Monday, January 12, 2026

Kopa, Kopakabana. Titik Terpanas di Utara Habana


Daripada suasana hati berubah, segera 'ku ketuk-ketuk papan-kunci untuk mengitiki, meski belum diberi gambaran apalagi judul. Bahkan jalur suara belum lagi dibunyikan. Aku masih kurang sreg apakah ini suasana yang tepat untuk Penelope bergayut pada bahuku. Sudah pukul sembilan pagi di tepi Cikumpa. Berarti sudah lebih dari 24 jam matahari enggan muncul di bilangan Jabodetabek, bahkan mungkin lebih. Aku ingat Sabtu kemarin, sambil membelikan cantik mesin cuci, awan tebal berarak-arak di langit. Ada sedikit dorongan merinci kondisi cuaca, namun enggan terasa di hati.
Akhirnya 'ku biarkan juga Penelope menyenandung lirih di telingaku. Setelahnya aku bangkit sebentar mengambil sarung. Cantik masih mendengkur. Lagipula seluruh rumah memang rasanya seperti baru lepas subuh meski sudah jauh siang begini, kalau saja lampu-lampu tak 'ku hidupkan. Di meja tulisku ini, lampu meja 'ku nyalakan, sedang aku berjakut bersarung begini. Bahkan kakiku 'ku alasi dengan keset kamar mandi. Ini waktu yang tepat memang untuk membiarkan Penelope bermanja menggelayut. Sama sekali tak apa karena memang tak berbobot.

Mungkin ketika Insya Allah aku berulang tahun yang ke-50 menurut perhitungan surya, aku 'kan baca lagi entri ini sambil membayangkan betapanya. Memang seperti ini saja hidup di dunia. Akhir dan awal tahun Gregorian dingin, pertengahannya mungkin aku bisa terpaksa membeli AC. Burung mekanik kecil kesayangan ibuku baru saja berlalu. Aku takkan mungkin sanggup melupakanmu. Di sinilah Grumman G-21 Goose yang sekarang bersemayam di Pangkalan Udara Suryadarma Kalijati menjadi relevan. Aku takkan mungkin sanggup melupakanmu, angsa [ya] amfibi...

Apalagi dengan melodi mungil dalam bahasa Perancis seperti ini. Uah, mengapa diteruskan oleh Elvira Madigan. Aku tidak suka dengan ceritanya. Ini mirip dengan Gagak Betawi gubahan Tuan Petro. Atau mungkin memang dari situ ilhamnya. Bedanya, seorang perwira kavaleri [atau hussar] jatuh cinta pada Elvira Madigan si perempuan dari pertunjukan keliling; sedangkan seorang perempuan [indo?] Belanda jatuh cinta pada si bajingan kecu berjuluk Gagak Betawi. Pokoknya akhirnya sama. Mereka berempat mati, meski tak dengan cara Tuan Petro.

Gila, tragis betul nasib suami-istri itu beserta anaknya sekali. Tuan Petro mati gantung diri. Miss Kecubung mati terbakar bersama dengan gedung opera. Anak mereka digugurkan Miss Kecubung dengan cara makan durian dan main ceki tiap malam. Sia'ul, mengapa begini benar pengetahuan dan ingatanku. Mengapa tidak bisa kembali saja aku ke tak-berdosanya apron timur. Ah, di sana pun aku sudah berdosa meski belum sepenuhnya tahu itu apa. Daftar-main berjudul kenangan ini apa, apakah penyesalan atau sekadar melankolia nostalgia berbalutkan instrumentalia.

Ah, nyanyian musim semi. Aku yang diberi kesempatan tinggal di Eropa agak beberapa tahun karena memang aku yang sebegitunya pada Paul Mauriat dan sebangsanya itu; agar aku dapat betul-betul merasakan, menghayati, mengapa Monsieur Mauriat menggubah dan mengaransir melodi-melodi begitu rupa. Cuma itu alasannya. Hanya untuk menambah koleksi kenangan akan mimpi-mimpi. Dihujani peluru senapan mesin di Plempungan, dihujani rintik salju di Maastricht persama Pim dan Ploi, apalah bedanya. Aku toh kembali lagi ke meja tulisku di tepi Cikumpa sini.

Padahal aku hanya sayang sekali pada Bapak Ibuku, pahlawan-pahlawanku. Diponegoro sampai Ahmad Yani boleh pahlawan, tapi tidak ada yang mengatasi Bapak Ibuku. Aku memuja mereka berdua tak kurang suatu apa jua. Ya, tentu mereka manusia, tapi bagiku mereka sempurna bahkan dengan segala kekurangan dan kelemahan manusiawi mereka. Siapa lagi yang mengajariku menjadi lelaki sejati, siapa yang mengenalkan pada indahnya melodi-melodi. Aku adalah Bapak Ibuku sampai aku tidak tahu lagi siapa aku, dan aku tidak peduli. Ini aku apa adanya bapak Ibuku.

No comments: