Friday, May 15, 2015

Sudah Tentu Ini Teripang, Dian Sastro!


Malam adalah waktu beristirahat, sedangkan terang adalah waktu bergiat. Namun malam begitu tenang, begitu syahdu, begitu mengilhami. Malam begitu menggoda untuk menulis entri. Tadi pagi aku banyak tidur, karena memang libur. Padahal sebentar lagi pagi, bahkan sekarang ini sudah dini hari. Sudah pada tempatnya jika aku mengucap syukur atas rasa badanku kini, terutama jika dibandingkan kemarin pagi. Lagian, sudah tahu sedang kumat, koq ya makan santan kental begitu. Untung saja tidak pakai telur pedas.

Dian Sastro, aku yakin, takkan menyembuhkan maag. Ini Insya Allah.
Bercerita tentang hariku, kurang menarik. Perasaanku, datar-datar saja. Rencana-rencanaku, belum punya. Hanya saja, semakin banyak orang membaca-baca entri-entri di sini, entah apa manfaatnya bagi mereka. Aku sendiri baru membaca-baca entri-entri lama. Bahkan, ketika aku shalat Isya’ yang sudah lewat tengah malam tadi, yang terpikir olehku adalah menulis entri. Ya, badan yang Alhamdulillah terasa nyaman dan sunyinya malam adalah paduan yang sempurna untuk terbitnya rasa seperti menulis, meski itu entri. Membaca-baca entri itu saja sudah menghibur, apalagi menulisnya.

Dari cenderamata yang satu ke cenderamata yang lainnya. Amboi, sedih sekali hidup seperti itu. Syukurlah aku hanya harus mendengarkannya, mungkin sedikit berkhayal tentangnya, namun tidak benar-benar menjalaninya. Hidupku sendiri... tidak jauh berbeda dari Khodori Eko Purwanto mungkin, si Eliot Ness itu. Anjrit mana mirip pun tampangnya, atau gara-gara potongan rambutnya? Jadi, pagi ini, atau kapan, motor Eliot Ness kempes bannya gara-gara tertusuk paku. Alhamdulillah, dengan adanya cairan pengisi ban tubeless, setidaknya Vario Sty tidak akan langsung kempes kalau tertusuk paku.

Nah, mungkin di sinilah cocok kumasukkan apa yang terngiang-ngiang sepanjang hari ini dalam benakku. Meski begitu, aku merasa tidak pantas menuliskan nama-nama mereka di sini. Tidak di entri ini, setidaknya. Benarkah Eliot Ness dan kawan-kawannya telah sedia menyerahkan jiwa raganya untuk Cita-cita Perjuangan Bangsa? Mungkinkah melakukannya sedangkan masih ingin hidup, masih ingin kaya, masih ingin Raisa? Oh, sedangkan kebisaanku satu-satunya kini pun menghalangiku. Aku tidak bisa lagi berbicara terlalu berapi-api.

...atau, jangan sepesimis itu? Sore ini, 'kan aku membeli jelly teripang? Mana tahu, atas seizin-Nya, jika memang satu-satunya kebisaanku itu memang penting untuk Bangsa dan Negara ini, akan dikembalikan lagi padaku? Jika aku boleh memilih, ya, seandainya saja tersedia padaku pilihan-pilihan, sejujurnya aku lebih suka diam. Akan tetapi, bagaimana caranya mengajar Koperasi dengan diam? Bagaimana caranya menanamkan benih-benih revolusioner jika tidak memanggang diri sendiri dengan bara apinya? Sampai panas terasa itu diafragma, sampai terbatuk-batuk, sampai tidak bisa bicara?

Hanya Allah yang tahu bagaimana caranya. Mengajar koperasi dengan membiarkan mahasiswa lebih aktif, sedangkan yang diperlukan adalah cuci otak dari segala tipu daya kemodalan keduniaan? Hah, masih ini juga temanya, karena memang ART belum dibuat, dan memang beginilah seharusnya suasana kebatinan dari ART itu. Jika tidak, untuk apa? Meski belum juga tega aku membayangkan diri sendiri memikirkan citedness dan hanya itu. Citedness, yang jelas, bagiku, bukan excitedness, makanya yang benar adalah excitement! Raisa? Dian Sastro? Hanya Ajo yang tahu.

Begitu banyak orang tahu mengenai pendidikan dan cara-cara mendidik. Mungkin lebih banyak lagi yang merasa tahu. Aku tahu apa? Aku hanya tahu perasaanku sendiri. Sering sekali kutemui diriku sedang sangat ingin bernyanyi untuk khalayak, justru ketika aku akan mengajar. Itu adalah suatu suasana hati yang bagus, sesuai, meski tidak tepat. Menghadapi mata-mata itu, atau wajah-wajah bosan, mengantuk, gelisah... mungkin inilah pembenaran mengapa harus lebih berpusat pada mahasiswa. Jika pun sekadar untuk mendapatkan uangnya, maka layaklah dicoba.

No comments: