Monday, November 30, 2015

Siapa Bilang November Tidak Ada Entrinya?


Meski ditayangkan secara surut, tetap saja November 2015 memiliki entri, meski hanya sebuah. Seperti biasa kalau sedang menulis entri, maka kelebat-kelebat pikiran aneh menguasai jagad inderawi. Seperti sekarang ini, Suara Surga. Meski suaranya terdengar modern begini, seperti dengan sintesaizer, bisa jadi memang demikianlah Suara Surga itu. Tak pelak maka yang terpampang dalam mata batin adalah jalan berbatu di tepian Sungai Maas. Lebih baik bersepeda karena tidak akan terlalu lelah jadinya.

Musik-musikan a la ngak-ngik-ngek gila-gila'an
Seperti yang sudah kuduga, musim hujan baru benar-benar datang di akhir November ini. Terlambat? Bisa jadi. Bergeser? Kemungkinan besar. Perubahan iklim? Ya ya... toh semester depan ini aku akan mengajarkannya bersama Bang Andri. Hukum Perubahan Iklim. Terdengar keren sebagai sebuah mata kuliah. Terdengar mutakhir. [kata ini yang seharusnya digunakan ketika kunyuk-kunyuk itu malah menyebutnya sebagai “kekinian.” Tolol!] Ternyata yang sedang kususuri ini bukan Sungai Maas melainkan Sungai Gypsi, yang kini mengilhamkan Suatu Cerita yang Menyenangkan.

Betapa suatu melankoli dapat menyenangkan? Bisa saja, jika yang terbentang di hadapanmu adalah langit mendung yang dihiasi oleh hanya satu gedung pencakar langit. Selebihnya sampai ke ufuk barat sana adalah langit mendung yang terkadang ditingkahi geraman bis transportasi umum, sekali-sekali saja. Dan Ratu Saba, dan Ratu Sima, dan Borobudur dan Kuil Nabi Sulaiman... ahaha... tidak lebih gila dari Revolusi Pancasila atau revolusi apapun. Semua sekadar melankoli yang mengilhamkan suasana sentimentil.

Mengapa aku mendendangkan lagu cintaku, kautanya? Karena, Ma Jolie Fille, karena... sentimen yang diciptakan melankoliku sendiri, Mam’selle. Aku tidak butuh apapun selain diriku sendiri dan melankoliku sendiri untuk merasa seperti ini, sampai-sampai mendendangkan lagu cinta begini. Uah, apa peduliku?! Entah geligi atasmu saja yang ber-beugel atau dua-duanya, itu sepenuhnya urusanmu, dan aku tidak berminat untuk memahaminya. Aku bahkan tidak akan meminta maaf untuk itu. Engkau tidak mau tanganmu kupegang agar mengerti apa maksudku? Tidak masalah.

Ini sekadar masalah lanun yang berpikir bisa seenaknya merompak di perairan Tanjung Kacrut. Bukankah kita punya satu resimen pemanah di dekat situ? Suruh mereka stelling di puncak tebing dan tetap merunduk. Jika kapal-kapal perompak itu masuk jarak tembak, hujani tiba-tiba dengan panah api. Beberapa hari kemudian seorang caraka mengabarkan bahwa perintah itu sudah terlaksana dan begitu saja perairan Tanjung Kacrut telah bersih dari perompak lanun, bahkan tanpa selembar layar pun terkembang, tanpa lunas menyentuh air!

Aku kembali lagi ke dalam bilikku yang meski rapi tetapi bau. Sudah berapa lama tidak main cinta? Puh, bahkan ingin pun tidak. Aku sedang ingin menyucikan jiwaku, membersihkannya dari kotoran sebisaku. Sedangkan badanku terus saja dikotori dan dirusak oleh karbohidrat dan—ini lagi—kopi jahe, dan kurang gerak, masa jiwaku juga kotor dan rusak? Duduk bersila, terpekur, meski perut gendut membuatku tidak bisa membungkuk lebih jauh lagi. Terkadang aku malah menengadahkan kepala, meski mataku terpejam.

Penghambaan kepada apapun kecuali Allah Illahi Rabbi adalah... mengerikan! Aku hanya bisa membayangkan kengeriannya, namun menghamba hanya kepadaNya pun masih sebatas gagasan yang mengapung-apung dalam alam sadarku—artinya, belum tenggelam ke dalam bawah sadar, belum menjadi kebiasaan. Ngeri! Semua saja selainNya punya potensi untuk menjadi sesembahan. Padahal, ketika sudah lengah dan cukup dekat, apapun yang disembah selain Allah itu akan menerkam dan menyeret ke dalam jurang azab sekaligus dengan dirinya.

Naudzubillahi, tsumma naudzubillahi min dzalik!