Monday, September 30, 2019

Antara Gestok dan Gestapu Kita Jatuh Cinta


Ada kalanya gula palem dilarutkan dalam air panas, diberi rempah-rempah, terasa sungguh nikmatnya, terutama di tepi jalan-jalan Havana begini. Aku lantas saja mengangkat gelasku pada mural el Che di setentang Plaza de la Revolucion dan berseru: "Hasta siempre, Comandante!" Sungguh terdengar menjijikkan, seperti adegan dalam acara-acara pelancongan murahan di pisi-pisi, yang dibawakan oleh gadis-gadis dengan wajah dan riasan pasaran. Aku pun sudah tidak sanggup duduk-duduk di trotoar Jakarta, di peron stasiunnya, menyantap sebungkus nasi lengkap dengan lauk-pauknya, bersama wanita sinting setengah telanjang.


Tidak ada motif altruistik apapun, aku hanya ingin melepas hajat padanya. Tidak timbul pula belas kasihan dalam hatiku, ketika ia mengerang-erang memanggilku "Mas Manto." Jangan salah. Aku melakukannya bukan karena tidak punya uang, meski memang aku saat itu tidak punya uang. Melampiaskan birahi tidak berarti melakukannya tanpa sentuhan artistik sama sekali, tanpa membuatnya menjadi puitis. Kulukis guratan-guratan pada wajah orang-orang yang lalu-lalang, demi melihat pria telanjang setengah sinting melepas hajat pada wanita sinting setengah telanjang. Aku sekadar menyingkap daster lusuhnya, tidak sampai melucuti.

Sekali lagi, tanpa alasan kemanusiaan. Kuakui, sebelum itu aku memang menyusupkan tangan ke balik dasternya, memuntir-muntir puting susunya. Tidak, aku tidak sedang mencoba merangsangnya, meski, ya, ia mendesis dan mendesah, Si Sinting itu. Aku sekadar ingin mengepaskan antara frekuensiku dengan frekuensinya, agar hilang itu gerisik dan gerasak yang sangat tidak artistik itu. Hei, suatu lukisan yang impresionistik seyogianya merdu dan mendayu. Untuk keperluan ini bahkan kusembunyikan semua perkusi apapun itu, kulakukan dengan kesungguhan seorang penjahit asal Payakumbuh atau Tasikmalaya.

Semua sudah pas pada tempatnya, kecuali satu. Tidak ada seorang pun, seorang moralis atau polisi moral, yang menghardik dan mendera kami sedang kelaminku dipagut kelamin Si Sinting tidak bisa lepas. Kami lantas mencoba merangkak ke arah berlawanan, berkaing-kaing. Namun, kelaminnya memagut kelaminku alangkah kerasnya, sehingga kami semakin berkaing-kaing saja. Sang Moralis semakin murka, menghardik dan mendera, mengelupas kulit dari punggung-punggung kami. Wanita Sinting kini melolong, sedang aku mulai menggeram mempertontonkan taring. Entah bagaimana, ini justru menggelorakan birahi Sang Moralis.

Aku sudah tidak peduli lagi. Kuterkam Polisi Moral sedang kelaminku masih menancap dalam guagarba Wanita Sinting. Ia terbanting-banting terhempas-hempas. Kuhunjamkan dalam-dalam taringku ke nadi leher Polisi Moral. Isinya larutan gula palem dan rempah-rempah! Kutenggak habis sampai kering-kerontang. Polisi Moral kini menjadi slilit di taring-taringku, Wanita Sinting kini menjadi semacam ekorku, atau setidaknya perpanjangan ekor. Mereka berdua membusuk di tempat, sedang tidak kubiarkan mereka mengganggu langkahku yang membawaku entah kemana. Apa peduliku. Aku toh telanjang. Aku toh setengah sinting.

Namun itu dulu. Kini aku berpakaian dan setengah waras. Setidaknya ini lebih baik daripada setengah berpakaian dan waras, kurasa. Sudah lama tidak kupikirkan Polisi Moral dan Wanita Sinting. Akan tetapi, baru saja tadi kugaruk-garuk selangkanganku, masih ada sisa-sisanya itu Wanita Sinting. Kukorek-korek gigi taringku, masih ada itu sisa-sisa Polisi Moral di sela-selanya. Lantas kupandangi El Che meski muralnya saja. "Hei Bodoh!" sapaku dengan wajah sok berwibawa dan seringai sok bijaksana. "Bagaimana di neraka? Sudah kausadari ketololanmu setelah di dalam sana?" Aku berlenggang kangkung sambil menyiulkan Konserto Warsawa.

