Tuesday, December 24, 2013

Ngolor Memang Tidak Memandang Usia, Mantra


Jadi, ceritanya aku sedang mengawas ujian incomplete, nih, Hukum Lingkungan. Prinsipnya sih kalau bisa dimudahkan kenapa harus dipersulit? Kalau mau, saring ketika penerimaan, jangan ketika sudah masuk begini. Bikin repot aja tauk. Ah, sudahlah. Apa peduliku. Jadi, seperti judul di atas, ngolor memang tidak mengenal batas usia. Siapapun boleh ngolor asalkan itu bisa menyelamatkan dirinya. Dari apa? Entahlah. Ya, gak perlu sampai cium tangan banget sih, kayak Pangab kepada Presiden. Itu sih kebangetan. Akan tetapi, kalau aku cium tangan kepada Pak Bakti ya tidak apa-apa juga. Lha wong beliau itu Mbah Guruku. Ngolor itu, namun demikian, harus dibatasi hanya untuk cari selamat. Kalau ngolor sudah digunakan untuk cari manfaat, wah, kurasa itu sudah melampaui batas kepatutan. Jika begitu, ngolor itu sama dengan cinta dong. Lho, 'kan sama-sama tidak memandang batas usia. Siapapun, kapanpun, boleh jatuh cinta; dan jatuh cinta sungguh sangat disarankan karena membawa kesehatan. [halah] Ya nggak lah. Namanya jatuh, mau apapun, ya tetap saja sakit. Perasaan geli dan gatal itu 'kan sebenarnya perih yang teredam. Coba saja kalau gatal digaruk terus, setelah kulitnya habis 'kan sakit.

Ini orang lagi pada sibuk ngomongin kabinet baru di FHUI. [...atau aku aja yang sibuk, yang lain biasa aja?] Mungkin aku ikut-ikutan membumbui, sebagaimana kebiasaan burukku, karena tidak ada yang benar-benar seru dalam hidupku belakangan ini. Dunia seperti terus saja berputar [dan memang berputar terus ia] sedangkan aku berputar-putar di tempat. Sudahlah. Kerjakan saja apa yang harus kaukerjakan. Mengawas ujian I ini misalnya, kerjakan saja. Setelah itu berilah nilai, begitu saja. Masalah rejeki sudah ada yang mengatur. Apalagi cuma masalah gaji, 'kan sudah ada tim remunerasi. Masalah status kepegawaian, serahkan pada bagian SDM. Sedih dan gembira jangan sampai ditentukan oleh berapa gaji yang kau terima, tetapi apakah ada kenaikan atau tidak. Emang ngaruh kalau punya jabatan dengan tidak. Selama ini aku cuma jadi setap sih, jadi tidak pernah tahu betapa pengaruh dari suatu jabatan... terhadap gaji. Ya, akhirnya cuma itu yang penting. Dapatlah dipahami mengapa John Gunadi masygul sekali cuma terima satu juta bernama "hibah pendidikan." Gaji dan pengakuan. Mungkin aku sekarang sombong karena sudah punya NUP. Mungkin aku sekarang tenang-tenang saja karena aku sudah punya laman sendiri di Websait Setap UI. Ini sama ngeselinnya dengan orang yang bilang "semua dapat bagian" ketika tangannya sudah masuk kantong kue.

Well, oh, well... teh buatan Mas Sukmono terlalu manis buatku, padahal aku sudah makan permen dua. Iseng tadi beli roti dua sama minum yogurt Cimory. Dapatkah aku menghindar darinya kali ini? Kalau koreksian jelas tidak mungkin. LPJ? Aku ingin segera ber-BBPDJI! Benar-benar menjengkelkan! Dibilang jengkel... engga... Dibilang engga... jengkel! Tidak usah jengkel lah. Seperti biasa saja, kerjakan pelan-pelan dimulai dari yang paling disukai dulu. Nanti pada waktunya suasana hati itu akan muncul sendiri; meski dalam hal BBPDJI memang sebaiknya berhenti dulu sekarang, jika benar mau berhenti sejenak. Pekerjaan berikutnya adalah menulis tentang "Bersetia Bela Pancasila, Demi Jaya Indonesia," yang merupakan keynote article dalam buku suntingan itu; dan kalau aku sampai asyik di situ, bisa berhari-hari urusannya. Hey, ini liburan, dan liburan itu paling sesuai jika diisi dengan menulis buku. Taik kucing lah segala artikel ilmiah, aku tidak akan merasakan nikmat dalam pengerjaannya; sedangkan aku sudah tidak perduli lagi dengan nikmat pada akhirnya. Kurasa kondisi mentalku sama dengan ketika awal '00-an. Aku mau kuliah tapi jelas dulu dong pekerjaanku, gajiku; kalau tidak lebih baik aku cari uang saja, jaga DaVi.net warnet Daud. Ups, tidakkah seperti itu kondisi John Gunadi sekarang. Kurasa aku harus lebih toleran padanya. [Hah! Tidak! Dia sudah terlalu lama ditolerir!]

No comments: