Thursday, March 30, 2023

Tersenyum Padaku [Parapam]. Aku dan Tamburku


Apakah pantas sahur-sahur malah menyanding sejebung besar es sirup. Daripada ditambah apakah pantas lagi, lebih baik 'ku catat di sini kalau aku mau bertanya pada Pak Cecep mengenai dapatkah 'ku gunakan peralatan rekam audio visual di lantai dua kantin itu untuk membuat video propaganda yang idenya dari Masjid Jenderal Sudirman Kolombo. Uah, berlari kencang itu kalimat, sahur-sahur begini malah mengemut jahe mandarin. Bukan tidak biasa aku tidak bisa tidur begini, terutama karena puasa ini. Irama sirkadianku menjadi kacau karena musim panas.
Begitu tandas sejebung es sirup lantas 'ku ganti dengan semug air hampir mendidih. Perutku menggelembung serasa penuh namun masih nyaman. Sejauh ini aku suka bentuknya, meski gulungan pada judul jadi tidak setebal seharusnya agar ia tidak menjadi dua baris. Tentu saja aku masih suka membayangkan manis-manisnya mengulum gula kelapa seperti pernah dibagikan bintara peletonku dulu. Jelas lebih enak gula kelapa daripada tablet efervesen vitamin C yang berkeranyas di lidah dan mulutmu. Selamanya harus 'ku sembunyikan gula kelapa, mau bagaimana.

Terlebih sampai membuat lidah menjulur-julur, sedang yang sudah bedah diobral habis-habisan tanpa tedeng aling-aling. Mengapa menunggu atau pergi dalam bahasa Perancis rasanya seperti berpacu di atas punggung kuda, meski belum pernah sekalipun 'ku lakukan dalam hidupku. Justru renggunuk-renggunuk di atas punggung unta aku pernah. Kembali pada gula kelapa berbagai ukuran tadi, tergantung cetakannya, bisa juga seukuran slilit karena sudah habis-habisan dikulum. Terus dikulum tidak bisa, diklethus terlalu kecil, serepot itu sampai lidahnya menjejulur-julur.

Tidak pandang bulu, tidak membeda-bedakan. Orang-orang seperti Ki Hajar Dewantara yang sampai mendirikan perguruan begitu apakah dirundung segala babaduk dan plrktkuk, ya, semacam halelepah dan jomajujo begitu. Menyimak sebentar tidak ada bedanya dengan Sukarno, yang jelas berbeda ya Suharto bahkan Hatta sekali. Aku menyebut nama-nama seakan-akan sebaya. Apa salah jika lebih asyik membaca tulisan-tulisannya Pak AB Kusuma, 'ku susuri lagi jalan-jalan memori. Uah, kegairahan, kebungahan itu belum lagi hilang, aroma ketiak memuakkan.

Sudah tentu salah jika dipahami sebagai tunggul ametung, tapi memang demikian adanya nyamuk-nyamuk beringas mengerubung seperti lalat pada bangkai. Itu artinya aku masih hidup ketika tunggul ametung pakai deodoran. Adakah main di antara dua merongos itu bukan urusan dan apa peduliku, meski jika benar ada menjadi suatu kesedihan. Pernah aku berjalan di belakang pembangkit listrik tenaga kuda yang tidak akan sanggup membangkitkan apapun, namun siapa yang tahu. Ahaha, kalimat-kalimat penuh kode takode-kode begini, bahkan aku sendiri akan melupa.

Tidak ingin dan tidak akan terjadi lagi meski tidak sengaja, meski sudah tiada jalan patrice lumumba atau aki tornado sebesar jempol, atau jempolnya yang besar. Air hampir mendidih sampai dingin karena hanya 'ku sanding sejak semburan peluru mitralyur pertama yang tersendat-sendat. Hanya sejam lebih sedikit sebelum subuh sedang alinea ini saja masih kurang sekitar dua baris. Aku bukan orang yang suka meminum soda bila tulisannya air aki, apalagi memaksa aki-aki minum sodanya sendiri. Aku hanya khawatir jika kalimatku sampai bermakna berganda.

