Tuesday, October 09, 2007

Demokrasi Liberal Kumis Kucing


Siawl, koq gua jadi ikut-ikutan setres gara-gara demokrasi liberal kumis kucing Nya' Sopian, tapi yang lebih seteres lagi, akankah aku dapat menyelesaikan skripsiku dalam waktu dua bulan saja. Itu karena aku merasa bahwa skripsiku harus sok dahsyat. Kalau biasa-biasa aja, pasti tidak jadi setres. 'Ntar dulu, aku bener gak sih nulis liberalnya? l-i-b-e-r-a-l atau l-i-b-e-l-a-r?

Har har har emang gua Sopian disleksia. Masih aja tuh bocah, yang sekuralisme-lah, libelar-lah. Ora opo-opo, yang penting jadi pegawai BHMN. Lagipula dia bilang, kalau dia udah jadi propesor nanti aku boleh mbersihin salah satu mushala di FHUI. Baik benar dia 'tu. Ya sudah mari kita doakan agar Sopian segera saja jadi propesor.

Tadi aku, seperti biasa, cingcong lagi sama Sopian, bahwa hidup seorang demagog itu pasti sepi. Bung Karno melawan takdirnya sebagai seorang demagog dengan mencoba mengusir kesepian dari dirinya, dengan cara... well, you know lah. Tidak! Seorang demagog pasti harus kesepian di dunia ini. Kerja dia nyingcongin orang, maka tak seorang pun ditakdirkan untuk cingcong balik padanya. Ia tidak bisa membagi keluh-kesah kenapa siapa pun di dunia ini. Padahal Bung Karno punya Istana Cipanas, Istana Tampak Siring. Wah, itu betul-betul tempat yang ideal.

Ya, seorang demagog harus cingcong kepada semua saja orang lain di siang hari, tetapi di malam hari, atau kapanpun ia sendiri, ia harus menyediakan diri untuk dicingcongi oleh Yang Maha Cingcong. Oh, kasihan sekali kalian para demagog. Bukan karena hidup kalian yang sepi itu, itu tidak mungkin ditawar lagi. Harga mati. Bahkan gunung pun luluh lantak mendengar CingcongNya. Kiranya hanya Musa, dan orang-orang yang sekuat dia, yang mampu menahan CingcongNya. Maha Benar Ia dengan segala CingcongNya!

Kembali kepada masalah kumis kucing, Ige mengartikan bidadari secara sangat fisik. Yeah, itu terpulang kepada pengalamannya. Aku pun punya pengalamanku sendiri, karena aku seekor Simpanse yang kadangkala merindukan untuk dijadikan kucing saja. Tapi kalau boleh jangan yang bodoh seperti Bule, jangan pula seperti Coko, apalagi seperti Khusus. Seperti Keley? Tidak juga... Seperti Opa Cempey? ...Jangan juga. Terus seperti siapa dong?!

Well, Simpanse akan selalu menjadi simpanse, yang menyalurkan hasrat birahinya sambil menikmati pisang atau seranting penuh rayap. Itulah kebebasan! Itulah liberal! Jadi, kalau kau tidak doyan pisang, apalagi tidak doyan seranting penuh rayap, berarti bukan liberal. Berarti kau harus tunduk khidmat kepada seorang RAJA!

Moritori te Salutant!


1 comment:

Delila said...

Good for people to know.