Monday, March 23, 2020

Masyarakat Terkondisi, Teori Kontrak Sosialku


Siang-siang begini, dengan dentingan piano Richard Clayderman membuai pendengaran, sedang aku berkaus oblong bercelanda pendek begini, bisa jadi ini di ruang keluarga nDalem Jalan Radio. Akan tetapi, aku justru sekitar 12 ribu kilometeran jauhnya dari situ, di bekas kamar Bang Isal di Uilenstede 79C 1183 AB Amstelveen, Negeri Belanda. Bukannya berusaha menorehkan kalimat pertama pada memori digital, aku malah mengetiki begini. Apakah aku akan menggunakan alasan pemanasan, aku tidak tahu. Namun beginilah kudapati diriku siang ini.


Kesepian, sudah barang tentu. Dalam hidupku ini, salah satu rasa yang sungguh teramat akrab adalah sepi. Di manapun aku, entah nangkring di dahan pohon jambu memandang ke arah utara, bahkan di tengah-hiruk pikuk dua ratus lebih Angkatan ke-43 Akademi Angkatan Laut berguling-guling di Lapangan Aru, hanya sepi yang kurasa. Demikian pula, ketika aku menulis salah satu risalah pertamaku, yang kuberi judul "Conditioned Society," sudah barang tentu sepi itu yang kurasa. Jika tidak, mana mungkin aku akan sampai pada gagasan untuk menulis mengenai hal itu.

Kini pun, ketika aku benar-benar harus menghasilkan suatu risalah sungguhan, sepi itulah yang kudapati. Sampai kini belum pernah terwujud impianku untuk bersepi-sepi menulis risalah, sedang tidak jauh dariku ada Cantik yang dapat ku-uyel-uyel dan ku-gemes-gemes-i ketika batinku penat, atau, lebih esensial lagi, ketika aku membuncah dengan semangat tak terbendung. Terlebih ketika aku menulis "Conditioned Society," siapa yang mau ku-uyel-uyel, Ery Budiman?! Sudah gila apa. Jika memang takdirku begini, hidupku selalu sepi, apa hendak dikata. Aela jacta est!

Kopi dalam mug merah kecil, seperti terlihat di gambar di atas, sudah dingin. Akan kupanaskan lagi ia dengan magnetron, karena masih sekitar setengah mug lagi. Kurasa aku tahu apa yang akan terjadi seselesainya aku mengetiki. Aku akan makan siang di depan tivi, mungkin dengan chili sayur, makaroni dan sosis lagi, mungkin dengan tempe bacem dari dr. Laily lagi, bisa juga ditambah tempe balado dari drg. Riri. Apapun itu, akan kulakukan di depan tivi sambil menonton entah-entah. Lantas apa jadinya risalahku sungguhan jika begini terus. Uah, entahlah 'ku tak tahu.

Risalahku "Conditioned Society" itu, seingatku, aslinya tidak diberi sampul, hanya distapel. Baru setelah aku dikeluarkan dari AAL, di sekitar awal 1996 kuberi ia bersampul kertas bufalo hijau dan kujilid lakban. Setelah itu sempat kubawa ke manapun 'ku pergi, sebagian besarnya di tepi-tepi Kali Ciliwung. Bahkan beberapa saat sebelum aku ke Belanda untuk pertama kalinya, 'ku yakin ia menemaniku di kosan Babe Tafran. Baru setelah kutinggal ke Belanda, ia hancur dimakan rayap di garasi belakang rumah Jalan Radio, bersama dengan ketololanku selebihnya.

Sedih. Tidak. Mereka semua ketololan semata. Jika ada yang membuatku sedih, bukan mereka benar. Kesepian-kesepian yang menyertainya, itu yang membuatku sedih. Sedang Cantik, menurut pengakuannya, tiada berapa ahli dalam urusan merayu-mendayu. Sedang aku terlahir dengan itu. Rayuanku bukan rayuan cabul, rayuan mesum. Tidak. Rayuanku seperti anak anjing dengan matanya yang hitam besar berkaca-kaca, sedang anjing najis liurnya. Ini seperti lagu-lagunya Carpenter. Kesakitannya. Matinya Karen karena gagal jantungnya, karena bulimia.

Dengan apa seorang lelaki akan dikenang, jelas tidak dengan ketololan terlebih kesepiannya. Sedang anak anjing dapat dikenang dengan penuh kasih dan sayang. Seorang lelaki dilupakan. Teronggok di tumpukan sampah, membusuk, sekadar menambah pekat aroma, lengkap dengan risalah-risalahnya, atau apapun yang demikian menurut sangkaannya. Bisa jadi yang tersisa adalah tulang-tulang telapak tangan dan jari-jemari menggenggam risalah-risalah, sedang tengkorak kepala menyeringai, karena tengkorak selalu saja terlihat seperti sedang menyeringai. Sudah.

Wahai Yang Mengidupkan tulang-belulang remuk, hidupkanlah ruh kami

Thursday, March 19, 2020

Suatu Entri Mengenai Kang Kopid Songolas


Alhamdulillah, semalam aku tidur nyenyak, tidak terbangun-bangun. Semua ini--makan, tidur, aktivitas sehari-hari yang baik--sangat besar artinya, terutama ketika Kang Kopid Songolas sedang berkunjung seperti ini. Ini sebenarnya sangat tidak orisinil, karena idenya dari Yudha Dewanto. Berkesenian dengan ilham Kang Kopid juga sudah dilakukan Si Bono [Palsu]. Aku, yang jelas, tidak langsung beranjak bangun tadi pagi. Lengan atasku masih dingin meski hanya yang kanan. Kini pun sambil berkesenian aku masih menahan kantuk yang aduhai membelai-belai.


Padahal sudah disokong dengan Nescafe Aromakaya, sekarang sudah habis pula. Ini jelas suatu krisis intelektual yang parah, sudah hampir sebulan. Aku tidak akan bercerita mengenai krisis-krisis lainnya dalam hidupku, terlebih yang berada di luar. Jadi ya begini, aku menemukan diriku mandeg, nyangkut, dan belum juga timbul kemaluanku untuk segera mengatasinya. Tidak pula tersisa pada diriku kemauan untuk menyalahkan apapun di luar diriku untuk krisis ini. Kemauan kemaluan sudah lama tiada, sejalan dengan hilangnya kemampuan. Bagus 'lah itu.

Apakah pantas dirayakan, bahwa tepat dua tahun lalu menurut penanggalan Gregorian, aku menginjakkan kaki kembali di Schiphol. Uah, perayaan macam apa itu. Mungkin ini disebabkan oleh kurangnya pemandangan alam, ya, gara-gara Kang Kopid juga 'sih. Uah, sungguh malas aku menyandi-nyandi, dan tiada pula keberanian padaku untuk mengungkapkan sebagaimana dipahami orang banyak, ya'ni, khalayak. Khayalanku tak berdaya, hanya satu impian semata, dan itu sungguh mengganggu. Jika berkhayal saja sudah tidak berdaya, apa hendak dikata.

Khayalan mengenai kemasyhuran, kekuasaan dan romansa, semuanya adalah tanda-tanda lemahnya jiwa. Seorang kuat tidak akan mengkhayalkan hal-hal seperti itu. Ia akan mengkhayalkan burung robin, hinggap berayun-ayun di tangkai gandum yang bulir-bulirnya telah ranum, sedang jari-jemarinya membelai. Ia, tidak sepertiku, tidak meracau. Ia diam saja sambil menyungging senyum. Aduhai, betapa mahalnya diam, kesenyapan hati. Sungguh ingin kukatakan hening, tapi kata ini sekarang identik dengan yash-shiap sudah 'lah apa hendak dikata.

Dan luasnya pengetahuan, aduhai! Ini 'mah tung keripit ahay tulang anjing. Tahu itu semata adalah perasan sari kedelai, tidak kurang apalagi lebih. Jika sampai lebih, maka ia tak ubahnya perasaan sari keledai. Bahkan keledai saja lebih berjasa dengan kesanggupannya mengangkut. Biar kukhayalkan indahnya mata jeli. Seandainya pengetahuanku seluas Koestono Koeswojo yang memahami mata layaknya permata atau sebaliknya, nyatanya aku tidak. Jelinya mata dan montok-ranumnya buah dada, sedang kau mengumbar pandangan di dunia fana. Suatu ketololan!

Di tengah ketatnya kempitan dan jepitan paha-paha Kang Kopid, mendekap pada selangkangannya, aku berkesenian. Tidak. Aku tidak punya waktu untuk menangis meski di tepi Sungai Piedra. Aku hanya bisa begini, berkesenian. Terkadang menyeberangi bolak-balik Sungai Amstel yang lima Euro lebih, tetap saja aku hanya bisa berkesenian. Lain tidak. Lebih tidak. Tahukah kau, Elda Luciana, bahwa melukis itu dengan makna, tidak dengan kata-kata. Biarkan satuan-satuan semantik menjadi paletnya, karena kata-kata sekadar hamburan huruf nirmakna, nirjiwa.

Pada akhir cerita, akan kau temui ketiak yang baunya seperti keju campur bawang dirajang, dipanggang. Aduhai, sungguh memabukkan. Apakah rambut-rambutnya dibasahi titik-titik keringat, atau malah hitam-hitamnya kulit menyembunyikan akar-akar rambut yang tidak dicabut. Tidak jauh dari situ, buah dada. Montok dan ranum dengan ujung-ujungnya yang menggelap. Di dalamnya ada kolustrum sumber kehidupan. Di bawahnya, perut yang menggelayut, menyimpan rasia kantung yang kisut melembung berkali-kali, persemaian benih kehidupan.