Sebelum berbicara mengenai piranti apalagi swadefekasi, ada baiknya kita mengapresiasi gambaran di bawah ini, yakni, suatu kaiju. Kaiju pada umumnya dibuat dari susu. Ini kiranya terbuat dari seekor ayam utuh yang dibekakak begitu. Mungkin setelah dipeuncit bangkainya dikelantang diangin-angin cukup lama sampai hijau keabu-abuan, atau abu-abu kehijauan begitu. Mungkin juga, jaringan-jaringannya sudah sedemikian meprel sehingga lembutnya, bahkan ati-ampelanya. Kita belum lagi membicarakan baunya, ketika tingginya sembilan susun rumah demikian.
Nah, berbicara mengenai bau, sampailah kita pada bahasan mengenai swadefekasi. Swadefekasi artinya berak sendiri atau, lebih tepatnya, memberaki diri sendiri. Kalau sekadar berak sendiri, anak yang sudah selesai latihan kakusnya sudah bisa. Akan tetapi, memberaki diri sendiri butuh kekuatan mental tersendiri. Ini seperti mendatangi sembarang orang di tempat umum, bertanya di mana tandas awam, namun di sebelah kaki sudah keclepretan pencretan. Jika sampai membelakangi, 'nungging, dan menyemburkan pencretan kepada lawan bicara, itu sudah berlebihan.
Swadefekasi juga bukan sekadar swadesi yang diberi sisipan '-feka-', karena sisipan itu tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia standar apalagi baku. Swadefekasi bisa juga dipahami sebagai memberaki celana sendiri, kecuali memang tidak bercelana; karena memberaki celana orang lain bertentangan dengan hak asasi manusia generasi pertama, kedua, dan ketiga sekaligus. Setidaknya, jika terpaksa harus memberaki celana orang lain, meminta izin terlebih dahulu; seperti ketika akan memproduksi massal AK-58 Steyn Gun Haeirrier hasil ciptaan Mas Toni Edi Suryanto.
Akankah aku merindukan Toni 'Tompel" Riwanto atau Bagus Suryahutama. Uah, aku memang seorang perundung jelek. Kalaupun bertemu lagi dengan Tompel, mungkin aku akan minta maaf kepadanya. Semoga ia sudi memaafkanku. Akan halnya Paduka Yang Maha Mulia Terkultus-individukan Berhala Jomblo Bagus Suryahutama, kerinduanku padanya sama dengan kerinduan pada Guswandi atau John Gunadi. Lantas mengapa aku tidak rindu pada Gus Dut atau Abinyamin. Abinyamin karena ia sudah mati gara-gara Covid-19. John Gunadi mati.
Tadi rasanya seru sekali, ketika membelok masuk Jalan Ir. H. Juanda, membayangkan menulis mengenai betapa aku berusaha sedapatku menghindari Mbak Agil Bethak dan Has Mersu. Namun sekarang mainan-mainan kecil di bibir jendela justru menarik perhatianku. Entah sudah berapa lama mereka di situ, entah siapa yang meletakkan di situ. Seandainya tempat tinggalku seperti di Kraanspoor dulu, yang sampai mau dipakai main futsal Japri dan Gerardus, mungkin mereka 'kan menghias mejaku yang tidak ada apa-apanya; paling lama-lama berdebu.
Ba ba-ba-ba, ba ba-ba-ba, bayi! Jangan lupa nomorku, ini seperti: Mari ke mari, perempuanku. Ke mari, bayiku cantik. Kau kupu-kupuku, gula bayi. Ini seperti terlempar kembali ke Mess Pemuda bahkan Cimone Mas Permai Jakarta IV, di waktu-waktu yang terpisah 25 sampai 35-an tahun lalu, Mimpi-mimpi untuk dikenang adalah mengenai cinta di bulan September, berbinar seperti bara api, dan semuanya mengenaimu. Ini semua ketika aku berumur 13 tahun dan 25-an tahun. Di umur-umur segitu aku sama-sama tololnya, sama-sama tak ada gunanya; sampai kini.
Nah, berbicara mengenai bau, sampailah kita pada bahasan mengenai swadefekasi. Swadefekasi artinya berak sendiri atau, lebih tepatnya, memberaki diri sendiri. Kalau sekadar berak sendiri, anak yang sudah selesai latihan kakusnya sudah bisa. Akan tetapi, memberaki diri sendiri butuh kekuatan mental tersendiri. Ini seperti mendatangi sembarang orang di tempat umum, bertanya di mana tandas awam, namun di sebelah kaki sudah keclepretan pencretan. Jika sampai membelakangi, 'nungging, dan menyemburkan pencretan kepada lawan bicara, itu sudah berlebihan.
Swadefekasi juga bukan sekadar swadesi yang diberi sisipan '-feka-', karena sisipan itu tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia standar apalagi baku. Swadefekasi bisa juga dipahami sebagai memberaki celana sendiri, kecuali memang tidak bercelana; karena memberaki celana orang lain bertentangan dengan hak asasi manusia generasi pertama, kedua, dan ketiga sekaligus. Setidaknya, jika terpaksa harus memberaki celana orang lain, meminta izin terlebih dahulu; seperti ketika akan memproduksi massal AK-58 Steyn Gun Haeirrier hasil ciptaan Mas Toni Edi Suryanto.
Akankah aku merindukan Toni 'Tompel" Riwanto atau Bagus Suryahutama. Uah, aku memang seorang perundung jelek. Kalaupun bertemu lagi dengan Tompel, mungkin aku akan minta maaf kepadanya. Semoga ia sudi memaafkanku. Akan halnya Paduka Yang Maha Mulia Terkultus-individukan Berhala Jomblo Bagus Suryahutama, kerinduanku padanya sama dengan kerinduan pada Guswandi atau John Gunadi. Lantas mengapa aku tidak rindu pada Gus Dut atau Abinyamin. Abinyamin karena ia sudah mati gara-gara Covid-19. John Gunadi mati.
Tadi rasanya seru sekali, ketika membelok masuk Jalan Ir. H. Juanda, membayangkan menulis mengenai betapa aku berusaha sedapatku menghindari Mbak Agil Bethak dan Has Mersu. Namun sekarang mainan-mainan kecil di bibir jendela justru menarik perhatianku. Entah sudah berapa lama mereka di situ, entah siapa yang meletakkan di situ. Seandainya tempat tinggalku seperti di Kraanspoor dulu, yang sampai mau dipakai main futsal Japri dan Gerardus, mungkin mereka 'kan menghias mejaku yang tidak ada apa-apanya; paling lama-lama berdebu.
Ba ba-ba-ba, ba ba-ba-ba, bayi! Jangan lupa nomorku, ini seperti: Mari ke mari, perempuanku. Ke mari, bayiku cantik. Kau kupu-kupuku, gula bayi. Ini seperti terlempar kembali ke Mess Pemuda bahkan Cimone Mas Permai Jakarta IV, di waktu-waktu yang terpisah 25 sampai 35-an tahun lalu, Mimpi-mimpi untuk dikenang adalah mengenai cinta di bulan September, berbinar seperti bara api, dan semuanya mengenaimu. Ini semua ketika aku berumur 13 tahun dan 25-an tahun. Di umur-umur segitu aku sama-sama tololnya, sama-sama tak ada gunanya; sampai kini.
Tidak, aku harus berhenti memberaki diri sendiri. Baru 'ku ingat sekarang mengapa aku tadi teringat mengenai Mbak Agil Bethak dan Has Mersu. Aku harus berhenti berswadefekasi seperti aku berusaha sedapatku menghindari mereka atau siapapun yang mengata-ngatai Mas Gibran dan bapaknya. Apakah ini cinta, apakah dulu adik meminjamnya dari Reza. Darimana Reza bisa mendapatkan kaset Mili Pamili semua atau tidak sama sekali. Seperti hanya produser Rob Farian yang gagal mengulangi kesuksesannya dengan Boney M, tak boleh mengandalkan keberuntungan.


No comments:
Post a Comment