Thursday, December 31, 2020

Untuk Bayi-bayimu, yang 'Tak 'Kupercaya


'Gar, mungkin kau jengkel, atau setidaknya bosan, membaca entri-entri Kemacangondrongan, karena kebiasaanku menyerakkan makna, karena pendirianku bahwa makna pun perkakas, seperti halnya bentuk dan bunyi. Mungkin kau masih mendamba makna. Aku tidak bisa menyalahkanmu. Siapa yang tahu berapa lama lagi kau harus hidup di dunia. Seberapapun lamanya, kau pasti ingin memaknai hidupmu, meski, kau tahu, aku akan mencelamu karena menjadi terlalu biasa. Kita memang harus biasa, 'Gar, harus lumrah, dan lumrahnya hidup itu bermakna. Begitulah lumrahnya.


Harus segera 'kususulkan di sini, dan ini 'kutujukan pada kalian, 'Rid, 'San, [aku tidak tahu apakah Hari Prasetiyo segabut itu] Togar Tanjung di sini bukan semata Bapaknya Duma. Ia sesungguhnya adalah tokoh khayal dalam semesta paralelku, yang bisa 'kubentuk sekehendakku, berbunyi sesukaku, dan, terpenting, nirmakna. Meski begitu, satu hal yang sama antara Togar Tanjung yang Bapak Duma dan Togar Tanjung dalam semesta paralelku, rambut keduanya sama-sama awut-awutan seperti keset welkom. Jadi ini sebenarnya surat yang lusuh dan lecek, berantakan.

Tidak seperti 2018, tidak juga seperti 2019, apakah aku harus pura-pura tidak tahu, pura-pura tidak peduli. Keterkurungan tanpa nasi uduk bulu ayam yang membangkitkan gambaran-gambaran mengerikan. Mengapa harus ada yang mengakibatkan harus mandi sampai demam. Tidur dengan baju lebih dari lengkap, meski agak dua jam kemudian melucuti satu persatu. Ini semua... bermakna hahaha. Terkadang tidak juga, namun justru di situ letaknya, seperti bioskop Rahayu Theatre atau apapun. Kebanyakan memang mengenai masa lalu. Ada juga sedikit masa depan.

Apa yang menjengkelkan ketika pertemuan pertama, pada nilai mukanya, bisa jadi mengundang senyum setelah sepuluh tahunan. Setelah sepuluh tahunan itu berhasil dilalui, sungguh menakjubkan, dengan selamat. Ini pun, sekiranya diizinkan, akan menakjubkan ketika berhasil dilalui dengan selamat. Memang bentuk tanah yang aneh di apron timur itu sangat khas, meski tidak sampai sehebat Singa yang menelusuri jalan pulang ke rumah dari belasan ribu kilometer jauhnya. Ini bahkan jauh lebih menjengkelkan. Siapa sangka ia akan menghuni daftarmainku setelah lebih sepuluh tahun.

Benar-benar seperti tai diberakin kampret, baik bentuk maupun bunyinya hahaha. Ampuni hamba, Ya Allah, jadikan ini semata cara hamba bersyukur padaMu. Apalagi ini, kemudaan. Apalah arti itu semua. Akankah berarti, apa yang harus 'kulakukan. Apa yang 'kuyakini. Aku tidak yakin. Aku hanya merepotkan. Mengapa banyak sekali aku. Mengapa akal sehat dan hati nurani seakan tidak bekerja. Apa yang 'kutahu mengenai akal sehat dan hati nurani. Entah mengapa tiba-tiba aku ingat Lapangan Alexander, karena aku berhasil melaluinya dengan selamat.

Tirai telah terbuka, menampakkan potong atas. Aku terlempar jauh ke dalam Debbie jurusan X-deres ber-AC yang selalu 'kutakuti, belum lagi segerombolan bau tai. Jika tidak dicatat, mungkin tidak akan pernah ingat kesan utama suatu masa. Utama, kata siapa. Kataku sendiri, karena hanya itu yang jujur. Tidak banyak berguna. Tidak ada yang peduli juga. Betapa dalam lima belas tahun dari acuh tak acuh menjadi tolol. Betapa banyak perubahannya dalam kurun itu. Aku hanya harus menahankannya sebentar lagi. Tidak perlu mengeluh. Tidak usah mengaduh. 'Takkan lama.

Tidak perlu jengkel juga, mengapa beberapa menarik hati sedang lainnya berat hati sampai 'tak jadi. Jika kau ingat lebih dari lima belas tahun lalu begitulah terjadi. Apa yang kau ingat. Tahu petis di depan Gramedia Depok yang semakin tidak relevan itu. Terlebih fotokopi. Bahkan pendidikan tinggi bisa jadi somay, indomie, atau okonomiyaki. Ini adalah alarm atau nada-dering dari waktu-waktu itu, di pojokan di mana segalanya terjadi, bermula. Jangan pula kau tanyakan mengapa. Aku memang cengeng. Sungguh semua terasa seperti tiada arti. Makna. Tiada.

Monday, December 21, 2020

Tadinya Sebuah Nama, Namun 'Tak Jadi


Ya, sebuah nama yang gagah, sesuai dengan orangnya. Namun sekarang aku jadi bertanya-tanya mengenai yang memberi nama. Mengerikan sekali nasib yang menimpanya. Aku mendengarkan kaset nada-nada sok ngejez terbaik dari 37 tahun yang lalu. Adakah itu nasi uduk yang dijual oleh seseorang yang anaknya masuk ke dalam dasternya, lalu si anak berkata, "tai, tai, tai." Astaga sudah dari jaman itu. Aku masih ingat rasanya. Aduhai. Aku tidak peduli dengan dunia ini, sudah tegas dikatakanNya. 'Kujalani sedapat-dapatnya, dari hari ke hari. Yang penting-penting saja.


Ini lagi rendisi Tante Dionne mengenai Hari Kita Akan Datang. Ya rendisinya, ya kenangannya. Aku tidak mau mengenang-ngenang, karena lengan bawah kananku sedang aneh. Aku memanaskan minuman havermut rasa coklat terlebih dulu, setelah sebelumnya semug besar teh hitam dengan rempah-rempah musim dingin. Sementara aku diganggu atau justru asyik dengan semesta paralel, dunia mungkin sedang mempraktikkan yang senyatanya, das sein. Akankah aku dihukum karena pikiranku mempemainkanku, das sollen. Antara ought dan is, ada juga.

Semata-mata reaksi kimia. Semata-mata KesepianNya. Begini memang caranya. Kronologi adalah ilusiNya sekaligus IlusiNya, atau dengan kata-kata lain, Sang Kala. Terombang-ambing di antara aku adalah dualitas. aku adalah genap dan kegenapan. aku, siapapun di alam ciptaan ini, tidak ganjil, tidak ada yang unik, karena Unik adalah Hanya. Lama-lama menjengkelkan maka 'kuganti dengan yang ada Seandainya Engkau Berada dalam Pelukanku Lagi, yang mengharu-biru banyak anak bocah sebayaku. Haruskah 'kumembenci diri sendiri, pasti banyak lainnya.

Robek di arah jam satu, tiga, lima, tujuh, sebelas, hahaha. Ini 'sih kena petasan ciplik, sedang Si Ciplik tidak henti-hentinya memaki. Mengapa. Tidak. Sungguh, aku tidak menertawakannya atau nasib yang menimpanya. Aku menertawakan deskripsi itu sendiri. Nyatanya belum 'kuganti juga gara-gara Sergio Mendez, meski ingin sekali 'kumenoyor kesokcerdikan pilihan-pilihannya. Oh, aku bisa rampak begini. Atas izinNya, segalanya akan indah pada waktunya. Aku tidak pernah merobek apapun, dan tidak pernah ingin, seperti 'ku 'tak pernah ingin reebok, etc.

Aku memang tidak harus peduli. Aku hanya harus menjalani sampai selesai. Sudah begitu saja. Akan halnya aku kembali ke suatu siang pada suatu rombong rokok di depan gardu listrik, sampai digantikan oleh anaknya masih di situ juga, tidak pernah terjadi di alam nyata. Aku bicara praktik padahal aku orang yang paling tidak praktis. Meski harus 'kusebut teras Oom Karyadi dan kol banda. Aku tidak keberatan dan tidak punya preferensi. Sampai hari ini selalu saja kebatan dan kebitan, tidak pernah lebih, tidak pernah kurang dari itu. Akan berakhir, itu pasti. Bersabarlah.

Akhirnya aku membayangkan diriku berakhir di GerobakgoyanG, mungkin tidak. Mungkin aku berhasil mencari pertolongan. Namun buat apa. Yang penting adalah segala sesuatu sebelum berakhir itu. Antara disayangi dan disia-siakan sudah sehari-hari. Yang mana aku tidak pernah akan tahu, karena tidak penting juga. Hanya saja, membayangkan GerobakgoyanG sungguh menyenangkan, atau mungkin tinggal itukah kesenangan. Sebuah ruang belajar yang permai mungkin tidak akan pernah kudapati. Bahkan gardu belajar sudah tidak... apa. Entahlah. Lupa.

Kekecilannya. Antara posisi duduk dan ukuran huruf, 'kumulai lagi di paragraf terakhirnya. Entah mengapa aku kembali ke sini, setelah hampir lima belas tahun. Waktu yang 'kuklaim 'kuhabiskan bersama nelayan. Mungkin benar, dalam khayalku. Semoga Allah menutup aibku, mengampuniku, memaafkanku. Paragraf terakhir ini 'kutambahkan ketika badanku terasa meriang disko, gara-gara mandi. Seharusnya tidak boleh, namun aku melemparkan diri ke sekitar sepuluh tahun yang lalu. Masa lalu hanya indah karena aku berhasil melaluinya dengan selamat. Sudah.

Tuesday, December 01, 2020

Aku Kembali ke Jalan Panjang yang Berliku


...dan aku lupa di mana harus berhenti. Atau di mana harus mulai. Semuanya telah tiada. Sawah-sawah itu. Bangau tongtong itu. Tanah merah berdebu itu. Semua dari akhir 1980-an. Semua dari 30-an tahun yang lalu. Dan rambutnya yang keriting kemerahan. Tidak ada artinya bagiku itu semua, ketika sebuah rumah kosong di bilangan Jalan Jakarta menghancurkanku. Ah, tidak juga, memang sudah hancur dari sananya. Sejak di Kemayoran sampai di Amsterdam hahaha. Ini lebih dari sekadar ketololan. Ini kengerian. Sungguh semoga ini semua segera berakhir.


Entah kapan mulainya, musim panas lalu aku sering mendengarkan jez kethuwil-kethuwil nduliti tuts piano. Barusan aku jengkel padanya dan menggantinya dengan... Nada-nada Sokngejez, dimulai dengan Merayakan. Jengkel juga sih, tapi malas pula untuk menggantinya. Oh, itu waktu-waktu yang mengerikan. Bahkan sampai sekarang pun masih mengerikan. Mulainya entah kapan, menghentikannya entah bagaimana. Setelah Cinta Pergi adalah waktu-waktu ketika Jalan Panjang Berliku telah digantikan Perumahan Harapan Kita. Mengapa aku harus melalui semua.

Dan lampu bohlam yang dikerobongi rol bekas tisu gulung, digunting pada beberapa tempat agar muat masuk bohlam ke dalamnya. Remang-remang jadinya, sejuk juga udara seingatku. Entah musim penghujan tahun berapa. Akhirnya, aku tidak akan mengerang. Tempat tidurku di atas, hampir sejajar dengan erang-erang asli. Karena kami tidur di tempat bekas praktek dr. Hardi Leman, yang menurut Ibu masih suka mengaduk-aduk minuman tengah malam. Betapa mengerikannya. Bahkan anjing suka melolong di Enge datang nyamuk pu hilang. Khayal belaka semua. 

Iaitu Dina dan Maureen, atau buah-buahan menggelantung ketika menyapu halaman di pagi hari. Toh, aku lebih sering telatnya. Meski Herman sudah memanggil-manggil mengajak berangkat bersama, aku justru baru bangun. Misteri Tebing Menyala boleh beli di Kisamaun, seingatku buru-buru pulang langsung mencret. Bersama Pak Tuek ketika itu. Kau Membuatku Tersenyum Kembali. Siapa, Yuli binti Markus atau John Kotelawala, atau jalangkung di rumah kosong. Semoga tidak ada lagi yang mengalami apa yang kualami, yang masih harus kualami baru saja.

Cocok ini menemani suasana setelah hari mulai beranjak malam. Programa Dua menayangkan kalau tidak Square One ya Valerie. Lebih malam lagi ada Supercarrier dan Fun House. Aku tidak ingat apakah pada saat itu masih ada Balki atau Gus Witherspoon. Yang jelas ada Bravestarr dan Mandy Smith yang sudah tidak sabar menunggu waktu bertemu denganku. Ada juga suatu malam ketika sepasang mata mencorong memandangku dari dalam gupet. Dingin, seingatku. Apakah di lantai. Ah, biar 'kucatat di sini. Rah Band - Clouds Across the Moon. Ngejez apanya.

Akankah 'kusesali selamanya, betapa aku, anak Bapak Ibuku, menjadi begini. Sesuatu yang 'kurintis sejak di Kemayoran, lanjut di Kebayoran, menjadi di Cimone, mengerikan di Kebayoran, Magelang, Surabaya. Aku tidak mau mengerang. Tidak lagi penting mengapa mulai. Jauh lebih penting bagaimana mengakhiri. Terkadang rasanya seperti disambar-sambar, berkelebat berkesiuran di dada. Entah sudah lebih dari setengah kujalani atau justru tinggal sebentar lagi. Aku yang pura-pura alim padahal kehijauan ini. Tidak. Aku anak Bapak Ibuku. Itu saja. Tidak lebih.

Malam ini awal Desember, berhujan di Amsterdam Utara. Tidak banyak yang dapat 'kuceritakan mengenai perihalku di sini. Aku justru menghamburkan kepingan-kepingan diriku, serpihan-serpihan ingatan yang tidak hendak pula kususun menjadi utuh kembali. Ingatan-ingatan yang tidak henti-hentinya mengganggu, seperti ketika Patti memintaku untuk mengatakan padanya, aku mencintainya. Selalu saja aku kembali ke jalan panjang yang berliku, setelah setua ini. Semoga ke depan, entah panjang atau bagaimana pun itu, tidak lagi berliku. Lempang saja adanya.