Apa peduliku jika ini adalah ulang tahunku yang kesebelas, maka 'ku melompat saja ke baru-baru ini, beberapa tahun lalu. Dirimu Qodir temannya Yaqut, Nusron dan anak-anak PMII selebihnya. Aku tidak suka dikenal sebagai gimin dan identitasku yang ini tidak pernah memberikan padaku keuntungan dalam bentuk apapun. Dirimu Qodir ternyata dilanjut dunia cinta, dan ini adalah dunia setelah Akung seda. Apa rasaku ketika itu. Semasygul inikah, atau justru sedang berbunga-bunga maka tertahankan. Sudah 39 tahun berlalu, sudah 5 tahun berlalu. Apa artinya.
Lantas Hemi Pesulima. Hemi bukan Helmi! Baru 'ku sadari, sampai sekitar umur 8 tahun aku tidak pernah benar-benar menonton ria-ria, apakah aneka atau kamera. Selekta pop lebih tidak yakin lagi. Tapi aku tahu telerama, candra kirana, dari masa ke masa. Album minggu ini lebih pasti karena diputar di siang hari Minggu, meski kemungkinan besar sambil lalu. Lebih baik aku becakap dengan George Stephenson, Jacques Yves Cousteau, bahkan Hannibal dan Marco Polo. Tante Ermy begitu saja beranu gerah. Mungkin karena ia pakai celana dalam. Dilepas saja, Tante.
Jika anak gadisku merasa fakta adiknya meminum susu jandanya Bang Topik tidak lucu, itu pertanda baik. Yang seperti ini bisa memicu komentar mengenai alis tinggi-alis rendah lagi. Terserah 'lah padanya. Suasana yang sangat menarik, yakni, hari-hari pertama di kelas terakhirku di sekolah dasar. Oh, aku memang pembual keparat. Setidaknya dua kali aku membohongi kakekku, yakni, mengenai Lodoyo dan sabung ayam, sekali lagi Jalan Merapi di Yogya. Oh, tiada bisa 'ku lupa komentar kakekku: berarti orang tuanya tentara. Betapa maluku. Betapa menyesal. Maafkan.
Mungkin di sekitar waktu ini juga sering terdengar mengenai puding pestaa di radio, yang belum sekalipun 'ku cicipi sampai tidak diproduksi lagi. Betapa banyak produk yang iklannya terpatri dalam ingatan, yang tidak pernah 'ku konsumsi sampai produk-produk itu tidak beredar lagi. Namun aku selalu merindukan shampo sunsilk berbotol bening itu, yang labelnya justru di bagian dalam botol. Sampai hari ini masih teringat keharumannya. Aku memang suka harum-haruman. Selain itu aku juga tertarik pada telefon kepala aktif pembatal kebisingan lima ratus ribuan.
Kata cantik teknologi memang makin lama makin murah. Bisa jadi. Stereo nirkabel sejati yang lima tahunan lalu rasa-rasanya mustahil terjangkau sekarang menjadi kenyataan sehari-hariku, meski bau minyak telinga yang bisa jadi memuakkan jika tercium tidak oleh empunya telinga sendiri. Jadi, selain intisuara A20i, haruskah 'ku miliki Havit H668BT, Milik, milik, milik menggendong lupa! Memang aku masih bisa mendengar decit derit ketika orang di depanku menggeser-geser kursi. Lantas? Aku masih bisa mendengar suara Kak Imaniar baik-baik saja. Tidak menjadi masalah.
Memang pepatah lama selalu manjur dalam situasi begini: Cinta tidak berarti harus memiliki. Suka bukan lantas berarti menguasai. Lagipula apa itu cinta dan suka. Kau hanya ingin sendiri dan menyendiri. Kebutuhanmu akan dua hal itu besar sekali, sedang kemaluanmu kecil. Memang itulah paradoks manusia dengan kekuatan dan kelemahannya, kekurangan dan kelebihannya. Ingat, apapun yang bagus ketika diberi imbuhan ke- -an menjadi sebaliknya. Misal: bagus jadi kebagusan, cakap jadi kecakapan, pintar jadi kepintaran. Kalau begini terus kapan selesainya, kata pak guru.
Sebentar. Mau sumpal telinga, mau telefon kepala, kalau dipakai lama-lama pasti membuat tak nyaman. Biarlah mulutku yang 'ku jejali seperti Jimbung menjajli mulutnya dengan cistik banyak-banyak, dengan kedua belah tangannya, karena Mas O dan Mas Djo ikut berebut cistik yang dituangkan bude cantiknya. Aduhai, maminya, budenya, dan tentu bude cantiknya dulu pernah lucu seperti Jimbung. Namun kehidupan dunia ini, aduhai, seperti kata Harry Mukti, dalam kegelapan. Aku si benda gelap ini bisa apa. Terang hanya bila memantulkan cahaya, harus bersih dari jelaga.
Lantas Hemi Pesulima. Hemi bukan Helmi! Baru 'ku sadari, sampai sekitar umur 8 tahun aku tidak pernah benar-benar menonton ria-ria, apakah aneka atau kamera. Selekta pop lebih tidak yakin lagi. Tapi aku tahu telerama, candra kirana, dari masa ke masa. Album minggu ini lebih pasti karena diputar di siang hari Minggu, meski kemungkinan besar sambil lalu. Lebih baik aku becakap dengan George Stephenson, Jacques Yves Cousteau, bahkan Hannibal dan Marco Polo. Tante Ermy begitu saja beranu gerah. Mungkin karena ia pakai celana dalam. Dilepas saja, Tante.
Jika anak gadisku merasa fakta adiknya meminum susu jandanya Bang Topik tidak lucu, itu pertanda baik. Yang seperti ini bisa memicu komentar mengenai alis tinggi-alis rendah lagi. Terserah 'lah padanya. Suasana yang sangat menarik, yakni, hari-hari pertama di kelas terakhirku di sekolah dasar. Oh, aku memang pembual keparat. Setidaknya dua kali aku membohongi kakekku, yakni, mengenai Lodoyo dan sabung ayam, sekali lagi Jalan Merapi di Yogya. Oh, tiada bisa 'ku lupa komentar kakekku: berarti orang tuanya tentara. Betapa maluku. Betapa menyesal. Maafkan.
Mungkin di sekitar waktu ini juga sering terdengar mengenai puding pestaa di radio, yang belum sekalipun 'ku cicipi sampai tidak diproduksi lagi. Betapa banyak produk yang iklannya terpatri dalam ingatan, yang tidak pernah 'ku konsumsi sampai produk-produk itu tidak beredar lagi. Namun aku selalu merindukan shampo sunsilk berbotol bening itu, yang labelnya justru di bagian dalam botol. Sampai hari ini masih teringat keharumannya. Aku memang suka harum-haruman. Selain itu aku juga tertarik pada telefon kepala aktif pembatal kebisingan lima ratus ribuan.
Kata cantik teknologi memang makin lama makin murah. Bisa jadi. Stereo nirkabel sejati yang lima tahunan lalu rasa-rasanya mustahil terjangkau sekarang menjadi kenyataan sehari-hariku, meski bau minyak telinga yang bisa jadi memuakkan jika tercium tidak oleh empunya telinga sendiri. Jadi, selain intisuara A20i, haruskah 'ku miliki Havit H668BT, Milik, milik, milik menggendong lupa! Memang aku masih bisa mendengar decit derit ketika orang di depanku menggeser-geser kursi. Lantas? Aku masih bisa mendengar suara Kak Imaniar baik-baik saja. Tidak menjadi masalah.
Memang pepatah lama selalu manjur dalam situasi begini: Cinta tidak berarti harus memiliki. Suka bukan lantas berarti menguasai. Lagipula apa itu cinta dan suka. Kau hanya ingin sendiri dan menyendiri. Kebutuhanmu akan dua hal itu besar sekali, sedang kemaluanmu kecil. Memang itulah paradoks manusia dengan kekuatan dan kelemahannya, kekurangan dan kelebihannya. Ingat, apapun yang bagus ketika diberi imbuhan ke- -an menjadi sebaliknya. Misal: bagus jadi kebagusan, cakap jadi kecakapan, pintar jadi kepintaran. Kalau begini terus kapan selesainya, kata pak guru.
Sebentar. Mau sumpal telinga, mau telefon kepala, kalau dipakai lama-lama pasti membuat tak nyaman. Biarlah mulutku yang 'ku jejali seperti Jimbung menjajli mulutnya dengan cistik banyak-banyak, dengan kedua belah tangannya, karena Mas O dan Mas Djo ikut berebut cistik yang dituangkan bude cantiknya. Aduhai, maminya, budenya, dan tentu bude cantiknya dulu pernah lucu seperti Jimbung. Namun kehidupan dunia ini, aduhai, seperti kata Harry Mukti, dalam kegelapan. Aku si benda gelap ini bisa apa. Terang hanya bila memantulkan cahaya, harus bersih dari jelaga.


No comments:
Post a Comment