Sunday, May 29, 2022

Tahukah Kau Bahwa Tadinya Penuh Anjim


Entah karena aku jengkel dengan gambaran, atau mejanya tidak rata, atau entah mengapa, namun bunyi kethuwal-kethuwil ini menjadi ekstra membuat kesal. Terlepas darinya, gambaran di bawah ini memang epik. Entah apa yang terjadi di bawah sana, yang jelas ekspresionis mirip dengan legendaris Lutung Kasarung. Aku belum lagi tahu apakah sama Asus VivoBook dengan Samsung Galaxy Tab A ini, namun tadi ada juga rencana untuk tidak peduli dengan itu semua. Babat saja terus entah apa jadinya. Beberapa hari kemudian, aku tahu keduanya tidak pernah sama.

Minggu ini aku tiada mengapa-apa, mungkin karena Asus VivoBook kutitipkan Pak Cecep untuk diperiksa mengapa spikernya brebek. Namun itu tentu hanya alasan, karena hari ini VivoBook telah kembali. Meski belum cukup lama diputar, sejauh ini tidak brebek spikernya. Pak Cecep melaporkan bahwa setelah dua jam diputar ia tidak juga brebek. Semoga seterusnya demikian. Sebenarnya agak sayang membuang-buang daya otak, namun apatah daya. Semoga otakku semakin berdaya setelah ini. Apa harus kupasang gambar mentor Yussuf dan mentor Faisal di depanku.

Biarlah di Minggu siang yang gerah ini kutinggalkan itu semua menuju pantai tropis yang belum dijamah orang kecuali diriku sendiri. Apa yang akan kulakukan di tempat seperti ini, berbincang dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Sungguh membosankan, karena di mana pun aku bisa melakukannya, terutama di tengah keramaian. Di tengah suasana alam bebas ini, aku bisa bersantai dari itu semua. Kubiarkan burung-burung berceloteh menceritakan dongeng mereka mengenai negeri-negeri jauh atau tempat hidupnya yang itu-itu saja. Di situ ia menetas, di situ ia mati.

Ataukah ini entri mengenai keindahan, ketika dibiarkan jatuh tergerai di atas bahu, sedikit dijepit ke atas di bagian depan agar tidak menutupi dahi dan muka. Bentuk memang tidak pernah menjadi yang nomer satu. Asalkan tidak terlalu banyak, kekurangan justru merupakan kekhasan, seakan karenanya menjadi milik pribadi, tercipta hanya untuk diri seorang. Selebihnya adalah seberapa banyak syukur atas rasa cinta yang dianugerahkan, yang membungkus lembut hati bagai dalam rahim ibu. Jika semua cinta di dunia ini seperti itu, mungkin takkan ada kesakitan.

Ketika matahari terbenam, yang ada hanya kehangatan. Cinta selalu saja tercipta hanya untuk cinta. Jangan dikotori dengan rakus serakahnya dunia. Resapi cinta yang tiada akan pernah didapat dari raga, karena cinta adanya di jiwa. Jiwa itu selalu satu adanya. Itulah yang dirasa ketika cinta melanda, rindu dendam terasa sungguh menyiksa. Itulah ketika jiwa yang hakikatnya satu dibelah menjadi dua. Ingin bersatu saja senantiasa. Jangan pula tertipu ketika raga saling menyatu, berjalin-berkelindan. Bukan itu penyatuan, karena yang bersatu selalu saja jiwa. Satu itu Jiwa.

Ketika perut bapak-bapak botak gendut mengalir sampai jauh, sampai tidak tertebak nomer celananya, apatah lagi mereknya. Ketika kurus-gendutnya bapak-bapak disangka kuasa membuat ibu-ibu menjadi curiga. Ketika itulah sadar belaka dunia ini serba sementara, seakan melihat makam-makam bertebaran di bawah sana. Entah makam siapa, nyatanya semua akan dimakamkan, kecuali yang jasadnya dibakar atau lain-lain penyelenggaraan. Ini lucunya seperti jenazah dipulasara padahal seharusnya upacara. Nyatanya, upacara penguburan itu tanda peradaban. 

Bukan hanya angin yang mendesau di sini, ombak pun, musik pun. Saraf-sarafku pun terasa mengendur. Namun jika terlalu kendur begini, pelupuk mata pun memberat. Ketika inilah terkenang secangkir kopi hitam pahit dari masa muda, meski kepul-kepulnya asap rokok tiada kurindukan sama sekali apatah lagi alkohol. Aku hanya ingin merayakan keindahan di sekelilingku, atau menikmati. Keindahan yang tidak lagi membangkitkan gairah dan semangat, tetapi mengendurkan urat-urat saraf yang terasa tegang seperti tersentuh tangan terapis ulung, namun tidak sempoyongan.

Meski berkendara di atas kereta kencana sekalipun tidak akan menandingi sedapnya hammock diayun-ayun angin lalu. Apakah itu di gelanggang renang atau tepi saluran irigasi sama-sama sedap, sejuk, segar airnya. Apakah setelahnya makan nasi berlauk tumis oncom atau sekadar kue pukis diberi bersaos mie ayam sungguh mengembalikan tenaga yang terkuras gara-gara bercibang-cibung dari puluhan tahun lalu. Sepulangnya apakah naik Metromini S.72 atau PPD Patas P.24 yang dirasakan hanya kesenangan belaka, ketika hanya beberapa tahun lebih tua dari Adjie kini.

Sunday, May 22, 2022

Minggu Siang Bermendung Biasanya Bukan Judul


...melainkan bagaimana sebuah entri dibuka. Tentu saja setelah mampir Cinere jadi kepikiran abah-abah, meski tidak ada hubungannya dengan kuda. Ada Abah Sepuh, lantas Abah Anom, lantas Abah Aos. Aku cuma asal ngomyang saja, tahu apa juga tiada. Di Internet seperti biasa tersedia berbagai informasi mengenai apapun. Lantas aku terpikir: Akankah sama nasib informasi mengenai kaji-ulang. Tentu saja. Ia akan ditemukan oleh orang yang mencarinya. Yang tidak mencari biasanya tidak berjumpa. Selasa ini Insya Allah menghadap mentor Yussuf Solichien Martadiningrat, apa hendak dikata.

Tentu saja aku tidak benar-benar merindukanmu, seperti tiada pun yang menanti-nantikan kedatanganmu. Kata-kata panjang begini biasanya membuat jeda antarkata menjadi lebar-lebar. Aku, yang kukira menyukai bahasa ini, ternyata sudah tiada peduli; apatah lagi matematika. Namun satu kesempatan lagi dengan bunyi penyintesa dan dentaman bassnya memang selalu menimbulkan suasana tertentu, yang mana semua sudah berlalu. Adikku sekarang sudah banyak beruban. Aku, karena selalu gundulan, jadi tidak ketahuan. Jenggotku penuh beruban jika kubiarkan.

Kemarin aku menyusuri lagi Jayapura, Beta, Gama, Zeta, Nila, sampai Beringin yang hanya dua dari empat puluh lima tahun pernah singgah di hidupku. Satu langkah lebih dekat, demikian juga, selalu menimbulkan suasana tersendiri. Intinya, aku bersama dengan apapun yang pernah kukenal bertambah tua. Tiada guna kukenang-kenang Pondok Indah Mall ketika belum ada nomor-nomornya, yang memang tidak pernah manis kenangannya. Akankah dalam hidupku ini berhenti riwayatnya, sesuatu yang selalu bersamaku entah sejak kapan aku tidak ingat, selalu begitu itu.

Demikian pula, aku selalu intelek sepanjang ingatanku, seperti Sandy yang selalu menemani sejak kecilku. Bukan Sandy Maulana Prakasa yang perwira korps signal itu. Ini seorang gadis, yang kurasa menemaniku entah dalam perjalananku berangkat sekolah menyusur gang di pinggir kali itu, atau sepulangnya. Bau ikan goreng yang selalu menggelitik bulu hidung, aku terlahir sebagai seorang lelaki yang kurasa semakin lama semakin feminin karena selalu mengonsumsi produk olahan kedelai. Sandy gadisku, kucinta kau selamanya, meski kau tak pernah benar ada.

Seseorang yang percaya padamu, meski berasal dari waktu-waktu yang tidak dapat dikatakan terbaik, memang selalu membelai. Aku memang tidak peduli jika aku pecundang sekalipun, yang selalu berkhayal mungkin kelak waktuku akan datang. Jika setelah tiga puluhan tahun kemudian masih belum datang juga, aku tetap tidak peduli. Hanya kudoakan sungguh-sungguh, Bapak Ibu dan adik-adikku hendaklah bahagia. Untukku sendiri, cukup baik jika merasa baik. Terlebih J.J. Merel Bruinier, lelaki tangguh entah di mana, penyuka angin kencang, kencang.

Dunia ini penuh dengan orang-orang seperti Dokter Jul dan Mah Elis, mengapa pula aku merasa merana. Mengapa pula aku merasa boleh menunda-nunda pelaksanaan kewajibanku, pemenuhan janjiku. Aku memang sepele dan itu, kurasa, baik bagiku. Jadi buat apa menunggu datangnya entah apa. Begini terus merasa sepele, mana tahu di situ letaknya keselamatan, kedamaian. Uah, matahari terbenam! Dzikir adalah pedang! Lantas mana dzikirmu, habis sembahyang selalu langsung berdiri. Tadi aku sempat teringat kemenakan-kemenakanku laki-laki. Aku mamak.

Namun kresek-kresek ini sungguh mengganggu, membuatku bertetap hati ke kampus besok, Insya Allah, mencari Pak Cecep. Kini suara dangdutan dan Mas Dikdik menggosok-gosok dingding menemani alinea terakhir entri ini. Aku sudah makan siang, sepotong tempe kemul, bakwan, sekitar setengah liter teh vanili bersimbah jahe merah gula aren, masih ditambah kemal-kemil ikan bayi, kacang mete, dan jari keju sisa lebaran. Habis ini mungkin aku akan mandi, kaos penuh jejak garam begini. Siang bermendung sejak pagi, kurasa harus pakai air hangat mandiku siang ini.

Friday, May 13, 2022

Lewat Jauh Lebaran Ketupat Malah Tak Bisa Tidur


Tidak tepat seperti dalam gambar itu juga, terlebih iris-irisan apelnya, meski ada juga sedikit rasa mengapa tidak suka apel atau buah-buahan lainnya. Sayang pepaya selalu besar. Bahkan yang terkecil pun masih terlalu besar dan sulit disimpan pula. Bahkan sayur sopku pun masih tersisa satu kontener, sedang nasi mbelek bikinan Gibas sudah entah jadi apa itu dalam raiskuker. Biasanya, begitu matang, tanak, dan mendingin langsung kupindahkan ke dalam kontener dan masuk kulkas. Insya Allah bertahan lama. Namun itu pakai yang murahan, bukan Yong Ma robot.

Bicara mengenai Yong Ma robot tak ayal jadi ingat Cantik yang selalu penuh dengan kehidupan. Segala sesuatu di sekelilingku adalah Cantik. Begitu saja aku menghambur kepadanya dengan segalaku, maka aku adalah salah satu pernak-pernik dalam kehidupannya. Begitulah ketika Ibu membuatkanku kalung baru dari kulit kerang, aku memilih menetap. Sudah jelas aku tidak akan dikenang. Aku tidak punya anak-anak untuk mengenangku. Rata-rata anakku mati semua, sedang piano berkelenting-kelentang seperti menghina kehidupanku. Aku membiarkan tak mengapa.

Jika kulihat di gambar itu, kejunya terlalu tua dan tebal irisannya. Terlebih, yang menarik perhatianku, filet kalkunnya banyak sekali. Itu pasti roti lapis mahal dan jelas bukan buatanku. Buatanku rotinya tiga kerat. Lapis pertama berisi keju seiris dan filet kalkun seiris. Lapis kedua salad kentang dan saus kari. Suatu kehematan yang terlalu mewah untuk ukuran seseorang yang tinggal di tepi Cikumpa. Mana pernah kusangka malam-malam yang dicekam situs tolol tanya-jawab menjadi nyata bagiku. Apa aku kangen tidur di ruang depan sedangkan sekarang di atas sepiteng.

Aku bisa membayangkan kesepian, bahkan ketakberdayaan. Pasti mengerikan. Apakah salah jika 'ku marah. Begitu saja terkenang Uilenstede di waktu malam ketika tidak bisa tidur. Tentu jauh lebih baik dari Kees Broekman dan Kraanspoor, karena yang dua terakhir ini harus lewat segala lift dan pintu otomatis. Uilenstede seperti rumah biasa. Membuka pintu kamarku. pintu rumah, pintu pekarangan, sampailah di udara segar. Sejuk menerpa wajah, masih lekat di ingatan. Tengah malam aku tidak pernah jauh-jauh kecuali sekadar keliling bangunanku itu saja.

Kerinduanku sudah barang tentu. Begitu lama satu-satunya alasanku untuk terus hidup, bahkan sampai kini. Apakah karena koneksi internet tidak stabil, atau karena pernah dijatuhkan Tante Lien. Pernah begini juga di kamarku mungil itu, mungkin tirai masih tertutup karena hari masih gelap. Namun bunyi-bunyian dan perasaan hatiku, jalan mobil menyusur pantai dan kelap-kelip lampu di kejauhan. Mudah saja memeriksanya, coba mainkan dari cakram-kerasmu sendiri. Ah, sudahlah. Kalau sampai keluar onomatop begini itu mengapa, ya. Aku terlalu malas, atau takut.

Tiada lagi gairah cinta karena hari-hariku dipenuhi rasa kecewa yang 'kuyakin menyelamatkanku. Tinggal lagi dihilangkan ketololan itu. Entah apa yang akan terjadi paruh kedua tahun ini, tiga hal setidaknya 'kunanti-nanti. Sudah lama entri-entri tidak gamblang merinci pikiranku, karena lebih lagi perasaanku. Apa yang mengebat dan mengebit 'kurasa lebih berharga, meski seringnya aku lupa. Memang harus dilupakan, seperti entah berapa ratus mungkin ribu pandang yang dibelaikan pada hidung atau dagu berkeringat. Untung rambutnya tipis terlebih pun menyebalkan.

Lantas buat apa pula kau beristri beranak segala, San. Apa bagusnya untukmu. Kita cuma buang-buang waktu, buang-buang peluang dengan pura-pura berkeluarga berumah-tangga. Apa kau mau hidupmu panjang dan membosankan. Memang tidak ada perang di sekitar yang memungkinkan kita mati cepat untuk sesuatu alasan yang entah-entah, meski aku yakin juga mati seperti itu tidak ada puitis-puitisnya, apalagi heroik. Apa mau mati seperti Chairil Anwar atau nama-nama lainnya. Takkan ada yang menyebut-nyebut "Sandoro" ...kecuali mungkin Indira.

Seperti jembatan di atas air bergolak

Sunday, May 01, 2022

Hari Buruh Koq Malam Takbiran. Tidak Kaldu


Suara piano berkelentang-kelenting ditingkahi dehaman bass gitar. Ya, kali ini yang berdeham adalah bass bukan saksofon, karena ia tidak berdentam apalagi berdebam. Ia mendeham, sedang hatiku tidak ada yang peduli apa yang ada padanya. Aku jelas sudah tidak muda lagi, dan sungguh terasa tak pantas bahkan olehku sendiri untuk terus-terusan berolok-olok di sini. Namun tinggal ini kesenanganku, hiburanku. Apakah ketika berumur dua puluhan aku menghibur diri dengan Roxana dan Bagoas sekaligus. Amit-amit, Tulak sawan! Hephaestion pun tak sudi aku.

Masih lebih mungkin aku menghibur diri dengan menyodok atau menyogok apapun dengan xyston-ku, menebas dengan kopis, menusuk dengan xyphos. Hidup penuh kekerasan begitu, namun jangan bodoh. Alexander dan kawan-kawannya bermandi darah namun mereguk kebijaksanaan Aristoteles. Seperti itulah. Jika itu pun tak mungkin, bagaimana dengan Rama Bergawa yang ke mana-mana membawa busur raksasa dan kapak, namun ia seorang pertapa. Ah, jangan juga. Bagaimana dengan Karna, aku rasa kehilangan kepala adalah cara mati ternyaman.

Aku bicara mengenai pahlawan-pahlawan ini seakan-akan aku ini oye. Jangankan menjadi Ptolemus nenek moyang Kleopatra, menjadi Ki Manteb saja mustahil aku. Aku ini si keple, kalaupun tidak tolol. Jika pun aku sok-sokan jadi polisi tatabahasa, itu lebih karena kecenderungan perfeksionis. Awas bukan OCD, sekadar perfeksionis. Apakah dengan melodi-melodi gruveh begini aku harus menyetir sendiri mobil di jalan-jalan ibukota di malam hari, di bawah temaram lampu jalan; itu semata khayalan belaka. Bisa saja di tol Antasari-Sawangan, namun aku malas.

Jangan pula sampai salah terka, itu bukan gambar tahi, melainkan semacam fitbar begitu. Habis mandi begini selalu saja justru tidak segar. Berkeringat, terlebih tadi memakai sabun cair berpelembab; apa kau kira ini masih di Sepurderek. Sedang setahun lalu saja, tepat hari ini, kau sudah berpacu di langit tinggi meninggalkannya. Apa yang kutinggalkan, tidak ada. Tidak ada lambaian tangan apatah lagi tangis. Aku pergi begitu saja tiada yang kehilangan. Hidup berjalan setelahnya seakan-akan aku tidak pernah ada di situ, menyusuri lorong-lorong kuning, hijau, biru...

Sudah cukup kucicipi dunia ini, maka buat apa lagi. Malam takbiran ini aku begitu saja mandi, karena kuncinya selalu di situ. Tepukan sebelah pantat memang sudah seharusnya kudapatkan sebagai bentuk kasih sayang, sama sekali tidak kusesali. Apa benar yang kuinginkan aku tidak tahu dan tidak peduli. Betapa kulkas penuh makanan dapat saja mengganggu pikiran, meski pendengaran dibelai-belai musik sedap sedemikian rupa. Akan kupaksa setelah ini, karena apa lagi yang kutunggu. Aku harus segera melesat, seperti batu dilontar seorang peltast.

Aku harus mengucap selamat tinggal pada Ustadz Abdul Somad and friends, karena kurasa malam ini tiada ada lagi. Ini sudah malam takbiran dan sebaiknya, Insya Allah, aku tidur sampai subuh. Semoga setelah subuh aku tidak mengantuk hebat, sehingga dapatlah aku menunaikan shalat 'Id, mendengarkan khutbahnya. Aha, tahun lalu hari buruh masih jauh dari lebaran, tahun ini hari buruh malah takbiran. Begitulah maka Apollo didegradasi menjadi sekadar bau oleh Samson Betawi, tidak lagi menjadi penanda waktu utama. Aku tak peduli lagi apapun sebutannya.

Ini entri apa bagus untuk membuka Mei aku juga tidak peduli. Tidak banyak yang kupedulikan kecuali ITU. Apalagi yang baru saja melintas ini, apakah kukutuk atau tidak, apakah kutukanku manjur atau tidak, aku tidak peduli. Sidang pembaca (halah!) pasti masih ingat masalah derkukuk. Ya, itu ada hubungannya memang dengan babaduk. Aku masih takut, maka aku tidak akan berkata apa-apa mengenainya. Namun tidak berarti aku berhenti melawan. Aku selalu melawan. Justru karena lemah-lembutnya babaduk mengerikan. Aku tahu aku bisa bertekad, tidak bulat.