Saturday, March 26, 2016

Monyet Peliharaan Aku Ini... Sekadar


Memang sudah lama sekali aku tidak gila-gilaan menulisi Kemacangondrongan, terlebih di tengah malam yang kacau-balau begini perasaan hatiku. Tidak ada lagi yang kuinginkan, apalagi sekadar menuliskan buah-buah pikiranku. Buah? Setelah Michael menarikan Tarian Terakhir, aku benar-benar sudah tidak tahu [dan mungkin juga tidak peduli] pada apa yang kuinginkan. Tahun ini empatpuluh tahun usiaku menurut perhitungan surya, yang lebih lazim bagi kebanyakan orang. Empat puluh tahun masih juga begini saja terus.


Memandangi Matahari Terbenam Karibia, seperti sudah kulakukan setidaknya seperempat abad terakhir dalam hidupku. Di manakah akan kutemukan kebahagiaan? Tidak dalam hidup ini? Aduhai, adakah di antara kalian yang membaca ini dapat memberiku kebahagiaan? Apa itu bahagia? Sesuatu yang kuciptakan dalam pikiranku sendiri, sehingga tidak ada seorang pun kecuali diriku sanggup menjelangkannya padaku? Demikianlah dari jaman Asatron sampai sekarang dengan Winamp, aku harus menggesernya seperlahan mungkin agar jangan sampai bisu sama sekali.

Apakah kulakukan juga dengan walkman Sony dahulu, yang spikernya merah? Adakah kusangka ketika itu jika demikian adanya aku kini? Adakah aku ketika itu punya bayangan apa yang akan terjadi padaku di kemudian hari? Tidak ada! Tidak ada sesuatu pun, seseorang pun yang memberitahu. Jadi, jika demikian adanya aku kini, memang sudah dapat diduga dari dahulu, karena masih saja aku ditemani Dick Bakker di malam-malam seperti ini. Jika dulu kutulis Perang, Prajurit dan Persenjataan yang sepenuhnya mengarang bebas, [hahaha] kemudian Masyarakat yang Dikondisikan, maka sekarang adalah ini.

Bedanya, adalah kini shalatku entah betul entah tidak. Bedanya, sekepul dua asap entah Sampoerna King atau apapun sepanjang kretek. Oh, malam ini teringat lagi betapa nyamannya, meski mungkin itu juga yang mengantar Pak Widhi ke peristirahatan terakhirnya. Semoga Allah melapangkan kuburnya, senyaman perasaanku malam ini. Amin. Dunia ini... memang sekadar panggung Salihara, yang ternyata sulit juga membuatnya. Jika tidak sulit tentu bukan dunia, karena dunia ini tidak semulus alur film-film holiwud, apalagi sinetronnya Raam Punjabi. Mbulet.

Bunga-bunga rumput ini entah tidak mengerti entah tidak peduli kupandangi, meski lantas saja aku teringat Bang Ade dan sebangsanya. Sama saja sepertiku, semua saja berusaha mencari hidup dengan kebisaan masing-masing, apapun yang ada padanya. Meski rejeki sudah dijamin. Tidak berarti bahwa lantas berpangku-tangan, meski berpangku tangan aku yakin rejeki juga. Rejeki yang... entahlah, tidak pada tempatnya aku berkomentar. Kapan ini akan kuterbitkan di Kemacangondrongan? Entahlah. Saat ini tidak kurasakan dorongan untuk menyimpannya di flesdisk atau mencari koneksi Internet.

Apa yang akan membuatku bahagia? Memandangi Gubug Peceng dan Lanjar Ngirim di langit malam yang cerah benderang, seperti di tengah-tengah kebun tebu dahulu? Benar itukah yang membuatku bahagia, atau sekadar kemudaan dan ketololan dan kedunguan? Mungkin juga tidak, karena bagiku setidaknya, ketuaan juga masih tolol dan dungu, seperti wajah-wajah yang berkelebat-kelebat di depan mata. Mau diapakan? Mau diapakan rumah-rumah pedesaan yang temaram dengan lampu bohlam watt kecil, dengan jalanan tanah yang becek dan udara basah bekas hujan, dari sekitar Legok sampai di lereng-lereng Menoreh?

Aku sekarang ini memang seekor monyet peliharaan akibat mengundi nasib. Leherku dilingkari gelang besi yang dihubungkan dengan rantai ke gelang besi lain, yang melingkari batang pohon ketapang kecubung. Aku hanya bisa menyeringai memperlihatkan taringku yang sudah keropos. Selebihnya aku sekadar monyet peliharaan. Ah, aku mulai suka entri ini, meski ia tidak membawaku terbang Tinggi di Angkasa. Ia hanya menyeretku sepanjang karport yang tidak ada karnya. Tak apalah nyatanya aku ini monyet peliharaan.

Gidongdep Gidap Gidongdep Steiondesin

Tuesday, March 01, 2016

Sehari Setelah Hari Khas Tahun Kabisat


Apa seharusnya yang kurasakan ketika hal pertama yang dihasilkan oleh HP Stream 8 dengan dompet kibor blutut ini sekadar entri Kemacangondrongan? Haruskah aku bangga karenanya? Lega? Gundah? Malu? Tepat seperti yang kuinginkan, kibor blutut ini sangat ringkas dan ergonomis. Nyaman dipakai. [dan baru saja kusadari baik padanya maupun kibor pada-layar tidak ada kurung kurawalnya] Dompetnya pun fleksibel, dapat diatur kemiringannya sesuai dengan kenyamanan leher dan mataku. Jika ada sedikit gundah, itu karena, kurasa, aku khawatir ia tidak memadai digunakan untuk mengindeks.


Mengapa harus mengindeks dengannya? [Keni Ji harus kutengok sebentar tadi karena tiba-tiba diseling iklan] Untuk kepentingan-kepentingan selain menulis dan membaca sebaiknya diserahkan langsung kepada yang berwajib, yaitu Asus X450C. [atau haruskah ia kutukar dengan Desktop PC?] Lagipula, sungguh aku tidak berharap ada lagi yang harus kukerjakan di kemudian hari yang bukan merupakan membaca atau menulis. Sudah cukup itu semua! Membaca dan menulis, seperti Bang Andri begitu, yang menurut Bu Eti seharusnya sudah jadi profesor karena internasional reputasinya.

Aku juga ingin seperti Bang Andri. Aku ingin menjadi ahli. Sudah cukup kurasa semua kegilaan ini. Memang antara Pancasila dan pengelolaan perikanan skala kecil terdapat suatu pita kontinuum yang teramat lebarnya. Namun tidak berarti semua itu harus kontinyu spektrumnya seperti pelangi ‘kan? [Uah, ketika sedang mencari tanda aksen, akhirnya kutemukan kurung kurawal itu, seperti standarnya kibor ini, harus menekan tombol fungsi. Huft!] Biarlah spektrumku diskontinyu, karena meskipun ketika kecil aku sangat suka topi dan boneka, nyatanya aku tumbuh menjadi laki-laki yang sangat hetero.

Adanya saya bisa menulis entri tengah malam ini, ada Tolak Angin Care. Tadinya, tentu saja, ia tidak kuoleskan pada mataku. Paling pada hidung dan sedikit pada dahi. Entah bagaimana caranya, ketika aku sudah membaringkan miring badanku, mataku menjadi pedas. Aku lantas saja teringat pengalaman terbakarnya kulit belakang leherku karena sebab yang sama. Begitu saja aku menjadi parno dan tergeragap bangun, mengambil secarik tisu dan menekan-nekannya pada mataku. Nyatanya, setelah kupakai menulis-nulis begini, mataku terasa baik-baik saja. Bahkan dengan taraf perbesar 100 persen pada layar delapan inci ini, aku dapat melihat dengan jelas. Alhamdulillah. [akan halnya kini kuperbesar menjadi 130 persen, ini hanya mencoba saja]

Uah, sedap kali pun dehaman dan erangan saks oleh Keni Ji ini. Aku hanya bisa membayangkan apa yang terjadi di antara pasangan muda-mudi yang sudah cukup umur ketika lagu-lagu ini kali pertama tenar di awal sembilan puluhan. Mungkin akibat kekhilafan mereka adalah mahasiswa-mahasiswaku sekarang ini baik laki-laki maupun perempuan. Apapun mereka, seperti bagaimanapun tampaknya, bagiku mereka “akibat kekhilafan” semata. Seharusnya ada orang lain yang mengatakan betapa pilu caraku memandang hidup. Akan tetapi tidak satupun berkata begitu, jadi biarlah aku sendiri yang mengatakannya pada diriku.

Mantap ‘kali pun ‘lah! Insya Allah dengan perkakas ini aku bisa produktif membaca dan menulis. Sungguh ringkas dan praktis. Hanya dengan koneksi internet yang lumayan stabil seperti smartfren seratus ribuan sebulan ini, berbagai album penuh di Yutub dapat menemaniku mengetik—meski ada baiknya juga kupasangi kartu SD mikro agar kapasitas penyimpanannya lebih besar, dan tidak mengganggu penyimpanan di cakram utama. Ternyata ini entri mengenai HP Stream 8-ku yang baru ini. Tidak menjadi apa, asal jangan “kena apa.” Biarlah gambarnya pun HP Stream 8 yang lengkap dengan dompet kibor blutut.

Wassalam