Friday, January 18, 2019

Pagi Hari Setelah Semalam Debat Copras-capres


Aku juga tidak ingin ini menjadi kebiasaan. Pukul setengah delapan pagi masih di rumah, berkaus oblong, bercelana pendek bolong di pantat, menyanding secangkir kopi Kapal Api Mantap. Apanya yang mantap, manisnya. Sudah sejak lama kuketahui bahwa kopi sasetan yang ini tidak kusukai, karena manisnya lebay. Apakah akan menjadi kebiasaanku ngopi hitam, terlebih pagi-pagi, aku tidak ingin juga. Saking saja kopi ini juga diminum oleh Pak Ihin dan kawan-kawan. Aku tidak ingin sama dengan anggota-anggota kelas menengah penggemar kopi itu. Aku bukan bagian dari mereka.


Ini pun sesuatu yang kurang patut. Sedang Syekh Ghamidi melantunkan al-Kahfi dengan suaranya yang lembut melangutkan, aku malah mengetik-ngetik begini. Apa tidak sebaiknya aku berolahraga. Tepat di sini, Cantik keluar kamar, bertanya siapa yang cuci piring. Uah, memang lebay manisnya. Apa aku harus membeli kopi bubuk sesungguhnya, daripada minum yang berkrimer-krimer entah-entah. Apa bedanya dengan minum santan. Kopi pahit. Siapa tahu ini kebiasaan baik, tapi kopi pahitnya orang kebanyakan. Kopi pahitnya penjual pesor alias lontong sayur, yang dipikul.

Jelasnya, ini pagi yang indah sekali, meski tidak membawa hati bernyanyi. Bisa saja kurinci segala sesuatu yang telah kulakukan sepagian ini, tapi aku memilih tidak. Tidak ada satupun yang sanggup membuatku sedih atau khawatir, kecuali dosa-dosaku yang menggunung, sedang amalku serba sedikit dan memalukan. Bahkan debat copras-capres tidak kuasa merusak suasana hatiku, meski tadi aku sempat berseru: "Tidak ada radikalisme, intoleransi!" Namun apa peduliku. Masa depanku terlalu cerah untuk diganggu radikalisme intoleransi. Tidak akan, sampai kapanpun, ikut permainan mereka.

Dan kurasa aku tidak perlu terlalu khawatir jika entri-entriku tidak koheren. Bacalah cerpen-cerpennya Pram. Dia dahsyat menulis roman, epos atau apapun yang panjang-panjang itu. Untuk cerpen, kurasa Ahmad Tohari lebih bagus menulisnya ketimbang ia menulis panjang. Sejurus kemudian, pret-pret datang, jadi aku beli dulu. Kali ini si Abang mengangkat tema debat copras-capres. Pak Ihin sebenarnya suka acara itu, namun di kontrakannya tidak ada tivi. Aku agak menyesal memberitahukan sikapku kepada orang-orang baik ini, warganegara-warganegara yang patuh. Semoga Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka. Semoga Allah menolong kami semua. Aamiin.

Kenyataannya, pemilihan serba langsung membuat orang-orang baik ini merasa melakukan sesuatu yang penting, dilibatkan dalam sesuatu yang lebih besar dari diri dan kehidupan mereka sehari-hari yang seringkali nirdrama. Kurasa memang sejak jaman prasejarah itulah gunanya drama, kesenian dalam bentuk apapun. Apakah itu seni rupa maupun seni pertunjukan. Hampir saja aku goyah melihat kesungguhan orang-orang baik ini ikut serta dalam politik tingkat tinggi. Namun segera kutemukan dalih. Ada bentuk pelibatan yang jauh lebih bermutu dari sekadar ini. Banyak malah.

Mau tidak mau aku jadi teringat Orde Baru. Aku jadi teringat penelitian Mbak Vita, yang ketika dipaparkan di depan Kelompok Riset MoMat tempo hari, terasa begitu sederhananya. Namun pesan yang dibawanya Insya Allah penting sekali. Memang sebagai ilmuwan sosial kami harus senantiasa menjaga kekritisan. Namun bagiku ada tugas yang lebih besar lagi dari sekadar kritis. Kritis baik untuk menjaga objektivitas dan kewarasan, namun bisa jadi kurang berfaedah dalam tataran bertindak praksis. Bentuk-bentuk pelibatan yang bermutu harus selalu diusahakan, dan itu tidak otoriter.

Sebelum lebih jauh, ada baiknya aku kembali pada Mantap ini. Tidak 'lah. Kurasa setelah ini aku akan memasuki hiatus panjang menikmati Mantap yang agak sulit dinikmati ini. Patiyah, menurut pengakuannya, bisa menikmatinya. Baguslah jika demikian. Aku, kalaupun masih mau mencoba, mungkin akan memberi peluang pada Spesial. Hei, jangan-jangan di Imani Prima ada. Jangan-jangan masih ada Kandar atau Hendri. Bisa minta tolong dibuatkan. Namun mengopi lebih dari secangkir sehari, aku pasti becanda. Ini hari Jumat, penghulunya hari-hari. Mari kita nikmati adanya!

Saturday, January 12, 2019

Jika Koheren Maka Sulit Memikirkan Judul


Sabtu pagi. Masya Allah, betapa mewah, betapa berharga terasa, terdengar. Segala puji hanya bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Betapa aku kini ketakutan. Takut gagal mensyukuri nikmat karunia yang besar ini. Terlebih karena aku memulai pagi yang gilang-gemilang ini seraya menjejali perutku dengan bubur ayam, masih ditambah dengan risoles dua potong. Ya Allah ajarilah hamba mensyukuri nikmatMu yang manapun. Jujur hamba akui, ketakutan ini lebih karena takut kehilangan nikmat, bukan didorong oleh adab yang baik dari seorang hamba nista kepada Tuannya Maha Baik. Ampuni hamba, Ya Ghafuurur Rahiim.

...seperti berkabut di sebelah kiri, padahal cahaya...
Sampai di paragraf kedua ini, sesungguhnya sudah tidak pagi. Sebenarnya, ini sudah jam dua siang dan udara amboi betapa gerahnya. Besar sekali dorongan untuk bereksibisi, namun kutahankan. Aku harus berlatih beretnografi dan itu artinya membuat prosa yang koheren. Deskripsi yang medok, di situlah kekuatan bidang ilmu yang Insya Allah sedang kupelajari. Gerben sudah beberapa kali menekankan, aku tidak perlu mengaku sebagai antropolog. Mengapa demikian, suatu hari nanti mungkin akan kutanyakan. Aku sendiri tidak pernah berniat begitu. Aku adalah sarjana hukum, yang terpaksa meminjam perkakas ilmu sosial untuk mencapai tujuanku.

Terpaksa. Seandainya saja aku punya pilihan lain. Seandainya saja dalam studi hukum sudah tersedia perkakas yang kubutuhkan. Ya, apapun dalihku, aku tidak bisa tidak setuju dengan "Profesor Ular"-nya Mas Santo. Berbicara mengenai apapun, seorang "Profesor Ular" akan selalu tergoda untuk menceritakan kesukaannya, yang mana adalah ular itu. Ketika ia, misalnya, harus melukiskan seekor gajah, kemungkinan besar ia akan terpaku pada belalai atau ekornya saja, yang memang seperti ular. Syukurlah, yang seperti ini pun dimaklumi dalam bidang ilmu yang kupelajari. Itulah ularku, keyakinan bahwa perkakas yang kubutuhkan tidak disediakan oleh disiplin asalku.

Siang ini, meski begitu, aku belum siap untuk berpanjang-lebar mengenainya. Lagipula, bukan di sini tempatnya. Sempat terpikir olehku untuk membuat blog tersendiri guna kepentingan penelitianku, seperti yang dilakukan Karim. Namun, email Fajri mengenai masalah etik mengingatkanku, mungkin yang seperti itu akan berpeluang menimbulkan masalah. Akan lebih baik, Insya Allah, jika aku cukup berbagi data dengan para penyeliaku saja. Uah, segala puji kepadaNya, Maha Suci Ia, ampunilah hamba yang demikian bergairah. Tak sabar rasanya untuk segera mengumpulkan data, sebagaimana tujuan utamaku menempuh ini semua.

