Wednesday, October 10, 2007

Bidadari, Demagogi, dan Chimpanzee


This is to test a multiple-pictures page


Bidadari adalah salah satu subjek yang sangat mengundang perdebatan. Benarkah bahwa di kehidupan kekal nanti masih ada birahi? Penggambarannya, kalau mau jujur, memang sangat badani. Tetapi kiranya harus diingat bahwa kemungkinan besar semua citraan itu bermakna ganda. Bisa jadi itu adalah suatu pengibaratan, namun sangat bisa jadi itu adalah deskripsi gambaran inderawi sekaligus juga badani. Salah satu citraan favoritku adalah "mata hur-hur". Waouw, apa gerangan yang dimaksud dengannya, sebagai suatu ganjaran yang tiada tara bagi usaha yang tentu sangat keras.

Terus terang aku tidak suka dengan ungkapan "meminang bidadari surga, maharnya tidaklah murah". Ah, duniawi sekali. Seakan semua jerih payah di tempat celaka ini hanya untuk meminang bidadari di surga. Harus ada janji yang jauh lebih menggiurkan lagi dari ini. Lagipula, ungkapan itu menurutku mengesampingkan sentralitas ketokohanNya dalam semua ini, Kemurahan dan AmpunanNya dalam menyelamatkan mereka yang lalai sampai para pendurhaka. Bersama KekasihNya memandangi WajahNya, nah, itu baru sepadan!

Oleh sebab itu, sungguh, kalau aku boleh memilih, aku lebih ingin jadi seorang pendiam. Aku lebih suka menjadi air dalam yang tenang permukaannya. Siapa yang bisa menjamin kedalamanku, apalagi relatif terhadap yang lain? Danau Baykal masih lebih dalam dari Danau Victoria, dan entah pasti ada danau-danau purba yang lebih dalam lagi. Adakah aku ini contoh nyata air beriak tanda tak dalam? Oh Allah Gusti, apapun hamba, tunjukkanlah jalan yang selamat menuju keselamatan. Sungguh tiada tahu hamba mengapa hamba jadi begini, meski bila hamba berkata bahwa tiada pernah hamba meminta terlahir begini, itu adalah suatu kedurhakaan.

Berbagai-bagai macam engkau ciptakaan Oh Gusti hamba, bermacam-macam ragam. Untuk apa mereka semua? Ampuni hamba mahluk yang bodoh dan picik lagi pongah dan angkuh, Ya Pencipta Belas Kasih. Engkaulah yang membiarkan primata berbatang tenggorok sempurna berpita suara terus hidup beranak-pinak, dan di antara mereka ada yang cingcongnya luar binasa seperti hamba. Oh Allah Gusti, kasihanilah hamba, ampunilah hamba. Demagogy: Political strategy for obtaining and gaining political power by appealing to the popular prejudices, fears and expectations of the public — typically via impassioned rhetoric and propaganda, and often using nationalist or populist themes.

Namun demikian - Aha, ini topik favoritku - betapalah ngeri keadaan kita di sini, wahai saudara. Ngeri betul! Ada saja di antara kita yang menggunakan cingcongnya untuk merayu perempuan, padahal yang dia inginkan dari perempuan itu tiada lebih dari apa yang diinginkan sepupu Simpanse jantan dari betinanya. Aduhai! Amboi! Kita manusia, dengan segala alat kelengkapan yang kita kumpulkan selama beratus-ratus ribu tahun; dan untuk meyakinkan bahwa kita saja yang punya alat-alat itu, kita basmi sepupu-sepupu kita yang lain. Kita sisakan sepupu Simpanse, Gorila, dan Orangutan; yaitu sepupu-sepupu yang paling tidak lengkap alat-alatnya.

Dan antara lain dari rayuan gombal tengik itulah, aduhai, jumlah kita berlipat-lipat luar binasa banyaknya. Bodohnya! Kita katakan, spesies ini paling adaptif, maka jumlahnya banyak. Spesies itu kurang adaptif, maka punah. Amboi! (amboi aduhai melulu!) Kitalah spesies paling adaptif! Tahu kenapa? Karena kita bisa membunuh untuk alasan-alasan lain selain makan. Semua saja membunuh, termasuk membunuh rumput atau memodifikasi sel, tapi mereka semua membunuh hanya untuk bertahan hidup. Kita membunuh karena kebiasaan! Kita membunuh untuk kesenangan! Untuk hobby! Aduhai! Amboi! tuh kan cingcong lagi...

No comments: