Sunday, March 08, 2015

Si Putih aw Si Putih yang di Pojokan Itu


Mari kita mutakhirkan! Meski aku harus ngeblog di tiga tempat, empat bahkan jika Kompasiana turut dihitung, Kemacangondrongan harus tetap mutakhir. Di sore hari mendung yang bersahabat ini, tetap di tepian Cikumpa yang permai, kembali aku mengetuk-ngetuk papan-kunci memberondongkan kata-kata tanpa makna. Khairaditta dan Faw masih ada di sini, meski sebentar lagi akan segera dipulangkan. Tidak ada yang berhak membuatku sedih kecuali ingatan akan dosa dan dosa yang bertumpuk-tumpuk. Sisanya, kuserahkan sepenuhnya kepadaNya. Hamba mohon ampun, Oh Sang Pengiba.

Sejak kemarin Nadia menginap di sini. Tidak menunggu lama, ia segera ingat untuk minta gendong padaku. Padahal sepanjang hari kemarin aku sudah berolahraga. Ya, tepat sepanjang hari karena sampai lepas Ashar pun baru selesai labu siam saus tiramku. Memang semestinya kuberi lengkuas dan pedas. Banyak pun tak mengapa karena akhirnya anak-anak juga tidak makan. Oh ya, setelah lama sekali akhirnya kemarin sore aku mendadar telur empat butir sekaligus. Hasilnya cantik, hanya saja aku lupa bagaimana menakar garamnya.

Biarlah kuterima seperti apa adanya. Biarlah kau kupanggil Si Putih aw Si Putih, jadi semacam Chavez y Chavez gitu. Itu yang akan membedakanmu dari X450C yang lain. Bulan ini akhirnya kau lunas. Semoga masih lama kita bekerjasama, ya. Fujitsu sampai lama sekali. HP520 penuh kenangan. Hanya Axioo Pico ber-Liverpool yang tidak sempat lama. Oh, ia bersama Pak Amin sekarang. Ada baiknya kutanyakan kabarnya. Bagaimanapun kau telah sempat menemaniku. Mungkin memang tidak banyak karya yang kau hasilkan. Aku bahkan lupa kalau ada entri Kemacangondrongan yang pernah kau hasilkan.

Lalu super stereo earphone ini, ada mic-nya pula, tapi digunakan di henset makjang jelek kali pun suaranya. Justru bagus kalau dicolok di laptop. Ini akan cocok sekali jika digunakan di seberang al-Barkah itu. Oh, al-Barkah, ada apa denganmu. Entah mengapa, terbit rasa rindu padamu. Secara umum memang rasanya seperti kantor, tempat itu. Tenang. Aku bahkan sempat menghasilkan dua tulisan 500an kata dalam sekali kunjungan. Lalu jika waktu shalat tiba, segera melangkah ringan ke al-Barkah. Sungguh engkau nyaman sekali dan menerbitkan rasa rindu. Entah mengapa.

Kini di telingaku terdengar melodi dari lebih dua puluh tahun lalu. Mengenang masa lalu memang dapat menimbulkan perasaan hangat dan senang. Akan tetapi, tidak jarang pula itu akan mengilhamkan kedukaan, karena masa-masa indah itu tidak akan pernah kembali. Jika masa-masa indah itu adanya di depan, maka tidak ada cara lain untuk mengusahakannya. Aku tidak bisa membayangkan masa-masa indah selama itu masih berada dalam lingkaran samsara ini. Semalam sempat juga kubaca-baca entri-entri terdahulu. Ternyata tidak jauh beda. Jadi, mengapa khawatir?

Kata Pak Sam Santoso, semua orang ingin masuk surga tapi tidak ingin mati dulu. Sore ini, aku meminum campuran temulawak dan kunyit putih dengan harapan sempurnalah kesehatanku. Tidak ada yang kurang dari hidup duniaku, sepanjang itu menyangkut dunia. Persiapan untuk hidup akhiratlah yang harus selalu terasa kurang. Perbanyak amal shalih dan amal tha’at. Cegah diri dari berbuat kesia-siaan apalagi sampai kedurhakaan. Naudzubillahi mindzalik. Begitulah suasana hatiku. Semoga Allah ridha padaku. Semoga Bapak Ibu, Mama Tante Lien ridha padaku. Aamiin.

Saturday, February 14, 2015

Hari Kasih Sayang Tanpa Keju Kambiang


Ini tandanya aku harus banyak diam. Apa lagi yang dapat kulakukan? Berbicara terlalu bersemangat ditambah makan yang terlalu bersemangat juga menyakiti lambungku. Sakitnya pun naudzubillah luar binasa tidak nyaman, memalukan pula. Terlebih bahaya lagi, terlebih penting lagi, apa yang kukatakan sebagian besar—jika bukan hampir semua—tidak kujalankan sendiri. I don’t walk my own talk! Ini adalah suatu tanda kecemenan yang teramat parrahnya. Apa jadinya kalau aku sampai bertemu Animal Mother dan Joker. Bahkan Cowboy pun kurasa akan marah padaku.


Sore ini Togar mengucapkan selamat hari Valentine padaku. Ia tidak minta Silverqueen padaku, apalagi kondom; mungkin karena coklat belum terbukti sebagai afrodisiak. Lagipula, Mas Toni sudah mengingatkan pakai kondom belum tentu aman, makanya jangan jajan. Togar, katanya, merayakan Valentine dengan cara membaca-baca entri Kemacangondrongan yang mengenai cinta. Ia pun memintaku menulis lagi. Sebenarnya aku agak tersipu ketika Togar mengatakan secara tersirat bahwa aku sok nyastra. Bukan, bukan karena aku merasa nyastra gak pake sok, melainkan karena aku... puitis, prosais, lirikis.

Hari Kasih Sayang ini seharusnya kurayakan di Kodamar dengan acara bersih-bersih bekas banjir. Namun, Cantik melarangku. Ia tidak mau aku terlalu capek lalu sakit. Aku sangat ingin pergi, meski kuakui juga aku takut sakit. Pagi tadi, sebelum pergi, kami sarapan dulu Bubur Ayam Kabita. Jadilah aku tidak pergi. Aku hanya mengantarkan Cantik sampai Kowanbisata 511 sambil bersimbah air mata, padahal Simbah sendiri tidak menangis. Aku pulang dan meneruskan opor tahu telurku. Togar minta bagi. Daripada minta lebih baik kuberitahu cara buatnya, 'Gar.

Belilah tahu matang sekantong dan tahu cina kecil sekantong. Cuci bersih masing-masingnya, sisihkan. Rebuslah telur agak enam buah. Jika rajin, gunakanlah teknik menggoreng dengan air atau poaching. Tumislah bumbu opor instan sampai harum, tambahkan sedikit air. Masukkan tahu dan telur, tambahkan air sampai semuanya terendam. Kecilkan api, diamkan sampai air berkurang. Jika telur dan tahu cina sudah kelihatan kekuningan karena menyerap bumbu opor, tambahkan santan instan sesuai selera. Tambahkan juga garam sesuai selera. Jangan pakai bumbu masak lagi karena biasanya sudah terkandung dalam bumbu instan.

