Kekasihku, aku tak pernah berbuah. Memangnya aku Zheng He tak berbuah. Tergantung apakah kau memandangnya sebagai buah atau biji. Di titik inilah berdatangan Adi, Bu Dina, lalu Riki. Memang kalau urusannya sama Boyan ya begini ini. Ya, 'gak, 'Gar. Ya sutra lah, les duit again. Aku makan siang di ruang makan. Memang tidak adil menyalahkan ini sepenuhnya pada Boyan, karena yang paling salah ya Cassandra. Di titik ini, datanglah makan siangku, daging sapi kemakmuran, kentang goreng keriting, segelas kecil milo dengan sedikit es. Makan siangku dulu.
Hujan deras tiba-tiba saja reda. Selesai makan tadi sebenarnya aku ingin segera bergeser, namun hujan turun begitu derasnya. Itulah maka 'ku siapkan Hype-R X8 OLED, bahkan sampai jez halus dari 1980-an. Namun hujan deras begitu saja berhenti. Tadinya sempat juga terpikir untuk lanjut mengetak-ngetik di ruang makan ini. Namun waktu telah menunjukkan pukul 13.17, sedang aku belum pernah shalat di sini. Maka begitu saja 'ku putuskan untuk berkemas dan menyongklang VarioSua pulang. Di rumah orong-orong bangkok makan GBR 'ku tambahi kentang.
Sesampai di rumah ternyata aku tidak langsung shalat, malah menonton Ken dan Grat makan makanan laut peranakan. Selebihnya aku lupa menonton apa lagi karena mengantuk bukan buatan. Akhirnya daku putuskan untuk segera shalat dan tidur sejenak. Waktu itu sudah sekitar jam dua siang. Aku tidur-tidur ayam kampus sekitar sejam, hanya untuk terbangun lagi dan kembali ke depan tivi. Selebihnya aku tiada begitu ingat apa yang 'ku kerjakan sampai menjelang Maghrib ini, kecuali jez alus '90-an membuatku merasa seperti ingin mengetik lagi, kali ini di kamar.
Yang perlu 'ku catat di sini, Bu Tri Hayati meninggal pagi ini, salah seorang yang baik dan sayang padaku. Cukup banyak kenanganku mengenai beliau. Betapa beliau memberiku Rp 50,000 di tahun 1999 hanya karena menyanyikan agak berapa lagu Beatles ketika beliau sekeluarga makan malam di Mie Berkat Margonda. Betapa aku jadi Jemsbon di Amsterdam Centraal karena sweater beliau tertinggal di kereta. Aku berlari balik ke kursi kami. Sweateritu benar masih tergantung di sana. Aku pun turun melompat kar'na kereta sudah berjalan.
That's the way, aha, aha, I like it: Rock 'n roll! juga Terajana. Begitulah. Sorenya, Ibu memintaku untuk mengirim pulang VarioSua. Memang perpisahan adalah pasangan dari perjumpaan, dan tidak perlu menangis apalagi menyesali yang manapun. Seperti sekarang ini, berkumandang adzan Maghrib dari mana-mana, sahut-menyahut. Sesuatu yang harus disyukuri, diresap-sesapi, dinikmati tiap detiknya. Ingatlah selalu betapa keringnya negeri Belanda dari yang seperti ini. Entah bunyi-bunyian apa waktu di sana. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, 'nyanyi Ryan.
Di kejauhan kedasih bernyanyi dengan kicaunya yang belum lengkap, masih hanya cuit cuit cuit. Kelihatanya ia mendekat karena bunyinya makin keras. Jika kau baca entri-entri lamaku, maka kau akan tahu betapa aku sangat menyukai permainya rumahku ini di tepi Cikumpa, meski hutan bambunya sudah lama hilang. Ya, ada kalanya aku sangat merindukan gisik-desir dedaunan bambu. Namun, seperti tadi, sekitar 13 tahun lalu kami berjumpa, sudah barang lima tahunan ini kami berpisah. Begitu saja selalu. Rindu tinggal merindu asal jangan sampai mendendam.
Dulu sempat terpikir, setelah selesai masa bakti VarioSty berganti mobil. Setua ini, mobil semakin tidak terpikirkan. Jangan sampai 'ku beritahukan apa yang selalu terpikir olehku kini. Bahkan pada diriku sendiri pun tak. 'Ku tepis-tepis 'ku elakkan tiap kali pikiran itu datang. Aku terlahir masa-bodoan. Puji Tuhan, sulit bagiku untuk mempersulit orang. Lagipula, kesulitan itu tidak lantas berarti dipersulit. Itu hanya persepsi saja. Namun ini hanya bagiku. Bagi siapapun selebihnya, jika bisa mudah mengapa harus sulit. Bahkan dipersulit slilit saja tak satu pun sudi. Syulit.
