Thursday, January 16, 2020

Selamat Tahun Baru 2020. Demam Membanjir


Sepulang dari Martabak Kubang, kudapati Cantik masih tergolek di tempat tidur, belum terlalu sehat. Kutunjukkan padanya Soto Padang. Ia tidak begitu antusias. Aku tidak begitu ingat bagaimana aku menghabiskan malam pergantian tahun, sebagaimana memang aku tidak pernah terlalu peduli apakah tahun menurut penanggalan Gregorian ini berganti atau tidak. Hanya saja kuingat sebelum tahun berganti, sekitar jam sebelas malam aku sudah sangat mengantuk sedangkan langit malam mulai menitikkan butir-butir airnya. Hahaha, selamat main kembang api.


Entah jam berapa aku bangun, yang jelas sudah terang langit, namun hujan turun dengan perkasanya. Bagaimana betul kulewatkan pagi itu, aku tidak begitu ingat. Apakah aku sempat membeli nasi uduk, atau sekadar membersihkan sampah kulkas, aku tidak ingat. Hanya dua hal kuingat, memantau berita mengenai ketinggian air dan merasakan badan yang sama-sekali tidak bugar. Nyatanya hujan baru benar-benar reda lepas tengah hari, jika tidak salah, sekitar jam dua. Barulah setelah Ashar terasa lapar, dan ketika itulah Cantik merasa sudah sehat dan ingin KFC.

Demikianlah kami begitu saja berboncengan menuju KFC Plasa Depok yang namanya sudah ganti itu. Udara dan langit sore sesudah hujan ketika itu sungguh nyaman dan cantiknya. Memasuki parkiran motor, akan tetapi, aku merasa ada yang aneh. Penuh! Benar saja, KFC seperti pasar kaget. Orang di dalam bahu bertemu bahu. Kuminta Cantik untuk mencari bangku kosong sedang aku mengantri. Pada saat itulah aku merasa ada yang semakin tidak beres dengan badanku. Berdesak-desakan seperti ini, tidakkah itu artinya saling bertukar virus antar-sesama rakyat Haji Idris.

Seselesainya makan KFC, entah bagaimana caranya Cantik minta belanja, dan entah mengapa terus mencongklang Skupi ke Giant BBM. Di situlah, baru beberapa langkah di antara rak-rak, aku merasa benar-benar tidak enak badan. Maka pergilah aku ke foodcourt sedang Cantik meneruskan belanja. Sementara aku membaca Jika 'Ku Mati di Medan Perang, Masukkan Jasadku ke dalam Kantong dan Kirimkan Pulang, tak lama kemudian Cantik selesai dan kami pun pulanglah. Menembus udara malam, semakin terasa kalau badanku sedang bersiap-siap untuk demam.

Demikianlah maka catatan mengenai Tahun Baru 2020 ini baru ditayangkan saat ini, hampir dua minggu aku terkena flu yang aduhai... tak terlukiskan kata-kata. Demam, ya, ini yang paling istimewa. Hampir satu papan Paracetamol 500 mg kuhabiskan saking tidak tertahankannya. Aku sulit tidur tanpa Paracetamol, dan bila kutidur dengannya, maka aku terbangun bermandi keringat. Ada juga satu episode ketika demamku sudah tidak terlalu tinggi, sekitar 37.1 derajat Celsius saja, aku minum Paracetamol agar bisa tidur, justru terjaga lebar berpeluh berkeringat.

Berhubung sakit ini, banyak rencanaku bubar berantakan, terutama berkenaan urusan dengan Janus Oomen. Untungnya urusan dengan Bapak-Ibu juga Mama-Tante Lien tidak terbengkalai. Aku masih sempat ke Radio Dalam dan Kodamar, meski tidak menghasilkan entri yang ditulis di Bagasnami. Terasa sungguh jengkelnya, karena ini hari-hari terakhir sebelum aku berpisah bisa sampai dua tahun lebih dengan kehidupanku yang ini. Rencanaku untuk berpesta perpisahan dengan tahu petis saja gagal, digantikan seadanya dengan mie pangsit udang.

Rabu, 15 Januari 2020, Alhamdulillah, masih sempat merayakan ulang-tahun Cantik yang ke-43, berdua saja, bertiga bersama Kambing Berbulu Kemaluan. Nyatanya, Kambing, tentu saja, sebagaimana bisa diduga, makan paling banyak, seakan-akan dia yang ulang-tahun, sudah 'gitu tidak bayar lagi; bahkan masih berani-beraninya mempertimbangkan roti keju Hokkaido. Kakaknya tidak ikut. Sudah lama dia tidak mau ikut, terlebih kalau bepergian berempat. Ini sungguh-sungguh menyedihkan hatiku, namun sudahlah. Tidak ada juga yang dapat kulakukan mengenainya.