Seperti membelinya mahkota selera sampai seperempat juta sekadar untuk nostalgia menjadi suatu keputusan mengenai bagaimana kekuasaan judisial diselenggarakan di Amerika Serikat. Meski ada sedikit tanya mengapa sampai bertanya mengenai biaya kuliah setahun, biarlah mereka yang bertanya-tanya mengenai nasib anak-anak langsung mendapatkan jawabannya. Aku tidak mau tahu dan tidak akan pernah mau tahu, sebagaimana kalian tidak pernah mau tahu akanku. Ini entri yang mungkin 'kan disangka tanpa koherensi, namun bagiku konsekuen sekali.

Danau Maggiore untuk Selama... Selama-lamanya

Tuesday, March 28, 2023

Serasa Jutaan Tahun T'lah Berlalu Sejak Kau Pergi


Memang mengerikan, membuat pikiran tidak pernah menyimpang. Naudzubillah. Kemarin malam saking saja Cantik mengajak ke PeSq maka 'ku mengajak juga Anakku Kin. Sepulangnya dari sana, sekadar duduk menonton Yutub sudah mengantuk. Mungkin karena udara memang sejuk sebab hujan dari sore. Bahkan setelah Ashar aku sampai tertidur saking sejuknya udara. Hampir setengah enam ketika kami bergerak menuju PeSq, sedang jalan depan rumah dihalangi oleh mobilnya Inu. Suasana apa ini yang ditimbulkan oleh ketidaksukaanku tidur sendiri di lab hukum.
Di kejauhan 'ku lihat teman-teman Afi. Aku bisa yakin karena mereka berkerudung, meski aku sudah lupa seperti apa tepatnya seragam TarQ. Ada empat ekor mereka. Dari kejauhan ini juga kami dulu sering menggoda anak-anak SMA Tidar yang pulang sekolah. Beberapa hari ini aku diharu-biru khayalan untuk menghabiskan lagi hari-hari di Dukuh Barepan itu. Entah mengapa gagasan itu begitu menyenangkan. Ibu pun semangat ketika 'ku ceritakan mengenainya. Makanya segera selesaikan disertasimu, Tolol. Malah mengitiki tidak karuan begini, salahku sendiri...

Namun benar belaka apa yang dikata Cantik tadi pagi. Jika mau berolok-olok di tempatku sekarang ini. Sanggupkah aku menahan diri dari berolok-olok dalam peran dan kedudukan itu, sedang berada di situ saja sudah merupakan olok-olok besar. Gedung-gedung tinggi di kejauhan itu memang terlihat menjengkelkan, sedang tempat ini terkenal dengan hutannya. Pada akhirnya memang tempat manapun akan ditinggalkan. Lagi, lagi-lagi lagi yang selalu saja mencekam hati nurani dengan keindahan melankolinya yang sentimentil, nostalginya yang tak jua 'henti.

Ali McGraw yang mengaku Monalisa padahal Natalie Jastrow dari masa kecilku. 'Ku ulang lagi setelah dewasa ketika sendiri di kamar-kamarku di Maastricht. Puasa berjam-jam, sampai delapan belas jam, di negeri Belanda seperti pernah dilalui Bung Hatta dan Bung Syahrir. Di depanku tergeletak tentang dan sekitar Undang-Undang Dasar 1945 yang selalu saja mengharu-biru bahkan sebelum aku diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Monalisa, Monalisa adalah simfoni cinta bersampul hitam, biru kehijauan, dalam balutan cahaya bulan biru, manja bermesra...

Sadarkah bahwa yang seperti itu memang tidak pernah berhenti, maka berharaplah, bersiap-siaplah untuk waktu ketika itu semua berhenti. Sedang di sini semua hanya untuk ditahankan, meski mungkin sekarang memang sudah masuk musim semi. Mereka tidak akan pernah berhenti bersemi ketika waktunya tiba. Terpulang padamu apakah akan membiarkan diri kecanduan wewangian musim semi, atau membiarkannya berlalu dipanggang hangatnya cuaca musim panas. Jangan pula lupa, musim gugur akan selalu menunggu, membawa bersamanya musim dingin berbadai salju, bermuram durja langit kelabu.

Padahal sejatinya tidak harum. Padahal harum karena memakai harum-haruman entah dari alam atau buatan. Sedap di mata semata tipuan pikiran, atau perasaan, sama saja dengan apapun yang terasa sedap di mata. Sedap di mata, merdu di telinga, harum tercium hidung mengendus-endus, seperti anjing-anjing dikerobongi keranjang bambu atau rotan sekali. Padahal tidak boleh memulai kalimat dengan padahal, namun 'ku lakukan juga, demi mengingat siang-siang panas cuaca sedang membeli bubur makanan laut; habis seporsi sungguh banyak sampai sulit bernapas.

Meski dingin dan mengantuk 'ku rasa, tapi 'kan 'ku babat selesai saja; tinggal satu alinea ini. Aku di pojokan horor sedang Cantik mendengkur lembut di atas tayo berbantalkan canon keras kesukaanku. Begitu jam tiga nanti, bahkan akan 'ku masukkan kantong plastik cano dan 'ku bawa ke HAN. Gantian aku yang tidur di sana, semoga sudah tidak ada orang lagi kecuali Pak Mono. Mungkin terbangun sebelum buka dan memesan makanan untuk berbuka. Eit, tidak semudah itu. Masih ada janji dengan Marsha. Sudahlah 'ku biarkan saja ia diperiksa turnitin, biar lekas selesai.

Wednesday, March 22, 2023

Ramadhan 1444 H Marhabannya Nyepi 1945 S


Dari awal sekali aku selalu tahu jika entri-entri ini tidak berdaya, setidak-berdaya agenda Kopassus yang 'ku miliki sejak kelas tiga SMA. Aku Kopassus itu menggelikan, karena yang akhirnya Kopassus adalah teman segrahaku Brigjen TNI Achiruddin Darodjat. Beliau bahkan kini menjabat Wadanjen. Dua lainnya adalah Brigjen TNI Edwin Adrian Sumantha dan Kolonel Inf. Willy Brodus Yos Rohadi. Aku sendiri adalah seorang kopral taruna purnawirawan. Pangkat ini, kopral, 'ku sukai sejak lama, yakni, ketika 'ku menyadari diri ini tak lain Kopral Bono yang aksinya very good.
Maka 'ku mulai hari dengan pertanyaan terpenting: sudahkah aku sholat subuh. Meski matahari sudah tinggi, tidak juga aku beranjak sarapan karena Cantik masih bobo. Maka 'ku bersih-rapikan kamar kambing sampai Cantik bangun dan begitu saja kami ke Margo. Tidak ada lagi yang 'ku sukai dari tempat ini, jika pun pernah 'ku sukai. Kenangannya, Pawon Nyonya dan Cafe Oh la la adalah ketika aku muda hampir dua puluh tahun lalu. Tiga tahun lagi, tempat itu memang akan berulang-tahun yang kedua puluh, sekadar menegaskan betapa sudah banyak waktu yang tersia-sia...

Kenangan apapun sudah pasti tidak berdaya. Bahkan suatu hari nanti 'kan datang hari-hari di mana tenaga mental untuk mengenang pun sudah tidak ada. Khayalan mengenai kebahagiaan hidup sejahtera di khatulistiwa bisa jadi juga sekadar khayalan, terlebih jika mengingat kantor Patar yang aduhai kunonya. Pojokanku kini di kantor Mas Wirto juga tidak kalah kunonya, jadi tak apalah. Masa lalu memang harus dibiarkan berlalu. Masa depan hanya bagi yang masih punya cukup tenaga untuk mengkhayalkannya, jika sekadar menjalankan kewajiban aduhai beratnya.

Apa yang dapat diceritakan dari sepiring nasi liwet yang hanya ditambah teh manis panas jadi seratus ribuan, dingin pula. Apa pula gulungan kalifornia dan okonomiyaki berteman dua cangkir teh madu lemon dan sebotol kecil air yang ada manis-manisnya hampir dua ratus ribu. Bisalah disebut dua skup cokelat dan mint, dua skup pralin berkerim dan pistasio, sedang carik tak-bertulang sudah tidak ada. Belum lagi pergi pulang yang lebih dari seratus ribu. Begitulah nyepi jika tidak amati geni, lelungan, dan lelanguan. Biar kapok. Biar tahu rasa. Aduh inilah pemain kawakan super.

Semua ini bunyi-bunyian dari masa kecil, di hari-hari menghabiskan masa kecil bersama Cantik yang terus bertambah cantik dari hari ke hari. Bunyi-bunyian yang tidak pernah berhenti cantik seperti mie ayam baik ful acis maupun donoloyo yang diberi bersambal rodamin-b dan bertaburkan banyak-banyak irisan daun bawang. Aku sudah seperti orang tua yang ditinggal anak-anaknya, karena sejak dulu pun begitu. Ingatkah pada malam-malam di Gang Pepaya ketika terbangun tengah malam, bertahan di lantai dua, mungkin 'nonton bola selain mereka tidak ada apa-apanya.

Aku tidak ingat terbangun malam-malam di kos Babe Tafran atau bahkan di Radar AURI sekalipun. Apakah ketika itu 'ku masih muda, karena masih sanggup tidur terlentang. Terbangun malam-malam itu betapapun sejak di Qoryatussalam. Jika itu terjadi di Belanda, mungkin akibatnya setangkap roti lapis khas 'ku sendiri dan semug teh-teh sok cerdik khas Belanda. Terkenang olehku suatu malam terbangun lantas ke starbek memesan indomie goreng telur kornet dan secangkir kecil teh panas diberi beragar-agar, akibatnya kembung bukan buatan sampai sulit bernapas...

Ketuaan adalah sesuatu yang pasti datang, dan apapun yang datang, sambutlah dengan senyum merekah. Terlebih jika ditingkahi irama keroncong sebegini cantik, mengingatkanku pada suatu malam di Hotel Shangri-la. Ini seperti memandangi rak-rak toko buku dengan beberapa judul buku, hanya beberapa eksemplar saja tiap judulnya. Demikian pula alat-alat tulis atau yang sering disebut sebagai fancy, sedangkan kasir dan penjaga toko adalah benar-benar manusia hidup dengan keluarga masing-masing. Hidup berdua saja begini bersama Istriku menjalani hari-hari tua.

Thursday, March 09, 2023

'Duh, Nisyfu Sya'ban Yang Tersia-siakan Oleh 'Ku


Biarlah entri ini 'ku mulai dengan aku tidak tahu ke dalam apa telah 'ku jebloskan diri sendiri, dan dengan pengecutnya 'ku jebloskan pula adikku. Malam-malam begini, 'ku lahap burger keju ganda, filet ikan dori dibungkus roti pita, masih dengan es krim vanila bersaus cokelat. Padahal, sebelumnya, sekitar sebelum maghrib, perutku sudah dikembungkan oleh semangkok bakwan malas. Jelas yang satu ini tidak mau mengobrol atau bahkan berurusan apapun denganku kecuali untuk kepentingannya sendiri, sedang anakku sayang mungkin mendambakan bapak biologisnya.
Apa harus 'ku tulis pula di sini mengenai Jambuluwuk Thamrin yang--seperti halnya hotel apapun di dunia ini--membuatku sulit tidur. Apa perlu juga 'ku catat betapa Dzaki membelikan jam tangan untuk Offal. Sarapan pagi di hotel bisa saja terdiri dari bubur ayam yang ternyata lumayan dan sarapan kontinental masih ditambah dengan kwetiauw goreng dan tumis sawi putih. Maka 'ku katakan pada serigala muda, aku sudah tidak muda lagi. Jika ada orang yang lebih tua daripada 'ku ingin jadi menteri pendidikan dan kebudayaan, sungguh aku tak tahu mengapa.

Bisa saja 'ku sumpal telingaku dengan bunyi-bunyian merdu temannya Jisun, namun aku merasa lebih nyaman ditemani degungan lampu neon panjang model lama yang banyak sekali di atas kepalaku. Mungkin hanya satu yang pas di depan kepalaku ini saja yang mendengung. Mudah sebenarnya, tinggal dicopot saja starternya agar tidak menyala lagi setiap steker di-on-kan. Apa manfaat ini semua jika perutmu melendung kembung dan selalu merasa mengantuk, terutama ketika beberapa hari terakhir ini selalu saja minum manis-manis iaitu sebotol teh pucuk harum.

Jikapun belum mulai setelah Nisyfu Sya'ban tersia-siakan beberapa waktu, apa hendak dikata. Memulai hari dengan pagi tidak dengan berjaya, terlebih jika ada yang bertekad siap mewartegkan Jabodetabek. Itu semacam cetusan gagasan mengenai memutakhirkan pendekatan pusat dokumentasi hukum menjadi lembaga pengumpulan pandekta hukum adat. Ah, siapa yang 'kan peduli pada paradoks-paradoks kecilku, sedang Teguh Rumiyarto yang jelas-jelas Kolonel Laut Korps Elektronika masyhur karena acapkali menelurkan ide-ide nan cemerlang. Gara-gara retroaksi...


Widis, ternyata masih sisa tiga, meski menggoblog di pagi hari bahkan ketika belum syuruq entah sudah berapa kali terjadi sejak sekitar 17 tahun yang lalu. Demikian pula, jika di subuh yang masih gelap ini orang asing dari Venesia begitu saja nyelonong dalam kehidupanku, seperti halnya bunyi alarm Hadi, Awful, Khaira, bahkan Istriku sendiri, entah sudah berapa kali terjadi. Apakah awal entri ini masih di ruangan bekas almarhum mbaknya Mas Mils atau sudah di pojokan dikelilingi apak buku-buku tua, juga tidak membawa terlalu banyak perbedaan, Aranjuez.

Jika begitu saja terkenang suatu siang bermendung berangin dingin bersama Kolonel Dr. Sigit dan Bang Noor di stasiun sepur Amsterdam selatan, sedang Bang Noor hanya bersweter tipis, itu sudah berlalu lima tahun. Melodi indah yang terasa cengeng sendu-sendunya tidak menambah atau mengurangi rasa dingin yang terasa pada lengan atas, yakni, tempat masuk dewi sinta yang mulutnya bau. Semua itu sama sekali tidak pernah terjadi padaku. Aku hanya mengkhayalkannya agar terdengar gagah seperti pantat jelek begitu, tidak seperti karnaval di sekujur Brazil.

Apa lantas ada subuh-subuh gelap begini bercengkerama dengan Pedro II atau Montezuma sekali. Ah, kalau ini sering terjadi, meski sudah lama sekali tidak begini, berdansa berputar-putar bersama Rumena. Mengapa dalam situasi begini kenangan membawaku pada suatu acara di mana Bang Daru menerima kemudi kapal sedang pada dadaku disematkan bintang delapan penjuru mata angin. Titik pada mata kaki kanan luarku terpencet dan menyetrum sampai ke jari-jari kaki, bahkan kini sudah mendekati setengah enam dan belum terang juga langit di bulan Maret ini.

Saturday, March 04, 2023

Keberkahan Sya'ban, Sampainya Ramadhan. Semoga


Setelah beberapa hari ini hanya masuk ke dalam goblog, memeriksa statistik yang tidak menerangkan apapun, malah berakhir membaca-baca entri-entri lama. Itulah gunanya statistik. Terkadang ia mengingatkanku pada entri-entri lama yang aku lupa bahkan ia pernah ada, pernah 'ku tulis. Ketika melirik ke kiri atas, sadarlah aku bahwa Sya'ban sudah habis sepertiganya. Senin atau Selasa depan ini sudah Nisfu Sya'ban. Di kejauhan, seorang ustadzah membumbungkan shalawat. Sementara itu, tetangga-tetangga bekerja bakti membersihkan, merapikan sekitar masjid.
Teh halia yang 'ku sruput-sruput di Sabtu pagi bermendung ini sesungguhnya tidak terlalu manis. Terutama jika kau mencicipi hidup a la syah Persia meski hanya sekadar dalam khayalan, karena jika tidak begitu maka bahkan infanteri mekanis saja sudah tidak sanggup lahir batin. Ah, teh halia ini manis-manisnya kehidupan dunia, merekah ranum bagai buah entah apa yang hampir saja menimpa kepala. Entri-entri goblog ini banyaknya sudah tidak terperi. Sudah lebih dari lima ratus, 'ku rasa. Adakah kebahagiaan hidup di dunia yang 'ku rasa; berpaling ia, wajahnya.

Tak henti-hentinya mengagumi manis-manisnya teh halia yang datang dari hati yang tulus, meski mungkin sekadar terjerat pesona tutur-kata yang fasih. Adakah kebenaran di dalamnya. Adakah mengandung Ajaran Sang Penguasa Keselamatan yang menciptakan indahnya alam seisinya, yang sanggup meluluh-lantakkan angkara-murka. Taman Argasoka sekadar bilik terabaikan, menyimpan kenangan akan ambisi kehidupan dunia. Aku sekadar lelaki tua gendut botak yang pikirannya tidak pernah menyimpang. Namun dunia memang tiada ambil peduli, bersikeras indah.

Kata-kata ini, aku tahu persis, tak berdaya. Bahkan menghadapi kekerasan hati bocah cilik yang dengan tangan-tangan mungilnya hendak merengkuh sombongnya dunia, kata-kata lungkrah bagai kelelakian diterpa amarah tertahan berkepanjangan. Tepat di sini 'ku biarkan kesenian sekuler mengambil-alih, karena bumbungan sholawat sudah berganti sesorah. Duduk disampingku dalam gelungan kecil sederhana yang menguarkan kesedapan kepala putik yang kuyup dilumuri serbuk sari iblis bulai keparat, kecuali ditahan pencegah penyerbukan. Diriku sendiri aku kutuki.

Betapa sukubus jahanam mengunjungi dalam mimpi, pantatnya yang mungil didukung diremasi sedang mulut dan mulut berpagut. Tepat di sini aku direnggut oleh masa kecilku yang indah, ketika hidup masih seperti keran air berwarna merah. Dapat 'ku bayangkan air yang mengalir darinya segar dan menyegarkan, mengusir penat anak laki-laki kecil yang tidak seberapa. Penat lahir batin yang kini kesehariannya setelah botak, tua, dan gendut bahkan jauh berkurang hanya dengan mengenang keran merah mengucur air; terbang melayang-layang bebas jiwanya di atas Copacabana

Dalam keadaan seperti ini kau menyambut yang mulia, lantas di mana hasrat kerinduan akan rasa aman sampai menghitung-hitung mempersiapkan. Kuda sembrani terbang melintas di atas ufuk kesadaran. Abaikan bentuknya yang mungil gempal, dan bahwa di atasnya ada anak laki-laki periang namun tololnya tidak ketulungan. Lihatlah ketenangan, kedamaian yang membonceng padanya, dalam bentuk anak perempuan berambut kepang dua. Buang jauh-jauh khayalan akan kasih-sayang yang sangat kau damba darinya, kar'na hidup ini adalah memberi dan memberi.

Apa bedanya bercampur ludah ketika mulut-mulut berpagut dan diludahi ke dalam mulut menganga sungguh tak pernah terpikirkan. 'Nah 'kan, terlebih jika mengingat kemungkinan besar zaman sudah berganti dari ikan menjadi air. Seperti semua kita dari manusia paling bejat sampai tikus putih paling mencit sekali, memulai hidup berenang-renang dalam air. Ludah pun sebagian besarnya air. Seperti ketuban, ludah pun tak kalah menjijikkan. Itu, tentu saja, setelah keluar dari padanya. Ketika masih berkubang berkecimpung di dalamnya, yang ada hanya kesedapan.

Kalau begini terus lalu kapan sampainya

Friday, March 03, 2023

Kisut: Tinjauan Kritis Kemakmuran [Daging] Sapi


Manisnya es teh leci meski kupingnya caplang, maka dicepol kecil dua di atas kepalanya. Namun kenyataan bahwa ia mungkin memakan [daging] babi juga, terlihat dari bodinya yang sintal cenderung demplon. 'Ku rasa bukan begitu cara opung Kopral Marinir Purnawirawan Albert Nainggolan Lumbanraja turunan Sirajalottung menggunakan tanda kurung, meski aku belum pernah lihat beliau menggunakan kurung siku apalagi kurawal. Opung Albert tentu kopral marinir sungguhan, tidak sepertiku yang kopral taruna purnawirwirya sehingga ditertawakan Kol. (CBA) Hamdi Wibowo.
Meski kedemplonan mondar-mandir di hadapan mata kepala, seorang terpelajar terus menekuni tinjauan kritisnya terhadap kemakmuran [daging] sapi sebagaimana terpampang dari mimiknya. Selisih dua puluh tahun memang jelas tegas perbedaannya. Suatu ragaan yang terlalu menampakkan jelas ragaan yang harus dimusnahkan meski dari goblog ini, karena goblog ini seperti orang-orangan plastik atau serat kaca yang cuma ada torsonya, sedang organ-organ dalamnya bisa dicopot-copot sampai bolong-terowong itu torso. Beberapa organ itu bahkan ada cantelannya agar tetap pada tempatnya. Ini akibat khayalan tak berdaya.

Bang Jep menertawakan kegilaan seakan tidak jelas-jelas ada pada sahabatnya, Roberto Bellarmino Gratio, yang mukanya harus dilestarikan karena sudah terancam punah: wajah manusia Jawa asli, tulen! Astaga, tak pernah 'ku sadari betapa gerai mekdi di dekat tempat orang-orang dengan daya beli tepat di ambang-batas sepertiku tinggal dapat begini penuh di akhir minggu. Apa ini menjadi semacam tempat wisata, seperti untuk rekreasi begitu. Coba 'ku tanyakan ini pada duo Jep and Grat agar direview. Biar bertemu perempuan yang setulus hati mencintaimu ,'Yo.

Sejuk manisnya es teh leci membasahi kerongkongan yang kering-kerontang tidak pernah dibasuh kisah kasih asmara, seperti kerongkongannya Gratio hahaha. Sedang Dik Nana dikata Bu Haji oleh Bapaknya Luna yang tidak sembuh juga asal-asalannya [memangnya aku sudah sembuh], ada baiknya aku segera meningkatkan jabatan fungsionalku sekadar biar lucu. Aku sangat ingin naik haji dan sewaktu muda pun kuminis. Biar juga 'ku tulis di sini, Prof. Uwi memberiku "A" untuk Hukum Perburuhan karena makalahku yang berjudul "Peran Serikat Buruh dan Partai Buruh dalam Menegakkan Hukum Perburuhan".

Harus ditegaskan pula di sini, sirup mawar tidak dibuat dari air mawar! Meski kegempalan berjongkok di hadapanku memakaikan kacamata karton pada anak-anak perempuan kecil seraya berselfie ria, perhatianku teralihkan darinya. Kini inderaku dikuasai Armada yang bukan utara atau timur atau barat, seperti perut yang dikenyangkan oleh kemakmuran [daging] sapi dan goreng ikan bungkus. Aku mematung di dekat pintu keluar, dengan wajah yang mungkin bagi orang-orang di sekitarku tampak serius. Aku memasang wajah tolol, padahal, seperti biasa, jika sepi sendiri.

Uah, betapa sedapnya dram sner dan bas dipukul satu-satu begini, dengan bas gitar sekali-sekali bersinkopasi. Aku menulis begini seakan tahu apa yang 'kutulis. Begitu saja aku terlempar ke waktu-waktu ketika aku masih semuda Bapak-bapaknya Duma dan Luna. Betapa menyakitkan waktu-waktu itu ketika aku bertahan satu cinta. Aku memang tidak pernah lebih dari satu cinta. Jika aku jatuh cinta, maka itu untuk selamanya. Jika 'ku berikan hatiku, maka itu seutuhnya. Cobalah lakukan itu, 'Yo, mungkin kau akan berhenti komunis. Ada satu masalah: Kau tidak seganteng daku. 

Bukan studio di Kees Broekmanstraat itu yang hadir dalam cipta, melainkan kabin Miniarta M04 trayek Pasar Minggu - Depok Dua, Tengah, Timur, Dalam. 'Ku lakukan itu semua demi cinta, sampai sesak dadaku, panas mataku. Hanya ini bisaku, maka 'ku lakukan semua kebisaanku. Jika aku harus meningkatkan kebugaran, maka itu demi cintaku, kali pertama, pada Ibuku, kali kedua, pada Cantik, Istriku satu-satunya. 'Ku ambil resiko mempermalukan diri sendiri menghadap Padang juga demi Cantik. Tak seorang pun tahu apa yang 'kan terjadi sedetik lagi. 

Thursday, March 02, 2023

Bahkan Penyompret Harus Berpangkat Sersan


Memang hanya begini caranya, segera berondongkan apapun yang lewat. Usahakan sekitar tiga baris, karena kurang dari itu mungkin akan macet mitralyurmu. Kalau sudah macet maka sangat mungkin justru kau yang akan diserbu serangan sangkur menusuki tubuhmu. Baru jika sudah tiga baris setidaknya, aturlah rata kanan kiri dan sebagainya itu. Berilah gambaran dan beri judul, meski penyompretnya banyak bekas jerawat begitu. Jago dia menyompret, harus diakui. Bahkan 'ku selesaikan dulu satu alinea sebelum memeriksa pratinjau, apakah masih transparan tidak.
Aku juga tidak ingat bagaimana asalkan kau bahagia bisa berada dalam koleksiku. Aku hanya ingat seorang anak pemalu menyanyikannya dengan lumayan baik, diiringi gitar gurunya. Hanya 'kuingat betul suasana hati satu map ini yang dimulai dengan ajakan Keisya agar aku jadi kekasihnya saja. Di suatu siang yang, seperti biasa, murung tak bermentari di bilangan Uilenstede, di sebuah kamar yang lebih panjang daripada lebarnya. Ketika itu meja sudah lebih dekat ke pintu daripada jendela, seingatku. Meja dekat jendela itu kala musim dingin, masih ada Pak Kaji, sebelum Maret.

Memang betul, jangankan bertahan satu cinta, bertahan hidup itu dilakukan setiap hari bahkan detiknya. Dari ketika hari-hari masih pendek, terbangun jam tujuh pagi pun langit masih gelap, sampai senjakala yang panjang antara setengah sebelas sampai setengah duabelas malam. Rencana-rencana bodoh ketika baru pindah ke bilangan NDSM, sampai beli troli belanja segala, tirai bilik mandi segala. Menjual kulkas Hadi pada Bang Halim untuk membeli yang baru, mengantarnya dengan mobil sewaan ke bilangan Nieuw West sedang badan dingin kemasukan.

Dengan semua ingatan ini, Cantik mengajakku meninggalkan ini semua ke... Belanda. Sebungkus Al-Khanjar belum 'ku masukkan kembali ke dalam kotaknya. Apa tidak 'ku keluarkan saja semua dari plastiknya dan 'ku jadikan satu dalam kotak itu, membawaku ke masa mudaku di sekitar Magelang dan Jogja. Asap rokok sudah lama 'ku tinggalkan, 'ku ganti menjadi asap dupa. Sudah hafal 'kan polanya, pengulangannya, jadi mengapa masih tertarik, masih sulit memalingkan perhatian; atau justru karena pola dan pengulangannya itu sampai berakhir segala sesuatunya.

Aha, baru terpikir olehku apa yang sebenarnya tengah terjadi: retroaksi-mania. Ketika semuanya mungkin tepat pada bentuk dan tempatnya kecuali, seperti biasa, cuping telinga. Belati, pistol, dan granat pernah menjadi khayalan. Meski demikian, tidak akan terwujud kecuali memang kepraktisan menghendaki. Apa guna barang-barang itu bagi seorang hina-tak-bercelana sepertiku ini. Apa 'ku pikir aku semacam Andy Scott begitu yang memakai kalung telinga. Hentak-hentaknya irama disko membuat pinggulku mengayun-ayun sendiri bergoyang-goyang; meski sepi sendiri.

Betapa meriahnya demi melihat tiga pucuk dupa terbakar terang-benderang, sedang awan lembayung bertahan cukup lama di ufuk barat tadi; lebih dari setengah jam. Jika memikirkan apapun yang 'ku lakukan, 'ku lakukan untukmu, jadi terkenang paruh kedua 1991, karena awal 1992 itu, ketika aku terkena hepatitis, aku suka senyummu. Aku ingat, ketika menyadari air seniku berwarna coklat seperti air teh, aku justru ingin minum soda dingin manis. Aku sempat menghabiskan beberapa malam di rumah karantina itu. Namun ketika itu 'ku rasa 'ku sudah mulai membaik. 

Tentu saja, indomie telur buatan pembantunya Bu Dokter Tien Tien yang seingatku agak terbelakang mental, dengan rambut yang sedikit botak di sana-sini. Telurnya selalu diaduk dengan kuahnya. Namun ketika itu enak-enak saja. Jelasnya, masih jauh lebih enak daripada buatan Pak Sachid yang lebih banyak kubis cacahnya daripada mie apalagi telur. Terlebih setelah aku dan Bang Benny Oktora harus menghabiskan kerang rebus masing-masing sepanci setiap makan malam. Aku bahkan masih ingat Dokter Tien Tien membelikan kami bakso, tentunya makan dengan lahap.