Monday, May 31, 2021

Sudah Sebulan Sejak Gadat Mencetak Gol


Setengah sembilan pagi di pojokanku. Matahari mengintip manja dari sela-sela lobang angin, menembus tirai bambu yang 'kugulung sedikit. Setelah semug kecil jahe merah berkepala gula, aku masih menambah lagi kopi susu jahe yang manisnya bukan buatan. Itu pun setelah sarapan nasi kuning lengkap dengan mie goreng dan kering tempenya sekali, bertabur kerupuk bawang dan bawang goreng, masih berlaukkan telur dadar penuh bersimbah minyak, bahkan tahu pedas. Di tentangku, mana di mana anak kambing saya yang sudah bandot menikmati nasi uduk bulu-ayam ali-4a.


Itu pun masih ditingkahi gorengan. Ada bala-bala, tahu brontak, tempe kemul, risol bihun, masing-masing dua. Masih lengkap dengan sambel kacangnya sekali. Aku belum mengecek apakah dalam kantung plastiknya ada cengek. Semua ini kurang dari EUR 5! Apa yang bisa 'kudapat dengan uang segitu. Kapsalon porsi paling kecil saja sudah tidak dapat. Sushi-sushian mungkin masih dapat, namun rasanya aduhai menggelitik perut. Ini hanya sekelumit perbandingan kehidupanku sebelum dan sesudah Gadat mencetak Gol di malam yang menentukan itu, ribuan mil di udara.


Sebulan setelah itu begitu banyak yang telah terjadi, dan tiada yang lebih menjengkelkan daripada entri tak selesai terbengkalai. [emang iya?] Di titik ini, sudah tiada padaku minat untuk bertutur, jangankan mengenai betapa Gadat mencetak Gol, apa yang terjadi sepanjang Mei saja malas 'kurekapitulasi. Namun sudah menjadi kodrat entri untuk diselesaikan dan ditayangkan, maka inilah aku berusaha melakukan tepat itu. Biarlah angan melayang ke sisi utara gedung yang sekarang menjadi Informa, dahulu ada Hero-nya, ketika 'kutenggak habis sekotak susu coklat dingin.

Jikapun 'kucatat sedikit mengenai steikesyen, itu karena kekagumanku pada kehidupan dan kegaguanku menjalaninya. Bukan benar karena sarapan yang dicatu, bukan terlebih Kota Bandungnya itu sendiri yang dua harian itu memang terasa agak lebih sejuk ketimbang Kotaku Depok. Bukan karena itu semua. Jika aku ingin mengenangkan kehidupan, ke situlah benak 'kuarahkan. Tidak sampai semangat atau bagaimana. Hanya saja kehidupan selalu membuatku tersenyum-senyum dikulum dalam hati. Tentu saja, seperti segala sesuatu, 'kusyukuri. 'Kurayakan, tunggu dulu...

Tidak pernah 'kurasakan dalam hidupku yang ini merekahnya kehidupan. Kehidupan dikeremus, diuwel-uwel tepat di hadapan batang hidungku. Jika 'kuingat-ingat mengenai kehidupan, yang terasa hanya pedihnya luka dalam yang tak kunjung kering. Saat ini bahkan aku tidak punya cukup tenaga batin untuk menyalahkan diriku sendiri seperti biasa. Apapun adaku seakan tiada arti, bagai lolongan anjing di malam hari. Kenistaannya sepadan dengan basah lembabnya lantai kamar mandi yang tiada terlalu bersih. Entah berapa kamar mandi, harum atau bau tai.

Aku nirguna katamu, 'Gar?! Bukan afirmasi maupun negasi yang akan 'kaudapat, melainkan asfiksasi. Membayangkannya saja sudah bergidik, tercekik di jalan lahir. Aku tidak suka bahkan jika sekadar terlintas dalam benak. Hanya tai yang pantas dibrojolkan di kloset jongkok agak bersih. Selain itu jangan, karena itulah kehidupan. Kehidupan, meski sudah rusak parah, sudah tidak bisa dibetulkan lagi, tidak sepantasnya diflush di totet. Lantas diapakan. Dijalani. Disabari. Disenyumi. Senyum kehidupan menyejukkan, apalagi derai renyah tawa. Selalu seperti itu terdengarnya.

Maka sampailah 'ku di sini. Tinggal beberapa ayun lagi maka usailah. Kehidupan akan terus saja seperti itu, tidak peduli aku berseragam putih merah, putih biru, putih abu-abu, coklat coklat, bahkan telanjang sekalipun. Tidak masalah apakah celana dalam tidak dilepas dahulu, baru kemudian, atau ditingkahi Tersesat dalam Cinta. Aku membawa kebusukan ke mana-mana, setengah bangkai bernanah ini, tai-tai ini. Tidak berguna katamu, 'Gar?! Aku pun tidak tahu. Semua kemesuman ini selalu mengingatkan siapa diriku: Setengah bangkai bernanah bertai-tai.

Tuesday, May 18, 2021

Musim Semi Sedang Bernyanyi, Mana 'Kutahu


Berdua-duaan saja dengan Penelope bisa mengerikan jika di Amsterdam sana. Di tepian Cikumpa sini, sedangkan Cantik dan anak-anaknya terlelap di kamar masing-masing, berduaan dengan Penelope masih tertahankan, karena Penelope ini tak ubahnya kelakuan Ucus, suka mendusel-dusel begitu, menggelesot-gelesot pada kaki-kakiku. Terutama ketika burung kecil mekanikku sudah rantas berkarat begini, tidak banyak yang dapat 'kulakukan pada Penelope, semenawan apapun ia. Aku tak sanggup melupakanmu, ketika burung kecil mekanikku masih perkasa.


Ditingkahi selantun melodi kecil, selepas subuh bukannya mengaji malah meneguk-neguk ramuan jahe kunyit dengan kepala gulanya sekali. Adanya aku tidak syawalan hari ini, ada Takwa. Ia mengajak kami berhalal-bi-halal, syukurnya di martabak kubang saja. Agak jengkel juga tidak syawalan hari ini. Namun Kamis nanti Insya Allah terancam tidak syawalan juga, meski belum tahu bagaimana ke sananya. Ya Allah, hamba mohon tahun ini juga bebaskanlah hamba dari belenggu dosa. Tuntunlah hamba ke arah jalan yang Engkau ridhai, terlalu lama hamba berdosa.

Selepas subuh ini, aduhai sungguh nyaman pojokan stasiun-kerjaku ini. Andai ia bisa terus begini. Andai terus begini rasa hati dan badanku. Seharian kemarin aku kemasukan. Aku juga masih belum tahu apakah setelah ini aku mengantuk dan tidur lagi sampai matahari tinggi. Semalam aku tidur sebelum jam sepuluh, 'kurasa, dan terbangun sekitar jam tiga gara-gara dua ekor kucing jantan, satu jingga satu hitam, bertengkar mulut. 'Kuteruskan dengan membangunkan Faw dan Khaira sahur. Faw sahur, Khaira tidak. Bundanya sudah minum, katanya, jadi tidak sahur.

Demikianlah maka ia menjadi judul entri ini, sedangkan nelayan mutiara menyenandungkan lagunya yang sedih. Aku tidak sedih. Mungkin aku akan sedih jika masih terpenjara musim semi. Aku tidak tahu. Aku hanya bisa bersyukur atas karunia nikmat ini. Tinggal bagaimana aku memanfaatkan nikmat ini sebagaimana seharusnya. Banyak hal berada di luar kendaliku, seperti steikesyen ini. Semoga berjalan lancar dan aku pun dapat menikmatinya. Apakah aku layak mendapatkannya, semoga; sedang toccata ini selalu saja melangutkan rasaku, dari kecilku hingga tua begini.

Ahaha aransemen copacabana ini memang sesuatu, terlebih jika sayup-sayup membelai awal hari, sedang cahaya temaram lampu bohlam masih menerangi. Inilah keindahan hidup di dunia. Mungkinkah 'kutenggelamkan diri dalam kumpulan pengetahuan setelah ini, apakah sambil meneguk-neguk entah apa. Aduhai enak benar hidupmu. Kau hanya harus berpikir. Hanya. Di titik ini, sudah tidak sanggup aku menangis, apalagi menertawai. Semoga penyesalan segera berbuah ratapan memohon ampun, belas-kasihan, karena selalu saja salah sendiri.

Bunyi-bunyian dirajut, disulam mendamba makna. Sedang sepiring nasi bersimbah dendeng cabai merah, masih dengan gulai pucuk ubi memenuhi perut. Ya Allah, begitu saja selalu hidupku, dari kecilku, berkisar hanya pada yang dua itu. Jika aku belum sanggup membebaskan diri dari nasi uduk bala-bala disiram kuah entah apa, maka mohon bebaskanlah dari yang satunya. Betapa banyak umur telah hamba sia-siakan, jangan biarkan diterus-teruskan. Halal bi halal ini nanti temanya apa terserah, pikiranku selalu pada bagaimana segera menyelesaikannya.

Ini tulisan apa hiburan, cerminan, gunanya entah apa bahkan bagi diriku sendiri. Menulisi, lantas mengetiki telah selalu 'kulakukan dalam hidupku. Bacaan semakin kehilangan arti-penting, ketautannya. Tidak ada sedikit pun peduliku. Aku hanya melakukan apa yang biasa 'kulakukan. Sudah tidak jamannya, bahkan segala sesuatu mengenai diriku, seperti biasa, masa bodohku. Pada titik ini, kabut mulai merayapi kesadaranku. Ada baiknya sebelum ia benar-benar menguasai, aku menggosok gigi terlebih dulu. Nyaman terlelap sedang mulut terasa bersih, seharusnya dari dulu.

Wednesday, May 12, 2021

Entri Keduabelas yang Ditulis di Bagasnami


Mungkin aku beruntung, atau entahlah, yang jelas aku memang belum pernah terpaksa tinggal pas di bawah toa masjid. Namun sungguh aku sangat menyukai riuh-rendahnya suara masjid, selalu sangat menyukai. Rasanya seperti tidak sendiri, dengan simponi disharmoni ini. Ini suatu kenikmatan yang besar, masih berkesempatan mendengar yang seperti ini, di bulan suci Ramadhan lagi. Dari ketinggian Lantai 29 di bilangan Mampang Prapatan yang ditebari masjid di mana-mana. Sungguh ini negeri sejuta masjid! Semoga Allah berbelas kasihan pada penduduknya.


Menilik dari pengalaman hari kedua, mungkin memang benar, lebih baik berangkat malam dengan transit sebentar yang nyaman. Sepertinya pengar jetku tidak terlalu parah kini, aku merasa mengantuk pada tengah malam, meski lantas tidur hanya tiga jam. Itu memberiku waktu panjang untuk sahur. Aku sampai dua kali bolak-balik ke lobi menanyakan sahurku. Setelah waktunya sangat mepet, akhirnya aku diarahkan menuju Restoran Flora. Aku sahur lengkap dengan semacam pasta bolones, tumis sayur-sayuran, sedikit nasi goreng dan empat potong sosis. Alhamdulillah.

Setelah mengetik-ngetik, ketika hari sudah sangat terang cuaca, barulah terasa seperti semromong. Ketika itulah aku berangkat tidur, agak sekitar jam tujuh pagi. Sedang tidur-tidur ayam, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Ternyata tes PCR. Aku diminta menarik kursi sampai di depan pintu dan mendongak. Seperti empat hari lalu di Amsterdam, ambang tenggorokanku, lantas lubang hidungku dikilik-kilik dengan semacam katenbads. Begitulah seterusnya sampai aku dilepaskan karena Alhamdulillah sudah dua kali negatif, tiga dengan yang di Amsterdam.


