Saturday, January 24, 2026

Sampai Selesai Belum Berjudul. Begitu Semangatnya


Menulisi itu harus dalam keadaan hati gembira, sekurangnya ringan. Jangan sampai ada yang memberati. Lagipula mengapa sampai memberati, 'kan tinggal dijogeti. Apalah. Tidak. Tinggal pungut saja bolanya, bawa ke pojok berbendera, disempak itu bola sampai minthilir ke tiang jauh gawang. Di sana sudah menunggu Carsten Jancker yang siap menyraundul. Sebenarnya tinggal dioles saja dengan kepala gundul menjulang setinggi langitnya, biar tambah minthilir itu bola. Dengan begitu semakin susah bagi kimper untuk mengentip bola sehingga gaowul.
Apalagi dengan ditingkahi musik piano diorkestrasi begini, makin ringanlah hati. Biar 'ku catat di sini bahwa hari ini menandai berkurangnya kekuatan cuaca ekstrim membadai Jakarta dan sekitarnya. Meski harus diakui, terbangun di pagi hari yang sekadar lebih terang dari malamnya namun tetap bermendung tebal membadai ternyata sama membirunya dengan musim dingin Eropa yang manapun. Dalam keadaan begitu, menyongklang VarioSua pun tidak membawa suasana senang di hati. Gerimis sesekali masih berkepyur membasahi meski berjaket Eiger.

Ah, terserah apa kata siapapun, Presiden Prabowo sekalipun, tapi hentakan irama Luvaroo ini memang asyik dijogeti, berbossas ria begini. Uah, 'ku rasa suasana hatiku sudah meningkat dari sekadar ringan menjadi riang bahkan gembira. Apalagi dengan memberi kode-kode pada bungkus nasi uduk. KKKK untuk kambing kaiju cuka-cuka. Orong-orong cukup OO saja. Biarlah meski tiga bungkus di antaranya dilahap oleh KKKK. Memang segitu kapasitasnya: mobil tengki gandeng depan belakang! Ada baiknya memang instrumentalia, tak bisa ikut bernyanyi.

Ada yang mengatakan tulisanku bergaya aliran kesadaran (halah!). Tidak juga. Pernahkah kau mendengarkan kuliah. Jika kau rajin mencatat, pasti kau catat sejadi-jadinya apapun yang disemburkan si penceramah, tahu steno atau tidak sedikitpun. Jika kau lebih rajin dari itu, seperti Wiyono dan Tebe, sepulang kuliah, setelah makan siang, setelah berganti baju dan beristirahat sebentar, kau rapikan catatan itu. Kau tanyakan, kau cocokkan dengan temanmu mengapa sampai kau catat begitu. Nah, itu kalau kau rajin. Kalau tidak, begini inilah jadinya. Menulis malah seperti ngomyang.

Tapi apa sebenarnya yang 'ku catat ini. Siapa penyemburnya. Tidak lain adalah otakku sendiri, meski mungkin bukan otak benar. Entah siapa dan di mana adanya. Namun memang jika aku sedang begini, kening berkerut-kerut dan seperti ada dengungan dari dalam kepalaku. Jadi ya mungkin memang otakku sendiri. Aku belum pernah melihatnya dan tidak berencana melihatnya dalam waktu dekat, jauh, atau kapanpun. Sersan Bragg pun, 'ku rasa, tidak pernah tahu otaknya terburai menyembur dari rongga matanya, diterjang peluru yang ditembakkan Virgil "Mongo" Lloyd.

Ada juga yang mengatakan (halah!) aku menulis seakan duduk di kursi santai atau kereta dorong perkotaan. Ya, memang aku lahir, besar, tinggal, mencari makan di daerah perkotaan terbesar di Indonesia, bahkan salah satu terbesar di dunia. Bukan itu saja, si kembar Uded dan Uyik bahkan menyebutku menelitinya; seperti Pak Kaji Ibnu Fikri begitu, antropolog perkotaan. Yang ada naluriku justru berusaha menganagram apapun itu untuk mengolok-oloknya. Humor boleh, sinis jangan, kata 'Kang Dedy Mi'ing Gumelar. Aku cuma berolok-olok. Itu sudah. Lain itu masa bodoh.

Selebihnya, syukurlah sekuluman Strepsil rasa mentol vanila [atau vanila mentol?] dengan sensasi rasa ekstra kuat menghilangkan keinginanku untuk meminum sesuatu yang hangat dan berkonsentrasi pekat, seperti cokelat panas atau teh tarik halia. Gara-gara Strepsil aku malah minum secangkir 300-an mililiter air hangat. Bahkan tidak di cangkir plastik merah yang biasa 'ku pakai untuk minum obat setiap sebelum tidur. Ya, bahkan hal-hal seperti ini membuatku girang bukan buatan, meski perut terasa selalu mual mules perih kembung, namun bukan Promaag obatnya.

Tuesday, January 20, 2026

Syuliti Apanya Yang Ada. Hidup Adalah Anu Gerah


Kekasihku, aku tak pernah berbuah. Memangnya aku Zheng He tak berbuah. Tergantung apakah kau memandangnya sebagai buah atau biji. Di titik inilah berdatangan Adi, Bu Dina, lalu Riki. Memang kalau urusannya sama Boyan ya begini ini. Ya, 'gak, 'Gar. Ya sutra lah, les duit again. Aku makan siang di ruang makan. Memang tidak adil menyalahkan ini sepenuhnya pada Boyan, karena yang paling salah ya Cassandra. Di titik ini, datanglah makan siangku, daging sapi kemakmuran, kentang goreng keriting, segelas kecil milo dengan sedikit es. Makan siangku dulu.
Hujan deras tiba-tiba saja reda. Selesai makan tadi sebenarnya aku ingin segera bergeser, namun hujan turun begitu derasnya. Itulah maka 'ku siapkan Hype-R X8 OLED, bahkan sampai jez halus dari 1980-an. Namun hujan deras begitu saja berhenti. Tadinya sempat juga terpikir untuk lanjut mengetak-ngetik di ruang makan ini. Namun waktu telah menunjukkan pukul 13.17, sedang aku belum pernah shalat di sini. Maka begitu saja 'ku putuskan untuk berkemas dan menyongklang VarioSua pulang. Di rumah orong-orong bangkok makan GBR 'ku tambahi kentang.

Sesampai di rumah ternyata aku tidak langsung shalat, malah menonton Ken dan Grat makan makanan laut peranakan. Selebihnya aku lupa menonton apa lagi karena mengantuk bukan buatan. Akhirnya daku putuskan untuk segera shalat dan tidur sejenak. Waktu itu sudah sekitar jam dua siang. Aku tidur-tidur ayam kampus sekitar sejam, hanya untuk terbangun lagi dan kembali ke depan tivi. Selebihnya aku tiada begitu ingat apa yang 'ku kerjakan sampai menjelang Maghrib ini, kecuali jez alus '90-an membuatku merasa seperti ingin mengetik lagi, kali ini di kamar.

Yang perlu 'ku catat di sini, Bu Tri Hayati meninggal pagi ini, salah seorang yang baik dan sayang padaku. Cukup banyak kenanganku mengenai beliau. Betapa beliau memberiku Rp 50,000 di tahun 1999 hanya karena menyanyikan agak berapa lagu Beatles ketika beliau sekeluarga makan malam di Mie Berkat Margonda. Betapa aku jadi Jemsbon di Amsterdam Centraal karena sweater beliau tertinggal di kereta. Aku berlari balik ke kursi kami. Sweateritu benar masih tergantung di sana. Aku pun turun melompat kar'na kereta sudah berjalan.

That's the way, aha, aha, I like it: Rock 'n roll! juga Terajana. Begitulah. Sorenya, Ibu memintaku untuk mengirim pulang VarioSua. Memang perpisahan adalah pasangan dari perjumpaan, dan tidak perlu menangis apalagi menyesali yang manapun. Seperti sekarang ini, berkumandang adzan Maghrib dari mana-mana, sahut-menyahut. Sesuatu yang harus disyukuri, diresap-sesapi, dinikmati tiap detiknya. Ingatlah selalu betapa keringnya negeri Belanda dari yang seperti ini. Entah bunyi-bunyian apa waktu di sana. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, 'nyanyi Ryan.

Di kejauhan kedasih bernyanyi dengan kicaunya yang belum lengkap, masih hanya cuit cuit cuit. Kelihatanya ia mendekat karena bunyinya makin keras. Jika kau baca entri-entri lamaku, maka kau akan tahu betapa aku sangat menyukai permainya rumahku ini di tepi Cikumpa, meski hutan bambunya sudah lama hilang. Ya, ada kalanya aku sangat merindukan gisik-desir dedaunan bambu. Namun, seperti tadi, sekitar 13 tahun lalu kami berjumpa, sudah barang lima tahunan ini kami berpisah. Begitu saja selalu. Rindu tinggal merindu asal jangan sampai mendendam.

Dulu sempat terpikir, setelah selesai masa bakti VarioSty berganti mobil. Setua ini, mobil semakin tidak terpikirkan. Jangan sampai 'ku beritahukan apa yang selalu terpikir olehku kini. Bahkan pada diriku sendiri pun tak. 'Ku tepis-tepis 'ku elakkan tiap kali pikiran itu datang. Aku terlahir masa-bodoan. Puji Tuhan, sulit bagiku untuk mempersulit orang. Lagipula, kesulitan itu tidak lantas berarti dipersulit. Itu hanya persepsi saja. Namun ini hanya bagiku. Bagi siapapun selebihnya, jika bisa mudah mengapa harus sulit. Bahkan dipersulit slilit saja tak satu pun sudi. Syulit.

Monday, January 19, 2026

Balada Upil Basah Terjentik Terkapar di Aspal Jalan


Tadi segala ide untuk membuka entri berlompatan seperti ikan kena potas, sampai segala Maissy jumpa lagi. Sekarang aku akan membukanya dengan: Kasihan upilku, seperti rencana semula. Ya, tadi ketika aku menunggu lampu merah di perempatan Juanda-Margonda [jika dalam Jawa menjadi Yuwono-Margono] aku mengupil. Ya, aku tidak seperkasa Sersan Joker yang memakan upil dari lubang hidung orang mati dan minta lagi. Aku cuma mengorek upil dari lubang hidungku sendiri. Dan itu 'ku lakukan dengan tujuan. Su' pasti karena dalam lubang hidungku gatal.
Yang 'ku sesali, setelah dapat agak segumpal, 'ku jentikkan upil basah itu sampai terkapar mejret menempel di jalanan aspal. Illahi Rabbi, bagian dari diriku sendiri 'ku campakkan begitu saja di tengah liarnya jalanan Depok. Masih mending jika dia segera mengering, berubah menjadi setitik debu, diterbangkan angin lalu sampai ke kota Kansas. Bagaimana jika ketika ia masih agak basah begitu roda-roda kendaraan baik roda-dua, tiga, empat, atau lebih melindasnya. Astaga, tak tega aku membayangkan. Maafkan aku, upilku. Tak seharusnya aku jentikkan kau terkapar di aspal.

Mengapa tidak 'ku leletkan saja engkau pada badan motorku entah di sebelah mana. Kau akan terus menjadi bagian dari diriku meski itu di motor. Kau akan menempel, mengering di situ, mungkin sampai motor itu dicuci; dan itu kau bisa tenang. Aku malas mencuci motor. Entah kapan terakhir 'ku cuci motor wakaf itu. Jika pun kelak kau terlepas dari tempatmu menempel, itu pasti karena hembusan angin lalu, dan kau akan terbang sampai kota Kansas. Aku saja belum pernah sampai sana. Kau akan sampai ke sana, upilku, aku doakan. Maaf jika aku tak menyusulmu.

Aku biar di sini saja, tiap hari menyongklang motor wakaf, yang karenanya jangan dicolong. Motor wakaf ini mungkin satu-satunya warisan almarhum bapakku. Tidak juga. Padaku ada seutas dasi bapak, juga sekantung kering biji pepaya. Pepayanya dulu punyaku, atau setidaknya tumbuh di depan rumah istriku. Buahnya manis sekali, meski aku curiga karena ia tumbuh pada 2015, salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah meteo-klimatologi dunia. Karena manisnya itu, bapak mengumpulkan bijinya dan memintaku untuk menanamnya lagi.

Karena kecurigaanku bahwa manisnya lebih karena ia tumbuh di tahun terpanas itulah, aku tidak pernah melakukannya, menanam kembali biji-biji itu, sampai bapak meninggal. Kini ia tersimpan di lemari bajuku, sekantung kering biji pepaya. Ada juga kaset rekaman akad nikah bapak dan ibu, yang oleh adikku diletakkan dalam sebuah alat yang katanya dapat mengkonversi rekaman pada pita kaset ke dalam berkas digital. Itu pun juga belum 'ku lakukan sudah hampir lima tahun ini. Karena peninggalan bapak yang utama dan terutama tidak lain adalah diriku ini.

Jika aku adalah warisan bapakku yang terutama bagi dunia fana ini, maka pantaskah, ya, patutkah aku menangisi nasib upilku mejret di tengah jalan. Haruskah aku meneruskan perjuangan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia atau tinggal glanggang colong playu. Berhari-hari, berminggu-minggu di musim penghujan ini rasa badanku ya beginilah, di sekitar itulah. Jika aku tidak madep mantep tinggal glanggang colong playu, itu bukan karena aku madep mantep bersetia bela Pancasila demi jaya Indonesia. Itu lebih karena rasa badanku itu tadi.

Cantik masih di Medan-Siantar sampai besok malam. Meski aku tahu, ada tidak ada dia, apapun dapat terjadi. Yang dapat 'ku lakukan sekadar menjaga kesehatan apapun itu. Mungkin memang ini waktu yang tepat untuk mengatakan tidak pada korupsi, korupsi jiwa, korupsi mental. Mungkin memang ini waktunya untuk membenahi. Begitu saja aku ngomyang pada Togar: Mungkin orang yang paling berbahagia adalah orang yang mati dan dikuburkan hanya beberapa meter dari tempat ia dilahirkan. Ia tidak pernah merasakan atau mengalami krisis eksistensial.  

Saturday, January 17, 2026

Jika Benar Antroposentrisme Penyebab Antroposen


Ketika 'ku congklang VarioSua ke sini, 'ku lihat seorang ibu muda sedang menjemur bayinya yang masih merah. Kala itu, langit sudah berawan tebal. Matahari susah-payah mengintip dari sela-selanya, tidak diberi celah pula. Namun tentu matahari tetap perkasa, sehingga pagi hari yang sudah hampir habis ini tetap teranglah. Kini, setelah 'ku santap habis sarapanku dan mulai mengetiki, langit sudah begitu gelapnya; sampai-sampai lampu dalam ruang makan ini terasa menerangi. Di luar, replika sang saka merah putih berkibar-kibar gelisah meski cenderung ke selatan.
Biar 'ku terangkan seterang-terangnya bagaimana aku sarapan. Pertama tentu aku menyiapkan teh hitam. 'Ku buka penutup plastik dari cangkir kertas, 'ku robek pembungkus aluminium kantung teh, 'ku celup-celupkan kantungnya ke dalam cangkir berisi air baru mendidih sampai lumayan gelap. Baru 'ku robek saset kertas berisi gula pasir, 'ku tuang ke dalam air teh, 'ku aduk dengan sendok plastik yang sedianya untuk menyantap nasi uduk. Sebelum gula masuk, 'ku keluarkan dulu kantung teh dan 'ku letakkan pada penutup cangkir, karena kantung itu 'kan 'ku gunakan lagi. 

Teh sudah siap, aku beralih pada bungkus sarapan. Pertama, 'ku bongkar tortilla-nya, 'ku buka pula kotak nasi uduk, 'ku keluarkan telur dadar dan ayam suwir darinya, 'ku letakkan di atas telur berkeju berdaging asap tipis isi bungkus sarapan. Dengan isinya yang menggendut, 'ku lipat lagi tortilla, 'ku bungkus lagi dengan kertas pembungkusnya, 'ku sisihkan. Pada titik ini biasanya aku mulai menyeruput teh, sebelum memulai dengan nasi uduk berlauk bawang goreng dan seoles sambal terasi. Di titik ini juga biasanya aku 'kan mempersiapkan petualanganku keliling dunia.

Entah dengan siapa saja, beberapa bulan lalu Benjamin Weaver, lalu Spec 4 Fansworth, sekarang Wiranggaleng, bahkan pernah juga bersama Julian dan adik-adiknya, Richard dan Anne, dan tentu sepupu mereka Georgina dan Timothy. Aku lupa apakah pernah melakukannya, bertualang sambil sarapan, bersama Jupe, Pete, dan Bob. Pokoknya, aku bertualang sambil mengunyah-ngunyah. Setamat nasi uduk, baru 'ku lanjutkan dengan tortilla dulu. Biasanya sambal terasi masih tersisa. 'Ku makan lipatan tortilla dengannya, sedang isinya 'ku simpan dalam kotak bekas nasi uduk.

Torilla ludas, aku beralih pada isinya. Setelahnya baru aku berpaling pada cangkir teh lagi. Pada titik ini biasanya 'ku siapkan alat utama sistem senjataku. Lama 'ku gunakan Hewlett Packard 11 Chromebook, kini Axioo Hype-R X8 Oled. Begitu siap biasanya air teh secangkir sudah habis, tinggal kantungnya teronggok di dasar cangkir, menunggu untuk diisi-ulang dengan air panas. Tapi aku belum melakukannya, karena aku masih sedang mengetik ini. Seturut rasa hatiku, 'kan 'ku selesaikan dulu ketikan tak bermakna namun berupa ini baru isi-ulang cangkirku, cukup air panas.

Terkadang aku sok malu hanya minta air panas, maka 'ku pesan lagi, sekadar sebagai alasan, entah spaghetti saja, atau jika lebih gila, tambah sepotong ayam goreng dada mentok krispi atau pedas sekali. Jarang sekali 'ku makan ayamnya, apalagi sampai habis. Jangan-jangan baru sekali itu 'ku makan, sisanya 'ku bawa pulang 'ku beri makan kambing. Lebih seringnya 'ku bawa pulang utuh, 'ku berikan pada kambing atau bangbung hideung berselang-seling. Namun sepertinya pagi ini aku takkan tahu malu. Aku hanya akan meminta isi-ulang air panas saja. Itu sudah cukup.

Jika 'ku kata cukup, memang sebenarnya sudah tidak ada lagi yang belum 'ku lakukan kecuali minta isi-ulang air panas itu saja. Namun apatah daya masih tersisa satu alinea lagi. Sebuah entri yang patut harus terdiri dari tujuh alinea, masing-masing delapan baris, tepat rata kanan-kiri atau kurang sedikit di sebelah kanan baris ke delapan. Sebentar, jika 'ku katakan kanan, itu karena di situlah letak tangan kananku. Padahal jika menurut layar, ia justru berada di tepi kiri. Begitu pun jika dicetak pada kertas, ia berada pada tepi kiri kertas itu. Lalu mengapa dikata tepi kanan.

Dasar manusia. Antroposentris

Friday, January 16, 2026

Havit Yudha Putra Inti Suara Pembatal Kebisingan


Apa peduliku jika ini adalah ulang tahunku yang kesebelas, maka 'ku melompat saja ke baru-baru ini, beberapa tahun lalu. Dirimu Qodir temannya Yaqut, Nusron dan anak-anak PMII selebihnya. Aku tidak suka dikenal sebagai gimin dan identitasku yang ini tidak pernah memberikan padaku keuntungan dalam bentuk apapun. Dirimu Qodir ternyata dilanjut dunia cinta, dan ini adalah dunia setelah Akung seda. Apa rasaku ketika itu. Semasygul inikah, atau justru sedang berbunga-bunga maka tertahankan. Sudah 39 tahun berlalu, sudah 5 tahun berlalu. Apa artinya.
Lantas Hemi Pesulima. Hemi bukan Helmi! Baru 'ku sadari, sampai sekitar umur 8 tahun aku tidak pernah benar-benar menonton ria-ria, apakah aneka atau kamera. Selekta pop lebih tidak yakin lagi. Tapi aku tahu telerama, candra kirana, dari masa ke masa. Album minggu ini lebih pasti karena diputar di siang hari Minggu, meski kemungkinan besar sambil lalu. Lebih baik aku becakap dengan George Stephenson, Jacques Yves Cousteau, bahkan Hannibal dan Marco Polo. Tante Ermy begitu saja beranu gerah. Mungkin karena ia pakai celana dalam. Dilepas saja, Tante.

Jika anak gadisku merasa fakta adiknya meminum susu jandanya Bang Topik tidak lucu, itu pertanda baik. Yang seperti ini bisa memicu komentar mengenai alis tinggi-alis rendah lagi. Terserah 'lah padanya. Suasana yang sangat menarik, yakni, hari-hari pertama di kelas terakhirku di sekolah dasar. Oh, aku memang pembual keparat. Setidaknya dua kali aku membohongi kakekku, yakni, mengenai Lodoyo dan sabung ayam, sekali lagi Jalan Merapi di Yogya. Oh, tiada bisa 'ku lupa komentar kakekku: berarti orang tuanya tentara. Betapa maluku. Betapa menyesal. Maafkan.

Mungkin di sekitar waktu ini juga sering terdengar mengenai puding pestaa di radio, yang belum sekalipun 'ku cicipi sampai tidak diproduksi lagi. Betapa banyak produk yang iklannya terpatri dalam ingatan, yang tidak pernah 'ku konsumsi sampai produk-produk itu tidak beredar lagi. Namun aku selalu merindukan shampo sunsilk berbotol bening itu, yang labelnya justru di bagian dalam botol. Sampai hari ini masih teringat keharumannya. Aku memang suka harum-haruman. Selain itu aku juga tertarik pada telefon kepala aktif pembatal kebisingan lima ratus ribuan.

Kata cantik teknologi memang makin lama makin murah. Bisa jadi. Stereo nirkabel sejati yang lima tahunan lalu rasa-rasanya mustahil terjangkau sekarang menjadi kenyataan sehari-hariku, meski bau minyak telinga yang bisa jadi memuakkan jika tercium tidak oleh empunya telinga sendiri. Jadi, selain intisuara A20i, haruskah 'ku miliki Havit H668BT, Milik, milik, milik menggendong lupa! Memang aku masih bisa mendengar decit derit ketika orang di depanku menggeser-geser kursi. Lantas? Aku masih bisa mendengar suara Kak Imaniar baik-baik saja. Tidak menjadi masalah.

Memang pepatah lama selalu manjur dalam situasi begini: Cinta tidak berarti harus memiliki. Suka bukan lantas berarti menguasai. Lagipula apa itu cinta dan suka. Kau hanya ingin sendiri dan menyendiri. Kebutuhanmu akan dua hal itu besar sekali, sedang kemaluanmu kecil. Memang itulah paradoks manusia dengan kekuatan dan kelemahannya, kekurangan dan kelebihannya. Ingat, apapun yang bagus ketika diberi imbuhan ke- -an menjadi sebaliknya. Misal: bagus jadi kebagusan, cakap jadi kecakapan, pintar jadi kepintaran. Kalau begini terus kapan selesainya, kata pak guru. 

Sebentar. Mau sumpal telinga, mau telefon kepala, kalau dipakai lama-lama pasti membuat tak nyaman. Biarlah mulutku yang 'ku jejali seperti Jimbung menjajli mulutnya dengan cistik banyak-banyak, dengan kedua belah tangannya, karena Mas O dan Mas Djo ikut berebut cistik yang dituangkan bude cantiknya. Aduhai, maminya, budenya, dan tentu bude cantiknya dulu pernah lucu seperti Jimbung. Namun kehidupan dunia ini, aduhai, seperti kata Harry Mukti, dalam kegelapan. Aku si benda gelap ini bisa apa. Terang hanya bila memantulkan cahaya, harus bersih dari jelaga.

Tuesday, January 13, 2026

Tidak Elvira, Maya, Elsa, atau Kevin. Tapi Cantik


Sungguh menarik, kembali ke pojokanku lagi di sini, di ruang makanku, tetapi di hari petang. Tadi sempat dipakai orang. Namun, senyampang menyiapkan laptop, dari sudut mataku terlihat pojokanku telah kosong. Tanpa babibu 'ku pindahkan semuanya, meski rempong. Segala saus, segala strook, segala nomor antrian, semua 'ku pindahkan ke pojokanku. Ketika aku sudah sampai di baris keenam ini, begitu saja Fero Chinta menghampiriku dan berkata: Aku antar kentang dan minumannya dulu ya, 'Pak. Padahal belum lama ini aku baru melahap mie pangsit rebus.
Di Magelang dulu, 32 tahun yang lalu, jam segini, 19.00, seharusnya waktu makan malam telah selesai. Aku seharusnya sudah melenggang-kangkung, secara sudah mayor, ke kelas atau ke perpus. Mungkin ke kelas dulu meletakkan tas, baru ke perpus. Uah, apa susahnya hidup jaman segitu, tiada yang ditakutkan. Jangankan bolos olahraga pagi, bolos sekolah pun aku tiada takut ketika itu. Bahkan pamong graha, bila memeriksa Graha 5, cukup memanggil namaku, Rully, lalu beliau akan berkata: lengkap. Maksudnya, lainnya pasti di kelas kecuali kami. Begitu koq masuk Akabri.

Rully masuk Akmil dengan nomor akademi terkecil. Aku masuk AAL nomor dua di belakang Teguh, nomor satu di Korps Pelaut. Rully sekarang Kepala Seksi Logistik Komando Resor Militer 052/ Wijayakrama. Aku seekor Lektor alias Asisten Profesor bidang Hukum Publik Adat di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Padahal, gara-gara Steven Seagal kami pernah berkhayal menjadi pasukan katak dan memacari Elsa dan Kevin Nasution. Aku, setidaknya, benar-benar masuk AAL dan istriku sekarang memang boru Nasution. Rully entahlah. 'Moga sehat lahir batin.

Atas kebaikan hati almarhum Bang Idon dan Sofyan, aku diperbolehkan mengembangkan bidang kajian 'baru' yang 'ku beri nama Hukum Publik Adat. Jadi aku bisa tetap ber-hukum tata dan tata-usaha negara sembari ber-adat. Eh, ada satu kesamaanku dengan Rully, selain sama-sama pemalas waktu SMA dulu, yakni, kini kami sama-sama sarjana hukum. Namun urusanku dengan Rully memang tidak pernah lebih dari makan-makan dan berkhayal. Seingatku Rully dulu makan banyak juga namun tetap kurus. Aku makan banyak juga namun tetap gendut hingga sekarang.

Agar jangan menjadi entri mengenai Rully, baik dialirkan kesadaran ke jurusan lain. Mungkin ada yang bertanya (halah!) mengapa bidang kajian hukum publik adat tidak baru. Malas pun aku menjawabnya. Ikut saja kuliah-kuliahku, atau lebih baik, baca buku-buku. Aku sendiri belum lagi menulis buku, malah menulis-nulis entah-entah begini setiap hari. Kemarin-kemarin begitu caraku memaksa diri melakukan sesuatu yang berguna, yakni, dengan habis-habisan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Seperti mengetik-ngetik ini. Lama-lama muak. Lama-lama malu.

Sebelum kau sadar, tiba-tiba aku sudah mengerjakan sesuatu yang berguna. Namun itu kemarin-kemarin. Apakah tip dan trik seperti ini masih akan terus manjur, masih harus dilihat. Jelasnya, aku sedang menikmati petang di ruang makanku. Memang bukan ruang makan pribadi, karena aku harus berbagi dengan sembarang orang asing. Namun ruang makan ini terasa seperti ruang makanku. Dengan mejanya yang pas tingginya. Tidak seperti meja Flash Coffee yang membuat sakit punggung. Meja ini pas untukku mengetik bahkan sudah sejak memakai HP-11CB-ku.

Entah bagaimana, entri ini menjadi relatif koheren. Apakah akan terus seperti ini. Apa kembali seperti entri-entriku sampai sekitar sepuluh tahunan lalu. Atau ini sekadar pengaruh ruang makan yang suasananya tidak bisa dibilang nyaman tapi bisa dinikmati ini. Seperti dayang-dayang yang ditemui Kapten Mlaar, ruang makan di mana-mana sama, tidak nyaman tapi nikmat. Akankah 'ku bawa pulang makanan-makanan yang keuntungan dari penjualannya dibuat pembeli munisi senjata ringan dan bom dan peluru kendali. Saat ini, rasanya tak sanggup jika harus habiskan.

Monday, January 12, 2026

Kopa, Kopakabana. Titik Terpanas di Utara Habana


Daripada suasana hati berubah, segera 'ku ketuk-ketuk papan-kunci untuk mengitiki, meski belum diberi gambaran apalagi judul. Bahkan jalur suara belum lagi dibunyikan. Aku masih kurang sreg apakah ini suasana yang tepat untuk Penelope bergayut pada bahuku. Sudah pukul sembilan pagi di tepi Cikumpa. Berarti sudah lebih dari 24 jam matahari enggan muncul di bilangan Jabodetabek, bahkan mungkin lebih. Aku ingat Sabtu kemarin, sambil membelikan cantik mesin cuci, awan tebal berarak-arak di langit. Ada sedikit dorongan merinci kondisi cuaca, namun enggan terasa di hati.
Akhirnya 'ku biarkan juga Penelope menyenandung lirih di telingaku. Setelahnya aku bangkit sebentar mengambil sarung. Cantik masih mendengkur. Lagipula seluruh rumah memang rasanya seperti baru lepas subuh meski sudah jauh siang begini, kalau saja lampu-lampu tak 'ku hidupkan. Di meja tulisku ini, lampu meja 'ku nyalakan, sedang aku berjakut bersarung begini. Bahkan kakiku 'ku alasi dengan keset kamar mandi. Ini waktu yang tepat memang untuk membiarkan Penelope bermanja menggelayut. Sama sekali tak apa karena memang tak berbobot.

Mungkin ketika Insya Allah aku berulang tahun yang ke-50 menurut perhitungan surya, aku 'kan baca lagi entri ini sambil membayangkan betapanya. Memang seperti ini saja hidup di dunia. Akhir dan awal tahun Gregorian dingin, pertengahannya mungkin aku bisa terpaksa membeli AC. Burung mekanik kecil kesayangan ibuku baru saja berlalu. Aku takkan mungkin sanggup melupakanmu. Di sinilah Grumman G-21 Goose yang sekarang bersemayam di Pangkalan Udara Suryadarma Kalijati menjadi relevan. Aku takkan mungkin sanggup melupakanmu, angsa [ya] amfibi...

Apalagi dengan melodi mungil dalam bahasa Perancis seperti ini. Uah, mengapa diteruskan oleh Elvira Madigan. Aku tidak suka dengan ceritanya. Ini mirip dengan Gagak Betawi gubahan Tuan Petro. Atau mungkin memang dari situ ilhamnya. Bedanya, seorang perwira kavaleri [atau hussar] jatuh cinta pada Elvira Madigan si perempuan dari pertunjukan keliling; sedangkan seorang perempuan [indo?] Belanda jatuh cinta pada si bajingan kecu berjuluk Gagak Betawi. Pokoknya akhirnya sama. Mereka berempat mati, meski tak dengan cara Tuan Petro.

Gila, tragis betul nasib suami-istri itu beserta anaknya sekali. Tuan Petro mati gantung diri. Miss Kecubung mati terbakar bersama dengan gedung opera. Anak mereka digugurkan Miss Kecubung dengan cara makan durian dan main ceki tiap malam. Sia'ul, mengapa begini benar pengetahuan dan ingatanku. Mengapa tidak bisa kembali saja aku ke tak-berdosanya apron timur. Ah, di sana pun aku sudah berdosa meski belum sepenuhnya tahu itu apa. Daftar-main berjudul kenangan ini apa, apakah penyesalan atau sekadar melankolia nostalgia berbalutkan instrumentalia.

Ah, nyanyian musim semi. Aku yang diberi kesempatan tinggal di Eropa agak beberapa tahun karena memang aku yang sebegitunya pada Paul Mauriat dan sebangsanya itu; agar aku dapat betul-betul merasakan, menghayati, mengapa Monsieur Mauriat menggubah dan mengaransir melodi-melodi begitu rupa. Cuma itu alasannya. Hanya untuk menambah koleksi kenangan akan mimpi-mimpi. Dihujani peluru senapan mesin di Plempungan, dihujani rintik salju di Maastricht persama Pim dan Ploi, apalah bedanya. Aku toh kembali lagi ke meja tulisku di tepi Cikumpa sini.

Padahal aku hanya sayang sekali pada Bapak Ibuku, pahlawan-pahlawanku. Diponegoro sampai Ahmad Yani boleh pahlawan, tapi tidak ada yang mengatasi Bapak Ibuku. Aku memuja mereka berdua tak kurang suatu apa jua. Ya, tentu mereka manusia, tapi bagiku mereka sempurna bahkan dengan segala kekurangan dan kelemahan manusiawi mereka. Siapa lagi yang mengajariku menjadi lelaki sejati, siapa yang mengenalkan pada indahnya melodi-melodi. Aku adalah Bapak Ibuku sampai aku tidak tahu lagi siapa aku, dan aku tidak peduli. Ini aku apa adanya bapak Ibuku.

