Tuesday, December 31, 2013

Pak Busyro Muqoddas Pandai Berkotbah


Bangun pagi, aku langsung mengoreksi, setelah seharian kemarin hanya dapat delapan lembar. Aku bertekad hari ini juga Reg C harus selesai dan diumumkan. Maka, seperti semua saja dosen yang baik dan benar di muka bumi ini, hal pertama yang kulakukan di pagi hari adalah: Mengoreksi. Ketika asam lambung mulai menggaruk-garuk dinding lambung, maka begitu saja Cantik mengusulkan untuk sarapan melon golden royal. Kukupaslah separuh buah yang masih ada di dalam chiller, lalu kami makan berdua. Cantik merasa cukup dengan melon saja, sementara aku melanjutkan dengan Indomie Goreng Jumbo yang warna biru, dan mengoreksi lagi; Cantik pamit mau pergi ke Thamrin City. Sepanjang siang itu aku mengoreksi, dan mengoreksi, dan mengoreksi, sampai dentum-dentuman ketipung dangdut membahana dari tanah kosong di seberang QS, mengganggu konsentrasiku. Saking jengkelnya, aku segera mencongklang Vario Sty entah mengapa. Emangnya, kalau aku berhasil menemukan sumber keributan itu, aku bisa menghentikannya? Akhirnya, dengan bodohnya aku kembali ke rumah dan... mengoreksi lagi. Untunglah setelah test drive satu dua lagu, mereka nyetem alat yang tiada begitu ribut.

Pak Busyro Muqoddas
Menjelang Ashar, Cantik pulang dari Thamrin City, turun di Pocin karena mau lanjut facial di Natasha, Margo City. Ternyata Natasha-nya, di malam tahun baru begini tutup, maka Cantik yang dari sepagian hanya makan melon lalu lapar dan mengajakku makan. Kebetulan aku juga berencana ke kampus, entah mengapa. Apa karena kegelisahan gara-gara terancam konser dangdut atau memang berencana mau menambah amplop karena yang di rumah sudah mau selesai, aku tidak tahu. Pokoknya, berangkatlah aku ke Margo dengan membawa sisa koreksian, masih ada 20 LJU lagi. Cantik tadinya, seperti biasa kalau di Margo, mau makan di Red Bean, tetapi Red Bean-nya ternyata ditutup tripleks; mungkin akan direnovasi. Akhirnya ia bergeser ke Sagoo Kitchen. Ketika aku datang, ia sudah menghadapi sepiring Tahu Pong dan dua gelas minuman entah apa. Terlepas dari peringatan Cantik untuk tidak makan berat, aku memesan Tahu Kopyok Telor. Lagipula, aku sudah makan ABC Sarden Goreng Bumbu Kecap Pedas yang sudah kadaluwarsa di rumah; yang membuat perutku terasa agak-agak gimana gitu... bukan karena daluwarsanya kurasa, lebih karena pedasnya. Cantik tidak suka aroma petis di bumbu Tahu Pong, maka ia cicip juga Tahu Kopyok Telor yang berbumbu kecap saja itu.

Lalu kami berdua ke FH, aku mengambil dua amplop AFIL. Malam ini kami berencana untuk menginap di Jalan Radio karena Ibu ingin menunjukkan hasil kerja Pak Karmin membuat teralis teras. Dari FH kami pulang terlebih dahulu. Sambil menunggu air mandi mendidih, aku menyelesaikan 20 LJU yang masih tersisa dan... selesai! Aku memutuskan untuk tidak membawa kedua amplop yang tadi kuambil, toh sampai Jalan Radio tinggal tidur. Mandi dengan air hangat yang nyaman untuk mengusir sakit kepala gara-gara mengoreksi dalam kecepatan tinggi, aku kemudian shalat Isya' sebelum kami berangkat kira-kira jam delapan lewat sedikit. Kami masih menyempatkan diri mampir lagi ke FH untuk mengambil kalender CLGS untuk Ibu. Sesampainya di Radio Dalam setelah melalui jalan-jalan yang relatif lengang, kami berhenti sebentar di depan Yado III. Cantik memesan sate padang Salero Ajo dengan ketupat setengah, aku memesan dimsum isi lima. Sesampainya di rumah, maka terlihatlah teralis sulur anggur yang kesohor itu. Bapak menginginkanku jadi seperti Pak Busyro Muqoddas yang pandai berkotbah itu. [Aamiin] Sejurus dua jurus kemudian, aku sudah memasukkan nilai Hukum Lingkungan Reguler C ke SIAK-NG dan... voila! terbitlah sudah nilainya; maka kuberitahukan pada Sarah Patricia Gultom.

Monday, December 30, 2013

Anak Lanang, Mbarep, Tepa Selira utawa Adu Kuat


Mengapa di dunia ini selalu menelanjangi? Menelentangi, menelungkupi? Tidak. Aku sedang tidak ingin berpuisi hari ini. Hari ini, aku sedang ingin... mengoreksi, tapi tak apalah lebih dulu aku menulisi. Sebentar saja. Bosen tauk ngoreksi 'mulu. Hehehe... akhirnya jadi juga entri ini kuberi judul begitu. Itu pun setelah dibantu semburan jiwa Opa James. Memang jika mengenang Georgia, jiwa-jiwa yang lemah bisa menjadi kuat kembali. Opa James, pekerja paling keras di dunia hiburan. Aku memang tidak mengenalnya secara langsung, tapi kelihatannya ia orang baik. Aku juga orang baik. Aku suka duit banyak ga ya? Opa James sepertinya banyak duit. Siapa tahu aku akan banyak duit juga dan terkenal seperti Opa James, karena kami sama-sama orang baik. Hehehe... aku tadi gaya-gayaan kayak yang punya duit sendiri aja, menghadapi vendor. Kenapa aku melakukan ini semua? Buat apa? Buat apa aku meniru-niru Bu Risma? Masih lebih mungkin, kalau aku jadi Kepala Dinas Pertamanan Kota Surabaya, aku akan mengacak-acak sendiri semua taman di Surabaya sambil bilang, "ya udah, gapapa, biarin aja...," sambil mendentum-dentumkan bass line-nya Georgia on My Mind.

Opa James, Olympia 1971. Tampak di belakang tangan 'De Bootsy di setang bass.
Aah... habis mengacak-acak taman memang enaknya ke Shangri-la... tapi, kalau ke situ nanti urusannya cinta remaja lagi. Sebel. Aku tidak pernah merasakannya. Selama ini, sampai setua ini, hidupku selalu lurus sesuai kekentuan. Setua ini, harus kuakui, sudah cukup banyak sesungguhnya yang kulalui, meski baru itu-itu saja. Aku memang tidak pernah ingin melihat banyak. Aku cuma ingin melihat SEMUA. Sama seperti ketika aku mencinta, aku tidak dapat memberi banyak, tapi kuberikan semua. Mungkin itu tidak sulit untukku, seperti kata Kompiang, aku suka memberi. Apa aku suka meminta? Suka juga sih, meski yang kuminta paling itu-itu saja. Namun karena kulang-ulangi terus jadi kesannya banyak. Tidak ada juga yang dengan senang hati memberi. Jika sudah sampai di sini, aku pasti langsung teringat dhukka, samsara, awidya. Tidak. Aku cuma ingat bass. Aku suka memainkan instrumen itu jika berada dalam satu band. [dulu bilangnya combo, ya] Aku memang seorang Paul McCartneyist, meski jika Metallica aku tidak pernah jadi Newstedist apalagi Trujilloist. Tetap sih, aku suka melihat mereka main. Begitu juga jika RHCP, yang kuperhatikan adalah kutu kupret Flea.

Kenapa aku jadi begini ya kalau disuruh meniru Bu Risma? Mas Topo eh Pak Dekan tadi mengatakan kalau sudah beres 3 (tiga) bulan maka ia mau menulis lagi. Saya juga mau, Pak. Namun, daripada mengada-ada lebih baik sekarang saya berpikir serius mau makan apa siang ini. Apa yang enak ya? Apa Special Burger Steak itu enak? Apa ada makanan yang enak? Apa ada perempuan yang enak? Istriku Cantik. Cantik seperti itulah yang aku sukai. Manekin mana cantik? Sepotong kayu itu baru cantik, lalu kupahat sendiri, kuukir sendiri. Semakin melawan, semakin nikmat... Jangan-jangan... aku ini seorang masokis. Jangan-jangan, aku mengidap koprofilia. Jangan-jangan... Jangan-jangan tok pikirane! Jangan apa yang enak ya? Jangan Godog enak, yang teman Nasi Liwet itu. Aku pernah makan di rumahnya Setiawan Djody, meski lupa enak apa tidak. Yang kuingat justru aku salah ngambil semacam iga panggang begitu. Yuck. Koq bisa orang doyan begituan?! Apa lagi yang direbus dibuat sop begitu... Dulu di pengkolan Barel depan Cornelius itu ada warung jualan sop iga. Kalau makan di situ, aku pesan sop sayur, artinya, sop iga tanpa iga.

Mantebp!

Sunday, December 29, 2013

Apa Hukumnya Lingkungan Tepian Cikumpa?


Tidak ada. Yang ada hanya lingkungan tepian Cikumpa. Indah. Permai. Nyaman. Kalau tidak percaya tanya saja Sandoro, Togar dan Erwin. Di situ pulalah aku terbangun pagi ini ketika matahari sudah lumayan tinggi, dan begitu saja aku mencongklang Vario Sty menuju ke tukang nasi uduk di prapatan kantor PLN. Ternyata tahunya habis, ya sudah, akhirnya dengan tempe, kentang dan telor bulet seperti biasa. Aku juga heran kenapa jadi kentang semur, padahal sebelumnya sudah ditawari perkedel kentang. Kentang semur kalau pas lumayan juga loh. Nasi uduk di sini ada semurnya. Kalau yang di tapsiun UI dulu, aku lupa, seingatku tidak ada semurnya; tetapi koq tetap becek ya. Membandingkan antara hidup di Gang Pepaya dan Tepian Cikumpa... di Pepaya dulu staple-nya nasi goreng depan atau kadang soto ayamnya, lebih jarang lagi mie-mieannya, paling mie rebus. Itu dulu ada namanya deh, aku lupa. Kemudian tetangga waktu terakhir mau pindah jualan mie ayam, lumayan, tapi sepertinya yang jadi langganan cuma aku. Lalu warung nasi yang di gang kecil mau ke tapsiun itu. Kemudian nasi uduk tentunya di pagi hari, lebih jarang lagi ketupat sayur Padang depan Nurul Fikri; itu sih kesukaan Cantik. Kalau nasi uduk tapsiun ga jualan, nasi uduk Sawo itu deh. Malam hari, kalau tidak sate padang pinggir Margonda ya ketoprak depan bekas Darma.net.

Ini masih jauh lebih bagus dari yang di pinggir Jl. Kemakmuran itu.
Banyak ya. Di Tepian Cikumpa ini, yah namanya juga di udik, agak pusing juga kalau urusan makan. Makanan rakyat gitu yang bisa diterima cuma nasi uduk prapatan, ketupat sayurnya aja jarang. Lalu Bubur Ayam Kabita, aku jarang sekali kepingin. Nasi goreng depan, jarang juga. Ketoprak telor depan, agak lebih sering. Sate dan mie ayam depan, jarang. Lebih sering malah jauh-jauh. Akan tetapi itu semua tidak penting kalau sudah sampai di Tepian Cikumpa. Ngomong-ngomong, sepertinya aku membuat Cikumpa menjadi tenar. Coba deh telusur Google Image dengan kata kunci itu, maka yang muncul banyak gambar dari Kemacangondrongan. Siang-siang, gara-gara lieur ngoreksi, aing pergi gerak badan, berjalan-jalan mengelilingi bulevar utama Qoryatussalam Sani, tepat di bawah sut'ayt yang katanya SUTT itu. [gak pake "E"] Wuih, seudap pisan! Ini baru namanya hidup. Lalu kenapa aku mau saja disuruh jadi Ketua ICT? Apa tidak berkurang nanti waktu untuk mengelilingi bulevar semacam ini? Tentu saja, karena aku ingin duitnya. Maka waktu Bang Andhika bilang duitnya dikit, ada sedikit rasa mencelos di dadaku hahaha. Namun demikian, tidak ada kapoknya aku untuk mengulangi harapan semoga Semester Genap 2013/2014 ini segala sesuatunya meningkat, kualitas hidupku, kualitas penghambaanku, semuanya. Aamiin.

Agak menjelang Maghrib begitu Cantik pulang. Malam ini kami habiskan bersama sup Jepang-jepangan dengan bumbu boleh beli di Lotte Mart Gancit ateys, dan melon golden royal. Lalu menonton Liverpool yang masih kalah kualitas dibanding Arse, Mancit dan Celsi, lalu... menamatkan UAS Hukum Lingkungan pada jam 01.30 setelah berganti hari. Ooh... pekerjaanku.  Mengapa tidak ada orang mau membayarku untuk melakukan hal-hal yang... kusukai? Ya ga mungkin ada lah. Gila apa?! Menulis, aku suka. Nih, buktinya, entah apa-apa kutulis semua di sini. Makanya jadi seperti ini, 'kan, ketika kau mengerjakan sesuatu yang kausukai? Kau memang tidak banyak gunanya, apa-apa yang kau bisa. Lalu apa kausebut dirimu sendiri dan orang-orang sepertimu? Seniman? Tuh, lihatlah di pinggir Jalan Kemakmuran, ada orang punya galeri-galerian memamerkan lukisannya yang cuma segitu doang. Mungkin, ketika ia masih kecil, banyak orang memuji, atau sekurangnya orangtuanya sendiri: wah, Cep, pandai benar kau menggambar, biar jadi pelukis ya nanti kalau sudah besar. Ya, benar jadi pelukis... di pinggir jalan; menjajakan lukisan yang, aduh, cuma pantas dipajang di rumah-rumah orang susah. Itu pun jaman dulu, karena orang susah jaman sekarang daripada memajang lukisan lebih suka memberi anak-anaknya uang jajan lebih, agar bisa main game online.

Saturday, December 28, 2013

Apa sih yang Hebat dari Sekecup Cium?


[Siakle, abis sedap-sedap berkecup-cium, ada yang meratap-ratap, sayang, kembalilah. Mungkin abis ini kulongkapi saja] Jadi, pagi ini aku bangun. Shubuh di tepi Cikumpa memang sejuk sangat, maka aku tidur lagi. Hanya hangatnya matahari yang telah meninggi, berpadu dengan sapaan salam anak Pak Indra, sanggup membuatku tergopoh-gopoh bangun. "Ini oleh-oleh dari Bandung," kata gadis cilik itu. [...ternyata tidak jadi kulongkap, karena latar orkestrasinya sungguh manis] Lalu aku minum segelas air, membuka kemasan keripik tempe dari Bandung itu, memakannya dua potong, dan melanjutkan memberi nilai lima lembar jawaban ujian (LJU) yang masih tersisa dari kelas Hukum Lingkungan Paralel C. Selesai, kumasukkan dalam SIAK-NG, kuterbitkan dan ku-sms Marsya Mutmainah bahwa nilainya sudah terbit. Sejurus kemudian, aku sudah bersiap mencongklang Vario Sty hendak menuju kampus. Tiap kali mau berangkat dari rumah, terutama jika sedang tidak diburu-buru, aku selalu menyempatkan memandangi rumah itu, M14 tepat di tepian Cikumpa. Sungguh cantik dan nyamannya! Alhamdulillah. Meski tak mungkin ia secantik itu jika tidak ada pemiliknya, Cantik.

Ini jelas gambar tipu, bukan AH Sepesial Burger Steak. Asalnya dari sini
Sesampainya di Kampus FHUI Depok, begitu saja langkahku mengayun ke arah Perpus, dan begitu saja aku memesan Mie Ayam Baso. Seperti datangnya, begitu juga aku memesan lagi Baso Spesial Telor [puyuh]. Kembali ke Kampus sambil berkeringat-keringat, aku buka-buka beberapa laman Internet, sampai kemudian memutuskan untuk menelpon Ibu terlebih dulu. Lama sekali aku bertelpon dengan Ibu, sekurangnya satu setengah jam; dilanjutkan menelpon Cantik agak lima menit, karena Gajah Madu sudah gelisah mainannya diambil. Selesai bertelpon, aku shalat Dhuhur dan merasa... seperti agak lapar gyuk gyuk gyuk. Maka kucongklang lagi Vario Sty menuju American Hamburger di FE. Begitu saja kupesan Burger Steak Sepesial pake telor [ceplok] dan Teh Leci, es dan gulanya sedikit saja. [tapi ternyata dia pakai sirup dan banyak juga] Maka kunikmatilah itu hidangan, dimulai dengan kentang goreng dan rebusan sayur sambil menikmati udara siang di tepi danau FE-Sastra [seharusnya aku menikmatinya tidak sambil duduk mengunyah begini, tetapi menyusurinya] Burgernya kulahap yang terakhir, bahkan sausnya sampai kukoret dengan jari dan kujilat-jilat. Teh Lecinya kusuruh tambah air karena manis 'kali pun.

Selesai itu semua, aku kembali lagi ke FH dan langsung menulis entri ini. Sebentar lagi Ashar pun. Lalu kapan ngoreksinyaaa?! Aku sedang berada dalam suasana hati yang tepat untuk... mengomentari suaranya Bude Doris Day. Suara Bude Doris ini... tidak seperti suara Tante Connie yang berwarna-warna--hanya punya satu warna, dan warnanya adalah CANTIK. ...atau tidak... mendengarkan suara Bude Doris, aku dapat membayangkan seperti mendengarkan suara gadis tetangga yang cantik. Bukan gadisnya, melainkan suaranya; meski gadisnya sekali juga tidak mengapa. Jadi benar-benar suara girl next door gitu. Kurasa para GI jaman Perang Dunia Kedua pasti langsung kangen rumah kalau mendengar Bude Doris menyanyi. Wajahnya pun ndeso ngameriko banget, seperti farm girl begitu. Nah, kalau ini bener-bener kejutan ngeselin yang menyenangkan. Tiba-tiba saja Saudara Jiwa Nomer Satu Mbah-mbahnya [Musik] Jiwa Opa James Brown nyelonong dengan Georgia on My Mind. Bener-bener weidyan rendisinya! Sangat bertenaga! Semuanya. Semburan seksi kuningannya, latar orkestrasinya, dentum-dentum bassnya, dan tentu saja... vokalnya Opa James. Georgia... Georgia... yeeaaa... iiiihhhh... no no Wow! No no no peace I found. [Ini bukan tentangku. Aku cuma kenyang, dan tadi aku lihat di kaca, Masya Allah, gendut betul]

Friday, December 27, 2013

Persiapan Resolusi Tahun Baru 2014


Sekarang aku sedang menunggu Shalat Jumat. Menunggu? Bo'ong banget! Kalau menunggu shalat Jumat tuh mbok ya sambil apa keq, itikaf di masjid, dzikir, istighfar... ini malah menulis-nulis. Tadi sambil mandi aku membatin, Ya Allah, sudah bertahun-tahun aku hidup tanpa Shubuh. Mengerikan! Usahaku untuk mendapatkan kembali Shubuh memang tidak maksimal, tidak sekeras yang seharusnya; dan aku takut berjanji bahkan pada diriku sendiri untuk memulainya sekarang. Bahkan sekarang saja aku masih melakukan kesia-siaan besar begini. Lebih mengerikan lagi, rasa-rasanya sekarang mudah sekali berbuat ke arah dosa, merasa seakan-akan kecil saja. Ya Allah, kemana perginya Hakikat Takwa? Aku sangat merindukannya. Kini, aku memandangi tumpukan amplop koreksian dan menuduh merekalah yang membuatku berpisah dengan Shubuh; meski aku tahu pasti bukan salah mereka. Salahku sendiri. Bahkan Bapak mengeluh sudah tidak pernah tahajud seperti dulu lagi. Sungguh... aku tidak boleh menyerah pada diriku sendiri.

Seperti dapat kalian lihat sendiri, aku sedang suka membuat judul yang biasa-biasa saja; begitu juga dengan ilustrasi entri, kupilih yang biasa saja. Bagian ini, akan tetapi, kuteruskan setelah selesai Shalat Jumat. Sebenarnya tadi, selama mendengarkan khutbah, muncul gagasan-gagasan relijius untuk diabadikan dalam entri ini, tapi... yah ada baiknya kulakukan saja sekarang. Dua khutbah Jumat terakhir ini, minggu ini dan minggu lalu, Alhamdulillah agak berkesan padaku. Minggu lalu mengenai hubungan antara tasawwuf, akhlaq dan syariah. Kata Khatib, gunanya tasawwuf itu adalah untuk membentuk akhlaq. Jika dipahami begini rupa, terlihatlah bahwa tidak ada hubungannya antara syariah dan tasawwuf; maksudnya, tasawwuf bukan alasan untuk meninggalkan syariah, lha wong tasawwuf itu urusannya dengan akhlaq. Syariah ibarat kerangka yang diperlukan untuk menegakkan tubuh, sedangkan akhlaq adalah daging yang memberinya isi. Membina akhlaq dengan tasawwuf. Membina syariah dengan apa? Ya, dikerjakan!

Minggu ini, khatib menasihatkan bahwa membangun itu [biasanya] lebih mudah daripada memelihara. Iman Islam merupakan hidayah-Nya yang dibangunkan dalam hati manusia. Kesungguhan dalam memeliharanyalah yang akan dinilai oleh Allah. Kurasa, khutbah Jumat dua minggu ini benar-benar mengena dalam hatiku. Insya Allah, inilah jawaban terhadap kegundahanku. Tiada lain Allah sendiri yang menggerakkan hati ini untuk mendekat kepadaNya, karena tiada daya upaya selain denganNya Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Lalu, setelah aku menerima nikmat karunia yang tiada taranya ini, aku tidak melakukan yang menjadi tugasku dengan sebaik-baiknya. Aku tidak memeliharanya dengan kesungguhan! Naudzubillahi tsumma naudzubillah! Jangan sampai aku termasuk ke dalam golongan mereka yang berbuat kerusakan setelah Allah memperbaikinya... meski nampaknya sudah... Dari mulai membiasakan shalat di akhir waktu, sampai... Ya Allah... mengerikan sekali kelakuanku! Namun, meski sambil menulis begini, masih juga terasa keras kakunya hatiku. Tiada bergetar sedikit pun ia, seakan-akan pongah menantang. Aku masih ingat betapa buku-buku agama itu terasa sangat melembutkan hati, setidaknya, begitulah yang kurasakan waktu itu... Sekarang sudah tidak lagi. Ya Allah, apa yang harus kulakukan? Wallahua'lam bish-shawaab.

Thursday, December 26, 2013

Tahun 2013, Tahun Vivere Dolorosa


Aku baru saja pulang makan siang bersama keluargaku. Aku, Istriku dan kedua anakku. Kami makan di Es Teler 77 Grand Depok City. Oh, betapa sulitnya mendapatkan suasana hati yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan ini, memberi nilai. Suasana hati seperti apa yang sesuai untuk pekerjaan membaca-baca entah apa-apa yang ditulis oleh sekian ratus bocah, yang pada kepingin jadi sarjana hukum ini? Hei, bocah, mengapa kalian ingin jadi sarjana hukum, sebanyak ini kalian semua? Lhah Bapak sendiri ngapain jadi sarjana hukum? ...Aku pun tak tahu... Ya, sudah kalau tidak tahu, tak usah banyak mulut. Segera saja nilai pekerjaan kami dan umumkan! Baiklah... Bapak? Bocah? Anak? Di otakku yang tua, kotor dan berbau busuk ini, selalu terdapat pikiran-pikiran yang mengerikan, yang tanpa sadar kulatih setiap hari hanya, ya, hanya karena aku ingin melipur lara. Mengapa lara? Laraku tidak ada bedanya dengan lara siapapun manusia hidup di muka bumi ini. Aku pun, seperti halnya semua saja manusia yang lara di muka bumi ini, melipur laraku, dengan satu atau lain cara. Namun, caraku melipur lara ini hanya menimbulkan kesakitan yang terus menumpuk dan terus menumpuk, dalam hati dan jiwaku. Lara. Dilipur. Lara. Dilipur. Lara...

Mater Dolorosa oleh van der Weyden
Melipur lara dengan lara. Apa pun yang kau gunakan untuk melipur lara, apa pun yang kaupikir sanggup melipur laramu, tiada lain adalah lara juga. Apa pun itu, selama masih dari dunia ini asalnya! Apalagi kalau itu masih bisa dibeli, masih dapat dihargai dengan uang. Itu yang paling menyakitkan. Ya Allah, betapa banyak kesakitan yang telah kutimpakan kepada banyak sekali orang. Ya Allah, sungguh aku tidak tega bahkan sekadar menghadirkan wajah-wajah mereka dalam ciptaku. Ya Allah, aku hanya bisa menyebut-nyebut namaMu, jika teringat akan semua itu, Ya Allah... Lidah ini kelu, tenggorokan tercekat, kata "maaf" hanya terkurung dalam benakku tanpa mampu membebaskan diri; sedangkan aku hanya mampu memandanginya dari kejauhan sanubari. Lidah dan benakku seakan terpisah oleh rawa-rawa yang gelap, bau dan menyeramkan, tak satu langkah pun sanggup memperpendek jaraknya. Kata "maaf" berteriak-teriak meronta-ronta dalam siksaan picis yang tak tertahankan, sementara lidah tak mampu berbuat sesuatu apa; apalagi aku... Ya Allah... jeritnya sungguh memilukan, menggerus nyali menjadi kaldu, menumbuk hati menjadi remah-remah... dan ini semua disebabkan oleh, diatasnamakan kepada... cinta.

Cinta, betapa keindahanmu sanggup membawa selaksa derita. Ya Allah, apa ini yang Engkau ciptakan di dalamku, di dalam kami semua? Mampukah kami yang berjasad bangkai ini menerima anugrahMu yang Maha Lemah-Lembut namun Maha Perkasa? Mampukah aku yang nista ini men-Cinta, tanpa tertipu oleh tipuan-tipuan ragawi, kepalsuan-kepalsuan duniawi? Mampukah kami menerimaMu? Akhirnya, manusia yang ilahi selalu terjerembab dalam kebinatangannya. Akhirnya, binatang yang berjalan tegak sempurna di atas kedua kakinya ini selalu gagal menghayati kualitas ilahiyahnya. Hah! Ini adalah asal ngomyang seperti orang mabuk kecubung! Waktu Ashar sudah masuk, seselesainya paragraf ini, maka, Insya Allah, aku akan segera mengambil wudhu. Hanya itulah yang aku tahu dan itu pula yang akan kukerjakan. Semoga Allah mengganti semua rasa sakit baik lahir maupun batin ini dengan rasa tenang dan nyaman sebagai hambaNya yang khusyu'. Sungguh suatu permintaan yang kurang ajar, keterlaluan, tidak tahu malu dan tidak tahu diuntung dari seorang hamba nista yang suka berbuat durhaka terang-terangan di hadapan Rajanya, yang Maha Hidup, Maha Awas. Ampuni hamba, Ya Allah. Maafkan hamba... Kasihanilah hamba, Ya Illahi Rabbi... 

Wednesday, December 25, 2013

Tahu Bacem adalah Natal Kedua di Cikumpa


Sebenarnya tidak tepat benar di Cikumpa, sih. Sebenarnya di tepi Jl. Ir. H. Juanda, Depok. Entah bagaimana, kenanganku mengenai Soto Kudus Menara adalah ia medok berbumbu. Bila aku memakannya sampai mendapat kesan seperti itu, aku lupa. Mungkin dahulu, dahulu sekali bersama Gus Dut. Jangan-jangan waktu masih jamannya Ita Nuriah. Ketika aku memakannya lagi baru saja ini, memang Soto Kudus Menara lebih kuning, lebih berbumbu dibandingkan dengan Soto Kudus Blok M. Bahkan, karenanya, aku hampir tidak memasukkannya dalam kategori soto kudus. Sedangkan Soto Kudus Blok M itu kesannya ringan dan manis, ini medok berbumbu dan asin. Dibandingkan dengan Soto Bu Tjondro, aku cenderung setuju dengan porsi kedua soto kudus ini. Menghabiskan Soto Bu Tjondro selalu susah-payah dan membuatku jadi sulit bernapas setelahnya. Kedua soto kudus ini, dengan mangkok kecilnya, cenderung pas. Terlebih buatku sekarang yang, entah bagaimana, kapasitasnya sudah jauh berkurang. Oh ya, aku tadi terpaksa menambahkan kecap agar manis seperti soto kudus dalam bayanganku.

Ini gambar boleh dapet dari sini. Suwun nggih, Kang.
Terlepas dari sotonya, ada satu yang jelas-jelas harus diabadikan di sini: tahu bacemnya! Ini baru tahu bacem! Ia mengingatkanku pada tahu bacem di Warung Laler langganan Bapak dulu. Legit dan manis, sebaimana seharusnya tahu bacem. Bagaimana cara membuat tekstur tahu bacem seperti itu, ya? Mungkin dengan cara dinget berkali-kali, karena ia begitu legit dan gempinya. Dan manisnya itu harus digarisbawahi tebal-tebal. Tahu bacem itu ya memang sudah sewajarnya manis. Maka dari itu aku menolak menerima excuse bahwa, untuk menyesuaikan dengan "selera orang sini," tahu bacemnya dibuat kurang manis, demikian juga dengan gudegnya, dan seterusnya. Gudeg tidak manis? Beri aku sebuah patah! (gimme a break!) Gudeg yang benar itu ya yang sampai seperti kolak manisnya, namun, tentu saja, tetap gurih. (savoury) Kembali pada tahu bacem Soto Kudus Menara, setelah memakan satu potong ditambah sate telor puyuh yang so-so, aku sampai memesan lagi dua potong tahu bacem untuk dibawa pulang. Barusan, sebelum mengetik ini, kumakan lagi satu... dan satu lagi. Mmhhh... seudapnye... Tidak salah lah, masih berfungsi dengan baik indera pengecapku. Memang tosp markotosp lah! Mantabp surantabp! Apalagi diiringi dengan irama instrumentalia oleh Botticelli ini, bener-bener nyamleng klangenan!

Begitulah caraku merayakan Natal Kedua ini. Orang-orang pada ribut mengenai boleh tidaknya mengucapkan selamat natal, aku justru merayakannya sendiri. Ya, benar-benar seorang diri. Pertama, berangkat dari tepi Cikumpa, lalu begitu saja melipir ke Rumah Makan Soto Kudus Menara Jl. Ir. H. Juanda, Depok, lalu di FHUI Gedung A Lantai 2, di pojokanku yang terkenal itu. Tidak ada orang yang tahu, dan, seperti biasa, tidak ada juga yang peduli. Hanya begini yang kutahu mengenai merayakan sesuatu, hanya merayakan enak sedapnya makanan. Alangkah senangnya jika, dalam merayakan itu, aku bisa berbagi; berbagi enak sedapnya makanan, berbagi nyamannya suasana. Jika begini terus, aku tahu, memang bertambah gendut saja aku; dan sepertinya, selain dari makanan dan makan, aku tak kunjung mendapat bahagia dari sumber lainnya. (Gusti Allah, nyuwun ngapura) Ini gak bener, aku tahu. Terkadang, yang benar-benar kubutuhkan adalah udara yang dengannya aku bernapas, dan tidak ada lagi yang lainnya. Bahkan setelah aku membanting daging begini, masih kurang dan kurang juga, aku sudah tidak tahu lagi. Hanya kutahu, tahu bacemnya Soto Kudus Menara yang di Jl. Ir. H. Juanda, Depok enak betul. Begitulah, 'Cem...

Tuesday, December 24, 2013

Ngolor Memang Tidak Memandang Usia, Mantra


Jadi, ceritanya aku sedang mengawas ujian incomplete, nih, Hukum Lingkungan. Prinsipnya sih kalau bisa dimudahkan kenapa harus dipersulit? Kalau mau, saring ketika penerimaan, jangan ketika sudah masuk begini. Bikin repot aja tauk. Ah, sudahlah. Apa peduliku. Jadi, seperti judul di atas, ngolor memang tidak mengenal batas usia. Siapapun boleh ngolor asalkan itu bisa menyelamatkan dirinya. Dari apa? Entahlah. Ya, gak perlu sampai cium tangan banget sih, kayak Pangab kepada Presiden. Itu sih kebangetan. Akan tetapi, kalau aku cium tangan kepada Pak Bakti ya tidak apa-apa juga. Lha wong beliau itu Mbah Guruku.

Ngolor itu, namun demikian, harus dibatasi hanya untuk cari selamat. Kalau ngolor sudah digunakan untuk cari manfaat, wah, kurasa itu sudah melampaui batas kepatutan. Jika begitu, ngolor itu sama dengan cinta dong. Lho, 'kan sama-sama tidak memandang batas usia. Siapapun, kapanpun, boleh jatuh cinta; dan jatuh cinta sungguh sangat disarankan karena membawa kesehatan. [halah] Ya nggak lah. Namanya jatuh, mau apapun, ya tetap saja sakit. Perasaan geli dan gatal itu 'kan sebenarnya perih yang teredam. Coba saja kalau gatal digaruk terus, setelah kulitnya habis 'kan sakit.

Ini orang lagi pada sibuk ngomongin kabinet baru di FHUI. [...atau aku aja yang sibuk, yang lain biasa aja?] Mungkin aku ikut-ikutan membumbui, sebagaimana kebiasaan burukku, karena tidak ada yang benar-benar seru dalam hidupku belakangan ini. Dunia seperti terus saja berputar [dan memang berputar terus ia] sedangkan aku berputar-putar di tempat. Sudahlah. Kerjakan saja apa yang harus kaukerjakan. Mengawas ujian I ini misalnya, kerjakan saja. Setelah itu berilah nilai, begitu saja. Masalah rejeki sudah ada yang mengatur. Apalagi cuma masalah gaji, 'kan sudah ada tim remunerasi. Masalah status kepegawaian, serahkan pada bagian SDM.

Sedih dan gembira jangan sampai ditentukan oleh berapa gaji yang kau terima, tetapi apakah ada kenaikan atau tidak. Emang ngaruh kalau punya jabatan dengan tidak. Selama ini aku cuma jadi setap sih, jadi tidak pernah tahu betapa pengaruh dari suatu jabatan... terhadap gaji. Ya, akhirnya cuma itu yang penting. Dapatlah dipahami mengapa John Gunadi masygul sekali cuma terima satu juta bernama "hibah pendidikan." Gaji dan pengakuan. Mungkin aku sekarang sombong karena sudah punya NUP. Mungkin aku sekarang tenang-tenang saja karena aku sudah punya laman sendiri di Websait Setap UI. Ini sama ngeselinnya dengan orang yang bilang "semua dapat bagian" ketika tangannya sudah masuk kantong kue.

Well, oh, well... teh buatan Mas Sukmono terlalu manis buatku, padahal aku sudah makan permen dua. Iseng tadi beli roti dua sama minum yogurt Cimory. Dapatkah aku menghindar darinya kali ini? Kalau koreksian jelas tidak mungkin. LPJ? Aku ingin segera ber-BBPDJI! Benar-benar menjengkelkan! Dibilang jengkel... engga... Dibilang engga... jengkel! Tidak usah jengkel lah. Seperti biasa saja, kerjakan pelan-pelan dimulai dari yang paling disukai dulu. Nanti pada waktunya suasana hati itu akan muncul sendiri; meski dalam hal BBPDJI memang sebaiknya berhenti dulu sekarang, jika benar mau berhenti sejenak. Pekerjaan berikutnya adalah menulis tentang "Bersetia Bela Pancasila, Demi Jaya Indonesia," yang merupakan keynote article dalam buku suntingan itu; dan kalau aku sampai asyik di situ, bisa berhari-hari urusannya.

Hey, ini liburan, dan liburan itu paling sesuai jika diisi dengan menulis buku. Taik kucing lah segala artikel ilmiah, aku tidak akan merasakan nikmat dalam pengerjaannya; sedangkan aku sudah tidak perduli lagi dengan nikmat pada akhirnya. Kurasa kondisi mentalku sama dengan ketika awal '00-an. Aku mau kuliah tapi jelas dulu dong pekerjaanku, gajiku; kalau tidak lebih baik aku cari uang saja, jaga DaVi.net warnet Daud. Ups, tidakkah seperti itu kondisi John Gunadi sekarang. Kurasa aku harus lebih toleran padanya. [Hah! Tidak! Dia sudah terlalu lama ditolerir!]

Monday, December 23, 2013

Seperti Gelandangan Gipsi di Nieuwstraat


Hmm... nikmatnya mirip-mirip dengan loteng MGSoG di Kapoenstraat. [...berarti pulang ke Laathofpad?] Ini lagu memang boleh dapat waktu di Maastricht. Sedap betul. Sekarang, lagu ini nikmat di segala suasana, baik di Kost Jang Gobay, di belakang Country Steak Lenteng Agung, Gang Pepaya. Sama nikmat. Tengah hari begini, suasana mendung dengan langit yang seperti menangis, sudah dari kemarin. Hanya saja, kemarin kuhabiskan seharian bersama Cantik, sampai kami berangkat ke Jalan Radio lewat tengah hari. Semalam pun kami mengingap di sana. Di sana pun pernah juga ber-Je Pense a Toi, di luar pintu Pavilyun. Hari ini, aku kembali di pojokanku, di Sekretariat FHUI Gedung A Lantai 2. Tengah hari begini, waktu makan siang, bukannya ngoreksi malah menulis-nulis begini, sedangkan Top Coffee White Coffee rasanya nggilani. Segala Puji hanya kepada Allah, yang telah memberiku musik-musik indah nan melembutkan hati, diperkenalkan oleh Ibu padaku, turut disukai Istri. Keprihatinan mereka, harapan mereka, biarlah menjadi doa. Kabulkanlah doa mereka, Ya Allah, Ibuku dan Istriku.

Lalu, Bapak. Aku yakin bapak tidak sendirian berdoa begitu mengenai anak-anak laki-lakinya. Masalahnya, pantaskah aku didoakan begitu? Sudah layakkah kelakuanku untuk doa itu, sedangkan sekarang saja aku tidak bergegas shalat Dhuhur, malah terus menulis-nulis? Lalu, adik-adikku. Aku sayang kalian, tiap-tiap dari kalian. Hanya doa yang dapat kupanjatkan, meski tercekat juga di tenggorokan. Doa untuk masing-masing kalian, meski terkunci dalam benak. Kasih-sayang, bimbingan, lindungan dan pertolonganNya jua yang komohonkan untuk masing-masing kalian, dalam kalian menjalani hidup sehari-hari. Seandainya masyarakat kita lebih toleran pada dipertontonkannya kasih-sayang, ingin rasanya kupeluk kalian satu persatu, karena tak satu kata pun dapat keluar dari mulutku kini. Itu pun karena tidak terbiasa mengungkapkan perasaan sayang di antara kita. Jadi tinggallah doa dalam hati, dalam ingatan, setiap kali teringat pada kalian. Semoga Allah mengabulkan semua harapan baikku pada kalian, adik-adikku. Lebih dari sekadar kenyataan bahwa baiknya hidup kalian menyenangkan hati Bapak Ibu, aku mengharapkan hidup yang baik, lahir batin, dunia akhirat bagi kalian masing-masing, kini kita sudah sama-sama dewasa.

Uah, sudah hampir habis waktu makan siang ini. [seakan-akan ngaruh] Ini namanya salah setingan. Aku kebablasan. Harusnya kusimpan dulu hasrat menulis ini sampai semua koreksian selesai; tidak terlalu banyak juga, kurasa, jika dicicil mulai dari sekarang. Aku sudah terlalu menggebu, dan koreksian ini seperti pohon tumbang melintang di jalanku! Jangan sampai dua-duanya melempem... Seperti biasa, alasanku, aku perlu membangun suasana hati. Berarti harus yang menyenangkan terlebih dahulu yang dikerjakan. Itulah sebabnya aku malah menulis entri ini. Kalau aku langsung menulis BBPDJI, takutnya aku betul-betul kehilangan dorongan untuk mengoreksi; sedang untuk memulai ngoreksi... boss ampun deh. BBPDJI? Emang boleh begitu namanya? Emang bagus? Emang menjual? Yang terakhir ini, mungkin, bisa langsung dijawab: Tidak! Tapi memang begitu 'kan bunyi dua baris terakhir dari himne yang sangat inspiratif itu? Eh, malam ini anak-anak menginap di rumah, konon sampai seminggu ini selama mereka libur. Mungkin aku tidak akan konsen menulis karenanya. Jika begitu, lebih baik aku menulis di sini, siang hari, sedangkan koreksian kubawa pulang untuk dikerjakan malam hari. [halah... alasan] Biarin aja!

Sunday, December 22, 2013

Suatu Kenangan tentang Sampoerna King Size


Dulu, [dulu melulu... 'kan sudah kukatakan. Aku adalah masa lalu] jika seperti ini maka adanya di pavilyun. Di pojokan itu dekat pintu. Ada juga rokok. Mengapa jika aku mengenang masa itu, yang teringat adalah Sampoerna King Size? Terkadang yang merah, kadang juga yang hijau. Ini mengenai awal 1996. Pavilyun yang temaram. Aku selalu suka lampu kuning yang menerangi seadanya, meski waktu itu aku lupa dengan lampu yang mana. Cassette player-nya? Mungkin Funai atau Kenwood. Paling mungkin Kenwood, karena benda itu pula yang kubawa ke Asrama setelah aku diterima di UI. Dan kaset ini, dulu ada gambarnya perempuan Asia, mungkin Jepang. Benar-benar dengan kertas foto begitu. Side A-nya adalah yang tengah kudengarkan kini dalam format MP3, suatu long play dari Paul Mauriat bertajuk Goodbye, My Love, Goodbye dari 1973. Akan tetapi, setidaknya sejak SMP di Cimone dulu, aku selalu, entah mengapa, lebih suka side B-nya. Aku tidak pernah ingat siapa namanya, meski aku tahu bukan dari Paul Mauriat. Kerinduanku yang begitu besar padanya memaksaku gugling dan... kutemukan dia! Botticelli and His Orchestra! Beberapa lagunya kutemukan di Youtube. Cukup banyak juga yang hilang.

Apa yang akan kukenang dari Sampoerna King Size? Apa yang akan kukenang dari waktu-waktu itu, ketika aku hampir menginjak usia kepala dua? Kedunguan... [Aku hampir mantap memberi satu saja titik pada kata itu. Akan tetapi... kutambahi juga dua titik lagi] Penyesalan? Iri? Dengki? Penyesalan. Apa yang kusesali? Aku dulu sering mengobok-obok kantung celana Bapak, mencuri beberapa ribu Rupiah untuk membeli, antara lain, Sampoerna King Size. Ketika pertama kali pindah ke Kukusan Kelurahan, ke RPT bekas Iwan Sofyan, selesai membereskannya aku menghisap Sampoerna King Size. Mungkin menginap di Jakarta Empat juga menghisap Sampoerna King Size, entah merah, entah hijau. Mungkin berpura-pura menjadi orang Filipina sampai-sampai bertemu pecun yang "suka yang panjang tapi lembek" juga sambil menghisap Sampoerna King Size. Semua penyesalan. Semua kesia-siaan. Jika benar aku menyesalinya... Jika benar... oh, kelu benar lidah ini, beku benar jari-jari ini... Tidak, yang kelu dan beku tidak lain adalah otakku sendiri! Sudah hampir 20 tahun berlalu dari waktu-waktu itu. Sebentar lagi aku, jika demikian kehendak Allah atasku, akan menjadi laki-laki tua berumur 40 tahun, ya'ni pada 2016 --kalau masih ada bilangan tahun itu.

Kini, setelah setua ini, tentu saja aku tidak menginginkanmu lagi, hai, Sampoerna King Size. Tak pernah pun aku menjumpaimu lagi, seperti begitu banyak merek lain yang kujelajahi. Tak satu pun yang bertahan cukup lama kecuali Djarum Super. Baguslah itu. Alangkah lebih eloknya lagi jika aku benar-benar terbebas dari segala sesuatu yang berkaitan denganmu... Akan tetapi, seperti yang kau lihat sendiri, yang hilang hanya kau, hai, Sampoerna King Size. Hanya kau dan teman-temanmu yang, seingatku, sedap nikmat menyamankan itu! Mengapa tidak tergerak lagi aku untuk menghilangkan segala kesakitan ini denganmu, atau teman-temanmu, toh, yang lainnya tetap sama? Sampai baru saja, sampai baru saja ini, aku masih persis seperti 20 tahun yang lalu, Oh, Jagad Dewa Batara! Apa percuma aku meninggalkanmu, sementara yang lainnya tetap melekat erat-erat padaku, pada hakikatnya? Maafkan aku, Sampoerna King Size, dan kalian juga yang lain-lainnya. Akan halnya aku meninggalkan kalian, tiada lain alasannya karena kalian tidak lagi menyamankan. Kalian kini hanya menyakiti lambungku. Itu saja alasannya. Tidak kurang. Apalagi lebih. Segala kesakitan tetap tinggal. Dengan apa kini aku menyamankan diriku? Makanan masih nyaman. Indomie Goreng tidak pernah mengecewakanku. Namun, aku menggelendut!

Saturday, December 21, 2013

Malam ini Bercinta di Persimpangan Kasih


Malam ini Malam Minggu. Malam Minggu, sebaiknya bercinta. Cinta remaja yang... lugu dan menggebu. Cinta di bilik telepon umum sedangkan lutut gemetar, padahal hanya saling menanyakan nama. Uah, sulit aku bercinta remaja. Belum-belum sudah terlihat betapa amatirnya aku dalam urusan ini. Ya, kuakui saja. Aku memang tidak pernah bercinta ketika remaja! Padahal... aku ingin juga. Sampai hari ini cinta remaja masih menjadi fantasi favoritku. Namun, ya, di situlah masalahnya, bagaimana aku bisa berfantasi jika sedikit saja petunjuk mengenainya aku tidak punya. Jika saja dulu aku memaksakan diri membaca satu dua cerpen di Anita Cemerlang, mungkin aku punya sedikit bahannya. Masalahnya aku ini songong dan sotoy. Gengsi betul baca Anita Cemerlang. Tidak. Tidak karena sok macho, tetapi karena merasa bisa membuat sendiri yang lebih dahsyat dari itu. Nyatanya, sampai hari ini tak satu pun kuhasilkan kisah cinta remaja bahkan untuk diriku sendiri. Walhasil, aku tidak pernah tahu apa rasanya cinta remaja. Berfantasi mengenainya pun aku tak mampu. Mengapa aku dulu tidak bercinta saja waktu remaja, yang biasa saja, seperti cerita-cerita di Anita Cemerlang itu? Mengapa? Karena aku sok-sok'an!

Nah, malah ini sangat menginspirasi. Salah satu lagu Neil Sedaka favoritku, Crying My Heart Out for You. Lhah, kenapa aku harus tidak mengalami cinta remaja? Aku, kurasa, cukup ganteng. Namun, ya, begitu... lagu-lagu yang tragis ceritanya, aku paling suka. Gimana caranya mau putus lha wong nyambung aja gak pernah?! Wis lah pokoke ora keren blas! Sudah, sudah. Idenya malam ini kan tentang cinta, cinta remaja, karena ini Malam Minggu. Seperti apa lagi ya... Ngapel! Ngapel itu bagaimana caranya? Apa yang dikerjakan orang jika ngapel? Buntu. Buntu lagi. Biasanya aku suka mengkhayalkan diriku berseragam pesiar ngapel ke rumah Istriku ketika kami masih sama-sama remaja dulu, meski anak setan juga tahu tidak begitu jalan ceritanya. Namanya juga khayalan. Aku suka berkhayal, seandainya saja sudah sejak SMA kami berpacaran, mungkin aku akan semangat menjadi taruna laut. Mungkin almarhum Papa akan bangga padaku, kemudian ketika pacarku itu kunikahi, jadilah ia ibu jala. Biasanya aku suka khayalan ini. Namun, malam ini, aku tidak suka. Mungkin gara-gara sambutan Mama yang tidak antusias ketika kuceritakan padanya khayalanku ini. Gila apa?! Ibu mertua mana yang akan antusias mendengarkan khayalan tolol begitu!

Demikianlah, maka, meski Malam Minggu, tetap saja tidak ada cinta remaja untukku. Terlebih bila mengingat aku tidak remaja lagi. Jangan-jangan aku memang sok asik pada para mahasiswa yang remaja benar, meski jaim pasti akan lebih sulit lagi bagiku. Bercinta itu... entahlah. Dengan entahlah itu sebenarnya sudah terjawab. Entahlah, aku hanya menjalaninya setiap hari. Hari-hari yang terasa nyaman jika Istriku dekat padaku, dan hari-hari yang terasa hampa jika ia jauh dariku. Itulah caraku bercinta sekarang, meski kami tidak remaja lagi, meski ketika remaja kami tidak pernah saling cinta --suatu kenyataan yang... yah, masih sering menyakitkan. Itulah yang kutahu. Kenyamanan itu. Kepastian itu. Aku memang orang yang membosankan, ketika ideku tentang nyaman adalah berada sepanjang hari di rumah bersama Istriku, mungkin membaca, atau menulis, namun yang pasti bercerita-cerita ke sana ke mari, dari hati ke hati. Cintaku, mungkin, adalah cinta pensiunan, sedangkan Istriku selalu ingin jalan-jalan. Satu dua kali sudah terjadi. Pangandaran. Ragunan. Kebun Raya... tapi, ya, itu... jangan banyak-banyak. Aku suka di rumah. Aku suka bercinta di rumah. Istriku lebih nyaman jika di rumah, dan aku suka sekali mempertontonkan kasih-sayangku padanya; sedangkan dia pemalu sangat.

Friday, December 20, 2013

Ya Udah Gapapa Emang Udah Nasib


Sebenarnya tafsir Matt Monro terhadap A Man and a Woman ini agak... sulit dimengerti, sama seperti tafsirnya terhadap Blue Spanish Eyes. Terlepas darinya, Matt Monro sangat istimewa dalam hatiku. Ia hadir agak belakangan, meski aku kenal lagu-lagunya sejak lama. Portrait of My Love, contohnya. Aku ingat mendengarnya sekitar sore hari di halaman belakang rumah Cimone. Namun, baru setelah aku kelas tiga SMP, setelah pindah kembali ke Radio Dalam, ada kaset Matt Monro milik Mas Yanto. Aku ingat ia menulis di sampulnya: "Matt Monro is my favourite singer." dan ditandatanganinya. Aku pun menulis di bawahnya: "Me, too." kalau tidak salah kutandatangani juga. Semenjak itulah, kaset itu menjadi salah satu hartaku yang tak ternilai harganya. Kubawa ke mana pun pergi, kujaga baik-baik. Magelang, Asrama, Kukusan, Srengseng, Pancoran. Di Pancoran itulah, sekitar 1999, kurasa hilangnya ia. Seingatku terakhir dipinjam Pak Bendot Bimas Nurcahya. Sampai lama sekali aku hidup menderita tanpa Matt Monro. Baru sekitar 2003 aku bersama lagi dengannya, dari CD-CD-nya Gus Dut Abdul Aziz Wahid, sampai hari ini --dan kutambah beberapa lagi dari Internet.

Mesjid Qoryatussalam Sani, sekitar awal 2013, ketika jalannya belum diaspal
Hidup ini pendek, begitu kata Bang Andhika tadi. Pendek dan dipenuhi kesia-siaan, seperti sekarang aku malah menulis-nulis gak jelas sedangkan belum shalat Isya'. Mungkin aku akan memahami hidup ini ketika aku berhenti mencoba memahaminya. Ketika aku berhenti memikirkannya dan sekadar menjalankannya. Ini, kurasa, adalah kata-kata konyol, bukan bijak. Bagaimana bisa menjalani hidup tanpa memikirkannya? Bagaimana bisa memikirkan hidup tanpa menjalaninya? Kulakukan dua-duanya ganti-berganti, mungkin setidaknya sudah sepuluh tahun terakhir ini. Pun demikian, sekali lagi, hidup ini pendek. Jika nasibku sama dengan almarhum Abangku Safri Nugraha, aku tinggal punya sepuluh tahun lagi. Punya? Oh, betapa terbatasnya bahasa. Betapa sempitnya pikiran manusia. Betapa pendeknya hidup manusia! Dapat kulihat, di tengah kepenatannya lahir-batin, Bang Andhika bisa sedikit berbinar jika berbicara mengenai Ali. Tiap kali ia bercerita mengenai Ali, ingin sekali aku berteriak: Anakku diberikan pada orang lain! Orang lain tetap memiliki anak-anaknya! Aku tidak punya anak! Anak-anakku mati semua! Ketika Mang Untus bercerita mengenai Jasmine, Hadi tentang Billy, Dul tentang Farel, ulu hatiku terasa tegang, dadaku mencelos.

Takwa pernah berkata padaku, anak membuat kita merasa muda kembali. Ya, harus kuakui, aku memang kehabisan alasan, kehabisan pasal, untuk merasa muda. Permainan komputer tidak. Makanan, apalagi, tidak. Habis. Aku bahkan selalu tidak punya ide untuk merasa senang. Akan tetapi, ya, seperti biasa, tentu saja, aku bukan yang paling menderita di dunia ini. Lagipula dunia ini memang tempatnya dhukka, dunia inilah samsara dan tak mungkinlah keluar darinya selama masih awidya. Teh-ku sudah habis pula. Secangkir teh Goalpara. Bagaimana dengan secangkir lagi, kali ini Earl Gray? Bolehlah dicoba. Tidak pakai gula. Ah, sudah kuseduh. [Sruput] Hmmm... cita rasa bergamotnya sedap betul. Biar kukatakan di sini apa rencanaku jika semua ini selesai, Semester Gasal 2013-2014 ini. Akan kutunaikan janjiku pada keparat-keparat Paradua itu. Akan kutata-letak dengan kertas ukuran B5, dengan ukuran huruf agak besar, Constantia 11 pt mungkin. Mungkin jika sudah ada bentuk nyatanya mereka akan kepingin ikut-ikutan, kampret-kampret kekanak-kanakan ini. Lagipula, aku akan senang juga. Akan kuusulkan agar Lily Bertha Kartika menjadi editornya, sekiranya ia mau. Jadi tidak eksklusif. Penerbitnya pun BP FHUI. Semoga nasib rencanaku ini tidak sama dengan rencanaku tahun lalu shalat di Mesjid Qoryatussalam. Aamiin.

Thursday, December 19, 2013

Suatu Renungan Lewat Tengah Malam


Kupu Briseis. Biasa.
...dan suatu judul yang --sungguh luar biasa-- sangat biasa sekali. Seperti judul di blog-blog kebanyakan, yang ditulis oleh juga orang-orang kebanyakan. Lihatlah, bahkan Ki Macan kini enggan berbicara denganku. Menampakkan batang hidungnya saja ia sudah tidak sudi lagi. Kini hanya ada aku seorang diri, dan, kurasa, aku belum pernah merasa sesendiri ini di sini, di blog ini. Terlebih ketika aku memulai entri ini dengan menghina blog kebanyakan yang ditulis oleh orang kebanyakan, makin terasa betapa sendirinya aku, sudah lewat tengah malam begini. Kurasa, lagi, jangan-jangan Kemacangondrongan inilah harapan terakhirku. Harapan akan apa? Harapan yang tiada lain adalah panjangnya angan. Ketika berturut-turut dihancurkan dengan mudah peradabanku, sesungguhnya itulah aku sendiri yang hancur --meski karenanya sebuah presentasi selesai diterjemahkan.

Tidak bisa lain harus kuakui juga, seandainya aku sedikit lebih bersama dari ini, barang tentu aku tidak menulis-nulis seperti ini. Aku menulis karena aku sendiri. Hai, adakah di antara kalian di sana membaca ini? Adakah kalian sudi menemani? Aku sendiri. Aku... kesepian. Aku kesepian dalam dunia yang kuciptakan di sekelilingku. Aku sudah tidak mengenali diriku sendiri. Sungguh. Ya, memang aku lebay, tapi kali ini aku bersungguh-sungguh. [pernahkah sebetulnya aku tidak sungguh-sungguh?] Tidak! Jika mencinta, aku sungguh-sungguh. Jika mencinta, aku selamanya. Jika kuberikan hatiku, aku sepenuhnya. Cinta tidak mungkin seutuhnya, selalu, untuk selamanya jika tidak pada SATU SAJA perempuan; dan aku lebih suka kesepian begini sambil menunggu Istriku Cantik. Aku... Istriku sedang menjalani detoksifikasi. Ia hanya makan buah sepanjang hari ini. Celana-celananya sudah tidak muat, katanya. Sekarang ia tertidur. Tadi, ia mengeluh pusing. Tadi, ia ingin dibelikan kacang. Kubelikan, tapi ia sudah tertidur sekarang.

Ngomong-ngomong, aku baru terima uang. Seratus lima puluh ribu Rupiah. Tadi sore. Sudah. Begitu saja. Tidak senang, tidak pula sedih. Apa karena sedikit? Itu bisa kujawab yakin: Tidak! Apapun itu, 'kuyakin, jika masih bisa dibeli dengan uang, tidak akan membuatku senang apalagi bahagia... dan cinta tidak bisa dibeli. Mengerikan sekali orang-orang yang merasa bisa membeli cinta, yang merasa cintanya dapat dibeli, yang cintanya ada harganya! Sudahlah, aku memang seorang helpless romantic. Aku memang sentimentil, melankolik. Itulah benar dan itulah saja yang membuatku tertarik pada hukum adat... atau lebih tepatnya... Bidang hukum mana lagi yang dapat mengakomodasi seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk berpikiran romantis, yang diharu-biru oleh tragedi-tragedi ciptaannya sendiri? Sungguh aku merasa tidak berguna. Apa gunaku? Ha ha ha orang mungkin tercenung memikirkan apa hubungannya romantis dengan hukum adat. Jika masih tidak tahu juga, tanyalah padaku. Dengan begitu aku tahu, kau membaca blog-ku.

Oh iya, biar aktual kontroversial, baiknya kuabadikan di sini kejadian tadi siang Rabu, 18 Desember 2013 di Ruang Rapat Guru Besar FHUI, Depok sekitar jam 13.00 sampai 15.00, yaitu Pemilihan Ketua Bidang Studi (Bidstu) Hukum-hukum Keperdataan dan wakil Bidstu di Senat Akademik Fakultas (SAF). Dari 39 (tigapuluh sembilan) anggota Bidstu, --dan hebatnya aku adalah anggota penuh, yang berarti seorang pengajar tetap hehehe-- 27 (duapuluh tujuh) orang hadir, sedangkan 8 (enam) orang menitipkan atau "menguasakan" suaranya kepada yang hadir. Dengan demikian rapat memutuskan bahwa kuorum sudah tercapai. Aku tidak punya catatan mengenai siapa-siapa saja yang hadir, tetapi dapat kusampaikan di sini bahwa Mbak Melly dan Bu Susi menitipkan suaranya pada Bu Surini, Pak Noko, Ditha dan Teddy (the nerve of them) pada Mbak Endah, Bang Fred dan Bang Kurnia pada Bang Idon dan Pak Huda pada Mbak Yetty.

Demikianlah maka pertama-tama dituliskan pada secarik kertas nama-nama yang diusulkan untuk menjadi Ketua. Setelah dihitung, maka Prof. Rosa mendapatkan 18 suara, Pak Huda 9, Prof. Agus 3, Bu Myra 2, sedangkan Bang Idon, Bang Edmon dan Sopuyan masing-masing mendapatkan 1 suara. Jelaslah maka Prof. Rosa kemudian didapuk menjadi Ketua Bidstu Keperdataan yang baru menggantikan Bu Surini. Prof. Rosa kemudian meminta Mbak Yeni menjadi Sekretaris dan beliau menerima. Pemilihan wakil di SAF juga menggunakan secarik kertas, tetapi kali ini yang ditulis dua nama. Ada sedikit insiden karena kertas yang terkumpul 36 carik, akan tetapi semua sepakat meneruskan perhitungan suara. Hasilnya sebagai berikut. Bang Edmon 15, Bu Us 12, Bang Idon 10, Bu Myra 9, Prof. Agus dan Mbak Yetty masing-masing 6, Pak Huda 5, Bang ABC 4, Bang Fred 3 dan Bu Surini, Mbak Yeni dan Sopuyan masing-masing 1. Dengan demikian maka wakil Bidstu Keperdataan di SAF adalah Bang Edmon dan Bu Us, dengan Bang Idon sebagai "cadangan."

Baik pulalah di sini kuakui, adalah aku yang meletakkan nama Sopuyan di situ. Adalah Sopuyan sendiri dan Velen yang menebaknya dengan tepat. Menurut Velen, kalau "nyeleneh" biasanya aku. Namun, Velen, alasanku melakukan itu sama sekali tidak nyeleneh, menurutku. Alasanku sangat ideologis! Sudah pernah kukatakan, dan jika ada yang bertanya dalam suasana yang tepat pun akan kuterangkan, bahwa aku bersikeras mempertahankan keanggotaanku di Bidstu Keperdataan karena aku ingin mengubah haluannya. Jika aku jujur pada tujuanku itu, maka hanya Sopuyanlah --terlepas segala kekurangannya-- yang dapat kupercaya. Aku, kurasa, tidak mungkin menominasikan diriku sendiri, lha wong statusku saja belum ada kejelasan. Itulah sebabnya ketika menominasikan wakil SAF, kutulis nama Bang Idon dan... Sopuyan lagi. Bang Idon setidaknya dari mimbar Hukum Adat yang masih magis-religius dan komunal dan visual dan tunai. Demikian itulah laporan pandangan mata. Sekian dan Terima Kasih.

Wednesday, December 18, 2013

Sanjak Sayap Laronnya di Lubang


Aku bisa saja pura-pura
tidak mengantuk dan terus berpuisi
Sungguh malam-malam begini
kepenatan seperti merajalela

Kebutuhan untuk dipenuhi
Keinginan yang bisa diharapkan
dari otak yang kelelahan
sedang tengah malam mendekati

Tak kudapatkan di sini
takkan kudapatkan pun di mana
Jangan. Tidak ke sini justru ke sana
Meski menganga. Jangan lagi

Kemilaunya menyilaukan tak menyinari
Lembutnya menggoda tak menyelimuti
Sinar. Selimut. Siapa yang peduli
Ini tentang kegundahan hati

Teruraiku. Mencair 'ku mencarinya
Di situ ada meski ada di situnya
Tertujuku. Memuramku durjanya
Di sana tiada memang tiada di sananya

Tuesday, December 17, 2013

André Villas-Boas Dicepat, Dikarungi (Pun)


Sudah cukup lama aku tidak menulis setatus di Pesbuk, [...sedangkan begitu saja Francis Goya ber-Again, Puji Tuhan!] sedangkan begitu saja kutulis tadi ketika mengawas ujian Hukum Lingkungan, mengenai dunianya Rintis Yanto, Eddy Stevens dan Imam Turidi. Huh, duniaku adalah dunia Again, terserah mau Again-nya Francis Goya, Doris Day atau Nat King Cole aku tak peduli. Dunia yang begitu tak peduli, dunia yang terlalu nyata dan sama sekali tidak imajinatif. Tidak romantis. Tidak sentimentil. Tidak melankolis. Aku ini setangkai bunga rumput gajah bengkak. Aku butuh siraman hujan yang lembut membelai, bukan guyuran hujan deras lebat membadai. Siapa yang mau memberiku itu, sedang begitu saja seorang tukang batu mengencingiku? Aku, bersimbah kencing tukang batu. Semoga saja ia seorang anak yang berbakti pada orangtuanya.

Ayu Utami, Idolanya Entahsiapa
Dan kini adalah Melodia, lembut membelai. Tidak ada yang suka membelai-belaiku. Tidak ada! Sebutuh apapun aku akan belaian lembut, tidak ada yang suka melakukannya padaku. Bahkan Soekarno yang sedahsyat itu saja tak kumaafkan karena sembarangan menulis-nulis surat cinta kepada begitu banyak perempuan. [...maafkan aku, Bung. Semoga dilapangkan kiranya kuburmu] Apalagi Goenawan Mohamad. Aku dari pertama sudah tidak pernah suka padanya. Aku tidak suka Catatan Pinggir-nya. Aku tidak suka Tempo-nya. Aku tidak suka Ayu Utami-nya. Aku tidak suka "Seks, Sastra, Kita"-nya. Pokoknya, aku tidak suka! Dulu ada dua, kalau tidak salah beli buku obralan begitu, yang dari seri itu... Aku lupa seri apa. Satunya lagi Umar Kayam. Seni, Tradisi, Masyarakat. Aku lebih suka yang belakangan ini. Ya, aku memang agak suka Umar Kayam. Sri Sumarah, Para Priyayi, aku suka... Sedih. Adik-adik, anak-anakku, kudoakan kalian tidak pernah mengalami apa yang kualami. Apa yang tengah kualami kini, kesedihan ini. Semua melankoli ini.

Seperti selalu saja, Bulan Biru. Pembaca setia pasti pernah dengar bulan biru. (halah) Sekarang, tukang jualan banyak yang memanggilku Oom. Jengkelku terhadapnya setengah dari kejengkelan dipanggil Boss. Lalu kenapa aku harus jengkel? Oom 'kan artinya "paman," dan tidakkah sangat mengilhami ketika kubaca bahwa Karol Wojtyla suka jika dirinya dipanggil "Paman"? Seperti "Lik" dalam bahasa Jawa begitu... [Hmm... Monalisa, Monalisa, anak yang manis ha ha ha begitulah Sopuyan pernah menyanyikannya] Aku adalah paman bagi mereka, anak-anakku, kemenakan-kemenakanku. Kepadaku dititipkan oleh orangtua-orangtua mereka, agar bocah-bocah ini kudongengi [dongeng?!] tentang entah apa-apa... Hu hu hu... [atau heh heh heh?] Aku cuma setangkai bunga rumput gajah bengkak yang dikencingi tukang batu. Ya Allah, betapa besar karuniaMu, kasih-sayangMu pada hamba yang hina-dina ini... Ampunilah hamba. Beginilah kehendakMu atas hamba. Aku pandai cingcong

...dan hanya itu kepandaianku.

Monday, December 16, 2013

Seperti Awalnya, Akhirnya pun Seperti (Ada)


Hari ini, tepat setahun yang lalu, aku menulis sebuah puisi tentang kutang berisi wiski. Setelah setahun kemudian, ternyata keadaanku masih tidak beranjak. Ya, sekarang ini, keadaanku masih tepat seperti setahun lalu. Maka terdengarlah olehku Francis Goya memainkan Nostalgia, perasaanku sendiri. Ini memang tempat untuk mencurahkan perasaan, dan memang hanya perasaan yang dapat dicurahkan. Gagasan tidak. Impian tidak. Masa depan? Masa iya? Masa bodoh! Konon aku akan menjadi Ketua ICT-FHUI. Puh! Menyebalkan sekali sebutan itu. Mengapa tidak Manajer Sistem Informasi? Apatah yang dapat diharapkan dari tempat yang ada veritas, probitas dan iustisia-nya? Aku sudah tidak mampu, sungguh aku kehilangan selera untuk mencaci apapun, bahkan diriku sendiri. Tidakkah itu mengerikan?!

Ygg Head of Galaxy Warriors
Subhanallah, Concerto d'Aranjuez, hal mana Januar Jean Merel Bruinier ikut-ikutan senang. Kawanku, di mana pun kau berada, semoga Allah menolongmu. Maafkan aku tidak menjadi teman yang lebih baik bagimu. Mendengarkan Concerto d'Aranjuez di pojokan Sesfak begini, sudah jam delapan malam begini, benar-benar sesuatu banget. Bahkan kuulangi! Ya, kurasa rendisi inilah yang dimainkan oleh Suara Irama Indah menjelang Maghrib dulu. Hhh... Suara Irama Indah, lalu Delta... lalu apa lagi? Ampun, Ya Allah. Ampunilah hamba... Aku adalah masa lalu. Bapak Ibu adalah masa depanku. Istriku adalah kekinianku. Begitu saja aku membatin ketika melewati Gereja Bethel Depok. Apa masa depanku? Mengapa juga aku bercanda tadi ketika Istriku mengharapkan berita baik dari... ADRIAAN BEDNER! Meski kuyakin, sebaik apapun berita, senangnya tidak akan lebih lama dari senangnya melihat Liverpool menang di White Hart Lane malam kemarin. 5 - 0. Suarez, Henderson, Flanagan, Suarez, Sterling.

Tidak lah. Jika benar berita itu sampai datang, senangnya Insya Allah lama. Oh, apakah yang kuinginkan dari hari esok? Apa?! Aku ingin semester gasal ini segera berakhir. Lalu apa? Nonton Walking with Dinosaurs yang katanya 3D? Apakah aku akan senang? Aku memang sudah punya tempat minumannya --yang ada mainan di atasnya, seekor Allosaurus-- yang gara-gara itu aku jadi kepikiran untuk mengoleksi figurin dinosaurus. Akankah itu membuatku senang? Akankah itu membuatku merasa memiliki sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan dan diharap-harapkan? Mana mungkin?! Ketika kanak-kanak saja tidak pernah begitu aku berpikir. Satu-satunya hal tidak berguna (emang iya...?) yang terus kutekuni sampai hari ini adalah menjadi fans Liverpool. Itu saja sudah cukup bodoh. Buat apa aku menjadi bagian dari berjuta-juta... konsumen?! Aku cuma seorang konsumen, yang membeli tontonan Liga Premier Inggris dari Nexmedia, sedang Nexmedia pasti membelinya dari kapitalis yang lebih besar lagi, dan seterusnya...

Sudahlah jangan banyak-banyak

Friday, January 11, 2013

'Ku Ingin Jadi On... 'Ku Ingin Jadi Oncom!


Ini adalah cangkir kopi keduaku hari ini. Yang pertama tadi kuberi susu kental manis. Yang kedua ini cukup gula pasir satu sendok teh. Kopi hitam, karena aku ingin berbicara mengenai UANG! Uang adalah satu-satunya motivasi bagi sebagian sangat besar, bahkan terbesar, mahasiswa hukum, di manapun! Sisanya? Kekuasaan. Yah, meski, ya meski, ada saja yang punya aspirasi aneh-aneh seperti ingin menjadi guru TK atau apalah... meski, entahlah, kali ini aku menuduh-- sebenarnya, pada dasarnya, mereka tetap menginginkan kemapanan hidup; atau setidaknya, identitas mereka sebagai warga terhormat kelas menengah dalam masyarakatnya janganlah sampai hilang. [ribet banget kalimatku ini] Tapi UANG, di duniaku ini, siapa yang paling suka uang, dialah yang paling sukses; atau, sekurang-kuranganya, siapa yang merasa bahwa banyak uang adalah konsekuensi paling logis dari upaya, setidaknya, mempertahankan identitas kelas, dialah yang paling sukses. Orang-orang seperti Rapin Mudiardjo, Redynal Saat dan sejenisnya itu, aku yakin, bukanlah orang-orang yang rakus duit. Mereka sekadar menyadari dan menghayati hidupnya, sebagai lulusan FHUI nan jaya fakultas mereka tercinta, FHUI jaya. Yang seperti mereka ini banyak sekali, kurasa, mayoritas yang sangat besar proporsinya dari populasi lulusan FHUI.

Sedangkan aku... aku ingin jadi on... aku ingin jadi ONCOM. Tidakkah kau lihat aku sudah tidak sabar lagi menunggu? T'lah kujadikan sendiri sebagai tujuan hidupku untuk membenci UANG. Hey, jangan salah, bukan uang yang Rupiah atau Euro atau Dollar itu-- kalau itu aku sih suka; melainkan the very concept of MONEY itself, bahkan sebagai alat tukar itu sendiri, terlebih sebagai alat menumpuk kekayaan, terlebih sebagai barang dagangan! Naudzubillah tsumma naudzubillah! Kuselipkan selalu --dalam kotbah-kotbahku mengenai Hukum Koperasi-- kebencianku kepada ekonomi uang. Kusentil di sana-sini betapa segala kekacauan ini terjadi ketika pertukaran yang jinak lantas bergeser menjadi pertukaran komersial. Aku jadi ingin tahu, kalau aku cingcong beginian, dicatat atau tidak ya oleh mahasiswaku? Dan betapa menderitanya hatiku ketika menyadari apa yang kulakukan ini tidak lebih dari racauan orang mabuk; meski Guru Nankai pun seorang pemabuk. Dan betapa pilu hatiku ketika menyadari bahwa sedikit sekali kelonggaran yang tersedia bagi suasana batinku untuk mencapai keselarasan dengan daya yang kuperlukan untuk membuatnya menjadi lebih dari racauan orang mabuk. [suatu kalimat yang berlari luar biasa cepat!] Apakah aku harus membuat sudut pemujaan bagi Ida Batara Boeke agar aku mendapatkan berkahnya, sehingga mampu meneruskan perjuangannya?

Gambar 1. Pancasila secara skematik
Jika demikian, maka seharusnya aku menyadari bahwa yang kulakukan, yang kuimpi-impikan selama ini tetap sama, yakni menyabot FHUI nan jaya fakultas kami tercinta, FHUI jaya. Mungkin bukan FHUI itu sendiri, melainkan FHUI buatan Charles Himawan --why do I single him out? Whatever, eh-- dan pengikut-pengikutnya. FHUI, sesuai nama yang disandangnya, harus menjadi pusat pembelajaran Hukum Indonesia,  yaitu suatu hukum yang ber-bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, [Tidak mengerti Sansekerta? Sama. Saya juga] atau ber-Laa Ilaha Ilallah Muhammadar Rasulullah, atau, jika kita gunakan saja bahasa nasional kita, suatu hukum yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena jika sudah ber-Ketuhanan, dengan sendirinya hukum itu akan ber[peri]kemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk mencapainya, maka bangsa ini harus dipersatukan dalam suatu negara, negara mana diberi nama Indonesia --yaitu nama yang disandang fakultas kita, universitas kita! Negara ini harus diselenggarakan sebagai suatu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; karena hanya dengan cara itulah akan terwujud suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial adalah keadilan yang beradab! Tidakkah kau perhatikan betapa akhirnya 'adil' dan 'adil' bertaut? Jika jasmaninya adil, ruhaninya adil, maka mudah bagi manusia untuk memahami Keesaan Tuhan.

*Ralat: Gambar 1 "dari dalam" dan "dari luar" tertukar tempat

Thursday, January 10, 2013

Berpikir dengan Hati, Merasa dengan Jantung


MR. M. Yamin. Memang tiada
ganteng Bapak ini.
Paling sedih kalau seperti ini, menulis entri tidak pada harinya; karena pada harinya, tidak ada satu pun yang --jangankan menyemangati-- mengijinkanku menulis entri saja tidak. Sedih, karena satu-satunya yang sahih, yang absah untuk ditulis dalam entri adalah apa yang kurasakan pada hari itu. Hanya ini yang tersisa padaku untuk mempertahankan ideologi rasaku. Demikianlah Muhammad Yamin pernah berkata: "Orang Indonesia berpikir dengan hati, merasa dengan jantung." Ini jauh lebih baik, lebih nyaman daripada makan hati berulam jantung. Itu yang terjadi jika manusia Indonesia [enak aja klaim!] dipaksa untuk berpikir; setidaknya, akulah. Semakin lama aku semakin tidak percaya pada pikiranku sendiri; meski gara-gara ini aku jadi takut, jangan-jangan aku sudah tidak bisa menulis yang bener. Aku terlalu banyak menulis mengenai apa yang kurasakan, dan itu nggak bener. Di dunia yang mengagungkan profesionalitas ini --entah apa maksudnya-- tidak ada tempat bagi perasaan pribadi. Jangan bawa-bawa masalah pribadi ke pekerjaan, itu tidak profesional! Begitu katanya. Lalu kalau membawa-bawa masalah pekerjaan ke [dalam kehidupan] pribadi, apa namanya? Tidak usah sengaja dibawa, itulah yang awam terjadi. Itulah sebabnya kebanyakan orang Indonesia sekarang makan hati berulam jantung; memakan jantung dan hatinya sendiri!

Lalu, stroke deh. Serangan jantung deh. Kanker bermacam-macam deh. Tahu tak kenapa sapi bisa kena anthrax atau penyakit sapi gila? Karena disuruh makan jantung dan hatinya sendiri! Hiy. Memang Penyakit Manusia Gila (Mad Human Disease) agak beda dengan Penyakit Sapi Gila (Mad Cow Disease). Sapi, nih, kalau kena penyakit gila, akan menyendiri dari kawanannya, mudah tersinggung, mudah marah, sangat peka terhadap keributan dan sentuhan, dan lama-lama otot-ototnya suka bergerak-gerak sendiri tanpa disengaja. Sapi gila juga biasanya sedikit keluar susu, tidak doyan makan dan terlihat selalu lemas. [wadus, koq ada semua gejalanya padaku...] Manusia kalau gila seperti apa? ...hah, payah kali pun kalau aku harus mendeskripsikan manusia gila. Teringatnya, Mbak Sisie Andrisa Macallo menulis status di persbuknya bahwa ia dahulu suka mengajak ngobrol jelema geuring sekadar ingin tahu saja apa yang ada di kepalanya. Ceuk urang mah, ari jelema tos geuring, itu artinya ia sudah sembuh gilanya. Ada satu lagi cara untuk sembuh dari kegilaan: MATI. Namun untuk yang satu ini aku tidak bisa cerita apa-apa karena belum pernah. Setidaknya, menyembuhkan kegilaan dengan cara menjadi --atau berada dalam keadaan-- geuring, mungkin aku bisa cerita sedikit. Ya, meski sedikit sekali. Kata kuncinya ya, itu: Berpikir dengan Hati, Merasa dengan Jantung.

Apa yang dilakukan Yamin untuk menunjukkan bahwa ia berpikir dengan hati, merasa dengan jantung? Bersyair! Ya, itulah yang dilakukannya. Bersyair itu bagaimana? Bersyair, menurutku, adalah mengungkapkan perasaan. Pernahkah engkau bersyair? Pernahkah engkau menulis? Jika engkau merasa --merasa, ya-- bersyair dan menulis sama saja, berarti belum bersyair lah kau 'tu. Jika engkau berpikir, maka terasa ada denyutan, ada ketegangan di dahi. [itu sih aku begitu] Jika engkau bersyair, maka --seperti yang selalu kulakukan dari kecil, yang sering mengundang tawa paman-paman dan sepupu-sepupuku-- aku menaruh telunjuk kanan di pelipis kanan sambil menelengkan kepala. Itu biasa kulakukan jika aku berusaha mencerna suatu pengetahuan yang disuapkan padaku. Jadi bukan keluar, melainkan masuk. Yah, meski mungkin sekarang tidak begitu lagi sikap tubuhku jika sedang mencerna, namun setidaknya pelipis kananku berkejat-kejat ketika aku sedang bersyair; kejatan-kejatan mana sungguh nyaman terasa, seperti dipijat istri yang mencintai. Lain halnya jika menulis, [dan mengoreksi grrhh] yang tegang, yang berdenyut-denyut adalah dahi; dan itu tidak terasa nyaman. Bersyair itu --untuk menggunakan kata-kata yang dramatis-- adalah membebaskan jiwa mencerap semesta; sedangkan berpikir adalah menambah sampah ke persekitaran kita yang sudah kumuh.

Wednesday, January 09, 2013

Obituari: Po Terlindas Gepeng di depan Margo


Po sudah mati. Aku tahu itu kemarin, sepulangku dari kantor antara 16.30 sampai 17.00 di depan Margo City yang ke arah Depok. Di situlah Po gepeng, diam tak bergerak, di tengah jalan. Kurasa ia sudah agak beberapa saat berada di situ, karena sudah kumuh bentuknya, ...dan gepeng! Po yang biasanya bulat itu kemarin gepeng njepeprek begitu di tengah jalan. Kurasa sudah ada agak beberapa roda melindas tubuh dan kepala bulatnya itu. Melihat gepengnya yang merata itu, bisa jadi yang melindasnya adalah kendaraan besar. Kemarin, ketika kulihat itu, ia belum terburai-burai. Masih utuh, hanya saja gepeng. Seandainya saja belum gepeng dan lalu-lintas di depan Detos sore itu tidak seramai dan selancar itu, mungkin aku akan menghentikan Varioku dan memungutnya dari tengah jalan. Yah, kalaupun harus mati, setidaknya tidak seperti itu 'kan? Namun nasib memang berkata lain bagi Po. Ia harus mati begitu. Terlindas. Gepeng. Njepeprek di tengah jalan. Berapa orang yang, seperti aku, akan meliriknya? Berapa orang, yang melintas di depan Margo sore kemarin, yang memiliki kenangan khusus dengannya? Po bagaimanapun sempat sangat terkenal di Indonesia pada akhir '90-an dan awal '00-an, khususnya di kalangan anak bocah yang ketika itu masih balita dan orangtua-orangtua mereka.

Orang dengan kenangan khusus mengenai Po pasti banyak. Orang yang sudi melirik pada saat-saat terakhirnya pasti sedikit. Aku merasa beruntung menjadi keduanya, banyak sekaligus sedikit. Kini biarlah kuceritakan sedikit mengenai kenanganku akan Po. Kami berkenalan kali pertama ketika aku mengontrak di depan kandang kambing Haji Thobroni, di Gang Pancoran, tahun 2000. Sebenarnya aku sudah lupa rinciannya. Aku hanya ingat suasananya. Waktu itu pagi menjelang siang. Kontrakan itu sungguh pendek langit-langitnya, aku dengan kakiku yang hanya dua jengkal ini saja bisa menyentuhnya tanpa susah-payah. Kontrakan itu hanya punya satu kamar, dan di kamar itulah kuletakkan sebuah tivi yang belinya boleh malak orang. Ketika kunyalakan tivi, di situlah aku lihat Po bersama keempat kawannya yang lain. Apakah aku menangis waktu itu? Aku lupa. Akan tetapi, kalaupun tidak menangis, suasana saat itu sungguh mengharukan. Kontrakan itu meski kecil dan rendah dan sempit sekali, namun lengang. Lengang selengang hatiku kala itu, hati yang ,jangankan masa lalu dan masa depan, masa kini pun tak punya. Apa yang kulakukan waktu itu sambil menonton Po dan keempat kawannya bermain-main di bukit-bukit? Merokok? Sangat bisa jadi. Uangnya dari mana? Entahlah. Mungkin ngutang sama Joger saat papasan di Gang Damai. Kontrakan itu, yang rasa sukaku padanya hanya "lampu tempel" bagi Haji Thobroni, di mana aku kali pertama bertemu Po, sungguh merupakan duri dalam kenangan. Sakit-sakit sedap.

Po semasa hidupnya adalah seorang gadis kecil yang cantik dan periang. Itulah benar yang menjadi kesedihanku karena lebih dari itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku dahulu memang sengaja melupakannya, karena hanya dengan cara itulah aku dapat terus hidup; dengan harapan suatu hari nanti bertemu kembali dengannya. Ternyata kini ia telah gepeng begitu. Begitu banyak kenangan dan harapan yang kandas, sampai-sampai aku tidak tahu bahwa kata-kata itu --'kenangan' dan 'harapan'-- ada. Kini begini juga keadaanku. Apakah orang tidak punya anak itu akan kasihan di hari tuanya nanti? Tidak punya anak aku sudah tahu rasanya. Kasihan... sedikit banyak tahulah. Hari tua? Akankah aku mencapainya? Jauh di dalam ceruk terdalam di ngarai kenanganku, aku pernah berkhayal betapa suatu hari nanti aku pulang kerja dan disambut Po yang sudah lebih dulu pulang sekolah. Ia bertanya padaku, "Bapak mau dibuatkan teh manis?" dan aku akan menjawab, "Air dulu saja. Terima kasih, Nak." Ini bukan kenangan. Ini sekadar kenangan akan khayalan. Bayangkan, bahkan khayalan pun kukenang-kenang. Ya, tidak apa-apa. Berapa banyak manusia yang harus mengubur dalam-dalam khayalannya; meski rasanya seperti mengubur diri sendiri. Berapa banyak yang bahkan lupa sampai mengubur diri seluruhnya, tidak menyisakan sedikit; setidaknya lubang hidung untuk terus bernapas. Berapa banyak yang akhirnya mati bersama khayalan-khayalannya. Aku tidak mau begitu. Aku tidak mau mati berkhayal.

Tuesday, January 08, 2013

Dia yang Manusia, Betina dan Bodoh Itu


Schmong dalam pelukanku, 2010
Ini namanya ambil risiko, tapi mau bagaimana lagi? Rasa badan seperti ini tidak mungkin diajak kompromi. Kalau tadi malam rasanya seperti abis minum bir sekrat, sekarang, karena sudah dapat tidur agak berapa jam lumayan lah, jadi seperti abis setengah krat. Dan ambil risiko namanya ini, ketika Mas Johan tadi sudah mengatakan "saya tunggu, ya," aku malah main-mainan. Bisa-bisa habis energiku menulis gara-gara ini. Kenapa tidak seperti Mas Topo? Ubah-ubah sedikit sana-sini. Beres! Kau tidak sedang mengerjakan karya seni. Tidak mungkin kan setiap pekerjaanmu kau perlakukan seperti karya seni? [katakan itu pada Ibu] Itulah... mungkin karena aku anak ibuku, beginilah jadinya. Daripada membuat sesuatu yang tidak memuaskan hatiku, mendingan gak usah! Tidakkah ini suatu tanda kesombongan yang sangat nyata? Entahlah. Yang jelas, aku benar-benar sedang kesulitan menggerakkan mentalku untuk mengerjakannya. Kenapa kemarin aku terima, ya? Emang aku bisa nolak? Seharusnya bisa. Bang Edmon dengan national security-nya saja kemarin kutolak. Tidak, Bang. Sejujurnya saya sudah tidak mau lagi berurusan dengan apa yang Abang urus itu. Nehi.

Kopi sudah. Tolak angin sudah. Mungkin kumatikan dulu AC di atasku ini, meski John Gunadi  mungkin akan kembali menyalakannya sebentar lagi. Uah, gawat. Aku kehilangan minat untuk melakukan apapun. Dengan menyadari bahwa aku tidak dapat berbuat banyak mengenai M14 saja, aku juga jadi kehilangan minat padanya. Hari ini aku tidak mau didekati siapapun, orang maupun binatang. Binatang? Schmong, apa kabarmu? Sudah mati belum? Kalau kamu harus mati --yang mana sangat mungkin karena umurmu setidaknya sudah 10 tahun-- jangan mau mati sebagai Cici ya. Apa'an tuh Cici?! Sejak kamu kucing kecil sampai jadi ibu-ibu, sampai jadi nenek-nenek begini, namamu Schmong! Yah, aku mungkin bisa memahami kalau kamu menurut dipanggil Cici. Beberapa tahun terakhir aku memang tidak pernah memberimu makan. [emang aku pernah kasih kamu makan? Pernah sih sekali dua, ikan kembung Mbak Tun dicampur nasi, yang kamu makan bersama anakmu yang paling bodoh, Coko] Jika kemudian ada orang yang secara teratur memberimu makan, meski untuk itu kamu harus rela dipanggil Cici, yah tidak apa-apa. Lagipula, kamu pasti bosan dengan biskuit-biskuit bodoh makanan kucing itu, yang hanya cocok bagi anakmu yang bodoh itu.

Coko pun dipanggil Coco! Biarlah kalau dia, karena dia bodoh. Apa kabarnya anakmu yang bodoh itu? Sudah mati? Baguslah. Itu memang lebih baik bagi kucing jantan bodoh seperti dia. Siapa tahu, dalam kelahirannya yang berikut ini, ia tidak lagi menjadi kucing jantan bodoh, tetapi melompat jauh menjadi manusia betina bodoh. Ada ya manusia betina bodoh? Mengapa ketika aku menanyakan ini, pikiranku melayang kepada... itu?! Ya amflaf, apa dosanya sampai dilahirkan seperti itu... Ia manusia, ya. Betina... sepertinya ia tiada begitu menyukai kebetinaannya... Bodoh sudah jelas! Terlebih lagi, BAU! Ya amflaf! Terserah deh mau bilang aku jahat, tapi aku memang tidak tahan jika dia berlama-lama di pojokanku yang pengap itu. Sudahlah pengap, dipenuhi baunya pulak. Yuck! Aku memang jahat. Kejahatan apa yang diperbuatnya, sampai aku tega sejahat itu padanya? Kejahatan lain --seperti ketidaksukaannya pada kebetinaannya-- bukan urusanku. Satu-satunya urusanku adalah... dia BODOH! Dia bodoh bukan alang-kepalang. Ah, sudahlah. Kudoakan agar Coko tidak pernah dalam hidupnya yang baru lalu [memangnya benar sudah mati? sudah lama pun aku tiada melihatnya...] atau yang manapun terlahir kembali menjadi dia yang manusia, betina dan bodoh itu.

Monday, January 07, 2013

Lambang Model Catik, Bahenol, Berpakaian Minim


Melissa Th'ng Model Babi
Judul dari entri ini sesungguhnya adalah suatu terjemahan sangat bebas dari tulisan di punggung jaket seorang ibu-ibu berjilbab, yakni, "Playboy. Symbol of Beutiful Voluptuous Scantily Clad Models." Memang benar begitu. Beutiful tidak pakai "a". Lengkap pula dengan gambar kepala kelincinya. Ini kulihat ketika aku sedang memacu Vario sepanjang Jalan Kemakmuran, Depok II. Ketika itulah aku melihat ibu-ibu itu dalam boncengan sebuah motor. Ia duduk mengangkang dan jaketnya bertuliskan itu, padahal ia berjilbab! Sungguh, jaketnya terlihat murah. Iya lah. Apa yang kau harapkan dari sebuah jaket bertuliskan demikian, beutiful pula! Oh iya, di punggung jaket itu tertulis juga "Since 1953."

For one, sejarahnya cukup akurat. Gara-gara ini, aku jadi menyesali kenapa harus hilang itu satu huruf "a". Jika tidak, jaket itu akan menjadi busana yang haute couture bagi si ibu, yang aku yakin pasti akan terlihat chic sekali memakainya; terutama karena fakta sejarahnya itu! Seorang ibu-ibu berjilbab duduk mengangkang di boncengan motor, mengenakan jaket bertuliskan "Playboy. Symbol of Beautiful, Voluptuous, Scantily Clad Models. Since 1953." Adakah yang bisa lebih inspiratif dari ini untuk memulai hari? Tidak mungkin. Ini sudah mentok! Ini pencapaian. Pencerahan. Namun demikian, mana kita tahu ke mana tujuan ibu itu 'kan? Bisa saja kita berandai-andai ia sedang terburu-buru mengejar suatu sesi pemotretan; padahal ia sedang ingin pergi ke pasar. Iya, pasar. Bisa jadi ia terburu-buru kembali ke lapak atau kiosnya di pasar. Tadi ia pulang lagi karena jaket kesayangannya itu tertinggal. Ia tidak boleh berjualan tanpa mengenakannya. Apa kata para sosialita di pasar itu kalau ia berbusana seadanya, sekadarnya?!

Begitulah maka hari yang kumulai dengan melihat suatu pertanda baik ini kulanjutkan dengan nongkrong di kantin. Pagi ini ada Mang Untus dan sepupunya, Mas Narno, dan John Gunadi. Orang-orang ini... semakin lama aku semakin jauh dengan mereka. Bahkan dengan John Gunadi; meski jika pun pernah dekat, aku juga sudah lupa kapan. Akan tetapi, mereka seperti memiliki dunia mereka sendiri, dunia mana aku bukan bagian darinya. Dan memang benar demikianlah adanya. Mereka sudah berbagi suka-duka setidaknya selama tujuh tahun terakhir mengawaki perkubuan lantai 4 itu, sedangkan aku selalu di mana-mana. Aku tidak pernah benar-benar tahu apakah mereka tersinggung dengan julukan Banpol PP dan djembel moedlarat. Setelah sekian lama, masa iya mereka mau terus-terusan djembel, terus-terusan moedlarat?

John Gunadi memang entah arah mana yang ditujunya. Akan tetapi, jika engkau tahu apa bentuknya ia sekitar delapan tahun lalu, maka keadaannya sekarang adalah suatu kemajuan. Ya iyalah, masa delapan tahun tidak ngapa-ngapain?! Setelah delapan tahun ini... aku menggendut kembali, seperti sekitar sepuluh sampai sebelas tahun lalu; bahkan mungkin lebih parah! Hiy, aku tidak berani menimbang berat badan. Pasti sudah lewat sembilan puluh sekarang timbanganku. Padahal makan juga sudah tidak membawa kenyamanan, apalagi kebahagiaan. Makan tidak makan sakit-sakit juga. Terlebih lagi, gudeg warung Minul, yaitu tempatnya Mbak Dilla, ya begitu-begitu saja. Pasti krecek lagi, lalu tambahannya, entah telur dadar, telur bulet, begitu saja terus. Entah mengapa tadi nasi kotakku kuberikan pada Mas Milson, jika toh aku masih makan... nasi gudeg lagi! Sambil makan itu, aku dan John Gunadi saling berdiam diri; itu setelah selesai draf SE.

Dasar babi lu! Iya deh, ...emang gua babi... Maapin ya...
Oh, aku merasa terpejit seperti babi! Kalau aku, babi hutan tentunya. Bentuknya, maksudku; meski babi apapun sama saja. Intinya aku yang gendut ini merasa terjepit; dan semakin terjepit aku, semakin gendut aku. Aku harus menghindar! Aku harus menyelamatkan diri! Hanya itu yang bisa dilakukan. Dahulu pun selalu begitu. Ketika aku merasa terpojok di sana-sini, ketika aku merasa seperti digiring ke dalam perangkap, aku melarikan diri. Aku menghindar, tetapi itu dahulu ketika aku setidaknya 10 kg lebih ringan dari sekarang. Sekarang aku sudah gemuk. Kelitku sudah tidak sigap lagi. [keluh] Coba kuingat-ingat bagaimana babi ini dahulu menghindar... Aku pernah menghindar sampai berminggu-minggu! Aku tidak pergi berangkat ke kantor, meski kantorku hanya sepelemparan batu dari kosku; oleh atlet lempar yang sangat terlatih.

Kosku di Jang Gobay... tidur di kasur Palembang, makan pagi di Mbak Yem. Perabotan hanya satu meja tulis murahan diskonan, satu kursi plastik hijau merek Napolly, satu rak serbaguna hitam murahan juga diskonan juga, satu rak handuk, dan satu set zitje bambu boleh kasihan sama yang jual. Lantai ubin warna merah, aduhai sejuknya. Di antara perabot murahan itulah aku menghindar bersembunyi, sampai berminggu-minggu. Kadang, dalam persembunyianku itu, aku keluar juga. Bercelana pendek berkaus oblong, jalan dan jalan dan jalan kaki, baik ke Detos, Margo atau sekadar keliling UI; di bawah terik matahari menjelang tengah hari, atau dalam keteduhan matahari yang beranjak ke peraduan. Sewaktu di Pusaka pun masih bisa seperti itu. Sejak kapan menjadi tidak bisa lagi? Apakah sejak menjadi pengajar Hukum Lingkungan? Sangat bisa jadi... Ooohhh... aku harus menemukan cara melarikan diri. Segera!

Grok... Grok... Ngoik... Ngoik...