Thursday, January 28, 2021

Tahun Baru Sudah Hampir Masuk Bulan Dua


...dan memang tidak semua tahun ada entri yang menyelamatinya. Akan halnya aku mengetiki ini, bukan semata agar Januari 2021 ada entrinya, melainkan untuk mencoba menjinakkan binatang-menulis. Membaca-baca entri-entri yang lalu, ada kerinduan untuk mengabadikan kegiatan sehari-hari atau menganalisis kejadian-kejadian. Jika aku cukup iseng, mungkin akan 'kutelusuri, sejak kapan aku menyatakan permusuhan dengan makna. Pembicaraan dengan Togar Tanjung mengingatkan suasana kebatinanku pada saat itu, ketika kata-kata masih bermakna.


Nyatanya pikiran masih liar kebat-berkebit. Haruskah 'kujinakkan sekarang, atau 'kuikuti saja liar gelinjangnya. Tapi ini 'kan entri bukan disertasi. Bagaimana dengan kerinduanmu tadi, yang membuatmu bisa merasakan, ya, menghadirkan kembali suasana persekitaranmu ketika itu. Dapatkah serakan makna ini melakukannya, sama seperti lukisan rinci kegiatan, analisis kejadian. Hahaha, baru sampai sini saja sudah terasa jijik. Memang aku tadi sarapan pukul sebelas menjelang tengah hari waktu Amsterdam Utara, dengan rendang basah vegan dan sop sisa-sisa.

Seekor Merpati Putih mencoba menentengku ke masa ketika aku dibuai di awang-awang. Namun aku sudah terlalu berat untuk ditenteng oleh cakar-cakarnya yang mungil. Tidak ada pula keinginan padaku untuk membiarkan diri diterbangkan ke awang-awang begitu, mana sekarang jaman kopid. Di usiaku yang menjelang empat puluh lima, Insya Allah, Agustus tahun ini, aku memang sudah banyak berubah. Sulit bagiku merasakan kembali apa yang 'kurasakan ketika masih tiga puluh lima atau lebih muda lagi dari itu, terlebih dalam situasi ishoma (isholasi mandiri).

Jadi, 'kurasa, aku 'tak sanggup lagi, 'Gar. Sopuyan Sang Mutiara sudah mendapat restu dari istrinya untuk tidak mencari uang dan fokus mengejar propesor. Mengejar, bahkan aku sedang terpincang-pincang. Aku hanya ingin mencinta sekarang. Mungkin kau masih harus mewujudkan doa-doa Ibumu. Aku pun. Semoga segera terwujud. Bila sudah, aku hanya ingin mencinta. Kita ada karena cinta. Kita hidup pun [seyogianya] dalam cinta. Di dunia ini, ketika cinta dipermain-mainkan, ketika cinta tidak pernah menetap, aku senang karena ada Istriku Sayang.

Dahulu aku masih sering melakukan ragaan-ragaan dari yang heroik sampai erotik. Kini, ketika raga sudah semakin menunjukkan tanda-tanda keausan, jiwa belum lagi tenang. Apakah dengan 'kulampiaskan di sini, akan habis kebat-berkebit itu, atau justru makin menjadi. Aku 'tak tahu. Apalah yang aku tahu. Ini saja, Seekor Merpati Putih, 'kurasa aku masih ingat betapa ia mengharu-biru empat tahunan yang lalu. Kini, yang seperti ini tidak mengusik jiwa, hanya raga yang masih terus-menerus bereaksi kimia. Aku tidak menyalahkan, namun 'tak berani juga sekadar mengikuti.

Seperti sekarang ini, aku tidak yakin ini dalam rangka menjinakkan. Aku hanya tahu, malam ini aku harus berusaha tidak mencari mangsa, jika tidak mau jadi orang tua menjengkelkan. Merpati Putih yang penting Seekornya, entah mungkin ia tengah menjalani kehidupannya yang tidak sesemarak bayangannya ketika remaja, atau bahkan jauh lebih baik. Rasa tidak pernah benar di raga, selalu di jiwa. Aku hanya bisa mendoakan, membumbungkan madah cinta bagi semesta, seluas yang mampu 'kujangkau. Jika masih 'kulakukan, semata-mata mekanis. Tidak lebih.

Sudah barang tentu, tidak mungkin aku mendaku apapun kecuali yang jelek-jelek, yang nista-nista. Hidup [di dunia] ini Sekadar Impian, seperti tidurmu yang menimpa lengan kanan ditukar yang kiri, berbolak dan berbalik, berganti-ganti mimpi. Entah berkualitas atau tidak tidur semacam itu, namun itulah kenyataan tidur di atas kasur 'tak berseprai. Masih mending sekarang ia tidak berkeriat-keriut ketika engkau berguling bolak-balik. Kasur pegas itu telah 'kaulalui. Insya Allah, seperti halnya kasur itu, semua ini pun akan berlalu dengan kebaikan Sang Maha Baik.