Inilah Hari Valentine yang sempurna. Sendirian saja di rumah bersama satu wajan penuh opor tahu telur. Setelah mencicipi dan ternyata memang endang bambang, maka segera belanja kabel dan kelengkapannya untuk membuat lampu kanopi. Sempat sedih karena tibang masang kabel aja rasanya capek bukan main, akan tetapi ternyata tidak seburuk yang kukira. Sambil menunggu Pak Majid pasang kabel otomatis pompa, ternyata aku santai duduk di pinggir hutan bambu sambil lihat-lihat medsos. Nyamuk bambu mengerubung pun tidak menjadi masalah buatku.

Kasih sayang memang tidak selamanya harus dinyatakan dalam wujud keju kambiang. Meski ia surealis seperti mimpi, begitulah ia selalu. Seperti dermaga dingin dan bangku kayu yang diliputi bau pesing, bau kencing basi pemabuk. Itulah surealisme kasih sayang yang tidak akan pernah kupahami meski sampai kapanpun. Hanya harapan baik yang dapat dibubungkan, meski tanpa asap dupa asap setanggi. Ketakutan menjadi kenyataan dan kesenduan tiada bertepi, akan dermaga dingin yang surealis itu. Kuulang-ulang kata itu meski rasa bersalah tak kunjung mau pergi.

Selamat Hari Kasih Sayang, Kambiang. Selamat Tinggal.

Monday, February 09, 2015

Hari Pertama Kuliah Semester Genap 2014/2015


Minggu sore kemarin aku sempat terucap, musim hujan macam apa ini, karena langit sore menjelang Maghrib itu memang demikian cerianya. Mungkin ada juga mendung sedikit, namun yang jelas udaranya panas cenderung gerah. Minggu sore itu aku ceritanya masak tumis pare dengan teri padang. Salahku, aku membiarkan pare yang sudah kupotong tipis berlumur garam terlalu lama. Seharusnya setelah diremas-remas dengan garam segera dicuci bersih agar garamnya tidak terlanjur tinggal dalam daging buah. Jadilah tumis pareku seperti asinan pare yang dibuat oleh orang yang kebelet kawin.

Asal gambar dari sini
Menjelang malam, seingatku, hujan mulai turun. Mendekati Shubuh hujan sudah melebat. Ketika aku shalat Shubuh, udara begitu dinginnya. Hari ini adalah hari kuliah pertama di Semester Genap 2014/2015 untuk Universitas Indonesia. Meski kelasku mulai jam 11.00 tetap saja kami harus berangkat pagi karena Cantik menggantikan kelas orang di Fisip pada jam 08.00. Setelah shalat aku tidak berani tidur lagi. Lagipula tidak terlalu mengantuk. Kumanfaatkan kesempatan itu untuk mengetik-ngetik. Namun, ketika Cantik akhirnya terbangun, aku memutuskan untuk bergolek-golek.

Tivi sengaja kunyalakan cukup keras suaranya agar aku jangan sampai terlelap. Sekira hampir setengah delapan, aku dibangunkan Cantik karena air mandiku sudah siap. Jam delapan kurang kami berangkat di bawah guyuran hujan. Pantatku terasa dingin. Ternyata air mengalir melalui bagian depan ponco Cantik. Maka selepas kuantar Cantik ke Fisip, aku bergabung dengan Para Tamtama di kantin... dengan pantat basah. Kupikir, perutku tidak boleh kosong. Jika kosong aku bisa kemasukan. Maka kupesanlah seperti biasa nasi merah ikan asing telur ceplok kuah dari Warung Dilla.

Rencananya, pagi itu jam 09.00 kami pengampu Peminatan Hukum Lingkungan dan Pengelolaan Sumberdaya Alam (HL&PsdA) akan mengadakan rapat koordinasi perkuliahan. Akan tetapi, Mbak Wiwiek—seperti semua penduduk Jakarta pagi itu—terjebak macet dan banjir entah di mana sehingga, menurutnya, tidak mungkin tiba di kampus pada jam itu. Jadilah aku agak berlama-lama di kantin bersama Para Tamtama. Sekitar jam 10.00 baru aku naik ke Bidstu HAN. Sudah ada Mas Santo, Dik Vit dan Bang Andhika. Bang Andhika sempat seru bercerita mengenai KBK, tapi aku harus mengantar Cantik ke Vokasi.

Sepulang dari Vokasi aku segera membuka kelas Hukum dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Pesertanya kebanyakan adalah peserta mata kuliah Hukum Lingkungan dari semester kemarin. Ternyata, menjelaskan SAP ditambah sedikit bumbu-bumbu saja sudah menghabiskan 100 menitan. Jadi, materi mengenai Pembangunan Berkelanjutan sebagai Prinsip Pengelolaan Sumberdaya Alam belum sempat disampaikan dalam kuliah pembuka itu. Mungkin tahun depan disainnya harus diubah sedikit. Apakah dengan mengorbankan sesi diskusi? Seingatku, tahun kemarin sesi diskusi juga kurang efektif. Menurutku, penting untuk menyampaikan SAP dengan terperinci untuk mata kuliah ini.

Setelah kuliah, ternyata Mbak Wiwiek sudah ada di Bidstu. Namun aku tidak dapat segera bergabung karena Cantik sudah selesai di Vokasi. Sempat tertahan oleh bekas anak bimbingan, aku segera memacu Pario ke Vokasi, menjemput Cantik. Lewat belakang Poltek, kuantarkan Cantik sampai bertemu D10 di pertigaan Ramanda. Aku sendiri berpacu kembali ke kampus. Jadilah kami berlima, Mbak Wiwiek, Mas Santo, Bang Andri, aku dan Dik Vit berapat mengoordinasikan SAP untuk semua mata kuliah dalam Peminatan HL&PsdA, kecuali Hukum Perubahan Iklim. [Kecuali?! Seingatku, di SIAK masih ada kelas itu untuk Paralel! Wah, Bang Andri harus kuingatkan mengenai hal ini]

Sebelum ditutup, mungkin perlu juga dicatat bahwa aku ngaco ketika menerangkan SAP di kelas Paralel. Selesai hampir jam tujuh, rasa lemas itu kembali mendera. Ya Allah kasihanilah hamba, kasihanilah Bapak Ibu hamba. Alhamdulillah ditunggu agak satu jam, rasa itu mereda. Segera aku menyongklang Pario. Awalnya perlahan, makin lama makin langsam. Mendekati rumah aku merasa cukup segar untuk lanjut ke Lotteriwa. Alhamdulillah sampai di rumah. Satu burger nasi bulgogi dan chick-chick shaken kunikmati sambil menonton korban bom atom Hiroshima di NatGeo.

Saturday, February 07, 2015

Belum Ada Judul. 'Ga Usah Aja


Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada junjungan kami Baginda Nabi Besar Muhammad SAW berserta keluarganya, para sahabatnya, para pengikutnya semua sampai di akhir jaman. Aamiin.

Agar suasana hati sesuai, mungkin memang harius dibiasakan dulu dengan menulisi Kemacangondrongan. (Halah!) Siang ini, di hari wisudanya kebanyakan anak bocah 2011, aku menjadi Mas Jo. Hahaha. Iya, aku menjadi Mas Jo karena aku mengetik di depan ex-markas BPM. Memang yang paling sulit dari tidak punya meja sendiri adalah tidak punya akses internet kabel. Lalu internet gunanya buat apa? Aku juga tidak yakin. Apakah program-program di dalam Asus Transformer ini harus dimutakhirkan benar? Aku juga tidak yakin.

Meski ini gambar Kapal Borobudur, sebenarnya sih biar cepat saja. Dari Bismillah Kasal.
Akhirnya, akses internet ini memang hanya berguna untuk memutakhirkan Kemacangondrongan dengan entri yang kuharapkan dapat memicu suasana hati yang pas untuk segera menulis. “Kamu belum terima dari Jeprut?” tanya Cantik tadi begitu saja. Berarti… aku harus menulis. Oh, dengan kincir-kincir angin di hatiku, dengan kisah cintaku, aku tidak bisa lain kecuali menulis. Hanya itu pun yang aku bisa. Belum pernah, seingatku, dalam hidupku aku menadahkan tangan tanpa berusaha barang sesuatu apa terlebih dahulu. Ini lebih karena kata yang telah terucap.

Lagipula, perancang Transformer ini sepertinya tidak pernah menggunakan mesin tik. Memang sih, dulu di mesin tik ada juga standar untuk menegakkan kertas. Akan tetapi, kertas yang terlentang di atas penggulung ‘kan posisinya cenderung tidur, tidak tegak hampir sembilan puluh derajat begini. Ya, itulah kekurangan terbesar Si Peubah ini. Mengetik satu dua halaman mungkin tidak terasa. Jika harus mengetik ratusan halaman, kurasa akan terasa juga akibatnya pada tengkuk dan pundak. Mungkin, Transformer ini memang tidak dirancang untuk digunakan berlama-lama.

Berarti Asus X450C tidak boleh dijual. Berarti akan ada sumber rejeki dari tempat lain. Berarti aku akan dikaruniai kesehatan yang baik. Aamiin. Di hari wisuda kebanyakan anak bocah 2011 ini, di hari baik bulan baik ini, bahkan kapan pun, aku selalu berprasangka baik pada Tuanku. Kepada sesama manusia saja aku selalu berprasangka baik. Mengapa pula aku tidak berprasangka baik pada Tuanku Maha Baik? Lagipula, Si X450C itu masih kurang dua kali lagi cicilannya, bulan ini dan bulan berikutnya. Alhamdulillah.

Barusan bertemu Bobby Marbun dan Putu Daivi, dan Bobby berminat pada Institut Pancasila yang tidak menghasilkan uang itu. Seandainya saja aku mampu menjadi Carl dan Takwa Frednya, itu… angan-angan yang terlampau jauh. Das Sikumbang sudah dua kali menyindir, “sudah saatnya.” Aku bisa apa? Aku cuma bisa berkhayal aku Carl sedangkan Takwa Fred. Tidak ada jaminan pula Takwa akan kehilangan kesabarannya padaku, atau kehilangan minatnya pada apa yang sekarang menjadi minat bersama ini. Ahaha, itu sih aku banget, Bahkan Su Suk aja tahu.

Lalu aku sesumbar pada Bobby. Beri aku waktu sampai September tahun depan dan mari kita lihat apa yang terjadi. Edan. Sok-sokan. Gaya-gaya’an. Sementara itu, aku harus segera menghasilkan Seri Sejarah Maritim Indonesia, yang aku anggap sepele pengerjaannya, namun kenyataannya sampai detik ini belum bertambah sepatah kata pun. Mengapa aku merasa sangat berkewajiban? Apa karena janjiku? Sejujurnya, tidak terlalu. Ini lebih karena Cantik. Segala sesuatu selalu mengenainya. Sudah lima tahun lebih ini, hidupkan selalu saja hanya mengenainya.

Friday, February 06, 2015

Lelaki, Rembulan, Monas dan Wantannas


Antara 3 sampai 5 Februari, aku berada di antara rembulan, Monas dan Wantannas. Aku lelaki, berangkat pada Selasa pagi mencongklang Vario. Di pagi yang mendung itu aku sampai di Jalan Radio. Masih juga menyempatkan diri sarapan Ibu Tamin, lauknya telur dicabein, ada bihunnya, sayur nangkanya, ekstra tempe goreng Ibu Tamin yang legendaris itu. Sepuluh ribu. Alhamdulillah masih sempat mengobrol sebentar bersama Bapak Ibu. Sekira delapan lebih lima belas, melangkah mantap ke pinggir jalan, menyetop Prima Jasa.

Begitulah segala sesuatunya berawal untuk mengawali Februari 2015 ini. Urutan sebenarnya adalah Wantannas, Monas, baru rembulan, karena pagi datang dahulu mengemudiankan petang. Aku lelaki, terlalu sering cingcong pada supir taksi. Mungkin sebaiknya jika cingcong demikian jangan tanggung-tanggung. Langsung gjeger aja biar aamiin. Meski, seingatku, memakan waktu cukup lama juga untuk gjeger. Akankah terjadi lagi padaku? Terjadi apa? Apa harus seperti itu lagi? Apapun itu, asalkan efeknya sama atau bahkan lebih dahsyat pada trajektori yang sama. Aamiin. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Aku lelaki pantang mundur jika timbang cingcong doang, karena hanya itu kebisaanku. Secara substansial, akibatnya, tidak ada yang bertambah. Hanya saja harus selalu diingat untuk di mana pun berada memberikan karya terbaik bagi nusa, bangsa, negara dan dunia. Lhah, agamanya mana? Katemi saja berpesan begitu pada anak-anaknya, meski paku telah dicabut dari kepalanya. (atau Suketi...? Ah, kurang nonton Apresiasi Film Indonesia, nih) Agama, setidaknya terkait dengan Mesjid Darussalam yang selalu penuh, setidaknya selama jam kerja, sudah seperti shalat Jumat saja.

Secara prosedural... ya, memang cara ITU saja titik beratnya. Substansi dapatlah dinomorduakan dalam urusan ini. Analisis strategi, yang bagiku tidak bisa lain kecuali menggeremang doa-doa dan harapan baik, sebagaimana aku sendiri sangat membutuhkan doa-doa dan harapan baik sebanyak mungkin. Meski terpisah di ujung-ujung magnet jarum kompas, ikatan itu tidak akan pernah hilang. Terlalu banyak waktu yang kami habiskan bersama. Terlalu banyak suka duka. Semoga Allah menolong kami semua. Kasihanilah kami, Oh Allah, kami mahlukMu yang lemah tak berdaya.

Lalu hidangan-hidangan prasmanan yang sudah jelas dipersiapkan oleh suatu katering atau semacamnya. Otsorsing mungkin. Kudapan-kudapan juga bolehlah, meski entah mengapa teh tidak di situ tidak di hotel rasanya sama. Tidak enak. Apalagi ditambahi krimer cair yang membuat perut panas saja. Minum air putih, karenanya, menjadi alternatif yang sangat masuk akal meski akibatnya pipis-pipis terus. Kantuk tidak pernah menjadi masalah kecuali di hari kedua yang sampai malam itu. Sampai terpaksa menahan leher dengan gulungan karpet, begitu saja di lantai mesjid.

Selebihnya, sungguh senang hari pertama ketika pulang ada Istri Tersayang. Kurasa tidak ada yang lebih menyamankan hati daripada itu. Pulang kepada orang-orang yang disayangi. Ada semua pada saat itu. Sesampainya di Jalan Radio, kami masih sempat berboncengan Pario. Cantik tadinya minta bakso, tetapi ternyata tidak ada bakso di Barito. Setelah membeli tiga plastik bubur ayam, segera balik arah ke Radio Dalam dan mampir dulu di Salero Ajo. Entah mengapa ia sepi, sedangkan yang di depan ex-Circle K justru ramai.

Selebihnya, ini urusan antara lelaki dan rembulan. Antara Monas dan Wantannas. Hari ketiga itu bahkan pulang sudah tidak kuat. Kepala sakit sekali, apakah karena makan terburu-buru. Mencongklang Pario hanya sampai Kemang dan balik bakul, meski telinga sudah disumpal al-Baqarah. Tidak lama setelah sampai di Jalan Radio, menyalakan AC sebentar maka tertidurlah untuk bangun keesokan paginya. Alhamdulillah segar sehat bugar. Mampir dulu di kampus, bertemu dengan Para Tamtama, masih sempat makan mie jamur pangsit rebus. Pulang. Pulang. Lelaki pulang.

Thursday, January 29, 2015

Mungkinkah Ini Cinta? Insya Allah


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Hamba berlindung kepadaMu Ya Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut namaMu Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagiMu Tuhan seluruh alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas junjungan kami, kekasihMu, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasalam beserta seluruh keluarganya, para sahabat dan pengikut-pengikutnya yang setia berpegang pada Quran dan Sunnah sampai akhir jaman. Aamiin Yaa Rabbal alamin.

Pada jam 02.47, Bapak mengirimkan sms demikian. “Bon, saatnya SMATN melahirkan pemimpin. Bapak ingin kamu bersikap layaknya pemimpin yang santun, merakyat, sederhana tapi tegas, berani dan cermat. Keadaan negara mengharuskan bergerak maju. Bapak selalu tahajud untuk itu. Mungkin harapan Bapak terlalu muluk, tapi memang itulah yang bergaung di dalam jiwa Bapak.”

Aku baru membalasnya selepas shalat shubuh pada jam 05.38. “Aamiin Yaa Rabbal alamin. Insya Allah semakin banyak yang berdoa seperti Bapak. Rakyat Indonesia sudah terlalu lama dibohongi, jadi bulan-bulanan bahkan oleh bangsanya sendiri. Insya Allah, one of these days Gusti Allah berkenan mirengke dan ngijabah doa Bapak dan mungkin jutaan lainnya Rakyat Indonesia, apalagi yang mendoa sambil tahajud. Insya Allah saya juga berdoa agar diparingi rahmat hidayat seperti itu juga, mendoa sambil tahajud. Aamiin.”

Jika melihat isi blog orang lalu teringat blog sendiri, rasanya malu. Aku membaca-baca blog orang ketika ingin melipur laraku sendiri berharap ampunan Allah dan kesembuhan, kesehatan yang sempurna. Jawabannya satu. Tahajud. Ndilalah kersaning Allah, Bapak mengirim sms begitu rupa. Sepertinya memang tidak ada cara lain. Hari ini aku tidak terbangun tengah malam. Setidaknya, aku berusaha untuk tidak tidur lagi setelah shubuh. Kudengar ini pun salah satu sunnah Rasul. Terlalu banyak yang kudengar, sedikit sekali yang kujalankan.

Manfaat apa yang didapat orang dari membaca-baca blogku? Menurut statistik, kebanyakan peselancar dunia maya tersesat ke blogku ketika mereka menelusur mengenai mantra santet dan gadis cantik. Sementara aku dituntun gugel ke arah blog orang-orang hebat ini yang memberitakan berbagai pengetahuan yang sangat berguna. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Pun demikian, masih saja aku menulis-nulis begini. Sejujurnya, aku tidak terpikir hal lain agar tidak tidur selepas shubuh, kecuali menulis-nulis. Ya Allah ampunilah hamba, kasihanilah hamba, bimbinglah hamba ke jalan yang Engkau ridhai.

Aku berjanji untuk menulis suatu serial esai, masing-masing lima ratusan kata, mengenai sejarah maritim Indonesia. Selain itu, aku juga berjanji pada diriku sendiri untuk menulis laporan kegiatan kemarin bersama Pak Try dan Pak Teddy. Menilik dari perasaanku pagi ini, Insya Allah aku mampu melakukannya. Satu hal yang sedikit membuatku risau adalah harus pergi ke Medan Merdeka Barat selama dua hari berturut-turut. Ya Allah, hamba mohon pertolonganMu. Karuniakanlah kepada hamba kesehatan yang sempurna, dan jalan yang sempurna menuju hal itu.

Hari ini aku berniat untuk pergi ke kampus mengambil tasku. Ya Allah, jauhkanlah hamba dari apa yang hamba takutkan itu. Segala sesuatu datangnya dari Engkau. Memang hamba sungguh bodoh lagi durhaka. Ampunilah hamba, Ya Allah, kasihanilah. Hanya kepadaMu hamba dapat memohon pertolongan, belas kasihan, ampunan, Duhai Maha Penolong, yang pertolongannya sempurna. Ya Allah yang Maha Berbelas Kasih, Maha Pengampun. Kasihanilah Bapak hamba. Kasihanilah kedua orangtua hamba. Hamba mohon dituntun ke jalan bakti kepada mereka berdua. Aamiin Yaa Rabbal alamin.

Sunday, January 25, 2015

Viva El Presidente! Смърт техен!


Dunia ini panggung salihara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Mengapa kita bersalihara
Mengapa kita bersalihara

Seharusnya aku merapikan cakar ayam dari sesorean sampai hampir tengah malam tadi. Bahkan cakar ayam mengenai Restorasi Pancasila saja belum kubereskan. Akan tetapi, aku sudah tidak punya cukup tenaga [atau waktu, karena aku harus segera berangkat tidur] untuk melakukannya kini. Biarlah kutunda sampai besok. Mungkin besok akan kulakukan di Jeprut, atau Jalan Radio. Lihat besoklah. Oleh karena itu, malam ini biarlah aku mengabadikan bagian-bagian manusiawi (human interest) dari kejadian-kejadian sepanjang petang sampai malam ini. [‘pala lo human interest?!]