Apakah ini semua? Siang hari yang berawan, udara yang terasa seperti berada dalam kukusan, hembusan saksofon Kenny G, secangkir air hangat pembasuh sisa-sisa bandrek dari kerongkongan, dan yang terpenting, kantuk yang, Puji Tuhan, masih tertahankan. Sampai sejauh ini aku masih belum memutuskan judul bagi entri ini. Mungkin karena aku masih sibuk menahan diri untuk tidak meracau, sekadar memberondongkan kebatan-kebatan pikiran dalam benakku yang disaput kabut kantuk. Kabut ini lumayan tebal, meski tidak sampai membuatku sama-sekali tidak berfungsi.

Nah, intinya, jangan terburu merasa senang. Nyatanya, kabut ini terasa semakin tebal. Ia muncul tadi sekitar dhuhur dan terus saja menebal. Ini sudah hampir tiga jam, dan sang kabut sepertinya masih belum menunjukkan tanda-tanda pupus. Jangankan pupus, menipis saja sepertinya belum. Aku hanya tidak mau berpikir bahwa ia menebal saja. Akan halnya aku menulis entri ini, bisa jadi semata usaha untuk melawan kabut yang melanda ini. Aku tidak boleh menyerah, jika ini adalah usahaku untuk mematuhi nasihat Ibu dan tidak lebih. Semua orang sudah menasihatiku. Semoga nasihat Ibu inilah yang paling besar keberkahannya, yakni, sedapat mungkin jangan tidur siang.

Lalu, ragaan. Ragaan apa yang cocok untuk entri semacam ini. Uah, mulailah berbagai pikiran berkebat-kebit. Berkesiuran di antara pikiran mengenai ragaan adalah pertanyaan mengenai makan siang. Tepat pada saat itu, timbul pula kekhawatiran, makan hanya akan mempertebal kantuk. Hembusan dan lengkingan saksofon Kenny G yang berbelit-belit meliuk-liuk ini kuharap membantuku melawan kantuk. Kafein? Tidak dulu, meski perutku sepertinya sedang baik-baik saja. Tadi shubuh dihantam dengan Sarimi goreng ayam kecap saja sanggup. Namun tidak berarti aku boleh memaksanya melampaui batas, bukan?

Entri ini... kuakhiri

Thursday, January 10, 2019

Pukul Sepuluh Malam di Amsterdam. Hampir Beku


Etnografi, woi, etnografi! Bagaimana bisa beretnografi jika terus bereksibisi begini. Ada masalah yang lebih mendasar sebenarnya. Jadi ini hampir setengah sepuluh malam waktu Amsterdam, namun mengapa cahayanya neon putih begini. Di sampingku memang terhidang semug besar chai beraroma medok kayu manis, namun mengapa gelas permata. Hawa di kamar memang selalu jauh lebih hangat daripada di luar yang mendekati beku, namun mengapa pintu berkasa besi langsung terhubung dengan udara malam. Lebih dari sekadar eksibisi, ini disorientasi!

Ini, 'Gar. Miso. Pernah makan belum? (sumber gambar dari sini)
Ah, chai dengan manisnya yang lamat-lamat memang cocok sekali menghangatkan badan di malam musim dingin Amsterdam ini. Lucu, baik Ibu maupun Cantik sama-sama tidak menyukai aroma kayu manis. Padahal mereka suka sekali Belanda, tidak sepertiku yang sedikit memaksa untuk suka. Untunglah Allah sungguh Maha Baik kepada hamba nista lagi durhaka ini, tidak terlalu sulit untuk suka kepada Belanda. Amsterdam, setidaknya. Sebagian besar dari tahun lalu, setidaknya. Hei, coba rasakan. Ini lebih baik dari kali pertama.

Kali pertama, aku pulang tanpa tahu kapan kembali. Mengapa kembali, karena nyatanya ada juga yang disuka. Sekarang setidaknya agak tahu. Aku harus segera mengirimkan abstrak jika benar harus kembali sebentar agak Juni nanti. Namun, terus terang, dengan apa yang tengah kualami dan kutahan-tahankan kini, aku agak gamang menuju jeri. Ah, kau pengecut. Tidakkah Allah selalu menyelamatkanmu sejauh ini, kau hamba nista lagi durhaka. Insya Allah, ini pun akan berlalu dengan selamat tiada kurang suatu apa.

Sesampainya di paragraf ini, entah bagaimana aku tidak peduli apakah aku disorientasi atau tidak. Mungkin karena Selamanya menyumpal telinga membelai jiwa. Ayo, semangat, dong. Akan banyak hal-hal baru menggairahkan terjadi di hari-hari yang akan datang. Petualanganmu. Belum lagi perubahan ke arah yang lebih baik. Cinta Sejati, itulah yang tengah kaurasakan kini. Apapun ini, tidak akan lama. Kau tidak akan tahu, akan tiba hari ketika kaubaca kembali ini sambil tersenyum-senyum merasakan nyaman di jiwa, di raga.

Selalu begitu saja, ‘kan. Jiah, ini apa Suara Musik, terutama demi teringat Mas Ber menyukainya. ‘Emang ‘ga boleh. Boleh-boleh saja, tetapi Banser, Anshor. Ya, boleh juga. Achmad Chodjim. Ya, tidak mengapa. Ada beberapa hal, banyak tepatnya, yang aku menahan diri untuk tidak memikirkan, apalagi sampai bereaksi terhadapnya. Hahaha kupegang teguh pesan Shireen Sungkar untuk tidak menyentuh media sosial selama kerja lapangan. Alhamdulillah sudah dua minggu ini. Biarlah ia yang bermedsos-ria, karena sedang merintang musim dingin.

Dan Mack Si Piso dengan siulan begini, dan kocokan gitar dua perempat... Uah, mistis! Hampir pukul sepuluh dan hampir beku di Amsterdam. Duapuluh empat derajat celsius ketika mendekati subuh di tepi Cikumpa, dan Malam Terpesona! Tidak perlu Seekor Merpati Putih jika toh sama-sama tidak bisa diapa-apakan. Menyesal, ‘sih, namun apa daya. Dari kecil, dari jaman ranjang atas di Kemayoran aku sudah begitu. Begini inilah eksibisi. Berkebat-kebat tanpa peduli, karena memang tiada pernah ada yang peduli.

Ada satu lagi yang sempat membuat deg. Ragaan apa yang cocok untuk kejadian ini, ya. Miniso. Ya, seperti miso tetapi bukan. Haruskah begitu ilustrasinya. Haruskah menyakiti diri ketika disorientasi. Ahaha, ini khas eksibisionisme. Kadang dahsyat, kadang menjijikkan. Ada nasi-nasinya, atau mienya begitu. Jijik! Bisa jadi aku lupa suatu hari nanti, mengapa Miniso. Memang lebih baik lupa. Buat apa yang seperti itu diingat-ingat, terlebih jika satu permainan-panjang agak tiga puluh menitan akhirnya usai, hanya untuk eksibisi!

Tuesday, January 01, 2019

Selamat Tahun Baru 2019. Insya Allah Selamat!


Ternyata tidak semua tahun punya entri yang mengucapinya selamat. Jika tahun ini salah satunya, aku tidak punya alasan apapun untuk membenarkannya. Hanya dorongan suasana hati saja, seperti biasa. Lain tidak. Akan halnya aku berusaha membuatnya koheren, ini juga semata melatih diri. Untuk sementara ini saja. Tidak berarti aku tidak akan kembali eksibisionis suatu hari nanti. Ini semata suasana hatiku pada saat ini, yang tidak benar-benar saat ini juga. Harus kuakui, aku sedang menggunakan teknik retroaksi.
Baru sampai sini saja sudah tidak tahan. Ya, ini bukan prosa koheren, meski aku memulainya berpretensi begitu. Ini kembali eksibisionis. Dua Ribu Sembilan Belas kumulai dengan seonggok lagi karya instalasi eksibisionis, yang tentu musykil karena aku sendiri yang menamainya begitu. Bedaku dengan Abang Senior Denny JA hanya ia menggembar-gemborkan puisi esainya dengan sangat serius, aku berolok-olok. Sudah begitu saja. Sejauh ini hanya Togar Tanjung yang menghargai eksibisionismeku. Mungkin ada juga lainnya, hanya aku belum tahu.

Hei, ini adalah ucapan selamat untuk 2019. Adakah ini ucapan selamatku untuknya, atau ucapan entah apa atau siapa padaku. Dalam Jagad Gondrong ini, kontradiksi dan paradoks tidak ada bedanya. Tidak terasa juga (Jawa: ora kerésé) jika Farid menertawakanku mengurusi Bourdieu yang kubaca 'burjo.' Yang jelas, 2019 Insya Allah—seperti tahun-tahun yang sudah-sudah—selamat! Ambisi aku tidak pernah punya. Tujuan hidup yang ekstrim khayali itu saja yang menyeretku menjalani hari-hari. Harapan menemui hari esok sedang senang.

Ini bisa jadi semacam perkenalan, seakan-akan 2019 adalah sesuatu yang sama-sekali baru. Tidak pernah kutemui sebelumnya. Aku sudah kehilangan minat untuk berfilsafat mengenai waktu, sedang itu sudah dilakukan dengan sangat cerlangnya oleh penggubah Bhagavadgita. Lagipula, kalaupun aku harus berfilsafat, kusimpan ia untuk waktu yang tepat, yakni waktu yang berguna. Waktu ketika aku memang harus, suka tidak suka, terpaksa berfilsafat. Aku, nyatanya, tidak lagi suka apa-apa, apalagi filsafat. Kesokcerdikan, kecerdasbarusan, nyatanya hanya buang-buang waktu dan tenaga.

Ketika kibbeling Volendam dan mie ayam Donoloyo tidak banyak berbeda, keduanya kontradiktif. Satu sama lain saling paradoksal. Maka kusapa saja 2019, seakan-akan ia menyapaku lebih dahulu. Seperti seorang teman yang tidak berjenis kelamin. Aku, tentu saja, tidak berani mengaku tidak berjenis kelamin. Aku, bagaimanapun, adalah mutasi; ketika kromosom X seharusnya sepasang dan masing-masing berkaki empat, salah satu kromosom X-ku hanya bercap kaki tiga. Aku tidak suci sebagaimana halnya Ibu Suci. Maka kusapa ia, Hei, 2019!

Kutinggalkan Ruang Flex Lantai 5 Gedung B itu, untuk sementara. Kutinggalkan penghuni-penghuninya, apa saja. Jepit kertas, kibor dan layar yang tidak berguna untukku, keseharianku. Untuk sementara. Jalan masih panjang. Aku masih ada semangat itu. Tidak untuk membuktikan atau meraih apa-apa. Sekadar apapun memang harus dikerjakan sebaik-baiknya, terlebih jika berurusan dengan orang lain. Hanya di Jagad ini aku berurusan dengan diriku sendiri. Sisanya akan selalu mengenai orang lain, bagaimana penerimaan mereka akanku, apakah berterima dan berkenan.

Aku bahkan tidak peduli apakah eksibisionisme dan koherensi bagaikan minyak dengan air. Air aku suka. Minyak, sadar atau tidak, kujejalkan juga ke dalam tubuhku; meski jika sadar aku lebih suka tidak. Minyak pada bala-bala diserap dengan tisu. Lebih baik tisu di samping wasbak pantri, jangan tisu wajah. Demikianlah segala sesuatu itu baik dan ada yang lebih baik lagi. Tahun baru, jadilah yang lebih baik itu dalam segala halnya. Di atas segala-galanya, semoga 2019 ini selamat!