Tuesday, April 30, 2019

Ada Clepretan Cajun Merah Panas di Layarku


Eksibisi tanpa bergantung pada lima-dua-lima atau pratinjau bisa tidak, 'sih. Ini pulak disambut dengan Bahama Mama, setelah ini apa lagi. Si Anjrit, ini apa lagi, Kehidupan di-remake. Ampun 'deh. Akhirnya kuhentikan semua kecerdasbarusan itu. Kuganti menjadi... Badai! Padahal aku baru saja mendapat kebatan: Kecanduan feromon. Ahaha... ini seperti Debbie atau entah apa, seingatku di Tanjung Barat dan sekitarnya. Feromon, terlebih ditingkahi Jaman Aquarius. Tidak, aku tidak peduli. Lantas kalau bukan lima-dua-lima atau pratinjau, apa patokannya.


Semua ini tiada lain kebodohan masa muda. Siapapun! Tiada terkecuali, tanpa peduli. Sedang membicarakan kebodohan masa mudaku sendiri saja aku sudah tidak seberapa berminat, terlebih membicarakan kebodohan masa muda orang lain. 'ngGeus! Ruksak!

Eh Si Tolol, kamu malah menulis apa. Apa akan kau biarkan yang seperti itu masih mengharu-biru tiap desahan, tarikan dan hempasan nafasmu. Ah, aku benar-benar membutuhkan kegesangan dalam situasi seperti ini. Paradigma Gramscian jelas tidak memadai, apalagi Jimlyan. Untunglah yang menggantikannya bukan ketikanku. Ketikanku ya tiada lain lagi. Sebenarnya akan selalu begitu. Aku kembali di sudut ini, mempertaruhkan aroma alami pakaianku melawan bau gorengan. Hei, kamu harus buat presentasi ‘kan. Apa tidak malu pada Pak Dedi Adhuri.

Lebih ngeri lagi, kamu ‘kan harusnya buat laporan penelitian lapangan. Eh Si Tolol Aseli. Ini malah sekarang duduk menghadapi tulisan “Memasak dengan cinta memberi makan bagi jiwa,” yakni di sebuah warung bakso yang didirikan oleh seorang Ki Ageng. Seorang Ki Ageng atau keturunannya di era dijital ini cukup memastikan agar bakso yang dijual di warungnya sedikit mengandung boraks, lebih dominan dagingnya; hal mana membuatku tak suka. Dan menyelang-nyeling Jembatan di atas Air Bergolak dengan Biarkan, sekira empat puluh tahun lalu mungkin memang jenial.

Bagaimana dengan kini. Cukuplah disyukuri bila malam masih muda sedang sudah lengkap lima kali shalatku dalam sehari ini. Meski perut menggembung seenaknya, setidaknya tidak ada cewek genit yang suka ngerjain bapak-bapak empat puluhan, yang bernama Cinta. Tentu tidak, karena adanya Cantik. Sebuah Bangku, Sebatang Pohon, Seruas Jalan terasa sedap-sedapnya dari empat puluh tahunan yang lalu. Jangankan sampai empat puluh, agak tiga puluh tahunan yang lalu saja Kesepian bisa begitu sedap, meski mungkin mendekati tengah malam, mungkin sekitar jam sepuluhan.

Sejauh ini aku memang tidak menggunakan tujuh-lima, namun belum jaminan aku tidak akan umek dengan pratinjau. Betapalah aku tidak akrab dengan aransemen-aransemen ini, dengan intro-intro yang kudengar sejak kecil, yakni dari musik-musik Ibuku. Ibuku ketika masih perempuan muda, seperti mahasiswa-mahasiswaku kini. Aku melihat mereka seperti anak kecil, seperti anakku sendiri. Kini. Aku memang bapak-bapak botak gendut. Aku bahkan bukan Paman Kakek bertas-perut yang dapat bicara. Aku sekadar bapak-bapak berpecis kaji hitam, kembung.

Jika sudah habis begini bagaimana, Kisah Cintanya. Jika tanpa patokan apapun kapan berhentinya. Berarti benar hampir setiap rilis Ibu membelinya. Bahkan anak perempuanku tahun ini Insya Allah berumur dua puluh tahun. Aku dahulu empat puluh tiga, ia menyusul dua puluh beberapa minggu kemudian. Aku Benar-benar Ingin Bertemu Denganmu, Tuan Manisku! Sedang Tuhan hanya plesetan dari Tuan. Eh Ki Ageng memang beda dari Sayap Berhenti. Namanya Ki Ageng ya harus merakyat dong. nDeso begitu. Jangan kayak tentara jaman sekarang. Entah-entah.

Kalau begini terus lalu kapan berhentinya. Demikianlah ratapan guru SMK yang mirip Suneo. Setelah agak dua hari dirundung pegal linu di sekujur otot dan persendian, kini tinggal tersisa di leher belakang sebelah kanan. Patutlah dicatat bahwa semenjak Jumat minggu lalu Jakarta dan sekitarnya dilanda cuaca ekstrim, yang memancing cebong-cebong untuk bercerowet bersukaria. Yah, namanya saja cebong turunan kodok ya pasti senang jika hari hujan, apalagi malam, terlebih sampai banjir merendam. Herannya, mengapa kampret-kampret sibuk meningkahi cerowetan itu.

Harusnya ‘kusudahi di sini juga. Namun jika 'kusudahi lalu apa. Daripada tidak berhenti sampai Cantik datang menghampir, aplotlah entri ini. Mungkin kau bisa menunggu Cantik kembali dengan segerobak belanjaan bulanan sambil membaca-baca karya eksibisimu sendiri. Apa ini harus ditempelkan begitu saja ke “kecanduan feromon” yang pernah mengilhamimu beberapa hari lalu, ketika masih April. Ini sudah Hari Buruh, berarti sudah Mei. Berarti April hanya punya tiga entri. [Ini mengapa Tante Agatha seperti ada suara-suara munyuk begini ‘sih.]

...tapi 'kuretroaksi

Wednesday, April 24, 2019

Ingin [Rasanya] 'Kuteriak [Woi!] ...Ambyar!


Jiah... sekarang 'udah Digigit Cinta. Mungkin ada kaitannya juga. Mengapa sampai merasa ingin teriak, tiada lain karena digigit cinta. Kena di situnya. Teriak: Woi!, terus ambyar. Serrr... Gitu. Kekurangan itu tidak banyak berarti jika pumpunan tetap di kekentuan. Memang demikian adanya, karena itu semua semata emosi. Adanya tidak semata di mata. Terutama di pendengaran dan juga mungkin penciuman. Pengecap paling asin-asin getir. Peraba 'ya gitu-gitu 'aja. Ini apa kembali saban-saban 'ngecek pratinjau atau sebodo amat. Ini latihan etnografi 'pala lu peyang.


Tiada lagi di dunia ini yang tersisa untuk memelukku. Tiada lagi di dunia ini yang tersisa untuk menciumku selamat malam. Apa bibir yang mecucu 'gitu. Apa memang cowok [sok] pemalu. Sudah lewat semua itu. Sudah berhari-hari aku ingin mengabadikan yang berkebat-kebit. Abadi. Kurasi. Ini entri tanpa tanda tanya. Jika pun ada tanda seru atau apostrof. Akhirnya kuganti daftar-main. Ini terasa seperti ruang flex, mana dingin-dingin begini. Dengan perut membuncit begini, kalimat-kalimatku di sini pendek-pendek. Seperti sok tegas begitu, dan aku belum periksa pratinjau.

Ternyata aku salah. Dingin-dingin begini bukan ruang flex atau bahkan Amsterdam sekali. Ini ternyata adalah dingin-dingin kemasukan. Apa perlu kuceritakan ketololan kemarin, yang mengakibatkan cabikan ayam, sup ayam, sundae cokelat dan ichik ochak. Apa perlu kuceritakan tentang empat batang oncom goreng lengkap dengan semangkuk mie ayam yang aduhai lezatnya di depan Pasar Kenari. Bahkan sebelumnya siomay Kantin Prima dan malamnya masih bubur stasiun lagi. Apa sudah semua. Bagaimana tidak menggelendut, akan kubaca sambil makan roti gandum.

Hitam itu hitam. Tidak kuteruskan ke arah situ, meski "semua nada seperti bercampur dan rasa-rasanya tidak pernah di stem sejak djoksut, tengkyu loh." Pengamatan jeli! Tahun lalu aku menulis nama-nama. Apakah pada sekitar waktu-waktu seperti ini. Apa tiba-tiba rindu Kees Broekmanstraat ketika harus bekerja begini. Kecuali sejuknya udara dan dengungan pembuang udara, memang ada terasa. Perempuan Guantanamo, perempuan Havana, yang mana saja. Tidak ada. Aku butuh badan enak pikiran enak. Aku harus buat laporan bulanan, malah begini.

Ini entri mengapa ditulis Rabu, apa pernah. Pasti pernahlah, sudah bertahun-tahun. Terlalu banyak yang dipikirkan, harus dikurangi. Kalau tidak bisa semua, paling tidak sisakan satu. Ke mana perginya kefasihan, kalimat yang efektif namun mengalir. Tidak ke mana-mana di sini, karena rasa itu pun tiada. Mau apa. Bisa apa. Terkadang terasa namun segera berlalu begitu saja. Ini bukan sekadar masalah hilangnya kebungahan, kegairahan. Ini mengenai cerah cuaca sekeluarnya dari terowongan sebelum Amstel apalagi Spaklerweg, ternyata benar aduhai antimenstrim.

Ini bukan lagi meracau. Ini terbata-bata. Ini bukan lagi persembunyian. Bahkan citraan dan ragaan mengerikan sampai menjijikkan sudah kehilangan sensasinya. Celine, haruskah aku memanggilmu begitu. Dapatkah kau memalingkanku dari antimenstrim, dari nada campur, dari mecucu. Antimenstrim itu yang susah, ketika yang bukan alis, yang tidak di kurva lengkung harus dicukur. Serta-merta aku teringat pada trio candesartan, amlodipine dan bisoprolol. Lantas empat tiga. Empat Tiga adalah lichting-ku di Akademi Angkatan Laut. Ada darah itu padaku.

Ya, aku memang Si Tolol Yang Biasa. Tidak biasanya aku tidak tolol. Aku biasanya tolol. Aku tidak biasanya duduk kedinginan, sedang setentangku ditinggal Papa mengurus STNK sampai ke Bojong Indah. [Aduh polisi.] Cairan. Rabaan. Melahap slai o'lai seraya menanyakan pendapatku mengenai situasi politik. Ini entri tiada berarti. Sebentar lagi toh aku harus berurusan dengan yang tiga itu. Itu kenyataanku. Seingsut demi seingsut, dari tiga ke tiga berikutnya. Aduh ini entri masih harus diilustrasi. Tidak mengapa asal terlihat rapi, seperti setrikaan Kadet AAL sekali.

Sunday, April 14, 2019

Sepi Saupisau, To Kai Tokaito: To Mato Mato


Diancuk... eh, ini bukan makian. Ini panggilanku untuk blog ini, yang merupakan akronim dari Diari Pincuk, jadi semacam pecel pincuk begitu. Jadi begitulah, Diancuk, ah, masa harus kukomentari dulu, atau sekadar kuindikasikan. Cukuplah kucatat di sini bahwa aku memandang lurus ke estanatong agar mataku tidak plirak-plirik jelalatan ke mana-mana. Padahal aku belum shalat dhuhur. Padahal waktu dhuhur sudah masuk dari dua jam yang lalu, sedang perutku kembung berisi A Fung Phetshop masih ditambah tiga [ya, tiga!]  cabik tak-bertulang. Uwaw, atau nyaw.


Diancuk! [nah, ini makian] Aku jadi saban-saban memeriksa pratinjau lagi. Tidak! Aku berlindung kepadaNya dari yang seperti itu. Biarlah aku begini di sini tolol. Semoga aku tidak disiksa dalam kubur apalagi neraka gara-gara ini. Mungkin aku juga tidak bisa memberitahumu mengenainya. Estanotong nyatanya tidak bisa dipandang. Ke mana pun tidak bisa ditebar pandang. Mau segera ngacir ke mushala minum masih penuh, masih ada dua cabik pula. Satu berlumur, satu sedikit berminyak. Perut, kamu kenapa kembungan, sih. Lebih baik begitu, daripada perut paus.

'Tuh, ditambah "mati" ngeloncok, tidak ditambah rumpang. Kezel 'ga sih! Uwaw, ga nahaaan... Aku gendut botak tua begini memang seharusnya segera menghambur ke sajadah. Lalu apa yang kau terus lakukan di sini. Mengetiki. Mana tahu dalam setengah jam ke depan kembung berkurang. Ribet tauk harus membungkus-bungkus dua cabik dan krampulan es batu ini. Diancuk, sampai lupa. Aku 'tu tadi mau bilang, kalau dalam kurang dari duapuluh empat jam ini aku sudah dua kali dipermalukan, yakni, oleh Pendeta Agus Sutikno dan anaknya Wisnu Kamulyan. Aku menyesaaal...

Hei, Diancuk, mengapa engkau baru tiga paragraf. Memangnya paragrafmu bermakna, memangnya mengandung pokok pikiran, atau, seperti kata Septi Pesek, pokokmen. Hei, Pak Kaji Ibnu Fikri juga pokokmen. Uah, [nah, ini "uah" beneran, tidak sok imut seperti Bunga Edan] hidup macam apa itu. Menunggu M51 yang sekarang mungkin sudah tidak ada atau tidak sampai situ, apalagi Meent. Hidup seperti apa yang tengah dijalani oleh Bang Noor Haryono. Musik macam mana, yang sok cerdik, yang berceloteh dalam lubang telingaku. Hei, tak bertebar?!

Lantas, paragraf macam apa yang ber-hei-hei begitu, aku cinta padamu sampai matahari pagi. Jih! kalimat macam mana pulak! Ini tidak bisa. Bahkan sangat mungkin kutinggal saja aku tidak peduli. Aku ingin menghadap Tuhanku, mengadukan perihalku. Nyatanya, besok aku Insya Allah ke Jalan Radio. Nyata. Cantik sedang ke Kodamar, Insya Allah, merawat Mama dan Tante Lien yang baru jatuh. Nyata. Lantas, apa peduliku jika sudah dua kali "lantas", bahkan tiga, [Mana? lha itu barusan] hanya di paragraf ini saja?! Masbuloh ditebari tanda baca?!

Difilmkan dokumenter begitu memang dapat memukau, mengingatkanku pada etnografi visual yang disuruh ganti jadi fotografi. Bukan aku yang payah dalam bidang fotografi, melainkan fotografinya itu sendiri yang payah. Seperti rayap mati. Merasakanmu, aku peduli padamu, tidakkah kau tahu aku mencintaimu. Tokai! Ah, ashiaaap dengan tiga "a" oleh Fredi Merkuri, lengkapnya aku tak tega menuliskannya di sini. Aku tidak tahan lagi, namun sepertinya aku punya gagasan yang agak menarik. Tidak tahu bisa berhasil atau tidak. Akan kuberitahu sebentar ini. Kucoba!

[Engga, dia 'ngga sakit itu. Tampar.] Ini, paragraf terakhir ini, diterus-ketiki setelah lebih dari duabelas jam dari "Kucoba!" Aku... berhasil. [sambil menunduk, menekur] Plerktekuk... Ambyar! Akan halnya kuterus-ketiki, tiada lebih karena sederhananya gudeg yang 'ngakunya Malioboro, dengan krecek yang tidak lebih jelek dari bikinannya Mbak Lela dan Ade. [mana ada yang bisa lebih jelek lagi dari itu?] Tambahan lagi witte koffie, yang mirip dengan witte roos, akhirnya terbuka juga. Pasti bau. Pasti memuakkan. Orang tidak diapa-apakan saja menguar. [Satu kata: TOKAI]

Thursday, April 11, 2019

Perempuan Menawan dari Arkadia [Dangdut Italia]


Akhirnya kupencet juga itu tombol entri baru, kuketik langsung di editor teks. Padahal ini malam Jumat yang aduhai panasnya. Tadi aku sudah sempat dilanda kantuk yang hebat. Apa yang berdenyut-denyut dalam anganku aku tidak suka. Aku tidak pernah suka yang seperti ini. Terkadang butuh, tapi suka, tidak. Demis Roussos menemaniku di malam Jumat yang gerah ini. Anganku tiba-tiba berkebat ke... ini apa cerita cabul?! Akankah entri seperti ini selesai, dengan pertanyaan-pertanyaan tak berdaya ini. Aku memang tidak berdaya, oh, aku yang tua.


Gendut. Botak. Tidak punya harkat apalagi martabat. Tidak lagi kesenangan. Semua terasa membebani. Apa aku ceritakan saja betapa berdesir seperti membuncah, mendesak. Astaga, begitu benar. Sudah tua. Apa benar yang mendorongnya, aku yang tidak bisa melihat masa depan ini. Untunglah aku diturunkan di dekat Masjid Jami' Matraman. Di depannya, sebuah baliho lumayan besar bergambarkan Habibana Rizieq Shihab, digambarkan seperti semacam pahlawan super begitu. Ah, orang-orang dengan kehidupan menyedihkan. Kalian membutuhkan pahlawan.

Kembali pada kecabulan tadi. Apa aku masih bisa menemukan kesenangan yang cukup berarti darinya, dengan mencabuli diri sendiri. Aduhai, hidupmu tidak pernah berhenti menyedihkan. Dari mana kau sampai dapat gagasan bahwa dirimu ganteng. Lantas ada pula kekerasan dalam rumah tangga terhadap anting-anting pom-pom. [mengapalah yang seperti ini lekat] Menjijikkan. Pasti menjijikkan, yang mana pun. Sedang ini, Suatu Hari, Suatu Tempat pernah begitu mengharu-biru, jelas itu karena remaja. Sekarang bagaimana. Apa yang harus kulakukan.

Jelaslah ini bukan kecabulan. Ini ketololan, seperti tololnya diriku. Apakah terkadang terbersit ketotolan, sedang menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki. Pertama ke arah utara dari halte trem Jalan Laut Selatan, lantas ke timur. Ini kesepian, namun lebih terasa. Lebih banyak. Lebih banyak pilihan. Tidak dengan makanan, seraya memakan hidangan entah-entah tanpa adanya apapun yang cukup berharga untuk direkam. Apalagi diabadikan. Ini entri apa. Terasa denyut-denyutnya. Terasa suasana hatinya, sedang terbentang jalan di depan rumah Pak Jiman Tolo.

Di waktu malam seperti ini, mengapa tiba-tiba ke sini. Lantas Andi Magani Irawan, dia tidak lebih tua dariku namun sudah tahu Helga ada. Adiknya Si Ari Penjol masuk ke dalam daster ibunya yang sedang membungkus nasi uduk sambil memain-mainkan pantat ibunya. "Tai, tai, tai," katanya. Ah, ini mulai terasa. Aku bisa kembali ke sana tadi. Astaga mengapa sampai begitu benar. Cukup ingat kata kuncinya: Papagula. Selesai. Mengocoki, mencoloki, sambil menungging di lantai kamar mandi. Begini caraku melampiaskan. Aku tidak suka. Melodi cantik sudah tidak berdaya.

Musique! Dari dulu seperti ini saja. Si Keparat Sopuyan itu tidak ada gunanya kecuali memanfaatkanku belaka. Aku tukang rundung. Aku tidak bisa berpura-pura 'kan. Kepada siapa kau minta pembenaran. Semua saja nothing to lose. 'Gak ada yang tulus! Semua tidak lucu, termasuk bagian belakang Mess Pemuda di waktu malam setelah lewat jam sembilan. Patah-patah begini. Tidak mengalir. Ini parah. Untung tadi gangguan. Jika tidak mungkin sudah di Stipwong menunggu Istri. Akan halnya malah ke warteg memang tidak mungkin lagi berharap kesenangan darinya.

Malah mendapat kejengkelan. Aku ingin melarikan diri. Selesaikan kewajibanmu dan lanjutkanlah. Apa memandangi lagi kanal. Hanya ini yang bisa dipandangi. Lebih agak pasti. Aduhai apa yang akan menyenangkan hatiku, tidak ada. Ini entri benar-benar. Dipenuhi oleh kalimat-kalimat tidak selesai, patah di tengah-tengah. Biar aku aneh-aneh sedikit di sini, sebelum kututup entri ini. Jangan-jangan itu hanya caranya untuk mengalihkan buncahan, yang diawali desiran, mungkin aliran. Tidak. Ini sudah khusus. Tidak lagi. Tidak ada artinya semua itu.