Sunday, April 30, 2023

Ayo, Perak. Maju. Rikiplik Rikiplik 'ngGdabrus


Meski rikipliknya kurang satu, tetap ingin 'ku memaki. Untung Art mengingatkanku, hidup ini sekadar impian. Seperti puasa Syawal yang kurang dua hari gara-gara lis tepong-tepong; aku tidak yakin apa harus dikursifkan. Bagaimana jika tanda baca tidak memiliki makna apa-apa kecuali sekadar untuk keindahan. Aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun mengenainya. Biar 'ku rasakan sendiri saja. Jumat pagi bermendung merupakan suatu penanda waktu, sedang aku tidak suka menandai waktu. Ahoi, soto mie memang dari dulu ya begitu saja rasanya.
Lebih baik aku beranjangsana ke Shangri-la, meski aku pernah makan baik di Sarasan maupun Handrawina. Tempat-tempat makan dengan nama-nama sok-sok'an, biar kesannya tempat makan bangsawan. Aku sudah tahu bahwa aku tidak pernah suka berpura-pura jika itu bukan untuk berolok-olok. Bersenda-gurau di salju memangnya aku Andriawan Pratikto, meski sempat teringat pula suatu malam bersalju basah diserbu rombongan turis dari Eropa timur. Sebentar, apa habis itu penghuninya pulang ke Bali sampai-sampai menghabiskan sedikit waktu di kamar Ayu.

Aku lupa tepatnya bagaimana lantas pindah ke Sint Antoniuslaan setelah menghabiskan sekitar setengah tahun di Laathofpad. Nama-nama yang tidak meninggalkan kenangan manis padaku sampai 'ku damba-damba. Tidak ada. Tidak juga Barepan. Sedihnya, tidak juga Jalan Radio. Sudah lama aku tidak benar-benar tinggal di sana, sejak 1991. Sempat melarikan diri sekitar 2002-2003, namun kembali menggelandang di Barel. Tidak ada satupun yang dapat 'ku sebut rumah. Maka ketika diserang biru musim dingin, 'ku bertanya-tanya, sakit rumah yang mana. Kos-kosan?!

Uah, sepoi musim panas memang tidak pernah gagal membuatku merasa di rumah. Rumah yang mana. Rumah ulat berwarna kuning kusam dengan kusen-kusen coklat tua. Depan kebun durian, belakang masih kebun entah apa, gelap-gelap jika malam. Beranda berubin merah menghadap timur. Dari balik dedaunan pepohonan durian mengintip purnama raya terbit, mengilhamkan sebuah lagu. Menjemur baju di kebun belakang malam-malam jangan sampai menyanyi pringas-pringis moto plirak-plirik penghuni bangunan tua, nanti bisa memekik ketakutan lari masuk rumah.

Hari itu, 28 September 2000, meski sekarang bukan hari itu. Bisaku masih mainan MS Word. 'Ku tulis puisi dalam bahasa Inggris sebagai ungkapan kesakitan hatiku, sendirian di LKHT yang sekarang jadi Sekretariat Iluni. Udara berpendingin ruangan, gelap kecuali cahaya lampu dari luar. Sampai hari ini aku terperangkap di situ. Bilakah tiba waktunya, jika ada pasti tiba. Seperti ketika suatu pagi pulang ke rumah kambing, kosong, Metro TV dengan siaran awal-awalnya. Entah seporsi ketoprak, setelah itu tidur sampai siang atau sore, lalu Sunsilk extra mild chamomile white tea.

Seperti halnya ada waktu-waktu untuk hidung tersumbat, ada pula waktu untuk angin sepoi-sepoi dan aku. Ya, seingatku awal musim dingin 2009 itu juga begitu. Makanan berkurang rasanya, tidak seenak biasa. Masih terasa, namun biasanya lebih enak. Waktu-waktu berlalu bagai mimpi. Tak hendak 'ku ingat-ingat pula lontong kikil kecuali ada kucainya. Jika surimi garnalen terus terkenang karena memang enak. Kibbeling bersaus di Molenwijk itu juga lumayan enak meski menyakiti lambung. Yang di Buitenveldert dan Oostelijke Handelskade juga enak. Masalahnya mahal.

'Ku lihat-lihat lagi gambar-gambar makanan khas Indonesia dan Jawa yang sering 'ku beli dulu, alamak, sungguh menyedihkan bentuknya. Sebenarnya sih, terlepas dari bentuknya, rasanya berterima 'lah. Namun mahalnya itu tidak ketulungan. Apalagi Zumpit setelah di Sepurderek, masakan tahu entah-entah, fuyunghai vegan, mie tumis dua kotak, setengah juta lebih! Suatu kemampusan, 'ku beri bertanda seru memang disengaja untuk menekankan betapa jengkelnya. Namun tetap harus diakui, yang dia kata fuyunghai sebenarnya omelet Eropa yang superieur

Wednesday, April 26, 2023

April Belum Berlalu. Ramadhan yang Mulia Sudah


Rongga hidung dalam dan puncak tenggorokanku mulai terasa tidak enak, setelah Khaira, Fawaz, dan Bundanya terkena masalah yang sama. Khaira bahkan sampai dikerok, sampai teriak-teriak. Entah beberapa hari sebelum lebaran ia memaksakan diri untuk itikaf sendiri di Istiqlal. Pulang-pulang sakit dia. Lantas mengapa aku harus membatasi pandangan hanya padamu. Karena mauku begitu. Lebih baik aku menjulurkan lidah dan memonyongkan bibir daripada harus memandang selainmu. Aku selalu ingat padamu, Istri pertamaku, terakhirku, segalaku.
Badan pun mulai terasa agak kurang yes, meski dari kemarin namanya puasa ya pasti begini lah rasa badan. Daripada merasa-rasakan badan, lebih baik aku terbang ke awang-awang. Namun 'ku urungkan, karena merpati sudah bukan seekor, melainkan sepasang. Terlebih lagi, ia sudah tidak putih, tetapi ternoda darah malam pengantin. Semoga. Kini aku ditemani penyuka Chopin, karena hujan-hujan begini memang paling ajib berteduh di gazebo berduaan bersamanya. Seperti dahulu kamar praktek dr. Hardi Leman tempat kali pertama bertemu dengannya, aduhai mesra.

Suasana yang berubah-ubah, hati yang berbolak-balik. Hari-hari hujan berhari-hari panas terik. Ini bukan puisi apatah lirik lagu. Inilah dia yang namanya entri, tiada yang terbayang sama sekali. Hanya buku tulis bergambar muka Mahua Arismaya satu halaman penuh, lalu entah yang 'ku ingat sebagai Captain Wickers yang 'ku buat berleher kokoh sekali, lantas aku di samping biplane bertangki eksternal. Sepertinya 'ku modelkan dari Fairey Swordfish dalam Dari Balon ke Pesawat Terbang. Sungguh sendu menyayat hati melodi bak suasana hati nan selalu begitu.

Monyongnya bibir, menjulurnya lidah bukan alasan untuk ditapuk, yang meski tidak boleh dibiasakan, tetapi bisanya hanya itu. Dibuat bagaimanapun kemarin sekali lagi tidak membuatku teringat entah lantai berapa di Sepurderek yang berwarna kuning. Kesepian mencekam hanya terkenang, hanya masakan Japri yang sekenanya namun enak juga. Tiga batang dupa setanggi menguarkan harumnya bagai keharuman yang menghiasi ruang belajar para padri dan bante. Sama-sama botak, hanya yang satu bak mempermalukan diri sendiri, sedang lainnya gundul ceprul.

Betapa jinak-jenakanya, akankah berliur berlendir jika diberi bergaram. Sekali lagi 'ku temui diriku menggapai-gapai masa yang telah lampau, teraih lampu petromaks yang tengah dipompa sehingga semakin terang-benderang. Kemasygulan suasana hati selalu menghiasi, entah pernahkah bersantai di siang hari di ruang baca perpustakaan. Aku hanya ingat menonton liputan hari Angkatan Bersenjata. Ada tank-tank berparade, ada brosur STPDN dan mungkin Akpol, dan sepertinya Dhirotsaha. Aku selalu murung dan masygul, tiada benar masa depan 'ku harap-harapkan.

