Saturday, November 22, 2008

Salju Pertama di Maastricht 2008


Kemarin, Jumat 21 November 2008, adalah hari kami mengikuti ujian Risk and Uncertainty. Sebelumnya, aku dan Bang Herman shalat di Masjid al-Fath, di Gentelaan mentok (aduh nama jalannya apa ya...? ada Sint-nya gitu deh... lupa). Waktu itu angin kencang, dan kurasa pada saat itulah salju pertama tahun ini sudah turun di Maastricht.

Malamnya, ketika aku berjalan di sepanjang—monyong... lupa juga nama jalannya, pokoknya di depan tapsiun deh, sama Bang Herman juga, dari Night Shop balik ke (God help me) De Beurs Studentencafe, barulah salju menerpa wajahku, tutup kepala, dan jaket Bad Boy-ku yang terkenal tebal itu. Aku tidak bad koq, dan aku juga bukan boy (terus 'Kin mau dikemanain kalau aku boy?). Aku sudah lama tidak kepingin menyentuh khamr dalam bentuk apapun, dan malam itu juga tidak. Jangankan khamr, rokok juga aku sudah tidak berhasrat. Sepertinya aku sudah cocok masuk PKS niy ;'p

Bicara masalah hasrat... pertama, tiada lain kecuali aku memujiNya, satu-satunya yang pantas dipuji. Allah, Penambat segala kesah. Allah, Penyembuh segala gundah. Allah Illahi Rabbi, yang kasihNya melebihi ibuku sendiri, bahkan kasih ibuku dan semua ibu di alam ciptaan ini Ia-lah yang menciptakan. Rabb hamba, terurai air mataku, semoga ini adalah kerinduan hanya padaMu. Semoga mata ini tercipta hanya untuk memandangMu, dan apapun yang kupandang itu hanya Engkau. Allah Rabb hamba, jadikanlah aku hambamu yang tebal rasa malu.

Jangan biarkan hamba lupa diri lebih dari sekejapan mata, diri-rendah hamba ini, Illahi Rabbi. Demikianlah kehendakMu atas hamba dan semua manusia (anak Adam?), sebagai cerminan DiriMu yang tak terlukiskan. Langit, bumi, dan segala apa yang berada di antaranya tiada sanggup menanggungMu. Hanya hati seorang mukmin yang mukhlis-lah yang mampu. Allah Rabb hamba... dengarlah ratapan hamba pagi ini... Masukkanlah hamba ke dalam golongan itu... Semoga ini semata-mata kerinduan padaMu.

Aku mengidap Sindrom Robin Hood, kata Dik Witri. Dua kata terakhir memang aku sendiri yang memulainya, dia tinggal menambahkan satu di depannya. Betapa mengerikan jika sindrom ini dibarengi pamrih, aku berlindung pada Allah Maha Perkasa dari yang seperti itu. Aku adalah orang yang tinggi hati, dan mementingkan diri sendiri. Aku suka mengagung-agungkan diri sendiri. Sama seperti adikku yang paling kecil, aku suka memandangi pantulan diriku sendiri dalam cermin. Betapa berbahayanya! Amboi, betapa mengerikannya! Semua ini sangat mungkin menjerumuskan ke dalam kenistaan, dan itu sudah dijamin.

Jika sampai terjadi, benar-benar tak tertanggungkan. Di sini, aku mungkin masih dapat mengandalkan kesabaranku. Namun, ketika waktunya tiba, di sana, tak mungkin lagi siapapun bersabar menanggungnya. Aku berlindung pada Allah Maha Pengampun dari yang demikian itu. Illahi Rabbi, hamba mohon karunia kekuatan untuk mampu bersabar dalam memberantas semua pamrih dan menanggalkan semua atribut yang tidak pantas hamba kenakan. Mohon tangguh sebentar saja, tidak akan lama lagi.

Farewell Party February 2008 Cohort

Keindahan dunia yang menyilaukan mata, yang bagi kebanyakan orang bahkan membutakan. Menyergapmu dari segala penjuru inderawi, merasuk ke dalam alat kelengkapan kemanusiaan yang paling asasi... Tak mampu kuteruskan yang satu ini... satu paragraf ini... biarlah berlalu begitu sahaja. Apapun yang ada dalam benakmu, lupakan. Apapun yang ada dalam genggamanmu, berikan. Apapun yang ada di depanmu, hadapi. Mari bersuka-cita, karena tiada lama lagi kita akan sampai di rumah. Rumah yang hangat dan nyaman itu... yang kehangatan dan kenyamanannya saja sudah merupakan daya tarik tak tertahankan.

Di tengah rimba belantara ini, yang terus saja berganti-ganti dengan padang gurun (atau kini padang salju hehehe...), rimba belantara, padang gurun, hutan gelap, padang salju, rimba belantara, padang gurun... begitu saja seterusnya; Ini hanya pengembaraan. Hanya rumahku yang hangat dan nyaman itu yang kuinginkan, hanya itu saja yang mengisi benakku, hanya itu tujuanku! Sungguh aku menanti saatku mengucapkan selamat tinggal pada pengembaraan ini, dengan kata-kata perpisahan yang manis.

No comments: