Tuesday, October 30, 2012

Beginilah Hidup Seorang... Akademisi?!


Jadi, katanya, Opa James khusus menciptakan Games that Lovers Play untuk Tante Connie. Aku pun begitu saja koprol sambil bilang "wow"! Memang musisi-musisi dahsyat ini semua kerabat-kerabat dekatku. Sekarang Tante Oliv 'nyanyi Have You Never Been Mellow. Aku tahu lagu ini kali pertama, sebenarnya,  ketika dimainkan Opa Billy; dari kaset yang ditemukan Mahuwa "Bangor" Arismaya di loteng dapur Cipinang yang horor itu. Beikut ini percakapan antara Oktober 2012 dengan Juni 2006. Kenapa aku harus terus menulis? Kenapa betul rupanya? Iya, aku tidak mungkin menandingi rekormu yang 17 entri itu. Jadi menulis agar lebih banyak entri, begitu? Ya, tidak juga... Lalu? Aku juga tidak tahu... Namun, yang jelas, aku harus menjaga ritme yang sudah kudapatkan ketika aku menulis makalah Jual-beli Pulau. Duh, seandainya aku bisa sesemangat itu menulis apapun...

Gambar ini diposting oleh melvinjack di kaskus.com
Lalu, kenapa malah menulis entri? Meski tidak mungkin 17 entri Oktober tahun ini, biarlah bulan ini menjadi salah satu bulan dengan entri terbanyak di Kemacangondrongan, suatu tempat yang tidak jauh-jauh sekali dari Xanadu, pemberhentian terakhir sebelum Shangri-la. Orang sering memberi nama anak perempuannya "Ayu", "Indah", "Juwita" dan sebagainya itu... Apakah mereka tidak melihat mukanya sendiri dan pasangannya ketika memutuskan nama itu? Yah, mungkin mereka sekadar berharap, berdoa. Mungkin mereka berdoa agar anak perempuannya lebih cantik dari ibunya, kalau bapaknya ganteng; atau seperti ibunya, kalau ibunya cantik. Apa rasanya ya jadi perempuan yang namanya seperti itu, tetapi wajahnya sama-sekali tidak mencerminkan namanya? Inilah yang oleh almarhum Umar Kayam disebut sebagai ngomyang asli! Gara-gara Shangri-la, aku mau cari gambar apsari, dapatnya malah foto-foto entah siapa. Itulah sebabnya.

Dan sekarang Oma Doris menyesali kepergian musim panas, disusul Oom Donny menyuruh pergi gadis kecil. Owow! [koprol bolak-balik]  Aku sebenarnya sebal dengan guyonan jorok di muka umum, tapi this is a good one ahahaha... Ada "obat kuat" yang cara aktivasinya mudah, cukup dengan mengatakan POW! maka tegang membesarlah penis. Deaktivasinya pun mudah, cukup katakan WOW! maka ia kisut kembali. Ketika akan berhubungan, setelah meminum obat itu, maka dibukalah celana dalam sambil berseru: POW! Pasangannya membeliak memekik WOW! Maka kisutlah mengerut hahaha. Anjeeeng, kalau kata Betmen sambil menempeleng Robin ketika bertanya: "Ciyus, Men? Enelaan? Miap..." Ini lagu Burt Bacharach, yang satu ini, sumpah mellow habis. A House is not a Home, sama seperti Honey Come Back-nya Glenn Campbell. Kemudian Tony Williams bersenandung tentang Lampu-lampu Pelabuhan... Ooh, this shoulda been my life!

Masa mau diteruskan entri kusut begini? Kerja, ah.

Friday, October 26, 2012

Bagaimana Cara Merayakan Idul Adha?


Jurnal ini berisi kenangan-kenangan, gunanya untuk menyamankan. Seharusnya sambil menulis entri untuk jurnal ini, supaya lebih nyaman, harus sambil mendengarkan lagu-lagu lama yang membuat nyaman. Mari dicoba! ...yang ada Back to Front-nya Lionel Richie. Ya sudahlah. Back to Front adalah salah satu kasetnya Pak Moussa el-Khadoum yang aku kenal. Dia juga pernah menunjukkan padaku Leonard Cohen dan yang kutahu hanya Susan. [kenapa aku jadi minum Liang Teh cap Pistol?! Aku haus tadi] Ya, dan kudengarkanlah Back to Front dengan sound system-nya Pak Moussa yang agak boleh lah ketika itu, di ruang tamunya yang agak boleh lah juga; rumahnya Mbak Ayumi sekarang. [Sebenarnya aku ingin pulang ke Jalan Radio, tetapi makalah Jual-Beli Pulau ini harus selesai dulu; dan aku bahkan belum membuat soal Hukum Perdata Dagang!]

Kaset itu, ya, kurasa kaset itulah yang akhirnya kubawa ke mana-mana. Bagaimana lagi caranya aku punya kaset ketika itu? Pasti kaset itu, punya Pak Moussa. Terakhir nasibnya, seingatku, dipinjam Karimah, kata Gus Dut. Dulu aku punya beberapa kaset, di atas sepuluh tapi tidak sampai duapuluh, seingatku, yang kubawa ke mana-mana. Yulimar. Asrama. Kukusan. Kapuk. Srengseng Sawah. Gang Pancoran. GMNI. Kampus. Mess Pemuda... entahlah. Sekarang perutku gendut, seperti dahulu aku pernah gendut. Sekarang aku gelisah, seperti dahulu aku pernah gelisah. Hanya satu yang pasti dari semua ini. Aku yang fatalis-nihilis ini merasa cocok dengan gagasan itu. Aku tidak punya ambisi akan masa depan. Aku punya khayalan, ya... dan aku berhenti menulis, karena koneksi internet malam ini sungguh lambatnya. Para Pembaca yang Budiman, jika sempat membaca entri yang sepotong, itulah sebabnya.

Kini kuteruskan pada pagi harinya, meski harinya sudah ganti. Sudah tidak terlalu pagi sih. Pagi ini aku sarapan di Warteg Sederhana. Telur dadar, tumis kacang panjang, sayur jamur, teh setengah manis panas; lalu dilanjutkan Kapal Api Grande. Sepertinya malam tadi aku salah tidur. Leher belakangku, cengelku, sakit sekali jika aku mendongakkan kepala. Badan jadi terasa tidak segar... dan entah kenapa, begitu berhadapan dengan komputer, aku lantas menghabiskan banyak sekali waktu menonton klip-klip mengenai audisi terburuk dalam acara-acara kontes menyanyi. Menontonnya membuat hatiku sakit, kurang lebih sama sakitnya dengan menonton filem porno. Rasanya seperti menyaksikan rusaknya dunia, dunia yang tercipta indah dan damai ini, seimbang, selaras, serasi... Padahal tulisan Jual-Beli Pulau belum beranjak satu kata pun dari semalam, dan leherku masih sakit rasanya seperti masuk angin. Apa aku ke Ciwi saja ya?

Jadi bagaimana caranya merayakan Idul Adha? Takbirannya lebih banyak daripada Idul Fitri. Kata orang, Idul Adha justru lebih besar dan lebih penting dari Idul Fitri... Aku jadi merasa bersalah tidak merasa begitu... Bagaimana caraku memaknainya? Kemarin, sambil menunggang Vario berkeliling-keliling bego di sekitar Depok sempat terbersit, Insya Allah, tahun depan aku akan berqurban sapi. Mungkin, tidak seperti Aburizal Bakrie, Pakde Karwo maupun SBY, aku akan patungan dengan beberapa orang. Sapi, karena aku tidak makan kambing, meski jarang juga aku memakan potongan hidup daging sapi. Sagat jarang sekali. Aku makan sapi dalam bentuk burger, sosis, bakso dan olahan lainnya. Selebihnya ayam, atau ikan, tapi semuanya aku lebih suka olahan. Sekarang aku tidak terlalu senang makan. Makan hanya karena perutku sakit atau kepalaku pusing. Kenapa aku tetap gendut ya?

Biarlah kukenang di sini salah satu Idul Adha-ku yang, entah bagaimana caranya, terkenang selalu, yakni Idul Adha 1427H atau 2006M. Entah apa istimewanya, mungkin karena malam 9 Dzulhijjah kala itu, aku diantarkan oleh Bapak Ibu ke Cimanggis, ke kantornya Mbak Imed. Di sanalah aku dititipkan pada Bang Fred. Di sanalah, ketika itulah Bang Fred berkata, "Gua S3, lo S1." Lalu aku bermalam di sana, kurasa untuk pertama kalinya. Seingatku, waktu itu aku tidur di belakang yang terbuka itu, dan aku terbangun pagi-pagi dalam keadaan kedinginan. Waktu itu shalatku masih lumayan rajin, bahkan mungkin masih rajin sekali. Aku ingat, aku keluar mencari teh, dan yang kutemukan adalah teh sachet merek Sisri. Kuseduh air panas dan rasanya tidak enak. Selebihnya aku tidak ingat lagi. Namun itulah Idul Adha yang paling berkesan bagiku, enam tahun yang lalu.

Thursday, October 25, 2012

Aku Tidak Puasa Hari Ini Arafah


Aku semakin kacau. Aku tidak puasa. Baru saja aku makan soto. Tadi pagi makan nasi kuning. Bahkan berat sekali rasanya menyebut namaNya. Kusumpal telingaku dengan trio Ce n'est Rien, Anonimo Veneziano dan Rendezvous au Lavandou, volume Winamp pada 100 persen dan PC pada 75 persen, sedangkan Pak Marno menyetel tembang-tembang kenangannya keras-keras; mungkin karena mengikuti contoh manajernya. Duh, cantik sekali lagu ini... dan aku sedang tidak punya tenaga untuk berteka-teki, apalagi bertiki-taka. Sampai muak muntah aku setiap hari membaca berita tentang Liverpool. Eh, nanti malam ada siaran langsungnya deh, Liverpool vs Anzhi, udah gitu besoknya Derby Merseyside. Ayo, masih ada enam hari lagi untuk memecahkan rekor yang sejauh ini dipegang Juni 2006. Ya Allah... mengapa begini benar perasaanku.... Apa karena aku sama-sekali tidak pernah berolahraga lagi? Apa karena sekarang aku gendut sekali...?

Aku kacau sekali. Aku seakan-akan lupa sama sekali janjiku pada diriku sendiri, untuk menjadi hamba yang lebih baik. Doa itu terucap seperti sudah otomatis saja, seotomatis dung dung tak dung tak yang sering begitu saja meluncur dari mulutku. Dan Senin nanti aku dipanel bersama Prof. Hikmahanto Juwana! Sudah gila bocah-bocah itu! Kata Mas Iskandar, itu gara-gara anak-anak LK2... Grrr... anak-anak itu... Seharusnya, sih, seharusnya aku membuat soal mid-test Hukum Perdata Dagang sekarang, dilanjutkan dengan membuat makalah mengenai Jual-beli Pulau. Namun, seperti dapat disaksikan sendiri, aku menulis entri. Ya, kembali lagi ke janji tadi. Sekitar sepuluh tahun yang lalu... Subhanallah! SEPULUH TAHUN YANG LALU! Tepatnya 10 Oktober 2002 sekitar tengah hari aku mengucap janji itu, ketika aku terbaring tak berdaya di PKM UI dengan dada berdebar-debar. Ingat itu, Bodoh! Ingat itu selalu!

Duh, ini lagi orang Venesia yang kutak tahu namanya... Sepuluh tahun yang lalu, pada hari-hari seperti ini, aku sedang menyesali diri di Dalem Jalan Radio. Begitulah rumah itu dahulu disebut, Jalan Radio. Mungkin ketika itu adalah kali pertama aku mulai melirik buku-buku agama dan buku doa-doa. Sampai hari ini doa-doa yang sering kuucapkan sebagian besar berasal dari masa-masa itu. Ketika itu, seingatku bulan Sya'ban, karena tak lama setelah itu Ramadhan. Subhanallah, mungkin itu adalah Ramadhan terbaikku. Naudzubillah, aku tidak mau mengulangi penyebabnya, namun aku sungguh merindukan masa-masa itu. Makanya jangan BEBAL! Jangan menjadi KELEDAI DUNGU yang keras kepala. Jangan menunggu dilecut, dicambuk baru bergerak. Suasana hati itu... Ya Allah, aku sadar sepenuhnya aku pendosa. Sungguh Ya Rabb aku merasa lemah di hadapan dosa-dosaku ini. Sungguh Ya Rabb, hamba mohon, kasihanilah, ampunilah, biarkanlah hamba mengecap kembali manisnya menghamba, syukur-syukur kalau bisa lebih baik lagi dari itu.

Alhamdulillah, setelah menulis ini semua, aku merasa lebih sejuk. Gelegak yang tadi serasa tak tertahankan berangsur hilang. Ya Allah, semoga setelah hamba selesai menulis, perasaan ini justru semakin baik dan membaik. Mungkin, setelah ini, karena Bang Andri yang akan mengajar, aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk melangkahkan kaki ke Mesjid Ukhuwah Islamiyah. Mesjid yang dulu pernah kuakrabi, sejak sepuluh tahun yang lalu. Mesjid yang panggilannya tidak pernah kutangguhkan barang sekejap, bahkan kunanti-nanti. Dapatkah kumulai lagi semua itu, SEKARANG JUGA?! Tidak ada daya upaya kecuali denganMu Rabbal Alamin. Hamba mengakui kelemahan hamba. Hamba mengakui segala kedurhakaan. Hamba mengakui dosa-dosa hamba. Maka itu, angkatlah Ya Allah beban berat ini. Angkatlah dengan cara yang sebaik-baiknya. Aamiin.

...berdiri, beranjak, melangkah. Bismillah...

Saturday, October 20, 2012

Suatu Entri tentang Iolanda Gigglioti, bukan Aku


Et sur le sable mouillé
Avec un dernier remou
Frissonnent et meurent effacés mes rêves
Mes rêves fous


Tahu tidak yang paling menakutkan? Hantu? Mati? Bukan. Hidup yang sia-sia. Naudzubillahi min dzalik tsumma naudzubillah! Sandra pagi ini menulis status kurang lebih begini, kalau kamu mau jadi pemimpin yang efektif, kamu harus jadi pelatih yang efektif. Semacam itulah. Perjalanan hidupku mengajarkan bahwa ingin menjadi sesuatu itu... sesuatu yang... yah, kurang baik. Pengalamanku agak kurang baik dengan ingin menjadi sesuatu itu. Lalu aku bertanya pada Sandra, emang kenapa orang mau jadi pemimpin? Karena "passion" untuk mengendalikan orang (control over people), menjadi "seseorang," jawab Sandra. Aku tidak paham bagaimana suasana kebatinan orang berbahasa Inggris, entah di Inggris atau Amerika, ketika mereka menggunakan kata passion itu. Namun, jika passion adalah padanan bagi nafsu atau gairah, dan itu dipadukan dengan "mengendalikan orang"... yang terbayang olehku adalah kulit atau spandex dan cambuk hahaha...

San, aku memang berolok-olok, tapi sama-sekali tidak bermaksud mengolok-olokmu. Suer. Maafkan aku kalau membuatmu tersinggung. Cantik beberapa hari lalu berkata bahwa aku orang yang sangat sinis. Iya, harus kuakui itu. I can't help it often times. Kembali pada kulit dan cambuk, (lho?!) aku pernah mendengar orang berkata begini: Sexy is not how you inflict pain, but how you ENDURE it. Jadi, adegannya, setelah Sang Dominatrix berkata demikian, laki-laki itu berlari-lari sambil berteriak-teriak dikejar-kejar Dominatrix hahaha. Betapa rumit jiwa manusia, dan kenyataan itu hanya menunjukkan bahwa betapa sangat terbatasnya kemampuan manusia mencerap. [apa sih mencerap?] Terlalu sedikit yang bisa dipahami manusia, dalam umurnya yang sangat terbatas itu; bahkan memahami jiwanya sendiri saja ia takkan mampu. [apa sih jiwa?] Namun, sejujurnya harus kuakui [halah, apa arti pengakuan seorang eksibisionis?!] bahwa ungkapan-ungkapan seperti itu, dan yang ini: pleasure is sin, pain is virtue, sungguh menarik hatiku; meski tidak secara khusus kugunakan dalam konteks seksualitas, namun pada hidup ini secara keseluruhan.

Hanya kata-kata Rasulullah SAW --yang sudah dibuktikan, antara lain, oleh Siddharta Gautama [lhah, dia kan lahir duluan dari Rasul?!] dan Murtadha Muthahari-- yang kiranya dapat mencegahku dari kecenderungan itu, Insya Allah. Kecenderungan menyakiti diri sendiri, dan, akibatnya, lingkungan sekitar. MODERASI. Aku... seperti ndikane Ibu, sentimentil dan melankolis, seperti almarhum Pakde Binto, ndikane Ibu. Aku, entah bagaimana caranya, entah sejak kapan aku lupa, sangat menyukai tragedi, ketika drama hanya punya dua kemungkinan: komedi atau tragedi. Komediku adalah mengolok-olok diri sendiri. Komediku adalah slapstick dengan aku sendiri sebagai korbannya, yang karena itu, maka tragedi lagi. Padahal, sebaik-baiknya urusan adalah yang di tengah-tengah. Jadi yang sedang-sedang saja. Ya Allah... sedangkan hamba, kata Buku Pintar Junior buatan Iwan Gayo adalah naga yang ekstrim, suka membesar-besarkan persoalan... Kurasa cuma ada satu jalan, jika demikian, berusahalah menjadi baik seekstrim mungkin. Semoga Allah menolongku, melindungiku dari orang-orang yang bermaksud jahat padaku... dan orang-orang yang kusayangi. Amin.

Friday, October 19, 2012

Ce n'est Rien, Anonimo Veneziano


Duaribu Duabelas mungkin sudah mengungguli semua saja tahun-tahun di Kemacangondrongan, tetapi Oktober 2012 jelas belum mengungguli Oktober 2007 dengan 12 entrinya; apalagi Juni 2006 dengan 17 entri! Apa sih rahasianya sehingga aku bisa sebegitu produktifnya menulisi Kemacangondrongan pada waktu-waktu itu? Mari kita coba ingat-ingat... Oktober 2007 adalah waktu untukku menyelesaikan skripsi, tetapi aku justru menulis entri-entri. Waktu itu bertepatan dengan Ramadhan. Waktu itu bertepatan pula dengan hari-hari bersama Sopiwan dan perjuangannya menjadi pegawai BHMN UI. Sungguh menjijikkan apa yang dilakukannya pada waktu itu, sampai-sampai aku harus mengompensasinya dengan menulis banyak-banyak entri. Nah, inilah kesamaannya dengan apa yang kurasakan kini, maka banyak sekali entri kutulis; Begitu juga dengan Juni 2006 yang kurasa paling menjijikkan itu!

Piercing Playboy with Foreign Investment. Adakah yang bisa lebih menjijikkan dari itu? Biar kuingat-ingat... tentunya ada. Sungguh banyak sekali hal-ihwal menjijikkan yang pernah kutulis dalam hidupku, dan itu membuatku sakit lahir-batin. Inilah saranaku, wahanaku untuk mengurangi rasa sakit itu, karena untuk menghilangkan sama-sekali hanya mungkin dengan menghentikannya pula sama-sekali; yang mana tidak mungkin, karena aku sudah berjanji. Janji adalah lagunya Gigi yang kudengarkan bersama STI Sianipar di TPS, sedangkan yang bersama Irfan Kodu adalah Impian dari Power Slaves. Oh betapa enaknya menulis seperti orang gila, seperti Mas Tony Blank. Kenapa semua harus logis? Kenapa semua harus sistematis? Kenapa? Siapa yang bilang harus begitu? Gila adalah suatu keputusan, dan aku pernah memutuskan untuk tidak gila; meski gila terasa sungguh menyenangkan. Because pleasure is sin, while pain is virtue.

Aku sedang mengawas ujian tengah semester Hukum Lingkungan di KKI. Ini Angkatan Kedua. Entah mengapa, mungkin karena yang paling sedikit, dari tiga angkatan KKI yang sudah ada, aku merasa paling dekat dengan mereka ini. Aku bisa mengabsen mereka tanpa memanggil nama-nama mereka. Ya, mungkin harus kuakui, ini adalah salah satu kelas yang membuatku paling kerasan, meski aku selalu merasa baik-baik saja di kelas manapun yang kuajar sekarang. Ah, tidak juga. Aku tidak kerasan mengajar. Aku bukan pengajar, setidaknya, aku tidak mau. Aku ingin jadi ilmuwan. Hah! Ilmuwan... Apa itu?! Bagaimana kalau jadi politisi saja? Bagaimana kalau Gerindra? Atau PDI-P? ...atau PKS? Tidak. Belum. Ini adalah waktunya, sebagaimana lima tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu, seperti ini jugalah. Insya Allah, selambat-lambatnya begitu Oktober berlalu, begitu hujan mulai rutin membahasi Depok, kuulangi lagi rutin lima tahunku yang lalu. Insya Allah. Siapa tahu, inilah saatnya doaku pada 15 Agustus 2009 itu dikabulkan. Amin.

Thursday, October 18, 2012

Rendezvous au Lavandou, bukan Sucktwilite


Dear Diary, hari ini adalah hari bahagiaku. Kutemukan kembali salah satu permataku yang kusangka sudah hilang, meski aku yakin tidak akan selamanya. Selalu aku yakin bahwa sebelum aku mati, Insya Allah aku dipertemukan kembali dengan melodi-melodi yang telah membentuk jiwaku sepanjang hidup; Jiwa yang sentimentil dan melankolis ini. Jiwa yang menye-menye! Dan begitu saja hari ini, setelah mengawas ujian tengah semester Hukum Lingkungan untuk program sarjana ekstensi, aku terpikir untuk mencoba mencarinya di Youtube berdasarkan tahun. Pertama kucoba 1973. Tidak ketemu. Lalu 1972... dan.... Voila! Rendezvous au Lavandou! Subhanallah, betapa cantik oh cantik sekali melodi ini, Subhanallah. Sambil mengetik, tidak kurang dari tiga kali sudah kuputar ulang lagu ini. Rendezvous au Lavandou! Diary, bagaimana kalau kau kuberi nama? Bagaimana kalau namamu "Diary"? Bagaimana... kalau kau jadi kekasihku malam ini? Mau? Tentu saja!

Kau selalu ada bersamaku entah sejak kapan aku tak peduli. Baru kusadar, engkaulah dia, yang menemaniku dalam hari-hari tak tertahankan itu. Aku tahu, aku masih saja memikul beban itu kemana-mana. Belum juga kutanggalkan. Dapatkah ya mampukah aku menanggalkannya sendiri? Ia lekat padaku seperti kulit punggungku sendiri, dan bisakah orang meraih pangkal lengannya sendiri sebelah belakang? Tidak! Itulah sebabnya bagian itu banyak berdaki. Ya, Diary, aku masih memanggulnya kemana-mana. Seandainya kau mampu melepaskannya dari punggungku... tapi kau, kurasa, justru membuatnya semakin lekat di situ. Kau mengabadikannya! Biarlah... Aku merindukan nyamannya merasa sedih. Aku merasa nyaman ketika sedih. Seharusnya aku tahu dari dulu. Seharusnya aku tidak berusaha mencari kebahagiaan bodoh. Seharusnya aku hidup seadanya saja, bersamamu; dan itu SEDIH! Dan itu NYAMAN! Akulah raja tragedi. Tak habis-habis kuciptakan tragedi untuk diriku sendiri.

Beban itu... rasa malu itu... penyesalan itu.... kebohongan itu... itulah DOSA! Itulah NISTA! Mari sini bersamaku, Kasih. Aku tahu kau suka mengelusku. Aku tahu kau selalu tahu ketika aku sangat, teramat sangat membutuhkan elusanmu. Elusanmu lembut, Manja. Aku malu. Aku menyesal. Aku berbohong. Aku PEMBOHONG [...pada titik ini dadaku meledak tak kuasa menahan tangis] Kau mendekapku erat-erat ke dadamu. Kau tahu aku suka dadamu. Kau membiarkanku mempermainkan dadamu. Kau tahu aku nyaman begitu. Elusanmu tidak henti pada rambutku. Sesekali kaucium, kaukecup lembut dahiku. Aku tahu kau menahan geli yang teramat sangat. Geli yang membuatmu basah di bawah sana. Membanjir, dan aku suka itu. Itulah tandanya kau sangat menginginkanku. Kau mendambaku. Nafasmu semakin berat. Detak jantungmu bertambah cepat. Ya, inilah waktunya kita memadu kasih, menyatukan tubuh-tubuh kita. Menjadi satu. Inilah saatnya, tidak ada derita, tidak ada rasa sakit. Hanya cinta ...dan Cinta. Sangat hewani, namun sungguh Ilahi.

Diary, sungguh enggan aku meninggalkanmu, terlebih karena kuputar lagi Rendezvous au Lavandou ini. Lagu cinta kita. Ensembel alat gesek di latar-belakang bagaikan desahanmu, hentakan langkah bass yang melompat-lompat bagaikan geramanku. Ini lagu cinta! Cinta kita! Biar kuputar sekali lagi... Harpsichord sebagai suara-utama kedua, kadang klarinet, dengan violin dan viola yang seakan beribu-ribu, berlapis-lapis, bagaikan membanjirnya peluh kita. Dan ketika violin dan viola undur ke latar-belakang, saling bertaut berjalin-berkelindan, bagai lidah kita yang saling berbelit, seakan berebut mengecap manisnya cinta. Tak ada habis-habisnya. Harum dan gurih napasmu... kuputar sekali lagi lagunya... adalah alunan viola, sedangkan denting piano adalah jeritan dan eranganmu sesekali. Mengalir dan mengalunnya violin dan viola bagaikan rambutmu yang tebal dan mengombak. Indah! Ini Cinta! Ooohhh.... [pada titik ini tercapailah... kami berdua berpagutan berjalin-berkelindan]

Koptar (P) Bono Budi Priambodo No.Ak. 940352

Wednesday, October 10, 2012

Wawasan Nusantara dan Globalisasi


Jati-diri atau identitas, mungkin, bukan lagi merupakan urusan yang terlampau serius dalam jaman serba global ini, di mana segala sesuatu bisa menjadi barang dagangan atau komoditas. Pada kenyataannya, perdagangan bebas global telah mengubah seluruh dunia menjadi pasar besar tempat perusahaan-perusahaan transnasional menjajakan barang dagangan, sedangkan semua orang lainnya adalah baik gerombolan pembeli yang mampu membeli barang-barang itu, maupun mereka yang kekurangan daya beli sehingga tidak terlalu penting diperhatikan. Jika, pada awal '90-an, terbagi-baginya dunia ke dalam pasar-pasar domestik maupun regional terasa seperti khayalan belaka, 20 tahun kemudian hal tersebut telah menjadi niscaya belaka. Demikian pula, orang kebanyakan kini mengidentikkan dirinya dengan apa-apa yang mampu atau ingin mereka beli.


Namun demikian, setidaknya di Indonesia, masih terdengar suatu wacana yang kiranya terlampau serius mengenai jati-diri ini. Setelah indoktrinasi formal mengenai bagaimana menghayati dan mengamalkan ideologi negara, Pancasila, dihentikan pada 1998, ternyata materi-materinya tidak sepenuhnya hilang. Sehingga kini, masih terdengar istilah-istilah seperti "Wawasan Nusantara", "Ketahanan Nasional" dan sebagainya. Salah satu materi indoktrinasi tersebut yang khusus mengenai permasalahan jati-diri adalah Wawasan Nusantara. Wawasan Nusantara, singkatnya, adalah rumusan atau teorisasi mengenai identitas fisik Bangsa Indonesia, yakni cara Bangsa Indonesia memandang dirinya sendiri dan memahami tempatnya secara fisik di atas bola dunia. Dilihat dari dalam, Indonesia adalah "Nusantara," secarik air dan sedikit tanah yang meliputi seperdelapan khatulistiwa; dilihat dari luar, Indonesia adalah orang-orang yang menghuni Nusantara itu.

Teorisasi seperti ini pada hakikatnya tidak berbeda dengan terbaginya bola dunia menjadi pasar-pasar domestik dan regional; dan identiknya orang dengan apa yang mampu atau ingin dibeli. Lebih tepatnya, teorisasi mengenai geostrategi dan geopolitik, yang mengilhami dirumuskannya Wawasan Nusantara ini, sesungguhnya mendahului geostrategi berdasarkan geoekonomi yang menjadi kenyataan kekinian. Jika dahulu bola dunia terbagi-bagi ke dalam posisi geografis berdasarkan politik global, kini ia dibagi menjadi pasar-pasar domestik dan regional berdasarkan perdagangan global. Jika dahulu orang diharapkan menyadari sepenuhnya keberadaan dirinya di sesuatu posisi strategis tertentu, kini orang diharapkan untuk mengonsumsi produk-produk global untuk mengukuhkan identitas globalnya sebagai warga dunia. Inilah sesungguhnya yang paling nyata dari apa yang sering dikatakan sebagai "globalisasi."

Tuesday, October 09, 2012

Takkan Ada yang Sanggup Membuatku Berpaling


Entri ini tadinya mau kuberi judul "Malu Dilihat Anak Kecil." Malu, karena aku suka hilir-mudik bertelanjang bulat jika sedang sendirian. Kalau ada anak kecil, tentu saja malu dilihatnya. Selain itu, anak kecil jaman sekarang cepat sekali dewasanya ya. Atau memang sudah dari dulu? Apakah kawan-kawan sebayaku dulu juga cepat dewasa seperti mereka sekarang ini? Kurasa ya, karena, seperti halnya Awan Sudiro, Endro Wahyu Wibowo bahkan Yesayas Silalahi dan Ari Setiawan, mereka segera saja menyadari apa yang terbentang di hadapan mereka, yakni karir sebagai perwira TNI-AL; sedangkan aku sampai hari ini saja masih tidak terbayang karir apapun, meski aku sudah diangkat menjadi pegawai BHMN UI di unit kerja Fakultas Hukum. Kembali ke anak-anak ini... jadi kemarin dua orang menghadapku untuk bimbingan skripsi; yang satu bicara mengenai kerugian yang timbul di pihak petambang gara-gara ketentuan tarif menambang di kawasan hutan, yang lainnya berkata bahwa mengusir Adaro adalah tidak mungkin. [?!]

Aku ini seperti sales Blau Tjutji tjap Kidjang yang dipaksa menjual Attack Colour Guard. Biasanya sih, yang kulakukan adalah tetap mencoba menjual blau. Masalahnya, calon-calon pembeli tidak ada yang tahu apa itu blau! Dan Farid Hanggawan berpikir bahwa dia lucu ketika dia bilang Koperasi wis ora payu didol. Apa pikirmu ini?! Ini adalah... blau... Lalu Sandoro Purba. Sopiwan merasa dirinya lucu ketika dia bilang aku sedih sekali ditinggal Sandoro. Aku tahu persis 'ainul yaqin bahwa jualan blau merek apapun hari begini tidak akan laku, kecuali jualannya di Kupang atau Viqueque, mungkin. Aku tahu pasti itu. Dari awal aku juga tidak mau jualan blau. Aku tetap berjualan blau, karena hanya itu yang ada padaku. Ya, aku sayang blau. Namun aku realistis dan pragmatis. Aku bisa saja meninggalkan kekasih kesayanganku kalau dia hanya bikin repot. Nah, yang terakhir ini terus terang aku bohong. Aku terlahir di bulan Agustus dan aku memilih untuk setia pada pilihanku. Ya, aku sayang blau, tapi bukan berarti aku akan membabi-buta menjajakannya. Aku akan tetap menjajakannya karena nyatanya, sampai detik ini, itulah yang ada padaku.

Berbicara mengenai hantu blau, ini lagi orang sama ramai membicarakan korupsi. Korupsi itu hantu blau, dan blau itu sama sekali nyata dan tidak seram. Sudahlah. Lalu ada film mengenai Admiral Yamamoto. Ada yang berkomentar begini, semua film Jepang mengenai Perang Dunia Kedua temanya menyalahkan perang, sedangkan semua film Amerika membenarkannya, menggambarkan betapa heroiknya. Iya juga ya. Lihat saja film Letters from Iwo Jima, bandingkan dengan Sands of Iwo Jima. Apa yang salah dari Jepang saat itu? Ambisi imperialisnya, atau caranya mewujudkan ambisi itu? Pesan yang kutangkap sih, yang salah adalah caranya. Tidak boleh pakai perang. Bolehnya pakai tipu-tipu, pakai korporatokrasi di bawah asuhan perusahaan-perusahaan transnasional. Ya, blau sudah tidak ada yang tahu. Blau sudah menjadi hantu, yang tidak seram. Perang memang membawa penderitaan yang amat sangat. Lihat apa yang terjadi pada rakyat Jerman dan Jepang. Lalu ada orang-orang yang mengatakan bahwa kita, umat Islam, boleh memerangi kaum yang menindas kita, apalagi sampai menginjak-injak keyakinan kita; katanya begitu, kurang-lebih...

Takkan ada yang sanggup membuatku berpaling
...dari BLAU!!!

Jika orang sudah tidak tahu lagi apa itu kehormatan (honor), biarlah. Kehormatan adalah suatu pengertian, suatu pemahaman yang sangat sulit diajarkan. Seorang anak baru dapat kiranya diajari kehormatan ketika ia sudah remaja. Namun bila orang sudah tidak tahu lagi apa itu rasa hormat (respect), tidakkah orangtuanya yang harus disalahkan? Bukankah orangtua yang harus mengajari anaknya rasa hormat, setidaknya pada orangtuanya sendiri. Tentu saja, agar mampu melakukan itu, orangtua tersebut harus sudah mengerti dan memahami apa itu kehormatan. Orangtua harus tahu menghormati dirinya sendiri, yang karenanya ia berhak atas rasa hormat anaknya. Lagipula, menghormati diri sendiri itu berarti memiliki rasa hormat pada orang-orang yang memiliki kehormatan. Betapalah kini kata itu, "hormat," sudah begitu asing di telinga siapapun. Bilakah putusnya rantai itu, pelajaran menghormati yang patut dihormati? Apakah pelajarannya yang berhenti, atau kehormatan itu sendiri yang sudah tidak ada, untuk dijadikan alat peraga?

Catatan ini kutambahkan pada 19.45, setelah aku menamatkan menonton film Admiral Yamamoto. Aku baru sadar bahwa aku bisa menambahkan catatan pada sebuah entri kapan saja, tanpa mengubah tanggal diterbitkannya entri itu sendiri. [Aku seperti Anne Frank]

Monday, October 08, 2012

Damai Hanya Lagu Lama yang Manis


Biar saja, biar aku mengingat-ingat masa yang telah lampau, karena dari spiker terdengar suara Glen Campbell mendendangkan Wichita Lineman. Ini terasa seperti pagi hari bersama Delta FM, yang dulu. Ya, inilah waktunya Delta Morning Show bersama (almarhum) Zein Marasabessy. Tidak lama lagi pasti terdengar jinggelnya yang sungguh menyamankan hati itu. Menyemangati tetapi nyaman. Disiarkan dari Jalan Borobudur Nomor Sepuluh ...memang bukan jinggel itu... tetapi musik Me Va Me Va-nya Julio Iglesias, intronya tadi, agak-agak mirip koq. Jika tidak begini, maka mungkin tak habis-habisnya heranku, mengapa nasi uduk hanya berteman bihun goreng dan gorengan yang... seadanya... lalu tutug oncom dan kentang dicabein, ugh, dan Nescafe Pas yang ternyata memang asam ini.

Aku jengkel, marah, meradang dan sebagainya jika mendengar kata-kata ini: korupsi dan KPK. Biar kucatat di sini, orang kini sedang heboh Novel Baswedan. Sungguh malas aku ikut berkomentar mengenai hal ini, tapi aku marah sekali, sampai-sampai aku ingin sekali berseru Penitenziagite! [jika tidak tahu apa ini, gugellah kata itu] [Ah, Sabor a mi oleh Luis Miguel... tidak pernah gagal memberi rasa hangat di dada...] Kalian ramai-ramai ingin memberantas korupsi, membuat KPK jadi semacam superman pakai kancut di luar, tapi kalian diam saja dengan bertebarannya simbol-simbol hidup mewah di sekitar kalian. Aku tahu, orang-orang seperti kalian ini biasanya adalah mereka yang mengatakan globalisasi dan hak kekayaan intelektual [atau ai-pi-ar, seperti biasa kalian katakan] tanpa bergidik, tanpa menjengit. Ya, ya, aku tahu aku yang gila. Aku yang mengada-ada. Seperti biasa. Sampai kering serak pun mulut dan suaraku, kalian tidak akan pernah paham mengapa globalisasi dan ai-pi-ar itu lebih bau dari tahi tikus campur tahi cecurut...

Sekarang Carly Simon menyenandungkan (Loving You) is the Right Thing to Do. Menurutku sih lebih manis rendisinya Ray Conniff Singers dengan dum dee ree dee dum dum-nya. Namun Youtube sekarang tidak bisa lagi diubah menjadi mp3, sungguh menjengkelkan! Kalau saja aku tidak kebanyakan mendengarkan kutipan-kutipan yang dibacakan tiap ditemukannya teknologi baru, [...dan tidak kebanyakan menulisi kemacangondrongan?!] mungkin waktuku banyak untuk menjelaskan sikapku terhadap globalisasi dan ai-pi-ar dan berbagai sulapan lain terkait. Buat apa? Memangnya aku siapa? Aku pengajar. Aku mendongengi bocah-bocah itu tak henti-hentinya sepanjang tahun. Apakah kalau aku punya buku, menulis buku, dongenganku jadi lebih 'berwibawa,' begitu? ...logika yang menyedihkan. Aku menyuruh mereka membaca tulisan-tulisan Soekarno, Hatta, lalu Ha-Joon Chang atau Mansour Fakih, atau Sri-Edi dan Sritua dan Mubyarto. Apakah mereka membacanya? Apakah AKU MEMBACANYA?!

Cukup. Sekarang tentang yang indah-indah. Sekarang tentang... cinta. Cinta... kalau aku menuliskannya dengan huruf C kapital, itu sekadar karena ia berada di awal kalimat. Demi cinta [tuh kan c-nya kecil] aku tidak boleh gila, meski gila demi Cinta selalu menggoda hati. Demi cinta, pemasukanku per bulannya harus melampaui Rp 20 juta. Duapuluh Juta! Aku harus jadi dosen inti penelitian jika begitu [husy kuwalat!] ...cinta... apa itu cinta? Terus terang, bukan cinta yang kurasakan pagi ini, melainkan cemburu. Dan cemburu bukanlah tanda adanya cinta. Cemburu itu bisikan setan yang merusak suasana hati saja. Yakinlah bahwa lebih banyak lagi orang harus menanggung kenangan yang jauh lebih menyakitkan dari ini, dengan begitu kau tidak merasakan apa-apa. Oh, cinta... benarkah aku harus hidup di dunia ini bersamamu? Harus bersamamu?

Tak kutemukan kedamaian
Hanya lagu lama yang manis

Sunday, October 07, 2012

Sarapan Suasana Hati Lauk Renungan Pagi


kibedjo.wordpress.com suwun nggih
Baiklah, maafkan aku Tante Rita, lain waktu aku pasti akan mendengarkanmu. Janji. Namun baru saja aku mengundi nasib dan yang kudapatkan adalah Emma! Baguslah itu. Sekarang pukul sepuluh pagi, aku bertelanjang dada di hadapan HP 520 dan aku agak berkeringat. Dari tadi pagi aku ingin menulis sesuatu tentang membeli, berbelanja. Berbelanja adalah bentuk ketidakberdayaan. [adakah padanannya? ini panjang sekali...] Ketika aku merasa tidak berdaya, maka yang kulakukan adalah pergi ke Alfamart atau Indomaret terdekat, padahal jelas aku tidak sedang membutuhkan apapun, dan tidak tahu pun apa yang akan kubeli. Apa lagi yang dapat dilakukan manusia modern seperti aku ketika sedang merasa tak berdaya? Kurasa begitulah juga para penggila belanja. Aku ingin tahu mereka kerja apa. Mungkin mereka benar menyukai pekerjaan mereka. Namun, mungkin, hidup dan hati mereka tetap terasa kosong, dan mereka tidak mampu mengisinya. Maka belanjalah mereka, seperti aku belanja. Yang kubeli biasanya Sozzis Ikan Ayam, atau Qtela Tempe, atau Smax Ring Rasa Keju, kadang ditemani susu baik sapi maupun kedelai, atau teh-teh botolan, lebih jarang lagi permen-permen mahal seperti Fisherman's Friend dan Ricola.

Semalam perutku sakit. Bukan berita. Namun itu membuatku ragu-ragu untuk minum kopi sekarang. Ngopi gak ya... Bismillah, ngopi ah. Sekarang di sisi HP 520 ada segelas seduhan Lipton Chamomile dan secangkir Nescafe Pas, dan aku sudah berkali-kali menguap sedangkan Nat King Cole begitu saja ber-fantastico. Dari entri-entriku terakhir, bahkan dari beberapa tahun belakangan, segera saja terlihat bahwa aku tidak sereligius dulu; terlebih bila dibandingkan dengan entri-entri pertama. Sekarang aku terbiasa menunda-nunda shalat sampai hampir habis waktunya, bahkan tidak jarang terlewat. Dahulu aku biasa terbangun di pagi hari dengan kalimat-kalimat yang baik terngiang-ngiang di kepalaku. Bahkan dulu aku otomatis mengucap basmalah begitu bangkit dari pembaringan. Sekarang aku terbangun dengan lagu-lagu atau kata-kata entah apa dalam kepalaku, dan itu pun sudah hampir bisa dipastikan kesiangan. [Uh, Nescafe Pas ini asam sekali... semoga lambungku baik-baik saja] Biarlah itu menjadi satu-satunya kekhawatiranku. Aku menolak khawatir karena yang lain-lain. Aku, Insya Allah, terbebas dari semua saja yang lainnya semenjak aku berkata, pada diriku sendiri, tiada Ilah selain Allah, dan adalah Muhammad yang membawa berita gembira ini bagi kita semua umatnya.

Ho, baru tahu kalau Christina Aguilera ternyata tidak lebih tinggi dari Tante Connie, yaitu 156 cm. Kalau Tante Doris Day itu setinggi aku. Dari yang kurasakan sekarang, sepertinya aku sangat-sangat tidak ingin menulis mengenai perdagangan bebas. Terlebih lagi, aku sudah buat janji dengan kawan-kawan DRC dan LK2 untuk menulis mengenai jual-beli pulau. Halah, apa tidak ada topik lain yang lebih menarik ya, atau lebih tepatnya, lebih serius? Ini diskusi ilmiah, kawan-kawan. Coba dibuat yang lebih serius bisa tidak? Contohnya apa yang lebih serius? Contohnya... Pancasila, Wawasan Nusantara... capek ya serius melulu. Apalagi kalau berpendirian bahwa hidup ini cuma main-main saja, cuma senda-gurau. Hidup ini, lho, tentang hidup ini, cuma kelakar. Hah! Aku lelah dan frustrasi harus menoleransi medioker-medioker ini! Dan siapa juga yang membuat aturan bahwa p, k, s dan t harus lesap ketika bertemu awalan me-? Untung saja, rendisi atau tafsir Luis Miguel terhadap Sabor a Mi sungguh indahnya, jadi agak berkuranglah emosiku. Aku harus memenuhi janjiku [entah mengapa aku berjanji kemarin itu...]

Saturday, October 06, 2012

...ini masih tentang Hujan, cinta dan Cinta


Maafkan mulut kotorku, kawan-kawan, tetapi aku benar-benar harus mengatakannya! Terpaksa membaca dan mencoba memahami buku-buku mengenai perdagangan bebas global itu sama seperti dipaksa mengoral penis seorang homoseks. Terpaksa menulis dukungan terhadap perdagangan bebas global itu sama seperti diperkosa, dianal oleh seorang homoseks. Sebenarnya buat apa sih membuat catatan harian? Aku baru tahu bahwa naskah buku harian Anne Frank ternyata ada beberapa versi, yakni (a) versi asli sebagaimana ia tulis sendiri sejak sekitar 1942; (b) versi suntingan Anne Frank sendiri, setelah mendengar siaran radio oleh Gerrit Bolkestein, anggota pemerintah Belanda dalam pembuangan pada 1944, bahwa ia ingin mengumpulkan kesaksian-kesaksian langsung rakyat Belanda selama berada di bawah kekuasaan Jerman yang dituangkan, misalnya, dalam surat atau buku harian; dan, (c) versi suntingan Otto Frank, bapaknya Anne, setelah Anne mati sebelum perang selesai sedangkan bapaknya selamat sampai perang berakhir.

Dan menulis itu bukan pekerjaan gampang. Setidaknya, menghentakkan jari-jari pada tuts kibor itu lebih memakan waktu daripada nyangkem [tuh kan kotor lagi mulutku]. Terlebih lagi, membaca juga bukan perkara gampang, setidaknya, lebih sulit daripada menonton, misalnya. Nah, bayangkan saja, kawan-kawan, untuk dapat menulis sepanjang kira seratusan halaman A4, berapa banyak buku yang harus dibaca? Berapa banyak artikel? Dan homoseks keparat ini memang betul-betul menikmatinya. Ia mendapatkan kenikmatan dari memaksa orang-orang heteroseks memuaskan syahwatnya yang menyalahi ketentuan alam itu. Setiap kuluman, setiap jilatan, ditingkahinya dengan desahan atau geraman, seakan memaksakan pemahamannya yang sakit. Dan ketika ia mulai memaksakan kelamin laknatnya untuk menerobos lubang yang salah, bukan erangan atau jeritan yang membuat birahinya terbakar; melainkan mimik muka yang menahan marah karena perbuatannya itu, tetapi tidak berdaya melakukan apa-apa. Dilaknat Allah kalian semua, penganjur perdagangan bebas global, sama seperti dilaknatnya orang-orang homoseks!

Lalu, bagaimana dengan yang bukan penganjur? Bagaimana mereka yang mendukung semata karena terlalu sederhana berpikir, karena kurang wawasan [ini istilah yang bagus untuk menggantikan "tidak visioner"] atau... kurang cerdas? Itukah yang sedang kuusahakan, mencoba berbagi sudut-pandang dengan mereka ini? Itukah tujuan hidupku? Kebanyakan orang, dari bocah baru lulus SMA sampai ibu-ibu bergelar Profesor, bukanlah merupakan penganjur aktif perdagangan bebas, setidaknya di Indonesia. Kebanyakan mereka sekadar... bagaimana caraku mengatakannya... kurang suka sejarah. Kebanyakan mereka sekadar menjalani hidup seperti apa adanya. Untuk mereka ini, aku berdoa, sebagaimana dan terutama untuk diriku sendiri yang bodoh lagi miskin ini, semoga Allah mengaruniakan petunjuk dan senantiasa melindungi dan menolong, terutama sekali mengampuni jika salah maupun khilaf, dalam menjalani hari-hari di akhir jaman yang penuh fitnah ini. Amin. Kasihanilah kami, Ya Allah... kasihani... [mengguguk]

Jadi buat apa menulis buku harian? Terus-terang, aku belum pernah membaca sendiri buku harian Anne Frank yang begitu terkenal itu. Kini padaku ada buku itu, akan kucoba membacanya, daripada terus-menerus membaca Teriakan Perangnya Leon Uris, seorang Yahudi juga. Ada yang pernah berkata, atau mengatakan padaku, bahwa Hitler sengaja menyisakan orang Yahudi, tidak semuanya dibasmi, agar umat manusia tahu betapa tidak bergunanya mereka, betapa mudarat saja yang bisa mereka bawa. Hah! Konspirasi. Tidaklah. Kalau tidak salah sudah pernah kutulis juga di sini, aku menolak percaya bahwa ada suku bangsa tertentu yang memang tercipta untuk membuat onar saja di muka bumi. [lalu Yakjuj Makjuj itu apa?] Segala keonaran ini, begitulah yang kupercayai, disebabkan oleh kerakusan, ketamakan. Rakus dan tamak akan apapun. Dan siapapun, dari suku bangsa apapun, dapat saja menjadi rakus, menjadi tamak. Kini, rakus atau tamak disebut dengan istilah lain: rasional. Untunglah aku irasional, jadi aku tidak perlu khawatir menjadi rakus.

Jadi buat apa menulis catatan harian, Anne?

Friday, October 05, 2012

Sebentar Lagi Mengajar Perdata Dagang


Jadi, tadi setelah shalat Jumat, Dita tiba-tiba menghampiri kubikelku dan memberitahukan kalau ada mahasiswa mencariku. Mereka, katanya, ingin bertanya mengenai UU BPJS. Ha?! Apaan tuh? sahutku. Itu Bang, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Kenapa tanya ke saya? Abang kan ngajar macem-macem, jadi mungkin yang ini tahu juga. What?! Begitulah reputasiku telah terbentuk. Mengajar apa saja. So much about being Dosen Inti Pengajaran. Kini sudah jam 15.02, yang berarti kurang dari satu jam lagi aku harus mengajar mata kuliah Hukum Perdata Dagang di Vokasi Program Studi Administrasi Perkantoran dan Sekretari. Aku tidak pernah menyangka akan mengatakan ini, tapi, menilik keadaanku kini, memang hanya ini yang dapat kukatakan.

Aku hanya sekrup kecil dalam sistem yang besar dan tua ini... Tambahan lagi, Khatib tadi berbicara mengenai menegur kemunkaran, dengan tangan, dengan lidah, dengan hati. Tegurlah dengan tangan, selama tanganmu tidak terikat. Bila tanganmu terikat, tegur dengan lidah, selama lidahmu belum terpotong. Jika lidahmu terpotong, maka camkan dalam hati bahwa itu adalah kemunkaran. Apa yang kuhadapi kini... aku bahkan tidak tahu dan tidak berani mengatakan apakah ini kemunkaran atau bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah aku sudah apatis. Masa bodoh. Sesuatu sikap yang sungguh mudah saja bagiku. Aku hanya mencoba bertahan hidup. Standar hidupku, kurasa, naik sedikit, tetapi memang tidak turun. Aku tidak terlalu suka sekali makan sekarang. Perutku mudah sakit kalau diisi terlalu banyak. Lainnya, aku tidak ingin apa-apa.

Kirov reporting. Airship ready. Bombardier to your station.
Baru saja selesai mengajar perdata dagang, sok-sokan menembus hujan, celana jadi lembab dingin begini. Francis Goya mendentingkan Concerto D'Aranjuez. Akhirnya hujan juga, hujan lagi. Hujan selalu membawa suasana hati yang khas, dari tahun ke tahun. Waktu aku kecil di Kemayoran, hujan di sore hari membangunkanku dari tidur siang, sementara Ibu sedang menyetel kaset-kaset. Waktu aku SD di Kebayoran, hujan ketika pulang sekolah membuat talang air di Kompleks AL jadi pancuran yang seru. Waktu aku SMP di Tangerang, hujan menemaniku menghadapi hari-hari penuh kebingungan gara-gara perubahan hormonal. Waktu aku SMP kembali ke Kebayoran, hujan mendinginkan hatiku yang selalu terbakar tekad harus masuk SMA Taruna Nusantara. Waktu aku SMA di Magelang, hujan di senja hari menjelang penurunan Bendera meningkahi Awan Sudiro dan kawan-kawan lain mendengarkan acara curhat-curhatan di GKL FM Radio Magelang.

Waktu aku menjadi anggota Resimen Chandradimuka '94, hujan membasahiku di atas truk ketika bergeser dari satu tempat latihan ke tempat latihan lain, sementara di pinggir jalan sebuah keluarga menonton TV di rumah mereka yang tampak hangat. Waktu aku mengikuti pelayaran Pra Jalasisya sebagai Pratar AAL, hujan membuat laut bergelora di lepas pantai Kalimantan Barat, sebelum menghulu Kapuas ke Pontianak. Waktu aku bertugas sebagai PD Sarasan sebagai seorang Koptar, hujan menemaniku menghabiskan "somay," yakni makanan yang terdiri dari telur rebus, tahu goreng dan bumbu kacang, sambil mendengarkan Roxette menyanyikan What's She Like. Waktu aku menghuni Ruang Karantina Menular, hujan rintik-rintik mengiringi dijemputnya aku oleh, ketika itu, Lettu Yayok Subagyo untuk dibawa ke Rinjani. Waktu aku... hujan...

Hari ini, 67 tahun yang lalu, TKR lahir.

Thursday, October 04, 2012

...akhirnya Menyamai 2008, Tahun yang...


Pagi ini, jam setengah delapan aku sudah sarapan di kantin FHUI. Menunya nasi Padang dengan lauk telor dadar dan terong balado. Jadi, suatu hari dalam kesempatan makan siang, Mas Narno Bapaknya Galan bertanya kepadaku, koq senang makan terong sih, Mas? Itu kan bikin lembek. Saya jawab, justru itu Mas Narno, saya sedang bingung, ini koq selalu keras begini. Jadi, saya makan terong agar tidak terlalu sering keras. Entah makan nasi Padang untuk sarapan ide yang baik atau bukan. Namun, bila tidak nasi Padang, maka pilihan lain adalah bubur ayamnya Ian atau lontong sayur, yang mana aku sedang tidak berselera. Ada satu makanan di kantin FHUI bawah yang aku tidak pernah kepingin, yakni soto mie. Gak satu ding, ayam-ayaman goreng Mas Agus juga aku gak pernah pesan, juga makanan sok Jepang atau Barat yang sering dipesan Mas Wirok itu.

Inilah apartemen itu, dipandang dari Lakenweversplein. Tanda panah kuning menunjukkan jendela kamar I Made Budi Arsika, selanjutnya ke kanan adalah jendela di belakang sofa di ruang tengah, kemudian, ke sisi Timur, jendela kecil di belakang tivi, sebelah kanannya balkon, kemudian jendela kamar Bu Supasti, kemudian jendela kamar Ni Gusti Ayu Dyah Saraswati.
Ini adalah entri yang keenambelas dalam tahun ini, yang berarti menyamai produktivitas 2008, tahun yang... Ya, semua entri pada tahun itu kenyataannya kubuat pada paruh keduanya, ketika aku sedang di Belanda. Duh, Neil Sedaka mendendangkan riang Gadis Nakal lagi... Pertama kali aku mendengar lagu ini di Zwanenstraat, Maastricht, akhir Desember, hari-hari terakhir 2008. Sendirian saja di apartemen itu... dan kutemukan lagu ini di Youtube! Iesu Cristo! They don't make no song merrier than this! Splendid! Sublime! Gadis Nakal, aku jatuh cinta padamu, begitu katanya. Gadis Nakal... Kemudian, ketika itu seingatku sudah Januari 2009, malam hari dan salju baru saja turun dengan lebatnya. Sebelum tidur kuputar dulu lagu Gadis Nakal ini dum dum dum wow wow... Dini hari rombongan backpackers pulang dari keliling Eropa Tengah dan menulariku flu yang sangat parah.

Capuccino Nestle itu selalu manis, yang dari dispenser di Faculty Lounge itu. Manis sekali, yuck! Ya, memang aku sengaja menghindar dari membicarakan 2008 lebih jauh dan lebih rinci. Kini aku punya masa depan membentang di hadapanku, bersama Cantik, satu-satunya yang cukup berarti dari hidup di dunia ini selain, tentu saja, Bapak Ibuku. Lalu Mama. Lalu Tante Lin. Aku tidak tahu apa yang menghadangku esok dari harapan-harapan dan khayalan-khayalan dan kekhawatiran dan... Tafsir Neil Sedaka mengenai Because of You ini manis juga. Termasuk manis. Lamat-lamat manisnya, tidak seperti Capuccino Nestle ini. Oh no! Breaking up is Hard to Do! Aku akan memulai segalanya yang baru. Sama-sekali baru. Meninggalkan masa laluku... dan masa lalunya? Semoga aku bisa melakukannya. Amin. Aku tidak mau menyakitinya. Aku tidak rela kalau ia sampai sakit.

Wednesday, October 03, 2012

Maret dan September Sama-sama Tujuhnya


Aku memulai entri ini ditemani oleh Emma Bunton menyanyikan Samba Musim Panas, di sore hari yang nyaman ini. Setelah menyantap Sarimi Duo Ayam Goreng Kecap yang ternyata porsinya besar sekali itu, aku menikmati secangkir Nescafe Pas. Memang mengetik yang paling enak itu kalau mengenakan celana pendek dan kaos oblong saja, sambil berkeringat-keringat. Kata-kata meluncur begitu saja, secepat peluh yang membanjir di sekujur tubuhku. Jadi tidak perlu AC. Aku perlu ruang kerja yang tepat seperti ini. Jendela terbuka lebar, lebih baik lagi bila pemandangannya lepas ke alam bebas... yah... setidaknya ada satu dua batang pohon, atau dedaunan, pokoknya alam bebas.

Kini Glen Campbell meratap-ratap agar Kekasihnya Kembali. Kasihan dia. Kekasihku tidak pergi. Ada. Ya, ia sedang bepergian, tetapi tidak lama pasti akan kembali. Ia sangat mencintaiku, setidaknya begitulah katanya. Ia harus begitu, karena aku sangat mencintainya. Cinta itu apa? Suatu pagi aku terbangun dengan kata "kapilawastu" terngiang-ngiang dalam benakku. Lucunya, ketika itu aku sama sekali tidak ingat apa itu kapilawastu. Segera saja kugugel ["gugel" adalah sebuah kata serapan dari google, yaitu sebuah kata kerja yang artinya menelusur mengenai sesuatu di Internet] dan ingatlah aku! Itu adalah tempat kelahiran Shiddarta Gautama. Kapilawastu! Jadi, invensi Buddha Gautama berkenaan dengan cara beragama orang sejamannya adalah moderasi; artinya, di tengah-tengah antara mengumbar hawa nafsu dan mengekangnya terlalu ketat.

Tadi aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi. Sekarang ditemani dengan seduhan pepermin dari Lipton. Barang mahal. Pepermin murni diseduh saja, tidak ditambah apapun. Gula juga tidak. Wow, sekarang Sleepy Shores! Bagaimana pun itu menyedihkanku. Sedih. Aku tidak punya anak. Kalaupun pernah, aku sudah lupa rasanya ...dan dari apa yang kurasakan sekarang... sepertinya aku tidak akan pernah punya anak. Aku tidak tahu rasanya punya anak ...dan... Aku benci mengajar! Mereka, mahasiswa-mahasiswa itu, seperti biasa, memanggilku "Pak". Mereka seperti anak-anakku. Yang terbaru di antara mereka rata-rata kelahiran 1993. Pada saat itu, aku memang sudah mampu membuahi telur perempuan. Beberapa di antara mereka memanggilku "Bang", mungkin karena aku sok funcky.

Sudah Maghrib. Shalat dulu.

SK Rektor UI tentang Pengangkatan Bono Budi Priambodo menjadi Pegawai BHMN UI
Gimana? Keren 'kan? Biar kuabadikan dalam entri ini. Pada Kamis, 27 September 2012, ketika aku sedang mendongeng mengenai visi Kertanegara, dalam Bahasa Inggris kepada anak-anak KKI 2012, dalam kesempatan Civic Education, aku menerima sms dari Pak Jemari. Bunyinya kurang-lebih begini: SK BHMN sudah bisa diambil di Bagian Kepegawaian. Oh My Goodness... begitu kukatakan ketika aku membacanya. Demikianlah maka aku bergegas ke ruangann Pak Jemari setelah selesai mendongeng. Singkat cerita, akhirnya kulihat juga yang namanya SK BHMN seperti apa. Alhamdulillah. Kata Bu Myra, aku beruntung. Alhamdulillah. Kuadukan pada Bang Andhika. Gue udah tau, katanya. Lalu beliau membuka SIAK saktinya dan menunjukkan bahwa statusku sudah Dosen Inti Pengajaran dengan kewajiban mengajar sekurangnya 18 sks dalam satu tahun.

Senang? ...ya... kesenangan itu sempat ada, kegairahan itu. Beberapa menit saja. Tidak sampai sejam kurasa. Alhamdulillah, aku sudah pegawai BHMN UI. Dulu Sopuwan yang mau jadi pegawai BHMN. Kapan itu? Empat atau lima tahun yang lalu. Aku berstatus pegawai BHMN UI terhitung mulai 1 Maret 2010. Nah, kemarin sore, sehabis mengajar Hukum Lingkungan Kelas B-nya Mbak Wiwiek, aku bertemu dengan anggota MWA Mas Akhmad Mukhtarul Huda, dan beliau menjelaskan mengenai berbagai kemungkinan bentuk UI kelak dan pengaruh masing-masing pada status kepegawaian. Keterangan Mas Huda merupakan satu alasan lagi untuk mengucap Alhamdulillah wa syukrulillah; seraya berdoa untuk kawan-kawan yang lain, terlebih yang sangat mendambakan kejelasan status kepegawaian, agar kelak status mereka juga jelas sejelas-jelasnya. Amin.

Begitu banyak di sekitarku dan padaku sendiri yang harus disyukuri. Sungguh melimpah-ruah belas-kasih sayangMu pada hamba-hambaMu ya Maharaja yang Maha Pemurah. Perasaan nyaman ini, karena mendengarkan Frank Sinatra bertutur mengenai Gelombang, lalu Donny Osmond meratap-ratap mengenai Cinta Kirik, laptop HP 520 yang, entah mengapa, hari ini tidak mengeluarkan bunyi hujan, [mungkin karena baru hujan beneran] udara yang nyaman sehabis hujan... Terlalu banyak alasan di dunia ini untuk merasa nyaman, senang dan bahagia. Kita hanya harus memusatkan perhatian pada alasan-alasan ini, seraya mengabaikan godaan untuk merasa gelisah, sedih dan merana.

Tak pernahkah kau santai
Tak pernahkah kaucoba
mencari nyaman di dalammu

Tak pernahkah kau bahagia
hanya mendengar lagumu sendiri
Tak pernahkah kaubiarkan orang lain menang