Tuesday, January 20, 2015

Ari Juliano Gema yang Kuingat


Suatu hari di paruh pertama 1996, Ajo menginap di Yado II No. E4, di pavilyun. Ya, ia menginap seingatku, karena kami sedang membuat makalahjika tidak salahuntuk mengikuti semacam lomba menulis bertemakan Hukum Tata Negara. Mungkin ini juga yang membuatku segera memutuskanketika kali pertama menjejakkan kaki di FHUIuntuk memilih Program Kekhususan Hukum Mengenai Hubungan antara Negara dan Warganegara atau PK V, yang secara umum berisikan Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara.

Dari ingatanku paling awal mengenai Ajo sebagai mahasiswa hukum, ia adalah mahasiswa yang aktif. Suka mengikuti lomba-lomba. Pada saat itu ia tentu baru Semester IV. Seharusnya ia sedang mulai memilih PK. Apakah ia sempat ragu untuk memilih antara V dan VI? Entahlah. Jelasnya, ia kemudian kukenal sebagai mahasiswa PK VI Hukum mengenai Hubungan Antarnegara alias Hukum Internasional. Dari sini tidaklah heran jika Ajo menjadi Ajo yang sekarang. Bahkan semenjak SMA Kelas II pada paruh kedua 1992 itu.

ki-ka Pak YB Suparmono, Pak Widijono, Bono, Ajo, Pak Sutarli Zain, Pak Cecep Iskandar.
Hal lain yang kuingat, dan tidak akan pernah kulupa dari Ajo, adalah ia pernah membayariku kuliah satu semester sebesar Dua Juta Lima Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah. Aku tidak punya uang waktu itu, seperti biasa. Dan seperti biasa, aku berani saja menghubungi Ajo untuk meminjam uang. Aku lupa apakah Ajo pernah mengikhlaskan. Jelasnya, sampai hari ini ia tidak pernah menagih. Selamanya aku berutang budi pada Ajo, yang artinya, haram bagiku untuk melakukan sesuatu apapun yang merugikannya dengan cara apapun.

Ada lagi hal lain yang selalu kuingat mengenai Ajo. Akan tetapi, yang satu ini tidak akan kuceritakan kepada siapapun sampai aku mati. Ya, kuakui aku pernah menceritakan hal ini pada beberapa orang. Ibuku dan Istriku. Selebihnya tidak. Biarlah dari semua itu kukenang mengenai “titik nol.” Ajo ingin menuju titik itu. Di grup wasap Paradua, ia hanya mengatakan ingin menjadi Jaksa Agung atau Menkumham. Sampai titik nol juga tidak apa-apa, Jo, seperti yang pernah kaukatakan padaku.

Selebihnya, Ajo adalah basis Biodeath sebuah band thrash metal yang kami bentuk bersama Mappalara Simatupang dan Andigus Wulandri di Graha 3 SMATN pada paruh kedua 1992. Aku selalu menceritakan bahwa Mappy sebelumnya adalah penggemar dangdut meski ia tahu Beatles juga. Cecak Andigus lebih parah lagi karena ia penggemar KLA. Darinyalah aku selalu ingat lagu "Pasir Putih"-nya Irma June dan Hedy Yunus. Namun begitulah kejadiannya. Gara-gara Ajo kami memainkan Countdown to Extinction-nya Megadeth dan I Hate You Better-nya Suicidal Tendencies.

Selebihnya, Ajo dan aku sebenarnya tidak sejalan. Ia tampan. Aku ganteng, meski aku baru tahu belakangan. Ajo selalu tahu kalau dirinya tampan, kurasa bahkan semenjak SMP. Aku tidak pernah tahu kalau aku ganteng. Selera musik kami juga sebenarnya jauh berbeda, meski entah mengapa kami pernah sama-sama membuat band thrash metal. Ajo pernah punya band juga di SMP dan main metal juga. Aku pernah juga punya band di SMP tapi aku main lagu-lagunya Sex Pistol. Selebihnya, Ajo bisa jadi Top 40 sedangkan aku selalu Nat King Cole.

Selebihnya, sebagaimana aku selalu tahu, Ajo dan aku sebenarnya tidak sejalan. Ajo adalah mantan anggota Tonpara yang entah mengapa sangat dibangga-banggakan oleh beberapa orang dan anggota-anggotanya sendiri. Aku adalah mantan anggota Tonpara yang banyak mendapatkan pujian dalam buku saku-buku saku kami. Selebihnya, Ajo tahu persis apa yang diinginkannya, bahkan mungkin sejak kecil. Sejak kecil, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang kuinginkan. Ajo tengah menapaki jalan yang disusun oleh rencana-rencananya, harapan-harapannya. Aku... menulis mengenai Ari Juliano Gema. Di sini.

Selamat Ulang Tahun, 'Jo.

1 comment:

Ari Juliano Gema said...

Hihihi... jadi pengen malu

Thanks, bon :)