Tuesday, January 13, 2026

Bukan Elvira, Maya, Elsa, atau Kevin. Tapi Cantik


Sungguh menarik, kembali ke pojokanku lagi di sini, di ruang makanku, tetapi di hari petang. Tadi sempat dipakai orang. Namun, senyampang menyiapkan laptop, dari sudut mataku terlihat pojokanku telah kosong. Tanpa babibu 'ku pindahkan semuanya, meski rempong. Segala saus, segala strook, segala nomor antrian, semua 'ku pindahkan ke pojokanku. Ketika aku sudah sampai di baris keenam ini, begitu saja Fero Chinta menghampiriku dan berkata: Aku antar kentang dan minumannya dulu ya, 'Pak. Padahal belum lama ini aku baru melahap mie pangsit rebus.
Di Magelang dulu, 32 tahun yang lalu, jam segini, 19.00, seharusnya waktu makan malam telah selesai. Aku seharusnya sudah melenggang-kangkung, secara sudah mayor, ke kelas atau ke perpus. Mungkin ke kelas dulu meletakkan tas, baru ke perpus. Uah, apa susahnya hidup jaman segitu, tiada yang ditakutkan. Jangankan bolos olahraga pagi, bolos sekolah pun aku tiada takut ketika itu. Bahkan pamong graha, bila memeriksa Graha 5, cukup memanggil namaku, Rully, lalu beliau akan berkata: lengkap. Maksudnya, lainnya pasti di kelas kecuali kami. Begitu koq masuk Akabri.

Rully masuk Akmil dengan nomor akademi terkecil. Aku masuk AAL nomor dua di belakang Teguh, nomor satu di Korps Pelaut. Rully sekarang Kepala Seksi Logistik Komando Resor Militer 052/ Wijayakrama. Aku seekor Lektor alias Asisten Profesor bidang Hukum Publik Adat di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Padahal, gara-gara Steven Seagal kami pernah berkhayal menjadi pasukan katak dan memacari Elsa dan Kevin Nasution. Aku, setidaknya, benar-benar masuk AAL dan istriku sekarang memang boru Nasution. Rully entahlah. 'Moga sehat lahir batin.

Atas kebaikan hati almarhum Bang Idon dan Sofyan, aku diperbolehkan mengembangkan bidang kajian 'baru' yang 'ku beri nama Hukum Publik Adat. Jadi aku bisa tetap ber-hukum tata dan tata-usaha negara sembari ber-adat. Eh, ada satu kesamaanku dengan Rully, selain sama-sama pemalas waktu SMA dulu, yakni, kini kami sama-sama sarjana hukum. Namun urusanku dengan Rully memang tidak pernah lebih dari makan-makan dan berkhayal. Seingatku Rully dulu makan banyak juga namun tetap kurus. Aku makan banyak juga namun tetap gendut hingga sekarang.

Agar jangan menjadi entri mengenai Rully, baik dialirkan kesadaran ke jurusan lain. Mungkin ada yang bertanya (halah!) mengapa bidang kajian hukum publik adat tidak baru. Malas pun aku menjawabnya. Ikut saja kuliah-kuliahku, atau lebih baik, baca buku-buku. Aku sendiri belum lagi menulis buku, malah menulis-nulis entah-entah begini setiap hari. Kemarin-kemarin begitu caraku memaksa diri melakukan sesuatu yang berguna, yakni, dengan habis-habisan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Seperti mengetik-ngetik ini. Lama-lama muak. Lama-lama malu.

Sebelum kau sadar, tiba-tiba aku sudah mengerjakan sesuatu yang berguna. Namun itu kemarin-kemarin. Apakah tip dan trik seperti ini masih akan terus manjur, masih harus dilihat. Jelasnya, aku sedang menikmati petang di ruang makanku. Memang bukan ruang makan pribadi, karena aku harus berbagi dengan sembarang orang asing. Namun ruang makan ini terasa seperti ruang makanku. Dengan mejanya yang pas tingginya. Tidak seperti meja Flash Coffee yang membuat sakit punggung. Meja ini pas untukku mengetik bahkan sudah sejak memakai HP-11CB-ku.

Entah bagaimana, entri ini menjadi relatif koheren. Apakah akan terus seperti ini. Apa kembali seperti entri-entriku sampai sekitar sepuluh tahunan lalu. Atau ini sekadar pengaruh ruang makan yang suasananya tidak bisa dibilang nyaman tapi bisa dinikmati ini. Seperti dayang-dayang yang ditemui Kapten Mlaar, ruang makan di mana-mana sama, tidak nyaman tapi nikmat. Akankah 'ku bawa pulang makanan-makanan yang keuntungan dari penjualannya dibuat pembeli munisi senjata ringan dan bom dan peluru kendali. Saat ini, rasanya tak sanggup jika harus habiskan.

No comments: