Tuesday, January 31, 2023

Mengangkangnya Paha Ayam Kelihatannya Brutu


Bolehkah jika di awal hari terakhir Januari secara orang Barat ini aku mengitiki. Kepada siapakah 'kan 'kutanyakan yang 'kan peduli pada badan dan pikiran penat berpeluh keringat begini. Jadilah cintaku, 'kumohon padamu. Kau memandang dengan tatapan ketus dan jijik, aku bisa mengerti. Biarlah aku ditemani semug teh tarik serbat sereh yang baunya membingungkan ini. Seperti ketika kau berlalu tadi, angin meniupkan wewangianmu hampir pada epitel hidungku; membuatnya beringus, beringsut-ingsut. Melodi yang indah mengingatkanku betapa aku mencintai Istriku. Entah sanggupkah 'kuselesaikan entri ini. Entahlah...
Satu hal yang pasti, John Fox 'kuminta dengan sesopan mungkin untuk  mengosongkan panggung, lantas 'kupersilakan Katon Bagaskara. Mengapa, tanyamu, karena jika ada lomba mirip-miripan John Fox, Katon Bagaskara juara satu, John Fox juara dua. Begitu juga dengan Claradika yang tidak ada mirip-miripnya dengan Clarabelle yang cantik, karena tetap saja, Katon Bagaskara juara satu lomba mirip-miripan Claradika. Apalagi Profesor Agus Sardjono tidak akan punya peluang apapun dalam lomba-lomba seperti ini. Baik John Gunadi dan Abinyamin sudah ko'it alias isdet.

Bisa jadi kami sama-sama makan di Oskar, masih hidupkah dia. Bisa jadi di warungnya, atau pesan untuk dibawa ke Mess Pemuda, yang membuatku membayar harga piring-piring yang hilang. Setiap pesanan piringnya selalu dua, nasi dan lauknya. Bermacam ragam lauk-lauk itu, bisa mun tahu, bisa angsiu tahu, bisa fuyunghai, aku lupa ada atau tidak tahu tausi. Seperti itukah aku menyusuri jalan-jalan di UI di malam hari sebelum ada nama-nama rektor matinya, kecuali nama Yap Yun Hap yang juga sudah mati. 'Duhai, kemana perginya motor berlampu kuning aneh...

Kemana pula perginya kepul-kepul asap Djarum Super atau terkadang Starmild Menthol. Kemana perginya kaleng-kaleng bir kadang hitam kadang pilsner, yang jika sudah kosong pasti 'kusambitkan ke kepala Katon Bagaskara karena kecerdas-barusannya. Apa kabarnya pula ibu tukang nasi goreng yang kalau tidak salah, seperti art party, beranak Soleh juga. Terakhir Soleh, seperti ibunya pun, mendorong gerobak berjualan nasi goreng sepanjang Sawo Barel; yang kini, setelah anakku tinggal di bilangannya, bagai kampung mati. Kemana perginya semua itu.

Takkan 'kutanyakan lagi kemana, karena di atas Barel terkadang langit malam mendung, terkadang cerah berbulan purnama sidhi. Ketika itu bahkan Wawan masih hidup. Aku bahkan tidak mau mengingat-ingat bagaimana mekanisnya, terlebih pemicu-pemicunya. Awalnya 'kurasa berkepala kurang dari tujuh. Lama-lama jadi delapan, lantas sembilan, ketika sampai jebot aku merasa gila. Album Gemini ini bisa jadi diputar dengan sebuah mini compo, sudah pasti tidak 'kupedulikan. Hanya 'kuingat bau mulut yang tak sedap, yang kabarnya pernah terkapar di got. 

Tidak ada kemarahan, apatah lagi kebencian. Semua hanya tersisa cinta, seperti senar bass dibeset jari. Jika 'kutulis cahaya bintang di sini tanpa keterangan apapun lainnya, akankah aku masih ingat setelah sekian lama mengenai apa ini. 'Kurasa aku tak tega pada diriku sendiri, begitu 'kukatakan pada Joni de Halma. Bagaimana pula aku bisa marah pada Jenny Jamal. Masih hidupkah ia, atau sudahkah ia berseru Santiago! Mustahil aku marah pada waria yang telah rela meminjamkan kasurnya yang rapi dan bersih untuk tidur ketika pagi menjelang sampai jauh siang.

Dengan apa dulu 'kurekam Adhyanti menimpa kaset kosong tempatku merekam waltz bayang-bayang yang belum lagi ketemu sampai kini. Bahkan seingatku di dalamnya ada natal putih duetku dengan Jesse. 'Kudengar-dengarkan di kamar kedua sebelah kiri, 'Doel Salam yang membayarnya. Aku pun ingat Richard Clayderman Lady Di pernah mengalun berkelentingan di situ. Bisa juga konser tunggal di balkon depan kamar Merel. Standar saja: hanya untukmu 'ku jatuh cinta. Tak pernah 'kusangka ini entri mengenai kesakitan nan tak pernah benar-benar pergi.

Jalan Denpasar Raya Nomor Dua Satu Kuningan Jakarta 

Saturday, January 28, 2023

Bila Rasa Ayam Bakarku Ini Rasakan Kau


Itulah perasaanku ketika itu, yang lebih baik 'kulupakan saja. Cukup bila 'kutuliskan di sini Paul Culkin untuk melampiaskan kekesalan kepada Krutjiel. Mungkin kalau punk memang harus begitu 'kali ya. Kalau aku 'kan punk muslim [halah!] Lebih baik 'kuluapkan kecenderungan artistikku pada Baby Spice, menari berputar-putar seperti tango namun dalam irama cha cha ini. Bisa juga 'kubiarkan secercah senyum yang cerahnya seperti mentari pagi, meski siang mendung berangin begini. Jengkel! Berlari-lari mengejar kereta api sungguh adegan tipikal holiwud.
Bukan kebetulan pula jika pagi berhujan dan aku sangat mencintaimu bergema dalam relung sanubari, seperti halnya berbagai-bagai melodi, bahkan bunyi-bunyian entah-entah. Aku belum pernah tidak bergidik ngeri membayangkannya, namun apatah dayaku. Orang tak bernama tak dikenal dari Venesia begitu saja berhembalang menyelonong sampai 'kulamatkan. Bukan pula baru sekali ini Cantik menolak naik taksi online, malah menembus hujan yang tidak bisa dikatakan rintik-rintik ini. Entah berapa banyak anak perempuan yang tampangnya bikin sendiri dicemooh.

Aku kembali lagi menghadapi HP-11Cb setelah klesetan gegoleran. Dua bahasa daerah 'kugunakan sekaligus, sedang istriku tidak menguasai satu pun bahasa daerah. Begitu saja aku menyeberangi Mersey di pagi berhujan ini, sedang Gerry 'kubuat lamat-lamat begitu. Pagi ini hujan mengguyur dengan sendirinya, entah mana yang efek suara, hujan atau Gerry. Jika kau sok-sokan merasa tidak memahami perasaanmu sendiri, itu sebenarnya usaha sia-sia untuk menyangkal sesuatu yang sesungguhnya membuatmu malu. Beta berjaket bersarung begini menghangatkan diri.

Apa yang terasa seperti spiritual itu, yang dinamakan entah jiwa, sukma, sanubari, atau apapun itu, sesungguhnya tiada lain serangkaian reaksi kimia antara entah molekul atau senyawa dalam tubuh. Sungguh menggoda, seperti secercah atau sesungging senyum, apatah lagi ditambah sekerling, sekedip, sekernyit puncak hidung. Maka terbanglah aku dari Rusia membawa cintaku entah ke mana. Tentu saja tidak ke Amsterdam atau kota-kota lain di Belanda, atau sekujur Eropa, atau ke belahan manapun dunia. Cintaku ada di tepi Cikumpa sini, di pagi dingin sepi ini. 

Tidak di sini atau di manapun 'kumainkan permainan yang dimainkan para pecinta, sedang kaki telanjangku 'kualasi keset agar tidak langsung menyentuh lantai dingin. Aku heran mengapa belum pernah 'ku bercakap-cakap dengan Ubertino agak lama begitu, membicarakan dunia dan hidup di dunia. Bisa jadi ia menganggapku tak setanding dengannya, sedang aku merasa gengsi untuk minta belajar kepadanya. Lagipula ia telungkup mengimpit lantai di hadapannya yang menonjol sedikit, sedang aku berguling-guling berbaring-baring di kasur mahal termurah yang terbeli.

Lebih tepatnya lagi, aku menungging seperti ayam bakar, tanpa tahu malu mempertontonkan brutu, bahkan mencolok-colok lubangnya dengan jari sendiri. Di titik ini, dapat 'kupahami mengapa Donny mengusir gadis cilik itu. Gadis, meskipun cilik, mengandung anasir-anasir yang bisa membuat lelaki dewasa berselera. Begitulah memang kodrat dunia, seperti tragedi buah apel. Merahnya sangat menggairahkan, meski terkadang hijaunya lugu mempesonakan. Bahkan Johnny yang penyuka sesama jenis saja turut mengusir gadis cilik. Jangan-jangan ia berselera jua pada gadis cilik.

Aku akan baik-baik saja tanpamu, tanpa kalian semua. Sungguh aku hafal sekali permainan ini. Memang sudah lama sekali tidak 'kumainkan, namun tak pernah 'kusangkakan kini 'ku terpaksa memainkannya lagi. Keriangan melodi dan irama ini biasanya selalu membungahkan suasana hatiku. Namun pagi ini aku sedang sangat ingin memaki anjing-anjing betina yang beranak anjing-anjing betina, apalagi cuma satu. Langsung terbayang olehku yang moncongnya menjebik menjijikkan, diberi bergincu pula. Maka segera beranjak ke pelabuhan diriku, mencoba melupakannya.

Tuesday, January 24, 2023

Ini Bukan Cerita Tentang Callie dan Jake, Cole


Tadi padahal ketika bermotor aku terpikir suatu judul yang heroik, yang tentu saja sekarang 'kulupa. Sekarang bahkan aku langsung mengitiki tanpa menyiapkan pemegang-tempat seperti biasa 'kulakukan sudah entah mungkin setengah tahun lebih ini, atau lebih dari itu. Akhirnya aku terpaksa merelakan entri ini berjudul biasa-biasa saja; sangat tidak imajinatif. Hanya saja gambaran di bawah ini, jika tidak karena antena analog di sudut kanan bawah, tentu sudah menjadi gambaran yang biasa-biasa saja; sangat tidak imajinatif. Uah, mengapa 'kuusir gadis kecil ini.
Ini cerita mengenaimu sendiri, setelah kau menasihatiku: "Merasa baik-baik saja sudah cukup baik". Tentu saja, karena setelahnya kau melempar kedua belah lenganmu ke udara ketika peluru-peluru senapan serbu dan senapan mesin menerjang punggungmu. Kau bertambah gemuk ketika menjadi bombardir/navigator di VA-196, dan di situ pun kau mati lagi di-napalm; seperti Karen E. Walden. Kalimat-kalimat majemuk ini, yang tidak setara dan belingsatan ini, menandakan otak yang begitu juga tingkah-polahnya. Lebih tolol mana: Balki membantu di Gedung Putih. 

Memain-mainkan dood yang sulit embosyurnya, aku jadi terpikir, akankah saksofon atau klarinet lebih sulit lagi darinya. Bilah plastik dood memang terasa kaku dan tidak alami. Mungkin bilah bambu lebih mudah dikendalikan, atau itu persangkaanku saja. Lebih baik 'kukomentari serbat sereh ini, meski meditasi membawa syaraf-syarafku rileks mengendur. Mungkin aku kembali saja ke 25 D8. Meski seringnya agak berdebu namun itulah aku. Serba seadanya, serba lapang, agar dapat berpikir tenang. Kepala dan dadaku ini gelegaknya laut selatan. Aku tidak bisa apa.

Sumpal-kupingku seperti yang biasa 'kupakai dari sekitar sepuluhan tahun lalu. Harganya pun masih sama, lima puluh ribuan. Ia biasa menyumpal kupingku sepanjang jalan dari Qoryatussalam sampai Radio Dalam dan balik lagi. Aku sampai lupa bagaimana dulu. Mungkin kurang-lebih seperti sekarang juga. Berangkat pagi pulang malam. Aku masih ingat betapa sesampai dalem Yado seperti masuk angin berat, nggempeleng. Pulangnya dalam keadaan kemasukan pula, mampir di bubur ayam Cirebon pertigaan Ramanda. Uah, mengitiki begini, tak seperti kaji-ulang, memang nyaman.

Perpaduan antara nasi Padang dan gorengan oncom dua, tahu satu, bakwan satu memang tepat mengena. Nasi Padang tentu saja masih sisa banyak. Bahkan telur dan tahu yang menjadi lauknya saja belum disentuh. Baru sambal balado merah dan remah-remah bumbu rempah ayam goreng dan banjir-banjir kuah saja sudah nonjok. Oncom goreng diperas dengan tangan saja sudah mengalir minyak goreng. Ini oncom goreng atau kaos kaki basah. Uah, seandainya bunyi-bunyian nyaman ini dan selebihnya yang baik-baik saja ini justru digunakan mengaji-ulang, bahkan, merevisi.

Tak'da yang 'kan mengubah cintaku padamu mengantar dorongan dua alinea terakhir, seperti seorang anak baru masuk sekolah menengah pertama, baru mandi sore, menghadapi buku-buku pelajarannya. Apakah sebelumnya makan dulu, bisa jadi semur lapis atau lodeh kacang tempe lengkap dengan teri goreng telurnya, masakan ibunya yang cantik. Bapaknya yang gagah perkasa mungkin juga baru saja pulang dari dines siang, meski ada hari-hari ia pulang tengah malam demi sekadar pemasukan tambahan. Nah, memang sulit 'kan kata ini dicari padanannya.

Sangat menghargai karena sangat menyayangi, yakni, disayang-sayang, dieman-eman. Itulah maknanya. Petang sampai sebelum jam sembilan malam adalah waktunya programa dua yang sangat berharga. Seingatku, aku sudah tidak segitunya dengan filem kartun pada saat itu. Persegi satu, Valerie, meski aku tak ingat sama sekali ceritanya, dan tentu saja Pengangkut-super. Jikapun kartun maka Bintang-berani, Kucing-kucing-petir, bahkan aku tak sanggup menunggu untuk berjumpa denganmu. Tak ada apapun boleh memisahkan kita: Cinta pertama 'ku belepotan semen.

Tuesday, January 17, 2023

Orang-orang Huruf di Siang Mendung Berangin


Siang-siang begini mendung berangin di ruang bidang studi Hukum Administrasi Negara yang baru. Di hadapanku ada Hari Prasetiyo bermain gawai; sedang Pak Mono umek mencoba merapikan ruangan yang seperti Tampomas pecah, dibantu Fajar dan Pak Doddy. Orang-orang Huruf mengelus-elus pendengaranku dengan meletakkan kepalanya pada bahuku. Aku sedang tidak ingin berpikir, apa lagi mengitiki mengenai cinta, terlebih cinta dunia. Aku sedang sedih. Cinta di dunia ini tidak ada, seraya 'ku mengusir gadis-gadis kecil. Mereka 'kan 'njadi wanita dewasa.
Entri ini hampir saja berjudul nikmat tak seberapa membawa azab dan sengsara. Gara-garanya sambal. Entah sambal bakmi ji-em atau bubur ayam Madura, yang jelas salah satu atau keduanya menyiksaku siang ini. Padahal tadi pagi tidak terlalu terasa. Entah sekitar lohor ini sampai ususku yang sebelah mana, sakitnya amit-amit. Jejak-jejak cinta, apa rasanya mendengar ini ketika masih ada Delta FM 99.5. Setelah diganti jadi 100% musik enak, rasanya sakit sekali. Hampir sesakit usus kena sambal semalam. Aduhsay, sampai bulan, matahari, sungai dari mudaku.

Suasana sudah sedemikian jauh berganti. Tidak berarti ini hari atau bahkan waktu yang sama sekali baru. Bisa saja ini suatu siang hari yang gerah di tengah musim panas Belanda, bersepeda dari bilangan Uilenstede menuju Pusat Kesehatan Randwijk menyeberangi Beneluxbaan. Aku menyebut-nyebut tempat-tempat begini bukan gaya-gayaan atau memanas-manasi Togar, meski terdengarnya seperti itu. Seakan tempat-tempat itu biasa 'kukunjungi seperti menyebut Barel dan Sawo. Tidak begitu. Ini sekadar mengenai suasana hati yang selalu saja berganti-ganti.

Begitu juga teh tarik Maxx, tidak berarti itu adalah petang hari sebelum memulai hukum perdata dagang atau bahkan pagi sekali sebelum Pancasila atau kewarganegaraan. Teh tarik bisa di mana saja. Aku tentu lupa kapan kali pertama menikmatinya. Terlebih jika mendengar "Aku jatuh cinta" dalam bahasa Mandarin, di mana "di dalammu 'ku 'kan selalu berada". Itu adalah entah pisut atau renol melaju di bilangan Santa di siang hari bermendung. Jika sampai dilanjut serbat jangkrik mas, bisa saja langsung srusut meluncur ke Jalan Magelang-Jogjakarta di waktu malam.

Aku bahkan kini di Kathmandu. Dulu, sekadar mendengar suara Tante Olivia saja, berjuta angan dan khayal tentang cinta bisa menyerbu ke seantero penjuru benak bahkan sekujur badan. Sampai bergetar ke ujung-ujung rambut bahkan jari-jari kaki-kaki. Apakah kini, di usia paruh baya, aku masih berusaha memanggil-manggil kembali getar-getar itu. Aku sudah siap mencemooh diriku sendiri, ketika 'kudengar dentam-dentam bass dan hentak-hentak dram bass mengiringi genduk Tiara bernyanyi riang. Tentu, setua ini aku sudah malas bergetar, meski rasa itu masih ada.

Bagaimanakah Selasaku kini kecuali memulai strip-strip baru trio candesartan, amlodipine, dan bisoprolol, ditingkahi senandung genduk Brisia. Uah, aku langsung terhempas berhembalang kembali ke lantai biru tua Kraanspoor 25 D8 yang seperti lapangan futsal itu. Bisa jadi karena ketika itu aku sungguh kesepian; sepanjang tahun itu, 2020, dari sejak Uilenstede sampai Kraanspoor. Seperti halnya ketika terpaksa berak di Amsterdam Centraal dengan mengetukkan kartu bank; entah berapa Euro ludes gara-gara itu. Aku tak harus mati di 2006. Aku masih harus hidup.

Aku bukan lagi lelaki bodoh umur dua puluhan, meski masih bodoh juga setelah mendekati setengah abad begini. Bahkan mungkin bertambah bodoh, karena masih berasa jatuh cinta begini ketika genduk Stephanie menyenandungi. Ada waktu-waktunya memang seperti ini. Biasanya memang ketika mengetiki begini. 'Kurasa bukan berputar-balik, melainkan memang membolak-balik. Begitulah memang hati sanubari. Berdegup. Berdetak. Sistol. Diastol. Di Selasa siang berangin bermendung begini, tiada lain 'ku bersyukur padaNya demi tersadar: Aku masih hidup.

Sunday, January 15, 2023

Boutte, Boutte, Charaboutte Entah Dari Mana


Entah mengapa jika mengingat kata-kata di judul itu, aku jadi teringat Rahmat Hidayat. Sepertiku, seperti rata-rata anak SMP jaman itu (1988-1991), celana pendek kami sangat pendek dan ketat. Bahkan Hen Hen yang seperti bapak-bapak pun begitu celananya. Terlebih Agung Helianto, tak ketinggalan Gundo Widyanto. Maka sesuailah jika aku menyukai Chopin, meski dilanjut seorang wanita yang tengah jatuh cinta. Pada titik ini aku menguatkan hati untuk menulis kepada Gerben dan Laurens. Ya, sudah 'kukerjakan, senyampang malam ini makan roti keju telur ceplok.
Rindukah 'ku pada Asatron, tentu tidak. Rindukah 'ku pada Margonda sebelum beralih abad, bisa jadi. Jika mempelajari sejarah, jika abad ini kurang-lebih seperti abad-abad sebelumnya, maka abad ini jelas bukan masaku, bahkan mungkin bukan masa anakku. Mungkin memang begini saja adaku, merindukan Margonda sebelum peralihan abad. Apa benar yang 'kurindukan, suasananya, kemudaanku. Namun segala ketakutan dan kesengsaraan itu, yang 'kusebabkan sendiri, segala ketololanku. Sedihnya, akibatnya menimpa bukan diriku sendiri saja. Ya, luka itu masih basah...

Dari sini entah mengapa 'ku terlempar jauh ke depan, ke 2019 berkendara selepas maghrib dari RSPAD ke Dalem Radio Dalam, lantas ke tepi Cikumpa; yang mana Asus E203MAH-ku raib ditimpa orang. Aku yakin lelakonku bukanlah yang paling tragis, atau setidaknya, bukan satu-satunya yang tragis. Hari-hari itu, kawanku, yang 'kukira takkan pernah berakhir, tidak pernah benar-benar 'kusukai. Namun ia selalu terselip di antara kesayangan-kesayanganku. Di sini aku terlempar kembali ke motel murah di tepi rel kereta api Lamongan itu, pada suatu Ramadhan 1431 H.

Minggu malam Senin ini, aku mengitiki menghadap gudang yang sekarang tidak lagi mendapat sinar matahari pagi. Mengitiki pagi kini memang tidak menyilaukan, tetapi gelap. Melodi gembira seakan menjanjikan hari-hari penuh semangat, bahkan bergairah seakan masih remaja, atau setidaknya dewasa muda. Aku merasa tolol mengharap yang seperti itu sebenarnya. Namun sungguh itu yang 'kubutuhkan sekarang. Aku punya dugaan mengapa tak lagi 'kurasakan yang seperti itu. Namun aku mengharapkan sesuatu yang berbeda. Rasanya sama, penyebabnya beda. Itu harapanku.

Dalam keadaan seperti ini, aku jadi ingat almarhum Ari Setiawan, mungkin termasuk Bang Riauwan. Adakah benar mereka para kobra: kontol brangasan. Dalam keadaan seperti inilah seharusnya aku tidak kehilangan keyakinanku pada cinta. Hanya sekitikan saja dulu aku pernah terpikir bahwa dendam dapat menjadi sumber tenaga yang berkelanjutan. Selebihnya aku percaya cinta, yang ditebarkan ruangan sederhana berbau apak lembab; meski berlampu neon ulir kuno, diterangi lampu teplok. Itulah ketika cinta benar-benar membuncah dan cita-cita seakan nyata...

...atau semacam ruang makan kotor berdebu di mana aku menulis risalahku mengenai peran serikat buruh dan partai buruh dalam menegakkan hukum perburuhan, yang memberiku nilai A... atau bahkan ruang depannya di mana terdapat meja tulis beralas kaca. Di atasnya mesin tik portabel berwarna hijau, di hadapanku rak buku kesayangan. Kecil saja, namun semua bukunya telah 'kubaca. Asbak, rokok satu slof, waskom penuh berisi kopi hitam pahit tidak perlu ada; lengkap bersama semua ketololan yang menyertainya. Ah, Lagi! bak Asatron berbisik lamat. 

Selebihnya, kesengsaraan demi kesengsaraan, ketakutan, kemarahan, rasa tidak berdaya yang secara harafiah melungkrahkan tulang-belulang. Bisa jadi ini sudah musim semi. Dari itu semua masih diberi kesempatan berkali-kali merasakan musim semi, jelas bukan karenaku sendiri. Akankah segera 'kutemui akhir musim dingin menjelang musim semi yang riang-gembira, penuh semangat, penuh berkah keselamatan. Sampai batik-batik lengan panjang itu nyaman dipakai, sampai pada saat itulah sedikit rasa tidak nyaman akan jadi sahabat karibku. Rambate ratahayo!

Tung Keripit Ujung Titit Kejepit

Saturday, January 14, 2023

Untuk Lucia: Aku Belum Cukup Tua, Mama Leone


Ahaha, setelah sekian lama aku baru tahu ternyata aku 'kan kembali. Sungguh aku sedih tidak bisa ikut bersemangat ketika Cantik mau buat paspor. Katanya, buat saja dahulu, nanti tahu-tahu pergi ke mana entah. Aku bahkan belum bisa membayangkan Unicorn Indorent dan Grand Artos. Alvin dan Hamdi sekeluarga tidak perlu membayangkan. Mereka sudah mengalami dengan sendirinya. Kasihan Istriku. Sekadar Unicorn Indorent dan Grand Artos saja aku tak mampu, apalagi paspor. Itu takkan terjadi lagi! Bukan paspornya. Melainkan ketidakmampuanku. Semoga...
Daripada mengecer satu-satu Anthony Ventura: Aku cinta padamu dari 1983, akhirnya 'kuputuskan untuk memberi kesempatan kepada suara-suara surgawi dari santapan pembaca. Rasanya lucu sekali seperti belum diberi spiritus. Namun belakangan spiritus banyak berair begitu, membuat becek. Mendekati tengah malam begini, suara-suara surgawi ini malah terdengar seperti pembangkit suasana dalam film-film horor. Kini aku malah terlempar ke depan Asrama UI Depok awal 1997 sekitar setelah maghrib. Berjalan sendirian 'nuju Halte UI di hari-hari anggur dan mawar.

Bisa jadi sesampainya di rumah 'kuhempaskan kesendirianku pada tuts-tuts Otto Bach, dan seluruh dunia terdiam terpaku seakan mereka memahami apa yang 'kurasakan. Perasaan seorang lelaki muda hampir dua puluh satu tahun. Hancur hatinya karena omongan asal-asalannya dari sekitar lima tahun sebelumnya menjadi kenyataan. Kau telah menghancurkan hatimu berkali-kali sebelumnya, Bodoh. Dengan tanganmu sendiri kauremas-lumat hatimu. Jadi jangan kautimpakan kesalahan pada ketika itu. Salahkan buku-saku, khayalan tak berdaya itu.

Mau bertambah tua bagaimanapun, dunia akan selalu begitu: muda, merekah, bermekaran. Melihat Bang Sambo di kursi pesakitan apa tidak sakit hatimu. Mendengar pidato Bu Mega apa tidak tersayat nuranimu. Namun dunia seakan tidak peduli. Terus saja muda, merekah, bermekaran. Bahkan yang kini muda, merekah, bermekaran pun 'kan segera menua, layu, dan kisut. Bagaimana yang tidak pernah benar-benar merasakan kemudaannya. Yang jangankan mekar, merekah saja tidak pernah. Dunia, betapa ngeri kekejamanmu. Betapa kejam kengerianmu...

Kini bahkan Doktor Zhivago mencemoohku yang memang patut dicaci-maki. Asam lambung selalu siap melompat keluar dari kerongkongan kembali ke rongga mulut. Betapa tidak, sarapan Indomie goreng jumbo biru diberi berkuah, dilanjut lemper, risoles, dan sus sambil menguji. Makan siang nasi jeruk lauk dendeng gepuk, telur pindang, oseng cakalang, sayur bunga pepaya, masih dengan kerupuk putihnya sekali. Makan malam mie lebar ayam pangsit, masih dengan beberapa keping snek krekers rasa ayam dan biskuit selai stroberi. Ya, aku mengaku salah.

Kalau masalah ngemil, kemarin aku keterlaluan. Ngemil sampai tiga kali seperti masih muda saja. Macan kumbang kurus warna merah-jambu ini mengapa tidak berhenti mengendap-endap. Maka aku tidak mau ngemil lagi. Setidaknya hari ini. Aku harus mengendalikan kecanduanku pada rasa nyaman. Jika saja aku seorang Yahudi dan dibawa ke kem kerja paksa, tidak pakai lama aku pasti mati. Namun karena aku bukan Yahudi, tentu sebelum mati aku akan berdoa kepada Allah memohon akhir yang baik, dimudahkan sekaratku sebelum mati. Aku memang orangnya begitu. 

Aku mencemooh Awful yang ingin pulang ke tanah. 'Kukatakan padanya, belum rengking satu saja sudah mau jadi tanah. Tepatnya, memang sudah sedikit sekali yang 'kupercaya, kalau sampai yakin bahwa satu-satunya jalan adalah menjadi diktator. Itu 'kan sama bodohnya dengan pikiran Kusmasai. Nyatanya, aku hanya mengerjakan apa yang harus 'kukerjakan. Selebihnya, aku menikmati rasa nyaman. Berlebihan atau tidak, tak hendak pula 'kupikirkan. Merasa nyaman sudah cukup nyaman untukku, entah lebih baik dari hutan belantara antara Vietnam-Kamboja atau tidak.

Jangan datang atau titip salam. Pergi saja sana

Tuesday, January 10, 2023

Soekardono Aku 'kan Kembali. Walaupun Apa...


Yang 'kan terjadi. Begitu saja ada di kepala tanpa berusaha mengingat-ingat, perut pun menggelembung menjijikkan. Sungguh mengherankan tidak merekahkan belahan kemeja, meski di dalamnya ada kaus singlet hitam tak berlengan. Malam ini takkan ingat jika tidak ditulis dalam bahasa Perancis, seperti entri-entri dari sekitar empat tahun lalu. Bagus 'lah lupa karena pasti mengenai sesuatu yang menjijikkan, seperti menggelembungnya perut seakan hendak meletus. Biar 'kuakui di sini: belum pernah sekalipun dalam hidupku aku sholat istikhoroh, Si Bodoh...
Aduhsay, aku memikirkanmu dalam bahasa Perancis, betapa indahnya. Ini sudah lewat lebih dari 24 jam, dan sekarang kembali ke malam ini. Tadi malah lebih ekstrim karena terpikir untuk melenyapkan segalanya, mengembalikan semua ke "asdf". Namun, seperti terlihat, tidak jadi. Sekadar diteruskan saja, karena sebentar lagi toh aku memikirkanmu. Madu TJ masuk angin bahkan lebih lebay mentolnya daripada jahe merah mint. Dengan rasa badan begini, sungguh tak sanggup 'ku bahkan sekadar membayangkan menyusuri Brusselsestraat, sedang aku memikirkanmu...

Ternyata memang hanya satu klik lebih sedikit. Pantas aku sanggup-sanggup saja sekitar lima belas tahunan lalu. Terlebih jika sambil memikirkanmu, ensembel biolamu. Entah mengapa jika teringat betapa 'ku memikirkanmu, sepanjang Brusselsestraat, potong kompas di Vrijthof, bablas Kapoenstraat yang hadir dalam kenangan. Terutama awal-awalnya, turun di halte Koningin Emmaplein itu, bertemu bapak-bapak yang bisa berbahasa Indonesia, yang mengajariku berjalan cepat. Tidak ada yang menyenangkan. Yang menyenangkan di tepi Cikumpa sini bersama Cantik.

Setelah menelusuri satu cinderamata lantas cinderamata lainnya dari musim panas di India, seperti biasa, Michele melendotkan badannya pada bahuku. Michele, seperti biasa, tak berupa tak berwajah, bahkan tak berbau. Jika pun berbau, mungkin bau loteng Kapoenstraat 2 itu yang 'kucium, atau bahkan rubanahnya sekali; buku-buku bekas seharga rata-rata satu Euro itu. Bisa jadi, Michele justru berbau seperti lekkerbek broodje dari De Dolfijn di Markt sana; karena smeerkaas-nya Jumbo atau Albert Heijn cenderung kurang tajam baunya. Aneh memang Michele ini.

"Lha ini baru enak!" seru Muchsin sambil membuka tutup matanya, dari masa awal remajaku. Ini yang jelas lebih enak daripada seharian berkurung di Soekardono, meski arem-arem, bolu kukus, dan pastelnya sekali. Entah mengapa pula aku memesan nasi fuyunghai dari dua kali lirikan memandang ke arahku. Opa Billy mendehamkan saksofonnya melantunkan irama-irama latin seperti dari masa muda bahkan kecilku. Tidak perlu pula 'kuakui di sini kegagalanku sejauh ini. Nanti saja kalau sudah berhasil juga tak perlu diceritakan. Sungguh menjengkelkan, Ummi.