Evo Morales sedang kompresi pres
Pertama-tama, tentu saja rujak cingur yang bumbu petisnya mantabp, sampai-sampai aku berani makan cingurnya yang kinyel-kinyel itu. Pokoknya cucok lah "Salad Surabaya" tadi itu. Kedua-dua, mungkin shalat Ashar yang diimami oleh mantan petinggi PKS Jepang Azhari Sastranegara lalu shalat Maghrib yang diimami Bang Humbul Kristiawan. Jika saja beliau tidak menarikku tadi setelah jeda, tentu aku sudah shalat Maghrib diimami Pak Try Sutrisno, yang secara resmi tertulis sebagai idolaku menurut Buku Tahunan TN2.

Akan tetapi, laporan utama malam ini tentu adalah mengenai penobatan Evo Morales sebagai El Presidente oleh Rshi Bhishma, di hadapan senior-senior, rekan-rekan, bahkan junior-juniornya yang jelas-jelas lebih hebat darinya—sedangkan mereka dinobatkan sebagai para menteri. Hadir pula dalam kesempatan itu para sesepuh Hastinapura dan lain-lain yang belum terlalu sepuh. Salah satu dari antara yang belum terlalu sepuh itu, Pak Jon, mengatakan bahwa Rshi Bhishma bersumpah tidak akan meninggal sebelum menyerahkan tampuk kepemimpinan negara pada orang yang tepat. [atau benar?] Aku sendiri tidak ingat Rshi Bhishma pernah bersumpah demikian.

Rshi Burian menyebutnya sebagai transformational leadership, menyiapkan Evo Morales dan kawan-kawannya untuk mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan Bangsa. Para Rshi ini tampaknya berharap sangat besar dan tinggi pada Evo Morales dan kawan-kawannya, sedangkan Pak Jul dan Pak Husen menyebut bocah-bocah ini sebagai bahasa Maduranya TN, yaitu Taman Nakkanak. Betul, Pak, Evo Morales cs. memang nakkanak di bidang ini. Mereka memang belum terbiasa netek, sedangkan sebagian besar darinya menekuni bengek masing-masing. Kata kuncinya dalam hal ini mungkin, sebagaimana disabdakan Rshi Bhishma, “TANPA PAMRIH.”

Pamrih apa? Pamrih melihat Bangsa ini maju, seperti kata Herbie? Berhubung aku agak kenal Evo Morales—kebetulan kami saudara kembar siam dampit identik lain bapak lain ibu—aku agak dapat membaca pikiran Evo. Ia jelas punya pamrih yang sangat besar. Bapaknya yang turunan Ken Arok menginginkan ia melakukan kerja besar sebagaimana pernah dikerjakan leluhurnya itu. Ini memang spesialisasi turunan Ken Arok, yaitu spesialis terima beres. (STB) Lhah, kalau begitu berarti harus ada juga Dang Hyang Lohgawe.

Selepas acara itu, Takwa, Steve dan Herbie mengajak geser ke Circle K dekat situ. Aku minum teh susu dan makan roti keju, masih juga makan martabak telor yang dibeli Herbie agak dua potong. Oh, apa yang telah kulakukan? Dunia ini toh panggung salihara yang ceritanya mudah berubah. Akan tetapi, mungkin memang itu satu-satunya konsep dasar, yang karenanya Ip Man harus berterima kasih pada Togar Tanjung. Selesai dari situ sudah hampir tengah malam. Sempat ragu, namun setelah diterpa angin malam, Alhamdulillah, segar lagi menyongklang Pario sampai rumah.

Kami Putra Ibu Pertiwi Indonesia
Setia kepada Proklamasi 17 Agustus 1945
Setia kepada Pancasila
Setia kepada UUD 1945
Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
Bersedia menyerahkan seluruh jiwa raga 
bagi cita-cita perjuangan Bangsa Indonesia

Saturday, January 24, 2015

Funai adalah Musiknya Kemayoranku


Sekarang aku kenyang. Cenderung kekenyangan malah. Siang tadi itu aku mengapa, ya? Sore kemarin aku tahu mengapa, tapi siang tadi? Ya Allah, hamba berlindung kepadaMu dari yang seperti tadi itu. Hamba mohon angkatlah dan jauhkanlah segala penyakit dari badan hamba. Ya Allah, hamba mohon karunia kesehatan yang sempurna. Semoga hamba tidak pernah harus mencari perhatian medis. Bila pun hamba sakit, cukuplah yang ringan-ringan saja, yang dapat sembuh hanya dengan ditunggu saja, ditahan sakitnya, yang menjadi penghapus dosa-dosa. Aamiin.

Kesalahanku adalah menginginkan kembalinya masa kecilku. Pendorong utama disusun dan diterbitkannya blog ini, maka judulnya jadi seperti itu, plesetan dari Kemayoran. Sungguh Kemayoran itu betapa permai terasa di hati. Sekarang pun sambil mengetikkannya, terasa betul betapa permainya. Terlebih dengan adanya Lara’s Theme ini, Dr. Zhivago. Pengetahuan yang kudapat di Kemayoran dari Ibuku, dan lekat pada benakku sehingga kini. Justru di situlah letak kesalahanku. Semua itu tidak akan kembali, tidak peduli apapun yang kulakukan. Kemayoran tidak akan pernah hadir kembali.

Terminal Bandara International Kemayoran pada tahun kelahiranku
Sekarang, dengan Fawaz main monopoli di kamar belakang dengan Bundanya, semakin terasa jauh Kemayoran itu. Tidak ada monopoli di Kemayoran! Perkawinan adalah bersatunya pengalaman dua manusia. Pengalaman dibesarkan yang menjadi acuan dalam membesarkan. Semua yang ada di sekelilingku asing. Aku tidak mengenalinya barang satu pun. Terlebih dengan Moulins de Mon Coeur, semakin terasa terasinglah diriku. Semakin terasa jauh dari Kemayoranku yang permai di malam hari. Celoteh binatang malam adalah kemiripannya dengan Cikumpa ini. Sisanya, asing.

Ketika malam perlahan menyelimuti, maka di barat terlihatlah puncak Monas yang gemilang keemasan. Aku harus berjinjit untuk dapat melihatnya ketika itu. Pernahkah Bapak atau Ibu memperhatikannya. Apakah sama menariknya Monas itu seperti bagiku? Monas yang jauh itu. Sungguh nyaman berada dekat-dekat Ibu, dan Bapak jika tidak sedang dinas malam, sambil memandangi Monas yang jauh itu. Tidak ada bahaya. Tidak ada khawatir. Besok hanya diisi oleh rencana-rencana yang melulu mengasyikkan. Buku untuk dibaca. Karton untuk digunting-gunting, dibuat mainan.

Ketika malam semakin larut, TVRI pun semakin mendekati akhir siarannya. Aku tidak terlalu ingat apapun mengenai hal itu, karena sebagaimana layaknya anak kecil, aku nyaris tidak pernah tidur larut. Hanya kuingat lamat-lamat, kami sempat pulang sangat larut (dari Tomangkah itu) sampai-sampai aku bisa melihat akhir dari film seri Buck Rogers. Setelah tua begini, terkadang aku berandai-andai, apa yang dialami, apa yang dikenang oleh orang-orang yang lebih dewasa lagi dariku, mengenai waktu-waktu itu? Sibuk apa saja Mas Oki di Duren Tiga, sebagai siswa SMA 70?

