Saturday, January 24, 2026

Sampai Selesai Belum Berjudul. Begitu Semangatnya


Menulisi itu harus dalam keadaan hati gembira, sekurangnya ringan. Jangan sampai ada yang memberati. Lagipula mengapa sampai memberati, 'kan tinggal dijogeti. Apalah. Tidak. Tinggal pungut saja bolanya, bawa ke pojok berbendera, disempak itu bola sampai minthilir ke tiang jauh gawang. Di sana sudah menunggu Carsten Jancker yang siap menyraundul. Sebenarnya tinggal dioles saja dengan kepala gundul menjulang setinggi langitnya, biar tambah minthilir itu bola. Dengan begitu semakin susah bagi kimper untuk mengentip bola sehingga gaowul.
Apalagi dengan ditingkahi musik piano diorkestrasi begini, makin ringanlah hati. Biar 'ku catat di sini bahwa hari ini menandai berkurangnya kekuatan cuaca ekstrim membadai Jakarta dan sekitarnya. Meski harus diakui, terbangun di pagi hari yang sekadar lebih terang dari malamnya namun tetap bermendung tebal membadai ternyata sama membirunya dengan musim dingin Eropa yang manapun. Dalam keadaan begitu, menyongklang VarioSua pun tidak membawa suasana senang di hati. Gerimis sesekali masih berkepyur membasahi meski berjaket Eiger.

Ah, terserah apa kata siapapun, Presiden Prabowo sekalipun, tapi hentakan irama Luvaroo ini memang asyik dijogeti, berbossas ria begini. Uah, 'ku rasa suasana hatiku sudah meningkat dari sekadar ringan menjadi riang bahkan gembira. Apalagi dengan memberi kode-kode pada bungkus nasi uduk. KKKK untuk kambing kaiju cuka-cuka. Orong-orong cukup OO saja. Biarlah meski tiga bungkus di antaranya dilahap oleh KKKK. Memang segitu kapasitasnya: mobil tengki gandeng depan belakang! Ada baiknya memang instrumentalia, tak bisa ikut bernyanyi.

Ada yang mengatakan tulisanku bergaya aliran kesadaran (halah!). Tidak juga. Pernahkah kau mendengarkan kuliah. Jika kau rajin mencatat, pasti kau catat sejadi-jadinya apapun yang disemburkan si penceramah, tahu steno atau tidak sedikitpun. Jika kau lebih rajin dari itu, seperti Wiyono dan Tebe, sepulang kuliah, setelah makan siang, setelah berganti baju dan beristirahat sebentar, kau rapikan catatan itu. Kau tanyakan, kau cocokkan dengan temanmu mengapa sampai kau catat begitu. Nah, itu kalau kau rajin. Kalau tidak, begini inilah jadinya. Menulis malah seperti ngomyang.

Tapi apa sebenarnya yang 'ku catat ini. Siapa penyemburnya. Tidak lain adalah otakku sendiri, meski mungkin bukan otak benar. Entah siapa dan di mana adanya. Namun memang jika aku sedang begini, kening berkerut-kerut dan seperti ada dengungan dari dalam kepalaku. Jadi ya mungkin memang otakku sendiri. Aku belum pernah melihatnya dan tidak berencana melihatnya dalam waktu dekat, jauh, atau kapanpun. Sersan Bragg pun, 'ku rasa, tidak pernah tahu otaknya terburai menyembur dari rongga matanya, diterjang peluru yang ditembakkan Virgil "Mongo" Lloyd.

Ada juga yang mengatakan (halah!) aku menulis seakan duduk di kursi santai atau kereta dorong perkotaan. Ya, memang aku lahir, besar, tinggal, mencari makan di daerah perkotaan terbesar di Indonesia, bahkan salah satu terbesar di dunia. Bukan itu saja, si kembar Uded dan Uyik bahkan menyebutku menelitinya; seperti Pak Kaji Ibnu Fikri begitu, antropolog perkotaan. Yang ada naluriku justru berusaha menganagram apapun itu untuk mengolok-oloknya. Humor boleh, sinis jangan, kata 'Kang Dedy Mi'ing Gumelar. Aku cuma berolok-olok. Itu sudah. Lain itu masa bodoh.

Selebihnya, syukurlah sekuluman Strepsil rasa mentol vanila [atau vanila mentol?] dengan sensasi rasa ekstra kuat menghilangkan keinginanku untuk meminum sesuatu yang hangat dan berkonsentrasi pekat, seperti cokelat panas atau teh tarik halia. Gara-gara Strepsil aku malah minum secangkir 300-an mililiter air hangat. Bahkan tidak di cangkir plastik merah yang biasa 'ku pakai untuk minum obat setiap sebelum tidur. Ya, bahkan hal-hal seperti ini membuatku girang bukan buatan, meski perut terasa selalu mual mules perih kembung, namun bukan Promaag obatnya.

No comments: