa itu menohok. Jika tidak pernah pergi maka biarkan saja di sudut itu aku, dia bukan siapapun.

Sebanyak apapun dikeremus, digelegak takkan menghilangkan lapar dahaga karena memang tidak pernah. Bukan itu benar tetapi kisah rekaan mengenai seekor tikus, penuh sandi begini, penuh tipu-daya. Ah, ternyata memang ada dan asalnya dari situ. Si tolol yang tidak pernah tahu apa yang diinginkannya dan terlalu malas mengusahakan apapun. Kebohongan dan khayalan saja yang dihasilkannya, tak satupun pernah nyata. Tidak juga karena memang tidak pernah ada yang istimewa bagi hidup yang selalu sepi, yang tiada arti, tak pernah lepas dari penderitaan.

Tak satupun, astaga, tak satupun, meski memang tidak akan pernah ada yang satu itu. Aku kembali ke kos Babe Faishal demi dekatnya jarak antar kedua mata dan kecil-kecilnya anggota gerak. Habislah sudah masa apapun yang tidak bisa lagi diberi nama. Aku tak pernah terlalu menyesal tidak pernah benar-benar jago bermain bola ketika Brondby sudah kubawa entah berapa kali menjuarai Eropa sampai bosan. Entah mengapa dari tadi dorongan untuk merentangkan tangan atau menunjuk langit selalu tanah-tanah kosong di sisi timur Margonda sampai ke tepi Ciliwung.

Pagi-pagi di kampus Universitas Indonesia Depok selalu belum atau kurang tidur semalamnya, jikapun ada yang menyandarkan kepala pada bahuku. Sudah barang tentu rokok agak sebatang dua, meski sepertinya merokok tidak enak jika kurang tidur. Terlebih sarapan mi goreng dobel goreng bakso dilanjut lari-lari naik turun tangga curam bisa membuat kehabisan nafas. Di titik ini hanya ada Jenny yang bentuknya mengerikan dengan rambut keritingnya yang dibiarkan panjang. Aku ingat itu 2001 dan udara panas bahkan di malam-malamnya, maka 2002 banjir besar.  

Biarlah dipukuli xilofon begini dari kecil yang seringkali manisnya. Biarlah begini saja maka kurentangkan tangan lebar-lebar, kutengadahkan kepala menantang langit seakan lelah pada hidup dunia. Jika pun kemudian membuat gerakan-gerakan seperti akan berubah menjadi ultraman, aku tidak ambil pusing jika ternyata berubah menjadi apapun, kuda nil sekalipun. Jika memang bukan bagianku, aku tak akan minta. Terbersit dalam pikiran pun akan segera kutindas dan kugiling di bawah tumit. Aku seperti seorang medik yang membawa senapan runduk, tentu tak pernah.

Monday, October 02, 2023

Mengapa Bentuk Bejana Seperti Pelir Berbuah Dua


Aku tidak suka gambarnya, terlepas dari bejana yang isinya dituangkan ke dalam mangkuk itu. Ini juga tidak perlu menjadi entri yang terikat waktu. Ini justru harus menjadi entri yang universal, menjangkau jauh ke dalam ngarai prasejarah dan buramnya masa depan. Jika aku duduk dengan perut terasa mendesak tak nyaman, itu bisa terjadi kapan saja selama 20 tahunan ini. Begitu pula berita kematian bapak mertua Mas Gitosh karena penyakit lambung bisa datang dan dicatat kapan saja. Tidak masalah. Ruang kerja bersama ini yang dapat terlalu spesifik untuk dideskripsikan.
Dengan perut terasa penuh mengganjal begini, dengan punggung terasa hangat terpanggang matahari sore meski berada dalam ruang berpendingin udara, tidak bisa lain terpaksa menyumpal telinga dengan derap-berdentamnya tambur bass berganda milik Lars Ulrich. Entah mengapa kantuk melanda alam desaku, padahal banyak yang harus kukerjakan, termasuk dan terutama perencanaan acara Pusat Kajian Hukum dan Pancasila untuk Dies Natalis ke-99 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, yang ternyata belum beranjak banyak. Kantuk terus menderaku menyambar-nyambar bagai gegap-gempitanya petir halilintar.