Tadinya sempat terpikir olehku untuk mengabadikan setiap dari lima hari karantinaku, namun pengar jet dan monotoni mencegahku. Tiada benar yang dapat diabadikan kecuali perasaan menunggu-nunggu kapan dilepaskan. Memang sempat, sekadar agar ganti suasana, ke Lantai 17 di mana berada kolam renang. Itu pun tidak seberapa berkesan. Hanya saja, kaki-kakiku patut dicatat. Selebihnya benar-benar sekadar menunggu sampai dilepas. Tidak ingin juga aku punya cerita mengenai Pademangan. Cukuplah surat pengantar jalanku diberi berkepala Pademangan. Sudah.

Selepas karantina lantas ke Radio Dalam sekadar karena lebih dekat, keesokannya ke Bagasnami, menginap sampai selepas buka keesokan harinya. Menghabiskan Minggu di tepi Cikumpa, hanya untuk membuka rekening baru dan berbuka bersama di Warung Solo keesokan harinya. Jadi entri ini sudah berubah judul beberapa kali, dan sudah jelas ia tidak benar-benar ditulis di Bagasnami. Setelah hampir dua minggu, Insya Allah pengar jetku sudah benar-benar sembuh. Pembuktiannya besok. Dapatkah tidur sampai subuh dan tidak tidur lagi setelahnya. Insya Allah.

Justru yang penting dicatat di sini adalah apa yang terjadi pada Rabu ini. Alhamdulillah, akhirnya stasiun-kerjaku siaplah. Dengan meja yang lapang dan rapi begini, Insya Allah pikiranku pun akan tertata. Bagaimanapun, aku hanya pindah tempat, atau--seperti kata Japri--benar-benar kerja dari rumah. Bukan lagi dari 25D8 entah-entah tempatku memesan udon tahu jamur masak saus tirem dan mie udang bawang saus teriyaki seharga Rp 280.000. Di tepian Cikumpa sini, ayam goreng mentega, cah kangkung udang, fuyunghai udang, hanya sepertiganya.

Aku adalah seorang peneliti dari Institut Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Amsterdam. Memang Insya Allah aku bekerja dari tepian Cikumpa, dan ini semata-mata adalah sebagian dari belas-kasihanNya padaku. Aku bersyukur stasiun-kerjaku telah siap. Semoga sumpal-telinga yang ada padaku kini memadai untuk meredam kebisingan, memberikanku ketenangan sampai-sampai aku dapat mendengar diriku sendiri berpikir. Tentu saja tidak malam ini, karena bahkan aku seharusnya mendengar diriku sendiri bertakbir memuji kebesaranNya, Sang Maha Belas-kasih.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.
Tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.
Allah Maha Besar, dan kepadaNya segala pujian.

Saturday, May 01, 2021

Hari Buruh: Gol Gadat, Nasi Gorengnya Pedas


Setelah lebih dari 24 jam berlalu, yang ada hanya rasa syukur yang sangat mendalam atas belas-kasihNya. Tiada lain penjelasannya hanya itu. Biarlah di sini 'kuabadikan belas-kasihNya sejak berpisah dengan para Kraanspoorian di depan gerbang masuk KLM Schiphol itu. Rasa meriang mungkin sekadar akibat gerak badan dengan baju tebal, yang mana gerbang F2 lalu F9 itu ternyata lumayan jauhnya. Di gerbang F9 itulah 'kutemui seorang bapak wong kito, awak kapal survei yang memeriksa kerak karang pada rig lepas pantai, dengan tumor di dalam kepalanya.


Ketika Boeing 777-300ER KLM mulai taxi, 'kupandangi dari kejauhan lampu-lampu Amsterdam. Kita akan segera bertemu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Amin. Ketika ia mengudara dan berbelok ke timur, terlihat Ij. Geraman mesin jet ini yang biasa 'kudengar ketika sedang berbuka puasa. Tak lama kemudian aku pun berbuka dengan semacam makaroni dengan keju, rujak glabed dengan kismis, dan pencuci mulut yang hanya 'kucolek sedikit. Setelahnya aku merasa agak mengantuk, ketika mengulang Raungan Perang entah keberapa ribu kali.

Seperti biasa aku tidak pernah benar-benar bisa tidur, maka baru lewat sedikit dari tengah malam waktu Amsterdam 'kutanyakan pada awak kabin bolehkah aku mendapatkan sarapanku sekarang juga. Ia memberikan padaku buah potong dan yogurt buah-buahan hutan, sedang ia memanaskan pastri keju. Hahaha makanan Belanda betul, namun ternyata benar mengenyangkan. Aku bahkan masih menggerayangi snek berupa krekers entah-entah yang tidak 'kuhabiskan pun. Bahkan masih dibagikan brownis, lumayan membuatku menghabiskan sebotol lagi air.

Berhubung memandangi terus-menerus Penerbanganku bisa membuat edan, aku mencoba-coba Gol Gadat. Astaga, ini adalah sekadar tontonan mengenainya seorang. Tiada sedikitpun yang dapat dipelajari. Ini semata mengenai Gol Gadat! Harus 'kucatat di sini bahwa hiburan dalam penerbangan KLM tidak semenarik yang 'kuingat pada Garuda, meski layar sentuhnya lebih nyaman dibanding stik-kesenangan berkabel yang kadang menjengkelkan itu. Akan tetapi, main Bejeweled dengan layar sentuh begitu memang tidak cihuy. Pendek kata, aku kurang terhibur.

Mendarat di Changi, mengudara lagi, dibagikanlah roti lapis isi krim entah-entah dengan irisan timun untuk membatalkan puasaku; ketika duduk sambil mengisi formulir kesehatan di Cengkareng yang terkesan kacau. Di sinilah aku bersyukur kepadaNya atas segala yang 'kualami dalam 24 jam terakhir ini. Pilihan-pilihan Gerben dan Takwa semata adalah belas-kasihanNya. Semoga juga dicatat sebagai kebaikan bagi mereka. Tidak terbayang jika aku harus mengalami apa yang dialami Japri. Biar 'kuangkat topi padamu, kau lebih hebat dariku dalam hal ini.

Di malam minggu itulah aku beristighfar di tengah rintiknya hujan dan hangatnya udara. Selebihnya adalah kenyamanan yang semata-mata adalah belas-kasihanNya. Meski sempat lapar karena baru buka roti isi entah-entah, Alhamdulillah ketemu Mas Samsul Rizal yang membelikan nasi goreng. Entah perutku yang sudah tidak biasa, atau Mas Rizal yang tidak percaya nasi goreng yang tidak pedas sama sekali, nasi gorengnya pedas! Alhamdulillah bahkan masih ada Mas Rizki yang membawakan makanan tidak pedas, semata pertolonganNya lewat orang-orang baik ini.

Aku tidak sanggup membayangkan jika tidak begini. Semoga Allah memberitahuku bagaimana caranya bersyukur atas karunia nikmat yang sangat besar, yang tengah 'kurasakan ini. Biar 'kudoakan saja semua Kraanspoorian, Japri, Gerardus, Gregorius, Arum yang 'kutinggalkan, agar mereka lancar mengerjakan apa yang harus dikerjakan, sebagaimana doaku bagi diriku sendiri di sini. Semoga Allah menolong juga bocah yang mengatur transportasi dari bandara ke hotel, bapak yang mengantarku ke sini, dan semua yang membutuhkan pertolongan, demi Belas-kasihNya.