Apa yang akan 'ku ceriwiskan, 'ku cuciwiskan di Minggu siang yang bermendung ini. Sekitar 40 tahunan lalu mungkin rumah kecil di tengah padang rumput ilalang atau sudah jalan besar menuju surga baru berakhir. Jika demikian, bisa jadi aku beralih ke dek pita dan buku-buku entah yang mana saja. Bisa seri binatang terbitan CV Rosda Bandung, ada mamalia, reptilia, amfibia, bahkan serangga. Cantik-cantik gambarnya. Bisa juga seri cerita ternama dalam dua warna. Kasetnya lebih bisa apa saja. Namun kalau sambil membaca mustahil sanggar cerita atau warkop.
Setelah ini bisa saja aku melanjutkan temuanku mengenai negara, praja, dan tantra; namun untuk apa. Sekadar agar rasanya seperti menghasilkan sesuatu. Tidakkah cuciwisan ini juga hasil dari sesuatu. Tidakkah ini yang pasti dan tanpa pretensi, yang bukan beban kerja siapapun apalagi dosen. Swadeprekasi ternyata adalah suatu teknik berkesenian. Aku bukan Toby Temple yang dengan wajah imut tak berdosanya menghamburkan sumpah serapah mengenai apapun yang dibencinya. Dari kecil mukaku tidak enak dan mataku 'ngeker seperti mengajak berkelahi; maka berswadeprekasi.
Kesian Opa Dick Bakker ini. Di usia sangat senja ia masih berkarya, merilis rendisi-rendisi terbarunya dari lagu-lagu yang pada jamanku saja sudah jadul, di kanal Youtube-nya. Bagiku yang selalu hidup di masa lalu, rendisi-rendisi itu terdengar jenial dan, terpenting, mutakhir. Namun, bagi awful si bangbung hideung, ia cuma menyahut: "Oh, lagu lama". Dia kata bagus. Itu pun setelah 'ku tanya dengan nada intimidatif: "bagus 'gak?" Aku tiba-tiba merasa sanggup mengalami rasa yang melangutkan jiwa ini [keparat Katon Bagaskara] di halte Uilenstede yang siaga kuning.
Teh tarik halia muliawati tinggal seteguk lagi. Mungkin sejak itulah aku belajar untuk merawat hatiku yang rapuh mudah terharu, mudah tersentuh. Mungkin setelah ini aku harus mengganti celana pendekku yang sudah bau tahi entah sejak kapan. Kulitku, entah bagaimana, tidak mudah tersentuh, dalam arti tidak mudah geli meski dikitiki. Mungkin, seperti Karna, aku terlahir dengan zirah emas meski tanpa anting-anting emas. Itu pun aku tidak mau. Kalaupun ada maka sudah barang tentu akan aku jual. Kini emas mahal sekali harganya, kata cantik. Perak murah.
Uah, baru melodi pembukanya saja aku sudah suka, pahlawan pirang kecil ini, khas Opa Dick dengan harmonikanya. Astaga, akrab sekali tekstur dan warna suara harmonika ini sejak kecilku, betapa indahnya, betapa hangat dan nyaman. Mungkin seperti inilah rasa dekapan sayang ibu ketika ia masih mendekapku. Namun aku dan adik-adikku, begitu pula cucu-cucu ibuku, tidak boleh menjadi anak-anak terlalu lama. Bahkan begitu kami paham pembicaraan, kami tidak lucu lagi. Apalagi aku, kenangan mengenai kasih-sayang ibu ialah masakan enak, musik indah; Itu sudah.
Entah bagaimana juga, aku merasa dididik untuk berpikir bahwa orangtuaku, bapak ibuku, adalah segala-galanya; mau benar atau salah, tetap bapak ibuku. Maka mudah saja bagiku bersikap begitu mengenai negara dan agamaku. Benar atau salah, negaraku. Benar atau salah, agamaku. Uah, celanaku memang sudah bau tahi, slentem-slentem begini semerbaknya. Masa tadi aku sholat dhuhur dengan celana bau tahi begini. Habis ini segera mandi, itu sudah. Toh, nanti pun harus pergi ke rumah Ibu mengantar hama padi. Asal tahu, aku ini bapak dari tiga anak wanita.
Anak-anakku wanita sudah beranjak dewasa. Yang paling tua Insya Allah tahun ini 27 tahun, adiknya 22 tahun, adiknya lagi 19 tahun. Namun itu semua tidak menghalangi celanaku berbau tahi jika sudah 'ku pakai hampir seminggu begini. Aku jadi ingat lagu anak-anak jamanku dahulu: Sapose, kolor babe, baunye aujubile hahaha. Asal tahu saja, aku ini seorang asisten profesor di sekolah hukum terbaik di Republik ini, Republik Fufufafa hahaha. Jika begitu nama republiknya, memang baiknya asisten profesornya, di sekolah hukumnya berbau tahi, celananya.
Setelah ini bisa saja aku melanjutkan temuanku mengenai negara, praja, dan tantra; namun untuk apa. Sekadar agar rasanya seperti menghasilkan sesuatu. Tidakkah cuciwisan ini juga hasil dari sesuatu. Tidakkah ini yang pasti dan tanpa pretensi, yang bukan beban kerja siapapun apalagi dosen. Swadeprekasi ternyata adalah suatu teknik berkesenian. Aku bukan Toby Temple yang dengan wajah imut tak berdosanya menghamburkan sumpah serapah mengenai apapun yang dibencinya. Dari kecil mukaku tidak enak dan mataku 'ngeker seperti mengajak berkelahi; maka berswadeprekasi.
Kesian Opa Dick Bakker ini. Di usia sangat senja ia masih berkarya, merilis rendisi-rendisi terbarunya dari lagu-lagu yang pada jamanku saja sudah jadul, di kanal Youtube-nya. Bagiku yang selalu hidup di masa lalu, rendisi-rendisi itu terdengar jenial dan, terpenting, mutakhir. Namun, bagi awful si bangbung hideung, ia cuma menyahut: "Oh, lagu lama". Dia kata bagus. Itu pun setelah 'ku tanya dengan nada intimidatif: "bagus 'gak?" Aku tiba-tiba merasa sanggup mengalami rasa yang melangutkan jiwa ini [keparat Katon Bagaskara] di halte Uilenstede yang siaga kuning.
Teh tarik halia muliawati tinggal seteguk lagi. Mungkin sejak itulah aku belajar untuk merawat hatiku yang rapuh mudah terharu, mudah tersentuh. Mungkin setelah ini aku harus mengganti celana pendekku yang sudah bau tahi entah sejak kapan. Kulitku, entah bagaimana, tidak mudah tersentuh, dalam arti tidak mudah geli meski dikitiki. Mungkin, seperti Karna, aku terlahir dengan zirah emas meski tanpa anting-anting emas. Itu pun aku tidak mau. Kalaupun ada maka sudah barang tentu akan aku jual. Kini emas mahal sekali harganya, kata cantik. Perak murah.
Uah, baru melodi pembukanya saja aku sudah suka, pahlawan pirang kecil ini, khas Opa Dick dengan harmonikanya. Astaga, akrab sekali tekstur dan warna suara harmonika ini sejak kecilku, betapa indahnya, betapa hangat dan nyaman. Mungkin seperti inilah rasa dekapan sayang ibu ketika ia masih mendekapku. Namun aku dan adik-adikku, begitu pula cucu-cucu ibuku, tidak boleh menjadi anak-anak terlalu lama. Bahkan begitu kami paham pembicaraan, kami tidak lucu lagi. Apalagi aku, kenangan mengenai kasih-sayang ibu ialah masakan enak, musik indah; Itu sudah.
Entah bagaimana juga, aku merasa dididik untuk berpikir bahwa orangtuaku, bapak ibuku, adalah segala-galanya; mau benar atau salah, tetap bapak ibuku. Maka mudah saja bagiku bersikap begitu mengenai negara dan agamaku. Benar atau salah, negaraku. Benar atau salah, agamaku. Uah, celanaku memang sudah bau tahi, slentem-slentem begini semerbaknya. Masa tadi aku sholat dhuhur dengan celana bau tahi begini. Habis ini segera mandi, itu sudah. Toh, nanti pun harus pergi ke rumah Ibu mengantar hama padi. Asal tahu, aku ini bapak dari tiga anak wanita.
Anak-anakku wanita sudah beranjak dewasa. Yang paling tua Insya Allah tahun ini 27 tahun, adiknya 22 tahun, adiknya lagi 19 tahun. Namun itu semua tidak menghalangi celanaku berbau tahi jika sudah 'ku pakai hampir seminggu begini. Aku jadi ingat lagu anak-anak jamanku dahulu: Sapose, kolor babe, baunye aujubile hahaha. Asal tahu saja, aku ini seorang asisten profesor di sekolah hukum terbaik di Republik ini, Republik Fufufafa hahaha. Jika begitu nama republiknya, memang baiknya asisten profesornya, di sekolah hukumnya berbau tahi, celananya.


No comments:
Post a Comment