Azab dan sengsara membawa nikmat itu hanya ada di kapal Van der Wijk yang sudah tenggelam saja. Di mana-mana nikmat tidak seberapa meski sebesar bola voli. Uah, aku kembali diterbangkan di awang-awang meski tidak oleh seekor merpati putih. Aku bahkan tidak peduli jika ini cangak ulo atau titituwit sekalipun. Tinggal dijalani saja sisanya sambil memonyongkan bibir dan menjulurkan lidah. Bahkan kalau perlu mengatupkan bibir dan menyimpan lidah, menunggu apapun yang melintas di hadapan, baru lidah berperekat dilesatkan dan ditarik kembali.

Tahun '60-an itu lucu ketika rambut perempuan disasak tinggi-tinggi sampai seperti menara, seperti The Ronettes begitu. Tahun '70-an dibiarkan panjang tergerai atau mumbul mengrimbo, termasuk rambut ketiak dan kemaluan. Tahun '80-an berjambul tinggi macam bangsa burung-burungan, sedang di samping dan belakang kepala dibiarkan jatuh keriting sosis atau papan. Rambut lelaki kurang lebih seperti Top's Collection, yang tinggal tunjuk mau yang mana, meski seringnya tidak menakar diri apakah bisa dijadikan begitu. Aku tetap monyong dan melet.

Monday, April 17, 2023

Rindukah Kau Pada 'Ku Ingin Melepas Burungku


Ini juga akhirnya yang 'kulakukan, karena cerdas pada jam sembilan sedang kau merasa seperti sedang dikukus atau bahkan dipanggang sungguh mustahilnya. Meski begitu, tetap Indomie goreng jumbo biru diberi berkuah nyemek masih dengan otak-otak dan sosis masing-masing seutas menambah hangatnya suasana. Masih kurang, teh halia betul-betul membuat cuaca gerah ini menjadi seperti berselimut duvet. Terlebih ketika di tengah meradangnya hari kau diintersep oleh entah apa yang setelah heroik 'nyosio-legal nelayan memagister kenurhidayatan. Sungguh sudah bukan waktunya, ketika 'ku sudah punya yang pertama, terakhir...
...dan segalanya. Lain halnya jika ternyata pacarmu selingkuh dengan si tengkuk bertato dari planet Tatooine. Ketika itu masih jaman akses jamak pembagian kode. Meski ketika ditanya, siapkah 'ku 'tuk jatuh cinta lagi di Amstelveen, aku malu-malu anjing. Betapa tidak, bahkan sakura bermekaran di sepanjang tepi lapangan tempat mahasiswi sering tengkurap dengan pakaian seadanya. Namun, sebagaimana dapat diduga, aku melenggang saja menuju kudapan Amstelveen mendapati irisan-irisan tipis daging bermahkota utas-utas kentang goreng sambil beruluk salam.

Putih diganti jadi angin sepoi-sepoi itu lucu juga. Mungkin karena putih identik dengan wajah yang pucat-pasi, sedang angin sepoi-sepoi menerpa sisi kiri wajahmu ketika mengendali AH-1G Cobra agar melata-lata jalannya. 'Ku susuri Raya Bogor dari Radar AURI sampai Pasar Pal hanya untuk omong-kosong mengenai perkebunan kopi, tak ubahnya melakukan di sudut apak PDRH. Ketika itu saja tidak berdaya, bagaimana sekarang. Ketika angan menyusuri Meuse ke arah selatan di tepi timurnya hingga bertemu kedai es krim atau tepi barat sampai kantor-kantor pemerintah.

Astaga masih kurang empat betapa lambat kemajuannya. Terlebih jika membayangkan harus saban-saban memeriksa pratinjau hanya untuk memastikan rata kanan kiri. Hanya. Itu segalanya, seperti kenyamanan yang dibawa oleh Michael dari masa kecilku yang kini telah tiada. Semua saja, masa kecil siapapun, 'kurasa memang telah tiada. Mana ada lagi rawa-rawa dengan kepik emas-emasan. Orang-orang ini rasa-rasanya tidak punya suasana hati yang pas untuk menghayati keanekaragaman hayati. Rasa-rasanya, karena tidak ada sesuatu cara pun dapat 'kuketahui.

Tiada lain penjelasannya kecuali aku ini memang orang hukuman yang terus mengulang-ulang kesalahan sehingga terus-menerus dihukum. Jika aku dengan sadar berhenti berbuat salah, aku yakin tanpa 'kusadari hukuman itu berhenti dengan sendirinya. Namun aku masih terus saja menimpakan kesengsaraan pada diriku sendiri jauh sebelum matahari terbenam di Kepulauan Karibia. Seperti apa malam-malam di jalan keluar kompleks menuju ke pasar Bendungan Jago, seperti halnya pasar di seberang Yado III yang sudah tiada. Terkadang aku kira aku punya teman.

Adakah malam-malam di Graha 5 ketika aku memutar milikmu secara instrumental dan melodi-melodi lembut. Apakah aku bahkan lebih kacau lagi dari malam-malam itu. Berapa lama mereka tidak bersamaku. Bagaimana dengan malam-malam di tepian kebun coklat atau Ciliwung. Sudah pasti aku jauh lebih kacau. Sudah begitu mau enak ya nikmati saja masa hukumanmu. Seenak apapun irisan-irisan tipis daging bermahkota utas-utas kentang goreng tidak akan menandingi nikmatnya Abrakebab. Hokabento takkan enak bila tak'da nasi ekstra dalam kotak bekas es krim.

Pernah ada somay yang nyaris tidak ada terigunya, mungkin tapioka saja isinya, 'kubeli di tangga antara Gedung E dan Gedung C entah selesai kuliah apa. Memakannya sambil melangkah menuju Barel atau mungkin LKHT mantan M-Web. Ada juga masa-masa seperti itu yang dijalani setapak demi setapak sambil terkadang menikmati tarian terlarang. Aku memang pantas dihukum jikapun Margaret ini yang diketahui. Ketika itu masa-masa Margaret hilang dari kehidupanku. Entah apa kudapan batinku. Masa-masa yang berlalu begitu saja hanya untuk berakhir di sini. 

Thursday, April 13, 2023

Semua Kecintaanku 'Kan 'Ku Kirimkan Padamu


Awas, jangan pulak kau bilang di bawah ini gambar monyet. Ini Lucy, salah satu cinta pertamaku. Lho berarti lebih dari satu. Mungkin, karena kami memang pernah bercinta-cintaan dulu ketika kali pertama turun dari pepohonan, setapak demi setapak memasuki padang rumput yang semakin luas saja. Buah-buahan semakin sedikit, bahkan daun-daunan pun. Lucy tewas sementara sedang menggendong anak kami. Mungkin ia terjebak di tengah-tengah perang suku sebagai kerusakan kolateral. Mungkin ia tidak sempat menyingkir menyelamatkan diri. Entah apa 'ku namakan anak kami, Johnnie atau Charlie, yang juga mati dalam naas itu.
Lucy S. Diamonds, nama panjangnya Lucy in the Sky with Diamonds
Aku tidak terima jika kau menyebutnya monyet, tapi kalau kunyuk biarlah, karena itu aku. Meski bentuknya sangat sederhana, berhias gincu bagai semburat jingga kemerahan di ufuk timur ketika matahari menyeruak dari balik malam. Bagaimanapun  aku kedinginan, karena ini di IASTH Lantai 2 dan 'ku rasa aku belum pernah menggoblog di sini, apalagi sambil mengawas ujian begini. Sekitar tiga belas tahun lalu aku pernah begini, mengawas kursus konsultan HKI seperti kunyuk bersama Mang Untus dan kolor ijo. Aku tidak suka masa-masa itu. Sesederhana 'tu.

Sudah cukup dengan itu semua, seperti memakan kotoran kuku kaki sendiri. Sampai bapak-bapak di sampingku berjengit kejijikan. Aku belum pernah berhasil menahan tawa jika mengingatnya, setelah lebih dari tiga puluh tahun. 'Ku rasa di mana pun aku pernah mengingatnya. Namun apa dayaku jika sampai tersengat begini, karena cinta adalah segalanya. Belum pernah 'ku rasakan dalam hidupku yang seperti ini, meski tak hendak 'ku rasakan pula sesuai pengetahuan yang ada padaku. Jika kita mengetuk pintu surga, maka cinta yang 'kan membukakannya. Keluar dari biasanya.

Bisaku hanya mencurahkan padamu, memancrutkan ke dalammu. Meski di pojokan sini, meski hanya sekejap menyengat, sengatan itu tidak hendak juga pergi sampai di akhir waktu. Kena'apa Matt menghempas-hempas begini, tidak seperti Caterina. Apa karena ia berpikir ini semacam jazz, dimerah-merahkannya sampai aku kehabisan kata-kata. Rabu 'nyalemba disusul koperasi, seperti tenangnya alam pedesaan disusul hiruk-pikuk kehidupan keraton meski pada lahirnya sunyi sepi sendiri semenjak ditinggal pergi. Aku tidak suka sampai di akhir waktunya Matt. 

Tentu saja, seperti halnya segala sesuatu, ini pun semata ketololan seperti keringat yang tak berhenti mengucur dari belakang kepala setelah diberi minum air cenderung panas. Bahkan Lucy pun dibuat bergaya seperti aktris holiwud begitu, atau berpose macam gadis sampul begitu. Berjuta kata mutiara serasa ingin menghambur dari cocot ikan si buruk rupa, mungkin sang pengamat bintang. Apa yang akan kau baca dari ini semua, Bang Jep. Apa sudah siap kau menyelami kelamnya rasia malam, ungkapan yang sangat 'ku suka. Bila kata ganti dapat digunakan sebagai akhiran untuk menunjukkan kepemilikan, mengapa tak boleh jadi awalan.

Melodi tak terantai ini sudah 'ku kenal entah sejak kapan, meski terasa sedap-sedapnya ketika kelas 3 SMP. Betapa tidak sedap jika sampai merona kemerah-merahan bahkan ketika tidak diapa-apakan. Seakan dapat menyelami kedalaman hati bermuram durja dalam tatapannya yang selalu sendu. Nyatanya aku tidak pernah merasakannya dan tidak akan pernah 'ku biarkan diriku merasakan di punggung bumi ini. Sampai berpikir bagaimana jadinya jika tidak berpenyedap masakan, apakah berminyak-minyak seperti diberi kemiri banyak-banyak, sampai pahitnya.

Belum lagi 'ku periksa, adakah yang berani menggambarkan betapa Pak Djoko Sang Guru Pinandita itu tambun berdagu berganda-ganda. Ada alasan mengapa bentuk beliau tidak seperti Django tak terantai, dengan "D" tidak dibunyikan. Tentu saja, karena jangankan menembak dengan pistol dan senapang, menulis buku saja tidak pernah beliau. Pun begitu beliau mematung sampai sebesar tiga kali ukuran manusia normal atau ukurannya sendiri. Akankah tiba waktunya aku berhenti mengitiki ketiak sendiri dan mulai mengetik naskah buku-buku dan artikel-artikel elmiyah.

Tuesday, April 04, 2023

Hari Empat Bulan Empat Padahal Tiga Belas


Uah, mantap hentakan MK160EP ini. Jika disebut begini rasanya seperti penamaan pasokan militer, padahal jelas bukan. Apa benar yang 'ku rasakan di siang hari bulan Ramadhan begini, pada hari yang ketigabelasnya. Terlebih jika Nurafni sampai bersenandung tepat pada rongga-rongga telinga begini. Dapatkah kau mengenali wajah siapa dalam gambar di bawah? Ya, itulah wajah Pangeran Indrajit Sang Megananda, yang tercipta dari pemujaan terhadap kumulonimbus oleh pamannya Pangeran Gunawan Wibisana. Mengapa pun minatku pada yang bagai ini.
Mengapa tidak pada bisnis teknologi. Mengapa pula aku merasa bergairah membayangkannya, sementara tiap kelebatan, tiap terkaman, tiap desiran harus 'ku tahankan. Jelas karena tidak ada yang benar-benar 'ku lakukan untuk menutupi jalan keluar masuknya hawa yang sembilan itu. Masih 'ku umbar 'ku buka lebar-lebar. Setelah sebelumnya terlempar ke Statensingel, kini 'ku terhempas di bilangan Barel tempat anak perempuanku satu-satunya berada. Satu kambing gibas dan tiga anak perempuan yang ada dalam foto kepunyaanku. Itu saja yang 'ku punya...

Sampai hari ini, sampai detik ini belum pernah benar-benar 'ku putuskan. Mana yang lebih membuat edan: Saban-saban memeriksa pratinjau atau membiarkannya tidak rata kanan kiri. Semakin tuaku semakin mengerikan kesepian itu. Semakin 'ku pikirkan, semakin ragu adakah yang benar-benar dapat 'ku kerjakan. Apa yang 'ku dapat, apa yang 'ku belanjakan, jelas tidak ada hubungannya dengan kebisaan dan pekerjaanku. Itu semua semata-mata belas kasihanNya. Tidak kepadaku, tetapi pada orang-orang yang 'ku sayangi. Ibu. Istri. Sepuhun kayu daunnya rimbun di pelupuk mata, kata Bang Tiyok.

Bagaimana dengan soto padang, dimsum, spaghetti bolognese, burger keju dobel, dan sundae cokelat. Bagaimana jika 'ku catat saja hari ini datang kasur baru untuk Awful yang membuat badannya lurus seribu tahun lamanya. Jika Arisya Arundati Pusponegoro mau mencintai Sofyan Pulungan, begitu dulu nyanyian waktu muda. Kemudaan yang sudah pergi entah ke mana, sama seperti teman-teman lama yang pernah begitu mengisi kehidupan. Bangun tidur bertemu, berangkat tidur bertemu yang itu-itu juga, sampai entah bagaimana berpisah dan tidak ingin bertemu lagi. Seperti ditinggal mati Bang Tiyok.

Bagiku sendiri, aku sudah lama menerima bahwa aku tercipta tidak untuk apa-apa. Aku ini orang yang tiada arti seperti lolongan anjing di malam sunyi auk auk auuung... Meski sinaran ini, hentak-hentakannya, tidak pernah tak memukau hati sanubari. Sama seperti dihentak Mentor Robby Boyke Manalu pada tulang dada dan rusuk agak beberapa kali, selalu menjadi kenangan manis bagai disinari mentari. Aku terima walau dipandang hina. Yang tidak bisa 'ku terima adalah jika Bapak dan Ibu sampai kagungan anak yang tercipta tidak untuk apa-apa sehingga terhina. Tidak akan 'ku biarkan ini.

Sudah jam dua seprapat dan Cantik belum pulang juga. Mengurus NIDK, katanya. Semoga. Siang hari begini dalam kehidupanku selalu nyaman menyenangkan. Seperti ketika aku terbangun ketika kawan-kawan sedang makan siang di Sarasan. Buru-buru aku berlari ke sisen mengembalikan senjata, padahal kawan-kawan masih makan siang belum ada yang mengembalikan senjata. Siang-siang di Gang Mesjid juga bisa nyaman ketika Anakku Sayang masih berusia beberapa bulan saja. Setiap kepul asap Djarum Super 'ku kutuki. Setiap kekukangan, sebagai yang 'ku lakukan sekarang ini, menjadi penyesalan mendalam.

Jangan percaya dunia. Tidak. Dunia tidak dapat memberimu firdaus. Engkaulah matahari, engkaulah hujan, kau membuat hidupku sekadar permainan tolol. Seperti itulah, begitulah akhir dari impian bodohmu mengenai dirimu bagaikan Senopati Indrajit. Tinggal goblog inilah temanmu, karena teman-teman adalah untuk waktu-waktu yang lebih muda. Seperti ketika panas terik meminum es teh super dingin di warung Banyumas, mengakibatkan sakit kepala sebelah. Sebenarnya bukan migren itu, melainkan masuk angin yang sampai hari ini pun tidak jelas itu apa. Kau tidak bisa memburu-buru cinta.