Thursday, January 02, 2014

Gara-gara Slonthongan Jadi Berhenti, Tahun Lalu


Aku gak enak badan, dan kalau gak enak badan begini paling gak enak kalau disuruh ngoreksi. Paling enak kalau disuruh, yah, setidaknya begini lah, menulis-nulis. [eh, kalian perhatikan tidak sih, dulu menulisi sekarang jadi menulis-nulis?] Gak sampai paling sih, tapi setidaknya masih lebih enak lah. Mungkin badanku ga enak khas kemasukan angin begini gara-gara semalam aku tidur tidak pakai baju, dan terbangun Shubuh dingin sekali; baru pakai baju. Ngomong-ngomong enak, bagaimana caranya membuat agak sedikit lebih enak, agar sedikit lebih tergerak untuk mengoreksi? Ada usul? Memang SantakurĊsu jadi orang tidak lucu. Masa dia ngomong stick and carrot, nyebelin banget. Nah, begini nih, kalau gak enak badan jadi gampang nyolot, sementara Cantik sedang umek cari kunci motornya. Ini anak gak pernah sembuh dari kebiasaan yang satu ini. Sekarang dia pake motorku, dengan alasan motornya gak ada STNK-nya; memang sedang diperpanjang sama Supri orang WOM, dan gak jadi-jadi! Wah, asli beneran nih kemasukan angin. Greges-gregesnya, linu-linunya... Nyebelin banget, sampai bingung mana yang lebih nyebelin: kemasukan angin atau ngoreksi. Jelasnya, baik kemasukan angin maupun ngoreksi memang sama-sama... yah, setidaknya, tidak menyenangkan... padahal sudah dibantu dengan Nat King Cole Greatest Love Songs.

Slonthongan Lemes
Hehehe... jadi aku menulis-nulis ini--tidak juga sih, menulis apa pun--seperti... menggambar. Dia harus estetik secara visual, panjangnya, lebarnya, bentuknya, komposisinya... dan seterusnya. Mengenai ini sesungguhnya sudah pernah dibahas ketika aku bercerita tentang pelukis di pinggir Jalan Kemakmuran, yang hidupnya tentu juga berada di pinggir kemakmuran. Berbicara mengenai enak, enak itu adalah ketika mengenang-ngenang masa lalu, bagiku. Tinggal pilih masa lalu sebelah mana. Apa ya rasanya... seperti kembali ke rumah. Seperti pulang. Aku selalu suka pulang. Dari kecil aku selalu suka rumah. Aku tidak pernah suka bepergian. Tak satu acara bepergian pun yang pernah benar-benar kukenang, kecuali bila di situ ada unsur rumahnya, sesuatu yang berasal dari rumah, kuanggap rumah. Nah, Cantik telah kuanggap sebagai rumah. Namun begitulah ia, perempuan naga, tidak bisa betah di rumah. Memang hidup ini lucu, mengajarkan kepada kita betapa tidak berdayanya kita dalam hal apa pun. Aku sampai heran kalau ada orang yang merasa punya pilihan, bisa menentukan nasib sendiri. Aku selalu merasa nyaman dengan nasib yang ditentukan, senyaman hidup di tangsi yang segala sesuatunya ditentukan oleh terompet dan peluit. Itulah sebabnya aku sangat suka pada Seresan Panyompret, sedangkan aku cukup kopral saja; entah sekarang masih atau tidak, gadis mana yang tak kenal akan daku. Selebihnya, aku menyerah pada nasib. Terserah padanya mau menyeretku ke jurusan mana, aku yang seperti debu bertebaran ditiup angin.

Akan tetapi, kali ini aku ingin keluar dari pakem, membuat sedikit lakon carangan, yaitu ketika aku berkhayal mengenai masa depan... [buntu... gelap... kosong... bengong] Hehehe ternyata tidak bisa. Ternyata sulit. Memang harus kuakui, bahkan ketika masih kanak-kanak pun, aku sudah tua. Pikiranku sudah tua. Aku tidak suka berkhayal yang beneran. Lhoh piye toh? Berkhayal ya mesti tidak beneran. Itulah masalahku, Pakde. Dulu ketika kanak-kanak saja aku tidak berkhayal seperti lazimnya anak-anak, berkhayal yang benar-benar berkhayal, yang sepenuhnya sadar bahwa itu adalah khayalan, atau setidaknya setelah dewasa, menyadari begitu. Itu berkhayal beneran. Aku tidak pernah berkhayal seperti itu, yang, karena itu, bolehlah kukatakan bahwa aku TIDAK PERNAH berkhayal! Apa yang oleh semua orang dipandang sebagai khayalan, bagiku semuanya nyata. Nyata semua! ...dan aku tidak pernah melepaskannya, "khayalan-khayalan" itu, yang pada kenyataannya memang tidak banyak. Aku selalu "mengkhayalkan" sesuatu, yang karena aku tidak tahu apa itu, maka kuberi nama saja Bonoisme; setidaknya sejak SMP. Tidak, tidak untuk gaya-gayaan apalagi kultus individu. Aku sekadar tidak tahu harus kunamai apa khayalanku itu. Nyatanya, sampai hari ini pun aku masih pancet hidup dalam khayalan itu. Bentuknya pun masih persis sama: menulis-nulis.

1 comment:

Togar Tandjung said...

Lupa waktu itu diamankan dulu cerita slonthongannya. Juara, padahal. :(