Wednesday, September 28, 2022

Anakku Sayang, Anak Perempuan Satu-satunya


Kini matahari telah terbenam di Karibia sini, padahal sebelumnya Michael menarikan tarian terakhirnya dengan senandung masa kecilku. Ini semua karena aku harus menyiapkan pemegang-tempat dan gambaran lebih dulu sebelum mulai mengetiki. Padahal ini mengenai hari ulang tahun anakku sayang, anak perempuan satu-satunya, darah dagingku sendiri. Ini semacam surat kepada orangtua, mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih atas segala kasih-sayang yang tercurah. Hari-hari seperti ini ada saja hampir dalam hidupku, semoga Allah senantiasa berbelas kasihan padaku.

Apakah aku, sebagai bapak, berjalan terlalu cepat. Bisa jadi, semata karena berusaha menghemat uang. Ingin cepat-cepat sampai di rumah juga, karena Lantai 2 Institut Seni, Sains, Teknologi, dan Humaniora aduhai sungguh pembekunya. Aku punya sebuah pertanyaan, begitu saja 'kukatakan pada Ah Hui. Mengapa kau memilih adegan Pandawa Dadu ini untuk ruang kerjamu. Aku tidak tahu ini mengenai apa, tukas Ah Hui. Aku hanya menyukainya karena ia terlihat timbul, seperti tiga dimensi. Memang orang hebat harus sederhana seperti Ah Hui. Tidak seperti aku.

Aku pun, seperti Ah Hui, punya ruang kerja. Parul punyakah. Apa perlu 'kukenang-kenang pada ketika mereka berempat berkeruntelan di tepi Ciliwung, sedang aku di bantaran bertebing yang lebih tinggi. Di kamar mandi ada sebuah pintu ke arah belakang, yang jika dibuka maka terlihatlah halaman belakang yang seingatku tidak pernah 'kujamah. Sepanjang 1998 itu. Orang mengenang tahun itu sebagai awal Reformasi. Aku mengenang TB menertawakan keheroikan Acep yang musnah begitu saja setelah melihat orang Timor Leste, setahun sebelum anakku lahir.

Baru 'kusadari, setelah sekian lama, mandolin dari Nikosia lebih dari satu. Pantaslah seperti ensembel bunyi tremolo pada senar-senarnya. Seperti biasa, mandolin-mandolin ini menjadi penanda akan dimulainya permainan terlarang. Benar-benar aku harus sesering mungkin ke Jalan Radio. Sebuah foto keluarga besar yang terdiri dari Bapak Ibu, anak-anak dan menantu-menantu, lengkap dengan cucu-cucunya memang tinggal kenangan akan suatu khayalan. Yang nyata ada padaku saja khayalan semata. Maka kembalilah aku, seperti biasa, ke desa itu, dari masa kecilku.

Uah, hujan rintik menderas ini memang nyaman membelai jiwa. Semoga badanku yang penat ini pun, atas izin Allah, turut disembuhkannya. Mungin, seperti yang 'kuceritakan pada Dr. Teddy Anggoro tadi, aku harus kembali berjalan kaki. Meski panas di sini, pasti ada waktu-waktu yang tepat untuk melakukannya. Jika tidak sore hari, maka pagi setelah subuh. Tidakkah setiap hari Pak Nyalla mengingatkan untuk sholat dhuha bahkan tahajjud. Membayangkan itu semua saja sudah membuatku merasa mengapung tinggi di angkasa seperti layang-layang si Jampang namanya.

Mungkin bagi Efraim segala mengenaiku menjijikkan, terlebih tulisan-tulisanku di sini. Biarlah. Aku lebih suka begitu. Dari dulu aku memang selalu digilai dan dielu-elukan. Akankah besok aku sanggup mendongengi bocil-bocil mengenai sarana administrasi, entahlah. Aku ingin membawakan anakku uborampe yang dibelikan Bundanya. Anakku memang sudah tidak kecil lagi. Sudah dewasa malah, sudah jauh meninggalkan usia remaja. Anak-anak perempuanku memang sudah gadis-gadis. Tidak ada lagi yang pantas 'kupeluk-peluk dan 'kucium-cium.

Di sini, di sana, di mana-mana, tiap tetes embun, tiap helai daun tahu betapa 'kuingin memeluk, mencium anak-anak perempuanku. 'Kukabarkan saja ini pada angin lalu. Biarlah mereka semua beranjak dewasa dengan doa-doa dan harapan-harapanku. Di usiaku yang masih muda ini, kata sementara orang, aku sudah merasa cukup. Tidak ada lagi yang 'kuinginkan. Jika aku tidak berkesempatan memeluk dan mencium anak-anak perempuanku di hidup yang ini, biarlah itu 'kulakukan di hidup kemudian. Aku tidak ingin bidadari. Aku hanya ingin anak-anakku sayang.

Saturday, September 10, 2022

Adakah Cavatina dalam Cavalleria Rusticana?


Ini sudah jam satu siang, dan aku duduk di pojok selatan Restoran de Margo menunggu Istriku Cantik sholat dhuhur. Padahal tadi pagi, seraya mendengarkan rendisi Pakde Hank mengenai Cavatina, tiba-tiba aku teringat akan kenikmatan kelamin. Padahal pagiku tadi tidak seberapa menyenangkan, namun tidak lama setelahnya aku dibuat senang dengan sepiring besar berisikan tiga batang sosis koktil, 'kurasa merek Kimbo, dua lembar kecil ham halal yang kering dan gosong, hashbrown yang digoreng terlalu kering, seporsi kecil kacang panggang, dan tentu omelet kering.

Apakah tempat seperti ini cocok untuk bekerja. Apa memang aku harus ada stasiun-kerja yang mobil. Nyatanya sampai hari ini aku belum pernah benar-benar mengetik selain di Lenovo PC-AIO 520. Uah, asyik juga menulis-nulis nama stasiun-kerjaku. Yang mobil ini namanya HP 11-Cb. Rasanya seperti alutsista. Entah mengapa beberapa hari terakhir ini aku suka melihat-lihat alutsista, meski aku bersyukur tidak harus bekerja di atau dengan salah satunya. Apalagi kalau aku masih harus menenteng-nenteng SS-1 maupun 2. Aku suka begini saja, bahkan dengan HP 11-Cb.

Satu kelemahan terbesar mengetik di sini adalah aku harus berdamai dengan musik jez umek yang disetel. Bahkan setelah 'kusumpal telingaku dengan BT-008 tetap terdengar keumekan itu, Sudah agak dua jam aku di sini, tadi masih tertahankan. Namun ternyata tidak tahan juga sampai aku memintanya untuk dipelankan sedikit. Nah, sekarang agak lumayan 'lah, meski tetap saja suara geraman entah apa mendominasi. Namun setidaknya rendisi Francis Gayo terhadap lagumu menjadi suara dominan dalam telingaku. Yang jelas, tidak ada itu istilah "kusumpil" di telingamu. 

Uah, sekarang aku mengantuk. Jangankan sampai memikirkan Teluk Jakarta sebagai arena [-arena] sosial, meneruskan mengetiki saja penuh perjuangan. Pegawai restoran sedang beberes membersihkan meja-meja prasmanan, mungkin untuk persiapan brunch besok. Apakah 'kutahu kemana 'ku pergi sejak kecil selalu saja mewarnai kalbu. Di Kemayoran, Kebayoran, Cimone, sebentar kembali ke Kebayoran, Magelang, Surabaya, sebentar lagi di Kebayoran, Depok. Begitulah perjalananku sejauh ini. Kebayoran adalah tempat kelahiranku, oleh itu sering aku pulang ke sana.

Pemandanganku ke arah timur, di balik kaca, adalah taman yang tertata rapi, dengan barisan pucuk merah dan beberapa batang kamboja. Tidak 'kuimpikan rumah seperti ini. Bagasnami QS M14 sudah cukup bagus untukku di dunia fana ini. Jika itu tidak sama dengan bila. Jika adalah mengenai keadaan, sedangkan bila mengenai waktu. Cantik malah mainan tetris yang tidak bisa diputar-putar seperti biasa, seperti anaknya yang pikirannya animasi saja tidak kunjung berkembang. Namun aku seraya teringat tidak lebih baik dari siapapun terlebih dan terutama kambing.

Aku tidak sedang jatuh cinta ditemukan Pak Kaji di dalam VW-nya entah pemberian siapa. Adakah sesuatu embel-embel di dunia ini yang sanggup membuat kepalaku lebih besar dari sekarang ini. Aku berlindung kepada Allah darinya. Justru dengan gembel-gembel di seputar pinggangku ini membuatku kecil hati. Keadaanku kini tidak lebih baik dari ketika aku menghuni kamar sekunder di Uilenstede itu, namun juga tidak lebih buruk. Bahkan sangat boleh dikata keadaanku kini jauh lebih baik dengan Cantik di sisiku. Entah apa yang akan 'kulakukan tanpanya, Istriku Cantik.

Malam dalam satin putih, aduhai. Ini baru masuk sisi B dari Gayo di samping nyala lilin. Ternyata Sofia Elvira punya kisah cinta. Apa 'kuganti saja. Ini pada dasarnya sama saja dengan yang 'kupunya di dalam panjang-panjang, namun mungkin tidak sepanjang itu. Aku curiga yang dalam panjang-panjang itu sudah tercampur sesuatu. Pantaslah terdengar sangat modern, dari 1996, sedang air kolam di luar beriak-riak tanda tak dalam. Sanggupkah setelah ini aku kembali memikirkan, terlebih penting, menulis mengenai Teluk Jakarta sebagai arena-arena sosial. Mari dicoba.

Saturday, September 03, 2022

Cantik, Ini Kekerasan... Biarkan Saja, Sayang


Perutku sudah seperti Bengawan Solo begini, mengalir sampai jauh, sedang aku bertelanjang dada sampai perut, mengetiki sendirian di Ruang Bidang Studi Hukum Administrasi Negara, Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Harus ya dirinci seperti itu, sedang kedua lengan telanjangku kedinginan meski tidak dihembus langsung pendingin udara merek Panasonic tepat di atas bekas kubik almarhum Pak Wied Suryandono. Mulutku terasa seperti ingin dibersihkan, sedang perutku, atau lidahku, terasa seperti ingin minuman hangat berbadan tebal. Apakah dalam tasku ada Susu Jahe Sidomuncul bersama dengan Serbat Jangkrik Mas Habatussaudanya sekali. Apa 'kan 'kuperiksa sekarang juga. Entahlah...

Ya, Sayang, tidak usah pagi ini, kapan pun kau selalu cantik sekali. Cinta itu memang adanya di hati nurani. Cinta itu adalah ketika seluruh panca indera diistirahatkan, mata dipejamkan, telinga disumbat, hidung anosmia, lidah ageusia, sekujur kulit digosoki lumatan daun tapak liman; pendek kata, mengheningkan cipta. Sungguh kasihan orang yang merasa mencerap kecantikan namun matanya nyalang, telinganya tegak, hidungnya mengendus-endus, lidahnya mencecap-cecap, kulitnya meraba-raba. Bagiku, kecantikan memang tidak pernah berwajah tak berupa. Kecantikan itu terasa seperti khayalan akan sejuknya angin sepoi basa di tengah siang hari bolong, di puncak musim kemarau yang tidak berangin.

Kedua belah lengan atasku sudah sedemikian kedinginannya, maka 'kumatikan pendingin udara. Ternyata itu yang berhasil memaksaku mengangkat pantat besarku. Apakah keinginan untuk minum minuman berbadan tebal dapat membuatku melakukannya lagi, entahlah. 'Kusuka Chopin sampai di alinea ketiga ini belum juga habis, Hei, Julio Iglesias begitu saja menyapa dari masa kecilku yang cantik. Ibuku memang cantik, itulah sebabnya aku ganteng begini. Aku, Insya Allah, sudah tahu betapa hidup ini memang indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja. Aku belum lagi tahu seberapa indah kematian, meski jika memperhatikan contoh-contohnya, Insya Allah, bahkan jauh lebih indah. Semoga saja...

Betapa tidak indah, ketika dapur berdinding batako buah tangan Bapakku sendiri, berjendela kawat ayam, tidak pernah disentuh matahari pagi maupun sore kecuali pada Juli sampai Agustus. Mana 'kutahu ketika itu bahwa di Luxembourg atau Grenoble pada waktu-waktu seperti itu tengah musim panas. Beberapa puluh tahun kemudian akhirnya 'kutahu sendiri bahwa di Maastricht dan Amsterdam memang sedang musim panas pada bulan-bulan itu, maka dapur Ibuku dikecup matahari pagi. 'Kurasa belakangan sudah tidak begitu ketika pohon jeruk, asam, dan jambu semakin besar dan lebat. Pohon jeruk yang tidak pernah berbuah itu, khayalan seorang perempuan muda yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Bapak tidak lagi membutuhkan jeruk pecel atau jeruk apapun, seperti halnya Pak Widodo tidak membutuhkan lagi tumpukan kertas-kertasnya. Hei, di sini banyak sekali orang mati. Coba kudaftar, mulai dari Pak Andhika, lalu Bu Eka, lalu Mbak Melania, lalu Pak Widodo, lalu Bu Arie. Maka 'kukorek-korek saja hidungku dari tahi-tahi upil yang menggumpal-gumpal di dalamnya, mengeluarkan bau yang sedap-sedap memuakkan. Aku kehabisan cinta, maka kupelankan suaranya, karena kehabisan cinta paling cantik bila terdengar lamat-lamat. Keinginan untuk menggosok gigi semakin kuat, namun 'kuselesaikan dulu saja mengetiki ini. Tinggal dua alinea pun. Siapa tahu mengitiki sedang gigi berjigong malah lebih kreatif. 

Selalu, selalu saja. Tertidur di lantai hanya berkaus singlet bercelana pesiar. Terbangun sedang di televisi selalu saja Russel Hitchcock, menyeterika sedikit, menggosok-gosok kuningan dan sepatu, mengenakan jas pesiar malam. Baguslah aku punya kenangan ini, karena memang cukup menjadi kenangan saja. Keadaanku kini yang Insya Allah sebentar lagi seorang doktor lulusan Universiteit van Amsterdam tentu lebih menyenangkan. Terlebih jika memikirkan rencana-rencanaku untuk menulis berbagai-bagai buku. Memang ternyata hanya itu cita-citaku dari dulu. Tidak menjadi laksamana, menteri, apalagi persiden, aku hanya ingin menulis buku. Sudah dua buku 'kutulis, tinggal menyusul sisanya.

Terlebih jika mengingat buku-buku agama yang memenuhi rak dan mejaku, menunggu untuk dibaca. Apakah plus mataku akan terus bertambah, entahlah. Masya Allah, betapa menyenangkan hidup yang diisi dengan membaca dan menulis. Jika sesekali terpaksa mengoceh, mendongeng, mau bagaimana lagi. Jika sesekali terpaksa main kiu-kiu bersama Sinta, apa hendak dikata. Jika sampai sekarang aku masih menunda-nunda mengisi BKD, tidak boleh dibiasakan. Biarkan saja! Aduhai, mengapai kau tidak pernah berhenti cantik sejak kecilku. Sampai tua begini, sampai sekuintal lebih beratku, kau masih saja cantik. Aduhai, tidak kendur pula pelukanmu padaku meski sekarang aku tambun begini.