Saturday, October 31, 2020

Sukesi Suka Sawi, Pourquoi C'est Comme Ci


Ini adalah entri mengenai kesakitan [sakit 'mulu]. Baru sampai sini saja sudah seperti mau berhenti rasanya, setelah melihat bentuknya Ahmad Bla'ar, dilanjut Juwita. Hahaha biar aku sendiri kebingungan suatu hari nanti melihat ragaanku sendiri. Apa yang diragakan, ragaannya, dan kesan yang ditimbulkannya, sudah kehilangan hubungan sebab-akibat; seperti pilihan E ketika pernyataan dan alasan salah namun menunjukkan hubungan sebab-akibat. Aku tidak mau mengakuinya! Aku harus tetap berusaha. Apa. Ini perjuangan berat menciptakan ragaan-ragaan tanpa ada yang diragakan, meski harus timbul kesan.


Apa 'gak malu sudah tua. Justru karena sudah tua itu. Sudah hilang kemudaanku. Tiada lagi buncahan itu meski memang tidak pernah benar-benar membongkah. Aku benar-benar sudah lupa dan itu lebih baik. Apakah terlalu cepat, sedangkan lebih cepat tidak selalu lebih baik. Lebih baik cepat, karena jika sampai terlambat alangkah menjijikkan, dan ini mengingatkanku pada gula yang suka bersepeda. Sakit hatiku karenanya. Sedang aku yang membayar malah yang lain jadi gula-gulanya. Salah sendiri hahaha. Dasar tolol, masih saja tidak belajar; yang seperti itu 'kan selalu saja tolol lantas berakhir pada kesakitan.

Apa 'gak malu pernah 'ngaku koder. Maka 'kuserukan, 'kulantangkan: Mancis! Geretan! Di sini kenanganku begitu saja melayang pada suatu siang bermendung di bilangan Condet agak empat tahun lalu, ketika aku belum minum segala obat darah tinggi secara teratur. Segala hidung. Segala rambut. Terlihat di situ kurang cerdas. Lantas untuk apa. Baru sampai di sini saja sudah interuptus. Pakai ngomyang lagi, meski embun memberat menjatuhi bingkai jendela dari aluminium. Seperti cicak-cicak mengetuk-ngetuk dengan ekornya, tempat menyimpan lemak. Uah, ini gara-gara sawi! Bukan sawinya Parul 'ya.

Tapi ada Jepang-Jepangnya, jadi 'ya Parul juga hahaha. Di sini maka melayang lagi ke belakang Burger and King, ketololannya. Kesakitannya. Menyeberang sudah tidak terlalu gampangnya. Itu masa-masa yang aku sudah mulai lupa rasa-rasanya. Bisa jadi itu semacam Oh La La, dengan quiche bayamnya, masih dengan kamomil seduhnya. Ada tercatat di sini juga. Ada kesakitannya. Astaga. Ini seperti nithili pinggir-pinggir koreng yang mulai mengering. Perih-perihnya. Pahit-pahitnya. Seperti memakan kotoran kuku ketika shalat Jumat, dan bapak-bapak begitu saja bergidik kejijikan. Nah, satu lagi. Kejijikan.

Nah, di sinilah saat kebenarannya, apakah ia menurut, atau aku harus pura-pura jadi koder lagi. Aku jelas kurang tidur dan masih harus nambah tidur lagi, yang mana pasti tidak nyaman. Gelibagan nanti jadinya. Banyak. Jika diurut satu persatu. Bisa banyak sekali. Jangankan itu. Robot dan sejenisnya pun pernah ditembak Mauser C96 ketika sedang menyapu. Dan buah-buahan! Astaga, jika berangkat sekolah agak pagi pasti bertemu buah-buahan sedang disapu-sapu kemaluannya. Astaga masih saja tidak tahu malu. Biji! Biar kulantangkan di sini. Kusalahkan engkau berdua, menggelantung tak sama rendah di bawah sana!

Belum lagi kuburan dan lapangan bola. Jengger ayam! Kesetaraan jengger! Lengan yang digamit entah sudah berapa lengan, selangkangan yang dislepot entah berapa sontolmeong. Ini semua sekadar makian seperti sejuta topan badai, tidak harus berarti apa-apa. Lebih tepatnya, ini ragaan. Semacam botol air dengan bentuk futuristik, bertuliskan savaz padanya, entah apa artinya. Ini mungkin juga meri, anak bebek. Oh, Allah Dewa Batara, kau seperti seekor cicak yang kubelah dua tepat pada perutnya, membuatku muntah. Kau seperti kodok yang kubelah-belah untuk pelajaran biologi. Oh, betapa berdosanya aku. Ya, Allah Dewa Batara!

Ini. Seperti ini. Ragaan-ragaan ini. Dalam studio seluas duapuluh enam meter persegi ini, sering terjadi kengerian-kengerian. Kesendirian. Kesepian. Kepandemian. Kepandemoniuman. Begitu saja, menurut Prof. Dr. Andri G. Wibisana, panoptikon keren. Aduhai. Apa itu keren jika bukan perut yang semakin ndlewet. Mungkin lebih baik begitu, daripada berterusan ini segala kengerian. Lebih baik begini. Gula adalah sekadar manisnya, dan manisnya itu bukan gula sendiri. Jangan sampai kau tertipu, manis yang kauingingkan, gula yang kaucari-cari. Jangan begitu. Habis ini masih harus diperiksa, apakah masih harus aku sok ngoder.