Saturday, June 27, 2015

Oregano Misery. Lovely, Lovely, Loveliness.


Oregano misery. Lovely, lovely, loveliness. Oregano misery oh Mucis, Mucis, Mucis. [mungkin seharusnya music] Ada lagi first time I stepped on bricks of road, I can’t deny it was my pride, lalu entah apa, tiba-tiba to pit of blades—meski suasananya sangat jauh berbeda dari yang pertama. Seberapa jauh berbeda? Kurasa tidak terlalu jauh. Aku sudah begini sejak ber-Oregano Misery. Jadi tidak perlu terlalu dipikirkan. Jalani saja. Senang, Alhamdulillah. Kurang senang, Alhamdulillah. Nyaman, Alhamdulillah. Kurang nyaman, Astaghfirullah.


Seperti biasa entah bagaimana aku membuat banyak sekali janji. Tentu saja tidak aku sendiri yang mencari-cari. Orang-orang inilah, yang tiba-tiba muncul dalam hari-hariku lalu membuatku merasa seperti terpaksa berjanji. Dan aku muak Pancasila! Kapankah akan kukatakan hal ini kepada Takwa? Lebih baik aku membantu Kwarta dan Mbak Lily bikin entah apa itu. Setidaknya ada duitnya. Pancasila ini... ampuuun. Sungguh lucu sekali, sekarang aku tidak merasa punya sesuatu apapun untuk diapa-apakan.

Padahal aku biasa berpikir aku harus punya itu agar semangat. Macan mungkin aku masih punya sedikit. Kuda? Sepanjang menghasilkan uang akan kupacu. Jika demikian, ini kuda atau lembu? Hah, aku pun sudah tidak peduli. Pada masa lalu, pada Oregano Misery, pada Pit of Blades, aku tidak peduli. Setidaknya malam ini. [Lalu mengapa kau tulis juga?] Mungkin sekadar karena bosan berperang melawan Suleiman yang Culun padahal merasa harus menghasilkan sesuatu prestasi.

Seandainya prestasi itu adalah semacam sebutan, atau gelar, atau uang... Sudah lama aku mencibir pada yang seperti itu, dari kecilku. Mengapa begitu? Entahlah. Kantuk belum kunjung menjelang sedangkan udara panas begini di dalam rumah. Seharian tadi dihabiskan dengan mengangon bocah, yang tidak hendak pula kuabadikan, meski ada sesuatu yang sangat menggelitik hati. Nasib, Kawan, Nasib. Sama saja dengan nasib cemeng yang ditinggal maknya, sementara perutku sekarang kenyang mie goreng kampung.

Ini biasa terjadi dalam Ramadhan-ramadhanku, ataukah baru yang beberapa terakhir saja ya? Coba kukenang Ramadhanku yang tidak begini. Ada. Ini mengerikan. Hari ini, setidaknya, aku merasakan suatu kehampaan. Dulu itu bukan hampa, atau kalaupun hampa tidak seperti ini rasanya. Ini tidak bisa lain pastilah dosa. Bertumpuk-tumpuk dosa. Astaghfirullahal'Azhim. Sekadar suatu perasaan ketika menyaksikan impian-impian hancur berkeping-keping, sehingga tersungginglah senyum kehancuran hahaha. Apa coba senyum kehancuran, meski Koes Plus juga sama sekali tidak lebih bagus darinya.

Jika demikian, maka mungkin ada baiknya malam ini aku tidur di tenda. Aku belum pernah tidur di tenda sampai semalaman. Malam ini, mungkin akan menjadi yang pertama, meski tidak akan semalaman, karena Insya Allah sahur nanti bangun. Minum saja. Sayur-sayur sudah kupanaskan tadi, sisa sop tahu udang, tahu udang buncis. Namun aku tidak merasa seperti ingin menyantap mereka, sedangkan sesuap terakhir mie goreng saja enggan kumasukkan mulut. Namun tenda ini benar-benar inspiratif.

Dapatkah tenda menjadi rencana cadangan (backup plan) untuk gardu. Itu terlalu sensasional, terlalu kontroversial. Sedangkan aku masih menempati ruanganku sementara sudah dicepat saja, sudah membuat heboh. Ini lagi mau mendirikan tenda. Kecuali aku guru besar, mungkin orang tidak bisa apa-apa. Guru besar yang... eksentrik, kalau kata orang yang hatinya baik sekali. Kalau kata orang biasa-biasa saja, guru besar gila! Hahaha. Sungguh teramat sangat inspiratif, sedangkan mesjid jaraknya hanya sepelemparan lembing oleh atlet amatir... mesjid yang tenang. Merbot. Inspiratif...

I know I need to be in Love...

No comments: