Tuesday, April 26, 2016

'Kuingin Seluruh Dunia Tahu Betapa Bahagiaku


Jika kau bertanya padaku apa itu cinta, maka akan kujawab, “cinta adalah beha yang terserak di lantai setelah apa yang terjadi semalam.” Bukan behanya itu sendiri yang penting, tidak pula isinya, melainkan apa yang tersisa darinya berupa kenangan manis. Kenangan manis mengenai hal-hal kecil yang terjadi di antara kita berdua. Tawamu dan caramu tertawa, apa yang kautertawakan, itu semua akan tinggal mengendap sebagai cinta. Itu pula yang akan membuatku kuat menjalani hari-hari yang berat di atas bumi Allah ini.


Aku bertekad membuat hidupku sepuitis mungkin, meski hanya aku sendiri yang tahu, meski kau sendiri tidak peduli. Hidupku adalah puisi tentang cinta. Cinta kepadamu, meski tidak ingin juga aku mati tertembus ribuan panah seraya mengingatmu. Itu biar saja untuk penggambaran Leonidas oleh Holiwud. Aku memang suka narasi-narasi yang kuat, meski tentu saja aku bertekad untuk menciptakan narasi paling kuat setidaknya bagiku sendiri—meski seluruh dunia tidak ada yang tahu, meski tidak ada yang peduli.

Begitu saja anganku melayang pada DN Aidit dan Yasir Hadibroto. Begitu saja aku teringat mimpiku sebelum bangun subuh tadi. Aku seperti hadir di sebuah auditorium yang lumayan besarnya, di tengah-tengah rapat suatu organisasi masyarakat entah apa. [namun entah mengapa dalam kepalaku terngiang-ngiang MKGR, yang ternyata singkatan dari Musyawarah Kekeluargaan Gotong-Royong] Masalahnya, aku hanya memakai celana pendek, sedangkan aku mendapat giliran berpidato. Jadilah aku dipinjamkan selembar kain sarung. Demikianlah maka—berkain sarung—aku beruluk salam berpidato.

Sejurus kemudian ternyata terdengar adzan, keruan saja aku urung berpidato. Aku menunggu sampai adzannya selesai. Namun hadirin dan panitia terlihat gelisah, bahkan salah seorang membawa pergi mikrofon bersama tiangnya sekali dari hadapanku. Ketika adzan selesai dan aku akan melanjutkan pidatoku—maka aku meminta mikrofon—seseorang yang terlihat seperti panitia justru mengisyaratkan acara sudah selesai dengan menyilangkan tangan di depan leher, membuat gerakan seperti memotong. Demikianlah maka aku bersarung, mematung di tengah orang-orang lalu-lalang—dan terbangun. Alhamdulillah memang pas adzan subuh.

Untunglah aku urung berpidato. Untunglah terdengar adzan. Jika vonis mati terhadap Omar Dani jatuh tepat ketika malam takbiran sedangkan lonceng gereja berdentang-dentang, maka pidatoku diurungkan oleh adzan subuh. Jika sampai aku berpidato, mungkin bukan Si Panitia itu membuat gerakan memotong leher, melainkan Yasir Hadibroto menghamburkan satu magasen penuh timah panas berdiameter penampang melintang 7,62 mm ke arahku. Jika sampai aku berpidato, mungkin bukan auditorium, melainkan dasar sumur yang akan menerima jerembabnya tubuhku tak bernyawa.

Iya ‘Ndro, dengan cara lain aku sudah sepenuhnya sadar bahwa ini bisa berujung mati konyol. Jangankan ayam yang tidak dikasih makan, DN Aidit yang perkasa nan bijaksana saja mati sia-sia. [Aduh, aku memuji Aidit terang-terangan pula di sini. Semoga Kopkamtib tidak tahu] Tidak menjadi apa, ‘Ndro, sebagaimana namamu adalah nama Dewa Perang, seperti itulah aku siap menyia-nyiakan hidupku demi sebuah gagasan. Demi Revolusi 17 Agustus 1945. Demi Cita-cita Proklamasi, aku rela menyerahkan seluruh jiwa raga.

Hei, bukankah kau sendiri mengatakan, gagasan Kepemimpinan Hikmah Kebijaksanaan senafas dengan Wilayatul Faqih? Bukankah Ketuhanan Yang Maha Esa dan Keadilan Sosial adalah sama dengan Tauhid dan Keadilan—tepat itu pula kata yang digunakan? Bukankah tak perlu kuceritakan padamu betapa perasaanku kepada Imam Ali, Dimuliakanlah oleh Allah Wajahnya?

Tak perlu pula kuceritakan padamu gejolak hatiku tiap mengenang Cucunda-cucunda Rasulullah SAW yang pralaya di Madinah dan Karbala? Sama ‘Ndro, jika masih ada cita-citaku, khayalan gilaku, tiada lain mencium tangan Beliau dengan tangan dan bibirku yang nista ini kelak, ketika Beliau hadir di tengah kita—atau sudah?

No comments: