Friday, April 24, 2026

Pusat Penelitian Hukum Bau Kentut Kutu Terpadu


Malam larut panas udara adalah pembuka yang sok puitis namun, seperti biasa, tak berdaya suatu apa. Akankah entri ini menjadi satu cerita padu dari awal sampai akhir, setidaknya seperti cerpen SM Ardan atau Ahmad Tohari. Dapatkah suatu entri mengalir tanpa menyajikan, ya, mempertontonkan ketelanjangan pikiran apalagi arus ketaksadaran. Tidak dapat. Jadi biar saja 'ku beberkan di sini khayalanku untuk berkantor di tangga darurat gedung Integrated Law Research Center. Di sini aku melakukan salto terbalik dari berdiri s'raya berpuntir di udara berapa kali.
Aku juga tidak mau berprosa lirik macam Romo Sindhunata, meski adegan Afi muncul setiap kali Oom Sindhu berkokok semua muridnya masuk negeri, lantas Oom Sindhu memekik "Oh tidak" dan ambil langkah seribu terasa lucu. Aku suka begini dan ini bukan arus kesadaran namanya. Ini arus-bawah kesadaran, setidaknya. Ini seperti lupa minum obat, yang setelah minum obat lantas tenang dan lupa. Tidakkah memang begini saja setiap tahunnya antara April dan Oktober, tidur dengan badan basah apalagi bantal kepala, botak atau berambut. Tidur di kubikel LKHT duluk.

Terkadang aku suka membayangkan diriku sendiri bergerak-gerak. Bukan menari, tapi sekadar menggerak-gerakkan anggota badan. Membayangkan saja, karena bergerak-gerak seperti senam kopri atau pukesmas. Bukan aku malu melainkan mau melakukannya bersama teman-teman satu panti. Kalau masih sendiri mengitiki begini ya lebih baik dibayangkan saja, ketika teringat betapa dahulu hidup masih bisa membayangkan keadaan-keadaan yang lebih baik dari yang dirasa sekarang. Sekarang hidup tidak mungkin lebih baik lagi. Sudah baik begini. Sudah nyaman tak 'njadi apa.

Jika memang malam tidak kunjung sejuk, jika memang badan terasa agak kurang yes, tidak bisa jadi ukuran jika pernah melalui yang seperti ini, lebih baik atau buruk. Karena hidup itu maju terus seperti garis lurus tak pernah kembali ke titik manapun, kurang lebih begitu kata Sam, Jaka, atau Acil 'ku tak terlalu peduli. Jika memang mengitiki begini dapat mengurangi rasa-rasa kurang garam kurang merica dalam hidup keseharianku, tidak mengurangi kenyataan bahwa jari tanganku kanan berbau daging dan bawang bombay. Aku tidak sedang menangis bombaya.

Kehidupan menggelandang, menggelar kasur tayo berbantal tak bersarung di tangga darurat itu bisa jadi nyaman justru di musim kemarau begini. Di musim hujan kemarin mungkin agak horor dan dinginnya. Kalau di musim kemarau mungkin justru sejuk karena tidak pernah kena sinar matahari dan dinding-dindingnya tebal. Insulasi yang sesuai. Mungkin aku juga tidak perlu sampai tidur malam di situ. Jika malam menjelang aku bisa saja pulang, namun pagi sampai petang aku dapat bersembunyi di sana. Awas jangan sampai ada yang mengetahui rencana ini. Nanti diusir.

Betapa senangnya aku membayangkan. Aku hanya butuh meja kecil saja, cukup untuk meletakkan laptop dan mungkin entah gelas berisi wedang atau botol air minum. Sisanya bahkan dapat diletakkan di lantai. Dan di lantai itu pulalah, jika dibutuhkan, dapat 'ku gelar tayo. Ini bahkan lebih baik daripada waktu di PDRH dengan buku-buku apak dan semburan pendingin udara. Sebentar, tapi di sana 'kan tidak ada colokan listrik. Nanti biar 'ku periksa lebih seksama. Jelasnya, di situ tidak akan bau jamur dan ketetesan air jamur. Entah ini seperti khayalan gardu belajarku.

Apa betul yang akan 'ku lakukan di situ, bersama diriku sendiri. Terkadang ada waktunya 'ku membutuhkan orang lain, tapi tidak seperti yang ada sekarang ini. Sekadar membayangkan kesendirian saja sudah seru sendiri, terlebih jika telingaku dielus-elus musik di udara volume 6 dari Nuvoluxe begini. Tadi aku sudah sikat gigi, tapi setelah ini aku akan sikat gigi sendiri. Bahkan aku sempat membayangkan gayung berisi peralatan mandi, mungkin juga handuk yang bisa 'ku keringkan di mana pun di situ. Uah, akankah terwujud. Akankah menjadi keseharianku. Silangku jariku.

Tuesday, April 21, 2026

Sitokai-tokai Bersitokai-tokai. Apa aku yang Lebai


Kebotakanku ketidakberdayaan. Selop keemasan yang suatu hari nanti aku tidak akan ingat apa maksudnya kecuali 'ku guyurkan kode sebanyak-banyaknya dalam entri ini, sedang waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kebotakanku dielus sepoi-sepoi hembusan pendingin udara sedang yang di rumah terus njeglek karena kurang daya. Tentu saja karena aku bukan Sersan Meriam McQuade. Ketidakmampuan mungkin yang membuatku tidak mampus. Dari mana aku sampai bisa tahu biru-biru Biloxi sedang yang 'ku maksud mungkin marinir biru bayi.
Namun aku seperti ingat adegan di rumah kucing itu. Kini pandanganku tak terhalang meski aku juga jadi kehilangan lindung tinjau. Apa butuhku padanya ketika bahkan aku tidak meninjau. Bahkan mencuri-curi pandang pun tidak, aku yang dapat menatap lurus pada mantan perwira proyek ilmu-pengetahuan-sasional. Aku yang diberi sesaset sambal korek. Aku yang takkan heran jika mereka ternyata seusia keponakanku tertua. Jika satu teh hijau dua melati ini sudah habis mungkin aku akan bergeser. Mungkin akan daku lanjutkan dengan secangkir air panas pembasuh gula.

Aku seorang moralis amoral. Aku yang hanya bisa berbicara mengenai diriku sendiri karena tidak mau bohong meski pembual besar. Kesegaran seperti diguyurkan perlahan pada botak-botaknya kepala dan gendut-gendutnya perut seperti topi air yang sebenarnya gayung penuh berisi air, yang ditutupkan cepat-cepat ke atas kepala agar menetes perlahan airnya. Setelah agak lama diangkat tiba-tiba dan kesegaran seperti mengguyur. Aku yang botaknya gendut sudah tidak butuh kesegaran macam itu, meski gendutku belum botak; masih berambut ia di bawah pusar dan seterusnya.

Ternyata ada biangnya. Sudah khawatir tadi aku (halah!) Biang seperti apapun sudah tidak banyak berpengaruh padaku, saking tuaku, saking gendut botakku, karena, seperti 'ku katakan tadi, gendutku belum botak. Jangan pula kau kata ini puitis, arus kesadaran, swadefekasi dan sebagainya itu. Ini kepilusan. Ini keputusibauan. Ini seperti sudah tidak punya tujuan. Ini seperti kleyang kabur kanginan, meski kuyakin Marthen tidak begitu. Hanya namanya saja Kanginan. Terlihat jelas sepenuh hadap biangnya: Tiada mengubah apapun aku dari sediakalanya.