Begitulah, aku tidak bisa beranjak darinya, dari Kemayoran. Aku tidak punya anak yang dapat mengajakku beranjak ke dalam masa kecilnya. Aku terperangkap dalam masa kecilku. Wajarlah jika manusia berusaha meringankan hidup kesehariannya yang penat, bahkan jika itu dilakukan dengan sekadar berkhayal. Sedangkan aku yang sekadar pernah mengalami episode-episode menjijikkan dalam hidupku selalu membutuhkan pelipur. Bagaimana dengan orang yang masih mengalami hidup nista. Naudzubillah. Kasihanilah kami Ya Allah hamba-hambamu. Datangkanlah pertolonganMu secepat-cepatnya. Angkatlah kami dari kenistaan. Basuhlah kami dengan Belas KasihMu, Ya Rabb.

Biarlah entri ini kututup dengan sedikit deskripsi mengenai Kemayoran. Musik. Ya, selalu musik yang cantik, sedangkan Ibuku yang cantik selalu sibuk entah apa. Biasanya sambil beres-beres rumah, maka Ibu akan mendengarkan musik dengan stereo set merek Funai, yang selalu dikenang Bapak karena tibang begitu aja dahulu pakai ngredit. Musik yang cantik. Suasana hati yang selalu aman dan nyaman. Hangat. Aku tidak pernah ingat kepanasan atau kedinginan. Semua serba aman dan nyaman dan hangat, seraya memandang ke arah selatan dari rumah kami yang tusuk sate itu.

Friday, January 23, 2015

Mahkota Seleraku yang Sedap Sekejap Itu


Berlatih menulis tiap-tiap kali lima ratusan kata sebenarnya merupakan kebiasaan yang baik. Akan tetapi, gagasan-gagasan dalam tiap alineanya haruslah runtut. Sedangkan aku di sini menulis seenak-enak hatiku saja. Banyak hal sebenarnya yang harus kutulis. Namun daya tarik menulis asal-asalan selalu lebih kuat dari yang mana pun. Seperti malam ini, ketika badanku sudah terasa lebih enak, hal pertama yang terpikir olehku adalah menulis. Sayangnya, menulis di sini, yang tidak akan banyak faedahnya ini. Tulisan, kata-kata, ujaran ini.

Beberapa hari ini cuacanya agak lucu. Menjelang shubuh hujan mulai turun, biasanya didahului dengan kilat dan guruh bersahut-sahutan. Setelah itu hujan tidak pernah benar-benar berhenti, bahkan hari ini sampai lepas Ashar. Akibatnya, dari pagi sampai sore bawaannya ingin tidur saja; dan memang enak sekali tidur dalam cuaca seperti itu. Sebaliknya, malam yang menurut ramalan cuaca berawan menjadi tidak nyaman untuk tidur. Itulah sebabnya, sudah hampir jam sebelas malam, aku baru bersemangat melakukan sesuatu; dan itu, sialnya, adalah menulis-nulis di sini.

Uah, Rendesvouz au Lavandou ditingkahi dengan kenangan akan Majalah Sedap Sekejap, bahkan Majalah Selera. Sungguh masa kecil yang indah. Tidaklah akan aku penasaran karena telah mengalami masa kecil seindah itu. Meski ia tidak mungkin kembali, aku sudah mengikhlaskannya. Bahkan jika hidup dewasaku kurang-kurang bahagia sedikit, tidak menjadi apa. Cukuplah bagiku ketika kecil pernah membaca seekor kuda yang mati tertimpa mempelam, dan Bapak yang selalu ribut masalah bahasa tentu saja meributkan hal itu. “Apa itu mempelam? Pelem?”

Lucunya, Lobo yang satu ini, Don’t Expect Me To Be Your Friend, tidak mengingatkanku akan masa kecil. Ini justru membawa pada salah satu masa terkelam dalam kehidupanku. Mess Pemuda. Seperti apa dahulu hidup di situ? Ada satu kesamaan dengan masa sekarang. Aku sama-sama gendutnya pada saat itu. Gendut sekali! Subhanallah, kapan itu, hampir lima belas tahun yang lalu. Hitung-hitung ada yang menjalaninya, dan itu aku. Aku bersama beberapa jiwa tersesat lainnya. Di situ. Mess Pemuda dengan Witch Grandma-nya, yang rumahnya ancur ibunya mati.

Lalu ada jejak-jejak cinta. Apakah itu? Samakah ia dengan cerpen-cerpen yang pernah kubaca di Bobo, Kawanku, Ananda? Jelas ada cinta di sana. Cinta Bapak dan Ibu padaku, sampai-sampai membelikan majalah-majalah itu meski bekas. Hei, entri ini jadi mengenai majalah, meski bekas! Ada pula cinta Akung padaku, cucu kesayangannya, yang mendorongnya membeli majalah-majalah baru tiap minggunya. Bahkan sampai Mimin! Anak tidak bisa lain harus dibesarkan dengan cinta. Aku kenyang dihajar habis-habisan, (H3) namun hanya cinta yang kukenang.

Majalah Selera itu, beberapa eksemplar, juga semacam buklet Mahkota Selera, beberapa eksemplar juga, semua itu cinta. Sempat juga, setelah episode Mess Pemuda yang pahit dikenang manis ditertawakan, cinta itu kembali menyelimuti dalam bentuk Majalah Sedap Sekejap. Kurasa entri ini dipicu oleh percikan kenangan tentang mi rayud. Terselip sesungging sedih ketika ternyata hanya satu entri mengenainya dapat kutemui di gugel. Arroz con pollo panameño, aloo matar bhaji, adalah beberapa nama aneh yang kutemui di Majalah Selera, yang tak bisa kulupa bahkan sehingga kini.

Lucu jika mengingat betapa arroz con pollo panameño, aloo matar bhaji dilanjutkan dengan mi rayud menemaniku ke mana-mana. Mereka bersamaku ketika aku memandangi plafon Graha 3 menunggu kantuk. Mereka bahkan bersamaku ketika aku jaga serambi di Barak Ton 3 Kotakta A. Mereka menemaniku ketika aku nyoro sebentar di balik tangga Gedung Wiratno sebelum lari pagi. Mereka menghiburku dalam malam-malam mengerikan, malam-malam jahanam yang entah mengapa sampai hinggap dalam kehidupanku. Mereka selalu bersamaku, sampai kini, nama-nama aneh itu.

Wednesday, January 21, 2015

Malam Begini, Gerimis dan Togar Tanjung


Restorasi Pancasila... itu sesuatu hal yang teramat penting. Bagiku. Bersikap sopan pada orang yang lebih tua, apalagi orangtua, apalagi sesepuh adalah kode kehormatanku. Kesetiaan adalah kebanggaanku. Kehormatan di atas segala-galanya. Namun Kemacangondrongan ini terlalu kuat menarikku bagai besi berani. Untuk terus menulisinya sesuka hati karena di sinilah, dari semua tempat di dunia aku dapat berbuat sesuka hati. Meskipun itu menulis, karena aku memang suka menulis. Aku lebih suka menulis daripada bicara. Menulis meninggalkan jejak. Bicara tidak. [Apa dengan demikian aku suka meninggalkan jejak?]

Namun ini entri mengenai temanku. Ya, teman sejatiku memang Cantik, tapi Cantik itu ‘kan istri. Istri itu perempuan. Perempuan memang teman seperjuangan mengarungi bahtera rumah tangga. Namun ini teman. Sekarang ini, jika ditanya siapa temanku, aku hanya dapat menyebut satu nama. Togar Tanjung. [Ah, ia ‘kan juniormu jauh] Akan tetapi aku memang tidak punya teman. John Gunadi jelas tidak suka berteman denganku. Hari Prasetiyo, dia temanku juga. Farid. Ega, mahasiswa bimbinganku. Aku tidak punya lagi teman.

Togar Tanjung punya kehidupan dan waktunya sendiri. Pun demikian, satu hal yang jelas, dia... Hah, aku tidak ingin memberikan kehormatan itu padanya. Setidaknya tidak sekarang. Akankah pernah? Tidaklah. Cukuplah penghormatan ini kuberikan pada Mas Toni Edi Suryanto. Ia Pecundang Sejati, meski aku belum dapat memutuskan apakah pecundang lebih baik daripada pecun. Baik pecundang maupun pecun sama-sama berusaha menaklukkan dunia. Bedanya, pecundang, sesuai namanya, dipecundangi. Pecun? Kadang mecun, kadang mempecundangi, kadang mati. Gloria Wandrous, contohnya, mati.

Sebuah tulisan "No Sale" yang bagus sekali, kata Cantik. Aku setuju.
Malam-malam begini, di tengah hujan gerimis lamat-lamat, aku menulis mengenai Togar Tanjung. Untunglah tulisanku ini tidak seperti surat-surat Erasmus kepada Servatius Rogerus. ‘Gar, Gunawan Mohamad itu... ah, aku tidak mau memaki. Namun caramu menyebut apa yang dimilikinya sebagai “modal sosial” terngiang selalu dalam benakku. Kita tertawa-tawa membicarakan kelakuan dan nasib prodiginya. Apa yang dapat kita perbuat, Gar? Sementara Bang Andri menetapkan, bila tahun ini juga ia diangkat menjadi Lektor Kepala, setidaknya dua tahun kemudian harus sudah jadi Guru Besar.

Apa benar yang kita tertawakan? Eh, daripada lupa, lebih baik kuceritakan di sini. Dini hari menjelang shubuh, aku terbangun dari sebuah mimpi yang aneh sekali. Prof. Topo Santoso, S.H., M.H., Ph.D. tengah berbaring di dalam sesuatu yang mirip pillbox atau bunker tempat latihan melempar granat. Ia semacam ingin menguji sesuatu dengan cara membakar bagian dalam tempat itu, sedangkan ia berbaring di dalamnya. Entah aku yang melakukannya, entah orang lain, yang jelas Prof. Topo ditimbun dengan pasir. Mungkin agar ia tidak terbakar.

Kepalaku berada dekat dengan kepala beliau. Rasa-rasaku, aku seperti di situ untuk menguatkan hatinya melakukan apa yang tengah beliau lakukan. Entah bagaimana caranya, tempat itu mulai terbakar dan aku pun menghindar. Namun aku sempat juga menengok ke belakang dan kudapati kaki Prof. Topo tidak tertutup pasir dengan sempurna; dan kaki itu terbakar! Pada saat itulah aku terbangun. Sudahkah aku berlindung pada Allah dari kejahatan mimpi buruk itu? Aku lupa. Namun, yang jelas, aku tergoda juga untuk gugling mencari makna dari impian seperti itu.

Aku banyak takut. Semakin banyak ketakutanku. Mengapa begitu? Pantaskah seseorang laki-laki berumur 39 tahun sepenakut aku? Colombus memulai pelayaran pertamanya ke barat pada usia kira-kira 42 tahun. Ia pasti seorang yang sangat pemberani. Ia pelaut ulung. Ia berani menghadapi ganggang sargassum, meski aku lupa apa benar yang seram dari ganggang ini. Aku... aku hanya berani melayari masa laluku. Masa kecilku. Aku berlayar dengan buritan memecah ombak. Masa kecilku tampak makin jauh saja, dan aku tidak tahu, dan tidak mau tahu ke mana bokongku menuju.

Tuesday, January 20, 2015

Ari Juliano Gema yang Kuingat


Suatu hari di paruh pertama 1996, Ajo menginap di Yado II No. E4, di pavilyun. Ya, ia menginap seingatku, karena kami sedang membuat makalahjika tidak salahuntuk mengikuti semacam lomba menulis bertemakan Hukum Tata Negara. Mungkin ini juga yang membuatku segera memutuskanketika kali pertama menjejakkan kaki di FHUIuntuk memilih Program Kekhususan Hukum Mengenai Hubungan antara Negara dan Warganegara atau PK V, yang secara umum berisikan Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara.

Dari ingatanku paling awal mengenai Ajo sebagai mahasiswa hukum, ia adalah mahasiswa yang aktif. Suka mengikuti lomba-lomba. Pada saat itu ia tentu baru Semester IV. Seharusnya ia sedang mulai memilih PK. Apakah ia sempat ragu untuk memilih antara V dan VI? Entahlah. Jelasnya, ia kemudian kukenal sebagai mahasiswa PK VI Hukum mengenai Hubungan Antarnegara alias Hukum Internasional. Dari sini tidaklah heran jika Ajo menjadi Ajo yang sekarang. Bahkan semenjak SMA Kelas II pada paruh kedua 1992 itu.

ki-ka Pak YB Suparmono, Pak Widijono, Bono, Ajo, Pak Sutarli Zain, Pak Cecep Iskandar.
Hal lain yang kuingat, dan tidak akan pernah kulupa dari Ajo, adalah ia pernah membayariku kuliah satu semester sebesar Dua Juta Lima Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah. Aku tidak punya uang waktu itu, seperti biasa. Dan seperti biasa, aku berani saja menghubungi Ajo untuk meminjam uang. Aku lupa apakah Ajo pernah mengikhlaskan. Jelasnya, sampai hari ini ia tidak pernah menagih. Selamanya aku berutang budi pada Ajo, yang artinya, haram bagiku untuk melakukan sesuatu apapun yang merugikannya dengan cara apapun.

Ada lagi hal lain yang selalu kuingat mengenai Ajo. Akan tetapi, yang satu ini tidak akan kuceritakan kepada siapapun sampai aku mati. Ya, kuakui aku pernah menceritakan hal ini pada beberapa orang. Ibuku dan Istriku. Selebihnya tidak. Biarlah dari semua itu kukenang mengenai “titik nol.” Ajo ingin menuju titik itu. Di grup wasap Paradua, ia hanya mengatakan ingin menjadi Jaksa Agung atau Menkumham. Sampai titik nol juga tidak apa-apa, Jo, seperti yang pernah kaukatakan padaku.

Selebihnya, Ajo adalah basis Biodeath sebuah band thrash metal yang kami bentuk bersama Mappalara Simatupang dan Andigus Wulandri di Graha 3 SMATN pada paruh kedua 1992. Aku selalu menceritakan bahwa Mappy sebelumnya adalah penggemar dangdut meski ia tahu Beatles juga. Cecak Andigus lebih parah lagi karena ia penggemar KLA. Darinyalah aku selalu ingat lagu "Pasir Putih"-nya Irma June dan Hedy Yunus. Namun begitulah kejadiannya. Gara-gara Ajo kami memainkan Countdown to Extinction-nya Megadeth dan I Hate You Better-nya Suicidal Tendencies.

Selebihnya, Ajo dan aku sebenarnya tidak sejalan. Ia tampan. Aku ganteng, meski aku baru tahu belakangan. Ajo selalu tahu kalau dirinya tampan, kurasa bahkan semenjak SMP. Aku tidak pernah tahu kalau aku ganteng. Selera musik kami juga sebenarnya jauh berbeda, meski entah mengapa kami pernah sama-sama membuat band thrash metal. Ajo pernah punya band juga di SMP dan main metal juga. Aku pernah juga punya band di SMP tapi aku main lagu-lagunya Sex Pistol. Selebihnya, Ajo bisa jadi Top 40 sedangkan aku selalu Nat King Cole.

Selebihnya, sebagaimana aku selalu tahu, Ajo dan aku sebenarnya tidak sejalan. Ajo adalah mantan anggota Tonpara yang entah mengapa sangat dibangga-banggakan oleh beberapa orang dan anggota-anggotanya sendiri. Aku adalah mantan anggota Tonpara yang banyak mendapatkan pujian dalam buku saku-buku saku kami. Selebihnya, Ajo tahu persis apa yang diinginkannya, bahkan mungkin sejak kecil. Sejak kecil, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang kuinginkan. Ajo tengah menapaki jalan yang disusun oleh rencana-rencananya, harapan-harapannya. Aku... menulis mengenai Ari Juliano Gema. Di sini.

Selamat Ulang Tahun, 'Jo.

Monday, January 19, 2015

Ibu Superior Menyergap Meriam. Empat Kali


Hampir setengah dua. Aku masih terjaga ditemani Io Che Non Vivo, dan secangkir Coffeemix. Semoga ini bukan langkah yang salah, karena Io Che masih terdengar betapa manisnya. Seperti biasa, pikiranku kalut bercampur-aduk. Salah satunya, aku terkenang Rendy. Orangnya masih ada, mengapa tidak kusapa saja. Apa ini membuatku terkenang Pusaka, gagasan mengenainya. Haruskah aku mengatakan tidak dan fokus pada proposal disertasiku. Semua kalimat tanya ini memang sengaja tidak kuberi tanda tanya.

Sungguh aneh rasanya. Pikiranku menolak istirahat karena merasa belum mencapai apa-apa. Sering kualami yang seperti ini entah sejak kapan. Kini sepertinya aku harus benar-benar memikirkannya. Gagasannya terdengar apa adanya. Namun, mereka hidup dengan itu. Sesuatu yang tampaknya layak dipercaya, melebihi pertimbangan dan gagasanku sendiri yang dulu-dulu. Selebihnya, kurasa aku sudah termakan khayalan atau bualanku sendiri. Entah mengapa aku membual begitu. Apakah karena sakit hati, atau sekadar agar seru seperti biasa. Itu juga mungkin sebabnya aku menyapa Mang Imas pagi ini.

Lucunya, tidak seperti Wolverine, instingku tidak mengatakan apa-apa. Aku memang hanya menyeret diriku sejak sekitar dua tahun lalu, ke jurusan ini. Semua yang terjadi selama dua tahun belakangan ini memang bermula dari futsal tolol itu. Sedangkan Bang Andri, kata Togar, entri Scopusnya sudah tiga, sedangkan Prof. Hik saja baru dua. Belum lagi Bapak. Oh, apa yang telah kulakukan? Jika kusimpan olehku pastilah akan habis, kecuali jika kusimpan sedemikian rupa sehingga... hahaha aku memang melompat-lompat. Pikiranku.

Coffeemix sudah habis setengah cangkir. Akankah kuikuti saja seperti kerbau dicocok hidung. Ini semua memang sudah gila jika diarahkan semata ke jurusan itu. Terutama bila sekarang ini, sedangkan Bapak seperti biasa maunya cepat. Sejalan. Memang harus sejalan. Aku sepenuhnya paham. Akan tetapi, apa yang membuatku melambat. Apa yang membuatku seakan menahan diri. Semua kalimat tanya tanpa tanda tanya ini, di malam yang telah larut atau bahkan hari yang belum banyak beranjak. Akankah Ia tersenyum padaku, dengan genderang kecilku ini.

Seperti inilah jadinya jika aku pura-puranya menulis rencana-rencana untuk masa depan. Lalu kusebut diriku sendiri seniman. Seniman tanpa modal sosial, yang bila kuclepretkan tai ke kanvas orang tidak akan memuja apalagi memuji. Ini rencana untuk masa depan. Modal sosial. Bergantung dan bernaung pada orang yang memiliki modal sosial. Ini adalah cara berpikir yang untuk sementara harus kulupakan. Lalu apa yang seharusnya kupikirkan. Menghasilkan. Mungkin ini sebabnya. Aku belum tahu apa-apa. Aku sekadar diikutkan maka aku ikut.

Baik kiranya kuucapkan selamat tinggal terlebih dulu. Sudah kukatakan, aku tidak bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus, multitasking. Berbicara mengenai prioritas, sepertinya sudah dibuatkan untukku dengan demikian jelasnya. Tek. Tek. Tek. Namun sepertinya aku tetap harus menyambi. Bagaimana buku hukum adat. Hukum koperasi. Hukum dan pengelolaan sumberdaya alam. Banyak. Terutama proposal. Memang bukan buku, namun harus segenap hati. Tidak bisa aku mengerjakan apapun jika setengah hati. Harus segenap hati. Harus sekaligus secara simultan. Tidak bisa separuh nafas. Harus bisa.

Biarlah kukenang malam-malam Persamu itu. Apakah hanya satu malam. Sempatkah sampai pagi. Apa hanya seharian. Tidakkah itu malam ketika aku dijemput dengan Fiat 124. Untuk apa. Kemana. Aku. Tidak. Aku tidak ingat rinciannya. Aku hanya ingat suasananya. Rasa hatiku. Sebuah tenda kecil yang basah. Di bawahnya mengalir deras air hujan. Suasana yang mirip dengan Chandradimuka, yang telah kualami sekurangnya lima atau enam tahun sebelumnya. Beberapa temanku menjadikannya pekerjaan, permainan itu. Apa yang kukerjakan kini. Bagaimana caraku mencari nafkah.

Aku tidak tahu