Bukan lagi senapang dikokang, melainkan gawai keluaran terbaru dicolek-colek agar keluar itu semua kebijak-bestarian terpampang. Bukan lagi parang pemapas leher tempat kepala-kepala durjana bertengger, melainkan gadis-gadis bertampang dan berbodi komersil dengan guagarba-guagarbanya yang berjengger. Tepat ketika aku membatin gadis-gadis ini, kemaluanku berkedut. Oh, ternyata sisa-sisa kelamin Wanita Sinting menjebik mengejek. Kurenggut ia dari pagutannya, semua tercerabut kecuali kesintingan dan kelusuhannya. Kuludahkan sisa-sisa Polisi Moral, semua terburai kecuali gula palem dan rempah-rempahnya.

Monday, September 16, 2019

Malamnya Tambociek Demi Ekor Baboy. Aku


Beginilah rasa perut gendut ketika baru diisi dua somay, otak-otak, tahu putih, tahu coklat, kol masing-masing satu. Semua dua belas ribu Rupiah, tepat di ujung Jalan Kwini Satu Romawi. Lantas saja beberapa malam terpesona, amit-amit. Menyembunyikan makna dengan cara menebarnya tepat di depan pandangan mata, ya, di pelupuk matamu itu. Ketika tengkuk beruam dan pangkal lengan bawah kanan pegal menjalar sampai ke pergelangan, sampai ke telapak. Kau tidak melihatnya, tidak menanyakannya karena tiada ‘kan berjawab.


Atau biarkanlah kuragakan di sini agak sedikit, ketika mencuri-curi pandang ke arahnya. Bukan tersibak itu, melainkan dipampangkannya tepat di hitam-hitam itu. Aduhai aneh benar cara kerjamu. Ini terjadi padaku, di atas kasur penuh bernoda darah kehitam-hitaman. Ataukah jamur, ataukah noda darah berjamur. Tiada padaku alasan untuk memusatkan perhatian pada yang hitam-hitam itu, ketika semua saja hitam. Memang ada yang pirang atau sengaja dibuat warna-warni, namun aku hanya bisa bermuram-durja sambil berharap anak itu tidak diobat-tiduri.

Pada musim kemarau yang masih kalah perkasa dariku, bisa jadi ia yang menggendong anak itu yang kutiduri. Astaga, betul-betul tidak ada yang dapat kulakukan terhadap ini. Melakukan terhadap satu, melakukannya terhadap semua, di manapun, kapanpun. Hei, aku mulai menikmati ini, seperti Addie menikmati dadanya melesak diberaki Geli. Bukan tidak mungkin Addie menghardiknya pula agar mengencingi mulutnya yang menganga. Bukan tidak mungkin Addie yang berjiwa artistik itu menahan lidahnya untuk tidak menjulur-julur melata-lata, seberapa pun inginnya.

Jiwa yang pengap ini kurasa butuh pasokan udara, maka begitu saja aku kehabisan cinta. Aku tersesat tanpamu. Tidak ada pula yang dapat kulakukan ketika tempatku diambil. Begitu saja ruang pasca operasi bedah jantung ini penuh di malam terakhirnya. Sudah lama aku tidak ingat bagaimana caranya memaksakan kehendak. Jika tidak punya pun, apa yang akan dipaksakan. Mungkin ini pulalah alasan mengapa kitab kuning tidak boleh dipelajari sembarangan, tanpa bimbingan guru. Masih syukur bertengger di pojokan sini.

Dari pojokanku aku melesat mendapati Bapak disorot matahari sore. Kubawakan bantal dari ranjang kosong tempatku bertengger. Cerita dapat berakhir sejalan dengan berlalunya waktu, seperti halnya rujak petis entah di mana itu. Mengapa aku mengingatnya sebagai rumah Johan Wahyudi, si manusia katak tambun itu. Hei, baik Pessy maupun Johan sama-sama tambun. Aku belum lagi tahu Ariyadi. Ah, ia pun. Ada apa dengan swike-swike ini. Aku tambun karena… pemalas dan rakus. Kalian ‘kan ahli penghancuran bawah air.

Uah, di pojokanku kini bernguing-nguing nyamuk. Apa harus ‘kusiapkan Sofell demi kenyamanan malam terakhirku di sini. Bisa jadi. Aku hanya bisa berharap ia segera tembus. Semoga sore ini juga, sehingga esok hari ‘ku bisa tenang. Apalah arti beberapa jam, sedang aku tidak sedang meringkuk beradu punggung dengan dinding laut, sedang air pasang merendam hampir setengah tubuhku, sedang aku menunggu serangan balasan. ‘Kurasa aku harus bersyukur tidak pernah merasakannya, seperti Bapakku. Haruskah kubuat Adjie merasakannya kelak.

Rumah sehat adalah di mana orang-orang mendapatkan kembali kesehatannya, sesempurna-sempurnanya. Sedang aku tak berdaya melindungi Bapak dari sorotan matari sore. Apapun aku tidak berdaya. Mungkin, di abad keduapuluh satu ini, di umur setua ini, aku masih harus berbisik pada diri sendiri, bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja, karena ada waktunya untuk segala sesuatu. Pasti lebih dari duabelas jam, tidak mungkin kurang. Di sini atau di mana pun tidak ada Admiral Shibu. Memang tidak pernah ada.