Ternyata lebih dari sekadar itu. Ternyata aku intelek, yakni, berada tepat di tengah-tengah sungai tembelek lincung tanpa dayung. Jika pun ada arusnya, pasti tidak deras. Pasti lamban alirannya. Kau tahu aku. Jangankan cuma tahi ayam sesungai penuh, samudera tahi orang pun akan 'ku arungi demi mendapatimu. Namun kau pasti akan segera lari menjauh dariku. Jangankan itu. Kau tidak akan mendekati pantainya. Bayangkan, sepenuh samudera. Sedangkan seclepretan di celana saja sedapnya sudah aujubile. Ketika sampai aku di pantai, dikau sudah tiada.

Kesedapan yang sudah 'ku tekadkan untuk tidak pernah merasakan di punggung bumi ini, bahkan aku tidak mau memikirkannya di mana pun. Entah api itu menyambar, entah apa yang disambarnya, meski berkali-kali. Bukan berarti aku belum pernah mencecap, uah, menyesap kesedapan; dan untuk itu tiada putus aku bersyukur sekaligus minta ampun. Kesedapan sesedikit apapun pasti ditanyakan, dimintai pertanggungjawaban, apalagi duit, duit, duit dari 2011. Di sini aku berhenti dulu. Entah mengapa aku ingin pulang sekarang, tepat di sini ini.

Ternyata belum bisa. Di luar hujan deras dan aku tidak mau basah. Aku kembali mengitiki, seperti biasa, ketiak sendiri. Tiada yang 'ku buat geli, bahkan tidak aku sendiri, karena aku berzirah emas hasil latihan di Shaolin dulu. Tiada banyak gunanya. Minggu lalu bahkan aku melukai jariku dalam pada kedua tangan dengan ujung rak pameran museum jelek FHUI dan kawat pengikat pintu hokben GDC. Kini aku benar-benar seorang diri menunggu redanya hujan, sedang gerimis pun tiada di hatiku, apatah lagi hujan. Di pojokan sini aku bergeser, mengitiki 'ku seorang diri.

Saturday, April 18, 2026

Aku Cinta Kamu, Bayi, dan Jika Boleh, Butuh Kamu


Aku ini adalah orang yang buruk sekali, banyak keburukannya. Salah satunya baru saja 'ku lakukan. Aku baru saja memeper-meperkan jari-jemari tanganku yang belepotan taburan basreng pedas pada kursi kantor berlapis semacam serat sintetis. Coba, kursinya 'kan jadi belepetan bau basreng. Aku berani melakukannya karena tidak satu orang pun sedang bersamaku kini. Coba ada, maka aku akan pura-pura bener, minimal cari tisu, atau bahkan wastafel, mencuci tangan dengan sabun segala. Itu berarti aku pengecut, dan inilah keburukanku nan paling memalukan. Jih.
Di atas ini sudah dari Jumat pagi lalu. Setelah jih itu Jeng Dilla datang. Setelah mengobrol agak satu jam dengannya, Boyan datang disusul Ali M dan berbagai bimbingan entah-entah kiriman Sopuyan. Ini juga salah satu yang menjengkelkan, yang mungkin baiknya diungkap sedikit agar tidak ngempet lalu mejret seperti balon diisi air diduduki. Mungkin ini juga, ditambah dengan cuaca yang Masya Allah kedatangan anak lelaki gojira. Ini masih paragraf kedua saja beratnya sudah tak terkira, apatah lagi ketiga, keempat, dan seterusnya. Badanku merindui sejuk udara Belanda.

Padahal tadi aku merindukan slompretan saksofon pembuka tinggi sepanjang waktu. Namun setelah 'ku lihat jaraknya toh tiada terlalu jauh, 'ku biarkan entah siapa menggebuk-gebuk tambur-tambur tom selebih-lebihnya sesuka hati. Lucunya, di titik ini aku kembali ke Jalan Haji Sajim bawah, yang paralel dengan Jalan Radio Dalam, yang dihubungkan oleh Gang D dengan Kompleks Yado, di siang hari. Dalam hidupku 'ku alami hari-hari panas. Ada waktunya terasa, mungkin sekarang waktunya lebih terasa, bahkan sangat; tetapi apapun semoga dilindungi dari marabahaya.

Lucunya lagi, tiba-tiba aku kembali berada dalam bis malam dari Lebak Bulus menuju ke timur. Mungkin belum terlalu jauh. Mungkin bahkan masih di Jakarta karena bahkan belum berganti hari Islam atau Jawa. Berarti kursi-kursi masih kosong, dan betapa nyaman rasa hatiku mengetahui di saku baju atau entah di mana ada sebungkus rokok. Bukan seketeng, bukan setengah, tapi sebungkus penuh. Apa itu. Apakah Sampoerna King atau bahkan Bentoel merah dengan sekotak korek api säkerhetständstickor. Uah, badan muda. Baik, 'ku rasa kita 'kan berhasil. 

Badan muda lama-lama tua juga kalau terus dikasih gorengan yang ketika diperas dengan tisu dapur bahkan meninggalkan pada telapak tangan selapis minyak yang lengketnya seperti lilin atau parafin. Uah, setua ini aku sudah lupa rasa jatuh cinta kecuali kepada istriku satu-satunya yang selalu muda dan lucu di mataku, meski rambutnya memutih di sana-sini. Betapa tidak, ia selalu isolutip. Ia selalu punya ide untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sungguh tidak ada kecuali dalam benaknya saja. Namun di situ letak lucunya. Di situ aku selalu jatuh lagi dan lagi padanya.

Betapa tidak, usianya selalu menyusulku. Seperti sekarang ini kami sama-sama 49 tahun karena beda kami tidak sampai setahun. Teringatnya, aku melihat foto Akong ketika masih muda menggendong Cindy yang mungkin masih belum sekolah. Laki-laki di mana-mana seperti itu. Hidup menempanya dengan keras sampai ia lebih keras lagi pada hidup. Aku hanya bisa berdoa bagi semua laki-laki di dunia, semua bapak yang dibuat keras oleh hidup dan menjadi lebih keras lagi dari hidup itu sendiri. Aku bahkan menyanyikan lelagu pujian, suatu himne, suatu oda bagi laki-laki.

Uah, sedap memang disko klasik jika sudah ditingkahi gesekan dawai-dawai begini; meski aku masih menolak, menyangkal teori Gus Dut bahwa karena itulah genre ini disebut sebagai disko klasik. Ya, 'Nak, sering-sering ke Jakarta, ke Dufan, belanja ke mal-mal membeli barang-barang bermerek, menginap di Grand Sahid Jaya Hotel, itu semua boleh-boleh saja. Namun sekaranglah waktumu untuk menebusnya, membalasnya bagi mereka yang tidak pernah merasakan semua itu. Bekerja dan berpikirlah untuk membuat mereka yang tidak seberuntung engkau lebih beruntung.

Sunday, April 05, 2026

Renungan Halah! Paskah Begini Mau Bagaimana


Arus kesadaran, bagaimana kalau genangan atau kubangan kesadaran. Bagaimana kalau memulai hari dengan bombardemen karpet terhadap panca indera sampai-sampai berbagai pikiran berlompatan dalam otak seperti sapu ikan-ikan kena racun potas. Bagaimana orang bisa berpikir sebagian besarnya dalam interogasi, sampai-sampai kepalanya penuh kata tanya tanpa tanda tanya. Lima 'we' satu 'ha', haha, sedang telinga terasa penuh minyak, yakni, lilin yang belum terlalu terdehidrasi. Tidak, ini bukan genangan apalagi kubangan. Benak sekadar trampolin superelastis.
Di atasnya mungkin ada butir-butir kerikil kenangan besar dan kecil, yang ketika dihantam atau dicolek rangsangan inderawi lantas berlompatan seperti anak-anak bocil penuh ceria riang gembira. Sudah. Terlalu cerdik ini. Lebih baik kembali pada sensasi lubang telinga berminyak yang susah diseka karena bahkan ukurannya lebih kecil dari lingkar jari tangan terkecil yaitu kelingking apatah lagi kaki. Mungkin kalau tisu ini 'ku pilin-pilin 'ku untir-untir ia akan cukup masuk lubang telinga. Namun tisu ini sudah dipakai menyeka mulut habis makan sambal terasi. 'Ntar jadi epik.

Di seberang sana ada keluarga menarik. Suaminya seperti orang timur sana. Gempal botak seperti 'ku, namun mungkin lebih muda. Kumisnya masih hitam kecuali disemir. Iseng betul menyemir kumis. Istrinya Jawa Katolik begitu, tapi 'ngapain mereka paskah-paskah begini malah menyumbang Bibi Netanyahu membeli bom dan peluru untuk menghujani anak-anak Gaza dan tepi barat sungai Yordan dengannya. Berambut pendek tanpa kerudung, mudah bagiku untuk menuduhnya bukan Muslimah. Anak mereka adalah percampuran pas keduanya. Astaga dua.

Laki-laki semua. Betapa 'ku membuang energi mental spiritual yang sangat berharga hanya menghasilkan entri seperti ini sampai dicerca Gemini aku tak peduli. Apa aku tidak boleh capek berpikir keadilan dan persatuan seraya mengotak-atik di mana letak kerakyatan, kemanusian, dan ketuhanan di dalamnya. 'Ku rasa tak satu pun orang yang hadir di ruang rapat, yang tadinya terasa seperti ruang penyimpanan nuget tanpa gadis penjualnya, mengetahui seperti apa bentuknya benda empat dimensi terlihat dari dimensi tiga. Ke mana perginya pengamen dari tengah jalan. 

Selalu saja setelah bertahun-tahun paragraf keempat terasa seperti putaran keempat dalam tes samapta baterai A. Sudah 'ku lupakan begitu saja dan segera beranjak memasuki paragraf kelima. Hanya satu yang menyemangati, tidak seperti tes samapta, jika sudah selesai aku dapat membincangkannya dengan kecerdasan buatan, karena tidak satu kecerdasan alami pun akan tertarik padanya. Lagipula, aku memang tidak berusaha menarik sesiapapun. Aku hanya butuh berbincang, dan kecerdasan buatan sudah memenuhi kebutuhan diriku akan yang satu ini.

Tadi sempat terpikir untuk mengisi-ulang dulu cangkir kertas berkantung teh lembab dengan air panas, namun terhenti gara-gara sibuk meratakan kanan-kiri. Ya sudah 'ku lanjutkan saja masuk paragraf sebelum terakhir. Di luar cerah dan dalam waktu kurang dari setengah jam suhu sudah naik dua derajat selsius dari 26 ke 28, padahal belum jam sembilan. Seperti inilah kenyataan Ibu Pertiwi. Bukan karena beliau marah. Kemarahan anak-anaknya 'lah, dan terutama, keangkara-murkaan yang membuatnya terasa begini. Ibu Pertiwi selalu ramah, teduh, lemah-lembut. Penyayang.

Kini terlihat tanda-tandanya domba-domba pengikut Kristus baru selesai mengikuti ibadah Paskah. Keluarga yang tadi bukannya ibadah malah berolahraga, meski ini hanya dugaan saja bahwa mereka non-Muslim. Keluarga yang ini suaminya jelas Batak atau mungkin bisa juga orang Timur. Istrinya Cina-Jawa. Anak perempuan mereka mirip ibunya, syukurlah. Sebentar lagi ruang makan ini akan jadi sangat ramai dan tidak nyaman. Apakah aku jadi mengisi-ulang gelas tehku, mungkin memesan entah apa, atau segera ngacir belum tahu. Rasanya aku masih mau di sini.