Monday, January 19, 2026

Balada Upil Basah Tejentik Terkapar di Aspal Jalan


Tadi segala ide untuk membuka entri berlompatan seperti ikan kena potas, sampai segala Maissy jumpa lagi. Sekarang aku akan membukanya dengan: Kasihan upilku, seperti rencana semula. Ya, tadi ketika aku menunggu lampu merah di perempatan Juanda-Margonda [jika dalam Jawa menjadi Yuwono-Margono] aku mengupil. Ya, aku tidak seperkasa Sersan Joker yang memakan upil dari lubang hidung orang mati dan minta lagi. Aku cuma mengorek upil dari lubang hidungku sendiri. Dan itu 'ku lakukan dengan tujuan. Su' pasti karena dalam lubang hidungku gatal.
Yang 'ku sesali, setelah dapat agak segumpal, 'ku jentikkan upil basah itu sampai terkapar mejret menempel di jalanan aspal. Illahi Rabbi, bagian dari diriku sendiri 'ku campakkan begitu saja di tengah liarnya jalanan Depok. Masih mending jika dia segera mengering, berubah menjadi setitik debu, diterbangkan angin lalu sampai ke kota Kansas. Bagaimana jika ketika ia masih agak basah begitu roda-roda kendaraan baik roda-dua, tiga, empat, atau lebih melindasnya. Astaga, tak tega aku membayangkan. Maafkan aku, upilku. Tak seharusnya aku jentikkan kau terkapar di aspal.

Mengapa tidak 'ku leletkan saja engkau pada badan motorku entah di sebelah mana. Kau akan terus menjadi bagian dari diriku meski itu di motor. Kau akan menempel, mengering di situ, mungkin sampai motor itu dicuci; dan itu kau bisa tenang. Aku malas mencuci motor. Entah kapan terakhir 'ku cuci motor wakaf itu. Jika pun kelak kau terlepas dari tempatmu menempel, itu pasti karena hembusan angin lalu, dan kau akan terbang sampai kota Kansas. Aku saja belum pernah sampai sana. Kau akan sampai ke sana, upilku, aku doakan. Maaf jika aku tak menyusulmu.

Aku biar di sini saja, tiap hari menyongklang motor wakaf, yang karenanya jangan dicolong. Motor wakaf ini mungkin satu-satunya warisan almarhum bapakku. Tidak juga. Padaku ada seutas dasi bapak, juga sekantung kering biji pepaya. Pepayanya dulu punyaku, atau setidaknya tumbuh di depan rumah istriku. Buahnya manis sekali, meski aku curiga karena ia tumbuh pada 2015, salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah meteo-klimatologi dunia. Karena manisnya itu, bapak mengumpulkan bijinya dan memintaku untuk menanamnya lagi.

Karena kecurigaanku bahwa manisnya lebih karena ia tumbuh di tahun terpanas itulah, aku tidak pernah melakukannya, menanam kembali biji-biji itu, sampai bapak meninggal. Kini ia tersimpan di lemari bajuku, sekantung kering biji pepaya. Ada juga kaset rekaman akad nikah bapak dan ibu, yang oleh adikku diletakkan dalam sebuah alat yang katanya dapat mengkonversi rekaman pada pita kaset ke dalam berkas digital. Itu pun juga belum 'ku lakukan sudah hampir lima tahun ini. Karena peninggalan bapak yang utama dan terutama tidak lain adalah diriku ini.

Jika aku adalah warisan bapakku yang terutama bagi dunia fana ini, maka pantaskah, ya, patutkah aku menangisi nasib upilku mejret di tengah jalan. Haruskah aku meneruskan perjuangan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia atau tinggal glanggang colong playu. Berhari-hari, berminggu-minggu di musim penghujan ini rasa badanku ya beginilah, di sekitar itulah. Jika aku tidak madep mantep tinggal glanggang colong playu, itu bukan karena aku madep mantep bersetia bela Pancasila demi jaya Indonesia. Itu lebih karena rasa badanku itu tadi.

Cantik masih di Medan-Siantar sampai besok malam. Meski aku tahu, ada tidak ada dia, apapun dapat terjadi. Yang dapat 'ku lakukan sekadar menjaga kesehatan apapun itu. Mungkin memang ini waktu yang tepat untuk mengatakan tidak pada korupsi, korupsi jiwa, korupsi mental. Mungkin memang ini waktunya untuk membenahi. Begitu saja aku ngomyang pada Togar: Mungkin orang yang paling berbahagia adalah orang yang mati dan dikuburkan hanya beberapa meter dari tempat ia dilahirkan. Ia tidak pernah merasakan atau mengalami krisis eksistensial.  

No comments: