Monday, October 26, 2015

Malam Ketika Musang Menangis


Dengan apa aku harus membuka entri ini? Apa itu entri? Sayangkah aku pada Istriku? Satu hal yang kutahu cukup pasti, jika terhidang di hadapanku Prof. Jimly Asshiddiqie—yang namanya aku tidak pernah tahu pasti bagaimana menulisnya—dan Seno Gumira Ajidarma, aku akan segera melahap dan menelan yang terakhir, seperti Musa cilik melahap bara api. Apa jika begini? Tidakkah ini terbaca seperti sebuah cerpen? Tidakkah ini terbaca seperti kisah hidup Sukab?

...tadinya mau gambar Rahayu Effendi, tapi tidak ada yang bagus.
Belum lagi Prof. Yusril Ihza Mahendra. Mereka berdua ini orang-orang yang... mengerikan. Prof. Satya Arinanto, lalu RM Ananda B Kusuma tidak mengerikan, tapi yang dua pertama itu mengerikan. Aku yang menggemari Sukab ini lantas saja lebih condong ke kiri timbang ke kanan. Mau ke mana lagi? Tidak bisa lain, aku harus segera pura-pura tertarik pada Māori jika aku benar-benar sayang pada Istriku. Bukan karena aku ingin mengerikan. Bukan karena itu.

Semata-mata, aku hanya harus melanjutkan hidupku. Aku harus mencapai hal-hal tertentu jika menempuhi jalan ini. Masalah nanti menyematkannya di depan namaku atau tidak seperti Seno Gumira, itu masalah nanti. Aku tidak malu untuk mengakui bahwa aku mengagumi beliau; meski terkadang aku tidak yakin, adakah Seno Gumira atau Sukab yang kukagumi. Jih, anak De Britto gondrong ini. Aku tidak iri padamu. Aku benar-benar kagum, Pak, meski Istriku kini yang mengikuti kuliah-kuliahmu.

Engkau tidak sehebat John Lennon sehingga harus kutembak, sedang John Lennon pun tidak hebat. Aku pun tidak pengecut seperti Mark Chapman, sehingga jika kau kutembak pasti dari depan. Tidaklah, Pak Seno. Kau hebat. Aku pecundang. Bagaimana caranya agar sehebat engkau? Jangankan sehebat engkau, bagaimana caranya menyaingi Fidel saja aku tidak tahu. Apalagi Pak Harto. Apa yang dapat dihasilkan dari rumah di Kramat Batu itu, sedangkan perutku terus saja kembung begini?

Malam terus merayap mendekati tengah-tengahnya. Tidak mungkin lagi aku memikirkan Māori dengan cukup produktif. Namun mungkin aku masih punya sedikit tenaga untuk mengurainya, membaca di antara baris-barisnya. Siapa tahu ada noda Bayclin jika jeruk terlalu arusutama. Biarlah, siapa tahu aku bisa jadi Dr. Soumokil atau Dr. Azahari yang berhasil, sedangkan besar kemungkinannya Dr. Azhari berada di pihak kami. Jika sampai waktunya, biarlah aku bersantai di Laguna Mengantuk, atau Pantai Mengantuk.

Sementara itu, biarlah aku dikira meniru Mas Toni. Biarlah orang mengira entri-entri ini ada artinya. Biarlah orang menyangka entri ini racauan orang gila sampai mereka berhenti membaca. Aku biar saja, masalah aku sendiri mengerti atau tidak. Demi tujuh ratus ribu Rupiah aku akan duduk beberapa jam di dekat orang-orang mengerikan, mengucap sepatah dua kata dan menyeringai seperti orang tolol. Permainan yang semakin sulit dimainkan, dan aku mengelak tugas membaca doa.

Sampailah kita pada akhir perjumpaan kita malam ini, Sahabat. Biarlah feri ini merapat, membenturkan dampranya pada tepi dermaga. Biarlah kaki-kaki kita berlompatan ke darat meski goyah. Inilah rumah kita, dan tidak ada kurasa orang di dunia ini yang lebih menyukai rumah daripada aku. Maka Cintailah Aku! Siapa mau mencintai aku? Ada? Tidak? Baiklah. Kumasukkan saja kedua tangan ke dalam saku celana, berjalan menjauh. Kalau tidak ada yang cinta, mau bagaimana?

Kerang Saus Padang
Kerang Goreng Tepung
Nasi Uduk
Jeruk Panas

No comments: