Friday, December 17, 2021

Bukan Babaduk, Melainkan Plerktekuk


Tadinya 'kupikir aku senang sudah menggunakannya sebagai judul, namun ternyata, setelah umek dengan urusan penggambaran, biasa saja. Lagipula, waktu muda mungkin masih bisa lah Plerktekuk, yang ternyata sudah ada yang punya ide begitu. Setua ini, ternyata malah Plermndelep. Itulah nama-nama yang keren, terdengar seperti nama-nama orang Slav atau Balkan begitu. Singkat kata, itulah yang terjadi jika aku seorang diri. Jika bersama seseorang, Insya Allah yang seperti itu tidak akan mendatangi. Namun bila seorang diri, drubiksa-drubiksa bernama demikian itulah sama menggentayang mendatangi.

Ini entri tidak maju-maju entah sejak kapan, lebih lagi disertasiku. Pagi ini, Jepri Osborne melolong-lolong main basbisbus pisang rebus yang terdengar seperti nama salah satu anak Rahwana, Bukbis Mukasura. Setelah menyantap mie ayam dari Kelompok Donoloyo, masih ditambah tiga potong batagor yang sebenarnya kulit pangsit diberi beradonan tepung gurih lantas digoreng, segelas teh Sosro hangat setengah manis, sepulangnya masih diteruskan dengan madu Tresno Joyo jahe merah mentol diseduh air hangat. Salah satunya mungkin bisa mengurangi asupan teh hitam pekat nan kental.

Begitu maju malah begini, terlebih dengan teristimewa untukmu adalah ketika aku bergelantungan pada tuyul, mungkin sambil berkhayal mengenai hidup di masa depan. Tahu apa aku ketika itu, ketika berkhayal menjadi penerbang F-16 bersama callsigns Panther, Jaguar, dan Puma, sedangkan aku Viper. Meski beberapa tahun kemudian terlihat semakin terbuka jalan ke arah situ, nyatanya dari dua ratusan lebih pemuda-pemuda terpilih seluruh Nusantara, hanya satu yang menerbangkan F-16, yakni Yulmaizir. Rumi masih jauh mending dari aku yang pagi-pagi gendut begini mengitiki.

Jangan lupa, meski sama-sama mengeluarkan kobaran api, Bukbis berbeda dari Trinetra, meski keduanya sama-sama putra Prabu Rahwana. Trinetra, seperti namanya, bermata tiga, dengan mata ketiga pada dahinya. Dari mata ketiganya inilah Trinetra menyemburkan api yang memanggang para wanara jadi sate kunyuk, entah bumbu kecap atau kacang. Sedangkan Bukbis harus mengenakan sebentuk topeng perunggu dulu, entah dengan merapal mantra atau tidak, barulah berkobar-kobar api dari topeng itu membakar persekitaran kecuali tubuhnya sendiri. Hasilnya sama-sama sate kunyuk.

Aku tidak pernah tahu bahkan malam-malam menjadi lebih baik, meski aku sudah tahu dari jaman sekolah dasar, ternyata sekadar memilin-milin biji buncis. Menemplok padaku seperti seekor kera buntung, hanya itulah yang kualami dari malam-malam yang katanya lebih baik. Meski pernah berkumpul mereka bertiga, Sutoro Margono yang sok-sokan jadi Torro Maraigendeng jelas lebih beruntung dariku, jika itu dapat dikatakan keberuntungan. Namun jelaslah tidak mungkin begitu. Teknik-teknik menarik simpulan menjadi olok-olokan dalam semesta gubahan Mas Toni Edi Riwanto ini, biar saja begitu.

Aku masih ingat melalui pesawat delapan satu sembilan dua lima empat enam tidak sanggup mengendalikan. Setiap pagi berangkat setengah enam naik mikrolet sampai Cawang disambung Mayasari Bakti Lima Tujuh, sampai terminal Blok M. Itulah ketika salah satunya bertahan sampai beberapa tahun kemudian hanya untuk mengenalkan kesakitan yang mungkin pertama dan satu-satunya. Dalam kedinginan LKHT yang sekarang menjadi ILUNI, segala sesuatunya sangat berbeda tanpamu. Kesakitan demi kehinaan tiada henti mendera setelah itu. Setua ini, semua terasa seperti sakit tumpul.

Hahaha tiada kronologi, tiada sebab akibat, sedangkan menulis disertasi. Asaptaga, akankah aku berhasil melaluinya, bilakah. Si culun Ricky Jo salah menggunakan kata "bila" dari sudut pandangku. Seharusnya "akan", tapi itu 'kan menurutku. Uah, pertombolan papantekan ini sungguh menjengkelkan tata-letaknya, dengan tombol fungsi bersebelahan dengan kontrol. Namun tidaklah perlu jengkel. Ini alinea terakhir, jadi santai saja. Setelah baris ini, kau bisa ngomyang sesukamu. Tidakkah itu yang dari tadi kaulakukan. Aku memang cuma bisa ini, selebihnya menggerakkan naik turun saja.

Wednesday, December 01, 2021

Lolong Anjing Merintang Masa, Melanglang Buana


Bau tai! Meski itu bisa saja berasal dari hidungku sendiri. Tidak percaya? Hidung sendiri terkadang bisa bau tai loh. Selain itu bisa juga mulut, seperti suatu hari almarhum John Gunadi terbangun di pagi hari dan mencium bau tai. Setelah mengendus-endus ke sana ke mari, ia kembali duduk dan menghembus-hembus telapak tangannya sendiri sambil menghirup-hirup baunya. "Ternyata hanya karena mulut dan hidung terlalu dekat jaraknya," begitu katanya. Bisa juga sore-sore berangkat ke Blok M ditemani Mahua Arismaya, naik PPD Patas P.28 jurusan Cimone-Blok M. Tujuannya Sincere Store, toko musik.

Maka membelilah recorder alto merek Yamaha seharga Rp. 18,000 pada 1989, dan segera pulang ke Cimone. Adakah waktu itu terpikir: Setahunan yang lalu tidak perlu jauh-jauh naik bis, sampai melewati segala Poris Gaga, Poris Pelawad entah apa-apa. Cukup berjalan kaki sebentar, lewat Hero Barito, lewat Radio IV kalau takut lewat kuburan, sampai ke rumah. Entah mana lebih dulu, pengalaman yang mirip juga pernah terjadi, dari Cimone ke Blok M, dari Blok M ke Cipinang Jaya naik Mayasari Bakti 57 jurusan Blok M-Pulogadung, sampai salah turun di jalan layang Ir. Wiyoto Wiyono yang ketika itu belum jadi.

Sudah pada tempatnya, sudah tepat itu jika pada saat itu aku hanya mendapatkan secarik pesan pada pembungkus dalam sabun mandi yang wangi, karena hidungku baru saja tersengat amoniak penyamak kulit yang bahkan sampai melemparkanku terjengkang beberapa langkah. Akan halnya daster-daster dan kutang-kutang yang berserakan itu tidak pula sampai membingungkanku, apatah lagi kaus singlet dan celana dalam yang dipakai. Hanya rumah kosong penuh berdebu, yang debunya membuat gatal itu, yang temboknya dipeper-peper begitu banyak ingus anak ingusan yang nyata. Sisanya khayal belaka, ya kecuali sebatang pohon jambu yang membantuku naik-turun.

Sigaret kretek Gudang Garam Merah dan Lisong Zeeland tidak mengenal barat dan timur, utara ataupun selatan. Tidak satupun menarik perhatianku kecuali buah-buahan yang ranum bergelantungan setiap pagi ketika aku pura-pura berangkat pagi ke sekolah. Itu pun tiada menjadi apa. Termasuk yang menarik perhatianku juga tidak menjadi apa. Aku terlalu sibuk bermain-main, berkhayal-khayal selama sekolah menengah, baik pertama maupun atas. Untuk itu aku merasa beruntung, seberuntung anak lelaki yang mengenal segarnya air saluran irigasi di sepanjang Cisadane, meski airnya coklat, meski terkadang ada tainya, orang, sapi...

Terlebih ketika sekolah dasar, tahu apa aku kecuali bahwa Bapak, Ibu, dan Akung sayang sekali padaku. Hanya satu nama memang yang harus disebut dan dikutuk sepanjang masa: Khaerul Umam. Mengapa menyalahkannya, itu semua salahmu sendiri. Namun itulah, suka tidak suka, mau tidak mau, yang mengharu-birumu tiada habis-habisnya, meski kau hitung berkali-kali sampai tidak terhitung lagi. Jika Khaerul Umam harus dikutuk, maka Samsul Bahrum harus didoakan. Semoga Allah selalu menyayanginya, seperti ia menyayangiku seakan anaknya sendiri, anak tolol yang seharusnya dihajar, digebuki habis-habisan.

Selebihnya adalah lipatan-lipatan yang mengingatkanku pada orangutan. Aku memang selalu sayang pada binatang, meski semua tinggal menjadi kenangan. Apakah aku lebih baik jika masih bisa diingat, apakah yang sudah tidak bisa diingat-ingat itulah yang patut jadi bahan bakar neraka, hanya spekulasi tolol belaka. Kantor Mayor Harmin memberikan sedikit kenyamanan, meski keseluruhannya memang nyaman bila malam sudah menjelang. Bahkan ada kolam ikannya, tempat aku kadang dengan tidak tahu malunya bermain-main padahal hari sudah terang. Sungguh menjijikkan, tahu malulah sedikit sekarang kalau dulu tidak bisa!

Kini aku tua, gendut, botak, telanjang dada, dan masih tidak tahu malu. Biarkan aku sepi, sedih, dan sendiri. Entah bagaimana keluar dari keadaan ini, kemesraan ini. Untunglah papan-kunciku ada iluminasinya, seperti yang diminta oleh Sersan Ernest Savage ketika peletonnya terpisah dan terkepung di Ia Drang. Semoga begitu jugalah nasibku. Tentu ada yang harus aku lakukan, meski itu adalah tiarap diam-diam dengan muka mengimpit tanah. Setelahnya pun aku harus berusaha membersihkan jalanku menuju keselamatan, seperti Sersan Ernie. Semoga tidak lama lagi bala-bantuan segera mendatangiku.