Sunday, April 24, 2022

Kengerian Dunia Lebih Mengerikan. Aku Ngeri


Apa bisaku jika penyintesa ini umek sendiri begini, sedang media-media menstrim saja kurasa semakin tergerus audiensnya. Media alternatif memang sekadar 'pala lu apek, terlebih multiplatform. Namanya puasa pasti begini, lapar-lapar begini. Menyenangkan sebenarnya, daripada makan, karena lapar sudah pasti berujung kurus, sedang makan sudah pasti menggelendut. Malu. Masa budak gendut. Apa kamu budak kepala rumah tangga yang memperlakukan budak-budak lainnya seperti budak. Aku sampai tak bisa memutuskan apakah pembudak lebih menjengkelkan.

Dari tempatku mengitiki terlihat lubang-lubang angin baru, meski aku selalu skeptis dengan langit-langit tinggi yang konon membuat ruangan lebih sejuk. Aku lebih suka bila hatiku yang sejuk, seperti ketika di luar sana elang-elang sedang berlatih. Udara sungguh panasnya, namun ketika itu dapat kuingat sejuknya hatiku. Aku pendosa apakah tak berhak atas sejuknya hati. Akankah kesia-siaan berhenti saat ini juga ketika entri-entri berjarak tiga hari. Ini Ramadhan namun belum satu entri pun kukasih Dedi baginya. Lagipula ini tempat kusut mana patut bagi Ramadhan ini.

Aku tidak bisa menemukan persekitaran yang sesuai bagi halusnya belai-belaian melodi. Sejuknya ruangan berpendingin udara bukan kesukaanku, apalagi jika ia berlari beralas karet. Hentak-hentak dram bas, dentam-dentam senar bas gitar, deham-dehaman saksofon memang sungguh mengilhami. Ini sungguh cocok untuk membaca, apakah ini di Kafe Buku sedang di luar sana Margonda berdebu terpanggang perkasanya Sang Diwangkara. Sangat dapat dipahami jika di hari-hari terakhirnya sudah tiada lagi bacaan menarik hati swargi Bapak. Saat ini saja aku pun begitu.

Ini hari dewa matahari alias dominggo, namun tanggal 24 begini, maka kutemukan diriku mengitiki. Daripada hatiku dilanda kengerian, ngerinya dunia. Aku akan menyelesaikannya. Demi apapun aku akan menyelesaikannya entah di sini atau di sebelah mana saja dunia. Apakah ini saatnya ketika aku memusatkan segala daya untuk bersungguh-sungguh, meski itu bukan merayapi semangka muda atau mematahkan leher-leher jenjang. Ujiannya nanti setelah buka. Mudah memang bicara jika sedang tidak menyambar-nyambar. Sekali berkebat berkebit, habislah.

Seperti biasa, rintihan terompet berpengedam ditingkahi ketuk-ketukan tak ritmik palu pada pahat, mengikis dinding yang melintir. Memang sangat menyiksa bagi seorang perfeksionis, aku bisa memahami. Akan halnya sewadah plastik sayur campur, yakni, buncis, jagung pipil, jamur merang, sosis ayam dibumbu tumis kecap, menjanjikan hari-hari berbuka dan bersahur berteman sambal terasi sasetan. Sungguh seksi sensasi birahi yang tidak lagi kudapatkan dari musik yang mendayu. Justru dari masakanku sendiri, kesenian yang masih tinggal kutekuni. Lain tiada lagi.

Kuakui keindahan itu merayapi, meski Lampung Tengah mengomentari: Agraris sekali. Selain itu ada lagi dari selatan Priangan Timur, bahkan Mandirancan, Kuningan sekali. Itu semua tidak berarti, sebagaimana aku ini orang yang tiada arti. Penyintesa ini sungguh nyaman mengelusi, seperti belaian cinta seorang kekasih yang menyayangi. Tiada lagi khayal, apalagi keinginan, hanya kebiasaan menyakiti diri sendiri dengan kengerian dunia. Seperti koreng setengah kering dicoloki, keropengnya dikelupasi. Seperti itu. Bau-baunya pun tak sedap, merintih meratapi diri.

Gambar di atas merupakan ilustrasi suatu kabar yang dilansir Suara mengenai wanita yang menikahi dirinya sendiri. Diri ini ngeri. Diri ini sempurna, diilhamkan padanya keberanian dan ketakutan. Beruntunglah diri yang takut, merugilah diri yang berani. Ah, itu selalu bacaan yang mengilhami. Aku masih punya bacaan yang belum kuselesaikan, ketika entri-entriku semakin tidak bisa dibaca, semakin tidak bertutur. Keniji memang hanya bisa didengarkan di laptop ini tidak di henfon. Semoga henfonku baik-baik saja sampai September. Awas, jangan sampai lewat!

Thursday, April 21, 2022

Aku Tidak Pernah Memperingati Hari Kartini


Sederhana saja masalahnya, Raden Lesmana Mandrakumara sangat dimanja oleh bapaknya, Prabu Duryodana, meski tentu saja tidak pernah sesederhana itu masalahnya. Contohnya diriku sendiri. Aku jelas tidak dimanjakan oleh bapakku, namun aku tidak pernah benar-benar membesarkan anak, anakku sendiri maupun orang lain. Tepat di sinilah aku bersedih. Memang banyak kesalahanku. Patutlah aku dihukum. Mengitiki itu harus dalam keadaan hati riang, karena pada dasarnya mengitiki itu berolok-olok. Namun aku sedang sangat bersedih malam ini.

Padahal aku tadi sudah berjanji untuk tidak memeriksa pratinjau. Begitupun aku berjanji untuk mengomentari tulisan Profesor Shawarma. Kebanyakan janji memang tidak mudah ditepati, maka jangan mudah berjanji. Hanya saja jez alus ini benar-benar nikmat didengarkan dengan irfon miniso tiga puluh ribuan. Malam ini, kabelnya pun tiada seberapa mengganggu. Memang tidak pernah mengganggu, hanya membutuhkan sedikit usaha dan ketelatenan untuk menggulungnya. Itu saja. Kurasa hidup pun begitulah. Hanya harus sedikit usaha dan telaten. Sedikit saja.

Ada secercah kenangan mengenai kantin Islamic Village. Apa benar yang suka kubeli di sana. Apakah semacam permen atau dodol. Entah bagaimana aku ingat dodol nanas. Di belakangnya ada lapangan terbuka, di belakang kelas-kelas sekolah dasar. Ada ayunan di situ, sedang jiwaku dibelai-belai jez alus begini. Apa jadinya malam-malam di situ. Uah, malam-malam selalu saja nyaman. Entah di mana yang ada dalam perasaanku kini. Meja tulis, lampu temaram, hati lapang, kreativitas membuncah. Aku memang tidak pernah mengharap-harap masa depan.

Malam-malam yang nyaman di sepanjang trotoar. Toko-toko kecil saja namun lengkap dagangannya. Mainan-mainan kanak-kanak bergelantungan. Namun aku sudah dewasa. Jelas bukan itu yang menarik perhatianku. Mungkin berderet-deret sigaret kretek berbagai merek dalam lemari kaca. Entah aku masih punya korek jres bahkan mancis sekali. Ini jelas ingatanku mengenai masa muda. Ketika sudah setua ini dan masih tidak berdaya, maka lebih baik muda yang masih jauh jangkauan dan daya tahannya. Aku mencari damai pada masa laluku, masa mudaku. Nyaman...

Senyaman inikah di Amsterdam Centraal ketika hari sudah gelap di awal musim semi. Bisa jadi. Apakah aku selonggar itu sehingga membeli kapsalon di sebelum dermaga feri, atau nanti setelah merapat di tujuan. Rasa nyaman bisa di mana saja. Sesampainya di kamar melepas baju hangat, menghadapi laptop sambil menikmati kapsalon bisa jadi sangat nyaman. Lebih baik lagi jika itu ternyata salah satu kamar di kontrakan Jang Gobai, mungkin sambil makan bakwan malang. Apakah ini semua karena nyamannya jez alus yang menghentak lembut gendang telinga kini.

Tak kusangka akan selancar ini, ketika aku menyangga kepalaku di meja makan tadi sambil merasakan kesedihan yang mendalam. Aku memang tidak pernah dianggap di manapun, bahkan di meja makanku sendiri, yang tentu saja bukan punyaku benar. Selalu saja gerobak goyangku yang juga tak berdaya kukedepankan dalam situasi seperti itu, meski kini aku begitu saja terlempar ke dapur kapel milik Universitas Maastricht yang menjadi semacam pusat kegiatan mahasiswa itu. Aku menyebut-nyebut seakan membanggakan, padahal tidak. Tak ada yang dapat kubanggakan.

Di alinea terakhir ini aku terlempar ke sebuah taksi yang mana aku segera melompat keluar. Tepat di sinilah aku merasakan kembali kesedihan mendalam, namun berbeda dari yang tadi. Aku hanya sok-sokan berani, padahal aku tidak tahu apa-apa, dan tentu saja takut. Perutku kembung karena menyantap kimbo sosis jerman, sosis solo, masih ditambah indomie goreng jumbo biru, dan segelas sirup freiss melon manis jambu. Malam mendekati puncaknya, rasa kantuk sudah ada. Jez alus membelai-belai aduh sedapnya. Malam ini aku hanya ingin merasa nyaman. Itu saja.

Wednesday, April 13, 2022

Hari Ketika Thomas Dihukum Buang. Malamnya


Awas, Thomas di sini dibaca seperti orang Perancis, jadi tidak dibunyikan "s"-nya. Ya, ia dihukum buang. Satu-satunya kesalahan adalah ia mengira dirinya disayang. Maka, tanpa diundang, tanpa beruluk salam, seringlah ia melenggang masuk saja melalui pintu-pintu, bahkan jendela-jendela yang terbuka. Menurutku, Kay yang bodoh. Sudah tahu ia gelandangan jalanan begitu, masih dipeluk-peluknya, dibawa tidurnya. Maka gatal-gatallah Kay bahkan sampai tidak bisa membuka pelupuk mata. Thomas yang disalahkan. Ia yang dihukum buang. "Yang salah Kay, mengapa Thomas yang dibuang?!" kataku. "Ibunya takkan paham lelucon itu," kata Istriku.

Wajah sedihnya memang mirip dengan Sanwirya a.k.a Iwir a.k.a Thomas
Masalahnya, Thomas sedang sakit. Sudah berhari-hari ini dia minta dilepaskan, tidak mau jadi Kempeitai lagi. Lucunya, tiap kali lepas, ia jilat-jilat sampai bersih ketelepasannya itu. Siang ini, ia dihukum buang. Aku tidak tahu ke mana. Hanya saja, beberapa hari terakhir ini ia biasa beristirahat di dipan jati. Meski tidak berkasur namun hangat dan kering. Kini, di tempat pembuangannya, kurasa tidak akan ada dipan jati. Mana semenjak maghrib hujan tiada henti. Pertanyaannya kini tidak apakah, tapi bilakah Thomas menemui ajalnya, seperti Legiman mati kedinginan.

Sudahlah. Tidak ada gunanya ini semua. Hanya dapat kukatakan, senang telah mengenalmu, 'Wis. Insya Allah, suatu hari nanti kita bertemu kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. Kau dalam keadaanmu yang segagah-gagahnya. Sapalah aku bila kau melihatku nanti. Jika keadaanku ketika itu buruk, tolong beritahukan pada Tuhan kita, meski Ia Maha Tahu, aku baik padamu. Mintakanlah tolong bagiku kepadaNya. Sesungguhnya aku masih berharap dalam pembuanganmu engkau masih kuasa berjaya sehingga kita dapat bertemu lagi di kehidupan yang fana ini.

Namun aku dan kau sama tahu, pikiran seperti itu tolol belaka. Aku yakin kau akan menghadapi ajalmu dengan gagah-berani, seperti Bapakku. Entahlah aku. Jika benar malam ini atau dalam waktu dekat kau menemui ajal, semoga ketika itu Ibumu datang menemanimu, mengelus-elusmu, mendekapmu, menyamankanmu. Dunia ini memang penuh penderitaan, kesengsaraan. Buat apa lama-lama di sini. Akan halnya kita pernah bertemu di sini, marilah kita syukuri. Aku, terutama, mengucap syukur pada Tuhan telah dipertemukan denganmu. Kau, hambaNya yang gagah.

Onti, sementara itu, malam ini masih tidur beralaskan permadani lembut dan hangat. Memang seperti itulah hidup di dunia. Hari ini, detik ini masih entah melakukan apa di atas punggung bumi. Esok entah kapan masuk dalam perut bumi. Semoga ada yang memasukkan jasadmu kembali ke dalam perut Ibu Pertiwi, 'Wis. Ya, Tuhan Maha Baik, sekiranya Iwis mati, jangan biarkan ia menjadi bangkai membusuk terlantar di atas tanah becek berlumpur. Gerakkanlah hati hambamu yang kebetulan melihatnya untuk menyelenggarakan jasadnya. Masya Allah, sudah mendekati tengah malam dan hujan semakin derasnya. Ya, Tuhan, kasihanilah kami hamba-hambaMu. Kasihanilah Iwis. Hangatkanlah ia.

Astaga, sedang begini suasana hatiku, di telingaku mengalun nyanyian yahudi-yahudi yang dipenjara oleh Nebukadnezar. Akankah aku dapat beristirahat malam barang sebentar sebelum Insya Allah terbangun sahur. Sudah sebelas hari berpuasa tidak ada tambahan sama sekali penghambaanku. Masih begitu-begitu saja, masih juga maksiat saja. Aduhai malam berhujan. Aku sudah sikat gigi namun tadi mengulum Ricola, sedang bawaannya haus saja. Perut sudah terasa kembungnya. Aku tidak mau terlarut dalam suasana hati ini meski hujan semakin deras saja. 

Ini entri yang Insya Allah bagus. Suatu hari nanti, jika Tuhan mengizinkan, aku akan membacanya kembali. Entah suasana hati apa yang akan ditimbulkannya. Entah mengapa terkenang hangatnya rempah-rempah Bengala. Tepat di sini tiba-tiba ada semacam tekad, Iwis akan baik-baik saja. Ia gagah-perkasa. Meski kini ia tidak mau jadi Kempeitai lagi, ia akan segera sembuh, meski tanpa salmon, tuna, dan semacamnya. Ia akan menemukan sesuatu untuk menghangatkan badannya. Ia akan menemukan tempat berteduh, lebih hangat, lebih kering dari dipan jati.

Sunday, April 10, 2022

Ambil Peluangmu Bercinta Sambil Bersiul-miul


Apa jadinya siang-siang hari dalam ruangan sejuk sambil menyaksikan ruang-ruang atau lanskap-lanskap indah, sedang musik-musik indah mengalun. Malam yang masih sangat muda ini pun sejuk, sedang segelas ramuan teh, jahe merah dan putih, kunyit, madu, mentol, dan gula aren seperti biasa menemani jika aku sedang goblog begini. Malam-malam sejuk seperti ini pun bisa berteman mini compo mengalunkan musik-musik indah atau lumayan saja, sedang badan dan pikiran masih sangat muda. Justru karena kemudaan itu kedunguan mencirikan, mengepulkan. 

Ahad 8 Ramadhan 1443 H begini, selepas Isya' malah menghancurkan sarang tawon di kedua kamar mandi. Hanya kutahu, hidup manusia betapa ringkihnya, seringkih sarang tawon yang disogok pisau dapur saja rantas. Akan halnya buka ini aku menamatkan sayur lodeh donoloyo buatanku sendiri dan remah-remah ayam ungkep a la masakmom.com, sudah menjadi suratanku. Begitu banyaknya makanan enak, semakin sedikit sisa umurku, kesehatanku untuk menikmati semua. Ketika sayur lodehku yang baru keluar dari kulkas agak berlendir karena bersantannya.

Lonceng-lonceng perak berkincingan menandakan akan mengalunnya lagu cinta, yang dengannya aku dibesarkan. Akan halnya setua ini cinta tidak tersedia bagiku sebanyak yang kumau, kurasa memang sudah diatur seperti itu. Apa jadinya aku bila diguyur banyak-banyak cinta sebagaimana kumau. Hanya terbayang olehku pujasera Gardena yang bersahaja. Bahkan makanan apa yang dijual di situ pun aku tak ingat. Hanya saja keremajaan itu masih terkenang olehku, ketika segala sesuatu mudah menyenangkan. Hanches, begitu saja teringat olehku Maastricht kala itu.

Lantas ini, betina bodoh yang tidak pernah kutemui dalam hidupku, yang ternyata nama sejenis tarian. Menari dengan seekor betina bodoh adakah pernah terjadi dalam hidupku. Seorang perempuan cerdas pernah memintaku menari bersama, yang kutolak mentah-mentah karena aku tidak suka musik pengiringnya, sehingga ia marah padaku merasa terhina. Engkau pasti sudah menduga tidak ada yang benar-benar hebat terjadi dalam hidupku. Aku hanya berpura-pura tangguh, intimidatif, tanpa kompromi. Aslinya aku ini pecundang sejati. Semua saja tahu akan itu.

Wajar saja jika malam Ramadhan aku sering terpikir mengenai makan, namun belum tentu makanan. Sejak tidak punya uang, kreativitasku terkait ide-ide mengenai makanan enak berhenti. Sebenarnya tidak juga. Sudah cukup lama aku tidak kreatif dalam hal ini, sampai Farid berkomentar terlalu cepat. Namun memang begitu adanya. Apa yang biasanya dapat meledakkan hati, kini terasa biasa saja. Sebenarnya aku agak suka dengan keadaan ini, seandainya saja ini terjadi pada kesembilan saluran hawa. Aku ini yang mengembarai gurun tinggal membawa macan.

Meski semua itu sudah berlalu bagiku, tidak berarti ia kehilangan sengatannya. Seringkali aku jengkel, meski lebih sering lagi aku begitu saja menyerah padanya. Seperti seorang gadis kecil memasang tampang yang menurutnya paling memelas, menadahkan wadah plastik bekas celengan rombeng, sementara entah adik entah kawan laki-lakinya mengenakan pakaian badut. Sudah mendekati waktu berbuka pada saat itu, ketika aku membeli terong balado dan sayur buncis udang yang gagal total bagi anak perempuan kesayanganku. Dunia ini apa maunya dariku yang lemah ini.

Mungkin selepas ini akan kumakan juga sisa pizza tuna yang tidak dihabiskan anak perempuan kesayanganku, yang ada beremahnya itu. Terkadang muncul khayalan ingin membentuk band bersama entah siapa. Terkadang ingin mengaransemen kembali Kita Muda Rasa, atau sekadar lagu-lagu selalu-hijau. Semua itu adalah remah-remah masa lalu disapu hujan awal musim gugur. Namun masih lebih enak daripada ayam piri-piri entah apa yang pernah kunikmati di ruang tamu Uilenstede 79C. Mmm, tentu lebih disukai mie goreng Java Kuliner atau sekalian kibbeling saja. 

Thursday, March 31, 2022

Tidakkah Aku Meledakkan Pikiranmu Kali Ini


Ini jelas bukan waktunya ngegoblog, namun hatiku serasa kejeblugan balon hijau berisikan hidrogen berintikan plutonium. Uah, tiba-tiba saja aku tersedot ke dalam ruang waktu, terhempas di loteng Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Maastricht. Apakah aku ini habis menyantap surimi garnalen atau bahkan roti lapis isi ikan goreng tepung dengan olesan saus bawang. Sementara itu ada kantin murah di akademi seni di belakang, menjual paket roti pentung besar, bisa diisi salad tuna, kepiting, atau telur, masih ditambah semangkuk besar sup sekali, hanya satu setengah Euro. 

Kenyataannya, pantatkulah yang terpancang pada kursi belajar Faw di kamar belakang, sedang perutku gendut mengganjal begini. Aku ditemani semug zodiak Leo teh jahe kunyit bersimbah madu jahe merah mentol, masih bertabur jahe merah gula aren bubuk. Akibatnya terlalu manis di pagi hari, maka kubagi dua, separuh di gelas permata kutambahi air panas lagi sampai penuh. Sekarang ini menjelang dhuhur, setengah lagi kutambahi air panas dan masih kumagnetron sekali, semug zodiak Leo menemaniku ngegoblog begini. Ini sudah dari seminggu lalu atau lebih.

Ya, sutra 'lah let's do it again! Bersama Bang Tagor di sini, yang dahulu terasa aduhai nikmat sekali, gurih-gurih goyang lidah, manis-manisnya; belum lagi bumbu kacang yang semrawut dengan kecap dan saos murahan. Aku bisa saja segera melesat membelinya, namun semua tak sama, tak pernah sama, apa yang kaukunyah, apa yang kautelan. Sedang Cantik melarikan diri ke kandang kambing gara-gara sekondan Mas Dikdik membongkar puncak atap, menghantam-hantamkan martilnya. Sekarang mereka berhenti untuk mengobrol di atas atap sambil mengopi.

Ini adalah akhir pagi menjelang siang ketika kepala, dada, punggung basah bersimbah peluh, mengucur karena badan dipasok air hangat bersimbah teh jahe kunyit, masih dengan jahe merah, madu, mentol bahkan gula aren. Sampai kapan badan sanggup menanggung nikmat asin-asin gurihnya kuah soto Suroboyoan di pagi hari, lengkap dengan taburan koya, meski diencerkan dengan segelas SanQua. Masih mending, jika kepagian, belum akan ada gorengan entah tahu, bakwan, atau tempe, yang jelas menambah kenikmatan sruput-sruputnya kuah soto. Aduhai!

Semua ini tak ayal mengakibatkan tumpah ruahnya perut, ndlewer mengalir sampai jauh. Apakah itu Ki Ageng Suryomentaram atau sekalian Pangeran Diponegoro niscaya tidak akan berdaya menghadapi mudanya kehidupan yang berhias intan permata mutu manikam, entah yang mungil mengerling atau melotot sebesar jempol. Belum lagi mutiara tersembunyi yang bersaput madu-madu gurih dengan keharuman yang memabukkan. Aku belum lagi tahu bagaimana Ki Ageng, tapi Pangeran Diponegoro jelas cekakar di hadapan itu semua. Inikah nasib pangeran-pangeran Jawa?

Raden Ronggowarsito menulis apa yang oleh orang-orang disangka risalah-risalah, atau bahkan mungkin ia sendiri menyangkanya begitu. Aku mengitiki goblog ini tidak untuk disangka apa-apa, kecuali, seperti yang sudah disangkakan Mas Teguh Rumiyarto, bahwa aku gendeng. Di titik ini aku sudah tidak tahu lagi mana yang lebih baik, dikatakan gendeng atau keple. Jelasnya, perutku ndlewet sampai-sampai penampilanku memang gendeng tur keple. Betapa tidak, tangan kananku bergerak ke atas ke bawah berulang-ulang, kadang cepat kadang lambat.

Lantas bagaimana aku harus mengakhiri entri ini, sedang peluh terus mengucur pada suhu ruang 36 derajat selsius. Bahkan ketika aku berusaha untuk melontarkan diriku ke awal perjuangan ini (halah!), masih telur rebus itu saja yang teringat di beranda salah satu kelas SMP 4 Jakarta. Bahkan ada pula yang sudah mengenakan putih-abu-abu masih membersamaiku di Istiqlal kala itu. "Sampai bertemu di Lembah Tidar", katanya [Tentu saja tidak]. Apakah Teras Hijau menjadi kelanjutan ini semua, atau seperti halnya hidup di dunia, sekadar senda-gurau belaka.

Bersetia Bela Pancasila, Demi Jaya Indonesia  

Wednesday, March 16, 2022

Nenen Susu Kambing Etawa, Nenen Kurma


Ya, memang air susu kambing lebih lengket dari sapi, apalagi manusia. Itu karena kandungan kaseinnya tinggi. Jika kita meminum air susu dengan kandungan kasein tinggi, maka di perut dia akan membentuk semacam gumpalan yang tidak dapat cepat dicerna. Malahan, ia akan dicerna sangat perlahan sambil melepaskan energi sedikit-sedikit. Ah, ada-ada saja, lagian susu kambing dinenen. Maka kuganti saja irama baru jadul dengan lagu-lagu Indonesia sok ngejez dari empat puluh tahunan lalu. Maka mengalunlah suara emas Tante Rien Djamain mengenai hantu-hantu.

Nenen kambing etawa. Di sudut kanan bawah tampak butir-butir tahi kambingnya
Meski entri ini tepat ditulis pada hari ulang tahun Mbak Dr. Fitriani Ahlan Sjarif, tidak berarti entri ini untuk merayakannya, apalagi mengenainya. Meski setelah sekian lama akhirnya aku mendengar lagi suara Iga Mawarni, ingatanku selalu mengenai Sopuyan dan Peter Gontha yang mengira dirinya Michael Franks. Seharusnya gambaran bagi entri ini adalah franks alias sosis, yang mungkin kependekan dari frankfurter. Uah, betapa sedapnya makanan ini dahulu. Terlebih kalau ia terjepit di antara dua roti lantas disiram chili con carne begitu, menjadi A&W Chili Dog.

Maka begitu saja aku berteleportasi ke Paris, sedang kenanganku tertumbuk pada penambang-penambang perang dan waktuku. Ya, aku memang pernah berperang di kedua-dua belah pihak. Bahkan aku pernah menjadi salah satu panglima perangnya Yuri. Keistimewaan penambang perang adalah, seperti namanya, ia bisa berperang. Jika musuh mendekat, asalkan tiada terlalu kuat, ia bisa melukai bahkan menghancurkannya. Sedang penambang waktu sanggup berteleportasi, kembali ke kilang bijih dalam sekejap mata. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Namun tentu saja yang selalu terkenang adalah kapal udara kelas Kirov besutan pabrik perang. Daya hancurnya luar biasa. Beberapa bom saja sudah sanggup melenyapkan satu lapangan konstruksi, membuat musuh tidak berdaya membangun apa-apa lagi. Akan tetapi kapal udara ini memang ringkih. Jika musuh memiliki situs-situs peluru kendali darat-ke-udara dalam jumlah memadai, Si Perkasa Kirov tidak akan berdaya. Seperti layangan tewang, ia akan nyubluk begitu saja menghunjam tanah. Itulah sebabnya penting sekali mengintai sasaran dan membersihkan sarang-sarang peluru kendali sebelum melancarkan serangan udara dengan menggunakan kapal udara. meski itu kelas Kirov yang perkasa.

Sedang mungkin masih ada gumpalan susu kambing dalam lambung, masih kutimpa juga dengan mie ayam donoloyo dan beberapa potong tahu susu Cihuni. Untuk Cantik dan Anak Perempuan sebungkus gado-gado yang kecil porsinya, mungkin karena sudah terlalu siang. Untunglah tadi Tukang Cilok sedang makan. Jika tidak, sudahlah ada gumpalan susu kambing, masih ditambah pula dengan bergumpal-gumpal aci, tentu dengan sulur-sulur mie ayam mengambang-ngambang setelah ditimpa tiga ratusan mililiter air. Memang begitu dunia ini, selalu penuh misteri.

Dengan roket macan tutul tuli ini aku terlempar ke mie ayam yang lain, yang pakai kecap, yang entah mengapa selalu kukaitkan dengan Endro Wahyu Wibowo, teman satu Graha Sepuluh lantas Akademi Angkatan Laut. Ia yang dengan lemah-lembut mengingatkanku betapa Bapak memberi sambutan mewakili orangtua-orangtua Angkatan 43. Sudah pasti saat itu aku lupa akan sebuah rumah sederhana entah di sebelah mana Magelang, dan ingatan aneh mengenai rambut kaki. Di siang hari bermendung yang agak menyakiti kepala, aku terpekur mengenangkan. 

Lebih menjengkelkan lagi, aku tertukar-tukar antara Jon Bongiovi dan Billy the Kid, semata mungkin karena ia mengisi musik pada film mengenai yang belakangan. Akibatnya, kusut 'lah aku antara New Mexico dan New Jersey, sedang William H. Bonney sendiri sebenarnya asli Manhattan, New York. Begitulah maka fakta-fakta ini memenuhi loteng benakku. Meski di luarannya aku sangat spartan, dalamku sangat berantakan seperti seorang penimbun. Apakah Bayeman atau Magelang Theatre menjadi tidak penting setelah aku berakhir di tepi Cikumpa sini. 

Saturday, March 12, 2022

Cinta Menggigit Seperti Alien Aquarium Sinting


Apa pantas suatu Sabtu pagi yang cerah dimulai dengan segelas teh jahe kunyit bersimbah madu jahe merah mentol. Tidak juga, ketika sebelumnya sudah didahului dengan seporsi nasi berlauk ayam bulgogi, lengkap dengan tumis kacang polong dan sayur-mayur, masih ada pula begedil kentang. Ketika mencukupi kembali gorengan karena diambil anak perempuan, sempat bingung: harus beli apa di Indomaret, agar dapat tarik tunai, lalu ke Ucok membeli ABC Kopi Susu. Begitu sampai Indomaret baru terpikir, ya beli ABC Kopi Susu hahaha. Hah, sudah kupentokkan saja. Peduli apa rata kanan kiri!

Apa pantas Presiden Joko Widodo disandingkan dengan tanaman seperti falus begitu
Sabtu pagi yang cerah begini seharusnya aku pergi menjenguk Pak Bakti bersama dengan Keluarga Hukum Adat FHUI selebihnya. Namun sudah sejak Kamis badanku tiada begitu endang. Semoga hari ini sudah bambang. Suasana hati yang ceria di pagi hari memang seperti itu. Terkadang diisi senandung, terkadang rampaknya perkusi tradisional; yang belakangan ini sering membuatku merasa harus minta ampun pada Sang Maha Pemberi suasana hati yang ceria. Apakah tepat tindakanku memulai Sabtu pagi yang ceria begini dengan mengetiki, seraya telanjang dada karena kepala pun basah berkeringat begini.

Lantas kurasi, hahaha Sandoro, Togar, kalian jangan bermimpi. Mana ada jaman sekarang pembaca. Jangankan buku, membaca apapun tidak. Bahkan Sopuyan yang propesor begitu aku tidak yakin dia membaca. Bukan membaca bagiku jika tujuannya untuk main kiu-kiu. Membaca itu berbincang-bincang, bertukar-pikiran dengan penulisnya. Itulah maka Al-Qur'an tidak bisa dibaca. Al-Quran itu dirapal, dilantunkan sambil mengharap belas-kasihan kepada Yang Memfirmankan. Ah, sudahlah. Aku kebanyakan ngomyang. Aku membaca tidak, apalagi merapal, melantunkan, mengharap belas-kasihan.

Aku ingin kopi susu! Apa susu kambing etawa dengan kurma dapat menggantikannya. Mengapa Tante Lien lebih suka tinggal dekat Tante Ida. Adakah ia akan kembali ke sini suatu hari nanti, adalah berbagai hal yang mengaduk-aduk isi kepalaku. Meski begitu, tetap aku mengeraskan hati. Hari ini juga, setelah mengitiki, aku harus segera berjuang. Terug naar het front. Itu adalah Pertempuran Tonjolan yang sama, yang di Hits itu, dengan yang dalam cakram keras eksternalku. Begitu saja aku kembali ke sejuk dinginnya persekitaran Maastricht Centrum. Jika memang rejeki, apa hendak dikata.

Asuwer, asu dikewer-kewer, bagiku, kamu sangat cantik. Meski, tentu saja, aku akan berkata, apalah artinya cantik jika tidak segera berjuang, mengetik. Kurasa aku terobsesi, pada apa. Farid berkata ini terlalu cepat, kehilanganku pada ide-ide mengenai makanan enak. Untung aku bukan Nex Carlos yang mencari uang dari makan. Nex sudah berhasil membuatkan ibunya sebuah rumah bertingkat-tingkat gara-gara makan-makannya itu. Aku belum berhasil membuatkan siapapun apapun dari makan-makanku. Sepertinya benar-benar akan kuseduh entah susu kambing etawa dengan kurma atau jahe merah.

Debu bintang, aduhai, sungguh indah di atap asbes memandangi langit senja Kota Tangerang, sedang dikejauhan suara mesin pabrik menggeram. Apapun yang mencuat ketika itu pasti sungguh menggairahkan, ketika testosteron baru saja diproduksi, berlebihan bahkan. Pada saat itu, meski tentu saja tetap elek-elekan, aku berjuang. Ketika rambutku masih bisa ngetril kalau lama tidak dicukur, aku berjuang. Kini pun, setelah botak gendut sakit-sakitan, aku masih berjuang. Jadi ya memang tidak di sini. Di sini ini tempatnya berjuang. Berleha-leha bukan di sini tempatnya, apalagi sambil mainan beha.

Bisa juga di kosan entah apa, di pengkolan ke arah Kelapa Dua, yang pernah digrebeg polisi mencari narkoba. Dari situ pindah ke tempat Babe Tafran, masa-masa itu, baik ketika masih merokok atau sudah insap. Ketika masih kuat mengukur Margonda dari ujung ke ujung, bahkan dari Raya Bogor sampai kampus hanya bermodalkan mijon. Pernah juga berbincang mengenai kopi Lampung sedang tiada terjadi apa-apa, kecuali cerita mengenai kecemburuan seorang istri karena suaminya menggunakan jasa temannya. Harusnya kamu bayar aku karena suamimu telah memakaiku. Gusti mohon ampun, dunia ini.

Friday, March 11, 2022

Tanah Airku Mengroncong: Masa Kecil Pak Bambang


Sungguh sulit. Meski setetes demi setetes, masih terus saja menetes, membawaku ke lantai teraso yang amit-amit jangan sampai ketemu lagi. Menyisakan kenangan pahit, jika sekadar laptop kecil hilang diembat orang. Ini seharusnya menjadi lecutan untuk berpacu, melesat seperti kuda hitam jantan jadi-jadian Puka, melemparkan Panglima Kormak ke dalam rawa-rawa. Ini justru kenangan yang lebih menyakitkan, karena masih ada namun sudah tidak begitu lagi. Apa kututup saja goblog ini, yang kukasih Dedi untuk tempat dan waktu terindah dalam hidup. Hidupku di dunia fana, yang sementara ini.

Puji-pujian kepada tanah air, kampung halaman, itu hanya bagi generasi yang belum mengenal Si Mata Satu, yang memelototi anak-anak bocil. Orang tua-tua melihatnya seperti mata Betara Kala, merah meradang, dengan pembuluh darah bersulur-sulur menonjol seperti akar beringin, meleleh-leleh lendir bergolak busuk baunya. Anak-anak bocil melihatnya seperti suwarga panorama bertebar bianglala, cantik memikat tak terpermana, menghipnotis mata-mata mereka berputar-putar seperti payung fantasi di taman ria. Aku si orang tua tidak berdaya, karena kami pun melakukannya, apatah lagi hendak dikata.

Haruskah aku yang lungkrah didera jasad renik mengangkat senjata memerangi Si Mata Satu demi anak-anakku bocil. Seperti apakah peperangan itu, masakan aku setua ini masih bersenjatakan pelontar batu seperti Daud anak gembala, menghadapi raksasa Goliath berzirah, berperisai, bertombak, berpedang. Rasulullah bahkan sudah lebih tua dariku sekarang ketika mengamangkan Dzulfiqar. Oh Allah, seandainya Rasulullah masih ada bersama kami dalam masa-masa seperti ini, betapa bahagianya. Sedang Badui tak tahu adab saja mendapat senyum beliau, Oh Gusti betapa hamba rindu.

Entri ini memang 'kukasih Dedi untuk memperingati Supersemar, yakni semacam Superman berkepala Semar. Dahulu ada gambarnya lho. Dahulu yang seperti itu masih lucu, masih ada harganya. Sekarang semua ditoleh pun tak, setelah ada Si Mata Satu. Pengetahuan yang didapat darinya sesat dan menyesatkan semua. Kau pun menggunakannya, begitu kata Ari Condro Wahono. Ya, memang tolol, kuakui, Con. Menurut KH. Abdi Kurnia, KH. Zaenuddin Mz. mulai berdakwah karena mendapat restu dari gurunya, KH. Idham Chalid, bukan karena dorongan dan dukungan suatu "manajemen dakwah".

Seperti halnya aku melihat segala sesuatu di nDalem Yado, seperti itulah segala sesuatu akan berlalu. Masih adakah semangatku untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Aku, jelasnya, tidak pernah berhenti berdoa, selalu berharap. Terlebih ketika badan lungkrah begini, justru semakin keras doaku. Ini buktinya, aku menulisi. Kutulisi dengan keras goblog ini, seakan-akan aku berusaha membangun kebahagiaan itu dengan tangan-tanganku sendiri, langsung dari dalam pikiran dan khayalanku, langsung dari perasaanku, dibasahi derai air mataku. Kususun bata kebahagiaan itu satu per satu, aku bersikeras.

Akan halnya Pak Bambang Wahyono disebut-sebut, karena beliau selalu mengenang waktu-waktunya di mBarepan dengan penuh kerinduan. Apakah semata kerinduan akan masa muda, atau memang karena di sana terdapatnya impian yang muspra. Sedang kawan-kawan seangkatannya Takwa merayakan syukuran bintang pertama, sedangkan Kolonel Dr. Sigit secara pribadi menghubungiku, aku terus saja termangu-mangu mengenangkan impian yang hancur menjadi remah-remah. Tidak! Kupunguti remah-remah ini, kususun kembali menjadi kenyataan, selama hayat masih dikandung badan.

Dentam-dentamnya cello seperti detak jantungku sendiri, mengilhamkan, mengalirkan kesehatan ke sekujur tubuh dan jiwaku, lahir batin. Ya Allah, hamba memohon hanya kepadamu, seperti setiap malam hamba berdoa. Hamba belum putus asa. Asa itu terus bersambung sebagaimana malam bersambung malam berikutnya. Entri ini kutulis dalam keadaan badan lungkrah didera jasad renik. Ini bukan perlawanan. Aku hanya mengikuti alunannya saja, yang mana memang mengalun seperti ombak di Pantai Senda Gurauan. Seperti malam-malam di Lembah Tidar yang penuh berkah, seperti itulah ia.

Thursday, February 24, 2022

Sudah Dua Alinea Belum Ada Judulnya


Membuka pengolah kata bukan untuk berjuang juga tiada mengapa, terlebih ketika engkau habis menyeruput habis susu manis dingin rasa beribiru. Terlebih ketika seulas awan menyaput bulan dari tiga puluh tujuh tahun yang lalu. Sudah lewat sebelas menit dari pukul sepuluh malam. Bisa saja aku baru melangkah menuju kampus, entah dengan sebungkus Djarum Super atau Star Mild Menthol. Pada saat itu aku lebih langsing sepuluh kilo dari sekarang. Dalam waktu-waktu setelahnya aku bahkan masih bisa lebih langsing dua puluhan kilo dari itu, waktu-waktu.

Aku tidak mau mengingat-ingat, namun aku suka kerampakannya. Kalaupun harus kuingat, maka biarlah mesin ketik itu, yang menyanding sebaskom kopi dan seslof Bentoel biru. Habis dalam semalam. Kubiarkan diriku melakukan semua ketololan itu, ketika kawan-kawan sebayaku merintis hidup mereka sebagai orang dewasa yang bertanggung-jawab. Aku mengetik rampak begini, untuk kufotokopi besok di tempat Santiago ketika masih Santo. Rangkap dua sekali, satu untuk arsip, satu kukirim ke Kompas. Dibalas selalu memang, selalu begitu balasannya. Maafkan aku.

Kesukaanku gula-gula Jawa. Justru karena itu terasa harumnya, kayu manis, meski tak mungkin kusebut. Semua ada di ujung lidahku, di tengah-tengahnya kukulum-kulum. Aduhai masih terasa semuanya. Justru itu yang kusuka. Maka aku pulang saja. Ke mana. Ke Mess Pemuda bekas kamar Joyada yang tidak lama kutinggalkan. Aku masih ingat kengeriannya. Aku pulang lagi ke Jalan Radio. Naik taksi, aduhai betapa menyiksa. Dilepas begitu saja oleh Jamal Gani. Aku mampir ke Klinik 24 Jam, pulang ke kamar belakang garasi menunggu reda. Aku masih muda.

Akan halnya pagi-pagi begini aku menghadapi masa lalu, sepulangnya dari warung nasi entah apa namanya, depan PLN dekat kecamatan. Suami istri ribut saja bertanya mengenai asal, sampai kutahu pernah lama di Palembang karena ikut mantan. Sungguh menjengkelkan. Jambi, pempek, gabus, Bumiayu, Brebes adalah beberapa yang sempat disebut. Lantas Bert dan Ernie, buat apa kubahas mereka. Aku bahkan mendapati diriku bersemangat ingin bercerita mengenai keberlanjutan kepada bocah-bocah. Apa Bert dan Ernie berminat mendengarkannya. Kurasa tidak mungkin.

Setelah cinta hilang memang tidak pernah menghilang dariku, karena aku memang terlahir pecinta. Dapat saja kucintai apapun, termasuk kucing betina bungkik yang salah satu kaki belakangnya putus. Tertatih-tatih menyeberang Kemakmuran, sementara seorang bapak menghentikan mobilnya cukup lama untuk membiarkannya sampai di seberang. Menyeberang Meuse, sementara itu, jauh lebih mudah dibanding Ij, tinggal pilih lewat jembatan Wilhelmina atau Santo Servatius. Menyeberang Ij harus naik feri, meski gratis; semua gara-gara Jeng Arum.

Ini teh hitam jahe kunyit apa, tidak terasa jahe, kunyit, bahkan tehnya. Aku jadi rindu pada teh-teh berempahku, meski terakhir yang kubeli itu-itu saja. Bahkan Stella rasa lemon pun kuhisap-hisap saking gabutnya. Pedes-pedes gimana gitu. Sempat terlintas lapangan badminton di samping hanggar Mandala, di depan rumahnya Oom Bowo, Pak Kartono, Pak Sujud, siapa lagi. Pak Tono, Pak Barjo, Pak Kanto, Oom Pendi, rumah manis rumah. Betapa nyamannya tempat tidur tingkat yang sudah entah di mana sekarang. Kasurnya kapuk. Bahkan ada sarung-sarung dinginnya.

Tidak ada lagi yang ada di situ, bahkan Dek Ipuk yang terakhir lahir di situ saja sudah tidak di situ. Memang sudah tidak ada. Tinggal kenyamanannya saja yang dapat kuhadirkan kapanpun aku membutuhkannya. Apakah itu di pagi hari, siang, sore, maupun malam menjelang tidur. Selalu saja nyaman. Bahkan Adjie saja tidak di situ lagi. Terakhir kali aku di situ umur delapan hampir sembilan. Apanya yang nyaman dari kulkas yang sampingnya belepotan catnya, karena entah Bapak terpeleset terpegang ketika masih basah. Entah tidak ingat isinya.

Monday, February 14, 2022

Selamat Hari Memang Tidak Ada yang Sayang


Setahun lalu aku termangu memandang adegan interrasial di hadapanku. Meski bertemu di tempat cuci, tiada pula yang terjadi, seperti jika bertemu di mana pun. Hei, aku sedang berusaha menyelesaikan. Akankah mengitiki begini berdampak buruk, meski diiringi waltz kaisar. 'Tuh belum-belum sudah kusut hubungan sebab-akibat atau apapun. Ini semata karena sudah terlalu malam aku belum bisa tidur. Agak lama tidurku tadi siang, sekitar dua jam. Habis makan siang 'kupikir akan segar, malah tertunduk tertidur. Beginilah di sisa malam kasih-sayang ini...

Aku belum bisa tidur, padahal ini sudah tengah malam. Sudah semingguan ini aku menghuni kandang kambing. Sebelum ini aku makan fuyunghai berteman capcay, seperti malam kemarin begitu saja memesan spaghetti gara-gara Cantik. Untuknya fetuccini, untuk anak perempuan choco puff. Perut sudah gendut begini, berat sudah lebih sekwintal. 'Kubiarkan angan menyusuri kandang sepeda di bawah Sepurderek, di mana berhari-hari aku melaluinya sambil menyeret kaki. Ketika itu masih ada Van Moof putih, sebelum dibeli Zulfaqor, tepat sekitar setahunan lalu.

Begitu saja aku mengelus-elus leher penuh berkutil. Semoga ini tahun macan Cisewu, yakni yang ramah, meski tetap macan. Setua ini sudah tidak sanggup aku, jadi seperti Jabba the Hut aku menyeret-nyeret perut kian kemari. Tidak pula seperti Don Masseria si Babi Gendut, aku tidak suka kucing kecil. Maka Onti 'kuusir-usir agar jangan sampai mengeluarkan kucing-kucing kecil dekat-dekat sini. Aku tetap seperti diriku ketika memilih Joshua dulu, memurnikan. Aku juga tetap seperti diriku ketika tidak tahan melihat ranumnya buah-buahan menggantung.

Mau Danube, Amstel, atau Meuse, semua mengalun mengalir. Di suatu hari yang dingin sampai ke tepinya Meuse, sama seperti tepi Cikumpa. Keberlaluannya. Keterlaluannya. Samakah ini dengan malam-malam di kontrakannya Pak Musa, ketika durian bergedebug. Sewaktu-waktu, jadi bersabarlah. Akankah suatu hari nanti aku merasa rugi membayar republikku tiap bulan. Akankah suatu hari nanti aku merasa rugi membayar apapun, termasuk biaya kontrol ke dokter Kamto tiap bulan. Tiada 'kan lama lagi, seperti gang sempit di belakang rumah Tommy.

Aku yakin ke depannya akan ada petualangan lagi. Hidupku akan bergairah lagi. Suatu gairah yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Suatu petualangan yang mungkin menjadi tiketku untuk pulang. Tidak mungkin begini-begini saja dan begini-begini terus. Tentu saja tidak seperti yang dibayangkan Sopuyan. Seperti yang dibayangkan Takwa, entahlah. Gairah berpetualang itu benar-benar terasa seperti memanggil-manggil, meski aku bukan petualang. Aku mahluk khayal yang tidak bisa main sulapan. Aku lebih suka mengurung diri di gua, meski terkadang aku keluar juga.

Akankah ada gerobak goyang atau semacamnya dalam petualangan itu, aku tidak tahu. Aku bukan penetap. Aku datang, melayang dari angkasa, menyembur-nyemburkan api, pulang. Aku seperti leak yang sering menempel di dinding teras orang jaman dulu kala, menakut-nakuti anak kecil. Swargi Bapak membelikanku Anggada, sedang Adik Anoman. Apapun itu, akan 'kuporak-porandakan Alengka, keangkara-murkaannya. Aku bersenjata gada. Biarlah orang menertawai, aku tertawa nanti. "Kutunggangi gerobak goyang 'nuju matahari terbenam sambil bernyanyi.

Hanya pulang dambaku kini. Masih banyak yang harus 'kulakukan sebelum pulang, yang berkisar pada mercu suar. Akan 'kukatakan: "Semua yang telah 'kulakukan adalah untuk Bapak dan Ibu." Semoga Sang Hyang Wenang berkenan. Akankah, sebelum pulang, seperti swargi Bapak dan Mama, aku dikaruniai malam-malam penuh tahajud, subuh yang selalu tepat waktu. Kedamaian seorang lelaki usia senja, berkoko bersarung berpeci, melangkah takzim menuju mesjid bahkan sebelum dipanggil. Sehari lima kali. Badan ringan tidak berat lagi. Malu. Budak masa gemuk.

Monday, February 07, 2022

Jangan Sampai Salah Langkah Memulai Hari


Dua jam setiap hari kata Gerben. Terdengar mudah, terutama jika mengingat sehari ada 24 jam lamanya. Ataupun jika dikurangi waktu tidur malam, masih ada 16 jam. Namun bagaimana jika bangun tidur terasa kurang segar dan agak sakit di tengkuk kanan menjalar ke samping kepala sebelah kanan. Bagaimana kalau kemudian badan terasa meriang dingin, padahal sudah makan nasi kuning lengkap dengan sejumput mie goreng, orek tempe, masih dengan tahu pedas dan telur semur. Terlebih sudah minum sekira 300 ml teh Prenjak bersimbah jahe merah campur putih.

Alinea di atas sudah berumur lebih dari 24 jam, setelah makan siang seporsi nasi gudeg telor lengkap dengan soto ayam beserta cemilan dakak-dakak dan snek micin bogalaut Korea; lantas makan malam mie goreng ayam; makan pagi nasi warteg Syifa dengan teri kacang, tahu jamur tiram, dan telur ceplok; sampai makan siang lagi dengan Sarimi goreng ayam kecap berteman tiga butir bakso diiris tipis-tipis. Kebanyakan makan itu relatif, yang jelas aku tidak ada gerak badannya. Perut selalu kembung kurasa lebih karena itu. Gerak badan ketika rasa badan begini aduhai...

Aku bahkan tidak mau membahas, apalagi sampai mengabadikan. Sekadar menyindir pun tak. Biarlah harum gaharu membawanya pergi jauh melayang entah ke mana, mengharumkan yang busuk. Abu gaharu luruh membuat bara lebih benderang sejenak. Tidak bisa lain inilah caraNya menyelamatkanku. Aku si pengecut atau apapun yang jauh lebih buruk lagi dari itu. Jelasnya, aku pecundang. Biarlah aku begini di kehidupanku yang ini, asal jangan di kehidupan abadi. Jez halus dari sebuah kamar sewaan yang nyaman di New York, di sudut mata kananku banjir cahaya.

Jika gaharu ini habis terbakar, sudah menunggu Sang Maharaja. Ia akan bertahta menguarkan keharuman ke seantero pedalaman hati. Jelas ia tidak di hati, betul-betul di permukaan kulit belaka. Seperti ketika aku masih kuat menyongklang Parioh Sty di sepanjang Pejaten Utara lanjut Kemang Selatan, ketika di pengkolan itu masih ada Lawson; bahkan lebih muda lagi dari itu. Ini semua sekadar masalah kemudaan. Jelas bukan masalahku, karena aku tidak muda lagi; dan bukan itu yang kuinginkan. Apokalipso adalah keniscayaan 57 tahun lagi menurut peredaran bulan.

Keindahan itu menjalar-jalar pada lantai hutan, pada sampah ranting dedaunan, pada akar-akar. Dapat kubayangkan betapa harumnya keindahan itu, kusesap, kucecap perlahan-lahan. Memabukkan. Memuakkan, namun memabukkan. Kesederhanaan itu justru yang membuatnya tertahankan. Khayalan mengenai segala dewi dan bidadari justru membuat jengah, apatah lagi sekadar ratu dunia. Aku merayapi melata-lata, sedang garengpung semakin cepat menggosokkan kedua sayapnya, mengeluarkan bunyi berdenging yang kadang mendengking.

Teringatnya, jam 11.00 tadi aku membuka Semester Genap 2022 dengan dongengan standar mengenai Pasal 33.3 UUD 1945. Masya Allah sudah berapa tahun aku melakukannya, aku kakak pendongeng. Kalau tidak mau lama-lama, segera selesaikan disertasimu, maka kau akan menjadi... bukan, bukan peneliti, melainkan penjawab Adzan. Eh, biarkan orang-orang yang merasa keren itu bicara sesuka mereka. Pertama, dalam hati mereka siapa tahu. Kedua, aku hanya ingin menemuinya kelak dalam hidup sejati, dan itu sungguh-sungguh teramat sangat layak diinginkan.

Oyentina tertidur nyenyak di kursi jati. Aku mencoba untuk tidak sampai membangunkannya, namun tak ayal ia bangun juga. Mungkin aku tidak akan betah juga jika tinggal di toko tembikar, namun di kuil kurasa aku bisa betah, atau tidak. Selama kuil itu ada orangnya, mungkin rasanya sebelas duabelas dengan Mushala HAN. Ini semua tidak akan lama. Kau hanya harus menunggu. Semoga dalam penantianmu, dan ketika datang waktunya kelak, Allah berbelas-kasihan padamu. Jika sudah begini, apalagi yang akan kutuliskan dalam goblog ini. Kegoblogan tanpa batas.

Monday, January 31, 2022

Setelahmu Memang Bukan Bentuk Baku


Harus dicatat di sini, yang istimewa dari rendisi Antonius Ventura terhadap setelah engkau adalah selingannya. Ingat, selingan, bukan nyamikan 'loh. Setelah setelahmu malah ketagihan, malah dilanjut apabila engkau minggat. Ya, minggat saja sana. Apa ketika dikeroki, apa setelah disabet sapu lidi sampai menancap-nancap di tengkuk, minggat selalu menjadi kebiasaanku. Sedang air panas bersimbah madu, jahe merah, dan mentol ini membahasi kerongkonganku, ada yang seperti menyangkut di sana, sudah terlalu sering aku merasakan yang seperti itu, tak mengapa.

Uah, cocok belaka dinamai Charmaine, membawa suka-cita, keriangan. Sesuatu yang katanya ada di dunia ini, namun--mungkin karena aku pemurung--jarang kutemui. Hidup seperti inilah yang akhirnya kupilih, atau dipilihkan untukku, aku tidak peduli. Mungkin itulah sebabnya aku diberi daya khayal yang di atas rata-rata, karena dedaunan hijau musim panas sudah memanggil-manggilku pulang. Pengembaraan ini sudah terlalu membosankan bagiku yang, jangankan mengembara, jalan-jalan saja tidak suka. Akibatnya aku buncit dan lemah begini, rata kanan-kiri. 

Jika kau mencintaiku, benar-benar mencintaiku, maka lakukanlah, aku tidak peduli. Lakukan apa. Memberakiku yang memang sudah tidak punya harga diri ini, meski keturunan bangsawan, meski pangeran aku ini. Ahoi ho hoi, dunia sudah tidak butuh bangsawan, pangeran dan sejenisnya, sedang seling-selingan ini memang benar-benar charmaine. Dari sinilah asal gembira, suka-citaku, melalui seling-selingan ini. Aku tidak suka nyemil apalagi kalau merepotkan. Jangankan kepiting saus lada hitam atau telur asin sekali, kacang kulit saja sudah terlalu merepotkan bagiku.

Ahaha lebih baik jangan, meski ini diilhami oleh versi Ray Charles, mungkin aku sudah terlalu biasa dengan rendisi James Brown yang penuh kekuatan terhadap Georgia dalam khayalku. Georgia itu sebuah negara berdaulat jika saja tidak dipaksa masuk ke dalam federasi Amerika. Ya, kedua orangtuaku memang bernenek-moyang dari selatan Jawa. Tidak heran jika aku merasa lebih terhubung dengan bagian selatan pesisir Amerika timur ketimbang utaranya. Mungkin aku--seperti Tom Jefferson--semacam pemilik budak yang baik hati, jika bukan pecinta negro sekali.

Lantas Serazad dari masa kecilku, di suatu siang hari ketika Pancito riang menyanyikan bayi-bayiku bola-bola, sedang diputar bolak-balik begitu sehingga terlihat lucu. Untunglah kutemukan kembali setelah salah menutup tab, ketika mau menutup pratinjau. Maka setelah kenangan tentang Georgia yang lucu, aku menyusuri Sungai Bulan. Tidak, aku tidak mau melakukannya bersama Holly Golightly. Aku, jikapun tidak bersama Cantik, lebih suka bersama Bude Connie, atau, lebih tepat lagi, Ibu. Ibulah yang kali pertama membawaku ke Sungai Bulan ini, menghiliri mudiknya.

Heh, ini kecerdikan! Apa Anton menafsirkan Sungai Bulan sebagai Mississippi, menyambungnya begitu rupa. Suka-suka dia, memang cantik dibuatnya. Tak heran Ibu menyukainya. Oh, ubin kelabu, karpet vinil biru muda, laut. Mungkin bukan laut benar-benar, bagaimana aku bisa sampai berpikir benar-benar laut padahal aku dibesarkan di tepi lapangan udara. Sanggupkah aku, seperti Febby Aldrian dan Ari Sutopo, hidup tidak jauh-jauh dari lapangan udara seumur hidupku. Sekarang hidupku tidak jauh-jauh dari tepian sungai dan itu cukup baik untukku. Aku menyukainya.

Sejak bertemu denganmu, Sayang, aku hampir gila. Hahaha, memang inilah yang akrab denganku dari kecil, jadi tidak heran jika aku mengalami, menghayatinya. Biarkan angan melayang, bersama soleado ini, yang bisa saja disalah-mengerti sebagai lagu Batak, ke bilangan Jeruk Purut, dekat Mesjid al-Barkah itu. Sungguh nyaman bekerja di sana, meski AC-nya seingatku agak terlalu dingin. Di mana pun AC akan terasa begitu olehku. Hanya di sinilah, menghadap tirai bambu ini, atau di Jang Gobay bersama teriakan elang dan betet, aku tidak merasa kedingingan. Biasa.

Barcarolle, bukan Mull of Kyntire!

Saturday, January 29, 2022

'Kuakui, Ini Memang Entri Tentang Legiman


Mengitiki tiap hari, harus diakui, memang lebay. Nyatanya, berapa kali saja aku harus beretroaksi untuk melakukannya. Namun, menjaga agar entri tidak lebih dari bilangan tertentu dalam sebulannya, harus diakui, memang artifisial, tidak mengalir. Berkesenian itu seharusnya seperti deburan ombak. Kau tidak akan pernah tahu sebesar apa deburannya pada suatu saat tertentu. Bisa jadi ia bahkan tidak menyentuh ujung jari-jari kakimu, atau, dalam kasus Pendeta-wanita Uxia, tentakel-tentakelnya. Lain waktu, sangat mungkin ia mengebur sekuatnya sampai kau kuyup.

Segelas plastik merah teh hijau bersimbah yuzu menjadi penggambaran bagi keluh-kesah seorang kekasih yang lelah menggapai hati kekasihnya, dari sekitar empat puluh tahunan yang lalu. Namun hatiku dibebani gerah-panasnya hari, sehingga tak beranjak ia dari suatu petang selepas ashar di tepian Cikumpa. Awful di belakangku mainan henfon, sedang manusia terus saja menderita kerugian, melainkan yang beriman dan beramal sholeh. Baik Yohanes Gunadi maupun Tarsisius Legiman sudah menyatu dengan tanah di sana-sini jasadnya, sedang perutku membuncit.

Ini bisa jadi siang yang lebih tertahankan dari sekira lima belas tahun yang lalu di sebuah Metro Mini S.72, ketika begitu saja Bu Sudjiah menyapa: "Bono, ya." Seandainya pun Bu Sudjiah ini ibunya Vicky atau Ramona sekalipun tidak akan banyak mengubah apapun. Agak berbeda halnya dengan Agnes, yang dari jendelanya di bilangan Cipinang Jaya melambai padaku. Seorang pengamen bersumpah, sebagaimana Tuhannya, demi masa. Cukup bagus, seingatku, suaranya. Mungkin tidak sampai habis perjalanan S.72 itu, mungkin sampai PIM yang baru satu, belum dua.

Dagon, sementara itu, bukan film horor, melainkan sadis. Masa ada orang dikuliti kepalanya dari dada. Selebihnya, ia adalah film berkarakter, berkwalitet, sebagaimana disukai Wong Edan. Entah apa yang habis kulakukan, begitu saja sekitar jam babi aku melangkah ke Sarang Beto. Jika aku sampai meminta seorang gadis untuk membuka kacamata hitamnya, itu pasti di bilangan Graha Bintaro. Bagaimana caranya kesehatanku masih jauh lebih baik saat itu, dan begitu memburuk kini. Aku sering mengamati derum tambur senar artifisial pada peralihan bait. 

Ini lain lagi, meski sama-sama petang. Akung sudah kondur, kurasa, seperti halnya Bapak sekarang. Petang seperti ini terkadang membuatku heran. Berbaring-baring pada ubin kuning sejuk, mengapa aku tidak bermain keluar. Apakah ini sebelum jam empat. Begitu lama jam empat petang sangat berarti bagiku, sebagaimana setengah enam, setelah Berita Nusantara. Ya, aku berasal dari generasi itu, seperti jutaan lainnya, seperti Fina Pitono yang sekarang seorang perekayasa, yakni, semacam peneliti BRIN. Abi Nisaka, sementara itu, bekerja untuk Kalbe Farma, Suryo polisi.

'Tuh 'kan, dari Maret 1996 aku sudah saling setia. Mungkin sekitar waktu-waktu ini juga aku menghadapi kenyataan hidup. Kurasa itu memang pengalaman pertamaku. Namun aku lebih suka mengenang kemudaanku ketika itu, berganti-ganti merek rokok sesuka hati. Pada saat ini mungkin aku sudah tidak terlalu Bentoel biru, meski belum juga Minak Djinggo Nojorono. Kemungkinan besar aku masih A King, apakah itu merah atau hijau. Seingatku jaman segitu aku bahkan belum kenal Djarum Super, jika Filter terasa terlalu arus-utama. Kemudaanku seperkasa itu, ketololanku.

Astaga, aku, karena telah terbiasa, malah terlempar ke Laut Jawa, Selat Karimata, bahkan mungkin Laut Cina Selatan sebagai seorang kelasi kadet dalam perut Teluk Sampit 515. Tidak ada yang kusesali dari dermaga Kolinlamil itu, kecuali membayangkan betapa adik-adikku menempuh perjalanan ke sana dari Radio Dalam. Mereka pulang lagi, sedang aku masuk lagi ke dalam perut pengangkut tank itu. Di dalamnya, kurasa ada Mentor Basuki Tri Usodo dan mentor-mentor Octopussy lainnya. Terserah apa mau dikata, memang cucomeong aku di situ. My name is Bon. Bono.

Saturday, January 15, 2022

Berteman Temaram Lampu, Tertunduk Malu


Baru saja kuteguk habis teh oolong dalam cangkir plastik merah kesayanganku. Tadi sempat menyusuri lorong-lorong Hypermart BBM yang dahulunya Giant, tidak ada satu pun gelas atau mug yang cocok seperti keinginanku. Apa harus kucari di TipTop. Gelas Leoku yang pernah berpose berisikan seduhan madu hangat, sepulang dari mengajar di Salemba. Entah di mana kau sekarang, seperti halnya yang sepertimu namun polos bening, kupecahkan karena terlalu lama dimagnetron. Sebentar ini akan kuisi-ulang gelas plastikku dengan air panas pengser.

Aku terhenti cukup lama gara-gara mainan Tokped. Tidak perlu kuceritakan di sini mengapa sampai bisa begitu; yang jelas, menjelang tengah malam ini, aku tidak perlu hujan buatan dari Yutub, karena memang sudah hujan sungguhan. Sementara aku akan menunggumu, yang sempat membuatku tercekat di dapur ndalem Yado, hujan rintik menderas di luar sana. Tepat di sini terhenti sepanjang malam sampai pagi menjelang, sedang pengisi-daya irfon blutut kubiarkan menganga begitu. Kaum pecinta bunga San Fransisco telah dilupakan Mamanya Afi.

Musim panas tahu bila menanggalkan gaunnya. Hanya itu yang kuingat sebelum kusuruh gadis kecil itu pergi. Siang bermendung begini aku berusaha menajamkan pendengaranku untuk menangkap ketak-ketik paling awal dari gerimis. Ada terlintas tadi untuk makan siang kemakmuran sapi, namun sudah berhari-hari ini sebenarnya aku kurang nafsu makan. Jika sampai terhidang makanan di hadapanku selalu kulahap habis, 'sih. Aku tidak tahu kalau yang tidak enak, karena beberapa hari terakhir ini hampir selalu makan enak. Kecuali sarapan, selalu warteg.

Gelas permata bau amis telur karena memang tidak benar-benar kucuci, hanya dibilas-bilas saja, sedang ia digunakan untuk menyeduh madu mentol jahe merah. Adanya bau amis itu, adalah aku sarapan nasi warteg Syifa dengan telur ceplok kuah pedas, tahu hancur--begitu namanya kata penjualnya, buncis udang yang tidak disiangi sungut-sungutnya. Selalu saja begitu menuku, empat belas ribu Rupiah, tidak pernah ganti. Dulu terkadang aku memesan capcay, tahu jamur tiram, atau teri kacang. Memang jangan cari gara-gara mengeluarkan jemuran jika cuaca begini.

Satu-satunya kelebihan irfon blutut Macson adalah ketiadaan kabel yang terkadang memang menuntut perhatian lebih, selain tentu saja harganya yang lebih dari sepuluh kali lipat. Dibanding irfon Miniso tiga puluh ribuan ini, Macson sama sekali tidak ada tendangan bassnya. Jangan-jangan gincing dan keces trebelnya pun tak ada. Ya sutra lah, let's do it again bersama seorang perempuan muda yang membangkitkan birahi namun tolol. Lagipula, buat apa cerdas barus, bijak bestari, jika sekadar untuk membangkitkan birahi. Apapun, inilah aku menari melonjak-lonjak.

Leher belakangku yang beruam belum sembuh sepenuhnya, sedang Karnaval Brasilia sudah sepenuhnya melaju menggebu. Aku tidak mengenakan kostum apapun, kecuali sepotong celana pendek bermotif kotak-kotak a la Skotlandia ini. Seperti selebihnya, aku menari melonjak-lonjak tertawa-tawa, sedang dada telanjangku bersimbah peluh keringat. Perut buncitku pun ikut melonjak-lonjak seirama lagu, yang semuanya semata ada dalam khayalku. Memang seingatku aku lebih sering memutar ingatan daripada koleksi keemasan, membawaku ke musim panas India.

Seketel air mendidih jauh lebih baik daripada mondar-mandir keluar-keluar tidak bisa diapa-apakan juga. Begitulah aku kembali pada kenyataan hidupku setelah hingar-bingar karnaval berlalu. Apa yang kuharapkan, bolehkah berharap jika tidak melakukan apa-apa. Hidupku bergelimang harta, tidak ada yang kuinginkan dan kubutuhkan yang aku tidak punya. Meski kadang entah bagaimana tersumbat, kembali lancar seperti biasa, ketika aku menjalani hari-hariku di Sepurderek. Tidak seperti di Uilenstede, aku tidak perlu keluar kamar untuk ke kamar mandi.

Thursday, January 13, 2022

Patil Patah-patah Tetiba 'Nunda


Ini judul yang epik, meski penggambarannya tidak terlalu. Aku bisa gila lama-lama kalau begini terus (bukannya sudah). Banyak yang harus kubeli. Mobil misalnya, jika atas-meja semua-jadi-satu belum perlu. Mau dekat-dekat Mbak Puas belum tunai janji. Beginilah tiba-tiba di malam Jumat yang mulia ini isi kepalaku. Bukannya membaca sepuluh ayat pertama dan terakhir Al-Kahfi malah begini. Bukannya Yasinan Fadhilah malah mengitiki yang tidak-tidak. Sudah tahu aku tidak keren (penggeli), terus saja mengitiki. Jangan lupa, ini Asus Vivobook. Enam baris saja.

Asal tahu saja, aku selalu suka keindahan. Segala yang halus, bagus, aku suka. Maka jangan kauharap merusaknya, Ketonggeng. Tidak mungkin ia kujadikan antagonis, karena Ketonggeng adalah jagoan almarhum Bapak untuk membunuh jangkrik genggong jagoan Paklik Gupuh. Uah, lucu sekali suasana malam Jumat yang sudah tidak muda ini. Rasanya justru seperti Minggu malam yang ada Spenser untuk disewanya. Tentu saja, semua hari sekarang terasa seperti hari libur, sudah dua tahun terakhir ini. Suara tanpa tremolo, tanpa vibrato inilah yang ditiru, antara lain, oleh Rafika Duri dan Iin Parlina.

Ketika aku mengamangkan tongkatku, sedang mantra ridikulus sudah ada di ujung lidahku, Juwita dan Si Sirik saling memantrai abrakadabra dan alakazam. Ini tidak pernah terjadi di dunia nyata, karena alakazam biasanya digunakan Si Sirik untuk menjahili orang tak berdosa, dan abrakadabra digunakan Juwita untuk memperbaikinya. Betapa indahnya dari Setia Kawan di pinggir kali bau Bendungan Jago. Sudah, tidak perlu diingat-ingat lagi. Di depan sana ada yang tak terhingga kali lipat cantiknya. Kau hanya harus menunaikan semua janjimu tanpa kecuali.

Nah, kalau aku berdansa tango dengan Rempah Bayi begini, siapa yang bisa melarang. Aduhai, Cantik! Bukan daging yang merasakannya, melainkan hati. Hatimu yang dibuai-buai perasaan bergairah namun nyaman. Perasaan cantik. Ya, seorang lelaki bisa saja merasa cantik, meski tentu saja tidak seperti perempuan setelah memoles dan memulas wajahnya. Lelaki merasa cantik jika hatinya dibuai gairah yang menyamankan, seperti belaian. Hampir seperti belaian ibu yang bahkan kau tidak pernah ingat, seperti itulah rasanya ketika lelaki merasa cantik.

Jam Casio Databank-ku menunjukkan lewat lima dari pukul sepuluh malam, ketika semua sudah berangkat tidur seharusnya. Aku tidak terlalu suka mengingat-ingat ketika justru pada saat seperti inilah aku mulai merokok. Jika tidak ada rokok, tidak ada uang pula, maka mungkin aku akan mengobok-obok saku baju dan celana almarhum Bapak. Terkadang terkumpul hanya cukup pembeli beberapa batang, terkadang satu bungkus sekali. Mungkin kuseduh juga kopi agak secangkir atau semug besar, tergantung suasana hati, lantas bisa jadi Jalur Bintang Generasi Berikut.

Uah, akhirnya ketemu juga yang baru, yakni Aruanda, semacam Nirwananya orang-orang Brazil keturunan Afrika. Iya lah, masa hidupku membosankan saja begini. Sekalinya aksi tolol-tololan semacam APC atau IC, selebihnya khayal belaka. Entah bagaimana, sesungguhnya aku tidak berani mengaminkan doa almarhum Bapak untukku. Buat apa segala kepahlawanan itu, aku terlalu malas untuk menjadi pahlawan. Namun Bapak menginginkanku begitu, menjadi pahlawan. Tidak tepat seperti pahlawan, tetapi menegakkan kebenaran dan keadilan. Semacam itu saja.

Malam ini, tidak seperti dua malam kemarin, udara kembali panas. Perut kanan bawahku terasa kembung tidak nyaman. Sumbatan ini, Insya Allah, akan segera jebol, membuka jalan bagi air deras. Tidak perlu air bah, cukup deras saja mengalir sampai muara di sebuah teluk yang indah permai. Melewati hutan-hutan bakau yang makmur lagi sentosa. Aku tidak mau berkhayal seperti Sindhunata mengenai buaya yang berenang-renang bersama anak monyet, sedang macan main petak umpet dengan kerbau. Biasa saja, sampai selesai dengan sebaik-baiknya, selamat dan berkah.

Aamiin Yaa Robbal'aalamiin

Tuesday, January 04, 2022

Monokel, Monokromasi, dan Varikokel


Haruskah alat secantik ini terbatas kegunaannya hanya untuk mengitiki. Tentu saja tidak. Suatu hari nanti, yang Insya Allah tidak lama lagi, ia akan berguna untuk menuangkan berbagai buah pikiran yang runtut dan teratur. 'Tuh 'kan, untung saja aku memeriksa KBBI dulu. Hampir saja kugunakan "runut" alih-alih "runtut". Runut itu artinya jejak, sedang sifat sesuai urutan dan alur logika itu runtut. Itulah yang tidak ada dalam goblog ini. Bukannya runtut, adanya mbuntut, seperti halnya dulu Ibunya Sodjo waktu masih seumuran Aryo sekarang kalau sedang menempel di pagar.
 
Akan halnya menunaikan janji, sepertinya harus kulakukan dengan Asus Vivobook. Aku tidak memberi nama panggilan pada gawai-gawai ini, karena mereka bukan pesawat pembom apalagi kapal selam atau permukaan. Mereka sekadar gawai, meski secantik apapun, sekeren apapun. Biarlah Gomer Pyle memberi nama senapan serbunya, kalian semua tahu bagaimana ia berakhir, bukan. Aku tentu tidak ingin menjadi Gomer Pyle. Bahkan ketika aku masih tergabung dengan Peleton 3 Kotakta A Batalyon I Resimen Chandradimuka 1994 saja, bukan aku Gomer Pyle-nya, melainkan Dedi Kurnia atau Mulia Putra.

Meski begitu, jelas aku tidak setanding dengan mereka. Aku, dibanding mereka, kelas tahi kambing. Mereka prajurit-prajurit sejati. Aku bahkan tidak pantas disamakan dengan Bertram Bryce sekalipun, apalagi Desmond Doss. Aku, seperti kata Rumi, hanya bisa menghasilkan kekonyolan-kekonyolan. Aku hanya bisa berolok-olok. Kurasa, semua orang, Pak Harto sekalipun, pernah merasa rendah diri, tidak punya martabat, atau yang sejenisnya. Akan halnya aku, memang sudah lama tidak pernah memesan martabak, Maestro sekalipun, karena makan martabak dengan nasi dikecapi menyakiti perut; mungkin karena adonan kulitnya. 

Terkadang aku kasihan pada Paolo Mantovani. Rendisinya yang sempurna tanpa cela terhadap nomor-nomor latin klasik kugunakan untuk berolok-olok, mengitiki ketiakku sendiri, pura-pura merasa geli sendiri padahal tidak. Di waktu-waktu yang lain, pernah juga aku menggunakannya untuk menemaniku menghasilkan hal-hal yang berguna di mata orang lain. Tepat di sini aku sungguh ingin berdoa, memohon pada Sang Hyang Maha Kuasa, untuk menunjukiku apa yang berguna bagi sebanyak mungkin orang, terlepas aku sendiri tahu atau tidak--mungkin lebih baik tidak tahu. Namun, seperti berulang kali kukatakan, ini bukan tembok ratapan.

Memang aku ini sungguh tidak tahu diri lagi tidak tahu malu. Apapun dalihku mengenai berbagai reaksi kimia dalam tubuhku, seperti ketika Rick Harrison menjelaskan mengenai sistem peredaran limfa, bukan alasan untuk membiarkan diri merugi terus-terusan begini. Oskar Schindler merugi terus-terusan karena menolong banyak-banyak orang Yahudi, lebih dari seribu katanya. Aku, merugi terus-terusan, siapa yang kutolong, berapa banyak, sampai Paolo Mantovani mengakhiri konsernya bertajuk Suasana Hati Latin, sambil mengucap "Pergilah bersama Tuhan."

Terpujilah Tuhan, Maha Suci Ia, sedang hamba yang tak tahu diri ini terus durhaka bergimang dosa. Meski begitu, Tuhan Maha Baik masih mengirimkan bagi hamba celaka ini burung-burung flamingo, dengan warnanya yang semu kemerah-merahan, ada pula yang cenderung jingga, karena banyak memakan binatang-binatang bercangkang yang kaya akan beta karoten. Flamingo-flamingo ini mengucap selamat malam padaku, koboi cengeng lagi tolol, berkepala botak dan kelebihan (banyak) berat badan, sebagaimana cercaan Chum Lee pada bossnya sendiri.

Suasana hati yang romantis ini datangnya dari mana, apakah dari seorang latina Venezuela blasteran Kandahar. Oh, aku tidak bisa berhenti konyol, berolok-olok, meski di sekelilingku penuh bertabur kecantikan hanya bagiku sendiri. Memang seperti itulah kecantikan seharusnya. Sangat pribadi, sangat intim. Sempat terbagi bahkan sekadar dua, maka tidak pantas menyandang gelar itu. Cantik hanya bagiku, apapun itu, kuhadapkan pada Penciptanya dengan tangan terangkat terentang penuh, sedang kepala tertunduk mohon belas kasihan, sedang hati dipenuhi rasa terima kasih.

Sunday, January 02, 2022

Gatholoco Mengocok Bandot Berjubah, Bersorban


Memang enak ngegoblog, begitu kata Togar. Enak? Harus berapa kali kuulangi kalau mengitiki itu sungguh tidak enak, menyakitkan bahkan. Coba bayangkan, mengitiki ketiak sendiri. Masih mending kalau mengitiki Ramya Rachel seperti pernah dilakukan Sugiharto Nasrun, yang membuatku sangat ingin menghentikannya. Namun, sekarang maupun dulu, keputusanku tetap. Bukan urusanku! Apapun itu, beginilah nyatanya, seperti setahun lalu ketika aku memandangi dinding pemisah dengan Kristina Kefala, aku mengitiki. Bedanya, ketika itu mungkin aku ditemani secangkir macchiato vegan, sekarang segelas permata teh tarik.

Setiap hari aku berusaha menambah pengetahuanku, meski itu mengenai hal-hal yang tidak jelas manfaat, faedah, maupun kegunaannya. Hanya dengan itu aku merasa agak berguna, padahal sudah jelas pengetahuan-pengetahuan yang kutambahkan pada gulai benakku tidak berguna. Semoga teh tarik ini tidak menyakiti perutku. Cukuplah jika ia mengeluarkan kodok bangkong raksasa dari dalamnya. Tiba-tiba aku teringat Sarpakenaka, yang kukunya tajam dan panjang-panjang, saudara perempuan satu-satunya dari Rahwana, Kumbakarna, dan Wibisana. Uah, mustahil itu semua sekadar khayalan Resi Walmiki.

Aku berbicara mengenai kakak beradik ini seakan-akan kenal dekat, anak-anak Begawan Wisrawa dari istri keduanya, Dewi Sukesi. Habis sekitar seratus mililiter, teh tarik ini kelihatannya mulai beraksi. Tidak benar-benar menyakiti perut, namun perasaan tidak nyaman di wajah dan kepala ini jelas pertanda aksinya. Bagaimana aku bisa tahu jika kepalaku sudah beberapa hari ini terasa lucu. Aku mengatakannya lucu seakan-akan seorang marinir perkasa, seperti Kolonel Oni Junianto. Aku jelas bukan dia atau marinir manapun, yang paling gak setil sekalipun. Seperti John Gunadi, aku hanya menggemari marinir, entah mengapa.

Tepat di sini aku rasanya seperti ingin meminta bantuan, atau menenggak habis saja teh tarik di gelas permata. Haruskah mengheningkan cipta berbau gulai begini, atau memang salah satu efek gulai adalah memudahkan orang mengheningkan cipta. Mau dibawa ke mana ini, entah bagaimana, mengingatkanku pada Intan, anak perempuan berambut keriting seperti anakku. Apa kabarnya. Sudah sebesar apa sekarang. Semoga nasibnya baik. Aku saja sudah setua ini dan, Alhamdulillah, Allah masih terus berbelas kasihan kepadaku. Semoga demikian pula adanya ia, begitu juga semua anak Babe Tafran.

Dari putih diganti menjadi sepoi-sepoi masih lebih baik daripada orang lain menghantam-hantam selangkangan busuknya Jodie; apalagi jika orang itu sampai anaknya Yovie Widianto. Bahasa Inggrisku meniru seorang bintara peleton komunikasi elektronik Batalyon Dua Resimen Infanteri Marinir Keenam pada masa Perang Dunia Kedua, sedangkan caraku mengitiki meniru cara berpikir Mas Toni Edi Riwanto, begini koq mau jadi akademisi, menulis disertasi. Ini sama saja mengolok-olok semacam Profesor Andri G. Wibisana atau bahkan Aristyo Rizka Darmawan, yang meski lebih junior dari Ahmad Madison bahkan Rizki Banyu Alam, sudah jadi cepe euy gegara produktif menulis.

Nama bagus-bagus Ayu Putri Sundari dibuat jadi Ayuenstar itu biar apa coba. Aku yang djadoel ini mungkin tidak akan pernah bisa mengerti. Aku yang cuma pura-pura punya anak ini juga pasti tidak akan pernah paham bagaimana sebenarnya punya anak, apalagi perempuan. Asaptaga, jika tidak gara-gara Mbah Gugel aku tidak akan pernah tahu apa maksud "korban MiChat" yang tertulis pada bak sebuah truk. Mengerikan! Sementara gulai mengheningkan cipta ini terus terbakar, seperti merokok Minak Djinggo tanpa benar-benar menghirup asap jelaganya dalam-dalam memenuhi paru-paru dan lambung.

Demikian pula, masker bila sudah berbau gulai, meski Orlee sekalipun mereknya, harus dibuang. Sebenarnya bukan karena itu benar. Sebenarnya sudah beberapa hari ini dia sudah berbau gulai, bahkan mungkin kena air liur. Hanya saja, sekarang sudah mulai bersabut-serabut maka kubuang. Dunia ini, Jagad Dewa Batara, sungguh mengerikan. Sanggupkah aku terbang tinggi menuju nirwana, lembut menembus rahasia, kukuh menahan putaran waktu, bersatu dalam damai. Seperti masker, mungkin begitu saja kumit tipitku suatu hari nanti. Sekarang saja tiada yang peduli, apatah lagi nanti.  

Saturday, January 01, 2022

Selamat Tahun Baru 2022, Yang Terpelajar


Ini harus segera disusul dengan Insya Allah, karena kaus oblong cina tua yang kukenakan ini sudah tidak karuan baunya. Berkeringat, dijemur, berkeringat lagi, dijemur lagi, entah berapa kali. Hahaha aku mengitiki beralas tempat tisu wajah dari kayu jati masih diganjal wadah plakat boleh main juri-jurian NACE Competition. Dahulu, wadah begini cukup keras untuk digunakan sebagai makura. Sekarang ini, jika kugunakan begitu, pasti akan langsung ringsek. Jadi untuk alas mengitiki saja. Aku ditemani oleh sebotol 450 ml Teh Botol Sosro kurang gula, yang warna putih abu-abu itu. 

Mungkin lebih dari sebelum-sebelumnya, 2022 ini benar-benar harus diselamati, atau diselamatkan. Dalam suasana begini, aku benar-benar tidak habis pikir mengapa membiarkan Fadly Arifuddin meratap-ratap sok sufistik begitu dibuat si Dul Jaelani. Ini benar-benar gara-gara terbawa suasana terharu-biru gimik Berhala Indonesia 2020. Asaptaga, dari dua tahun yang lalu. Entah mengapa, aku jadi teringat pada bengkel gitar di dekat stasiun metro Vijzelgracht. Aku, ketika itu, masih sanggup melangkah gagah dan cepat, sekitar akhir September 2020. Belum ada Gregorius maupun Gerardus kala itu.

Dengan mata kepala sendiri kusaksikan Plasa Qoryatussalam Sani pada sekitar pukul setengah sepuluh malam, lengang. Biasanya di situ setidaknya ada gerobak batagor, bahkan gerobak pempek, dan, yang paling kurindukan, susu jahe merah (sujamer). Maka biarlah aku terlempar ke Sint Antoniuslaan, Maastricht, yang sudah dekat Paralelweg, dengan meja dan kursi kantor boleh beli di Kringloop. Di Amsterdam ini aku malah tiada mainan kringloop sama sekali, meski kemarin di dekat Uilenstede itu sebenarnya ada. Pernah sih aku lihat-lihat yang di Insulindeweg ke sana lagi, tapi tak ada yang menarik. 

Sementara kupandang dupa lingkar yang semakin panjang, lama-kelamaan ia tidak akan melingkar lagi, tetapi memanjang. Di sini aku tidak akan mengabadikan sei sapi apalagi sekadar jagung bakar-bakaran, meski, seperti dahulu pada 2019, aku memulai api juga dengan celana dalam bekasku. Aku bukan lagi remaja yang sedang dimabuk asmara. Kalaupun dimabuk, kumis tipisku yang impresif ini, yang menghias muka dan kepala bulat ini, jelas bukan milik seorang remaja. Aku, karena itu, hanya dapat menelannya, melewati kerongkonganku, membiarkannya dihancurkan asam lambung bergolak-golak.

Dupa lingkar semakin memanjang mendekati lantai, akankah kupindahkan ke bagian atas daun jendela. Itu lebih baik jika aku harus mengembalikan kasur biru ke tempat biasanya, dari kamar anak perempuan kesayangan. Kamu bilang aku tak sama, tak seperti saat pertama. Memangnya kapan. Tidak pernah. Aku yang bercita-cita menjadi nelayan yang menulis buku, atau apalah entah yang semacam itu, jelas gagal total. Semua ini pada akhirnya sekadar gaya-gayaan jika untukku sendiri. Takkan kulanjutkan pula dari titik ini, maka tugas Bali pun pernah terjadi di Jang Gobay. Apa hendak dikata.

Terlebih ketika masih dua begini, ketika sungguh aku enggan berbicara mengenai 2022 yang baru berumur beberapa jam ini. Tidak lama lagi dupa lingkar akan menyentuh lantai. Akankah salah satu dari ketiga tempat obat nyamuk kaleng dapat mengatasi masalah itu, atau haruskah kupindah ke atas. Dalam benakku timbul tanya, halah mana ada. Benakmu isinya mesum menjijikkan, bau pula. Bagaimana malaikat rahmat mau mampir, sedang malaikat pencatat amal terus saja mencatat. Aku sudah tidak siap untuk jatuh cinta lagi, setua ini. Celakanya, omonganku mengenai cinta sedangkal Sindhunata.

Ketika Ajla dan adik-adiknya dibuat Pak Insan berteriak-teriak mendukung yang merah-merah, itu sama saja dengan Kambing gila-gilaan mengenakan kaus bertuliskan Kau Tidak Akan Pernah Berjalan Sekarang! Horor, 'kan? Itu adalah bagian dari kenyataan hidup, sesuai dengan berbagai reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh manusia. Gaya sih terdengarnya seorang dokter berbicara mengenai ribuan reaksi kimia dan hasilnya dalam tubuh manusia. Ujung-ujungnya kita semua sudah tahu, tinggal lagi masalahnya berapa kali kita akan mati. Demikianlah aku memulai 2022, aduhai banyak betul bilangannya.

Friday, December 17, 2021

Bukan Babaduk, Melainkan Plerktekuk


Tadinya 'kupikir aku senang sudah menggunakannya sebagai judul, namun ternyata, setelah umek dengan urusan penggambaran, biasa saja. Lagipula, waktu muda mungkin masih bisa lah Plerktekuk, yang ternyata sudah ada yang punya ide begitu. Setua ini, ternyata malah Plermndelep. Itulah nama-nama yang keren, terdengar seperti nama-nama orang Slav atau Balkan begitu. Singkat kata, itulah yang terjadi jika aku seorang diri. Jika bersama seseorang, Insya Allah yang seperti itu tidak akan mendatangi. Namun bila seorang diri, drubiksa-drubiksa bernama demikian itulah sama menggentayang mendatangi.

Ini entri tidak maju-maju entah sejak kapan, lebih lagi disertasiku. Pagi ini, Jepri Osborne melolong-lolong main basbisbus pisang rebus yang terdengar seperti nama salah satu anak Rahwana, Bukbis Mukasura. Setelah menyantap mie ayam dari Kelompok Donoloyo, masih ditambah tiga potong batagor yang sebenarnya kulit pangsit diberi beradonan tepung gurih lantas digoreng, segelas teh Sosro hangat setengah manis, sepulangnya masih diteruskan dengan madu Tresno Joyo jahe merah mentol diseduh air hangat. Salah satunya mungkin bisa mengurangi asupan teh hitam pekat nan kental.

Begitu maju malah begini, terlebih dengan teristimewa untukmu adalah ketika aku bergelantungan pada tuyul, mungkin sambil berkhayal mengenai hidup di masa depan. Tahu apa aku ketika itu, ketika berkhayal menjadi penerbang F-16 bersama callsigns Panther, Jaguar, dan Puma, sedangkan aku Viper. Meski beberapa tahun kemudian terlihat semakin terbuka jalan ke arah situ, nyatanya dari dua ratusan lebih pemuda-pemuda terpilih seluruh Nusantara, hanya satu yang menerbangkan F-16, yakni Yulmaizir. Rumi masih jauh mending dari aku yang pagi-pagi gendut begini mengitiki.

Jangan lupa, meski sama-sama mengeluarkan kobaran api, Bukbis berbeda dari Trinetra, meski keduanya sama-sama putra Prabu Rahwana. Trinetra, seperti namanya, bermata tiga, dengan mata ketiga pada dahinya. Dari mata ketiganya inilah Trinetra menyemburkan api yang memanggang para wanara jadi sate kunyuk, entah bumbu kecap atau kacang. Sedangkan Bukbis harus mengenakan sebentuk topeng perunggu dulu, entah dengan merapal mantra atau tidak, barulah berkobar-kobar api dari topeng itu membakar persekitaran kecuali tubuhnya sendiri. Hasilnya sama-sama sate kunyuk.

Aku tidak pernah tahu bahkan malam-malam menjadi lebih baik, meski aku sudah tahu dari jaman sekolah dasar, ternyata sekadar memilin-milin biji buncis. Menemplok padaku seperti seekor kera buntung, hanya itulah yang kualami dari malam-malam yang katanya lebih baik. Meski pernah berkumpul mereka bertiga, Sutoro Margono yang sok-sokan jadi Torro Maraigendeng jelas lebih beruntung dariku, jika itu dapat dikatakan keberuntungan. Namun jelaslah tidak mungkin begitu. Teknik-teknik menarik simpulan menjadi olok-olokan dalam semesta gubahan Mas Toni Edi Riwanto ini, biar saja begitu.

Aku masih ingat melalui pesawat delapan satu sembilan dua lima empat enam tidak sanggup mengendalikan. Setiap pagi berangkat setengah enam naik mikrolet sampai Cawang disambung Mayasari Bakti Lima Tujuh, sampai terminal Blok M. Itulah ketika salah satunya bertahan sampai beberapa tahun kemudian hanya untuk mengenalkan kesakitan yang mungkin pertama dan satu-satunya. Dalam kedinginan LKHT yang sekarang menjadi ILUNI, segala sesuatunya sangat berbeda tanpamu. Kesakitan demi kehinaan tiada henti mendera setelah itu. Setua ini, semua terasa seperti sakit tumpul.

Hahaha tiada kronologi, tiada sebab akibat, sedangkan menulis disertasi. Asaptaga, akankah aku berhasil melaluinya, bilakah. Si culun Ricky Jo salah menggunakan kata "bila" dari sudut pandangku. Seharusnya "akan", tapi itu 'kan menurutku. Uah, pertombolan papantekan ini sungguh menjengkelkan tata-letaknya, dengan tombol fungsi bersebelahan dengan kontrol. Namun tidaklah perlu jengkel. Ini alinea terakhir, jadi santai saja. Setelah baris ini, kau bisa ngomyang sesukamu. Tidakkah itu yang dari tadi kaulakukan. Aku memang cuma bisa ini, selebihnya menggerakkan naik turun saja.

Wednesday, December 01, 2021

Lolong Anjing Merintang Masa, Melanglang Buana


Bau tai! Meski itu bisa saja berasal dari hidungku sendiri. Tidak percaya? Hidung sendiri terkadang bisa bau tai loh. Selain itu bisa juga mulut, seperti suatu hari almarhum John Gunadi terbangun di pagi hari dan mencium bau tai. Setelah mengendus-endus ke sana ke mari, ia kembali duduk dan menghembus-hembus telapak tangannya sendiri sambil menghirup-hirup baunya. "Ternyata hanya karena mulut dan hidung terlalu dekat jaraknya," begitu katanya. Bisa juga sore-sore berangkat ke Blok M ditemani Mahua Arismaya, naik PPD Patas P.28 jurusan Cimone-Blok M. Tujuannya Sincere Store, toko musik.

Maka membelilah recorder alto merek Yamaha seharga Rp. 18,000 pada 1989, dan segera pulang ke Cimone. Adakah waktu itu terpikir: Setahunan yang lalu tidak perlu jauh-jauh naik bis, sampai melewati segala Poris Gaga, Poris Pelawad entah apa-apa. Cukup berjalan kaki sebentar, lewat Hero Barito, lewat Radio IV kalau takut lewat kuburan, sampai ke rumah. Entah mana lebih dulu, pengalaman yang mirip juga pernah terjadi, dari Cimone ke Blok M, dari Blok M ke Cipinang Jaya naik Mayasari Bakti 57 jurusan Blok M-Pulogadung, sampai salah turun di jalan layang Ir. Wiyoto Wiyono yang ketika itu belum jadi.

Sudah pada tempatnya, sudah tepat itu jika pada saat itu aku hanya mendapatkan secarik pesan pada pembungkus dalam sabun mandi yang wangi, karena hidungku baru saja tersengat amoniak penyamak kulit yang bahkan sampai melemparkanku terjengkang beberapa langkah. Akan halnya daster-daster dan kutang-kutang yang berserakan itu tidak pula sampai membingungkanku, apatah lagi kaus singlet dan celana dalam yang dipakai. Hanya rumah kosong penuh berdebu, yang debunya membuat gatal itu, yang temboknya dipeper-peper begitu banyak ingus anak ingusan yang nyata. Sisanya khayal belaka, ya kecuali sebatang pohon jambu yang membantuku naik-turun.

Sigaret kretek Gudang Garam Merah dan Lisong Zeeland tidak mengenal barat dan timur, utara ataupun selatan. Tidak satupun menarik perhatianku kecuali buah-buahan yang ranum bergelantungan setiap pagi ketika aku pura-pura berangkat pagi ke sekolah. Itu pun tiada menjadi apa. Termasuk yang menarik perhatianku juga tidak menjadi apa. Aku terlalu sibuk bermain-main, berkhayal-khayal selama sekolah menengah, baik pertama maupun atas. Untuk itu aku merasa beruntung, seberuntung anak lelaki yang mengenal segarnya air saluran irigasi di sepanjang Cisadane, meski airnya coklat, meski terkadang ada tainya, orang, sapi...

Terlebih ketika sekolah dasar, tahu apa aku kecuali bahwa Bapak, Ibu, dan Akung sayang sekali padaku. Hanya satu nama memang yang harus disebut dan dikutuk sepanjang masa: Khaerul Umam. Mengapa menyalahkannya, itu semua salahmu sendiri. Namun itulah, suka tidak suka, mau tidak mau, yang mengharu-birumu tiada habis-habisnya, meski kau hitung berkali-kali sampai tidak terhitung lagi. Jika Khaerul Umam harus dikutuk, maka Samsul Bahrum harus didoakan. Semoga Allah selalu menyayanginya, seperti ia menyayangiku seakan anaknya sendiri, anak tolol yang seharusnya dihajar, digebuki habis-habisan.

Selebihnya adalah lipatan-lipatan yang mengingatkanku pada orangutan. Aku memang selalu sayang pada binatang, meski semua tinggal menjadi kenangan. Apakah aku lebih baik jika masih bisa diingat, apakah yang sudah tidak bisa diingat-ingat itulah yang patut jadi bahan bakar neraka, hanya spekulasi tolol belaka. Kantor Mayor Harmin memberikan sedikit kenyamanan, meski keseluruhannya memang nyaman bila malam sudah menjelang. Bahkan ada kolam ikannya, tempat aku kadang dengan tidak tahu malunya bermain-main padahal hari sudah terang. Sungguh menjijikkan, tahu malulah sedikit sekarang kalau dulu tidak bisa!

Kini aku tua, gendut, botak, telanjang dada, dan masih tidak tahu malu. Biarkan aku sepi, sedih, dan sendiri. Entah bagaimana keluar dari keadaan ini, kemesraan ini. Untunglah papan-kunciku ada iluminasinya, seperti yang diminta oleh Sersan Ernest Savage ketika peletonnya terpisah dan terkepung di Ia Drang. Semoga begitu jugalah nasibku. Tentu ada yang harus aku lakukan, meski itu adalah tiarap diam-diam dengan muka mengimpit tanah. Setelahnya pun aku harus berusaha membersihkan jalanku menuju keselamatan, seperti Sersan Ernie. Semoga tidak lama lagi bala-bantuan segera mendatangiku.