Friday, March 15, 2024

Saloth Sar Saja Terbantai di Ladang Pekuburan Siapa


Old Steadyhand adalah salah satu julukan tolol yang kuberikan untuk diriku sendiri, tentu saja, di samping Bonovski, dan mungkin ada lagi lain-lainnya. Malam ini aku teringat pada old steadyhand karena aku memotong gambar hanya dengan kira-kira dan ternyata hanya meleset satu pixel. Seperti inilah wujud kebanggaanku sekarang, karena bahkan aku dipermalukan dan diperolok-olok oleh pendaki terkenal Aconcagua. Mungkin satu-satunya cara untuk memanaskan kembali somay oan adalah dengan cara dikukus, karena dimegatron dengan air tetap keras dalamnya.
Tengah malam tadi seperti biasa berhenti, seperti selalu saja terjadi belakangan ini. Mengitiki menjadi kegiatan yang semakin lama semakin terasa berbeda; meski anatomi dasarnya tidak pernah betul-betul berubah. Apakah di Radar AURI atau kubikelnya Dedy, adakah pada waktu itu di kubikelku sudah tidak ada komputer pribadinya. Aku ingat beberapa kali bertololan berkeliling di komputer depan pojokan itu, dengan stasiun yang mirip dengan yang biasa kupakai dalam Apollo celaka 13. Di situ pulalah Bang Sony Sikumbang muda bermain kesendirian sudah 20 tahunan lalu.

Sekarang sudah tidak ada yang muda termasuk perutku. Di sini pun tiba-tiba macet lagi, padahal Chris Cross sudah menderu dengan baiklah, menyusul durian-durian ke tanah pemakaman.Tanah perkuburan, Mas Tony Edi Riwanto kapan matinya. Jika menilik dari racauannya, kurasa ia bukan muslim, ataukah, seperti kebanyakan orang Jawa, muslim namanya saja. Aku tidak bisa menggambarkan perasaan ini dengan tepat kini, apa karena ia sedang tersendat-sendat. Apa benar yang menyendatnya, apakah jalan kecil menuju pinggir kali itu, sebelum warung laler. Sembarang saja.

Bergeruduk-geruduk, atau gedubruk-gedubruk, adalah seperti seorang penyanyi syair lagu-lagu tua menggubah komposisi onomatope yang berakhir dengan kitaranya di sekeliling leher. Haruskah kucepat-ke-depankan perasaan dan air mata ini, akhirnya itu pula yang kulakukan, bahkan juga terhadap kita semua sendiri. Pagi-pagi di tengah cuaca ekstrem ini, dengan berjaket biru pemberian Savit, sarung entah dari mana, apakah pasangan koko gading dengan bordiran kaku di tengah-tengah, dan kaus semata kaki bukan semata wayang, Suzanne menari-nari.

Terkadang hawa dingin muram bermendung begini hanya tersisa nama bulannya, yang sangat bisa jadi bukan untukku, melainkan untuk siapapun yang cukup kurang kerjaan sampai mengunjungi macan gondrong. Apakah itu di pemberhentian bis, apakah itu di Kramat Batu ataukah lapangan Bhayangkara, Santo Jambrut! Ke mana aku dibawanya, ke masa kecilku di apron timur lapangan udara Kemayoran, atau ke tepian Ciliwung di salah satu meandernya, meninggalkan tanah menjorok di Rawa Panjang lagi Rawa Menteng, Fajar Baitullah! Qoryatussalam Sani! 

Keramat Barepan! Silagar! Aku tak bisa percaya itu kamu, membuatku pulang ke ndalemnya Akung Uti. Itu bukan pulang namanya, sungguh. Jika pun iya, maka mampir. Mampir minum. Kalimat-kalimat makin pendek, siapa yang memendekkannya, aku 'kah. Bisa apa aku. Main terompet, trombon, susafon, tuba, dan kawan-kawannya saja aku tak bisa. Bahkan suara-suara tiruannya di sintesaizer juga aku tidak bisa. Aku tidak bisa apa-apa, Si Tolol ini. Seperti seekor munyuk mainan ular yang ditemukannya di dalam lubang di sebatang pohon kelapan. Dipatuklah ia.

Seorang penyiar radio bernama Dreded Cikutra menandakan adikku sudah sampai ke mana-mana, ke berbagai tempat. Ya Allah mereka hanya adik-adikku, anak-anak bapakku. Aku menggelesot menggelepar. Di tepian sungai Maas, di bawah jembatan Wilhelmina, hanya sekali aku di situ. Berduaan saja di Cappadocia, selembar saja. Main peluk-peluk saja calon istri orang di depan pacar sendiri, rasanya seperti ingin berteriak: "Father, till we meet again in the Garden!" Aku tidak bisa muda lagi. Sudah habis rasa itu dari mana-mana, dari sekujur tubuh dan pikiranku.

