Thursday, March 31, 2022

Tidakkah Aku Meledakkan Pikiranmu Kali Ini


Ini jelas bukan waktunya ngegoblog, namun hatiku serasa kejeblugan balon hijau berisikan hidrogen berintikan plutonium. Uah, tiba-tiba saja aku tersedot ke dalam ruang waktu, terhempas di loteng Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Maastricht. Apakah aku ini habis menyantap surimi garnalen atau bahkan roti lapis isi ikan goreng tepung dengan olesan saus bawang. Sementara itu ada kantin murah di akademi seni di belakang, menjual paket roti pentung besar, bisa diisi salad tuna, kepiting, atau telur, masih ditambah semangkuk besar sup sekali, hanya satu setengah Euro. 

Kenyataannya, pantatkulah yang terpancang pada kursi belajar Faw di kamar belakang, sedang perutku gendut mengganjal begini. Aku ditemani semug zodiak Leo teh jahe kunyit bersimbah madu jahe merah mentol, masih bertabur jahe merah gula aren bubuk. Akibatnya terlalu manis di pagi hari, maka kubagi dua, separuh di gelas permata kutambahi air panas lagi sampai penuh. Sekarang ini menjelang dhuhur, setengah lagi kutambahi air panas dan masih kumagnetron sekali, semug zodiak Leo menemaniku ngegoblog begini. Ini sudah dari seminggu lalu atau lebih.

Ya, sutra 'lah let's do it again! Bersama Bang Tagor di sini, yang dahulu terasa aduhai nikmat sekali, gurih-gurih goyang lidah, manis-manisnya; belum lagi bumbu kacang yang semrawut dengan kecap dan saos murahan. Aku bisa saja segera melesat membelinya, namun semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kaukunyah, apa yang kautelan. Sedang Cantik melarikan diri ke kandang kambing gara-gara sekondan Mas Dikdik membongkar puncak atap, menghantam-hantamkan martilnya. Sekarang mereka berhenti untuk mengobrol di atas atap sambil mengopi.

Ini adalah akhir pagi menjelang siang ketika kepala, dada, punggung basah bersimbah peluh, mengucur karena badan dipasok air hangat bersimbah teh jahe kunyit, masih dengan jahe merah, madu, mentol bahkan gula aren. Sampai kapan badan sanggup menanggung nikmat asin-asin gurihnya kuah soto Suroboyoan di pagi hari, lengkap dengan taburan koya, meski diencerkan dengan segelas SanQua. Masih mending, jika kepagian, belum akan ada gorengan entah tahu, bakwan, atau tempe, yang jelas menambah kenikmatan sruput-sruputnya kuah soto. Aduhai!

Semua ini tak ayal mengakibatkan tumpah ruahnya perut, ndlewer mengalir sampai jauh. Apakah itu Ki Ageng Suryomentaram atau sekalian Pangeran Diponegoro niscaya tidak akan berdaya menghadapi mudanya kehidupan yang berhias intan permata mutu manikam, entah yang mungil mengerling atau melotot sebesar jempol. Belum lagi mutiara tersembunyi yang bersaput madu-madu gurih dengan keharuman yang memabukkan. Aku belum lagi tahu bagaimana Ki Ageng, tapi Pangeran Diponegoro jelas cekakar di hadapan itu semua. Inikah nasib pangeran-pangeran Jawa?

Raden Ronggowarsito menulis apa yang oleh orang-orang disangka risalah-risalah, atau bahkan mungkin ia sendiri menyangkanya begitu. Aku mengitiki goblog ini tidak untuk disangka apa-apa, kecuali, seperti yang sudah disangkakan Mas Teguh Rumiyarto, bahwa aku gendeng. Di titik ini aku sudah tidak tahu lagi mana yang lebih baik, dikatakan gendeng atau keple. Jelasnya, perutku ndlewet sampai-sampai penampilanku memang gendeng tur keple. Betapa tidak, tangan kananku bergerak ke atas ke bawah berulang-ulang, kadang cepat kadang lambat.

Lantas bagaimana aku harus mengakhiri entri ini, sedang peluh terus mengucur pada suhu ruang 36 derajat selsius. Bahkan ketika aku berusaha untuk melontarkan diriku ke awal perjuangan ini (halah!), masih telur rebus itu saja yang teringat di beranda salah satu kelas SMP 4 Jakarta. Bahkan ada pula yang sudah mengenakan putih-abu-abu masih membersamaiku di Istiqlal kala itu. "Sampai bertemu di Lembah Tidar", katanya [Tentu saja tidak]. Apakah Teras Hijau menjadi kelanjutan ini semua, atau seperti halnya hidup di dunia, sekadar senda-gurau belaka.

Bersetia Bela Pancasila, Demi Jaya Indonesia  

Wednesday, March 16, 2022

Nenen Susu Kambing Etawa, Nenen Kurma


Ya, memang air susu kambing lebih lengket dari sapi, apalagi manusia. Itu karena kandungan kaseinnya tinggi. Jika kita meminum air susu dengan kandungan kasein tinggi, maka di perut dia akan membentuk semacam gumpalan yang tidak dapat cepat dicerna. Malahan, ia akan dicerna sangat perlahan sambil melepaskan energi sedikit-sedikit. Ah, ada-ada saja, lagian susu kambing dinenen. Maka kuganti saja irama baru jadul dengan lagu-lagu Indonesia sok ngejez dari empat puluh tahunan lalu. Maka mengalunlah suara emas Tante Rien Djamain mengenai hantu-hantu.

Nenen kambing etawa. Di sudut kanan bawah tampak butir-butir tahi kambingnya
Meski entri ini tepat ditulis pada hari ulang tahun Mbak Dr. Fitriani Ahlan Sjarif, tidak berarti entri ini untuk merayakannya, apalagi mengenainya. Meski setelah sekian lama akhirnya aku mendengar lagi suara Iga Mawarni, ingatanku selalu mengenai Sopuyan dan Peter Gontha yang mengira dirinya Michael Franks. Seharusnya gambaran bagi entri ini adalah franks alias sosis, yang mungkin kependekan dari frankfurter. Uah, betapa sedapnya makanan ini dahulu. Terlebih kalau ia terjepit di antara dua roti lantas disiram chili con carne begitu, menjadi A&W Chili Dog.

Maka begitu saja aku berteleportasi ke Paris, sedang kenanganku tertumbuk pada penambang-penambang perang dan waktuku. Ya, aku memang pernah berperang di kedua-dua belah pihak. Bahkan aku pernah menjadi salah satu panglima perangnya Yuri. Keistimewaan penambang perang adalah, seperti namanya, ia bisa berperang. Jika musuh mendekat, asalkan tiada terlalu kuat, ia bisa melukai bahkan menghancurkannya. Sedang penambang waktu sanggup berteleportasi, kembali ke kilang bijih dalam sekejap mata. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Namun tentu saja yang selalu terkenang adalah kapal udara kelas Kirov besutan pabrik perang. Daya hancurnya luar biasa. Beberapa bom saja sudah sanggup melenyapkan satu lapangan konstruksi, membuat musuh tidak berdaya membangun apa-apa lagi. Akan tetapi kapal udara ini memang ringkih. Jika musuh memiliki situs-situs peluru kendali darat-ke-udara dalam jumlah memadai, Si Perkasa Kirov tidak akan berdaya. Seperti layangan tewang, ia akan nyubluk begitu saja menghunjam tanah. Itulah sebabnya penting sekali mengintai sasaran dan membersihkan sarang-sarang peluru kendali sebelum melancarkan serangan udara dengan menggunakan kapal udara. meski itu kelas Kirov yang perkasa.

Sedang mungkin masih ada gumpalan susu kambing dalam lambung, masih kutimpa juga dengan mie ayam donoloyo dan beberapa potong tahu susu Cihuni. Untuk Cantik dan Anak Perempuan sebungkus gado-gado yang kecil porsinya, mungkin karena sudah terlalu siang. Untunglah tadi Tukang Cilok sedang makan. Jika tidak, sudahlah ada gumpalan susu kambing, masih ditambah pula dengan bergumpal-gumpal aci, tentu dengan sulur-sulur mie ayam mengambang-ngambang setelah ditimpa tiga ratusan mililiter air. Memang begitu dunia ini, selalu penuh misteri.

Dengan roket macan tutul tuli ini aku terlempar ke mie ayam yang lain, yang pakai kecap, yang entah mengapa selalu kukaitkan dengan Endro Wahyu Wibowo, teman satu Graha Sepuluh lantas Akademi Angkatan Laut. Ia yang dengan lemah-lembut mengingatkanku betapa Bapak memberi sambutan mewakili orangtua-orangtua Angkatan 43. Sudah pasti saat itu aku lupa akan sebuah rumah sederhana entah di sebelah mana Magelang, dan ingatan aneh mengenai rambut kaki. Di siang hari bermendung yang agak menyakiti kepala, aku terpekur mengenangkan. 

Lebih menjengkelkan lagi, aku tertukar-tukar antara Jon Bongiovi dan Billy the Kid, semata mungkin karena ia mengisi musik pada film mengenai yang belakangan. Akibatnya, kusut 'lah aku antara New Mexico dan New Jersey, sedang William H. Bonney sendiri sebenarnya asli Manhattan, New York. Begitulah maka fakta-fakta ini memenuhi loteng benakku. Meski di luarannya aku sangat spartan, dalamku sangat berantakan seperti seorang penimbun. Apakah Bayeman atau Magelang Theatre menjadi tidak penting setelah aku berakhir di tepi Cikumpa sini. 

Saturday, March 12, 2022

Cinta Menggigit Seperti Alien Aquarium Sinting


Apa pantas suatu Sabtu pagi yang cerah dimulai dengan segelas teh jahe kunyit bersimbah madu jahe merah mentol. Tidak juga, ketika sebelumnya sudah didahului dengan seporsi nasi berlauk ayam bulgogi, lengkap dengan tumis kacang polong dan sayur-mayur, masih ada pula begedil kentang. Ketika mencukupi kembali gorengan karena diambil anak perempuan, sempat bingung: harus beli apa di Indomaret, agar dapat tarik tunai, lalu ke Ucok membeli ABC Kopi Susu. Begitu sampai Indomaret baru terpikir, ya beli ABC Kopi Susu hahaha. Hah, sudah kupentokkan saja. Peduli apa rata kanan kiri!

Apa pantas Presiden Joko Widodo disandingkan dengan tanaman seperti falus begitu
Sabtu pagi yang cerah begini seharusnya aku pergi menjenguk Pak Bakti bersama dengan Keluarga Hukum Adat FHUI selebihnya. Namun sudah sejak Kamis badanku tiada begitu endang. Semoga hari ini sudah bambang. Suasana hati yang ceria di pagi hari memang seperti itu. Terkadang diisi senandung, terkadang rampaknya perkusi tradisional; yang belakangan ini sering membuatku merasa harus minta ampun pada Sang Maha Pemberi suasana hati yang ceria. Apakah tepat tindakanku memulai Sabtu pagi yang ceria begini dengan mengetiki, seraya telanjang dada karena kepala pun basah berkeringat begini.

Lantas kurasi, hahaha Sandoro, Togar, kalian jangan bermimpi. Mana ada jaman sekarang pembaca. Jangankan buku, membaca apapun tidak. Bahkan Sopuyan yang propesor begitu aku tidak yakin dia membaca. Bukan membaca bagiku jika tujuannya untuk main kiu-kiu. Membaca itu berbincang-bincang, bertukar-pikiran dengan penulisnya. Itulah maka Al-Qur'an tidak bisa dibaca. Al-Quran itu dirapal, dilantunkan sambil mengharap belas-kasihan kepada Yang Memfirmankan. Ah, sudahlah. Aku kebanyakan ngomyang. Aku membaca tidak, apalagi merapal, melantunkan, mengharap belas-kasihan.

Aku ingin kopi susu! Apa susu kambing etawa dengan kurma dapat menggantikannya. Mengapa Tante Lien lebih suka tinggal dekat Tante Ida. Adakah ia akan kembali ke sini suatu hari nanti, adalah berbagai hal yang mengaduk-aduk isi kepalaku. Meski begitu, tetap aku mengeraskan hati. Hari ini juga, setelah mengitiki, aku harus segera berjuang. Terug naar het front. Itu adalah Pertempuran Tonjolan yang sama, yang di Hits itu, dengan yang dalam cakram keras eksternalku. Begitu saja aku kembali ke sejuk dinginnya persekitaran Maastricht Centrum. Jika memang rejeki, apa hendak dikata.

Asuwer, asu dikewer-kewer, bagiku, kamu sangat cantik. Meski, tentu saja, aku akan berkata, apalah artinya cantik jika tidak segera berjuang, mengetik. Kurasa aku terobsesi, pada apa. Farid berkata ini terlalu cepat, kehilanganku pada ide-ide mengenai makanan enak. Untung aku bukan Nex Carlos yang mencari uang dari makan. Nex sudah berhasil membuatkan ibunya sebuah rumah bertingkat-tingkat gara-gara makan-makannya itu. Aku belum berhasil membuatkan siapapun apapun dari makan-makanku. Sepertinya benar-benar akan kuseduh entah susu kambing etawa dengan kurma atau jahe merah.

Debu bintang, aduhai, sungguh indah di atap asbes memandangi langit senja Kota Tangerang, sedang dikejauhan suara mesin pabrik menggeram. Apapun yang mencuat ketika itu pasti sungguh menggairahkan, ketika testosteron baru saja diproduksi, berlebihan bahkan. Pada saat itu, meski tentu saja tetap elek-elekan, aku berjuang. Ketika rambutku masih bisa ngetril kalau lama tidak dicukur, aku berjuang. Kini pun, setelah botak gendut sakit-sakitan, aku masih berjuang. Jadi ya memang tidak di sini. Di sini ini tempatnya berjuang. Berleha-leha bukan di sini tempatnya, apalagi sambil mainan beha.

Bisa juga di kosan entah apa, di pengkolan ke arah Kelapa Dua, yang pernah digrebeg polisi mencari narkoba. Dari situ pindah ke tempat Babe Tafran, masa-masa itu, baik ketika masih merokok atau sudah insap. Ketika masih kuat mengukur Margonda dari ujung ke ujung, bahkan dari Raya Bogor sampai kampus hanya bermodalkan mijon. Pernah juga berbincang mengenai kopi Lampung sedang tiada terjadi apa-apa, kecuali cerita mengenai kecemburuan seorang istri karena suaminya menggunakan jasa temannya. Harusnya kamu bayar aku karena suamimu telah memakaiku. Gusti mohon ampun, dunia ini.

Friday, March 11, 2022

Tanah Airku Mengroncong: Masa Kecil Pak Bambang


Sungguh sulit. Meski setetes demi setetes, masih terus saja menetes, membawaku ke lantai teraso yang amit-amit jangan sampai ketemu lagi. Menyisakan kenangan pahit, jika sekadar laptop kecil hilang diembat orang. Ini seharusnya menjadi lecutan untuk berpacu, melesat seperti kuda hitam jantan jadi-jadian Puka, melemparkan Panglima Kormak ke dalam rawa-rawa. Ini justru kenangan yang lebih menyakitkan, karena masih ada namun sudah tidak begitu lagi. Apa kututup saja goblog ini, yang kukasih Dedi untuk tempat dan waktu terindah dalam hidup. Hidupku di dunia fana, yang sementara ini.

Puji-pujian kepada tanah air, kampung halaman, itu hanya bagi generasi yang belum mengenal Si Mata Satu, yang memelototi anak-anak bocil. Orang tua-tua melihatnya seperti mata Betara Kala, merah meradang, dengan pembuluh darah bersulur-sulur menonjol seperti akar beringin, meleleh-leleh lendir bergolak busuk baunya. Anak-anak bocil melihatnya seperti suwarga panorama bertebar bianglala, cantik memikat tak terpermana, menghipnotis mata-mata mereka berputar-putar seperti payung fantasi di taman ria. Aku si orang tua tidak berdaya, karena kami pun melakukannya, apatah lagi hendak dikata.

Haruskah aku yang lungkrah didera jasad renik mengangkat senjata memerangi Si Mata Satu demi anak-anakku bocil. Seperti apakah peperangan itu, masakan aku setua ini masih bersenjatakan pelontar batu seperti Daud anak gembala, menghadapi raksasa Goliath berzirah, berperisai, bertombak, berpedang. Rasulullah bahkan sudah lebih tua dariku sekarang ketika mengamangkan Dzulfiqar. Oh Allah, seandainya Rasulullah masih ada bersama kami dalam masa-masa seperti ini, betapa bahagianya. Sedang Badui tak tahu adab saja mendapat senyum beliau, Oh Gusti betapa hamba rindu.

Entri ini memang 'kukasih Dedi untuk memperingati Supersemar, yakni semacam Superman berkepala Semar. Dahulu ada gambarnya lho. Dahulu yang seperti itu masih lucu, masih ada harganya. Sekarang semua ditoleh pun tak, setelah ada Si Mata Satu. Pengetahuan yang didapat darinya sesat dan menyesatkan semua. Kau pun menggunakannya, begitu kata Ari Condro Wahono. Ya, memang tolol, kuakui, Con. Menurut KH. Abdi Kurnia, KH. Zaenuddin Mz. mulai berdakwah karena mendapat restu dari gurunya, KH. Idham Chalid, bukan karena dorongan dan dukungan suatu "manajemen dakwah".

Seperti halnya aku melihat segala sesuatu di nDalem Yado, seperti itulah segala sesuatu akan berlalu. Masih adakah semangatku untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Aku, jelasnya, tidak pernah berhenti berdoa, selalu berharap. Terlebih ketika badan lungkrah begini, justru semakin keras doaku. Ini buktinya, aku menulisi. Kutulisi dengan keras goblog ini, seakan-akan aku berusaha membangun kebahagiaan itu dengan tangan-tanganku sendiri, langsung dari dalam pikiran dan khayalanku, langsung dari perasaanku, dibasahi derai air mataku. Kususun bata kebahagiaan itu satu per satu, aku bersikeras.

Akan halnya Pak Bambang Wahyono disebut-sebut, karena beliau selalu mengenang waktu-waktunya di mBarepan dengan penuh kerinduan. Apakah semata kerinduan akan masa muda, atau memang karena di sana terdapatnya impian yang muspra. Sedang kawan-kawan seangkatannya Takwa merayakan syukuran bintang pertama, sedangkan Kolonel Dr. Sigit secara pribadi menghubungiku, aku terus saja termangu-mangu mengenangkan impian yang hancur menjadi remah-remah. Tidak! Kupunguti remah-remah ini, kususun kembali menjadi kenyataan, selama hayat masih dikandung badan.

Dentam-dentamnya cello seperti detak jantungku sendiri, mengilhamkan, mengalirkan kesehatan ke sekujur tubuh dan jiwaku, lahir batin. Ya Allah, hamba memohon hanya kepadamu, seperti setiap malam hamba berdoa. Hamba belum putus asa. Asa itu terus bersambung sebagaimana malam bersambung malam berikutnya. Entri ini kutulis dalam keadaan badan lungkrah didera jasad renik. Ini bukan perlawanan. Aku hanya mengikuti alunannya saja, yang mana memang mengalun seperti ombak di Pantai Senda Gurauan. Seperti malam-malam di Lembah Tidar yang penuh berkah, seperti itulah ia.