Untunglah burung layang-layang melintas dalam khayalku. Aku tersenyum padanya, sedang ia hanya terus terbang mungkin tidak mempedulikanku sekali. Pinggul-pinggul memang selalu bergoyang di Brazil sini jika burung layang-layang sudah melintas, maka 'kuabaikan saja. Aku masih tersenyum pada burung layang-layang yang terus terbang menjauh entah ke mana, sedang aku mengelus-elus perut buncitku. 'Kugebrak-gebrak gendang senar ini bukan karena marah, bukan pula karena gembira; melainkan karena bintang kecil telah terbit di ufuk timur.

Menyelompret sedang diredam begini memang mengimbau suasana hati yang suam-suam kuku, terlebih di senja hari ketika malam masih berselendang sutera lembayung pada bahu telanjangnya. Lha, ulang tahun kecil masa begini bunyinya. Sedih sekali atau lucu sekali. Maka kembali 'lah aku menghadiri ulang tahun entah siapa di Kompleks Angkasa Pura Kemayoran Gempol sana. Ya, yang di apron timur itu. Sekejap saja, karena sekedip kemudian aku sudah kembali dalam wadag gendutku meratapi pengkhianatan dan kepalsuan dalam bahasa Spanyol, kekasihku dari dulu.

Cintai Aku Banyak-banyak

Saturday, January 07, 2023

Kesetiaan Seekor Anjing 'Ku. Yang Serigala Begitu


Halah, tidak perlu repot dulu mengenai judul, yang penting segala kerepotan tadi ternyata memang membuahkan hasil. Apakah ke depannya ini akan menjadi prosedur operasional standar [halah lagi]. Doktor Yu Un begitu saja ingin menyelundupkan ide legitimasi ganda, populis dan politik. Bahkan pembatasan masa jabatan saja terasa kekanak-kanakan. Penjelasan praktisnya memang seperti yang pernah disampaikan Pak Try: jika memang jempolan dan masih sanggup, mengapa harus diganti. Penjelasanku: itu berada dalam ranah moral. Tak'da guna diatur tertulis.
Dari mana 'ku harus memulai bahkan sebelum lahirku. Beberapa puluh tahun lalu, 20 sampai 25 tahun lalu, paradoks seperti ini bisa jadi sangat menariknya. Saat ini, aku merindukan remang dinginnya ruang bawah ruko gang pepaya; terlebih dengan perasaan-perasaan ini. Bisa jadi aku juga merindukan nasi goreng dengan sambalnya sekali yang cenderung asam manis itu. Uah, masa muda. Apakah ketika itu aku menginginkan teh dalam pet plastik yang dingin segar, atau malah sekadar berjalan di sepanjang peron stasiun, terutama melihat-lihat buku baru dan bekas.

Bisa juga aku merindukan bau Buku Kafe, yang makanannya satu pun tidak bisa 'kuingat; atau bahkan Burger and King, roti lapisnya yang menang tebal doang atau bahkan spaghetti bakar. Kemudaan, ringannya badan, tidak bergantung pada obat. Jika pun obat minyak angin aroma jeruk di atas dipan Yangyut Uti, lalu Akung, lalu Bapak. Di sampingnya meja tivi Blaupunkt mungkin dari jaman Kemayoran. Di atasnya ada buku-buku, ada tasbih yang Insya Allah hari ini masih ada. Babak-babak kehidupan, seperti warteg apa itu di Kukusan Teknik waktu masih muda.

Mengapa tidak dibuat cerita yang runtut begitu, yang logis. Itulah membelenggu. Makna, seperti halnya kenangan, terserak begitu saja seperti dedaunan kering di pekarangan. Disapu, bisa dengan atau tanpa bantuan pengki, dimasukkan ke dalam lubang, dibakar. Aromanya sungguh khas, sampah dedaunan yang dibakar di dalam lubang tanah. Memberi kehangatan di persekitaran, mungkin mengusir nyamuk sekali; seperti kenangan Nex Carlos mengenai Ambawang yang masih berhutan di awal 2000-an. Bahkan kenangan tentang teh tarik kurang manis di Vokasi.

Sungguh aku lupa adakah simfoni cinta di SMA. Mengapa kenanganku mengenainya selalu dalam temaram lampu bohlam atau bahkan sentir sekali, mengepul-ngepul uap kopi hitam panas dan asap rokok tidak mungkin di SMA. Seberapa banyak makanku ketika ini sungguh aku tak ingat, namun menyusuri Jakarta Utara sampai ke Jakarta Selatan berjalan kaki bahkan berlari tak masalah, di tengah malam. Kebahagiaanku adalah ruang tamu Pak Moussa el-Khadoum kembali ke front. Ah, lagi. Lagi-lagi mengharu-biru hidupku berpuluh-puluh tahun. Tanpa kata, hanya nada.

Simfoni cinta memang tidak pernah 'kurasakan di alam nyata. Hanya Natalie yang mengaku Mona Lisa, sedang diperankan oleh Ali yang sudah berusia 41 tahun saat itu. Nyatanya aku lebih siap untuk jatuh cinta lagi, namun tidak kepada Natalie atau Mona Lisa sekali. Kecantikannya memang selalu membelai jiwa, sedang badanku ini selalu haus belaian. Hidup kemudian mustahil tidak ada, meski kau boleh mengolok-olokku sebagai pecundang. Hari esok yakin ada, terserah apa katamu. Uah, bulan biru sudah 'kudapatkan dan banyak lagi lainnya. Mau minta apa lagi aku.

Ya, semua ini memang salahku sendiri. Rasa bersalah yang terus menghantui tak mau pergi, karena bahkan 'kuabadikan setiap hari. Memang keketusan bahkan kekurangajaran bisa jadi penyelamatku, ketika merunduk saja 'kukejar-kejar siapa tahu sekilas-lintas. Sehabis subuh berjingkat-jingkat ke dalam bayangan sekadar untuk membelaikan pandangan pada merekahnya musim semi, inilah ganjaran yang pantas bagiku. Jika kau membaca ini, inilah kengerian hidup di dunia yang selalu lebih disukai daripada hari esok. Kentut saja bisa sebusuk itu, apatah aku.

Bisa jadi sudah musim semi

Sunday, January 01, 2023

Selamat Tahun Baru 2023. Belum Terpelajar


Bagi entri perdana dari suatu tahun, penggambaran visual di bawah ini memang kurang endol surendol takendol-endol; demikian pula audionya. Padahal dewasa ini begitu banyak penggambaran audio bertebaran di Yutub. Aku jadi sedih mengingat koleksi musikku yang sebagian besar 'kuwarisi dari Ibuku. Akan tetapi, musik-musik itu tidak akan pernah hilang dariku, karena mereka sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari jiwaku yang selalu bersenandung bernyanyi ini; meski tak seorang pun 'kan peduli. Kita datang ke dunia ini sendiri, pergi pun kelak sendiri; jadi kalau menjalaninya sendiri pun tidak perlu heran. Begitulah kodrat dunia.
Akankah 'kutulis mengenainya di sini, tentu tidak. Cukuplah bila 'kutulis bahwa selama ini Starco telah menipuku, dan kegawatan ini baru 'kusadari sekarang. Apakah sadar namanya jika makan malam masih mie kuah ayam baso telor, sarapan masih capcay tahu bulet meski nasi setengah. Ternyata penyakit aliran-balik dari lambung ke kerongkongan memang dapat menyebabkan batuk kering yang menyakitkan, sampai membuat terbangun di malam hari. Apakah susu serbat jahe setelah teh melati setengah liter dikepret gula sedikit memperparahnya. Entah 'ku tak tahu.

Salah satu tanda iman adalah kemampuan untuk kembali ke jalan yang benar ketika tersesat, meski kemampuan itu--dan apapun kemampuan yang lain--masih harus dimohonkan. Sudah cuma ini saja kalimat agak berguna yang 'kutuliskan di sini. Ini adalah goblog, karena awalnya saja untuk menggapai masa lalu yang telah hilang, bahkan usaha sia-sia untuk mengadakannya kembali di masa depan. Jadi, di sini adalah tempat goblog-goblogan, yang bahkan tidak membuat sadar-sadar juga sebanyak apapun menggoblog di sini. Entah jadi apa gunanya terus-menerus goblog.

Sekarang aku tahu boleh memulai kalimat dengan "yang", namun aku jadi lupa mengenai apa kalimat yang akan 'kumulai dengan "yang" tadi. Aku justru teringat memilin-milin tahi upil yang memang selalu memberiku ketenangan batin; mungkin seperti Aryo dan Sodjo menghisap ibu jari mereka. Selain itu, aku juga ingat betapa goblog ini adalah satu-satunya kedirianku yang tersisa setelah aku tidak lagi menghancurkan peradaban-peradaban. Sampai titik ini, aku tidak bisa membayangkan diriku berurusan dengan peralatan audio-visual; masih bersikeras aku penulis.

Ah, kini 'ku ingat, yang luput dari menamatkan TBBT selama di Uilenstede adalah kenyataan bahwa setidaknya Leonard dan Sheldon selalu menulis dan menerbitkan tulisannya, tentu dalam terbitan ilmiah. Itulah karir akademik. Tidak ada pilihan lain. Lain cerita jika Mbak Puas sampai menjadi persiden mungkin aku bisa jadi Kepala BPIP. Hahaha jelas omongan asal bunyi. Hambatan wicara pada Barry Kripke, yang tidak bisa dikendalikannya, mungkin mirip dengan kembali ke UUD 1945 yang juga tidak bisa 'kukendalikan [beda!]. Kembali sehat tentu bisa 'kukendalikan.

Tekanan untuk menjadi terpelajar ini bukan main-main. Tekanan sebesar bermilyar-milyar Rupiah ini. Hanya kepadaNya aku dapat memohon kekuatan untuk menahankannya. Daripada membandingkan dengan yang lain, lebih baik 'kubersihkan wajahku dari rambut-rambut karena aku merasa ingin begitu. Perut yang menggelembung lagi mengganjal ini tidak akan berubah dalam waktu dekat, bahkan tidak Jumat ini Insya Allah ketika aku bertemu dengan Ibu Anies Mayangsari dari Pusat Perancangan dan Kajian Kebijakan Hukum (Pusperjakum) milik DPD-RI.

Bisa jadi pula aku mengurungkannya; 'kan 'kubiarkan rambut-rambut wajahku, kumit tipitku, jenggot berubanku, sekadar agar tidak kalah gertak. Jalan terus, selangkah demi selangkah. Lanjutkan apa yang telah dimulai minggu lalu, meski keringat tak kunjung kering kala itu. Bagaimana dengan urusan tekotok. Astaga yang seperti ini masih pula ditanyakan. Tidak ada pembenaran apapun baginya. Jika masih juga terjadi maka merasa bersalah 'lah. Hanya itu yang dapat dilakukan. Semoga suatu hari nanti ada solusi terhadapnya... sebelum ajal menjelang.

Aamiin yaa Robbal'aalamiin