Friday, March 08, 2024

Apel Bancrit Sudah Tiada Lagi di Dunia Fana Kini


Meminum teh oolong susu hangat seperti ini selalu membawa kenangan pada kamar hotel yang nyaman di sore hari, ketika anak-anak belum datang. Anggaran mana yang digunakan waktu itu, ESDM-kah. Adakah waktu itu mengitiki juga. Adakah ketika itu perut membuncit melimpah. Entah mengapa aku selalu suka sayap berhenti, meski yang barusan tadi kurasa sudah mati kemarin. Seperti apakah malam-malam di hari Jumat sekitar 24 tahun lalu. Apa benar yang membuatku teringat padanya. Hidup koq penuh suka cerita begini, menjulur-julur lidah bak kilat meja. 
Ya, karena bancrit itu. Alangkah indahnya dunia kurasa saat ini, saat ini, karena malam ini malam bahagia. Kupaksa teruskan meski suasana semakin kurang sesuai, terutama perut yang menggelembung penuh berisi gas. Kutembakkan agak lumayan barusan nyaring juga bunyinya. Namun itu malam kemarin. Ini sudah keesokan paginya, yang karena ngejogrok di depan tivi nonton yutub membuat kantuk tak tertahankan, aku menyiapkan segelas coklat panas. Ketika itu sudah terpikir mengenai Prof. Dr. Mr. R. Soepomo, namun prakteknya ya gondrong lagi, gondrong lagi.

Barusan bertelpon dengan Takwa mengenai betapa sekarang, selain Magelang, ada Malang dan Cimahi. Masih ada kemungkinan orang akan menyangka apa yang ada di kepalaku ngarang-ngarang, maka aku menelusup kembali ke sepur derek entah nomor berapa lupa. Lorong kuningnya yang terkadang semerbak jika Jeng Doktor Arum baru saja lewat. Japri entah apa kabarnya, apalagi Gerardus dan Gregorius. Betapa mengerikan hari-hari kujalani di sana, monotoninya, dari bangun tidur sampai terpaksa harus tidur lagi. Tak banyak beda dengan Uilenstedenya.

Lantas apa bedanya dengan kini, jelas berbeda. Hari-hariku bisa diselingi donoloyo dengan rhodamin-b niki harumnya, nasi uduk pagi sore atau malamnya, ada cungkring atau urapnya. Kutengadahkan wajah menerima hantaman bulir-bulir air besar-besar. Kurentangkan ke dua belah tangan ke arah langit bermendung. Mulut menganga namun tidak berkata-kata. Hanya dadaku saja penuh kata-kata tak bermakna yang kini kuberondongkan di papan kunci. Dengan 40 kg lebih lemak di badan, tidak heran baunya seperti ini. Oblong putih cap angsa bersimbah peluh.

Kekaryaan ABRI selalu menjadi obsesiku, sebagaimana halnya ABRI masuk desa. Aku anggota ABRI bukan TNI, karena mars ABRI sungguh gagahnya, sedang mars TNI dibikin Addie MS yang istrinya Memes. Bisakah lagu terlanjur sayang, 'gih, sayangilah polisi. Aku biar disayangi anak mantan ibu jala yang lucunya minta ampun. Aku yakin kau tidak akan sanggup menandingi kelucuannya, bau pada puncak dahinya, di anak-anak rambutnya, meski ia tidak melahirkan anak-anakku. Aku suka berkarya. Aku selalu berusaha berkarya sebelum tidurku, apalagi bangun.

Kembali pada donoloyo, kepada oncom, tempe, bakwan, dan aci goreng, hanya satu euro lewat sedikit sekali. Kubayangkan diriku terjun ke kali, ke saluran irigasi, ke pintu air itu, bagian mengalir keluarnya. Aku berenang-renang seperti tahi, kuning kecoklatan seperti air kalinya. Tahi kerbau hijau kehitam-hitaman berenang-renang juga di sekelilingku. Ada juga comberan di jalan petogogan yang dalam khayalan anak umur sepuluh tahun adalah kolam arus, dikhayalkan sedang sudah berada di rumah kakek yang demikian nyamannya di musim hujan pertengahan 1980-an.

Jelas aku bahagia, hidup sejahtera di Khatulistiwa. Adakah bahagia hidupku dekat lingkaran kutub, ada senang-senangnya juga. Ada sedih-sedihnya juga. Ada Adianto Wibisono yang menemani ketika hatiku sakit menyakiti badanku. Ada soto ayam suriname yang kuahnya tulang babi, pantas lebih sedap dari sekadar soto kudus Blok M. Aku mengitiki begitu lancarnya sedang hujan sepagian turun sebentar reda, sebentar turun lagi. Hujan sedang reda ketika adzan dhuhur mulai berkumandang. Matahari seharusnya sedang berada di luhurku, itulah sebabnya disebut "dhuhur".

Friday, March 01, 2024

Petembak Runduk Tak Ubahnya Pesumpal Guagarba


Mungkinkah mengitiki jika rasa tak berdaya merambati, merayapi tengkuk sendiri yang ambeng kerok. Ketika disambung begitu bertentakel delapan, sedang sang pendeta perempuan hanya dua. Iya, iya, begitu mantra untuk memanggilnya. Aku sedang menikmati kesendirian, kesunyian, tanpa ada bunyi-bunyian bahkan penglihatan meningkahi. Kecuali selembar celana dalam, kecuali tas tote bermotif kamuflase. Aku masih ingat pada posisi ini membangun dan menghancurkan peradaban. Kota dapat begitu saja beralih kesetiaan, biasanya padaku. Padaku dikau mengulurkan tangan.
Di dalam pelukan seorang berspesifikasi bidadari, samba, samba, kau 'kan menemui kenyamanan. Maka begitu saja aku berdisko dalam kepalaku, ketika beberapa sangkakala menyelompret bersamaan, ditingkahi beribu-ribu dawai bergetar diraba kekasihnya berambut ekor kuda. Bagaimana kalau bentuknya tidak sedap dipandang, berminyak, dan mungkin feromonnya terlalu menyengat bercampur aroma lemak basi. Aku tetap berjingkrak memutar-mutar lengan sambil mengayun-ayun kepala botak seakan masih ada kribonya, meski di ketiaknya, meski di selangkanganku.

Ah, sudah waktunya berangkat ke Mars, karena aku komandan penerbangan Boniface Ronald Johnson. Betapa cantik terdengar suara istriku, bercerita betapa anak-anak merindukanku. Di sabuk asteroid bisa ada badai luar angkasa yang dahsyat, yang sampai mengganggu tautan komunikasi angkasa dalam, yang mungkin menyapu juga kapal angkasaku sampai kandas di lautan helium Jupiter. Suaraku pasti jadi lucu seperti bajing berekor pendek, maka sudah waktunya kukeluarkan air minum dari pembeku. Mungkin bisa juga sambil mencuci gelas plastik bekas minum.

Nyatanya, aku tidak pernah mengendarai apapun. Jangankan kapal angkasa, pesawat ultra-ringan saja tidak, apalagi balon udara bertenaga biogas. Aku memang pengkhayal celaka yang sudah di tepi jurang kebohongan. Bagaimana jika isi kepalaku ternyata bohong semua, kepada siapa lagi aku akan percaya. Kepada pastel mak cik yang sambalnya encer namun jika banyak-banyak bisa mengakibatkan tahi encer, mungkin aku masih dapat percaya. Kepada kisah cinta Sheldon dan Amy yang tidak lebih menjengkelkan daripada Robin dan Barney: Tahi mereka semua itu!

Setelah mukaku berlumur tahi encerku sendiri, [karena tak mungkin kusemburkan pada Sheldon dan Amy, pada Robin dan Barney. Mereka tokoh rekaan semua] aku agak tenang sedikit. Heh, tapi bagaimana aku menyembur muka sendiri dengan tahi sendiri, apa aku semacam kontorsionis. Tentu tidak, aku hanya orang sok asik, sok iya, padahal mengagumi pahlawan-pahlawan kuat dan ajaib, dan mengkhayalkan mereka benar-benar ada atau pernah ada seperti Susilo Bambang Yudhoyono atau Prabowo Subianto. Aku santai saja, karena akunya hijau.

Mengadakan barang dan jasa publik itu kurasa seperti mengada-adakan cerita yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Jadi seperti mengada-ada begitu, seperti beberapa hari berturut-turut naik kereta dari Gondangdia sampai UI, terakhirnya sampai Depok sekaligus. Langit menangis seakan merasakan kesedihan seorang ibu yang anak-anak hebatnya belum jadi apa-apa. Memang butuh berbagai jenis orang untuk membuat dunia ini terus berputar, kadang ada yang di atasnya, kadang di bawahnya. Begitu saja terus sampai kapan entah, akunya tak berasa, tak berperisa, septriasa.

Armageddon itu sebenarnya korupsi dari armada gendon, lhah, mengapa gendon sampai mengarmada. Apa seperti musuhnya pasukan kapal bintang yang anak-anaknya sanggup mencabik-cabik manusia seakan-akan terbuat dari kardus. Aku menggelosor seperti bapak semang, melata-lata di sepanjang aspal Yado 5 ketika masih Yado 2, beringsut-ingsut merayap sampai pulang kepada bapak ibu, alasan mengapa aku ada di dunia ini. Segalaku, asalku, tempatku menuju, tempatku pulang. Di kehidupan lain kudekap bapak ibu erat-erat seakan tak hendak lepas lagi.

Selama-lamanya.