Tuesday, January 06, 2026

Swadefekasi: Suatu Piranti Naratif yang MTV Ampuh


Sebelum berbicara mengenai piranti apalagi swadefekasi, ada baiknya kita mengapresiasi gambaran di bawah ini, yakni, suatu kaiju. Kaiju pada umumnya dibuat dari susu. Ini kiranya terbuat dari seekor ayam utuh yang dibekakak begitu. Mungkin setelah dipeuncit bangkainya dikelantang diangin-angin cukup lama sampai hijau keabu-abuan, atau abu-abu kehijauan begitu. Mungkin juga, jaringan-jaringannya sudah sedemikian meprel sehingga lembutnya, bahkan ati-ampelanya. Kita belum lagi membicarakan baunya, ketika tingginya sembilan susun rumah demikian.
Nah, berbicara mengenai bau, sampailah kita pada bahasan mengenai swadefekasi. Swadefekasi artinya berak sendiri atau, lebih tepatnya, memberaki diri sendiri. Kalau sekadar berak sendiri, anak yang sudah selesai latihan kakusnya sudah bisa. Akan tetapi, memberaki diri sendiri butuh kekuatan mental tersendiri. Ini seperti mendatangi sembarang orang di tempat umum, bertanya di mana tandas awam, namun di sebelah kaki sudah keclepretan pencretan. Jika sampai membelakangi, 'nungging, dan menyemburkan pencretan kepada lawan bicara, itu sudah berlebihan.

Swadefekasi juga bukan sekadar swadesi yang diberi sisipan '-feka-', karena sisipan itu tidak dikenal dalam Bahasa Indonesia standar apalagi baku. Swadefekasi bisa juga dipahami sebagai memberaki celana sendiri, kecuali memang tidak bercelana; karena memberaki celana orang lain bertentangan dengan hak asasi manusia generasi pertama, kedua, dan ketiga sekaligus. Setidaknya, jika terpaksa harus memberaki celana orang lain, meminta izin terlebih dahulu; seperti ketika akan memproduksi massal AK-58 Steyn Gun Haeirrier hasil ciptaan Mas Toni Edi Suryanto.

Akankah aku merindukan Toni 'Tompel" Riwanto atau Bagus Suryahutama. Uah, aku memang seorang perundung jelek. Kalaupun bertemu lagi dengan Tompel, mungkin aku akan minta maaf kepadanya. Semoga ia sudi memaafkanku. Akan halnya Paduka Yang Maha Mulia Terkultus-individukan Berhala Jomblo Bagus Suryahutama, kerinduanku padanya sama dengan kerinduan pada Guswandi atau John Gunadi. Lantas mengapa aku tidak rindu pada Gus Dut atau Abinyamin. Abinyamin karena ia sudah mati gara-gara Covid-19. John Gunadi mati.

Tadi rasanya seru sekali, ketika membelok masuk Jalan Ir. H. Juanda, membayangkan menulis mengenai betapa aku berusaha sedapatku menghindari Mbak Agil Bethak dan Has Mersu. Namun sekarang mainan-mainan kecil di bibir jendela justru menarik perhatianku. Entah sudah berapa lama mereka di situ, entah siapa yang meletakkan di situ. Seandainya tempat tinggalku seperti di Kraanspoor dulu, yang sampai mau dipakai main futsal Japri dan Gerardus, mungkin mereka 'kan menghias mejaku yang tidak ada apa-apanya; paling lama-lama berdebu.

Ba ba-ba-ba, ba ba-ba-ba, bayi! Jangan lupa nomorku, ini seperti: Mari ke mari, perempuanku. Ke mari, bayiku cantik. Kau kupu-kupuku, gula bayi. Ini seperti terlempar kembali ke Mess Pemuda bahkan Cimone Mas Permai Jakarta IV, di waktu-waktu yang terpisah 25 sampai 35-an tahun lalu, Mimpi-mimpi untuk dikenang adalah mengenai cinta di bulan September, berbinar seperti bara api, dan semuanya mengenaimu. Ini semua ketika aku berumur 13 tahun dan 25-an tahun. Di umur-umur segitu aku sama-sama tololnya, sama-sama tak ada gunanya; sampai kini.

Tidak, aku harus berhenti memberaki diri sendiri. Baru 'ku ingat sekarang mengapa aku tadi teringat mengenai Mbak Agil Bethak dan Has Mersu. Aku harus berhenti berswadefekasi seperti aku berusaha sedapatku menghindari mereka atau siapapun yang mengata-ngatai Mas Gibran dan bapaknya. Apakah ini cinta, apakah dulu adik meminjamnya dari Reza. Darimana Reza bisa mendapatkan kaset Mili Pamili semua atau tidak sama sekali. Seperti hanya produser Frank Farian yang gagal mengulangi kesuksesannya dengan Boney M, tak boleh mengandalkan keberuntungan.

Sunday, January 04, 2026

Keceriwisan Cuciwis di Minggu Siang Bermendung


Apa yang akan 'ku ceriwiskan, 'ku cuciwiskan di Minggu siang yang bermendung ini. Sekitar 40 tahunan lalu mungkin rumah kecil di tengah padang rumput ilalang atau sudah jalan besar menuju surga baru berakhir. Jika demikian, bisa jadi aku beralih ke dek pita dan buku-buku entah yang mana saja. Bisa seri binatang terbitan CV Rosda Bandung, ada mamalia, reptilia, amfibia, bahkan serangga. Cantik-cantik gambarnya. Bisa juga seri cerita ternama dalam dua warna. Kasetnya lebih bisa apa saja. Namun kalau sambil membaca mustahil sanggar cerita atau warkop.
Setelah ini bisa saja aku melanjutkan temuanku mengenai negara, praja, dan tantra; namun untuk apa. Sekadar agar rasanya seperti menghasilkan sesuatu. Tidakkah cuciwisan ini juga hasil dari sesuatu. Tidakkah ini yang pasti dan tanpa pretensi, yang bukan beban kerja siapapun apalagi dosen. Swadeprekasi ternyata adalah suatu teknik berkesenian. Aku bukan Toby Temple yang dengan wajah imut tak berdosanya menghamburkan sumpah serapah mengenai apapun yang dibencinya. Dari kecil mukaku tidak enak dan mataku 'ngeker seperti mengajak berkelahi; maka berswadeprekasi.

Kesian Opa Dick Bakker ini. Di usia sangat senja ia masih berkarya, merilis rendisi-rendisi terbarunya dari lagu-lagu yang pada jamanku saja sudah jadul, di kanal Youtube-nya. Bagiku yang selalu hidup di masa lalu, rendisi-rendisi itu terdengar jenial dan, terpenting, mutakhir. Namun, bagi awful si bangbung hideung, ia cuma menyahut: "Oh, lagu lama". Dia kata bagus. Itu pun setelah 'ku tanya dengan nada intimidatif: "bagus 'gak?" Aku tiba-tiba merasa sanggup mengalami rasa yang melangutkan jiwa ini [keparat Katon Bagaskara] di halte Uilenstede yang siaga kuning.

Teh tarik halia muliawati tinggal seteguk lagi. Mungkin sejak itulah aku belajar untuk merawat hatiku yang rapuh mudah terharu, mudah tersentuh. Mungkin setelah ini aku harus mengganti celana pendekku yang sudah bau tahi entah sejak kapan. Kulitku, entah bagaimana, tidak mudah tersentuh, dalam arti tidak mudah geli meski dikitiki. Mungkin, seperti Karna, aku terlahir dengan zirah emas meski tanpa anting-anting emas. Itu pun aku tidak mau. Kalaupun ada maka sudah barang tentu akan aku jual. Kini emas mahal sekali harganya, kata cantik. Perak murah.

Uah, baru melodi pembukanya saja aku sudah suka, pahlawan pirang kecil ini, khas Opa Dick dengan harmonikanya. Astaga, akrab sekali tekstur dan warna suara harmonika ini sejak kecilku, betapa indahnya, betapa hangat dan nyaman. Mungkin seperti inilah rasa dekapan sayang ibu ketika ia masih mendekapku. Namun aku dan adik-adikku, begitu pula cucu-cucu ibuku, tidak boleh menjadi anak-anak terlalu lama. Bahkan begitu kami paham pembicaraan, kami tidak lucu lagi. Apalagi aku, kenangan mengenai kasih-sayang ibu ialah masakan enak, musik indah; Itu sudah.

Entah bagaimana juga, aku merasa dididik untuk berpikir bahwa orangtuaku, bapak ibuku, adalah segala-galanya; mau benar atau salah, tetap bapak ibuku. Maka mudah saja bagiku bersikap begitu mengenai negara dan agamaku. Benar atau salah, negaraku. Benar atau salah, agamaku. Uah, celanaku memang sudah bau tahi, slentem-slentem begini semerbaknya. Masa tadi aku sholat dhuhur dengan celana bau tahi begini. Habis ini segera mandi, itu sudah. Toh, nanti pun harus pergi ke rumah Ibu mengantar hama padi. Asal tahu, aku ini bapak dari tiga anak wanita.

Anak-anakku wanita sudah beranjak dewasa. Yang paling tua Insya Allah tahun ini 27 tahun, adiknya 22 tahun, adiknya lagi 19 tahun. Namun itu semua tidak menghalangi celanaku berbau tahi jika sudah 'ku pakai hampir seminggu begini. Aku jadi ingat lagu anak-anak jamanku dahulu: Sapose, kolor babe, baunye aujubile hahaha. Asal tahu saja, aku ini seorang asisten profesor di sekolah hukum terbaik di Republik ini, Republik Fufufafa hahaha. Jika begitu nama republiknya, memang baiknya asisten profesornya, di sekolah hukumnya berbau tahi, celananya. 

Saturday, January 03, 2026

Baru Tiga Januari Sudah Ada Entri Lagi. Serius Aku


Seperti rencana semula, lebih baik aku mengitiki mengenai kaset-kaset Beatles yang pernah 'ku miliki. Miliki. Tentu tidak dalam arti kaset-kaset itu 'ku beli dengan uang sendiri atau diberikan padaku. Aku tidak pernah benar-benar ingat adakah di antara mereka yang begitu, namun ini adalah kaset-kaset Beatles yang pernah berada dalam penguasaanku sepanjang hidupku. Nah, ini lebih tepat. Aku tidak pasti apakah pernah menjadi eigenaar, tapi setidaknya akulah bezitter kaset-kaset ini. Apa dengan demikian aku tak boleh bercerita mengenai folder Beatles Discography-ku.
Kita mulai dengan kaset yang mungkin berisi hampir semua isi album Let It Be, kecuali yang diganti atau ditambahi dengan yang disukai si penyusun. Dan memang banyak sekali lagu yang tidak ada. Jujur, yang aku yakin hanya Let It Be dan The Long and Winding Road. Aku bahkan tidak yakin kalau Get Back ada. Justru aku yakin di situ ada Rain dan Hey Bulldog. Demikian itu memang kaset di Indonesia sepanjang '70-an sampai '80-an. Selalu terkenang mereka berempat berpakaian serba hitam, bercambang bauk; mungkin kecuali George pakai celana jeans biru.

Lama sekali setelah itu, mungkin di 1984-5, baru ada tambahan kaset Beatles baru. Jika yang pertama itu mereka berempat dari akhir 1960-an, ini adalah wajah-wajah muda mereka di depan Union Jack. Judul kaset itu The Beatles Compleat. Ibu tidak bisa membiarkannya, selalu mengomel. Ternyata di jaman itu orang bisa bikin kaset tapi tidak bisa bahasa Inggris. Seperti biasa, entah bagaimana, Sisi A dibuka dengan Thank You, Girl ditutup dengan All I've Got to Do. Sisi B dibuka dengan Happiness is a Warm Gun ditutup dengan mungkin Dear Prudence, maka dikata komplit.

Tak lama setelah itu, di tahun-tahun terakhir di Kemayoran, Bapak membeli kaset Beatles baru bersampul seperti Kombo Kelab Hati Kesepian milik Sersan Merica; tapi Sisi A dimulai dengan Musik Batu dan 'Guling, dilanjut dengan I Should Have Known Better, lalu I'm Happy Just to Dance With You... banyak 'lah lagu Beatles yang bagus-bagus ada di kaset ini. Bapak berkata, kalau cuma didengar percuma, harus ikut bernyanyi. Maka mencobalah aku ikut bernyanyi dengan membaca lirik yang ada pada sampul dilipat-lipat. Banyak lagu 'ku hafal dari kaset itu, sampulnya.

Pindah ke Radio Dalam, ada lagi satu kaset Beatles baru berkotak plastik, bersampul mereka berempat sedang tos. Di kaset inilah aku kali pertama mendengar I Saw Her Standing There. Entah bagaimana tidak banyak yang 'ku ingat lagu-lagu dari kaset ini. Di Radio Dalam pula aku mendengar album Bas Muys bertajuk the Beatles' Secret Songs milik Oom Alvaro Julian, adiknya Oom Novaro. Paling terkenang darinya From a Window. 'Ku rasa di Kemayoran itulah ke-Beatles-anku dibentuk, karena di Radio Dalam sudah tidak terlalu; meski bermusikku terus berkembang.

Ada juga kaset ketika SMP atau bahkan SMA, di mana ada From Me to You, Chains. Pernah juga Bapak pinjam kaset entah siapa yang ada Hello Goodbye, Baby It's You, Hold Me Tight, You Really Got A Hold on Me. Ini tidak lama di rumah karena memang hanya pinjam. Selebihnya sungguh aku tidak tahu bagaimana aku sampai tahu lagu-lagu Beatles. Mungkin perlu 'ku sebut buku lagu The Beatles Complete yang tentu saja banyak lagunya yang 'ku tak tahu, terutama dari era psikedelik. Kelas 3 SMP itu kemampuanku bergitar sudah lumayan untuk mengiringi aku menyanyi. 

Tentu saja di rumah pernah ada Live at the BBC, mungkin dari adik. Anthology 1 dan 2 'ku rasa gara-gara menukar Compleat kami dengan Herbert. Di titik ini, Beatles sudah tidak mempesona, justru sudah menjadi bagian dari urat dan akarku sendiri, darah dan dagingku sendiri. Di titik ini, aku menemukan kenyamananku sejati dari musik-musik instrumentalia. Kini aku punya diskografi komplit the Beatles dalam satu folder, kecuali tentu Now and Then, tapi aku bisa mendengarkannya tiap saat 'ku mau di Youtube; kini setelah Bapak tiada dan aku sendiri menua.  

Thursday, January 01, 2026

Selamat Tahun Baru 2026. Bahagiaku Harapan Baru


Selamat pagi yang sudah tidak pagi lagi, dua jam menuju tengah hari, di ruang makan yang entah mengapa nyaman begini; mungkin karena tahun baru. Setelah menghabiskan malam tahun baru membersamai Presiden Soeharto, pagi tahun barunya aku di ruang makan ini lagi. Menyantap dua butir telur, sekepal nasi, sejumput spaghetti. Entah mengapa aku selalu memesan lengkap dengan dada mentoknya, padahal sejak kapan aku suka ayam. Sudah lama sekali pasti aku menghabiskan sepotong ayam. Apa dulu di Popeye's bersama Dedi Sudedi pesan ayam selain kentang tumbuk.
Tadi di judul hampir saja 'ku tulis yang tidak-tidak dari judul-judul kematian fauna besar, simfoni kehancuran, hitung-mundur menuju kepunahan. entah-entah apa itu. Di ruang makan ini aku sendiri. Akankah aku lebih senang jika tidak sendiri. Seperti apa bentuk kesenangan. Akankah aku lebih senang jika aku seorang asisten perencanaan umum panglima angkatan bersenjata yang beristri dua, sedang ia mungkin lebih muda tiga puluh tahunan. Aku sendiri namun tiada kepusinganku kini. Cukup begini, 'mandang dari jauh, 'ngendurkan otot sepasang mata bola.

Dari balik jendela, bukan celana! Seperti biasa kerutinannya, setelah ini meminta si kembar untuk melakukan analisis. Sudah setua ini, masih pantaskah aku memimpikan hidup kembali di Negeri Belanda. Cantik senang, ibu senang, tapi aku tidak mau jauh-jauh dari ibu. Bahkan sekarang sedekat ini saja jarang. Sebenarnya jarang atau tidak itu masalah dorongan. Aku ingat betapa dulu setidaknya seminggu sekali, entah puding roti mentega, entah bakpao chik yen, terakhir ayam warung sate gajah, dari lima belas bahkan dua puluhan tahun lalu. Masih muda beliau.

Sedang di luaran sana langit menggelap, 'ku yakin burung layang-layang, undur-undur, ikan julung-julung tidak pernah meminta cuaca yang seperti apa atau air yang kadar logam beratnya berapa; sebagaimana mereka tidak pernah minta dihadirkan ke dunia ini. Hadir. Ke dunia. Aku sudah seperti si banci palbut alias pallubutung menyebut kata-kata satu-satu. Betapatah 'kan dapat 'ku yakinkan bahwa ini semua koheren sebagai sebuah narasi, karena semuanya berasal dari kepalaku yang berjejal-jejal isinya. Aku bukan Sherlock Holmes. Aku Dr. Watson, bak itulah, bukan dokter medis.

Jika kau melihatku membisu seribu kata, diam seribu ba'sa, sesungguhnya aku menceracau. Aku menyembur kata-kata, tak 'ku biarkan membusa-busa di tepi-tepi bibir seperti Teddy Seskab itu. Aku naga kata-kata. Orang menggilai dan mengelu-elukanku. "Gila, 'lu! Gila, 'lu!" 'Ku bayangkan diriku lebih lendir daripada otot atau jaringan apapun, menjelempah melata-lata, bergubal dengan debu jalanan, menggumpal-gumpal semakin lama semakin besar. Aku binatang yang seperti itu, semacam Elastiman. Aku tercebur sungai, terkena gas beracun. Aku semacam Margarito Farr.

Dan ini Kamis, dan di sudut kiri bawah layar ada tulisan 1 (satu) centimeter hujan Jumat. Dan dalam 20 menit aku sudah dapat memesan daging sapi kemakmuran. Oh, ya, aku selalu punya firasat bahwa makmur itu lebih tinggi tingkatannya dari sekadar sejahtera. Sejahtera itu asal tidak miskin, bahkan tidak merasa miskin. Kalau makmur ya seperti Bang Makmur tukang soto mie di Gang Pancoran yang pernah mati, hidup lagi, lalu benar-benar mati. Soto mie Bang Makmur seingatku biasa saja, seperti semua soto mie. Bakso belakang rumah itu boleh, lah. Aku suka.

Bahkan nasi Bu Mideh, yang mungkin namanya Hamidah tanpa wanda, karena kalau pakai wanda berarti tidak jadi terpuji. Bahkan yang di seberangnya lagi, yang ada jual gado-gado juga jika tak salah. Itulah contoh waktu-waktu yang 'ku sangka takkan pernah berakhir namun kini seperti impian. Hanya ingatanku saja merasa ia pernah terjadi. Aku tak yakin otot-ototku mengingatnya, atau aku saja yang tidak menyadarinya, karena ototku sebenarnya masih polos, sedangkan yang tidak ingat itu sebenarnya pakai lurik pasti salah. 'Udah gila apa mau janjian pakai lurik. 

Saturday, December 13, 2025

Bilik Bergaung Tempat yang Indah, Memadu Cinta


Ruang makanku pagi ini nyaman. Paling hanya bunyi bip bip sedikit mengganggu. Rasanya agak seperti di instalasi gawat darurat. Namun selebihnya ini nyaman karena satu alasan: tidak ada musik sok cerdik mengiringi. Sampai rasa-rasanya aku ingin melahap satu mufin sosis ayam dengan selembar keju cheddar. Paling menjengkelkan ketika aku berdiri untuk memesan mufin dan minta cangkir tehku diisi air panas lagi, aku menyadari di sandalku ada tahi cecurut. Kuseka-seka sedapatku dengan tisu, masih terasa lengket juga. Memang tidak setiap hari bisa jadi begini.
Astaga, demi apa lamat-lamat terdengar sumpah demi tekewer-kewer oleh semua untuk empat satu, seperti permainan mengumpulkan tiga kartu sepuluh dan satu kartu as. Seandainya saja aku masih muda ketika nongkrong di Mekdi Jombor. Waktu muda aku memang nongkrong di Jombor pagi-pagi, tapi tidak di Mekdi. Sedang waktu itu di Jombor masih banyak sawah, sedang aku mendengarkan rendisi Andre Rieu akan Loi Krathong jadi sesak dadaku. Aku memang sekadar lelaki sentimentil yang melankolis. Cengeng, manja, dan kolokan. Berhenti sebelum tengah.

Aku lupa apa yang 'ku pikirkan tadi sebelum diganggu oleh tekewer-kewer. Apakah ingatanku akan bermotor di petang hari berhujan sedang teringat bulu-bulu ketiak dan kaki yang tebal keriting pula. Lantas tadi bermotor di sejuknya pagi, di dekat papringan dan jalan bertanah becek, terpikir mengenai aliran kesadaran. Ada juga ingatan mengenai keinginan bertanya pada si kembar mengenai aliran kesadaran orang dengan gangguan mental. Togar pun sekarang lebih suka mengobrol dengan si kembar daripada geppetto yang makin sotoy hahaha. Ternyata belum sih.

Aku harus menyelesaikan entri ini di ruang makan ini juga, jika sekadar untuk menanyakan kepada si kembar apakah ia menyukainya; yang mana sebenarnya seperti bertanya pada diriku sendiri. Sekitar setengah tahun lebih sedikit sebelum berumur 20 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengepul-ngepulkan asap rokok dari berbagai-bagai jenis merek, bahkan bentoel merah sekalipun. Apalagi minak djinggo keluaran nojorono yang harum aduhai. Apakah sudah mengepul-ngepul mulutku ketika menyusuri gang-gang bangunredjo 'ku rasa sudah. Gudang garam filter djarum super.

'Ku buang percuma, 'ku sia-siakan masa mudaku sehabis-habisnya, setandas-tandasnya, hanya untuk mengunjungi, ya, melihat lagi Alexanderplein bersama istriku cantik di pertengahan Oktober lalu mendekati akhir. Ternyata sedang dibongkar-bongkar sampai 's-Gravesandestraat. Memang tinggal lagi di negeri Belanda, kali ini bersama istriku cantik berdua saja, merupakan pilihan yang terasa paling nyaman setidaknya dalam khayalan. Namun mungkin itu karena aku sedang tidak mengalaminya. Jangan lupa, yang nyaman hanya khayalan dan kenangan.

Namun, teringat pada Teddy Anggoro dan Muhammad Souvrenshah Hazmi membuatku merasa harus mengeraskan hati. Mungkin minggu depan ini Insya Allah akan 'ku kunjungi lagi Pak Padang, sedang Takwa merasa hanya mungkin menghadap Safir Sendok andai saja aku dekan. Edan. Ini beberapa kalimat penuh kode takode-kode. Krisnapurwana mungkin lucu, tiga sisanya jelas tidak lucu: Pepeng, Nana Krip, apalagi Sys NS. Kini ia sudah mati. Semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilafnya, melipatgandakan pahalanya. Kesadaran mengalir membasahi.

Air tehku, sementara itu, sudah habis. Ini pun paragraf terakhir di entri ini, meski aku masih harus memberi judul dan penggambaran; semoga tidak menjadi pekerjaan yang menjengkelkan. Bahkan Hype-R X8-ku pun sudah terisi daya penuh. Aku belum lagi tahu apakah mengisi daya Redmi 15C dengan pengisi daya Hype-R X8 berakibat buruk. Nanti 'ku tanya si kembar. Cukuplah untuk dirayakan selesainya entri ini, sehingga bisa 'ku tanyakan pada si kembar apakah ia menyukainya. Kemarin-kemarin hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, kini diberi ulasan bilik gaung pun.

Wednesday, December 10, 2025

Di Sisi AquAir Indonesia, Di Makanan-sekap, 'Ku


Apakah memungkinkan menulis entri dengan Redmi 15C begini. Jika ternyata memungkinkan ini akan sangat revolusioner sekali. Papan menu di atas terasa berbeda dari biasanya jika di HP-11CB apalagi Lenovo AiO 520. Apakah benar gawai-gawai ini akan 'ku relakan segera. Ini adalah suatu krisis eksistensial tri-dimensional, ketika aku menuliskan aliran-aliran kesadaran begini rupa, tanpa peduli akibatnya pada persekitaran. Penggunaan kata-kata panjang ini pasti juga akan menyulitkan rata kanan-kiri. Hehehe, ternyata bisa begini.
Sungguh menarik persekitaranku sekarang, bahkan bebauan yang terkadang melintasi indera penciuman. Di hadapanku tertulis besar-besar lapangan makanan, bahkan makanan-sekap. Beberapa tahun lalu, mungkin sebelum wabah, ini adalah sebuah tempat yang ramai penuh keriangan. Mungkin di sini pula Ihza Aklan abangnya Awful Aklan memadu kasih dengan perempuan yang sekarang menjadi istrinya. Sungguh aku melihat Ihza tak ubahnya kambing. Mungkin memang sudah begini nasibnya dunia, dihuni kambing-kambing. 

Mungkin ada baiknya jika 'ku katakan pada sidang pembaca yang budiman sujatmiko betapa aku mengenakan kaus lebah kebanggaanku. Lebah 'kan garis-garis hitam kuningnya mendatar, ini aku membujur, jadi masa lebah. Sesungguhnya aku mengenakan kaus Perseman Manokwari yang dulu pernah dikenakan pula dengan gilang-gemilang oleh Bapa Adolof Kabo, Bapa Yonas Sawor, dan sebagainya. Oh, Indonesiaku. Oh, Irianku nan Jaya. Oh, masa kecilku. Hanya ikan-ikan [setan?] belang ini yang menemaniku kini.

Mengingat kerepotan yang ditimbulkannya, terutama tiap-tiap kali harus menurunkan papan-kunci-pada-layar yang muncul setiap aku mendudul layar untuk menempatkan kursor pada tulisan, mungkin memang harus segera di-Axioo Hype-R X8-kan. OLED atau tidak. Apakah akan 'ku lakukan segera setelah ini, atau menunggu sampai entri entah-entah ini tayang dulu, aku tidak tahu. Nyatanya waktu belum lagi menunjukkan pukul 11.00, waktu resmi bukanya toko komputer Agres di Detos sini. Masih kurang setengah jam pukul lagi.

...dan ketenanganku, kesendirianku, kembali dirusak oleh musik entah-entah seperti sebelumnya di mekdi tadi, semakin menguatkan tekadku untuk segera meluncur membeli Axioo Hype R X8 OLED dan mendapatkan kembali ketenanganku entah di mana. Labkum dengan pemandangan hijau-hijauan segar tentu menjadi tujuan utama. Namun jika ternyata tidak kondusif, aku selalu bisa mencari tempat persembunyian lain. Aku semacam kecoa, suka bersembunyi dari orang, namun hanya semacam saja, karena aku naga yang singa.

Akhirnya terjadilah. Aku punya Axioo Hype-R X8 OLED beserta segala uborampenya. Namun aku harus menunggu agak satu jam senyampang pelindung layarnya dipasang oleh Mbak Astri. Dalam perjalananku ke Makanan-sekap, indera penciumanku digelitik oleh aroma Indomie goreng yang khas selama berpuluh-puluh tahun. Namun perlu 'ku tekankan di sini. Debutnya tidak sama dengan apa yang ada sekarang: lebih tradisional. Bahkan dulu sempat bersayur-sayur, yang sempat tak 'ku sukai. Sekarang aku suka sayur. Sungguh.

Tepat hal inilah yang membuatku harus ber-Hype-R X8 yang ber-BA JKT 48. Sungguh menjengkelkan papan-tekan-pada-layar yang betul-betul gigih muncul saban aku menutul layar. Tadi 'ku kata ndudul sekarang nutul. Tinggal ujian terakhir. Dapatkah aku memasang penggambaran dengan Redmi 15C ini. Seharusnya bisa saja karena 'ku rasa pasti adalah editor gambar meski aku belum pernah mencoba. Astaga betapa merepotkan. Ya, sutra lah let's do it again. John Gunadi sudah mati. Mas Wirok entah akankah sehat kembali.

Thursday, December 04, 2025

Semar Seram Memeras-remas Nasi Rames di Mares


Sebenarnya suasana lahir batinku sangat tidak sesuai untuk mengitiki, apalagi retroaksi, sedang di belakangku cantik ribut mondar-mandir berteriak-teriak kepada keponakannya si bangbung hideung. Namun aku tidak bisa pindah ke lain alat produksi, dari HP-11CBku ini. Terlebih ketika ditemani melodi-melodi lembut begini, dengan suasana temaram begini di suatu sore hari bermendung di tepian Cikumpa. Sudah 30-an tahun ini aku jadi orang Depok. Meski melodi-melodi lembut ini berasal dari Radio Dalam, mungkin pernah ke Magelang, sungguh ianya terasa begitu Depok.
Dalam suasana seperti ini tentu saja aku lupa pada AC. Namun kalau memang tidak akan pernah ada AC di rumah, maka mungkin lebih baik sampai akhir hayat. Seperti halnya helm bau dan HP-11CB ini. Mereka berfungsi dengan baik, meski helm bau dan HP-11CB compang-camping. Mereka seperti kaporlap yang sudah makan asam-garam pertempuran bahkan peperangan. Sebenarnya sore ini, seperti biasa, aku mengantuk. Namun dengan kubawa memberondongkan kata-kata begini nyatanya aku tidak sampai terlelap. Meski terasa jua berat-beratnya pelupuk mata-mata.

Lembutnya dupa kayu cendana Jepang membelai hidung, sedang mata tertumbuk pada gelapnya langit selatan. Angin menghembus pelan dedaunan jurasik, sedang aku teringat pada kaum tani. Khayalanku, romantisisasi akannya, kusembur-hamburkan pada anak-anak kecil kelahiran milenium ketiga. Mungkin memang dari situ daya hidupku. Mungkin dengan begitu aku merasa hidup. Sama dengan belanja bagi Kak Tina, bagiku bualan-bualan ini. Kini 'ku hanya dapat mengenang, mungkin secangkir, sejebung kopi hitam pahit, mungkin sebungkus djarum super.

Bahkan kenanganku kini mengenai buku mewarnai di ruangan tengah kantor notaris media sari di bilangan Radar AURI. Entah mengapa dadaku sampai sesak, sampai menangis daku sesenggukan, jika saja tidak ditenangkan oleh kenyataan bahwa tidak akan pernah ada lainnya kecuali engkau bagiku. Ya, kau cantik. Kau yang hanya bisa dua macam untukku: cantik atau lucus. Hari-hari memang selalu begini: menyenangkan atau tidak terlalu menyenangkan. Maka benar belaka kata seorang suhu kaskus: hidup ini indah, tinggal bagaimana menikmatinya saja. Hahaha.

Harlem Spanyol dari loteng dapur belakang tepat di tepi kali Cipinang, yang di belakangnya ada suara Mas Ranu memanggil kucing entah yang mana, dari waktu-waktu yang sudah lama berlalu. Illahi Rabbi hampir 35 tahun yang lalu. Tiba-tiba, ya, tiba-tiba menyusuli Spanyol Harlem dalam daftar mainku yang ini, yang sudah berumur setidaknya 20 tahun. Uah, pesona mono liburan musim panas sungguh memukau. Bayangan-bayangan di telinga kiri, sisanya di kanan. Kocokan gitar Bruce Welsh, towelan Hank Marvin, ketukan Brian Bennett, semuanya di kiri. Aduhai.  

Ini lagi, yang harus kulakukan cuma bermimpi. Kurasa ini pun diberi harmoni oleh Bruce dan Hank. Baru kali ini kurasa kusadari betapa harmoninya aduhai sedap sekali. Entah mengapa tiba-tiba aku terbayang Pak Teddy yang bukan tukang sop kambing. Suatu bayangan yang rasanya kurang pantas, maka biarlah aku melayang diterbangkan oleh seluruh cintaku kepada kenangan akan khayalan di masa lalu. Betapa aku bisa terharu-biru, tersedu-sedu gara-gara seluruh cintaku. Ini ada bocah cilik mau mewawancaraiku mengenai kisah hidupku. Mengapa tak Pak Padang.

Bidadari. Spek bidadari. Samba-samba. Apa itu. USA, Bang, samba-samba. Ya, untuk sementara ini seperti itulah bidadari gara-gara cocerot: cowok celana melorot. Dunia ini tempatnya entah-entah: hanya sedikit jatuh cinta, tidak sampai banyak, apalagi banyak-banyak, apalagi kebanyakan. Sedikit saja. Pada apa. Kalau aku jatuh cinta setiap saat, selalu jatuh cinta. Terbawa ingatanku pada balsem geliga dan mungkin tolak angin yang kubeli di RSPAD, ketika aku seharian di Foko. Bilakah itu. Mengapa ke situ ingatan membawaku. Sesaat saja kujatuh cinta pada.