Wednesday, July 26, 2017

Alangkah Senang Pengalamanku Berwisata ke Solo


Nah, nah, ini baru benar-benar edan! Aduh jangan, dong. Ayolah. Konsistenlah dengan judul yang sudah sangat manis dan tanpa dosa itu. Manis dan tanpa dosa? Tepat di sini aku berhenti. Benar-benar berhenti. Membasah semua di mana-mana, membuncah. Meremas, merengkuh, sedang jari-jari ini sudah tidak mantap. Mengapa ini semua harus terjadi, ketika beberapa malam Arthur Garfunkel terpesona? Saat ini aku benar-benar berharap pesona itu hadir bersamaku, tiap-tiapnya ketika aku sendiri begini. Hancurlah sudah judul yang begitu manis, begitu tanpa dosa. Hancur. Inilah adanya.


Bacin. Lethek. Solo? Hahaha... apa tidak ada sedikit saja yang mau kauabadikan? Apa? Piano di lobi itu? Piano Yamaha upright murahan itu? Atau sekarang Karin yang ngemsi bersamamu ketika kau masih cukup manis dan dosamu masih agak sedikit? Cukup manis? Dosa sedikit? Ini ternyata entri manis tanpa kol. 'Emangnya mie godog? Jika dibiarkan memang ini yang terjadi. Otak yang penuh tanda tanya, yang menemukan pembenaran dari Pippi Si Kaus Kaki Panjang dengan olahraga bertanya-tanyanya. Selain itu bisa melodi manis, bisa ketukan tolol. 'Tuh 'kan, manis lagi. Tolol tapi belum. Ini bisa edan!

Ini lagipula bukan Janet Jackson dan bukan pula satu-satunya untukku, melainkan mengapa Pebbles percaya. Ayolah. Fokus ke Solo. Solo? Tidak! Aku mau... menyembuhkan patah hatiku. Namun bagaimana, dengan apa? Piano, bisa? Seharusnya bisa, meski sangat boleh jadi aku akan dimaki Simon Cowell kalau sampai melakukannya. Suaraku jangan-jangan sekadar kaliber penyanyi kereta bawah tanah. Pengamen! Memang itu aku. Solo! Solo! Tidak! Aku... tidak berdaya. Aku lemas. Seperti biasa aku mencari pelampiasan. Tidak begitu juga. Tidak! Aku tidak mau dan tidak peduli Solo meski dipaksa bagaimana.

Ya, aku patah hati. Bagaimana kalau Wonogiri? Gila apa?! Sangiran? Ah, tapi aku tidak ke sana! Sudah, coba carikan lakban. Jangan sampai Johnny Logan memohon-mohon. Ini sakit juga. Ini seperti rokok Crystal yang baunya sebenarnya harum tetapi rasanya najis lagi menyakiti tenggorokan. Apa mau muda lagi. Tepat di sini aku menangis menggarung-garung sejadi-jadinya. Aku berguling-guling di lantai kamar mandi sedang tidak dipedulikan. Mengapa begini? Asepteven, aku yang baru menyingkap kegaiban malah jadi begini. Aku yang pulang dari Solo langsung meminum oli, tanpa bercelana!

Aduh, aduh, sakit. Di sini. Di mana-mana. Mana bisa membiara jika begini? Mana bisa jadi bola polo? Sedangkan distemper tidak membuatku jadi sugardaddy. Bagaimana jika suka sugardaddy? Masa bunuh diri seperti Jesse Alvin? Kami sama-sama pemain bass 'loh. Tidak 'lah. Membunuh? Mudah. Sekalian bikin horcrux. Aduh, sudahlah, Sayang, datang saja padaku sini. Hentikan aku, sedang jempol-jempol bergoyang-goyang berputar-putar begini. Apa kumaki saja melayangnya selembar seratus ribu? Selat Solo? Malam bisa jadi dingin. Siapa yang bisa menghangatkanku? Siapa yang tak bercelana?

Hei! Tinggal di sini! Di mana? Sedang tikus mati karena meminum susu kental manis coklat, padahal tidak habis. Lalu ini. Manis juga, berlumur dosa. Malu tidak kau bicara begitu, hah? Hanya Hari Prasetiyo yang tahu, dan sudahlah tidak perlu lainnya. Bisa dimulai? Bisa dihentikan? Belum. Sedikit lagi. Sudah sakit ini. Dari tadi juga begitu. Kau 'kan masokis. Aku sadis. Kau koprofil. Aku ngentutan. Solo. Solo. Solo. Tidak! Tidak! Tidak! Sugardaddy. Mau kucabik-cabik? Aku seperti pembacok ahli IT 'loh. [apa kabarnya] Kucekoki susu kental manis coklat? Coklat? Merah jambu. Kakinya berbulu.

Aku cuma harus mendekapmu dalam pelukanku. [atau memelukmu dalam dekapanku?] Kalau sudah apa? Membiarkanmu tertawa kecil ketika kukecup bibirmu, sedang bengkak menghitam begitu? Cupu 'kan? Aah! Sayang, kau menyakitiku... jangan dari situ lalu ke situ... Inilah yang dapat kubawa dari Solo. Ini oleh-olehnya. Bukan Javenir tapi javelin. Asli. Kutombak kau pakai javelin, begitu. Langsung menancap di hati dan sengaja tidak dicabut. Nanti ikut tercabut hatinya. Heart bukan liver 'loh yang kena. Haruskah kukelilingi seantero bumi jika ia bulat, atau kukembarai jika datar, untukmu?

Demak Kota Wali

Saturday, July 22, 2017

Cinta adalah Hal Tersedih ...Ketika Ia Pergi


Sedang ditemani oleh dalamnya samudera, hatiku terasa penuh cinta pagi ini. Namun bukan cintaku sendiri. Ini mengenai Rencana Tata Hati dan Wilayah Rumah Tangga (RTHWRT)-nya Efraim. Hati. Rumah Tangga. Usia awal duapuluhan. Aah. Seandainya kau tahu apa itu usia awal duapuluhan. Salah. Seandainya AKU tahu apa itu usia awal duapuluhan. Kuharap kau tidak setolol aku 'Im di usia awal duapuluhan. Setidaknya jagalah kesehatanmu dengan sebaik-baiknya mulai dari sekarang, agar hati dan rumah tanggamu nyaman sampai akhir nanti. Selain itu, jadilah orang baik lahir batin. Jagalah kesehatan badan dan jiwamu. Itulah setidaknya hal-hal yang tidak kulakukan ketika masih berusia awal duapuluhan.


Hahaha... dan tampangmu entah bagaimana caranya ada mirip-miripnya dengan Bella Nathania. Heh, ini pujian untukmu... tapi cercaan untuk Bella hahaha. Tentu saja jauh lebih cantik Bella, cuma tolong katakan padanya 'Im. Jangan terlalu kurus 'lah. Aku suka melihat pipinya ketika lebih berisi. Lebih cantik begitu. Setuju 'gak 'Im? Pagi ini entah mengapa aku berkhayal-khayal seandainya Bella melahirkan anak-anakmu. Seperti apa mereka jadinya? Sudah barang tentu mereka akan menjadi anak-anak yang cerdas, tapi apakah mereka akan menjadi anak-anak yang berbudi? Semua itu tergantung bagaimana orangtuanya mendidik diri sendiri dari sekarang. Lho koq orangtuanya? Ya, benar. Itu juga yang tidak kulakukan dulu.

Dengan kalian berdua, mungkin aku tidak akan terlalu khawatir akan Indonesia. Indonesia Insya Allah akan baik-baik saja jika diteruskan oleh anak-anak yang lahir sebagai buah cinta pemuda-pemudi Indonesia seperti kalian. Di rumahku sini, tetangga-tetanggaku bertekad mencetak generasi penerus yang Qurani, dan Insya Allah kelihatannya mereka akan berhasil. Seandainya apa yang mereka lakukan ini dapat diekstrapolasi ke lingkup yang lebih luas. Ya, karena mendidik anak adalah tugas ideologis, jika bukan kewajiban ilahi. Dunia menjadi tempat yang lebih baik atau lebih buruk tergantung sebagian terbesarnya pada bagaimana hal ini dilakukan. Inilah, mendidik anakku sendiri, yang tidak pernah kurasakan.

Lantas, masalah uang. Uang, sialnya, sangat sentral. Terhadapnya, meski begitu, kau tidak perlu terlalu benci, namun juga jangan terlalu suka. Kau pasti pernah dengar bahwa hidup yang paling enak itu adalah hidup pas-pasan. Pas butuh rumah, pas ada uangnya. Pas butuh kendaraan, pas ada uangnya, begitu seterusnya. Tidak usah sok-sokan memiskinkan diri, apalagi sampai ajak-ajak Bella dan anak-anaknya. Namun jangan juga berusaha mati-matian agar kaya. Tidakkah kau sadar, meminta kaya berarti meminta dirimu dicoba, diuji bahkan diazab? Khususnya untuk masalah ini, lagu lamanya Vetty Vera sudah betul: Sedang-sedang Saja. Aku pernah sok benci uang dan sok memiskinkan diri dan keluarga. Ini salah!

Lantas harus bagaimana? 'Im, aku yakin orang-orang seperti kau dan Bella tidak sulit mencapai berbagai kesuksesan atau prestasi, apakah itu karir dalam pekerjaan, beasiswa, gelar akademik dan semacamnya. Tentu saja kau harus mengusahakannya sekuat tenaga, namun ingatlah, renungkanlah. Apa niatmu dalam melakukan semua itu? Untuk kehebatanmu sendiri? Pujian orang? Uang? Jangan 'Im. Aku titip satu hal. Lakukan, dan niatkanlah itu untuk menolong saudara-saudara sebangsa setanah air yang hidupnya kurang beruntung. Untuk merekalah sesungguhnya Kemerdekaan 17 Agustus 1945 diproklamasikan. Kau sudah merdeka, bagaimana dengan mereka? Berlakulah seperti anak sulung pada mereka, entaskan mereka dari kesulitan hidupnya.

Akhirnya, dan yang terpenting, taatlah beragama. Inilah yang akan menolongmu dalam apapun. Salah satu bagian terpenting dalam beragama adalah menerima dengan lapang dada dan besar hati apapun yang ditentukanNya untukmu. Jika kau melakukannya dengan benar, maka kau akan tahu bahwa apapun yang sampai ke tanganmu bukan milikmu ketika masih ada orang yang datang padamu dalam keadaan kekurangan. Jika kau pun melakukan ini dengan benar, maka kau akan tahu bahwa sebagian besar isi kepalamu memang sudah sepatutnya dilupakan, karena pada dasarnya, seperti dalam Yesaya 6:8, Tuhan bertanya: "Siapa yang akan Kuutus? Siapa yang akan pergi untukKu?" Siapkan selalu dirimu untuk mengacungkan tangan dan berkata: "Inilah aku. Utuslah aku."

Begitu, 'Im. Kalau ternyata Bella tidak mau jadi Ibu dari anak-anakmu, ya tidak apa-apa juga 'kan? Tetap saja kita doakan agar suatu saat nanti kelak di kemudian hari Bella akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Tetaplah kalian siapkan sebaik-baiknya generasi penerus Bangsa Indonesia, generasi penerus umat manusia sebagai ciptaan Tuhan yang seharusnya mulia dan dimuliakan. Dan ini kalian lakukan dari SEKARANG juga. Usahakan sebaik mungkin agar segala ketololan masa muda tidak menjerat apalagi sampai membelenggu kalian. Jika itu sampai terjadi, hanya penyesalan yang akan menghantui sisa hidup kalian. Semoga Tuhan menjauhkan yang seperti itu dari kalian, karena untukku, aku hanya bisa menyesalinya kini.

Tuesday, July 18, 2017

Komidi Monyet Ahmad. Berbeha, Berleha-leha


Aku justru memilih untuk memulai pagi di kubik ini dengan berleha-leha, [atau berlengah-lengah?] yakni dengan mengetik-ngetik. Tidak juga. Aku memulai pagi ini dengan sebungkus nasi kuning lengkap dengan kering tempe dan mie gorengnya sekali. Masih ditambah pula dengan tahu dua macam, semur dan balado, bahkan telur dadar. Minumnya entah mengapa selalu teh Sari Wangi, padahal madu kurmanya sudah habis. Tidak juga. Aku memulai pagi ini tentu dengan shalat shubuh, kemudian olahraga jalan pensiunan keliling kompleks.


Namun tetap saja aku berprokrastinasi. [semoga tidak pernah ada kata serapan semacam ini] Apa benar yang akan kuketik pagi ini? Alasan pemanasan sudah sangat tidak relevan, jadi jangan dipakai lagi. Apakah aku takut menghadapi kenyataan. Rasa takut memang ada. Apakah aku kesepian? Bisa jadi. Nyatanya sebelum ada Cantik, Teman Hidupku, aku hanya berteman denganmu; kini bahkan setelah Ki Macan pergi. Ah, seperti halnya aku yang tidak pedulian, Ki Macan pun tidak pernah benar-benar menjadi temanku.

Jadi pagi ini tentang apa? Tentang berusaha menulis secara runtut? Hahaha sedang aku diprotes mahasiswa karena caraku mengajar membingungkan, katanya. Protesnya ke Donbangi Dontiba 'aja, Dik. Aku yakin kalau tolokku yang dipakai kau tidak akan protes. Belum terjawab problema ini, tiba-tiba Bang Andri menawarkan bakwan malang. Ya tidak kutolak. Ongkosnya adalah berdebat mengenai apakah rezim sekarang anti Islam atau tidak. Anti HTI ya, Islam tidak. Begitu posisi Bang Andri. Yo ora opo-opo aku se

Saking ga jelasnya, aku sekarang mendengarkan Gitar Gutawar. Bu Sri Suparti mengingatkan kalau 1 Agustus rekomendasi kebijakannya sudah harus selesai, sedang perutku berontak gara-gara berdebat tadi. Ada-ada saja. Tuh kan, baru sebentar saja sudah tidak runtut, sedang sekarang sudah tidak pagi lagi. Oh ya lupa, jus pepaya. Insya Allah buah-buahan harus makan yang banyak. Insya Allah sehat. Insya Allah hari ini selesai semua urusanku, semua yang harus diurus. Urusan memang jadi banyak, mau bagaimana lagi.

Apakah karena Dik Gita menyanyi diiringi papanya, maka entri ini harus kuberi judul Komidi Monyet Ahmad? Hahaha pasti banyak di antara kalian yang tidak tahu kalau Erwin Gutawa pernah memerankan tokoh Buang dalam film Permata Bunda. Apakah film Indonesia dalam reinkarnasinya yang sekarang lebih baik dari yang dulu-dulu? Entahlah. Dulu pun kalau tidak sengaja tidak akan aku menonton film. Aku memang terlahir tidak suka menonton film. Mungkin mirip dengan Pak Teddy yang lebih suka membaca.

Namun, seperti kata Takwa, Pak Teddy membaca bacaan-bacaan yang salah hahaha. Aku pun barusan merasa salah mendengarkan Gitar Gutawar, maka segera kuganti dengan Tante Karen. Bagaimanapun, ini bukan pagi yang aneh apalagi ganjil. Ini pagi yang kasihan atau menyedihkan. Ibuku cantik. Istriku cantik. Namun tidak semua perempuan seberuntung mereka. Beruntung? Entahlah. Adakah aku mendukung sesuatu sampai membabi-buta. Semoga tidak. Aku mendukung Pancasila dan UUD 1945? Aku mendukung Takwa dan Imani Primanya hahaha. Sungguh. Ini menyedihkan.

Segera setelah paragraf terakhir ini, aku lebih baik bekerja karena ini memang mengenai Imani Prima, sebuah perseroan terbatas. Tempatku bekerja? Begitulah. Aku yang jelas bukan binatang dan tidak lagi kanak-kanak, yang karenanya aku punya pilihan dan suara, meski tentu tidak seindah suara Tante Karen. [jangan-jangan suaraku separau suara keledai atau politikus] Biarlah kututup entri ini dengan seuntai kalimat panjang yang berlari-lari riang seperti seorang gadis cilik yang sangat menyayangi bapaknya, sesuatu yang bagiku hanya khayalan.

Sunday, July 16, 2017

BCA Kepanjangannya Bangunan 'Can Anggeus


Jangan menyakiti dirimu sendiri! Cukuplah makanan menyakitimu ketika melalui lambung atau bagian lain dari saluran cernamu entah yang mana. Menceritakan dirimu sendiri dengan kata ganti orang pertama menandakan seseorang berkinerja tinggi? Ahaha, ini bagian dari perubahan jaman—seperti kata Mas Santo. Meski bercerita dengan kata ganti orang kedua atau ketiga tidak kurang konyolnya—jika bukan makalah ilmiah. Lalu pada siapa aku harus berpaling? “Jika bukan kau, siapa lagi yang kuharap dapat memaklumiku?” kata Ray Charles.


Mencintaimu, mencintaimu, ooh, apa yang dapat kulakukan? Aku tidak sanggup berhenti mencintaimu! Maafkan aku, Cantik. Mungkin memang bukan cinta yang kita punya ini, seandainya pun aku tahu cinta itu apa, atau kita bisa menyepakati suatu makna tentangnya. Namun, dari sisiku sendiri, aku mencintaimu sangat—jika bukan sangat bergantung padamu secara emosional. Kau adalah bagian dari keseharianku yang membosankan bahkan untukku sendiri; dan aku lebih sanggup menahan bosan daripada kejutan. Aku nyaman dengan keteraturan, meski membosankan.

Alhamdulillah, meski belum membereskan tempat tidur, hatiku terasa lebih ringan pagi ini dibandingkan pagi kemarin. Mungkin aku senang karena semalam menggagalkan diri sendiri berbuat sesuatu yang akan kusesali selamanya, seperti malam-malam dingin di dermaga bau pesing. Keparat orang-orang bule itu. Biadab betul kelakuannya, sedang di sekelilingnya penuh keadaban. Kemarin sekali lagi? Untuk sekadar melakukan segala sesuatu dengan lebih baik dan benar? Tidak ‘lah. Sebagaimana Adrianus Eryan masih tahu Karen Carpenter, seperti itulah hidup maju terus.

Demikianlah maka setelah ketupat sayur tahu dua aku masih menghabiskan nasi goreng sisa semalam. Setelah segelas besar teh melati kini setengah lebih gelas besar air hangat mendampingi, sedang saksofon menghembus lembut menemani tidurmu. Sebagaimana halnya ia menahan diri, aku pun menahan diri untuk terlibat secara emosional—semata agar tidak sakit hatiku; mungkin akan kukatakan sendiri padamu nanti. Pagi ini, aku tidak ingin mengeluh betapa hidup sudah demikian jahat padaku, atau aku yang terlalu masa bodoh.

Toa masjid sudah berbunyi-bunyi di Minggu pagi ceria ini, semacam lonceng gereja berdentang-dentang memanggil jemaatnya. Aku yakin hanya Islam jalan hidup yang benar, meski semua agama baik sepanjang menuntun manusia menjalani hidupnya dengan baik di dunia ini. Adrianus Eryan, seperti Pak Parwinando, bisa jadi Katolik. Aku bisa jadi Islam. Namun kami sama Jawa, sama Indonesia, sama manusia, sama mahluk Tuhan. Baginya jalan hidupnya, bagiku jalan hidupku. Untuk hidup, orang perlu merasa bahwa jalan hidupnya benar.

...dan aku mencintaimu sangat. Sungguh, aku pun tidak akan mengklaim apa yang kuberikan padamu ini cinta. Namun inilah cintaku sebatas kelemahanku sebagai mahluk. Hanya Ia Sang Cinta yang sanggup mencinta tanpa dicinta. Mahluk tidak. Mungkin aku memang jahat, tapi kau harus tahu bahwa apa yang kaulakukan sudah berada di luar batas-batasku. Namun, seperti biasa, kau hanya mendorong batasku agak lebih jauh saja. Mungkin ini latihan yang baik bagiku. Terlebih baik, mungkin ini semacam pertanda baik.

Takwa kemarin sore berbicara mengenai berkah Allah. Siapa juga yang tidak butuh berkah Allah, terlebih Masyarakat Pancasila. Takwa bukan aku yang suka menghancurkan kota bahkan peradabanku sendiri jika kutemukan sedikit saja kecacatan padanya. Ladang yang tidak lurus, rumah yang salah tempat, hancur! Aku Insya Allah akan membantunya sedapat-dapatku. Insya Allah aku belajar banyak darinya sebagaimana aku berusaha belajar sebanyak-banyaknya dari siapapun, bahkan dari tukangnya Pak Insan yang aku enggan tahu namanya itu. Demikian, jadilah KehendakNya.

Saturday, July 15, 2017

Kesenian mBoko Tujuh Lima Jadi Lima Dua Lima


Akhirnya hanya engkau teman yang dapat kuajak bicara; Tepatnya, tempat satu-satunya menumpahkan segala keluh-kesah. Ya, hanya kau. Tidak sudi pun aku melakukannya kepada yang lain. Aku memang eksibionis. Bang Edmon mengatakan aku eksentrik. Tidak penting itu semua. Aku sedang mengusahakan sesuatu. Semoga sesuatu itu berhasil. Sudah terlampau lama hanya kabar buruk yang kuterima. Inginkah aku mendengar kabar baik? Bahkan sekadar ingin saja aku tidak berani. Aku takut kecewa. Kecewa sepertinya kurang baik untuk orang setuaku.


Sekarang aku sedang berkeluh-kesah. Apa benar yang kukeluhkan? Jika kau sampai tidak tahu apa yang ingin kaukeluhkan, sedang kau merasa benar ingin mengeluh, itu tidak baik. Lagipula, apatah yang baik dari semua ini? Hebat. Hari ini aku terkuras dari segala ingin. Pagi ini aku memang masih berkeliling kompleks yang naik turun itu. Aku bahkan menyarap Mie Ayam Donoloyo beserta risolesnya sekali. Kau pernah mendengarnya bukan? Begitulah hidupku. Tidak, aku tidak akan mengatakannya ganjil seperti Teguh.

Hidupku sekadar penuh pengulangan. Namun aku sangat membutuhkan dorongan besar. Butuh atau ingin? Harus. Lihatlah sekeliling. Semua dengan masalah dan derita masing-masing. Jika sekadar menahan sakit, Jack Kennedy dan Mbak Eka pun menahan sakit. Namun ada satu ini yang sungguh sulit ditahan. Ah, entahlah. Ini pun sekadar kesenian tujuh lima persis harga mie instan jaman dahulu ketika aku sedang doyan-doyannya. Hei, bahkan mengenang masa lalu—kegemaranku satu-satunya—pun gagal menyemangatiku di pagi yang murung ini.

Pagi ini pula aku mencuci, sebentar lagi akan kujemur. Aku pun harus mandi. Akankah aku ke Radio Dalam? Entahlah. Aku tidak peduli. Ya, bahkan rasa senang, rasa ringan di hati itu pun rejeki yang mungkin paling sering diremehkan dan diabaikan. Kini aku sangat membutuhkannya. Hati yang senang, hati yang ringan. Pikiran yang terang, bukan yang diselimuti kabut kekentuan. Ya, aku memang sengaja pagi ini, karena ini sama saja dengan media sosial. Ini bukan tempat berdoa.

Setelah selesai dipindah, aku mulai mendengarkan musik-musikku. Musik yang itu-itu saja. Sekarang Tante Dionne Lewat Begitu Saja. Sebenarnya tidak sesuai dengan suasana hatiku, meski melodi dan ritme 1970-an ini memang selalu terasa lesap mulus ke dalam hatiku. Ya, begitu saja. Hari ini Insya Allah aku ke Radio Dalam. Mengenang masa-masa yang telah lalu atau menatap masa depan. Aku yakin pada Allah Tuhanku. Allah satu-satunya andalanku. Tentu saja, mau mengandalkan siapa lagi? Aku toh sendirian kini.

Itu bukan doa ‘kan? Tidak apa-apa kusebut di sini ‘kan? Aku relijius? Ya, aku berusaha begitu. Kelakuanku masih tidak karuan? Aku berusaha untuk tidak begitu, meski sulit. Nah, ini agak sesuai dengan keadaanku sekarang, meski aku benar-benar tidak peduli. Maafkan aku, Cantik, tapi sepertinya tidak akan terjadi dalam kehidupanku aku suka jalan-jalan. Itu ide paling gila yang bisa kupikirkan, untuk tidak mengatakan paling tidak berguna. Passion, kata Riza? Apa passion-ku? Ada ‘lah. Tidak perlu kusebutkan.

Lantas buat apa semalam kuumumkan nilainya Hexa? Aku lelah semalam lahir batin. Dalam kondisi seperti itu, seringkali sulit untukku mengendalikan diri. Akhirnya aku melakukan hal-hal yang mungkin akan kusesali di pagi harinya. Buat apa aku berurusan dengan bocah-bocah ini setiap hari? Adakah ini karena kekagumanku pada Paman Karol, maka aku menjadi sepertinya? Cuih, Paman Karol palsu! Gadungan! Menjijikkan! Ini paling enak. Meludahi dan memaki-maki diri sendiri, seperti yang pernah kulakukan di suatu hari yang celaka.

Saturday, July 08, 2017

Sembarangan! Kamu itu yang Sontoloyo!


Aku benar-benar marah kepada Telkomsel Fles. Bukan sekadar karena aku harus mengubah kebiasaanku menulis blog, melainkan karena kebodohannya yang kecepatan penuh. Seandainya aku lebih muda agak sepuluh atau limabelas tahun dari ini, mungkin aku akan tertawa terbahak-bahak karena kebodohannya yang pol ini. Namun kini aku sudah tua. Bukan waktunya lagi untuk menertawakan kebodohan, karena kebodohan adalah sesuatu yang mengerikan. Salah-salah, kebodohan dapat mengantar seseorang ke dalam Api. Aku berlindung padaNya dari yang seperti itu. Sungguh!


Sungguh? Lalu kau merasa lebih baik dari Bang Cepi sedangkan engkau membuat komentar cabul di dindingnya? Ini adalah suatu kebodohan yang mengerikan. Bagaimana aku dapat menghindar darinya, dari kebodohan berkecepatan penuh ini? Bahkan ketika aku menulis ini, terasa benar betapa kebodohan itu hinggap lekat pada benak tololku. Terasa benar betapa sebenarnya ketololanku tertawa-tawa riang kegirangan. Hokay. Hidup bagaimanapun memang selalu penuh dengan kejutan-kejutan menikung, tikungan-tikungan mengejut. Aku hanya harus menyesuaikan.

Ini bahkan aku ditemani Kahoru Kohiruimaki. Halah, payah ‘kali pun mengingat nama ini. Pagi ini, sambil menyarap Mie Ayam Donoloyo, aku berkhayal-khayal mengenai pagi-pagi yang tidak puasa. Pagi-pagi tidak puasa begini nikmatnya diteruskan dengan sedikit risoles dan teh melati seraya mengetik-ngetik. Hwarakadah, begitu mau buka blog koq ga bisa. Sontoloyo! Lebih mengerikan lagi, kesontoloyoan itu berlanjut! Astaghfirullah, sudah loyo begini koq ya masih terus saja sontoloyo. Lalu apa? Menyalahkan blog yang tidak terbuka? Salahmu sendiri!

Nah, ini Insya Allah jawabnya! Kapan? Besok? Ya Allah, hamba mohon kabar baik sore ini. Hamba memohon kepadaMu dengan teramat sangat. Baru seminggu berpisah, kurasa badanku sudah merindukannya. Kehangatannya, kesyahduan dan kesenduannya. Memang begitu seharusnya mencinta. Tidak lagi menjompak-jompak. Ini cinta pensiunan! Pensiun dari apa? Insya Allah dari perbuatan keji, mungkar dan permusuhan! Biarlah disindir Bang Cepi tidak mengapa, jika ini bisa mengantarku ke Taman. Yang mengerikan ‘kan, sudahlah disindir ternyata tidak ke Taman juga.

Asepteven! Ini dia! Kurasa hari ini memang penuh dengan pengejut tikungan. Begitu saja aku bertemu dengan kawan lama dari sekitar entah kapan. Aku seharusnya menduga dari dulu. Model-model melodinya sama. Ternyata ini kerjaannya Tokyo Square. Ini band apa sih? Oh, ternyata band singapur. Pantes! Ternyata Within You’ll Remain yang kukenal pertama berasal dari 1985. Cucok lah, memang sekitar itu. Jiahaha... sudahlah begitu, longplay Tokyo Square ini diselingi iklan Vivo V5s. Apa-apa’an ini? Konspirasi Cina? Hahaha...

Ini Sabtu pagi yang betul-betul aneh. Mana besok Cantik berangkat ke Eropa untuk sepenetasan telur ayam, sedang aku mungkin harus menahankan tukang Pak Insan yang ramah itu. Jika paginya sudah seaneh ini, bagaimana siangnya? Akankah kuhabiskan dengan merapikan kedua gawaiku, Vivo V5s dan Andromax E2? Haruskah kupelihara keduanya, nomornya terutama? Ahaha, ini lagu-lagunya Tokyo Square sumpah nyebelin banget. Rasanya aneh... apalagi dengan badan bau tahi kelinci begini. Apapun itu, Ya Allah, hamba mohon kabar baik.

Benar, Ya Allah Gusti hamba, kabar baik. Meski telah tertepis, tetap saja kabar buruk entah bagaimana bertubi-tubi. Ini mungkin memang sudah bukan waktunya bicara. Ini waktu berbuat. Buktikan semua kata-kata itu dengan perbuatan. Diam dan berbuat. Dimulai dengan menghubungi Prof. Melda Kamil sesegera mungkin. Mungkin karena aku terlalu banyak berolok-olok begini, maka aku tidak kunjung berbuat. Terlebih buruk, aku menasihati Togar. Nasihat itu sebaiknya untukmu, Tolol! Kaulah yang sekarang sedang sangat membutuhkan nasihat seperti itu!

NB. dan kabar baik, sekali lagi, tak kudapatkan

Saturday, July 01, 2017

Lebaran Ketupatnya Kecepetan Sehari, 'deh


Ini entri istimewa, karena judul dan ilustrasinya sudah disiapkan terlebih dulu. Meski tetap saja tidak ada jaminan bahwa isinya akan merupakan penjabaran dari judulnya. Tadi sempat muncul tanya, lantas apa guna jurnal ini. Jawabannya tersedia segera: Eksibisionisme! Aliran seni lukis yang kuciptakan sendiri, yakni melukis dengan kata-kata. Jelas jauh lebih efisien daripada melukis sungguhan, karena alatnya tidak lain adalah alat produksiku sendiri: komputer pribadi, dan otak dan pikiranku yang bekerja melompat-lompat. [katak si katak lompat, lompat ke dalam paya]


Demikianlah maka hari ini aku terbangun pukul 05.35! Kali pertama dalam 35 hari terakhir ini aku tidak bangun sebelum pukul 04.00. Berhubung aku harus minum Canderin, berarti hari ini setelah 35 hari akhirnya aku berhenti puasa. Sebuah pisang ambon yang sudah matang sekali ternyata sungguh manis disantap pagi hari, terlebih ditemani setidaknya seliter air putih. Sepotong pepaya setengah mengkal segera saja menyusul. Entah bagaimana, ia terasa lebih manis dari sebelumnya. Apakah ia terus matang meski sudah dipotong, atau berfermentasi?

Mungkinkah tidak terbangun sahurnya aku ini ada kaitannya dengan kwetiauw yamin Bangka komplit yang kusantap malam sebelumnya pada sekitar 21.00? Entahlah, yang jelas aku kurang bayar pada Ah Lie. Semalam aku membayar kwetiauw pangsit sedang yang kumakan adalah kwetiauw komplit. Maka ketika Cantik minta ketoprak, kubelikan saja ia Ketropak Portugal sekalian mampir bayar kekurangan ke Ah Lie. Cantik seperti biasa tanpa kecap cabai delapan. Aku pun memesan sebungkus tanpa cabai agar tidak terlalu merasa bersalah pada tukang ketopraknya.

Dengan ketoprak, ini toh lebaran ketupat, meski syawalanku masih kurang sehari. Meski lebaran ketupat, aku tidak sanggup menghabiskan ketupat di ketoprakku. Memang sudah lama aku tidak sanggup melakukannya, terlepas dari kenyataan aku memakan sekantung cukup besar kerupuk bekas ketoprak yang kami makan ketika bersilaturahmi ke ndalemnya Bude Ning beberapa hari lalu. Selesai lebaran ketupat, aku merayakan dengan mengganyang Berlin yang dikangkangi Ashurbanipal, dengan pasukan sumbangan dari negara-negara kota yang bersimpati padaku.

Siap itu, shalat dhuhur, aku merasa siap untuk memulai menulis proposal rangkaian kegiatan Masyarakat Pancasila dengan ditemani Kisah Cinta-nya Francis Goya. [Cantik setelah menemaniku lebaran ketoprak bobo lagi. Jam biologisnya memang sedang kacau, sepertinya sudah sejak hari-hari terakhir Ramadhan.] Lumayan lah sudah dimulai, tinggal diteruskan. Namun pastinya harus ditunda karena sebelum 3 Juli aku harus menyelesaikan kelembagaan komunitas dan pasar, konservasi pada tataran genetik, juga perencanaan lingkungan dan pesisir. Sorenya bahkan aku masih sempat jalan-jalan pensiunan sedikit.

Meski awalnya gara-gara sate kerang, aku menemukan diriku dan Cantik malam ini kencan di D'Cost Mal Depok. Hidangannya Buncis Singapura, Tahu Jepang, Omelet Makanan Laut dan Gurami Goreng. Akhirnya aku tahu salah satu fuyunghai terbaik adalah D'Cost punya, meski seingatku teksturnya [ya, tekstur. Bagiku ini terpenting untuk fuyunghai] sebelas duabelas lah dengan Kuri-Kuri punya, tapi Kuri-Kuri 'kan jauh. Buncisnya sebenarnya oye, tapi aku kuatir dengan bumbu pedasnya. [terkonfirmasi dengan kemampuannya membangunkanku sahur. Terima kasih, Buncis]

Selesai makan kami ke Toko Buku Toga Mas. Sebenarnya ada setidaknya empat buku yang ingin kubeli: Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas-nya Achmad Chodjim, dan Bilangnya Begini, Maksudnya Begitu-nya Sapardi Djoko Damono. Namun itu bisa hampir dua ratus ribu sendiri. Maka kubeli Bahaya Kapitalisme-nya Ignatius Gatut Saksono yang kucurigai entah-entah isinya. [dan ternyata memang entah-entah] Cantik sementara itu beli buku latihan soal untuk Khaira dan Gray Mountain-nya John Grisham, ditambah lagi majalah National Geographic edisi terbaru boleh beli di Food Hall.