Saturday, September 24, 2011

Walau Terikat Rasa Hina


Salinan ini kurasa bukanlah kualitas terbaik, tapi dari semua lagu Sheila on 7, yang terpaksa dikoleksi adalah Kita. Melodi, aransemen dan suara yang dihasilkannya genial dan segar. Setelah itu dilanjutkan oleh Tante Rien Djamain dengan Kucoba Lagi, dari hari-hari yang telah berlalu. Ini betul-betul tidak benar! Alhamdulillah, malam kemarin aku tidur cepat. Jam sembilan sudah tepar. Alhamdulillah, bangun pas waktu sahur. Segera sahur ke belakang, makan qimpul tahu sama teh adem setengah manis. Dua hari ini aku tidur di tempatnya Dedy. Terlepas dari ketidaksempurnaan ini, tidur cepat dan bangun cepat sungguh sesuatu yang harus sangat disyukuri. Akan tetapi, kenapa sekarang malah menulis entri? Seharusnya 'kan segera menyelesaikan laporan Lamongan. Ya Allah, sudah satu bulan lampau!

No excuse, Sir! Hehehe... aku gak pernah nyimak syair Kuingin Kembali-nya Iwa K. Sumpah jijiks hahaha... Kalau kuingat masa-masa SMA, maka tidak perlu benar kusesali segala kekacauan yang telah terjadi dalam hidupku. Masa-masa itu, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang kuinginkan. Alangkah baiknya jika, setidaknya, aku punya model peran, seseorang yang menjadi panutan, patokan. Semacam... aku ingin menjadi sepertinya... Aku tidak pernah punya yang seperti itu. Sejujurnya, ketika dalam buku tahunan SMA ditanya tokoh idola, ingin kuisi sama saja dengan yang kuisikan pada nama orangtua. Aku juga 'mengidolakan' Pak Harto, Bapak Pembangunan, namun tidak berarti aku ingin menjadi seperti dia. Begitu juga dengan Bapakku, tidak berarti aku ingin menjadi seperti dia. Bapak pun kurasa tidak ingin aku menjadi sepertinya.

Memang pahit, kalau dingat-ingat. Tidak, aku tidak menyesali apapun. Tidak ada juga yang dapat disesali. Menyesal itu apabila seseorang tidak mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Apa yang seharusnya kukerjakan? Apa yang tidak kukerjakan? Beginilah perjalananku. Duniaku carut-marut, jauh dari sempurna. Sungguh banyak dosa dan kedurhakaan yang telah kulakukan dan terus kulakukan. Insya Allah, ini jauh lebih mengkhawatirkan bagiku. Jauh lebih mengkhawatirkan daripada, misalnya, sampai setua ini, aku masih belum punya rumah dan mobil. Hahaha... menuliskannya saja terasa lucu. Atau keluarga... Istri dan anak-anak... kepada siapa aku bisa pulang setiap harinya. Sampai setua ini aku tidak 'punya' apa-apa, dan aku tidak tahu apakah aku sedang menuju 'ke mana' atau akan menjadi 'apa'.

Kepahitan. Apapun yang terjadi jangan merasa pahit, karena itu akan membunuhmu. Begitu pesan seorang suami dan bapak pada istri dan anak-anak perempuannya ketika mereka dijebloskan ke dalam kamp tawanan oleh tentara pendudukan Jepang ketika Perang Pasifik melanda Hindia Belanda. Pada kenyataannya, bapak itulah yang meninggal sedangkan istri dan anak-anak perempuannya selamat sampai perang berakhir. Mungkin ia akhirnya sedih juga karena dipisahkan dari orang-orang yang sangat disayanginya. Mungkin, selain kerja berat dan kondisi hidup yang sangat buruk, kesedihan akhirnya menggerus keinginannya untuk terus hidup. Mengerikankah kematian? Jangankan itu. Pagi ini, aku salah menginjak batu dan hampir saja pergelangan kaki kiriku terkilir lagi... Hiiy... Naudzubillahi min dzalik.

Berdandan a la fantastik! Ahaha... what a hilarity! Prof Safri kenapa pikiranmu Beatles tok?! Dua bocah ini lagi ya ampun... Aldo Panjaitan dan Umar Bawahab! Semoga masa muda kalian menyenangkan. Kudoakan agar kalian kelak menjadi laki-laki umur tigapuluhan yang sedikit sekali kenangan pahitnya di masa yang lebih muda. Hahaha... Aldo baru putus dari Marry. Aldo dan Marry... Putus... Beberapa orang bisa menerimanya dengan ringan begitu saja, tetapi beberapa orang lain menerimanya dengan sangat berat hati. Aku termasuk yang kedua. Makanya aku lebih suka sekalian tidak usah berurusan saja, daripada terjadi yang seperti itu. Namun perempuan-perempuan ini sepertinya begitu... Seenaknya saja mereka pergi sambil mendoakan agar kita menemukan bahagia bersama yang lain... Hahaha... ngapain sih koq jadi begini?! Bikin lagu ah... ini inspirasi yang luar biasa heheheh...

Sudah... sudah... menulisi Kemacangondrongan tidak akan membuatku menjadi penulis yang lebih baik. Lihat saja caraku menulis di sini. Sama sekali sesuka hatiku, padahal kesukaan hatiku orang lain tiada peduli! Cukup! Ayo, segera menulis yang benar! Seperti banci pengecut, (karena, kata Mama Dorce, ada banci pemberani) aku mengobral keluhan pada semua orang, "bahkan membaca pun aku sudah tidak sempat." Semua orang, atau setidaknya banyak sekali orang, sulit hidupnya. Jadi tidak perlu mengeluh, apalagi mengumbar keluhan ke mana-mana. Insya Allah, Bismillah, abis ini aku akan kembali menekuni apa-apa yang kubutuhkan untuk menyelesaikan laporan Lamongan. Selain itu, tentu saja aku harus mengontak Mbak Melda, tidak untuk melaporkan apa yang sudah kukerjakan, tetapi untuk mohon arahan selanjutnya. Ya, aku menikmati pekerjaanku, setiap detiknya. Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

Dan bila mentari esok 'kan bersinar lagi, kuingin candamu warnai hariku.

Saturday, September 10, 2011

Indahnya Kebersamaan Paradua


Indahnya kebersamaan Paradua? Aku hampir-hampir tidak percaya kalau aku sendiri yang menuliskan kata-kata itu. Lebih tidak percaya lagi jika aku sampai menggunakannya untuk menjadi judul entri. Aku menulis entri ini ditemani album Back to Front-nya Lionel Richie. Album yang sangat berkesan bagiku, karena ia sering sekali kudengarkan dalam tahun-tahun penuh kepongahan yang, tanpa kusadari, ternyata merupakan tahun-tahun 'kumenghancurkan diriku sendiri... dan orang-orang di sekitarku, orang-orang yang kusayangi...

Kata-kata "indahnya kebersamaan" kuambil dari Heri Dian Dwi Harto, seorang hebat. Bahkan sejak dulu ia sudah dipanggil Babe, seingatku. Sungguh, dahulu ia adalah seorang pemuda belasan tahun yang sangat bijaksana. Kini, ia menjadi seseorang yang, Insya Allah, jauh lebih bijaksana lagi. Kata "paradua" kuambil dari Goklas Tunggul Partoho Sirait, seorang yang tak kalah hebatnya. Seseorang dengan integritas dan kejernihan berpikir yang luar biasa. Belum lagi keuletan dan etos kerjanya. Habis nanti kata-kataku mencoba melukiskan kehebatan seorang Goklas.

Aku menulis ini sepulang dari menghadiri acara Halal bi Halal dengan teman-teman alumni angkatan ke-2 Taruna Nusantara, diadakan di Kedai Kopi Phoenam, Kebon Sirih, 9 September 2011. Alhamdulillah, hamba mengucap syukur atas perasaan nyaman yang hamba rasakan setelah menghadiri acara tersebut. Alhamdulillah. Benar kata Sandy Maulana Prakasa, aku merasa senang setelah menghadiri acara itu, dan aku, terlebih lagi, merasa sangat senang dan bersyukur telah menghadiri acara itu. Sandy Maulana Prakasa... aku sudah memberitahumu apa yang kuingat mengenaimu ketika kita masih sama-sama di Graha 3 dahulu. Biar kutambah satu lagi. Seingatku, kamu adalah salah satu penghuni graha yang rajin shalat. Selebihnya, seperti halnya semua saudaraku lulusan Taruna Nusantara (Alhamdulillah)... kalian HEBAT!

Seperti ini jugakah perasaan lulusan AMN mengenai kawan-kawannya sesama lulusan AMN? Begitu jugakah dengan alumni ITB? Begitukah, seperti yang dikatakan Wicahyo Ratomo, semua yang pernah merasakan kebersamaan? Wicahyo Ratomo, aku tidak pernah sekelas denganmu. Namun, siapakah, bahkan di antara kawan-kawan seangkatan, yang meragukan kehebatanmu? Harus kuakui, dengan menundukkan hati dan kepala sedalam-dalamnya, aku memang ekstrim. Entah apa yang ada dalam hatiku, kedengkian, atau sekadar ketidakdewasaan. Aku curiga pada kalian, saudara-saudaraku sendiri. Aku curiga kalian akan menjadi kelompok elitis dan eksklusif, yang dengan kemampuan kalian yang jauh di atas rata-rata saudara sebangsa, berambisi untuk berkuasa, atas seluruh bangsa dan negara ini, yang pada akhirnya hanya akan membawa bencana bagi semua... seperti yang sedang kita saksikan kini!

Buat apa aku berpikir seperti itu? Apa untungnya bagiku? Apa manfaatnya bagi orang lain? Tidak ada! Mengapa tidak kudoakan saja orang-orang hebat ini, saudara-saudaraku sendiri? Mengapa tidak berbaik-sangka saja aku pada mereka, saudara-saudaraku ini? Mereka, seperti kata Sandy, adalah saudara-saudaraku. Kami pernah lebih dekat satu sama lain, mungkin lebih daripada dengan semua orang lainnya. Sangkaan baik ini sungguh menyamankan hati, sampai-sampai aku yakin pada ketulusan doaku malam ini, meski aku belum shalat Isya'. Saudara-saudaraku, kalian berhak atas sangkaan-baikku. Kalian berhak atas doa tulusku.

Allah Illahi Rabbi, hamba mohon ampun atas segala dosa dan kedurhakaan hamba. Sungguh engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Maha Pengampun, yang AmpunanNya mendahului MurkaNya. Hamba mohon kepada Engkau Pengayom alam ciptaan, bimbinglah saudara-saudara hamba ini, lulusan Taruna Nusantara, terutama yang pernah berbagi suka-duka bersama hamba. Hamba mohon kepadaMu yang Perkasa namun Pengiba, Sebaik-baiknya Majikan, Sebaik-baiknya Penguasa, Sebaik-baiknya Penolong, Pelindung, tolonglah kami, kasihanilah kami, tuntunlah kami tetap pada jalanMu. Perbesarlah manfaat kami pada persekitaran (galang potensi kekuatan) dan perkecillah kerusakan yang kami akibatkan (redam segala kelemahan). Segala puji hanya padaMu, Rabb. Shalawat dan salam semoga senantiasa atas kekasihMu Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam.

Kawan-kawanku, saudara-saudaraku, tak semua nama kalian kusebut di sini. Maafkan aku. Namun kata-kataku memang tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan kehebatan kalian, apalagi masing-masing. Kalian hebat! Aku memohon kepada Allah agar aku bisa menjadi sehebat kalian, sebijaksana kalian, seulet kalian... Maafkan aku. Maafkan kata-kataku yang kurang pantas. Maafkan perbuatan-perbuatanku yang pandir dan tidak panjang-pikir. Maafkan aku telah mengecewakan kalian. Maafkan aku. Aku memohon kepada Allah, malam ini, semoga aku bisa menjadi sehebat kalian, namun sebelumnya... maafkan aku.

Adikku Haryo Budi Rahmadi, semoga Allah menolongmu, membimbingmu, melindungimu. Semua doa dan harapan baikku untukmu, sebanyak harapan Bapak Ibu atasmu dan atas kita anak-anak laki-laki mereka, dan berlipat-lipat lagi. Semua doa dan harapan baik yang tidak kuketahui. Semua kebaikan yang berada dalam Khazanah Pengetahuan Allah Maha Tahu, kumohonkan untukmu dan untuk adik-adik perempuan kita, juga untuk keluarga-keluarga kalian. Maafkan aku telah menjadi teladan buruk. Maafkan kata-kata dan perbuatanku yang menyakiti hati kalian, adik-adikku.

Allah Illahi Rabbi, sayangilah kedua orangtuaku, seperti mereka telah menyayangiku sejak kecil.

Fastabiqul Khairat ...demi jaya Indonesia. Insya Allah.

Tuesday, September 06, 2011

Somalia, Kelaparan Sebagai Senjata


Jarang-jarang aku menulis entri hari gini. Paling tidak, aku sudah shalat Ashar. Jadi tidak apa menulis entri. Diiringi raungan Power Slaves dengan hit mereka sepanjang masa, Impian, aku tiba-tiba jadi teringat Eyik yang sudah dimasukkan rumah sakit jiwa. Memang, kalau menulisi macangondrong enaknya jangan pakai berpikir. Tulis saja apapun yang tiba-tiba melintas di otak. Sandoro sedang makan Ayam Bumbu Rujak-nya Warung Alo, padahal dia sudah makan uli dari Agam tadi. Enak juga, kata Sandoro. Mari kita coba buat paragraf pendek-pendek saja, tapi ada enam. Seperti Kekasihku-nya Padi juga superb melodinya, haunting-like. Masa-masa itu memang kurang enak untuk dikenang, masa-masa ketika lagu ini sedang hit.

Dalam film 'Black Hawk Down', dikatakan bahwa milisi Somalia yang saling berperang menggunakan kelaparan sebagai senjata. Mereka sengaja menahan bantuan bahan makanan dari PBB untuk melaparkan musuh-musuhnya sehingga lebih mudah dikalahkan. Orang Barat menganggap bahwa perbuatan itu biadab, genosida, pelanggaran HAM berat dan sebagainya. Padahal di Jaman Kegelapan mereka, wardlords Eropa biasa melakukan itu. Bahkan, kampung-kampung bisa begitu saja dibakar dan dimusnahkan untuk alasan-alasan yang biadab, untuk ukuran jaman sekarang. Misalnya, sebuah kampung baru saja panen, dan akan dilewati oleh tentara musuh. Jika seorang panglima merasa tidak mampu menahan laju tentara itu, maka setidaknya yang dapat dilakukan adalah membumihanguskan kampung tadi, agar tentara musuh tidak dapat mengambil manfaat darinya. Hey, VOC pun menggunakan taktik ini ketika berperang melawan Sultan Agung!


Tampak dalam gambar, Walikota Bunawan, Cox Elorde, dari Propinsi Agusan del Sur, Filipina Selatan tengah memeluk Buaya. Berikut ini adalah percakapan antara Walikota dengan Buaya.

[Buaya] Apakah kamu benar-benar sayang aku?
[Walikota] Tentu saja 'ku benar sayang kamu.
[Buaya] Buktikanlah, buktikan, coba buktikan padaku...
[Walikota] Hati ini, cinta ini, hanya butuh, hanya ingin dirimu, dirimu selamanya...

Tetap saja menyedihkan. Aku mengurangi makan agar tidak terlalu gendut. Orang-orang Somalia kekurangan makan sampai mati. Tahukah kamu, aku sekarang sudah tidak begitu suka memikirkan goro-goro. Aku lebih suka jika segala sesuatunya berjalan lancar dan aman-aman saja, setidaknya untukku. Aku menjadi sangat egois. Tahukah kenapa? Karena kini aku punya harapan. Kini aku berharap akan masa depan. Entah seperti apa bentuknya, tetapi aku sungguh berharap agar masa depanku itu nyaman dan damai, untukku dan untuk orang-orang yang aku sayangi. Sebenarnya tidak bisa juga lantas dikatakan egois. Aku hanya mencoba serealistis mungkin, seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang. Gila apa?! Buat apa aku membayangkan diriku ambil bagian dalam berubahnya jaman? Jaman, silakan berubah. Allah, hamba mohon, selamatkan hamba dan orang-orang yang hamba kasihi. Amin.

Jalan masih panjang, jangan ucap janji, nikmatilah cintamu hari ini. Begitu kata Andy Liany almarhum. Jalan masih panjang, okay. Namun, kenapa jangan ucap janji? Aku mengucap janji, Insya Allah, untuk bersyukur atas cinta yang kunikmati hari ini, dan yang akan kunikmati sepanjang jalanku menghabiskan umur. Amin. Keadaan dan perasaan dalam mana aku berada kini, sesungguhnya kurang nyaman. Sesungguhnya, aku selalu merasa was-was dan gelisah. Sungguh aku memohon dalam hatiku yang paling dalam, semoga Allah segera mengakhiri penantian ini. Sungguh, aku memohon dan selalu memohon kepadaNya agar dijadikan hambaNya yang selalu mengingatNya, selalu bersyukur atasNya, dan terus diperbaiki mutu penghambaannya. Karena aku sedang dimabuk kepayang, dimabuk asmara. Karena aku tersentuh tepat di hatiku, tersentuh dengan sepenuh jiwa, hahaha...

Aku berjanji untuk beres-beres kantor hari ini, tetapi sudah jam 17.00 dan aku belum melakukan apa-apa untuk itu! Biarlah kutulis ketakutanku kini. Uangku tinggal satu jutaan! Ya Allah! Masih ada sih seharusnya yang dari Bu Myra. Besok aku ketemu dengannya. Semoga beliau menanyakan rekeningku hehehe... berapa yaaa... Semoga jumlahnya lumayan. Karena aku sedang jatuh cinta... eh, salah... Aku sedang mau membuka tabungan baru, yakni Tabungan Haji Bukopin! Subhanallah! Imanku cuma sampai di kulitnya! Hahahaha.... dan aku dengan penuh emosi menukasnya. Sungguh aku sangat menyesali, kenapa harus kutukas? Oh, bodohnya... Bodo ah, Aku memang sedang jatuh cinta, tapi aku tak berdaya...

Sunday, September 04, 2011

The Beauty That Is Mine


Aku terpikir kata-kata ini gara-gara mendengarkan melodi theme song-nya Emmanuelle. Filmnya sendiri tidak akan pernah membuatku ingin menontonnya. Selera artistik dan intelektual orang Perancis memang tidak bersetuju denganku. Akan tetapi, melodinya! Melodi ini seperti mengilhamkan suatu cinta yang sederhana, seperti yang selalu kudambakan, kukhayalkan. Seperti apa cinta yang sederhana itu? Hidup di lingkungan kampung yang bersahaja meski di perkotaan? Bertetangga dengan orang-orang sederhana? Pedagang bubur ayam yang mendorong gerobaknya tiap hari, atau pedagang ayam potongnya itu sendiri? Meski sederhana, cintaku cantik. Cantik seperti melodi ini. Cantik yang sederhana. Ah, sulitlah menggambarkannya dengan kata-kata. Ketika aku berusaha mengungkapkannya dalam kata-kata, yang terpikir hanya itu: "The Beauty That Is Mine." Insya Allah, aku tidak terlahir rakus. Insya Allah, lebih mudah bagiku mengabaikan dunia dibandingkan beberapa orang lainnya. Insya Allah. Akan tetapi, kalau cinta maka harus sepenuhnya milikku. Cinta yang cantik. Cinta yang sederhana, seperti melodi ini.

Berapa usiaku sekarang? Tigapuluh Lima. Anakku perempuan sudah duabelas tahun usianya. Sudah gadis. Apa yang kupunya? Laptop ini, HP 520, memang punyaku sendiri, meski baterainya sudah jelas minta diganti. Lalu ada Honda Vario. Itu juga punyaku. Kulkas Sanyo. Itu punyaku juga. Sudah. Keadaan ini tidak akan lama lagi, Insya Allah. Duh Gusti, lagu ini sungguh mewakili suasana hatiku malam ini. Bukan, Aku bukannya sedang merasa tidak berdaya. Aku juga tidak merasa sedang memperjuangkan sesuatu. Hatiku masih gengsi untuk mengakui bahwa aku menginginkan barang-barang itu. Rumah dan perabotannya. Mobil. Setidaknya, kalaupun diusahakan juga, istilah 'memperjuangkan' janganlah digunakan di sini. Teringatnya, aku tadi lihat-lihat mesin cuci top-loading di Giant. Merek apa tadi itu? Samsung, LG, Polytron? Harganya di bawah dua juta. Namun aku sepertinya gengsi kalau beli yang murah-murah begitu. Tidak! Aku tidak akan beli yang murah. Aku beli yang baik. Kulkas saja Insya Allah bukan yang murah, melainkan yang baik. Setidaknya, begitulah menurut Ibu.

Waduw... Again-nya Francis Goya!!! Paragraf ini mungkin untuk Puyunghai saja. Sebelum makan Puyunghai ronde kedua ini, aku minum Sirup Cap Bangau Rasa Pisang Ambon. Sedap! Namun rasanya agak terlalu canggih... Yang dulu tidak seperti ini... Lebih bersahaja namun tak mudah terlupa. Kini tentang Puyunghai. Aku benar-benar lupa di mana bisa dibeli Puyunghai enak. Seingatku aku sudah coba Berkat punya, dan seingatku rasanya sama sekali tidak istimewa. Kemarin pesan di Solaria. Bentuknya lucu, seperti kerucut, tetapi rasanya juga tidak istimewa. Bagaimana kalau di Margonda ya? Apa aku sudah pernah mencobanya akhir-akhir ini? Seingatku tidak. Nah, malam ini aku beli di pinggir jalan. Tidak istimewa juga. Sepertinya, ia menggunakan kecap inggris untuk membuat sausnya, dan itu membuatnya menjadi agak aneh. Agak tidak pas rasanya, makan puyunghai koq beraroma kecap inggris. Oh ya, dan sebelumnya Bakso A Fung. Kalau tidak salah, aku pertama kali berkenalan dengan bakso ini di food court-nya Pondok Indah Mall yang dulu, dan sejak saat itu, otakku selalu merekam bahwa bakso enak salah satunya Bakso A Fung. Dan memang masih enak. Tapi dengan tigapuluh ribu semangkok, sepertinya cukuplah setahun sekali membelinya.

Saturday, June 18, 2011

Walau Banyak yang Mencoba Memisahkan Kita


Aku akan selalu mencintaimu! Lagu ini membuat kenanganku mengembara ke jaman Cimone. Waktu yang sangat krusial bagi pembentukan mentalku... sehingga keple begini. Hahahaha... seenaknya saja menyalahkan waktu. Keple sih keple aja. Nah lo, terus lagu ini. Waktu bercinta, waktu bercinta, terasa enak, terasa sungguh enak. Ini sih jaman Kemayoran. The Best of Top VI. Gambarnya kalau gak salah Bo Derek. Diilangin Dony Yuliardi! Don! Kembalikaaan!!! Ada satu lagunya tuh yang sampai hari ini gak ketemu-ketemu. You look so beautiful tonight dan seterusnya... entah apa judulnya. Seperti doa kecilku, Ya Allah, hamba mohon kembalikanlah lagu-lagu itu kepada hamba, sebelum hamba mati. Amin.

Waduw, lagu ini! Kamu datang pada indera-inderaku. Ini mah SMA banget. Benar-benar membuatku menyesal. Mengapa begini benar jalan hidupku? Ya Allah, hapuskanlah kekecewaan-kekecewaan hamba dari masa-masa itu. Hamba mohon gantikanlah dengan kebahagiaan dalam rasa syukur yang mendalam dan terus-menerus kepadaMu. Aku jelek dan gendut. Makanya ga ada cewek yang mau sama aku. Gak pernah ada yang bilang aku ganteng, makanya aku gak pernah tahu kalau aku ganteng, karena memang aku gak ganteng. Kusut dah. Dulu Ibu sering ngendika, istriku nanti cantik karena aku baik hati. Hahahahah... Mbahwun, Bu. Tapi ketawa juga. Ya sudahlah. Nyatanya Nasir sudah menjadi tukang bubur.

Lagu ini lagi! Parah! Suatu hari kita akan bersama berbagi cinta ini selamanya. Ah, sudahlah. Orang lain pasti ada yang lebih parah pengalamannya. Aku memang gendut dan berkaki pendek, tapi aku masih banyak yang naksir koq entah kenapa. Hahahahah! Aku ini kenapa sih malam ini? Tauk ah. Kuikuti saja perasaanku yang liar ini, karena tubuhku sudah tidak kuat dibawa liar. Mengerikan betapa waktu, dan gaya hidup yang buruk, dapat mengubah segalanya. Mbak Debbie emang dahsyat bener dah! Abis ini apa nih? ...Maaak... Terima kasih! Aduw syape deh. Asli deh, kurasa emang setidaknya jaman SMP aku juga sudah terpikir, kadang-kadang. Istriku seperti apa ya? Seperti apa ya perempuan yang disiapkan Allah untuk menjadi Istriku, seperti Ibu disiapkan untuk Bapak? Hahahaha... lagu-lagu seperti ini memang kurang-ajar! Mengharu-biru ababil a.k.a abege baru labil ...Hahahaha...

Dan kini... Anakku sudah gadis... Nak, Bapak senang sekali seharian itu kita bisa menghabiskan waktu bersama. Gak banyak yang bisa Bapak katakan, Nak. Bapak sayang padamu, entah bagaimana caranya agar kamu tahu, agar kamu merasakannya. Sungguh Bapak gak pernah tahu, apalagi merencanakan, bahwa segala sesuatunya akan menjadi begini. Sungguh, Nak... ternyata memang tidak ada yang bisa Bapak katakan. Mungkin Bapak harus meminta maaf padamu. Bapak sayang padamu, Nak. Tadi, waktu Bapak melepasmu masuk ruang tunggu di Bandara, dan berbalik, Bapakmu yang sentimentil ini menangis. Entah menangis untuk apa. Ternyata masih tersisa air mata itu. Bapak nyaris tidak bisa berhenti menangis ketika kamu pergi dulu, Nak, dan itu terjadi lama sekali sampai Bapak capek. Sampai-sampai, satu-satunya cara agar tidak terus menangis adalah berusaha keras melupakanmu. Waktu menulis ini saja Bapak menangis lagi...

Apa yang dapat Bapak lakukan, Nak? Biaya pendidikan, itu sudah jelas. Namun Bapak membayangkan lebih. Bapak ingin bisa menjagamu selama kamu bertumbuh. Bapak tidak mau kamu mendapatkan kesan-kesan yang salah mengenai dirimu sendiri. Bapak tidak mau kamu membangun citra-citra buruk mengenai dirimu sendiri. Bapak ingin kamu tumbuh sehat jasmani dan rohani. Bapak sayang padamu, Nak... tapi Bapak gak tahu apa yang harus Bapak lakukan. Bapak gak pernah tahu apa yang harus Bapak lakukan, dan tidak ada yang memberitahu Bapak. Uti ingin Bapak menjadi orang gedean untukmu. Benarkah itu yang kamu butuhkan, Nak? Sejujurnya, Bapak tidak yakin. Sejujurnya, Bapak iri pada Pak Janus karena bisa selalu dekat-dekat denganmu. Bapak sayang padamu, Nak.

Sungguh, sangat menyakitkan jauh-jauh darimu. Orang tidak ada yang tahu, dan mereka memang tidak ada yang mau tahu. Bapak tidak butuh mereka menyalahkan Bapak, karena Bapak sudah menyalahkan diri sendiri lebih keras dari yang mereka bisa bayangkan. Bapak tidak minta dikasihani, tapi kalau mereka tidak bisa memahami perasaan Bapak, setidaknya jangan tambah melukai Bapak. Bayangkan, betapa sakit berusaha melupakanmu selama ini. Sakit. Sakit sekali, Nak. Maafkan Bapak. Tapi Bapak tidak bisa lain, Bapak harus mencoba untuk terus hidup, karena bila ingat Bapak jauh darimu, Bapak jadi tidak ingin hidup. Padahal tidak boleh begitu. Mereka tidak ada yang tahu, dan mereka memang tidak pernah mau tahu. Mereka, seperti biasa, mengira Bapak hanya sekadar lebay.

Bapak senang akhirnya menulis entri ini. Suatu hari nanti, Nak, jika kamu sudah dewasa, mungkin terbaca juga olehmu. Mungkin kamulah yang akan dapat memahaminya. Mungkin kamulah satu-satunya orang yang bisa memahami perasaan Bapak selama ini. Sungguh Bapak tidak berani berharap, tetapi alangkah manisnya jika begitu. Bapak sesungguhnya sudah tidak ingin apa-apa lagi, entah sejak kapan begini. Karena ingin dekat denganmu saja, Anakku, sesuatu yang orang lain bisa dengan mudah mendapatkannya, tidak bisa. Apa lagi yang bisa Bapak inginkan? Alhamdulillah, kamu tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas, Bapak sangat bersyukur, Nak. Bapak berterima kasih pada Ibumu, sekaligus meminta maaf karena tidak membantu selama ini. Bapak sangat menyayangimu, Nak. Semoga Allah selalu membimbing dan melindungiMu. Amin Ya Rabbal 'alamin.

Wednesday, June 15, 2011

KSHM Lalu LPHM Dulu, Pusaka Kemudian


Bismillahirahmanirahiim
. Sungguh pada tempatnya jika ini kumulai dengan mengucap syukur, Alhamdulillah. Sungguh tak terhingga nikmat yang disiramkanNya kepada hamba yang durhaka ini. Inilah salah satu contohnya. Aku menulis entri ini sambil ditemani satu album lengkap Dick Bakker Instrumentally Yours. Sungguh, musik-musik inilah yang telah membentukku, mewarnai jiwaku. Aku teringat lamat-lamat di suatu sore hari yang mendung, aku terbangun dari tidur siangku dan mendengar lagu-lagu ini diputar, di Kompleks Angkasa Pura K28 Kemayoran Gempol. Ampunilah hamba Ya Allah.

Lagu yang tengah diputar ini diberi judul "Dear Parents". Melodinya sangat Belanda. Seperti halnya berbagai episode hidupku yang begitu saja berlalu bagai mimpi, Allah mengijinkanku mengecap suasana hati suatu negeri yang mengilhami ditulisnya melodi-melodi seperti ini. Di sebelah kiriku secangkir Vanilla Rooibos. Di sebelah kananku jus mangga yang enak, cap Country's Choice, tidak seperti jus mangga bohong-bohongan di Belanda. Alhamdulillah. Beginilah memang jika aku berdua saja dengan diriku sendiri. Ya Allah, ijinkanlah hamba selalu mengingatMu, bersyukur padaMu dan menjadi hambaMu yang lebih baik lagi. Amin. Amin. Amin.

Pada kesempatan ini, aku ingin mengenang kembali Kelompok Studi Hukum dan Masyarakat (KSHM). Sesungguhnya bukan sebuah kenangan yang terlalu manis, mengingatkanku pada hari-hari yang penuh kebingungan. Sesungguhnya itu adalah hari-hari yang mengerikan. Sesungguhnya, dengan mengenangnya, bisa-bisa membuat suasana hati menjadi muram dan tertekan. Apa kabar Bagus Suryahutama? Mengingatnya saja membuat hatiku merasa tidak tentram. Oh ya, biar kuabadikan di sini bahwa hari ini, 15 Juni 2011, Hana Izzah Sophia Pulungan binti M. Sofyan Pulungan lahir.

Lalu Qodir, kemarin dia berangkat ke Finlandia. Sebenarnya intinya sama saja, dari Bagus sampai Bobby Marbun. Yang belakangan ini menggunakan kata "inspiring" untuk menyebutku. Namun, mungkin yang paling keterlaluan adalah Bapaknya Hana ini. Jelas ia berkali-kali memperalatku, dan aku, seperti biasa, terlalu lembek untuk menolak. Benarkah ia kawanku? Yaa... memang hubungan kami begitu, benci tapi rindu. Maksudnya aku yang benci dia yang rindu. Sebenarnya menyenangkan kalau aku sampai bisa mendapatkan apa yang kutulis sebagai deklarasi KSHM dulu. Akan tetapi, itu berarti menghubungi Bagus...

Kemudian LPHM. Kali ini Qodirlah biang keroknya. Sejujurnya, LPHM bukan apa-apa. Kami cuma punya lphm.info dulu. Sekarang sudah mati. Kami? Kurasa tidak. Aku. Aku yang punya lphm.info seperti biasanya. Aku lupa bagaimana dahulu sampai terpikir membuat situsweb itu. Beberapa artikelnya masih bisa diselamatkan dan dipindahkan ke pusaka.info kini. Selebihnya... LPHM bukan apa-apa. Aku masih ingat, aku pernah memaksa Dedi membuat beberapa artikel, dan seingatku menghasilkan dua. Ya, betul dua. Naiknya Harga Beras Dunia, Ruwetnya Tata-kelola Perberasan Indonesia dan Pilih Ketahanan Pangan atau Kedaulatan Pangan?

A Place to Live, Desktop Wallpaper-ku Saat Ini

Ini prestasi tersendiri! Meski aku ingat, yang kuterima dari Dedi cuma tempelan yang entah dia dapat dari sana-sini. Capek juga kalau harus terus begitu. Aku lupa apa yang terjadi kemudian dengannya, apa yang telah kulakukan terhadapnya. Yang pasti, aku memang terlalu menyebalkan baginya, dan aku juga selalu tidak tahan dengan apa yang kulihat sebagai daya dorongnya yang rendah. Singkat cerita, aku diterima bersekolah di Belanda. Kutinggalkan Nelayan Teluk Jakarta yang diaku sebagai pekerjaan LPHM, mungkin satu-satunya. Kutinggalkan Sovereign Wealth Fund-nya Pak Udin Saepudin Noor....

Kemudian, Pusaka. Awalnya aku mengusulkan nama "Perhimpunan Studi Hukum dan Masyarakat untuk Persatuan Bangsa dan Keadilan Sosial" yang akan disingkat dengan akronim "Perimbas", meski pada saat itu aku sangat yakin Sopian tidak akan menerimanya. Maka kusiapkan alternatifnya, Pusaka! Begitulah, dalam episode ini Sopianlah biang keroknya. Namun, ini cerita tentang Teuku Sulaeman, M. Farid Hanggawan dan Sandoro Purba. Aku sudah kehilangan Kusmasai, masa aku harus kehilangan Agam juga? Ya, tidak apa-apa. Jika mereka tidak punya cukup alasan untuk bertahan, memang tidak mungkin ditahan. Yang tersisa memang Sandoro.

Jika Sopian memilih Farid, dari awal aku melihat sesuatu pada Sandoro. Ternyata bocah edan ini memang edan. Aku tidak tahu apa yang ada dalam benaknya, tapi setidaknya aku harus berterima kasih padanya karena, sejauh ini, ia tidak meninggalkanku sendiri. Apakah ia akan sekadar mengikutiku? Sampai kapan? Tidak! Lebih baik kudoakan dia. Insya Allah suatu hari nanti ia menjadi dirinya sendiri yang tangguh, dan ia tidak melupakan temannya ini. Seperti sebuah band, bongkar-pasang personil itu wajar. Aku merasa, kami bisa menjadi semacam duet yang menghasilkan. Dan jangan dilupakan, Rendy! Ia selalu ada! Aku suka dekat-dekat padanya, entah kenapa.

Demikianlah Pusaka, sudah kurang lebih setahun umurnya. Sampai malam ini, masih ada tekadku untuk menjaganya tetap hidup. Tidak! Tidak akan kubiarkan salah satu akta buatan Mbak Hesti Bimasto tidak berguna! Akan terus kuusahakan! Ini adalah waktu yang berani. Ini adalah waktu berharap. Ini adalah waktu meyakini akan datangnya berita-berita baik, kejutan-kejutan yang menyenangkan, karena, seperti biasa, aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Malam ini, badanku masih tidak enak rasanya. Namun, tetap saja, di meja resepsionis ini, aku mengetik sambil bertelanjang dada. Udara memang mulai panas. Kurasa memang sudah memasuki musim panas.

Pada titik ini, tak satu serpihan masa lalu pun yang menggoda lamunanku, namun tak satu harapan untuk masa mendatang. Setelah ini aku akan segera beristirahat, membaringkan tubuhku yang sudah tidak karuan bentuknya ini di kasur palembang, yang sejak beli belum pernah dicuci. Suatu hari nanti, kasur palembang akan menjadi kasur pegas yang nyaman, tidak mendelep. Suatu hari nanti, semua keinginanku yang tidak banyak ini akan terpenuhi, juga keinginan orang-orang yang kusayangi. Sesegera mungkin, akan kuperbaiki kualitas hidupku, untuk menyongsong suatu hari nanti itu!

Fastabiqul Khairat!

Wednesday, January 12, 2011

Ini Bukan Sensasi. Ini Kejujuran!


Baiklah aku menulis sebuah entri untuk Kemacangondrongan saja, meski aku sebelumnya secara sukarela menawarkan diri untuk mengisi posisi notulis. Mungkin aku akan menceritakannya nanti, tentang Rapat Kerja Pimpinan FHUI yang diselenggarakan di Parai Beach Hotel and Resort, Sungailiat, Bangka, 8-11 Januari 2011. Nanti, di paragraf-paragraf selanjutnya. Sekarang aku jadi teringat pada perbincanganku dengan Cantik sore tadi, mengenai traveling dan Andrea Hirata. Benar-benar pseudonim yang ora keren blas. Cantik memprotesku karena aku terkesan memandangnya sepele. Harus kuakui, entah kenapa, aku tidak peduli cenderung tidak suka padanya; atau tepatnya, aku sinis padanya.

Mengapa? Aku bisa menumpahkan seribu tambah seribu lagi alasan kenapa aku tidak menyukainya. Sejujurnya, sudah lama aku mempertimbangkan menulis sesuatu yang seperti itu. Mungkin seharusnya aku tidak usah berpikir terlalu banyak. Mungkin seharusnya aku menulis saja. Seperti sekarang ini, peduli kambing raker, aku menulis entri saja! Bahkan bisa saja aku melepaskan rencana ambisius Hukum Koperasi Indonesia untuk mengejar impianku sendiri. Kenapa aku harus takut melenggang sendiri? Apa benar aku takut? Butuh apa aku sama Sopian M Pulungan? Aku ingin memanfaatkan ke-SH-anku semaksimal mungkin. Aku ingin beracara dan, tentu saja, punya ijin beracara! Betulkah? Benarkah aku sudah tahu apa yang kuingingkan?



Aku tahu. Aku menginginkanmu, Cantik. Hanya kamu. Jika betul aku hanya menginginkanmu, mungkin aku seharusnya mempertimbangkan baik-baik inspirasi darimu. Aku pun bisa menulis sekuat Andrea Hirata atau siapapun, Dan Brown apalagi. Bahkan aku berani menantang Tolkin dan Rowling! Seperti biasa lebay, tapi siapa takut?! Aku punya beberapa topik yang ingin, atau setidaknya pernah terpikir untuk, kukembangkan. Pertama, tentu saja pengalamanku sendiri. Hahaha... aku jadi seperti Jamal Gani dong, meski aku yakin ia tidak akan mampu membuktikan kata-katanya. [siapa tahu kalau ditantang begini ia akan terbakar hahaha...] Kedua, tentang nekromansi, apa padanan bahasa Indonesianya ya? Ketiga, tentang Tropiko. Sesungguhnya bisa saja yang pertama kubungkus dengan yang kedua atau ketiga.

Disertasi, terdengar begitu jauhnya engkau. Bapak, terutama, selalu mengulang-ulang itu. Ibu, seperti dahulu, terlihat lebih sabar. Stop press: Tau2 Ira muncul di sebelahku, "Gue kira lo bikin notulensi." Kujawab, "Gue catet yang ada hubungannya sama pendidikan aja. Begitu kata Bang Andhika." Sepik. Sebenernya sih aku benar-benar males sudah. Jadi, pemirsa, sekarang sudah pukul 23.19 loh. Parul lagi cingcong. Sudahlah. Masih ada Mbak Fit abis ini. Kembali lagi ke Disertasi. Berpikir disertasi, tentu jadi teringat BHMN. Baiklah aku berdoa saja, memohon kepada Allah semoga dilancarkan semua urusanku. Akan kupertahankan posisiku di FHUI, jika tidak untuk apa-apa, setidaknya untuk membalas dendam! Parul bisa menulis bahwa mendidik anak bangsa adalah tugas sucinya. Aku, seperti biasa, sinis.

Kembali lagi ke disertasi, ya, di situ tantangannya. Memang belum kubaca dengan serius, tapi, kalau aku tidak salah baca, Holleman banyak menulis karya fiksi. Wow! Kalau setelah ini Andrea Hirata atau apapun nama aslinya menyusun disertasi sampai jadi doktor, dia bisa sehebat Holleman! Aku... jangan-jangan aku harus mengorbankan salah satunya... Yang jelas, tidak mungkinlah aku kalahkan disertasi. Itu adalah keinginan orangtuaku, dan itu suci! Semoga aku mendapat kekuatan dan kelonggaran untuk mengerjakan keduanya. Keduanya?! Bahkan untuk hukum koperasi Indonesia saja, aku belum menulis sepatah kata pun. Harus kuakui, tentu saja aku tidak begitu semangat menyusunnya. kenapa aku harus berbagi kepengarangan dengan Sopian atau siapapun?!

Biaya cetak! Semoga Allah memberikan jalan untuk ini. Insya Allah, selama masih kulangkahkan kaki ini, maka tidak ada apapun yang harus kukhawatirkan. Allah Maha Mengurus Segala Sesuatu! Lalu Nelayan Teluk Jakarta... Hey! Kepulauan Seribu dulu dong. Nelayan Teluk Jakarta 'kan naskahnya sudah siap. Jika aku berhasil mempersiapkan Kepulauan Seribu, maka Insya Allah ada naskah ketiga! Coba, coba, kita tuliskan judul-judulnya... (1) Ikan Untuk Nelayan! (2) Nelayan Teluk Jakarta (3) Nelayan Kepulauan Seribu. Wow! Meski aku yakin, sebagai sebuah karya antropologi hukum, buku-buku ini tentu rendah mutunya dan penuh kebohongan pula hahaha... Mungkin memang harus kuakui, buku-buku ini bukan tulisan ilmiah. Ini adalah propaganda! Ya, itu lebih jujur. Ini bukan masalah sensasi. Ini kejujuran!

Saturday, January 01, 2011

Malam Tahun Baru Tanpa Air


Writing entries is very relaxing
. Maksudnya, jika aku menulis entri, itu artinya aku sedang rileks. Ditemani operetta karya Johann Strauss II, Die Fledermaus, memang tidak ada lain yang dapat dilakukan oleh seorang decayed gentleman seperti aku kecuali bersantai. Rileks. Memang aku tidak mengenakan setelanku. Di negara tropis ini, malam tahun baru terasa sungguh panasnya. Memang sudah berhari-hari begini. Sesungguhnya, aku hanya mengenakan baju kaus berkerah dari Bapak, yang ada logonya entah apa, yang malam ini terpercik susu Indomilk, bercelana pendek; semakin memantapkan jatidiriku sebagai seorang priyayi yang telah membusuk. Aku tidak punya kekayaan. Aku tidak punya kehormatan. Aku tidak punya apa-apa yang bisa menunjukkan status dan fungsiku. Kecuali bahwa aku juga menikmati segelas besar teh hijau dengan kelopak bunga melati alami, tidak ada satu pun di sekitarku yang menandakan aku berasal dari golongan terhormat dalam masyarakat. Kecuali bahwa aku sedang menikmati Sphären-Klänge dari Josef Strauss, tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa aku seorang aristokrat.

Betapa aku dapat mempertahankan kedudukan sosial leluhurku, kini bahkan aku tinggal di sebuah kontrakan sempit, yang malam ini bahkan air keran tidak mengalir. Intan berkata, "Tidak penting anakku pinter, yang penting bisa cari uang banyak." Uang. Sebuah rekaan (invention) yang sungguh mengerikan. Jika Alfred Nobel saja menyesal telah menemukan dan menyebarluaskan dinamit, maka yang memikirkan gagasan mengenai uang dan mewujudkannya harus beribu-ribu kali lebih menyesal. Sudahlah. Cara berpikir ini sulit, dan tidak menarik. Orang tidak mau dengar. Tahukah engkau, Sayang, kata-kata Intan itu sunguh mengerikan terdengar olehku. Sungguh, dunia kita ini sudah tidak butuh orang-orang yang ketika kecilnya didoakan demikian. Sungguh, jika saja aku mau sedikit berusaha, aku bisa membuktikan bahwa menjadi kaya sekarang berarti memiskinkan orang lain di tempat lain, di waktu lain. Namun kini aku sedang enggan berusaha, jadi kuketuk-ketukkan saja jariku pada papan-kunci laptop-ku seirama dengan Radetzky March.

Selamat Tahun Baru 2011. Banyak Untung. Banyak Senang.

Aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku, ketika kukatakan padamu, tidak ada hubungannya antara apa yang kita usahakan dan hasil yang kita dapatkan. Berusaha adalah takdir manusia. Hasil adalah sepenuhnya hak prerogatif Allah. Benar-benar sepenuhnya terserah Allah. Karena itu, aku tidak suka menaruh bekerja dalam satu kategori dengan berdoa. Bekerja itu selalu tidak (sepenuhnya) menyenangkan. Berdoa sudah pasti menyenangkan, setidaknya membuat hati nyaman. Aah, seperti komposisi ini! Gold und Silber oleh Franz Lehar. Dan berdoa tidak sama dengan 'menyuruh' Allah. Kurasa, kebanyakan orang, termasuk diriku sendiri, alih-alih berdoa, malah menyuruh-nyuruh Allah. Salah satu 'teknik' berdoa yang kena di hatiku adalah munajat. Munajat artinya berbicara dalam kerahasiaan. Berdua-duaan saja dengan Allah, berkeluh-kesah mengenai segala yang dialami sepanjang hari. Mencurahkan segala ketakutan dan harapan bahkan yang paling bodoh atau memalukan sekalipun. Berbisik-bisik kepadaNya. Nikmat sekali! Kamu tahu rasanya berdua-duaan saja dengan kekasih hatimu, yang juga mencintaimu sepenuh hatinya? Ini jaauuuh lebih nikmat dari itu!

Wow! Ini dia! Leichte Kavallerie oleh Franz von Suppé! Aku ingat aku pernah menulis sesuatu mengenai serangan kavaleri, dan menggunakannya sebagai ilustrasi bagi penjelasanku mengenai 'kekuatan pikiran'. Hahaha... waktu yang telah lalu. Hari ini Basuki Effendi alias Basque Béto berulang-tahun yang ke-34, dan, berbicara mengenai waktu yang berlalu, ia memutuskan untuk mabuk. Ada cognac masih sepertiga botol, dan dua botol besar Bir Bintang. Maka minum-minumlah dia dan John Gunadi. Demi waktu Ashr, sesungguhnya manusia tidak lain berada dalam keadaan merugi. Kecuali mereka yang percaya dan berbuat baik, dan saling mengingatkan mengenai kebaikan, dan saling mengingatkan untuk bersabar. Duh, seandainya ada air... aku sangat ingin mandi, membersihkan badan. Setelah bersih badanku, aku ingin meski sekadarnya membersihkan jiwaku. Mengerikan sekali yang telah kulalui selama ini. Tidak heran jika begitu banyak kebaikan dan keindahan ditahan dariku. Namun, sungguh aku berharap, semoga semua itu tidak lagi ditahan, bahkan segera dikurniakan kepadaku...

Subhanallah! Les Patineurs oleh Émile Waldteufel! Benar-benar aku ingin mandi sekarang. Aku sih tidak pernah membayangkan diriku berseluncur di atas danau yang membeku. Aku tidak menjadikannya sebagai bagian dari citra diriku. Itu terlalu Eropa. Norak sungguh jika aristokrat Jawa seperti aku melakukannya. Akan tetapi, harus kuakui, indah betul melodi ini. Subhanallahu Akbar! Namun, kalau Ibu dan Istriku menginginkannya, hal terkecil yang dapat kulakukan adalah berusaha untuk mewujudkannya! Di situlah setidaknya kehormatan seorang ksatria dipertaruhkan. Masa mewujudkan keinginan Ibu dan Istrinya sendiri tidak mampu?! Apapun akan kutempuh untuk mewujudkannya. Ah, kamu kebanyakan cingcong! Lihat saja! Langkahnya, walau kecil, sudah kuayun sore ini. Ah, Steve Ngo ini entah apa yang diinginkannya. Aku, pada dasarnya, tidak tertarik. Sudah berulang kali kukatakan, aku tidak butuh pekerjaan. Pekerjaanku sudah banyak. Yang kubutuhkan uang! Hahaha! Uang! But he sure makes some good points there. Indonesia, maritime, mining and energy... arbitration. Integration into world economy? Based in Indonesia but supported by international experts? Sounds very much like business...

Kamu terlalu pemalu untuk berdansa waltz. Apalagi Ibu.