Ketika 'ku congklang VarioSua ke sini, 'ku lihat seorang ibu muda sedang menjemur bayinya yang masih merah. Kala itu, langit sudah berawan tebal. Matahari susah-payah mengintip dari sela-selanya, tidak diberi celah pula. Namun tentu matahari tetap perkasa, sehingga pagi hari yang sudah hampir habis ini tetap teranglah. Kini, setelah 'ku santap habis sarapanku dan mulai mengetiki, langit sudah begitu gelapnya; sampai-sampai lampu dalam ruang makan ini terasa menerangi. Di luar, replika sang saka merah putih berkibar-kibar gelisah meski cenderung ke selatan.
Biar 'ku terangkan seterang-terangnya bagaimana aku sarapan. Pertama tentu aku menyiapkan teh hitam. 'Ku buka penutup plastik dari cangkir kertas, 'ku robek pembungkus aluminium kantung teh, 'ku celup-celupkan kantungnya ke dalam cangkir berisi air baru mendidih sampai lumayan gelap. Baru 'ku robek saset kertas berisi gula pasir, 'ku tuang ke dalam air teh, 'ku aduk dengan sendok plastik yang sedianya untuk menyantap nasi uduk. Sebelum gula masuk, 'ku keluarkan dulu kantung teh dan 'ku letakkan pada penutup cangkir, karena kantung itu 'kan 'ku gunakan lagi.
Teh sudah siap, aku beralih pada bungkus sarapan. Pertama, 'ku bongkar tortilla-nya, 'ku buka pula kotak nasi uduk, 'ku keluarkan telur dadar dan ayam suwir darinya, 'ku letakkan di atas telur berkeju berdaging asap tipis isi bungkus sarapan. Dengan isinya yang menggendut, 'ku lipat lagi tortilla, 'ku bungkus lagi dengan kertas pembungkusnya, 'ku sisihkan. Pada titik ini biasanya aku mulai menyeruput teh, sebelum memulai dengan nasi uduk berlauk bawang goreng dan seoles sambal terasi. Di titik ini juga biasanya aku 'kan mempersiapkan petualanganku keliling dunia.
Entah dengan siapa saja, beberapa bulan lalu Benjamin Weaver, lalu Spec 4 Fansworth, sekarang Wiranggaleng, bahkan pernah juga bersama Julian dan adik-adiknya, Richard dan Anne, dan tentu sepupu mereka Georgina dan Timothy. Aku lupa apakah pernah melakukannya, bertualang sambil sarapan, bersama Jupe, Pete, dan Bob. Pokoknya, aku bertualang sambil mengunyah-ngunyah. Setamat nasi uduk, baru 'ku lanjutkan dengan tortilla dulu. Biasanya sambal terasi masih tersisa. 'Ku makan lipatan tortilla dengannya, sedang isinya 'ku simpan dalam kotak bekas nasi uduk.
Torilla ludas, aku beralih pada isinya. Setelahnya baru aku berpaling pada cangkir teh lagi. Pada titik ini biasanya 'ku siapkan alat utama sistem senjataku. Lama 'ku gunakan Hewlett Packard 11 Chromebook, kini Axioo Hype-R X8 Oled. Begitu siap biasanya air teh secangkir sudah habis, tinggal kantungnya teronggok di dasar cangkir, menunggu untuk diisi-ulang dengan air panas. Tapi aku belum melakukannya, karena aku masih sedang mengetik ini. Seturut rasa hatiku, 'kan 'ku selesaikan dulu ketikan tak bermakna namun berupa ini baru isi-ulang cangkirku, cukup air panas.
Terkadang aku sok malu hanya minta air panas, maka 'ku pesan lagi, sekadar sebagai alasan, entah spaghetti saja, atau jika lebih gila, tambah sepotong ayam goreng dada mentok krispi atau pedas sekali. Jarang sekali 'ku makan ayamnya, apalagi sampai habis. Jangan-jangan baru sekali itu 'ku makan, sisanya 'ku bawa pulang 'ku beri makan kambing. Lebih seringnya 'ku bawa pulang utuh, 'ku berikan pada kambing atau bangbung hideung berselang-seling. Namun sepertinya pagi ini aku takkan tahu malu. Aku hanya akan meminta isi-ulang air panas saja. Itu sudah cukup.
Jika 'ku kata cukup, memang sebenarnya sudah tidak ada lagi yang belum 'ku lakukan kecuali minta isi-ulang air panas itu saja. Namun apatah daya masih tersisa satu alinea lagi. Sebuah entri yang patut harus terdiri dari tujuh alinea, masing-masing delapan baris, tepat rata kanan-kiri atau kurang sedikit di sebelah kanan baris ke delapan. Sebentar, jika 'ku katakan kanan, itu karena di situlah letak tangan kananku. Padahal jika menurut layar, ia justru berada di tepi kiri. Begitu pun jika dicetak pada kertas, ia berada pada tepi kiri kertas itu. Lalu mengapa dikata tepi kanan.
Biar 'ku terangkan seterang-terangnya bagaimana aku sarapan. Pertama tentu aku menyiapkan teh hitam. 'Ku buka penutup plastik dari cangkir kertas, 'ku robek pembungkus aluminium kantung teh, 'ku celup-celupkan kantungnya ke dalam cangkir berisi air baru mendidih sampai lumayan gelap. Baru 'ku robek saset kertas berisi gula pasir, 'ku tuang ke dalam air teh, 'ku aduk dengan sendok plastik yang sedianya untuk menyantap nasi uduk. Sebelum gula masuk, 'ku keluarkan dulu kantung teh dan 'ku letakkan pada penutup cangkir, karena kantung itu 'kan 'ku gunakan lagi.
Teh sudah siap, aku beralih pada bungkus sarapan. Pertama, 'ku bongkar tortilla-nya, 'ku buka pula kotak nasi uduk, 'ku keluarkan telur dadar dan ayam suwir darinya, 'ku letakkan di atas telur berkeju berdaging asap tipis isi bungkus sarapan. Dengan isinya yang menggendut, 'ku lipat lagi tortilla, 'ku bungkus lagi dengan kertas pembungkusnya, 'ku sisihkan. Pada titik ini biasanya aku mulai menyeruput teh, sebelum memulai dengan nasi uduk berlauk bawang goreng dan seoles sambal terasi. Di titik ini juga biasanya aku 'kan mempersiapkan petualanganku keliling dunia.
Entah dengan siapa saja, beberapa bulan lalu Benjamin Weaver, lalu Spec 4 Fansworth, sekarang Wiranggaleng, bahkan pernah juga bersama Julian dan adik-adiknya, Richard dan Anne, dan tentu sepupu mereka Georgina dan Timothy. Aku lupa apakah pernah melakukannya, bertualang sambil sarapan, bersama Jupe, Pete, dan Bob. Pokoknya, aku bertualang sambil mengunyah-ngunyah. Setamat nasi uduk, baru 'ku lanjutkan dengan tortilla dulu. Biasanya sambal terasi masih tersisa. 'Ku makan lipatan tortilla dengannya, sedang isinya 'ku simpan dalam kotak bekas nasi uduk.
Torilla ludas, aku beralih pada isinya. Setelahnya baru aku berpaling pada cangkir teh lagi. Pada titik ini biasanya 'ku siapkan alat utama sistem senjataku. Lama 'ku gunakan Hewlett Packard 11 Chromebook, kini Axioo Hype-R X8 Oled. Begitu siap biasanya air teh secangkir sudah habis, tinggal kantungnya teronggok di dasar cangkir, menunggu untuk diisi-ulang dengan air panas. Tapi aku belum melakukannya, karena aku masih sedang mengetik ini. Seturut rasa hatiku, 'kan 'ku selesaikan dulu ketikan tak bermakna namun berupa ini baru isi-ulang cangkirku, cukup air panas.
Terkadang aku sok malu hanya minta air panas, maka 'ku pesan lagi, sekadar sebagai alasan, entah spaghetti saja, atau jika lebih gila, tambah sepotong ayam goreng dada mentok krispi atau pedas sekali. Jarang sekali 'ku makan ayamnya, apalagi sampai habis. Jangan-jangan baru sekali itu 'ku makan, sisanya 'ku bawa pulang 'ku beri makan kambing. Lebih seringnya 'ku bawa pulang utuh, 'ku berikan pada kambing atau bangbung hideung berselang-seling. Namun sepertinya pagi ini aku takkan tahu malu. Aku hanya akan meminta isi-ulang air panas saja. Itu sudah cukup.
Jika 'ku kata cukup, memang sebenarnya sudah tidak ada lagi yang belum 'ku lakukan kecuali minta isi-ulang air panas itu saja. Namun apatah daya masih tersisa satu alinea lagi. Sebuah entri yang patut harus terdiri dari tujuh alinea, masing-masing delapan baris, tepat rata kanan-kiri atau kurang sedikit di sebelah kanan baris ke delapan. Sebentar, jika 'ku katakan kanan, itu karena di situlah letak tangan kananku. Padahal jika menurut layar, ia justru berada di tepi kiri. Begitu pun jika dicetak pada kertas, ia berada pada tepi kiri kertas itu. Lalu mengapa dikata tepi kanan.
Dasar manusia. Antroposentris

No comments:
Post a Comment