Memperbanyak apapun yang mengakibatkan mabuk sampai hilang akal hilang kesadaran, memperbanyak makan daging seperti binatang buas, memperbanyak lauk-pauk ketika makan, memperbanyak bahkan sekadar makanan pokok, memperbanyak mengumbar nafsu syahwat justru akan menjauhkan dari keilahian. Sebaliknya, mengurangi sesanggupnya justru akan mendekatkan. Daripada kusut memikirkan bagaimana mengumbar semua itu bisa menjadi digdaya mandraguna, lebih baik menghayati beranda di lantai atas dengan pemandangan mushala kecil mungil cantik.

Seteguk dua cappuccino encer kuharap tiada menyiksaku lebih jauh setelah perutku masih menggelembung mengganjal begini. Idealnya, sebelum hari ini berakhir aku sudah berjaya menghasilkan suatu racauan mengenai hayati dan amalkan Pancasila, kembalikan kedaulatan kepada rakyat, kaji-ulang UUD 1945. Namanya meracau tentu tiada terlalu banyak daya-upaya, namun aku masih punya kewajiban yang katanya sedikit tetapi nyatanya tidak mungkin dikerjakan sambil-lalu. Satu ini mengapa banyak memukau orang, padahal kataku tak lebih istimewa dari lainnya. 

Justru lebih bertenaga jerami terpendek ini. Aku jadi ingin menyimak penyebab kematiannya obituari, tapi tidaklah. Kekerasan ini, keberisikan ini biarlah menemani, seperti seorang teman yang tidak peduli keberadaanku, tidak pula membutuhkanku. Seandainya tiada hiruk-pikuk ini, desau bergumam banyak mulut berbicara bersamaan, mungkin dapat lebih kunikmati simfoni disharmonis ini, yang menciptakan keindahan tersendiri dari masa mudaku. Seandainya saja ini mengilhamiku untuk lebih giat berolahraga. Mungkinkah kulakukan sekarang. Sangat mungkin.

Pada titik ini aku dibawa kembali ke comberan besar di depan Kees Broekmanstraat dengan jembatan di masing-masing ujungnya. Jika aku sedang malas memutar jauh, maka dua jembatan di atas comberan itulah, bersama dengan Kees Broekman dan Ijburglaan menjadi lintasan dzikirku. Bisa ayat-ayat Qur'an dengan alat bantu, bisa dengan mulut dan hatiku sendiri kuulang-ulang. Apa aku akan menyalahkan hawa, cuaca, dan iklim seraya membandingkannya dengan 5 tahun lalu. Memang beda, bukan. Jadi, menyalahkan atau tidak, memang menyebabkan segala perbedaan.

Hari sudah mendekati akhirnya menurut sudut pandang Arab (dan Islam?) atau baru sampai pada tengah-tengahnya menurut orang Jawa (dan Hindu dan Yunani?). Aku masih belum juga beranjak mengerjakan apa yang harus kukerjakan. Sekitar satu jam lagi mungkin aku akan kembali ke mushala mungil nan minimalis itu, mengingatkan diriku sendiri akan sejati dirinya. Memang aku hanya penyederhanaan, daripada repot seperti Rastafari tiap-tiap kali menyebut Aku dan aku, meski jujurnya begitu. aku budak, dan Aku suka jika budakNya mengAkuiNya.

Sunday, October 01, 2023

Sudah Ada Gambar Duyung Pirang, Dugong Biru


Meski yang kusanding ini tidak ada tehnya, entah apa pula yang disebutnya susu, namun jahenya berganda-ganda, termasuk berbagai rempah serbat. Citra ini, meski dari waktu-waktu yang lebih lama lagi, bagiku tidak lebih dari jet penumpang berbadan sempit yang membawaku dari Jakarta ke Surabaya, dilanjut taksi ke Lamongan. Begitu saja aku memesan kamar di Hotel Kabila, tepat di sebelah Masjid Jami' Nur Salim, dan langsung jatuh sakit. Ketika itu bulan puasa. Alhamdulillah aku tak sampai membatalkan puasa, berbuka dan bersahur dengan nasi boranan.
Berapa lama aku di Lamongan, aku tak ingat. Berapa banyak uang yang kuterima dari Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Perikanan dan bagaimana caranya, apakah tunai atau ditransfer, itu pun lupa. Ramadhan 1432 itu, atau sepanjang Agustus 2011 itu, kuhabiskan setengahnya di India setengahnya di Lamongan, itu saja yang kuingat. Sekitar tiga bulan kemudian, bapaknya Soni meninggal karena stroke, setelah membawakan lagu-lagu Koes Plus untuk kali pertama di atas panggung. Belum sempat ia menyanyikan Dewi Impian, tatapan sudah kosong, lidah pun sudah kelu.

Cukuplah kisah sedih di hari minggunya, kini kita berbicara mengenai Nyai Ontohood. Namun baru saja menuliskannya aku sudah kehilangan gairah. Entah mengapa sudah berhari-hari ini aku tiada bergairah, yang mana adalah sesuatu yang baik. Di pojok kanan bawah gambar di atas itulah dapat ditemukan kepala dugong biru. Memang kalau lebih dekat lagi dengan duyung pirangnya akan terlihat tidak realistis. Kurasa jarang sekali, jika bukan baru kali ini, aku mendeskripsikan gambar. Tiba-tiba hidung mengingat aroma citarasa khas Super Bihun buatan Kuala Pangan.

Sedang kepalaku mengenang Minak Djinggo buatan Nojorono, Kudus, aku tidak punya kenangan apa-apa mengenai Kudus. Kenanganku dengan Minak Djinggo selalu di tebing bantaran Ciliwung, setolol-tololnya dengan mesin tik portabel berwarna hijau. Tidak banyak yang kuingat mengenai apa yang biasa kumakan saat itu, apakah memasak sendiri atau beli. Buku-buku yang tidak banyak, hanya satu rak kecil. Di situ jugalah kurasa aku menamatkan Quo Vadis oleh Henryk Sienkiewicz dan banyak bacaan lainnya, sedang naskah Opera Primadona kutamatkan di Gang Pancoran.

Aku tidak sedih meski tak lagi bisa asal-asalan sarapan Hokben atau McD, yang uangnya boleh didapat dari mengemis. Tak apalah, seperti pagi ini, sarapan dengan nasi hampir basi gara-gara ketololanku sendiri, menyimpan nasi di kontainer bekas menyimpan nasi yang umurnya lebih lama. Dalam keadaan seperti ini aku jadi sering berkhayal-khayal mengenai masak-masakan. Seperti semalam aku membayangkan sayur lodeh lengkap berlauk balado aneka isian. Semua orang baru bahkan melontarkanku ke Gang Pepaya: Panas dinginnya terkenang permainya.

Apa tidak boleh di sepanjang peron ada kios-kios orang berjualan. Apa tidak bisa dibuatkan pintu masuk khusus pemilik, penyewa, pengelola kios-kios itu. Apa lebih baik peron lengang terasa mubazir seperti sekarang. Buku-buku tua itu, ketika mataku belum rabun dekat, sungguh merupakan salah satu hiburan utama. National Geographic edisi tua ternyata juga menyenangkan Achmad Sulfikar, entah berapa banyak yang habis terbakar. Makanan memang tidak ada yang terlalu terkenang, bahkan tidak pula siomaynya; kecuali mungkin nasi uduk jauh ke selatan.

Ke situlah aku pulang setelah petualanganku ke India dan Lamongan. Adalah kurasa duduk sebentar di meja kerja abangnya Sopuyan yang sungguh makan tempat itu, merenungi bahan-bahan yang kudapat mengenai rencana minapolitan kabupaten Lamongan, yang bahkan tidak pernah kukerjakan sampai sekarang. Aku memang terlalu banyak gaya. Kukira aku ini siapa, cendekiawan, akademisi, peneliti, keturunan raja-raja Jawa. Aku ini badut belaka, gendut, botak. Aku tak berharga, tiada arti. Kusirami diri sendiri dengan peluhku yang berderai bagai tawa gadis.