Hujan deras tiba-tiba saja reda. Selesai makan tadi sebenarnya aku ingin segera bergeser, namun hujan turun begitu derasnya. Itulah maka 'ku siapkan Hype-R X8 OLED, bahkan sampai jez halus dari 1980-an. Namun hujan deras begitu saja berhenti. Tadinya sempat juga terpikir untuk lanjut mengetak-ngetik di ruang makan ini. Namun waktu telah menunjukkan pukul 13.17, sedang aku belum pernah shalat di sini. Maka begitu saja 'ku putuskan untuk berkemas dan menyongklang VarioSua pulang. Di rumah orong-orong bangkok makan GBR 'ku tambahi kentang.
Sesampai di rumah ternyata aku tidak langsung shalat, malah menonton Ken dan Grat makan makanan laut peranakan. Selebihnya aku lupa menonton apa lagi karena mengantuk bukan buatan. Akhirnya daku putuskan untuk segera shalat dan tidur sejenak. Waktu itu sudah sekitar jam dua siang. Aku tidur-tidur ayam kampus sekitar sejam, hanya untuk terbangun lagi dan kembali ke depan tivi. Selebihnya aku tiada begitu ingat apa yang 'ku kerjakan sampai menjelang Maghrib ini, kecuali jez alus '90-an membuatku merasa seperti ingin mengetik lagi, kali ini di kamar.
Yang perlu 'ku catat di sini, Bu Tri Hayati meninggal pagi ini, salah seorang yang baik dan sayang padaku. Cukup banyak kenanganku mengenai beliau. Betapa beliau memberiku Rp 50,000 di tahun 1999 hanya karena menyanyikan agak berapa lagu Beatles ketika beliau sekeluarga makan malam di Mie Berkat Margonda. Betapa aku jadi Jemsbon di Amsterdam Centraal karena sweater beliau tertinggal di kereta. Aku berlari balik ke kursi kami. Sweateritu benar masih tergantung di sana. Aku pun turun melompat kar'na kereta sudah berjalan.
That's the way, aha, aha, I like it: Rock 'n roll! juga Terajana. Begitulah. Sorenya, Ibu memintaku untuk mengirim pulang VarioSua. Memang perpisahan adalah pasangan dari perjumpaan, dan tidak perlu menangis apalagi menyesali yang manapun. Seperti sekarang ini, berkumandang adzan Maghrib dari mana-mana, sahut-menyahut. Sesuatu yang harus disyukuri, diresap-sesapi, dinikmati tiap detiknya. Ingatlah selalu betapa keringnya negeri Belanda dari yang seperti ini. Entah bunyi-bunyian apa waktu di sana. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, 'nyanyi Ryan.
Di kejauhan kedasih bernyanyi dengan kicaunya yang belum lengkap, masih hanya cuit cuit cuit. Kelihatanya ia mendekat karena bunyinya makin keras. Jika kau baca entri-entri lamaku, maka kau akan tahu betapa aku sangat menyukai permainya rumahku ini di tepi Cikumpa, meski hutan bambunya sudah lama hilang. Ya, ada kalanya aku sangat merindukan gisik-desir dedaunan bambu. Namun, seperti tadi, sekitar 13 tahun lalu kami berjumpa, sudah barang lima tahunan ini kami berpisah. Begitu saja selalu. Rindu tinggal merindu asal jangan sampai mendendam.
Dulu sempat terpikir, setelah selesai masa bakti VarioSty berganti mobil. Setua ini, mobil semakin tidak terpikirkan. Jangan sampai 'ku beritahukan apa yang selalu terpikir olehku kini. Bahkan pada diriku sendiri pun tak. 'Ku tepis-tepis 'ku elakkan tiap kali pikiran itu datang. Aku terlahir masa-bodoan. Puji Tuhan, sulit bagiku untuk mempersulit orang. Lagipula, kesulitan itu tidak lantas berarti dipersulit. Itu hanya persepsi saja. Namun ini hanya bagiku. Bagi siapapun selebihnya, jika bisa mudah mengapa harus sulit. Bahkan dipersulit slilit saja tak satu pun sudi. Syulit.


No comments:
Post a Comment