Sunday, July 30, 2023

Isakuguriki. Hati-hati, Salah-salah Bisa Berbuah


Aku tak butuh siapapun untuk memberitahuku bahwa tidak ada seorangpun berminat mengetahui siapa dan seperti apa diriku. Mau dari jalan benda, grinting, jembatan utara dan selatan, sampai petogogan, aku hanya berkata pada diriku sendiri: Menyendiri, bersembunyi dari orang banyak, dunia luar, udara bebas, tidak perlu lantas pilek burung, sampai keluar nanah bercampur darah. Sel harus selalu rapi. Debu sedikit di sana sini tidak apalah, toh tidak ada si saku tinggi dengan sarung tangan putihnya. Namun perlengkapan tidur harus terlipat rapi tidak terkecuali.
Terlebih dengan bibi Diah Daniar menemani pembantunya Toro dan Tito menyeterika di rumahnya yang terasa lebih mewah dari rumahku, tidak membuatku ingin tinggal di situ. Mungkin dari dulu rumah Toro sudah berpendingin udara. Rumahku tidak memerlukan itu karena hatiku selalu terasa sejuk nyaman. Bahkan mencangkung di dahan kol banda favoritku lepas tengah hari sepulang sekolah pun terasa sungguh nyamannya. Di bawahnya, di balik seng bekas area servis itu apalagi, sejuk nyaman belaka. Lantas apa kiranya yang dirasakan kakekku dengan hati bersirosis.

Sekelebat keterendusan ketika bocah lelaki bertulang lunak berhati baik melahap sambal orang-orang Bugis tanpa bertanya, menenggak hampir sekotak susu dingin milik keluarga Bugis itu. Mana pernah kusangka akan berakhir demikian, ketika sampai kini mulutku terkunci sedang kuncinya kubuang di kanal-kanal Uilenstede entah yang mana. Tiada banyak berbeda dengan menemploknya blasteran binturong dan bengkarung dengan tidak profesionalnya. Memang tidak boleh banyak-banyak dalam setiap waktunya, seperti pandang kedua mata yang terlalu dekat jaraknya.

Tiada seberapa mengherankan jika khayalku bahkan telah mengembara ke relung-relung yang belum pernah ditelusupi bocah di bawah sepuluh tahun. Diulangi lagi sebelum ulang tahun keduabelas di depan gardu listrik samping kelurahan lama, polanya sama. Aku memang seorang esensialis, telah kusadari sejak kususuri lorong-lorong anggrek dan pradnya paramita, bahkan mungkin setia kawan. Entah mengapa sofa itu juga yang terbayang dan permintaan yang akhirnya terujar sekitar lima tahun kemudian, diluluskan pula sedang ia bersimbah keringat bau terasi.

Sebaliknya, aku tidak pernah serius dengan jurusan bertolak-belakang. Aku bahkan tidak tahu berapa sudut tepatnya. Jika yang ini kukata serius maka yang satunya apa. Dari kecil aku memang selalu merasa kesepian, hanya berteman pengetahuan seluruh dunia, bahkan alam seisinya; kecuali ketika 'ku memutuskan untuk berhenti memikirkan angkasa luar dan fokus pada dunia prasejarah yang sampai kini tidak pernah berhenti memukau hati. Jika sudah begini, keseriusanku pada main-mainan dunia berkurang, bahkan bisa lupa sama-sekali; maka inilah aku coba sekarang.

Jika keindahan dan kejijikan tidak banyak bedanya bagiku, bahkan sering berjalin-berkelindan, mengapa tidak berpumpun pada yang indah-indah saja. Mengapa harus terus mengendus-endus kotoran kuku ibu jari kaki, menyesapi busuk-busuknya yang memabukkan, lantas menggigit-gigit kecil-kecil renyah-getirnya, membuat bapak-bapak di sebelah bergidik kejijikan. Mengapa tidak terus berusaha memompa pengetahuan ke dalam urat-urat nadi, mengalirkannya ke sekujur hati nurani dan hati sanubari. Itulah inti, saripati keindahan tanpa kebusukan yang muak memabukkan.

Seindah, sepermai apapun kecantikan dunia fana ini, pasti akan busuk memuakkan jua di akhirnya; setidaknya jika tidak mandi sudah lebih dari seminggu. Maka buanglah busuknya, jauhi kemuakan, dekati keindahan, kepermaian yang terpermana; dan itu adanya pada pengetahuan-pengetahuan baik yang langsung dikurniakan atau yang kauusahakan sendiri, susah-payah atau riang-gembira. Tahu beda dengan merasa tahu. Jika benar-benar tahu kau tidak akan pernah merasa. Jika merasa tahu kau tidak akan pernah benar-benar tahu, kecuali goreng-goreng tahu-susu.

Saturday, July 29, 2023

Terkadang Larut Malam Kau Minta 'Ku Kata Cinta


Seperti itulah, seperti berbagai gorengan dan soto meletup. Aku malah tidak ingat pernah beli minuman apa. Aku hanya ingat mesjid di belakang atas tempat masih saja bercanda ketika sholat Jumat padahal sudah berbulu kaki. Di mesjid itulah aku sholat dhuha, mungkin untuk kali pertama dalam hidupku, mungkin karena menerima berita lanjut seleksi tahap berikutnya. Masih teringat olehku betapanya, meski tidak pernah kurasakan barang sekecap pun. Tidak satupun kecuali beberapa kuntum bunga asoka, hanya kuncupnya saja, dan mungkin berkeringat bau terasi.
Perasaan ini, suasana hati yang sangat akrab karena tidak pernah berubah entah sejak kapan. Adakah dari waktu-waktu meninjau jauh ke ujung utara, layar besar teater terbuka kemudian bianglala, dari dahan tinjauku pada pohon jambu klutuk. Dapat juga dari dahan kol banda meninjau atap-atap tetangga. Mungkin memang pada umur segitu cuaca tidak akan mengganggu. Hanya suasana hati yang kerap mengganggu, namun tidak di Tangerang. Justru setelah kembali ke Radio Dalam perasaan itu timbul. Pada saat itulah menyanyi diiringi gitar terasa sungguh merindu dendam. 

Tahun-tahun berikutnya, kurang lebih empat sampai lima tahun yang kukira berjuang hanya berakhir pada kemaluan yang mendelep mendalam. Suatu waktu yang mematri mati sebelah selatan perbatasan selalu pada kepala tolol Ari Wibowo. Kusalurkan pada apa kesedihan menggelegak itu, pada malam-malam yang tak berdosa. Malam-malam di mana entah berapa juta orang memadu cinta sedang aku dipanggang bara nestapa yang tidak pernah padam hingga kini. Terkadang kurentang lenganku untuk membiarkan pengapnya pilu menguar, ternyata nirguna.

Lantas kulumuri sekujur badanku dengan anyir lendir penuh kesakitan, menyiksa batinku tiada henti sampai detik kuketikkan semua ini, bahkan setelahnya. Ketika itu jugalah mungkin kunyanyikan lantang nyonya yang benar-benar kucintai masih, terus penuh penghayatan meski diafragma sudah sering dijebol asam lambung. Ada juga waktu ketika kutanyakan masihkah di antara kita yang tentu saja tidak, entah apa yang terlintas pada pikiranku saat itu. Sudah lama, sudah lama sekali, tapi aku masih sedih dibuatnya. Aku tidak pernah bersimbah kenistaan nan menjijikkan.

Terkadang muncul rasa ingin menggapai kisah cinta yang tak pernah ada. Semua khayal tak berdaya, hanya satu impian semata. Khayalanku hanya ilusi yang membawaku menyusuri jalan-jalan Magelang berhujan. Apakah itu hari-hari terakhir musim penghujan awal 1992, yang jelas baret biruku tiada basah. Tepatnya, aku tidak pernah ingat berseragam basah-kuyup kapanpun itu. Jika pun bermandi hujan lebat ketika melepaskan kapal latih taruna satu dari tambatannya, yang kuingat justru berlari pagi bersama Mentor Muki di Gresik keesokan paginya, suatu hari awal 1995.

Setahun kemudian aku merokok di bawah muramnya langit malam Jakarta. Setahun kemudiannya lagi kumainkan piano buatan Afrika Selatan dengan kesedihan bertumpuk-tumpuk. Aku memang tolol, tapi patutkah aku didera nista dan nestapa semacam ini yang ternyata tidak berhenti bahkan sampai lebih seperempat abad kemudian. Malam semakin larut bahkan sudah dini hari. Duduk di lantai ruang tamu mess pemuda sambil berbual entah-entah dengan orang-orang yang sama-sama tidak punya masa depan. Bukan aku tidak punya cinta. Uang aku tak ada.

Seperti dari dulu, sampai sekarang pun tak pernah kubiarkan mataku menatap apapun yang dapat menoreh jiwa. Jadi bekas-bekas parut luka pada jiwaku pasti akibat pandangan periferal. Satu-satunya tatapan yang dapat kuingat sekarang adalah pada ekonomi publik dan analisis empirik. Apapun yang tersisa darinya, takkan pernah kusesali. Aku hanya menunggu waktu dapat berduaan kembali bersama buku kromku mencipta berbagai-bagai pengetahuan. Sekadar tahu memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan bisa membawa rasa senang meski setitik.

Tuesday, July 18, 2023

Mawar Merah Untuk Nyonya Biru. Merah-birumu


Gambar di bawah ini seperti label kaset-kaset tahun 1970-an. Bedanya, jika kaset-kaset itu bergambar wanita entah-entah, biasanya muda namun sudah matang, entri-entri dalam blog ini bergambar makanan matang bagi pria muda. Apapun ocehanmu, yang jelas saat ini juga, di entri ini juga, akan kuakhiri kegilaan retroaksi ini. Sudah cukup. Tidak ada pula yang mengharuskan setiap hari ada entrinya, meski hari-hari anggur dan mawar-mawar dan engkau kudekap erat pada dadaku. Dada-dada kita saling rapat meski dipisahkan beberapa lembar kain dan mungkin busa.
Kebutuhan akan harum-haruman yang membumbungkan asap dupa setanggi sulit dipenuhi seperti apapun kebutuhan. Irama-irama dari dekade 1950-an dan 1960-an selalunya mewarnai sejak kanak-kanak sehingga tua begini, padahal itu adalah masa kanak-kanak dan remaja orangtuaku. Harapan untuk kembali muda dan tolol tidak ubahnya saus lengket gurih-gurih manis, meski ayam panggang Kalasan tidak ada sausnya. Menyedihkan memang jika seorang paruh-baya masih terperangkap dalam hangat ruang kantor setelah pendingin udara mati.

Takkan lagi kujelajahi dunia hanya untuk disergap oleh keindahannya yang menjadikan hati tawanan, jiwa tersandera. Akan kutunggu saja di sudut penuh buku apak ini, meski buku-buku baru terus melambai mengimbau-imbau. Buku-buku apak ini telah berbentuk digital. Takkan habis kubaca meski sepanjang hari, setiap hari membaca saja kerjaku. Bukan berarti aku suka bau apak buku tua ini. Tidak pula kubangun sebuah mesin waktu dengan buku-buku ini sebagai bahan bakarnya. Ini hanya nyaman hangatnya masa kecil yang takkan kembali apapun terjadi.

Apa kausangka aku akan bersedih dan merajuk karenanya. Tidak pernah kubayangkan diri ini menjadi raja apapun, raja jalanan, raja bukit, apalagi raja singa. Aku memang api yang berkobar-kobar bahkan meledak membahana menggapai angkasa, namun begitulah takdir kebakaran besar: hancur bersama yang dihancurkannya, padam bersama yang dipadamkannya. Apa lantas aku harus memanjat puncak minaret dan terjun darinya sambil merentangkan tangan bukan mengepak-ngepak. Udaralah yang berkesiuran di sekitar kesadaran, yang menyadarkanmu.

Jika takkan pernah lagi kurasakan harum gurihnya birahi berbalut cinta, tiada penyesalan padaku. Kubiarkan paduan suara seribu bidadari dari kayangan para dewa menghaluskan gegap-gempitanya sembur-menderunya seribu sangkakala. Kucecapi, kusesapi pada lidahku, kuhirup-hirup melalui rambut-rambut hidungku masa remaja yang tidak pernah merasakan cinta primata berekor maupun tidak. Kuhunus pedang pendekku yang terpaksa dipatri sarung kuningannya karena rengkah. Kutikamkan pada hati yang membeku didera sendunya rindu sewindu.

Takkan kubiarkan lidah, terlebih lengan bertangan terjulur, menggapai-gapai ujung selendang bidadari turun mandi. Lihatlah perempuan gemuk yang memandikan tubuhnya dengan seember minyak wangi guna menutupi bau alami badannya yang seperti protein dan lemak teroksidasi. Bahkan bidadari jika sampai lupa memakai deodoran akan berbau ketiak-ketiak mereka. Maka hanya harum-harumnya asap dupa setanggi saja yang tidak akan mengecoh, selalu setia pada kesejatian. Hirup-hiruplah, cecap-cecaplah sedap nikmat tumisan bawang merah putih pada lidahmu.

Ada lagi balon-balon warna-warni mengangkasa memenuhi cakrawala di atas padang rumput seluas samudra raya, mengangkut remaja-remaja pria dan wanita pada keranjang-keranjang yang tertambat padanya. Jangan kautahan sesungging senyum selebar tawa pada wajahmu ketika keindahan mengajakmu menari berputar-putar. Tangan kananmu melingkari pinggulnya yang ramping, tangan kirimu menggenggam tangan kanannya rapat pada dadamu. Seperti itulah caramu bercengkerama dengan keindahan. Tenggak! Jangan biarkan bersisa barang sedikit saja.

Monday, July 17, 2023

Saya Tunggu Engkau Rupanya 'Kau Forget Tumiyem


Tentu saja saya forget, karena aku adalah Raden Haryo Mangkuwanodyawudha sedang engkau sekadar Tumiyem yang kini semakin jarang ditemukan, bahkan di pasar-pasar tradisional, bahkan di bilik-bilik babu rumah orang-orang kaya. Aku pun kini lebih suka dipanggil Haryo Mangku saja. Tidak perlu pakai bendara, tidak perlu pakai raden. Lagipula lebih chic, lebih pop. Akan halnya bilikmu menjadi saksi betapa tubuh-tubuh telanjang kita pernah bergelut rapat penuh gairah, anggap saja anugrah dariku yang harus disyukuri seumur hidup.
Botok yang sering dimasakkan Tumiyem bagi Raden Haryonya tersayang. Sedihnya
Akan halnya bagiku, biarlah aib celaka itu dilupakan waktu. Jika sampai terlintas dalam pikiran, semoga babu tolol itu tidak banyak mulut dan menyimpan kenangan itu hanya untuknya. Apa peduliku jika ia sekarang menjadi janda seorang penganggur pemabuk penjudi tukang main perempuan dan segala kekotoran lantas melacur karena tiada yang sudi mempekerjakan babu tua yang tidak tahu mengoperasikan alat-alat rumah tangga modern yang terkomputerisasi dan sepenuhnya terhubung dengan jaringan Internet sehingga bisa dioperasikan dari Beverly Hills sekalipun.

Begitulah jika orang setengah sinting membuat kalimat. Ia akan membuatnya lari lintang-pukang, terpontang-panting. Aduhai banyak sekali ungkapan dalam bahasa Melayu tinggi yang hampir punah jika saja tidak dilestarikan oleh blog tolol ini. Apa hendak dikata ketika anak-anak Indonesia sudah tergagap-gagap tidak tahu bahwa taking into consideration itu mempertimbangkan dan prioritizing itu mendahulukan. Akan halnya kisah mini dua paragraf di atas diilhami oleh lagu tolol taruna akademi militer nan menandakan betapa bahasa Inggris mereka seadanya.

Apapun dinamakan, jika engkau cinta setengah mati setengah hidup padanya, maka nama itu terdengar seperti musik terindah di telingamu. Itulah maka seorang kekasih diberi nama yang sangat terpuji, yakni ketika Sang Terpuji Memuji diriNya sendiri. Pada titik inilah aku melesat ke Segitiga Bermuda meski tak yakin akankah benar kutemukan irama kalipso membuat pinggul-pinggul mengayun bergoyang-goyang. Jika pun kukenakan kaliko dan jubah genggang, ini sekadar meninggalkan warisan leluhur kafirku berupa kain dan ikat kepala batik, sedang kepalaku botak.

Cinta, kawan-kawan, tidak untuk dipancar-muncratkan. Cinta tidak untuk ditebar-umbarkan. Cinta untuk dipusatkan, dipumpunkan, dan dituang perlahan-lahan sekadar membasahi bibir, lidah, dan kerongkongan. Bukan cinta namanya jika kau jejal-paksakan sampai tersedak tenggorokan. Jika kau merasa di depanmu ada Bunda Elly Farida, yakni istri Dr. KH. M. Idris Abdush-shomad, maka biarkan saja. Jika itu fotonya, barulah kau buru-buru berselfie dengannya, seperti pernah kau lakukan pada Kyai Idris. Begitu cara menunjukkan keterkaitan dengan Partai Keadilan Sejahtera.

Lihat, blog ini meski tolol banyak mengandung tips dan trik berguna: di atas itu contohnya. Trik lain yang mungkin bemanfaat adalah bagaimana cara menggoda seorang perempuan usia akhir duapuluhan, yang terpaksa menginap di apartemenmu karena kemalaman dan tidak punya tempat lain untuk tidur, agar mau bercinta denganmu. Putarkan serenada cahaya bulan--awas, bukan serenada cinta Sunindyo, karena ini nama anaknya Profesor Wikan Danar Sunindyo--dan buatkan minuman dari campuran whisky, vodka, gin; apapun itu yang berkadar alkohol di atas 40 persen. 

Dengan trik ini, jangankan seorang perempuan yang kaukenal, seorang asing pun akan menyiramkan ramuan itu ke mukamu hatta menjentikkan korek api hingga kepalamu jadi obor. Jika kebetulan apartemenmu ada di ketinggian, maka sejurus kemudian ia akan menendangmu sekuat tenaga sehingga engkau terhambur keluar jendela dan melayang bebas di udara malam dengan kepalamu berkobar-kobar. Tidak perlu kuatir. Rasa sakit yang mungkin menderamu beberapa detik saja akan segera hilang ketika kepalamu menghantam tanah atau permukaan apapun yang menyambut.

Sunday, July 16, 2023

Kelenting-kelentang Ikan Melenting Telentang


Kukeluarkan kabel pengisi daya berwarna putih pemberian Rasmiwok yang tidak pernah terlihat dan terdengar sakit, kugunakan untuk mengisi daya ponselku yang memberikan koneksi internet pada buku kromku. Di kejauhan terdengar anak belajar mengaji dan retroaksi ini benar-benar harus dihentikan jika tidak mau semakin bingung. Apa boleh buat, di hadapan ada botol plastik kosong bekas air zam-zam lebih dari seminggu ke depan. Di sinilah engkau bisa melihat seperti apa masa depan jika terus-terusan beretroaksi begini, sedang mulut rasa pasta gigi mint segar.
Tadi padahal hampir mengalun debu bintang jika saja aku tertib mengoperasikan galeri. Berhubung tidak, maka kini siang-siang hari di rumah Yado entah di masa yang mana, ketika masih ada jalan sutra. Apakah masanya sama dengan diberkati memukul-mukul beduk, bisa jadi. Badan menua yang tidak pernah diolahragakan masyarakat ini sering mengantuk. Jika tidak dirampakkan jari-jari mengantuk. Jika harus pakai membaca dulu mengantuk, maka tiada sesuatu pun kuhasilkan kecuali entri-entri tolol seperti ini. Itu hanya alasan bagi pelupuk mata yang berat.

Ada orang-orang yang sampai merasa lelah kesakitan. Puji Tuhan aku masih sekadar lelah merasa kesakitan. Orang tolol menarik garis tebal dan tegas di antara badan dan jiwa, padahal manusia hanya dapat merasakan dan menduga-duga. Yang tahu persis bedanya hanya Ia Yang Maha Terpuji. Bukan tidak biasa minggu-minggu pagi begini aku diselimuti perasaan sakit yang laten dan dorman dalam jiwa, yang merayapi sekujur badan, menusuki menghisap darah seperti keluarga besar kutu busuk atau kutu anjing atau kutu ayam. Semua menjijikkan, aku tidak berdaya apalah.

Bukan pula tidak biasa jika minggu pagi telinga disumpal dengan hari ketika kita menemukan cinta sekali lagi, sedang perut disumpal dengan nasi lemak gurih bertabur sejuta lauk, dari mulai telur balado, bihun goreng siram bumbu kacang, semur kentang, oseng tahu kikil, tidak ketinggalan kerupuk merah meriah. Tiada salahnya jika secangkir besar keramik melingkungi teh susu serbat jangkrik aroma uwuh di pagi hari minggu yang sungguh terasa nyaman. Itu semua adalah hal-hal yang biasa, benar, dan semoga saja membawa kebaikan bagi alam seisinya berbahagia.

Tinggal itu saja kebahagiaanku, dan mungkin kau akan menasehatiku untuk mencari kebahagiaan tidak dari makanan. Jangan lupa bahagia bagiku berarti jangan lupa makan karena, sungguh, sudah lama aku lupa seperti apa rasanya lapar. Aku hanya tahu, jika sampai perutku sakit bahkan kepalaku sampai sakit, itu berarti aku harus segera makan jika tidak ingin gemetar keringat dingin. Togar berkata, seperti halnya semua orang yang mengobati penyakit jiwa dengan lari, semua masalah perut hilang setelah membiasa lari, kuketik agar sewaktu-waktu terbaca olehku.

Lantas, apa tidak boleh aku sekadar menikmati minggu pagi dengan mengorek-ngorek menambang kotoran hidung sembari memandangi ayun-berayunnya dauh-daun kenanga pada ranting-rantingnya yang masih kurus. Semua kotoran hidung yang kuperoleh kupeper-peperkan pada paha telanjangku sendiri yang berambut-rambut, bukan paha telanjang siapa-siapa; karena manusia berambut bukan berbulu. Jika sudah tidak pernah kutemui manusia berbulu dari jenis kelamin apapun aku justru bersyukur. Itu artinya aku tidak bisa melihat sebangsa siluman.

Bahkan malam-malam menjadi lebih baik setelah bertambah tua, mungkinkah. Bisakah justru bertambah sehat, bertambah bahagia dengan berambahnya usia, sedang kebiasaan buruk kebanyakan bicara tidak kunjung berhenti. Bilakah lantai-lantai mesjid atau mushala kecil saja akan disapu dan dipel, sajadah-sajadah akan dikebutkan dan dijemur, azan-azan akan dikumandangkan lima waktu, dan kalimat-kalimat tanya akan diberi tanda tanya. Tidak, setidaknya belum, di minggu pagi yang cerah di bawah pengaruh bocah lelaki yang sedang bertingkah ini. Belum.

Saturday, July 15, 2023

Lain Hari Lain Lagi Sakit Hati. Aku Merindu Muruku


Begitulah teknik pelambangan yang dikembangkan oleh Begawan Toni Edi Riwanto yang jantan lagi pemberani, bukan banci bertitit sepertiku. Uah, untung keriangan gadis nakal ini menerangi suasana hati, mengusir kabut mendung kemurungan yang bermuram-durja. Kalau ini teknik yang ceritanya aku kembangkan sendiri, seperti mengecrotkan saus sambal sari sedap banyak-banyak pada semangkuk munjung mie ayam donoloyo asli Wonogiri. Mengecrot jika berbotol, namun dengan kemasan plastik bantal sekarang ini jadi mendelodok menyelerai; dua-dua bocah berkelahi dilerai.
Karenamu tentunya mengharu-biru jauh sebelum hari-hari di radar angkatan udara Republik Indonesia, namun entah mengapa justru di depan bufet itu, di sofa lipat itu selalu terkenang-kenang. Aku pernah tidur di sofa lipat itu. Tentu saja tidak dalam keadaan terlipat, tetapi dibentangkan. Seingatku aku tidur cepat dan bangun pun cepat, meski shalat subuh kukerjakan setelah terang cuaca. Astaga, aku sudah terlalu tua waktu itu untuk tolol-tololan. Tiga puluh tahun! Betapa tidak menyelerakan entah mengapa digayakan menjadi kambing berkepala batu.

Kini setelah berbicara agak bersemangat sedikit rasanya seperti mau mati. jangankan sambal selera, sambal terasi mentah yang mana aku berebut dengan mbak Melly saja bisa disalahkan. Sekadar bicara dengan seorang kawan lama yang pandai saja tiba-tiba membuat kemaluanku karena tampak lemahnya. Berdentam-dentam sousaphone, berkelenting-kelentang lonceng gadis penghias kalender bergigi kelinci merdeka berambut pirang. Orang Yahudi satu ini hobi sekali bicara mengenai surga dan bidadari, meski jika testosteron masih cukup memang mengudarasa. 

Kurasa kini kupaham mekanismenya, sekadar capek menanda petik tunggal maka dibuat awalan saja. Aku tak berdaya jika seorang diri meski tidak pernah tak merasa jijik pada diri sendiri. Aku sekadar ingat betapa sedihnya menangiskan segenap hatiku untuknya. Berjalan seorang diri entah di mana pun, menyusuri apapun sementara cinta mengkhianati. Demikian juga buku harian yang dirahasiakan, mana tahu ada sepatah dua kata mengenai diriku di dalamnya. Semua itu mengharu-biru remaja tolol usia akhir belasan, maka ia mengakhiri hidup bukan sekadar masa lajang.

Kenyataan bahwa Mang Bedon pernah memintaku bernyanyi tentang seorang gadis yang tengah merayakan ulang-tahunnya yang keenambelas memang menjijikkan hati nurani dan sanubari. Untunglah ia segera berterwelu-welu seraya melumasi rambut kepala yang tidak seberapa cerdas. Sampai kini pun aku tidak pernah sepenuhnya paham mengapa Ibu menyukai raja badut. Memang riang-gembira dan terdengar genial, namun Ibu, tidak sepertiku, bukan sok pengamat musik. Masih lebih mungkin Ibu menyukai syairnya. Itulah yang aku tiada paham mengapa.

Ajakan untuk kembali berkasih-kasihan setelah perpisahan memang sungguh mengharukan, dan dapat saja membangkitkan rasa yang dulu pernah ada. Namun tidak denganku. Harus berapa kali lagi aku ulangi bahwa aku ini binatang malas dari kumpulannya tergilas. Jangankan mobil sedan, sedu-sedan saja aku tak butuh. Tiada pula yang bersedu-sedan karena berpisah denganku. Semua tertawa terbahak-bahak seperti iblis kecil yang jalannya melompat-lompat, melukai perasaan lelaki sederhana dengan cakar-cakar mungilnya. Sungguh terkutuk kelakuannya.

Malam semakin dalam merayap mendekati tengah-tengahnya, seperti entah berapa ribu malam telah kujalani. Ketika muda, malam menyakiti batinku. Kini, malam menyakitiku lahir batin. Terlebih jika ada yang merasa bidadari meski memang benar tidur di kamar sebelah. Suatu kesakitan yang mungkin harus dimohonkan maafnya sebelum menggerus tipisnya tabungan perbuatan baik. Jika Pangastuti dan Rustina Sari sama-sama mengaku ayu apa hendak dikata. Jika penyuka kupu-kupu bentuknya seperti ulat berkamuflase mata palsu apa pula hendak dibuat.

Friday, July 14, 2023

Di Tepi Ij 'Ku Sesapi Oh Sedap Gurihnya Nafasmu


Mengapa tiba-tiba aku sok menjadi cendekiawan hukum, aku 'kan 'dut badut-badut jaman sekarang 'mong omong-omong sembarang. Menyenangi, menguliti yang aku suka hanya kerat-kerat ayam goreng tak bertulang. Menguliti binatang, apalagi manusia, aku tidak suka. Terlebih mengiris sedikit-sedikit di sana-sini seonggok daging manusia hidup yang terikat pada salib bersilang. Kabarnya, jika ujung-ujung syaraf bersentuhan dengan udara karena adanya luka, maka itulah yang diterima dan dipahami oleh otak sebagai perih atau nyeri; ketersengatan merayapi.
Begini lebih baik, mengingatkanku pada dermaga kecil dengan restoran pada ujungnya. Sayang aku sering mengunjunginya ketika masih pandemi. Mungkin ketika pandemi sudah reda seperti sekarang, terlebih di musim panas ini, akan aku lihat betapa pasangan-pasangan dan keluarga-keluarga bersenda-canda sambil bersantap, setelah menyandarkan dan menambatkan perahu-perahu mereka. Nyatanya, di Belanda sana, bahkan di puncak musim panas, matahari sudah berkurang gagahnya sekitar jam tujuh tiga puluh. Setelah itu sungguh nyaman belaka, segar udara dihirup.

Tiada kesakitan 'ku rasa ketika cinta melanda. 'Ku hentikan tepat di sini karena aku tidak tahu bagaimana melanjutkan sesuatu yang bahkan tidak mungkin dimulai. Sekadar dibayangkan pun tidak. Bagaikan lelaki Batak yang menyukai remaja-remaja pria berwajah manis, sampai disiapkan air hangat untuk mandi sepulang dari mana-mana. Apalah bedanya dengan seorang lelaki lembut berkumis tipis, berjualan mie ayam sedangkan ramahnya agak terlalu berlebihan. Kasihan orang-orang sakit ini. Sebaiknya penderitaan mereka, agar tidak menjadi-jadi, segera diakhiri.

Lantas bagaimana dengan lelaki gemuk heteroseksual yang bergoyang-goyang di tepian ombak laut seraya memandang nyalang goyang pinggul gadis remaja bau kencur. Aku yakin ia, meski heteroseksual, tidak tahu main bass. Jika saja ia tahu, mungkin ia akan lebih suka memejamkan mata, menggigit bibir sendiri seraya membiarkan dentam-dentam senar bassnya merasuk sukma. Orang begini meski bom atom meledak dua kali di sekitarnya akan terus kerasukan, meski sudah pindah alam. Sedangkan yang tidak tahu main bass itu entahlah, semoga Tuhannya menolongnya.

Aku lupa di mana tepatnya toko penjual pernak-pernik tentara itu. Apa saja pernah 'ku beli di situ, sangkur, belati, rompi, entah-entah. Aku tidak pernah menyesali perhatianku pada hal-hal yang berbau keprajuritan, sama seperti aku tidak menyesali kenyataan hidup seperti banci berkelamin tunggal. Aku hanya ingat, sangkur yang 'ku beli ternyata dibuat dari material yang buruk maka mudah patah. Belati korps pasukan intelijen taktis bertahan lebih lama, sampai berkarat-karat dipakai bercocok-tanam Ibu. Aku tidak pernah suka bercerita mengenai tentara. 

Maka 'ku susuri jalan-jalan malam di manapun: Jakarta, Depok, Lamongan, Amsterdam. 'Ku bawa sepucuk revolver dan sebilah belati denganku. Pernah 'ku letuskan, pernah 'ku tikamkan, sungguh aku tidak ingat. Setelah tua begini aku lebih suka disebut lemah mental daripada terganggu jiwa. Tidak pernah lagi dalam hidupku 'ku bawa-bawa senjata dalam bentuk apapun. Bahkan jika aku terlihat seperti menyerang apapun, aku tidak bersenjata. Bahkan pistol pribadi berbalut kulit berambut dalam celanaku pun tidak pernah dikeluarkan dari sarungnya yang kain tetoron.

Tidak seperti Mentor Yusuf yang pasti sudah pernah menggunakan secara legal berbagai-bagai senjata api maupun tajam dalam hidupnya. Namun ia pasti tidak pernah meledakkan atau menikamkan senjatanya dengan penuh kemarahan, atau pernah. Masa ia tidak pernah dikirim ke Timor Timur, 'ku rasa pernah. Maka itulah Leo Kristi bernyanyi mengenainya membela orang-orang berbahasa Tetun yang, katanya, darahnya membasahi sabana. 'Ku rasa aku akan membela Leo Kristi, orang Aceh, Ambon, Poso dan menyalahkan Oom Yasin serta siapapun itu sejenisnya. 

Thursday, July 13, 2023

Bob Ramli Ikut Bernyanyi Don Wori Uye Bihepi


Bagaimana kamisku biasanya tak perlu ditanya, namun jangan sampai malah membocorkan betapa rasa badan dan jiwaku; karena ini retroaksi. Lebih baik aku ceritakan padamu mengenai gadis cilik bertelinga caplang berkumis tipis. Kalau kumisku bukan tipis, melainkan jarang. Bilakah digunakan bukan-melainkan, bila tidak-tetapi, rasanya seperti kuda mati tertimpa mempelam. Bapak sampai, seperti biasa, tidak bisa menahan diri untuk berkomentar seberapa besar mangganya. Mangga kwini biasanya besar, Pak, dan mungkin tengkorak kudanya terbuat dari kardus. Matilah.
Lagipula, daripada berbicara mengenai betapa Takwa tidak suka aku terus menyalah-nyalahkan Suto Kebo, lebih baik aku mengomentari gaya bernyanyi Ryan yang masif. Entah dia tahu atau tidak ada varietas anjing yang disebut Mastiff. Aku juga lupa apa istimewanya varietas ini dalam keluarga anjing. Hanya aku ingat, betapa menyenangkannya terkadang menemui keluarga anjing di antara koleksi pustaka dasar yang nyaris lengkap. Sampai hari ini aku tidak habis pikir mengapa anjing ada keluarganya sementara kucing tidak; meski kucing sudah menjadi hama.

Uah, ternyata selama ini aku salah. Aku kira mau dibawa ke mana itu lagunya masif, ternyata armada. Sementara itu, menghapus jejakmu selalu mengingatkanku pada suasana ruang bercengkerama rumah Yado tersayang di waktu malam. Lampu neon tabung seratus watt menerangi, duduk di kursi plastik bintang singa yang nyaman berleyeh-leyeh, menonton tivi bisa jadi liga Inggris ketika Liverpool sedang berlaga. Semua itu dari waktu-waktu yang masih jauh lebih muda. Entah mengapa ini juga mengingatkanku pada puding roti, bisa dari Citos ataupun Sency.

Mungkin ingatan-ingatan akan waktu-waktu yang menyenangkan dalam hidup akan membuat seseorang bertahan hidup. Selama ini aku bertahan hidup hanya untuk menghadirkan kembali waktu-waktu seperti itu, terutama, seperti judul blog ini, dari masa-masa di Kemayoran. Entah mengapa, meski masa-masa di Radio Dalam, Cimone, Radio Dalam lagi, Magelang, Surabaya, Radio Dalam lagi, sekitar UI, Maastricht, sekitar UI lagi, tepi Cikumpa, Amsterdam, tepi Cikumpa lagi tak kalah menyenangkan, Kemayoran selalu mendapat tempat istimewa di hatiku.

Tempat-tempat yang aku sebut di sekitar UI di atas sebenarnya banyak sekali dan seharusnya dirinci. Namun penyebutan dan perincian itu memerlukan suasana hati yang sangat khusus untuk masing-masingnya, karena tiap-tiap tempat itu menimbulkan nuansa kesenangan yang berbeda. Ambil contoh, Kost Annisa misalnya. Landasan mobil yang berdebu di musim kemarau, becek di musim penghujan memberikan sensasi-sensasi yang berbeda-beda sepanjang tahunnya. Satu dari lainnya tidak kalah menyenangkan, meski turunan Cemong acap berak tahi di situ.

Bahkan malam-malam di lorong-lorong dan selasar-selasar Fakultas Hukum Universitas Indonesia pun memberi sensasi-sensasi yang berbeda-beda dalam tiap masanya. Terkadang kini melewati pantry dekanat seakan tiada yang penting darinya, padahal entah berapa malam aku habiskan ber-party line di situ acap sampai subuh menjelang. Biasanya itu aku lakukan setelah menyantap habis piring terbang yang tidak dimakan para pimpinan fakultas atau dosen-dosen lainnya. Berbincang dengan lawan bicara bersuara lembut seperti Mila Bonita sambil berkepul-kepul.

Aku masih sangat muda ketika itu, mungkin 22 tahun, ketika aku sakit flu lumayan berat. Berjalan dari Gang Mesjid, aku menuju ke kampus karena memang tidak ada tempat lain yang dapat dituju. Dengan badan demam menggigil begitu, tentu aku langsung ke ruang senat yang ternyata terkunci. Tidak tahan lagi, aku ke Mushala al-Fath dan mencoba tidur di karpetnya, namun tidak bisa nyenyak. Aku lupa bagaimana caranya, apakah aku berhasil masuk ruang senat atau menghabiskan malam di al-Fath. Nyatanya, aku sembuh dari sakit itu dan masih hidup sampai kini.

Wednesday, July 12, 2023

Kemacangondrongan. Antara KSHM dan LPHM


Menjelang tengah malam ini, aku tidak ingin berbicara mengenai taman firdaus atau kunci pembukanya. Aku hanya kangen pada goblokku kini. Begitulah aku menulis goblok dengan "k" bukan "g" agar dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku bahkan sampai harus memeriksa kamus bahasa Inggris dan Indonesia sekaligus untuk memastikan nama pekerjaanku, yaitu, teoretisi hukum. Uah, terdengar sedap jika ditulis begitu, terlebih jika ditingkahi oleh seluruh cintaku dalam irama latin lautan teduh. Ternyata tingkah hanya boleh satu di sini.
Ke mana kini 'ku 'kan mengembara, jauh atau dekat tidak menjadi masalah. Aku hanya harus merentang masa dan merampakkan ketak-ketik jari-jemari. Terlebih kenyataan bahwa aku tidak pernah bisa melupakan Simon van der Valk sampai detik ini, seakan mengaminkan doa-doa Ibuku mengenai Amsterdam. Sedihnya, aku ini tiada lebih dari sekadar pembual. Naga yang ekstrim, suka membesar-besarkan persoalan. Itulah juga mungkin penyebab ketertarikanku pada teori hukum. Kebanyakan gaya, meski memang benar aku didoakan Kakekku menjadi seorang pemikir.

Kesenduan ini entah mengapa membawaku ke Pelabuhan Mutiara. Entah apa yang kuminum-minum pada saat itu, bourbon, sherry, atau whisky. Namun itu sebenarnya Jalan Yado 2 sisi selatan. Ya, karena aslinya jalan itu dibelah oleh Blok E berpunggung-punggungan, tetapi memang nomornya tidak berurutan. Jika dimulai dari sudut tenggara, itulah E1. Sudut timur lautnya E2. Namun di sebelah barat E1, E3 dan E4 berurut-urutan. Selanjutnya, E6, 8, dan 10 di sisi selatan, sedangkan E5, 7, dan 9 di sebaliknya. Mungkin karena membingungkan, sisi utara mempertahankan nama Yado 2, sedangkan sisi selatan diberi nama baru menjadi Yado 5.

Lantas sebelah kanan K28 terdapat K27 rumah Oom Munthe, K26 rumah Oom Irsan, K25 rumah Pak Mustafa. Ke sebelah kiri rumah Pak Effendi, Pak Parmo, Pak Barjo, Pak Tono... sampai di sini aku tidak yakin urutannya, pokoknya ada Pak Ismail, Pak Sujud, Pak Kartono, dan Oom.. aduh lupa. Bapaknya Dito dan Todi pokoknya. Nomornya aku juga tidak yakin, karena seingatku rumah Oom Otje dan Tante Nelly nomor K33. Inilah Kompleks Angkasa Pura Kemayoran Gempol di Apron Timur, ilham utama dari goblok ini, tempat nan amat indah permai menyamankan hati. 

Ada pula Cimone Gama 1 nomor 26. Semua ini jika 'ku tuliskan menyakitkan dada, membuat sesak. Jelasnya, aku masih harus ada di dunia ini. Aku mungkin masih harus memastikan hukum adat menjadi entah apa-apa. Mungkin aku masih harus menyelamatkan peninggalan Pak Benny dan Pak Teddy. Mungkin aku masih harus terus mencari cara untuk ambil bagian dalam upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Si Tolol ini baru saja tahu lho bedanya sosialisme komunis dan sosial demokrat. Memang tertarik padanya saja sudah tolol.

Oom Novi meninggal sekira setahun sebelum Bapak. Oom Novi dan Oom Irsan itulah teman-teman seangkatan Bapak di Curug dahulu. Nama yang selalu 'ku dengar sedari kecil, yang setiap kali mendengarnya selalu menerbitkan rasa bangga, seperti selalu bangganya aku pada Bapak. Anakku yang manakah yang bangga padaku. Pada titik ini aku terlempar ke Lantai 4 Gedung D FHUI, ketika perasaan gila melanda seorang perempuan muda seraya menidurkan anak-anaknya. Sungguh aku yang ada kecenderungan ini merasa baiknya terjun saja demi cantiknya melodi.

Inilah cinta dalam hidupku. Entah berapa lama lagi aku hidup, 'kan 'ku jalani dengan cinta ini. Segala kesakitan fisik mental kontan hilang bersama cintanya yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Aku hanya tahu tersedia bagiku separuh jiwaku entah di mana. Aku selalu tahu rambutnya cantik, tebal mengombak begitu, Akan halnya sekarang telah dihiasi berlembar-lembar uban justru menambah kecantikannya. Meski tidak pernah terbayang tepatnya bagaimana, inilah cinta bagiku. Di hidup yang ini, di hidup yang manapun, engkaulah cinta dalam hidupku.

Tuesday, July 11, 2023

Pesawatmu Multiperan Bertempur Segala-cuaca


Suatu percobaan nekad mengetiki dibalau hiruk-pikuk simfoni disharmonik yang menunjukkan betapa kacau suasana hatiku. Tidak perlu itu. Kenyataan bahwa Juli ini di setiap harinya terdapat entri sudah menegaskan hal itu. Apa benar hanya setiap di pojokan ini aku kembung sekembung-kembungnya, dan apakah itu lebih baik dari rindu serindu-rindunya. Lagu-lagu kampungan meski dimainkan dengan saksofon dan piano tetap saja kampungan, tidak seperti sekantung permen Hack's yang 'ku beli bersama dengan susu jahe hangat sari. Rasanya senantiasa hangat.
Aku masih ingat ketika asa itu masih ada. Aku memberi makan anakku roti lapis telur dan sayur-sayuran di meja itu. 'Ku marahi dia karena sudah berjam-jam tidak habis juga makannya. Seorang pembeli memesan nasi gemoy buatanku. Ia kelihatan lahap memakannya. Memang diakui oleh si pembeli, nasi gemoynya enak, sayang porsinya kecil dan harganya mahal. Seandainya saja dijual pada harga Rp 20 ribu dengan porsi tiga, atau setidaknya dua kali lipat, mungkin masih dipertimbangkan orang. Akan tetapi semua tinggal kenangan. Telah 'ku ecer-ecer nasi gemoy semuanya.

Sama seperti seekor lalat kuda hinggap di kursi di hadapanku, seperti itu jugalah segala keributan ini seperti menepuk-nepuk cepat kepala botakku, lantas membenturkannya ke papan tulis yang 'ku gambari khayalanku mengenai empat orang penerbang tempur. Sudah berapa papan tulis, baik yang hitam maupun putih, yang 'ku gambari. Menggambar memang pernah menjadi hobiku. 'Ku hentikan setelah 'ku merasa tidak relevan lagi. Seperti halnya Senayan City, mal sebesar itu di seberang Senayan Trade Center dan Plasa Senayan, setelah lima belasan tahun tidak relevan lagi. 

Bukan kemarin, melainkan hari ini, udara sungguh panas memanggang sampai-sampai aku tidak kuat membuka mata kecuali hanya sebentar. Selebihnya aku melingkar di atas sajadah yang 'ku jadikan alas tidur hampir sepanjang hari sepanjang petang. Sanggupkah aku menjejalkan sesuatu lagi ke dalam perutku sekadar pelipur lara, sedang menurut Awful aku sudah seperti babi. Ketika 'ku memejamkan mata barusan, terbayang olehku beberapa pilar putih. Selebihnya mulus, kecuali satu yang seperti berparut dan berwarna agak gading untuk menandainya sebagai investasi.

Tidak dapat dipungkiri, badanku memang tidak seberapa segar. Itulah sebabnya sulit diajak kreatif, terlebih mempersiapkan suatu risalah seminal. Meski seperti dalam gambaran di atas, risalah akan berakhir berdebu penuh sarang laba-laba. Tiada seorang pun 'kan peduli. Tak perlu sedu-sedan itu. Aku ini binatang malang dari kumpulannya terkenang. Ah, ingat aku sekarang. Menantunya Paman Minnow, walau kemungkinan terbesarnya bukan. Mau apa dia jauh-jauh sampai ke Yogya. Bagaimana aku bisa bangun mengancingkan celana, mengencangkan ikat pinggang.

Aku jadi ingat penjual kentang dengan berbagai rasa di Aeon Mall. Entah mengapa aku mengingatnya. Terlebih minuman jamu gaya-gayaan. Tidak ada yang perlu disedihkan ketika tidak ada yang benar-benar sayang. Anggap saja kutu busuk berbaris di lipatan kasur yang tidak pernah dijemur, yang tidak pernah benar-benar terjadi padamu. Seperti sebagian besar khayalan erotis yang tidak berdaya, seperti album stiker Panini yang tidak pernah lengkap stikernya, mau dunia bertahan hidup, Kolumbus, atau Piala Dunia 1984. Cukuplah album perangko menyamankan jiwamu.

Masa kecil atau masa manapun yang telah lampau sudah menghilang darimu. Akan halnya apapun yang tinggal dalam benakmu sekadar jelaga sisa-sisa pembakaran yang tidak sempurna. Aku jelas punya ketertarikan pada ilmu lingkungan. Nyatanya itulah jurusanku ketika mengambil program master dahulu: Pembangunan Berkelanjutan, dan tidak ada seorang pun yang boleh merenggutnya dariku. Kecintaanku pada manusia dan alam sekitarnya tidak bisa hilang begitu saja, meski terkadang karya sastra membuat rasa kagum membuncah meluap-luap; sekarangpun tidak.

Monday, July 10, 2023

Daugaard Vajpayee dari Tendangan Ho Chi Minh


Memang perlunya mengecek ensiklopedia daring hanya untuk membuat judul, yang seperti biasa tidak ada hubungannya dengan isi tulisan. Judul itu harus begini, begitu, memang siapa engkau memberitahuku bagaimana aku harus membuat judulku. Apa kau memenangkan perlombaan mirip-miripan lebih banyak dari Katon Bagaskara. Jika tulisan ini 'ku teruskan, sekadar agar ada sesuatu yang 'ku hasilkan sebelum memejamkan mata. Bahkan sekadar tulisan seperti ini, seperti naik Veolia jurusan stasiun-Malberg. Aku bahkan punya karcis langganan entah untuk berapa lama.
Bertubi-tubi yang kau berikan, sampai-sampai aku tidak berani membuat kata-kata baru yang tidak bermakna, seperti tubir diberi awalan ber- lalu diulang. Hendak pergi ke mana aku, hendak pulang ke mana. Badan paruh-bayaku sudah tentu tidak seperkasa ketika muda, meski aku tidak pernah benar-benar perkasa seperti yang 'ku khayalkan. Bahkan sekadar meneguk kopi hitam kental panas saja aku tidak berani, apalagi minuman beralkohol. Rokok jelas tolol apalagi jika cita-citanya agar kurus. Lihatlah Jack Daniels menyapa musim dingin dari etalase toko minuman keras itu.

'Ku sangka kesabaranku akan habis. Namun ternyata, setelah melihat hasilnya, hatiku terasa lega. Dadaku lapang meski aku tidak pernah tertarik pada bidadari turun dari kahyangan. Di mana pun turunnya, mau di halte atau stasiun manapun silakan saja. Aku tidak akan melirik apalagi sampai menengok. Aku tidak suka pernak-pernik hias-hiasan. Aku suka hahaha tembikar serbaguna. Sungguh, karena lampu kristal mustahil serbaguna. Tembikar jikapun pecah masih bisa digunakan untuk berbagai-bagai keperluan, bahkan sekadar menggaruk pantat gatal berbisul-bisul.

Jikapun ingin rumit, penuh dengan pernak-pernik dan berbagai hias-hiasan, maka lakukanlah pada pendengaranku. Aku tidak pernah berkeberatan dengan kecanggihan ensembel alat gesek yang berlapis-lapis mengalun-alun seperti gemericik air terjun kecil bertingkat-tingkat. Aku menyukainya sama dengan kesederhanaan kombo dua gitar, satu melodi satu ritem, satu bass dan satu set dram. Selebihnya aku suka ketelanjangan. Ah, alinea ini banyak kata-kata panjang. Aku khawatir sulit diratakan kanan-kirinya. Keindahan temaram lampu bohlam pun nyaman.

Cinta kepada Cinta, jatuh cinta hanya kepadaNya tidak akan pernah salah; bahkan selalu benar dan merupakan satu-satunya kebenaran yang menghilangkan semua keberadaan. Jika cinta sampai bersatu dengan Cinta, maka cinta tiada; yang ada hanya Cinta. Ini seperti rastafari mengatakan aku dan Aku. Ini suatu kejujuran. KehendakNyalah aku ada, maka aku harus berusaha keras untuk menjadi tiada; karena tiada aku kecuali Aku. Maka mengalirlah dengan sejuk, seperti aliran sungai di bawah taman. Mencintalah, bercinta banyak-banyak agar cintamu Cinta. 

Bahkan segala makna tak berdaya apatah lagi kata-kata. Ini seperti ketika aku membawa Brondby menjuarai Liga Champions entah berapa tahun berturut-turut. Waktu itu pasti asap berbatang-batang rokok mengepul-ngepul entah di ruang senat atau ruang tamu kontrakan ulat. Apa benar yang 'ku makan saat itu, adakah Mpok Mideh atau Sasari. Dari mana uangnya sungguh memalukan. Memang pantaslah jika aku ini semacam kotoran unggas yang bertampang paling bodoh, yang membuat malu dinosaurus ornitopoda nenek-moyangnya; maka digeprek diberi sambal.

Martabat itulah yang aku tak punya. Harga diri itulah yang sudah ludes tergadai. Terasa betul bedanya cerita yang dituturkan oleh pelaku asli, terlebih jika mereka adalah prajurit sungguh-sungguh, perwira tulen yang baik dan benar; dibandingkan dengan yang dituturkan oleh pembual sepertiku ini. Tinggal lagi diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, entah mengapa itu yang dicari. Sampai-sampai mempengaruhi gaya bertutur, sampai mengekang kreativitas. Tidak seperti kekangan seorang dominatrix menyumpal mulut, tetapi tali jelek butut pengikat leher bandot nan kurus.

Sunday, July 09, 2023

Mistis: Bang Nizwar Hampir Mati Kena Hipotermia


Baru 'ku sadari ternyata aku masih punya satu kesempatan lagi untuk mengitiki hahaha, meski di pojokan ini, entah mengapa, seperti halnya terakhir kali aku di sini, perutku kembung juga. Ah, aku tahu penyebabnya: bakso goreng! Sejuta topan badai, iguanodon bisulan, meski setelah yang aroma daun jeruk habis rasanya jadi lebih berterima, tetap saja, sudah tidak enak membuat kembung pula. Namun, tetaplah, dalam kesejukan belaian sepoi-sepoi basa cinta dewasa muda, 'ku rasakan kenyamanan yang lebih baik dibanding yang dirasa Chris di dunia bawah.  
Ini adalah gambar semacam alat musik petik, yakni, ulekeket. Coba petik kalau berani.
Akan halnya mengapa sampai ada gambar di atas ini, ada aurat diumbar-umbar yang tidak lagi sekadar menyengat atau menampar, tetapi menabrak seperti kereta malam pengangkut barang yang meledakkan tidak saja sapi-sapi tetapi juga Sersan John Monfriez beserta mobil sportnya sekalian. Ah, sedapnya Bi Iin memanjakanku dengan ketelatenan khas Jepang, serasa menenggak, tidak sekadar meneguk, tetapi menenggak sebotol porselin mungil sake yang memabukkan, menerbangkan ke awang-awang; terutama karena pelafalan "s" yang cacat.

Masa 'ku biarkan sebaki tamago sushi mubazir begitu saja, sekadar menemani gelitik pada ketiak sendiri. Sesusah apa orang-orang muda, 'ku taksir dalam usia dua puluhan awal, yang merayakan kebersamaan bersama Suhu Yo. Bagaimana pula dengan wajah diplomat beda nasib sehingga harus menjaga warung menjajakan makanan yang pura-puranya Jepang, meski entah apanya yang murah hati. Harganya tidak murah, porsinya tidak ekstra jumbo, rasanya aku tidak mau tahu. Pak Untung yang telurnya asin bersama keluarga kecilnya berlalu di depanku. 'Ku sapa.

Akan 'ku nikmati waktu-waktuku di sini, karena dunia ini indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja. Ada yang menikmati dengan hobi-hobi jantan seperti otomotif atau otokritik. Aku lebih menikmati gelitik pada ketiakku sendiri, terlebih jika bukan jari-jemariku sendiri yang menggerayangi. Jika pun kesabaran bukan kelebihanku, mungkin kemasabodoan yang membuatku tabah menunggu kembung berlalu. Akankah aku sabar menunggu badan menghangat jika suhu inti badanku merosot. Jadi ingat menunggu feri setengah jam di Pontsteiger ketika itu.

Jika Tante Rafika berpikir ia bisa meniru teknik Tante Astrud, tidak mengapa. Memang sama-sama menyamankan dengan caranya sendiri. Bagaimana dengan seorang tante yang berkomentar gila juga. Bagaimana dengan tante penjual laksa bihun yang ada tahi lalat berambut pada dagunya. Bagaimana dengan Tante Jane yang berdansa dengan Karma dalam sepatu merah meronanya. Oh, dunia ini penuh tante-tante, aku mendesah seperti seorang dayang-dayang yang habis dihisap madunya oleh seorang kapten alien. Astaga, tidak bisa hilang bayangan durjana itu.

Kemana perginya usia muda, 'ku bertanya pada angin bau yang menyembur dari lubang sempit di antara dua pipi pantatku. Tak lama lagi ia akan menyembur, angin bau itu, 'ku harap, karena kembung akibat bakso goreng keramat ini memang lumayan busungnya, seperti Catherine Wilson bahkan Anna-Nicole Smith sekalian. Sungguh, aku tidak pernah terlalu rewel masalah bentuk, karena yang penting rasanya. Jika ternyata membusung ya itu sekadar bonus. Jika bisa dipelintir-pelintir seperti kata-kata itu seperti kelakuan pengecut. Ah kharisma cinta memang abadi.

'Ku yakin cintaku suci pada Istriku Cantik. Meski aku sering bau tahi, sebagaimana kentut dan selangkanganku, cintaku padanya 'ku yakin suci. Aku suka begitu. Aku tidak suka noda dan menodai. Aku justru suka menyeka, membersihkan noda dari permukaan mana pun. Aku tidak peduli jika mukaku berlumurah tahi manusia sekalipun, karena orang mati matanya terbuka tidak tertutup. Aku tidak peduli jika harus memeluk ranjau personil atau tank sekalipun. Cintaku suci. Aku tidak tahu apakah cintaku pada Cinta sudah patut. Aku hanya tahu mencintai Istriku Cantik.

Saturday, July 08, 2023

Biarlah Sabtu-sabtu Harus Ada Entrinya Jugapun


Langkah pertama memang harus selalu diratakan terlebih dahulu kanan kiri, seperti halnya terlebih harus diikuti oleh dahulu. Setelah dienceri memang lebih baik. Ternyata dua saset untuk satu mug hitam masih terlalu manis. Ketenangan telah digantikan oleh kenyamanan yang tidak pernah 'ku dapatkan di Amsterdam atau di mana pun selain tepian Cikumpa. Apakah sebutuh ini aku akan kenyamanan ketika di Maastricht, ketika alat-alat tubuhku masih bekerja dengan relatif lebih baik. Meski kelelahan berjalan dari kampus sampai asramanya Tesfaye, aku petualang.
Percaya tidak percaya, ini gambar taik kuciang warna-warni. Makan apa 'tuh kuciang.
Bersepeda ke pondokan Bong Il bahkan masih terasa nyaman. Aku mengenal Manja di Radar AURI, Qodir yang memperkenalkannya padaku. Semenjak itu aku selalu suka padanya, meski mengingat penggambarannya selalu membuat jengkel. 'Ku ambil lagi untukku sendiri ketenangan itu, meski sudah paruh baya begini, untuk berdua-duaan saja bersama Manja. Aku suka keindahan dan kecantikan. Aku tidak suka kengerian seperti anggota-anggota tubuh yang terlepas dari tubuhnya. Terlebih kaki yang dijahitkan pada bahu dan lengan pada pangkal paha.

Wajar saja jika aku menyukai musim semi di mana bunga-bunga bermekaran, ketika tatapan membirahikan hanya dibalas dengan kernyit mempertanyakan. Kesederhanaan yang tidak pernah 'ku temukan di mana pun. Sampai-sampai aku takut, jangan-jangan aku tidak suka kesederhanaan. Pikiranku rumit dan aku seringkali tidak sabar pada obrolan remeh-temeh. Sekali-sekali boleh 'lah. Setiap saat, pasti akan 'ku bungkam dengan ciuman penuh gairah pada mulutnya. Masih mengoceh juga, tambah aku sumpal dengan lidah, menekan lidahnya jauh ke tekak. 

Bagus 'lah aku segera dibetot dan dilemparkan jauh ke siang hari di tepi apron timur lapangan udara Kemayoran. Tentu saja aku terlalu kecil untuk sengaja menonton Album Minggu Ini, namun aku juga lupa apakah ketika itu televisi disetel. Masih lebih mungkin pemutar kaset memainkan instrumentalia cantik milik Ibuku, sedang aku bertiarap di lantai ubin yang dingin membaca-baca atau berprakarya. Aku lupa apakah Bapakku libur di hari Minggu. Tidak mungkin lagi ditanyakan pula. Uah, tiada berhenti membetotku, melemparku jauh ke asal-usul goblok ini: Asalku.  

Entah mengapa selalu terkenang jika kembali ke sana, mungkin mie ayam pertamaku. Penuh bersimbah saus pedas yang masih terlalu pedas untuk anak kelas 1 SD, 'ku makan di menara pengawas Kemayoran atau entah di mana tepatnya aku lupa. Ah, akhirnya maju akan ke depan sedikit, ketika aku kelas 5 SD, kepada kelurusan, ketipisan, kehitaman, waktu-waktu ketika aku kurang lebih setua Adjie sekarang. Album perangko warisan Mbak Tiput menjadi salah satu temanku paling setia. Entah mengapa dari semua lukisan Czobel Bela, Mimi yang paling 'ku ingat. Itu salah satunya.

Astaga, dari sini aku mengalami lompatan kuantum ke Sabtu siang berpakaian dinas lapangan hijau-hijau. Topiku mungkin bergaram. Dengan perut setambun sekarang, aku tidak bisa membayangkan betapa sabuk torsi bisa muat selingkar perut. Terlebih setelah mengikuti pendidikan dasar keprajuritan, ketika sabuk yang sama dikecil-kecilkan seramping mungkin; bahkan sampai hilang setelah wisuda prajurit. Entah pakai apa aku ketika kembali ke Akademi Angkatan Laut. Aha, ini lebih bagus. Dingin-dinginnya musim semi Sint Antoniuslaan di kamar sewaan.

Kakus di bawah tangga itu, yang mungkin pernah 'ku rusak gara-gara 'ku jongkoki, tempat di mana aku mengulang-ulang pengalaman mengikuti pergerakan Marinir Keenam dari Baldurshagi sampai Tinian di Perang Dunia Kedua. Sudah, aku tidak mau lagi dibetot dan dilempar. Aku diam saja di sini sekarang, mengitiki ketiak sendiri, merasa geli sendiri. Sabtu siang bermendung begini aku tidak ingat di tempat-tempat lain di mana aku pernah tinggal. Mungkin selama di Belanda, tetapi di Depok sini juga sering, Sabtu siang bermendung begini. Entah masih berapa lagi untukku.

Friday, July 07, 2023

Babat Babi Buta Berkabut Berbisul-bisul Begitu


Langsung saja 'ku rampakkan: yang 'ku ingat adalah aku mandi segar sekali, sebelum mengenakan seragam bergaya safari berwarna coklat-coklat itu. Namun itu sepertinya waktu yang berbeda dari ketika aku mengenakan kaus polo biru bekasnya entah siapa di Cornelius, ketika aku pura-pura mengepit kepala triceratops biru seakan-akan helm penerbang. Waktu itu aku lelaki tolol awal tiga puluhan penerima beasiswa dari Departemen Pendidikan Kerajaan Belanda. Mengapa aku masih terus tolol mengitiki begini, sementara Bapak sudah lama meninggal. Sungguh sedih.
Sebuah cangkir plastik bergambar kucing memegang jantung hatinya, yang didapat Kambing dari suatu acara bertukar kado, menampung teh Jawa yang 'ku seduh dengan gelas permata besar. Bertukar kado Jawa membawaku pada suatu kesadaran betapa miripnya. Sama-sama lurus, sama-sama tipis, sama-sama bukan, karena belahan jiwaku berambut tebal mengombak cantik seperti Ibuku. Sudah dua pengintai petembak runduk marinir 'ku kenal: Bob Lee Swagger dan Buck Granier. Dua-duanya, tidak seperti Mentor Yusuf dan Mentor Faisal, fiktif. Meski entah.

Cinta pada pandangan kedua adalah pagi hari, entah malamnya tidur atau tidak, di bilangan Harapan Kita, Karawaci sana. Udara pagi, seperti biasa, dingin, membuatku menghisap entah Sampoerna King atau Mild. Seberapa tolol tampakku pada saat itu, 'ku rasa maksimal. Si tolol tidak tahu malu, dikeluarkan dari Akademi Angkatan Laut karena lemah mental, bergaya jagoan merokok segala. Cinta pada pandangan pertama tidak pernah sekalipun dalam hidupku karena terlalu sombong dan gengsinya, meski teringat suasana Tangerang, Ki Samaun di malam hari.

Langsung terlempar ke Palembang atau bahkan sudut LKHT bekas M-Web yang kini paruh barat dari S&T. Janganlah lagi kau mengingatku kembali, dengan jahatnya memang tidak pernah teringat. Aku ini memang sombongnya selangit. Terus saja berjalan pongah padahal berkali-kali terkena serangan panik, di Deborah, bahkan di kubikel sendiri di LKHT. Kini perutku membuncah, sementara beberapa penduduk Hanoi membunuh dirinya dengan memakan beras mentah sampai perut pecah setelah Jepang menyerah, gudang-gudang berasnya dibongkar Viet Minh.

Seberapa menjijikkan akan ditoleransi demi ketiak berambut lebat, sepertiku sekarang membiarkan cambang dan jenggot serabutan. Memandangi jendela terbuka padahal langit gelap malam adalah suatu nikmat yang harus disyukuri, apapun keadaannya. Ini semua jauh lebih baik ketimbang lorong kuning dingin berbau parfumnya Arum, tanda yang bersangkutan belum lama berlalu. Sampai tidak tahu, karena memang tidak pernah ada yang permisi atau memberitahu. Semua diam-diam saja sendiri, sepertiku berjalan menekuri rel derek bersimbah kotoran merpati.

Memang nyaman nirkabel ini, tidak perlu takut tertarik atau berdengung ketika diisi daya. Tidakkah kau ingat betapa repetitifnya membangun peradaban. Jika pun ada yang tidak repetitif, itu adalah dermaga perahu pesiar berbau pesing kencing pemabuk keparat. Maka menghentaklah musik mengiringi anak perempuan menari sambil menyanyi. Penari latarnyalah yang perempuan, penyanyinya kanak-kanak. Begitu sedap dentam-dentam hentaknya, mengiringi suara serak-serak basah, paruh-paruh baya pendengarnya. Terasa muda dalam hati meski perut kembung.

Dentam irama dari tahun 1990-an awalnya penuh harap akhirnya penuh nestapa. Sepuluh tahun yang mengerikan dilanjutkan dengan sepuluh tahun penuh kepasrahan sampai-sampai menjadi dosen. Sementara itu, pengantin merah menggantung dirinya sendiri. Tidur panjangnya yang gelisah penuh mimpi buruk diganggu Adit dan kawan-kawannya. Lantas mengapa pula ada hantu anak kecil yang meski sudah tidak kecil lagi selalu minta susu dalam dot bayi. Entah sudah berapa kali 'ku ganti karet gelang pengikat gulungan kelebihan tali ranselku, sudah tak terhitung lagi.

Thursday, July 06, 2023

Hanya Bayangan Masa Lalu Ada di Masa Depanku


Aku tidak butuh apa-apa lagi selain buku krom-ku ini. Tidak lagi penting bagiku apakah aku membangkitkan bangsa-bangsa seperti pernah 'ku lakukan dalam dinginnya udara malam Maastricht, sementara Sam entah sedang berbual dengan pacar perempuannya. Tidak juga penting bagiku apakah satu peleton pemanah komposit ditempatkan di Tanjung Kacrut atau tidak. Aku bahkan sudah tidak pernah peduli apakah aku mengenakan kancut atau tidak semenjak rayapku mati. Jika hiburanku tinggal begini, mengitiki ketiak sendiri, peduli apa tiada mengapa bagiku. 
Namun memandang ke luar jendela begini, ke jalan aspal campuran panas yang dahulu tanah becek berbatu, memang mendatangkan suasana tersendiri. Apakah ini rasa bertambah muda beberapa tahun atau kembali ke tahun-tahun yang lebih muda, aku tak tahu dan tak mau tahu. Hanya 'ku tahu, telah lebih waktu sepuluh tahun beranjak, tak juga 'ku tahu adakah dosa-dosaku sudah diampuni. Apa aku harus diinjak-injak dahulu, sampai terburai isi perut dari duburku, baru 'ku tahu 'ku t'lah diampuni.  

Jika kau sudah tahu dan bisa membayangkan betapa Bianca tidak ada putih-putihnya dan Brisia adalah agar tidak seperti mayat, maka tidak ada lagi yang cukup berarti. Membangkitkan bangsa-bangsa, menghancurkan peradaban-peradaban, menyiapkan sarapan yang sangat sederhana sudah tidak pernah dilakukan. Hanya meja ini, yang diletakkan tepat di bawah jendela seperti ketika masih musim dingin di Amstelveen, masih memberiku rasa nyaman. Selebihnya hanya kenangan memilin-milin kotoran hidung sedang air mata bersimbah. Aku tak perlu sedu-sedan itu.

Mungkin malah lebih penting membahas mengenai kelompok kekurangan dana itu. Aku dapat merasakan tidak semuanya hewani. Ada pula yang nabati. Uah, seandainya semua saja nabati tentu lebih mantap, karena yang hewani, meski bagus dikata semua orang, selalu saja bau. Kau bisa menyamarkannya dengan minyak wangi seember atau sepabrik sekalian, bau sabun atau buah-buahan, tetap saja kau bau; dan baumu memuakkan. Tidak peduli jika kau anak haram tentara Jerman yang dibawa lari ibumu dari Norwegia ke Swedia, lantas kini jadi seorang bangsawan: Tetap bau!

Terlebih lidah yang melata-lata membasahi sekujur wajah, wajah sekujur minta dibasahi ludah. Wanita peludah. Hahaha mari kita lihat apakah tepat terjemahannya. Jika sama-sama diperkosa tentara Jepang berkali-kali bisa jadi disebut Tinung saja, meski aku sudah tentu jengkel jika ternyata Granier diperankan Ferry Salim. Mengerjakan pekerjaan rumah, cuih, ada saja orang-orang yang merasa berhak menciptakan jargon-jargon, seperti terus terang terang terus, meski apapun pasti lebih baik dari quasi Assilikidik. Ingin rasanya 'ku ambyar ke dalam pintu air itu lagi.

Tiada apapun yang perlu dirusak, dihancurkan lagi. Tiada rumah-rumah petani atau pion yang kurang lurus, yang karenanya harus dihancurkan lantas diluruskan. Tiada lagi pendeta yang berdoa-doa memanggil-manggil bangunan-bangunan penghasil berbagai hantu dan mahluk menyeramkan, menjijikkan, berbau memuakkan. Semua itu sekadar ketololan yang digantikan oleh mengitiki ketiak sendiri, semata karena tiada ketiak yang mau dan dapat dikitiki. Ketika seorang wanita menyerahkan tubuhnya untuk tempat bersemai bibit seorang pria, sampai melahirkan anaknya.

Siapa bilang pula pikiranku selalu buruk, selalu mendung dan murung. Aku melihat persekitaranku seperti seorang pelancong mengagumi indah pemandangan yang tak pernah dilihatnya, sampai-sampai aku tidak ingin beranjak. Wajarlah jika Vo Nguyen Giap mengidolakan Napoleon, aku saja tidak berani sekadar mengidolakan Giap. Jelasnya, aku bukan seorang pengintai, petembak runduk, atau apapun sejenisnya, amfibi, reptil, atau mamalia sekalipun. Aku, seperti kata instruktur latihan senior Hartman, sekadar muntahan sang pemabuk tolol yang hanya tahu minum anggur. 

Wednesday, July 05, 2023

Mengapa Banyak Lagu Mengenai [Kaum] Pelangi


Inti suara A20i ini memang sedap. Terutama ketika stereo nirkabel sejati--setelah menunggu sekitar dua tahunan--menjadi hanya EUR 12,4 sahaja. Sudah langsung menyumpal kuping, sedap pula. Lantas mengapa putus itu sulit membawa kesakitan pada kemaluan yang tak kunjung sirna. Hanya kejelasan bunyi-bunyian yang dibawa Inti suara membuatnya tertahankan. Selebihnya, seperti putri mikum, jika kau biarkan hidup, kau biarkan makan, maka besar dia, beranak-pinak dia. Tendangan bass serasa detak-detaknya nyaman. Di paragraf ini harus berhenti. Masuk dhuhur.
Apa benar yang membuatmu malas mengerjakan apapun. Tentu karena harus mengerjakan suruhan orang, bukan kemauanmu sendiri. Mendungnya cuaca seperti cermin bagi suasana hatiku, meski ini sekadar ragaan bodoh. Nah, ini malah cocok. Bajingan nekat. Apa yang menahanku darinya kecuali cinta. Setua ini aku sudah tidak berani jauh-jauh dari cinta sebagai pengingatku akan Cinta. Cinta tentu saja bukan syahwat. Dari waktu ke waktu cinta pada Cinta akan membuncah, seperti air muncrat dari pancuran bambu sungguhan; bukan sambung ke selang.

Aku menunggang, mengendali tungganganku, melintasi langit malam. Tengkorak kepalaku berkobar-kobar seperti halnya tungganganku. Bisa jadi aku tertawa terbahak-bahak dengan tawaku yang biasa, dibuat-buat dan menjengkelkan; karena kalau aku sungguh-sungguh tertawa, bunyinya mengikik tertahan. Bayangan-bayangan ini memang telah menemaniku sedari kecil, ketika aku dan lapangan udara hanya dipisahkan sebaris tembok yang tiada seberapa tinggi. Tinggiku memang hanya 171 cm, bahkan mungkin tak setinggi Bapakku yang sampai 173 cm.

Untunglah jiwaku dibuai-buai oleh senandung pecinta-pecinta muda, meski ketika muda aku tidak pernah bercinta. 'Ku susuri jalan-jalan ibukota ketika malam sudah sedemikian renta, bahkan sudah merekah bertunas dini hari yang baru. Ketika itu pun aku bukan bajingan. Aku hanya lelaki muda yang kebanyakan berpikir. Maka kembalilah lagi padaku malam-malam berteman pengolah kata pelopor, menumpahkan benar-benar segala yang menggelegak menggangu ketenangan jiwa. Aku belum pernah berhenti begitu. Menulis adalah akibat jiwa yang bergolak.

Hanya petikan jemari Pakde Bruce Welch pada Fender Stratocasternya sajalah yang menenangkan gejolak jiwaku, membuatnya mengalun-alun seperti ombak di pantai senda gurauan. Terlebih ketika isi buku saku menghancurkan hatiku tanpa pernah 'ku tahu dan sadari ketika itu terjadi. Hanya beberapa saat kemudian terasa betapa pilu dan nelangsa seorang lelaki muda, menyusuri kelamnya relung-relung malam, disiksa oleh pikiran-pikirannya sendiri. Hai, lelaki-lelaki muda, jangan kau sia-siakan kemudaanmu. Lupakan pikiran-pikiran tolol. Jadi lumrah, jadilah biasa.

Tiada tersisa padaku dari kemudaan kecuali kedunguan dan kepongahan. Kini, setua ini, tiada seorang pun 'kan menyayangi. Akankah 'ku terus-teruskan merampak-berondongkan tuts-tuts pada mesin tik portabel berwarna hijau. Apakah karena 'ku hantamkan jari-jariku dengan segenap ledakan di tiap-tiap pembuluh dan urat nadiku, maka hasilnya sampai membekas ke sebalik kertas; ataukah karena mutu kertasnya kurang baik. Maka selalu saja 'ku salin, biasanya setidaknya dua. Satu untuk dikumpulkan, satu untuk disimpan sendiri sebagai arsip. Aslinya entah.

Aslinya bisa jadi disanding bersamaku ketika menikmati semangkuk sop buatan Mamanya Oscar dengan nasi. Masih saja di situ ketika 'ku nikmati mun tahu, angsiu tahu, dan entah apa lagi ketika Oscar masih menjadi boss sampai sekadar jongos. Masih juga di situ dengan sayur tahu kuning, telur bulat balado, dan entah apa tambahannya lagi; bisa jadi sayur kacang dengan tempe. Bahkan di malam hari ibunya Soleh menggoreng nasi atau kwetiau adalah waktu-waktu yang sekadar dijalani dari hari ke hari. Tidur di kamar Jenny yang selalu rapi, agak wangi selalu saja di siang bolong.

'Tuk Mengenang Jenny, Lemonado, Santiago!