Tuesday, December 25, 2012

Natal adalah Shubuh Pertama di Cikumpa


Setelah gowo kelu mengenai sesuatu yang, tentu saja, mengganggu hatiku, aku terbangun pada sekitar jam 03.30. Ini adalah waktu yang tepat, sedangkan rasa hati dan badanku juga tepat; maka segera saja aku mengambil wudhu. Sebelum tidur malamnya, aku merasa lelah sekali berputar-putar di Ace Hardware dan Informa di bekas Hero Depok. Itulah sebabnya, sesampainya di rumah, aku tidak kuat lagi dan terus berbaring, tanpa shalat Isya'. Ketika terbangun itu, segera kudirikan shalat Isya'; dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, kulanjutkan dengan tahajud dan witir. Baru beberapa kali beristighfar terdengarlah adzan shubuh. Aku bangkit berdiri, membetulkan sarungku dan melangkah menuju mesjid di ujung jalan. Ternyata adzan yang tadi kudengar berasal dari mesjid lain, sepertinya dari yang sebelah selatan. Sesampainya di Mesjid QS, ternyata aku adalah orang kedua setelah muadzin; maka aku berdiri di belakangnya beberapa shaf sambil menjawab adzan. Selesai adzan, tak kusia-siakan kesempatan langka ini untuk mendirikan shalat fajar. Ketika itulah tetangga-tetangga berdatangan, berbaju koko semua; sedang aku sendiri berkaus oblong merah merek Polo Dungaree. Ketika shalat shubuh, jama'ah yang shalat tepat di sampingku sepertinya sedang flu berat. Selesai shalat, dibacakan secuplik dari Riyadush Shalihin mengenai sabar; dan setelah itu aku masih melanjutkan wirid, sampai menjadi yang terakhir keluar dari mesjid.

Tepat seperti inilah yang kukhayalkan mengenai hidupku di Kampung Damai, di tepian Cikumpa ini. Ya Allah, hamba mohon karuniakanlah hal itu pada hamba. Jadikanlah kenyataan khayalan hamba itu, Ya Allah. Sayangnya, hari ini sepertinya masih belum akan berhasil, karena ketika matahari sudah tinggi aku mengantuk bukan buatan; sampai Indocaf√© Coffeemix tidak mampu berbuat apa-apa terhadapnya. Oh ya, sesampainya di rumah setelah shubuh, aku lupa apakah aku menelusur Internet dulu atau menonton tivi atau apa, yang jelas aku tidak langsung membangunkan Cantik dan mengajaknya berjalan-jalan melihat M14 seperti rencananya kemarin. Setelah itu kami berjalan-jalan mengitari bulevar utama QS menuju M14. Ketika itu belum ada tukang, dan begitulah yang aku suka. Kukatakan pada Cantik, I love to commune with the house; Bahasa Jawanya, aku men-jawab rumah itu. Jelaslah bahwa itu tidak mungkin dilakukan kalau ada orang lain. Begitulah maka kami berjalan-jalan tidak lama dan segera pulang. Ketika itulah aku memutuskan untuk minum kopi. Akhirnya aku tak tahan lagi, menggelar bedkaver dan tidur lagi sampai jam 12.30; sedangkan Cantik tak lama kemudian pergi mengajak anak-anak ke Bekasi Square untuk melihat keramaian berupa freezer besar. Kata Nani, dinginnya mencapai -14° C. [kasihan orang Bekasi...]

Baiklah aku cerita di sini kejadian kemarin, sampai kami berkeliling Ace Hardware dan Informa. Cantik berangkat lebih pagi daripadaku, karena ia ingin mencari informasi mengenai Leiden dan StuNed bersama Riza. Sepeninggal Cantik, aku mencoba berolahraga di sepanjang bulevar utama QS. Masalahnya, aku melakukannya menjelang tengah hari sehingga rasanya seperti terbakar sengatan terik matahari. Setelah shalat Dhuhur aku berangkat ke kampus, sedangkan kampus sepi sekali. Ternyata baik Neso maupun Ambassador pun tutup. Sesampainya di kampus, aku menelepon John Gunadi mengajaknya makan siang, dan ternyata ada Sugito Sujadi juga. Makanlah kami bertiga di Sasari II, yang dahulunya pernah jadi Bakmi Japos. Menuku siang itu adalah telor ceplok masak pedas, tumis jamur dan tahu yang dimasak seperti sop atau bakso. Kembali ke pojokanku di Lantai Dua Gedung A, aku melakukan hal-hal yang terlalu tidak berguna bahkan untuk sekadar membangun suasana hati. Tak lama Cantik memintaku pulang karena anak-anak entah kemana. Sorenya, setelah Maghrib itulah kami berangkat ke Ace Hardware dan terjebak macet di Jalan Kamboja sebelah RS Hermina, gara-gara ada bubaran misa natal. Hanya dengan mblusuk-mblusuk lewat jalan kampunglah kami berhasil lolos dari kemacetan dan kerumunan orang itu.

No comments: